URL: www.pejuangislam.com
Email: editor@pejuangislam.com
 
Halaman Depan >>
 
 
Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami
Ustadz H. Luthfi Bashori
 Lihat Biografi
 Profil Pejuang Kaya Ide
 Imam Abad 21
 Info Asshofwah
Karya Tulis Pejuang


 
Ribath Almurtadla
Al-islami
 Pengasuh Ribath
 Amunisi Dari Tumapel
 Aktifitas Pengasuh
 Perjuangan Pengasuh
 Kalender Ribath
Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
 Sekilas Profil
 Program Pendidikan
 Pelayanan Masyarakat
 Struktur Organisasi
 Pengasuh PIQ
 
Navigasi Web
Karya Tulis Santri
MP3 Ceramah
Bingkai Aktifitas
Galeri Sastra
Curhat Pengunjung
Media Global
Link Website
TV GARIS LURUS
Kontak Kami
 
 
 Arsip Teriakan Pejuang
 
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [17/5/2017]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [16/5/2017]
   
SEBAIK-BAIK ORANG BERDOSA ADALAH YANG BERTOBAT 
  Penulis: Pejuang Islam  [6/5/2017]
   
KEUTAMAAN KALIMAT LA ILAHA ILLALLAH 
  Penulis: Pejuang Islam  [3/5/2017]
   
BACAAN DUA KALIMAT TASBIH YANG SANGAT BESAR PAHALANYA 
  Penulis: Pejuang Islam  [1/5/2017]
   
 
 Book Collection
 (Klik: Karya Tulis Pejuang)
Pengarang: H. Luthfi B dan Sy. Almaliki
Musuh Besar Umat Islam
Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat
Dialog Tokoh-tokoh Islam
Carut Marut Wajah Kota Santri
Tanggapan Ilmiah Liberalisme
Islam vs Syiah
Paham-paham Yang Harus Diluruskan
Doa Bersama, Bahayakah?
 
 WEB STATISTIK
 
Hari ini: Minggu, 28 Mei 2017
Pukul:  
Online Sekarang: 4 users
Total Hari Ini: 51 users
Total Pengunjung: 3446237 users
 
 
Untitled Document
 PEJUANG ISLAM - GALERI SASTRA
 
 
Salju Khatulistiwa 
Penulis: Muhammad R. Sidoarjo [ 23/10/2009 ]
 

Salju Khatulistiwa

Muhammad R. Sidoarjo


 Entah apa yang sedang adik rasakan sekarang. Sesekali kipas angin berputar dari speed lambat hingga speed cepat, tapi ia masih merasa kegerahan yang tiada henti-hentinya. Memang, suhu di kota kami tinggal lebih tinggi dari biasanya, karena musim kemarau sejak dua minggu yang lalu, telah lama menaungi tempat yang kami tinggali. Matahari begitu menyengat, debu-debu terbang kesana-kemari tanpa arah tujuan yang jelas, ditambah lagi asap motor dan asap pabrik yang selalu setia mengepul setiap waktu. Ia pun bersantai sambil tidur terlentang di lantai ruang tengah bersamaku.
 
\"Aku ingin hari ini ada salju turun.\" Katanya padaku.
 \"Apa kamu bilang?\"
\"Aku ingin salju turun, biar udara di sini tidak gerah dan panas.\"
\"Tapi mungkin keinginanmu takkan pernah terwujud.\"
\"Kenapa?\"
\"Negara kita ini termasuk negara yang dilewati garis khatulistiwa, jadi tidak mungkinlah salju turun di negara kita.\"
\"Gimana lagi dong, kak? Kalau hujan turun kota, kita kan bisa kebanjiran. Mending turun salju, sudah bagus, sejuk lagi.\"
\"Tapi, dik…\"
\"Nggak, pokoknya aku mau lihat salju, titik.\"


Ia bangun dari tidurnya dan meninggalkanku sendiri. Dengan langkah kecilnya ia berlari masuk ke dalam kamar pribadi ayah, terdengar ia merengek-rengek meminta sesuatu yang musykil untuk diwujudkan. Aku tahu apa yang ia inginkan tapi apa yang dipikirkannya amatlah sulit untuk diwujudkan, tapi biarlah, anak kecil memang selalu begitu, selalu berpikir yang aneh–aneh.


 "Sayang, kenapa kamu kok bisa berpikiran sampai situ, hal itukan tidak mungkin ada di sini.\" Ayah mencoba menjelaskan.

 \"Tapi, Yah, di sini panas sekali, aku gak kuat. Salju kan dingin, mungkin kalau kita bisa nemuin salju, kita gak akan pernah kepanasan selamanya, apalagi sampai ada bau seperti ini.\"sambil menciun bau ketiaknya.

 \"Kalau turun salju, terus seragam adik yang baru dicuci gak kering-kering terus gimana, berati adik gak bisa pergi ke sekolah, jika tidak sekolah, besok besar mau jadi apa, masa jadi pemulung?”

 \"Bisa kering, yah. Nanti saljunya disuruh turun sore hari aja, dan dipanasi agar cepat meleleh.\"
 
Ayah sempat senyum sedikit, ia tak mau membantah jawaban yang diutarakan oleh anaknya. Ia tak mau membuat si anak merasa disalahkan. Bisa-bisa kalau itu dilakukan, tangisanlah senjata terakhir yang dikeluarkan oleh adik. Malah tambah rumit lagi masalahnya, bahkan tak ada sesuatu yang bisa menghentikan tangisannya kecuali mewujudkan apa yang sedang ditangisinya.


\"Dik, kalau salju turun bisa-bisa jalannya jadi licin dan berbahaya bagi pengendara. Bisa saja terjadi kecelakaan ,apa kamu tidak kasihan sama mereka?\" aku tiba-tiba muncul sembari bertanya,

\"Gak kok kak, nanti saljunya disuruh turun sedikit saja, sekiranya sudah bisa menyegarkan hawa, dan yang penting tidak sampai membuat jalan licin.\"


Ternyata ia masih bisa menyangkal pertanyaanku. Aku terus mencoba mencari penangkal dari impiannya untuk menemukan salju.


\"Salju itu putih semua, apa kamu tidak bosan setiap hari melihat warna putiiih melulu ?\"
\"Aku tak mungkin bosan kak, karena putih adalah warna kesukaanku. Putih itu bersih, rapi, suci, gak mbosenin, pokoknya damai deh kalau lihat salju. Yah…ayo kita lihat salju, aku mau lihat salju!\"


Ia mulai merengek, matanya berkaca-kaca, tanda air mata akan menetes.


\"Ya, baiklah. Sekarang mandi, trus ganti baju dulu. Nanti ayah ajak kamu lihat salju.\"
\"Makasih, Yah!\"


Sekarang ia amat senang sekali, terlihat dari senyumannya yang terus mengembang, dan sesekali ia melompat kegirangan bahkan ia berlari keluar rumah guna memamerkan salju yang sebentar lagi akan ia lihat kepada teman sebayanya. Aku juga senang jika melihat adikku senang, tapi apa yang akan dilakukan ayah padanya, padahal salju kan gak ada di sini. Aku hanya bisa mengangkat bahuku sendiri dan kembali masuk ke kamar.


“Dan, tolong mandikan adikmu !” seru ayah.
“Tapi yah, aku mau ngerjain tugas makalah sekolah.”
“Sebentar saja, sebagai gantinya, nanti kamu juga ayah ajak untuk melihat salju.”


Aku langsung kaget dengan tawaran ayah, hal ini sangat berarti padaku, karena selama ini aku belum pernah melihat salju, kecuali di televisi dan di buku IPA-ku. Ditambah lagi rasa penasaranku tentang salju yang akan dipertunjukkan oleh ayah pada adik, nyata apa tidak.


“Baiklah yah, aku mau merapikan tugas makalahku dulu.”
“Cepetan jangan terlalu lama, nanti saljunya keburu mencair.” Kata ayah, aku justru bingung mendengar hal itu.

“Dik, cepet kemari, kita berangkat melihat salju setelah kamu mandi, kalau kamu tidak mandi, kamu gak diajak lihat salju lho!” Rayuku, memang adikku termasuk anak yang agak bandel.

“iya kak, aku datang !!!” sembari berlari menirukan pesawat terbang di angkasa.


Tidak seperti biasanya, ia mudah sekali diajak untuk mandi, padahal pada hari-hari biasa ia amat sulit diajak untuk mandi, bahkan sangat membenci dengan sesuatu yang bernama mandi, berangkat sekolah saja tanpa mandi, aku sibuk sekali dengan semua itu, hanya kusemprotkan minyak wangi pada  seragam sekolah untuk mengimbangi bau badannya. Mungkin gara-gara salju, ia sadar betapa pentingnya mandi dan mungkin saja ia sadar hanya hari ini saja, atau untuk seterusnya I don’t know, tapi yang penting sekarang, aku harus memandikannya.


 Semua pintu rumah sudah terkunci rapat, tak ada seorangpun di dalam. Penghuni rumah itu sendiri, cuma ayah, aku dan adik. Dari garasi samping rumah, terlihat mobil warna hitam keluar dari tempat tersebut. Adikku sudah ada di dalam, melambai-lambaikan tangannya, menandakan bahwa aku disuruh cepat-cepat datang ke sana, karena sebentar lagi mobil akan berangkat. Sedikit demi sedikit roda mobil berputar meninggalkan rumah, menyusuri gang kecil dan keluar menuju jalan raya utama kota.


\"Aduh panas sekali, yah, aku kepanasan nih.\" gerutu adik.
\"Tenang sedikit ya, ayah nyalakan AC mobil dulu.\"


Udara dingin mengisi ruang mobil. Tidak begitu dingin sih, tapi biarlah, yang penting tidak terasa panas dari yang tadi. Seperti biasanya, hilir mudik kendaraan bermotor selalu setia mengeluarkan asap beracun dari tabung knalpotnya, ditambah lagi asap mematikan dari cerobong pabrik melengkapi kesedihan langit biru.


\"Wah, bangunannya tinggi-tinggi ya, kak. kapan aku bisa masuk ke sana?\"
\"Iya, nanti kalau adik sudah besar, adik bisa masuk ke sana.\"

\"Pasti di dalam dingin, kapan aku jadi orang dewasa ya?\" angan-angan adik mulai tergambar di otakknya, ia membayangkan betapa enaknya menjadi orang dewasa. Lama-kelamaan ia tertidur pulas saat di tengah perjalanan.

\"Yah, memang kita mau ke mana? Kan, di sisni gak ada salju.\" Tanyaku saat adik tertidur pulas.
\"Tenang saja, Dan. Nanti kamu pasti tahu sendiri wujud asli dari salju itu apa.\"


Aku hanya bisa terdiam, mencoba memahami perkataan ayah. Tetapi semakin aku coba memahaminya, kepalaku semakin terasa berat. Setelah lewat beberapa waktu, mataku juga terasa berat, tanda kantuk mulai menyerangku. Akhirnya aku tertidur pulas tepat di samping adikku.

\"Danu, Danu, ayo bangun, sebentar lagi kita sudah sampai tujuan!.\"


Aku membuka mataku perlahan, masih belum jelas aku memandang sekitar. Namun perlahan-lahan semakin jelas juga. Mulutku menguap tak begitu lebar. Aku lihat pemandangan di luar jendela, tiba-tiba aku tersentak kaget dengan apa yang aku lihat.


\"Ayah, sepertinya aku ingat jalan ini.\"
\"Akhirnya kamu ingat juga, lebih baik sekarang kamu persiapkan semuanya. Dan jangan sampai adikmu terbangun, kasihan dari tadi ia belum istirahat\"


Aku mengemasi barang-barang yang akan dibawa nantinya. Tapi aku juga bingung, ada maksud apa, kok ayah melewati jalan ini, padahal disekitar tempat ini tak ada satupun salju apalagi turun dari langit. Lagi-lagi aku dibuat bingung dengan perkataan ayah.


\"Tapi kan, Yah, di tempat ini tak ada salju sama sekali. Apakah ayah mau membohongi aku dan adik tentang semua ini!\" Kuberanikan diri untuk mengatakannya. Aku sudah merasa dibuat pusing tentang masalah salju ini.

\"Danu, sabar sayang. Selama ini ayah tidak pernah bohong, kan? Masak seorang ayah yang mengajari anaknya bahwa bohong itu dosa, sekarang mau membohongi anaknya sendiri, nggak mungkin, kan, Dan?\"
\"Iya, Ayah benar.\"
\"Yang penting, sekarang kamu tunggu dengan sabar. Dan tunggu kejutan dari ayah!\"
“apa…kejutan!”
“iya kejutan yang tak disangka-sangka.”


Akupun terdiam menuruti perkataan, dan sekali lagi aku dibuat bingung dengan semua ini. Apakah kita mau ke puncak Jayawijaya di Papua? Itu tidak mungkin, karena perbekalan kita tidak mencukupi, lagipula jalan ini tidak menjurus ke sana. Apa pergi ke mall yang ada wahana salju buatannya? Tapi itu juga tidak mungkin, karena ini juga bukan jalan menuju ke sana. Waduh, aku bingung sekali. Sesekali aku membuang pikiran tersebut dengan melihat pemandangan di luar jendela mobil. Tapi sekarang pemandangannya lumayan indah, tidak seperti di kota, barisan pohon menghiasi jalan, jurang-jurang terlihat dari sini, dan ini adalah jalan menuju rumah nenek.

Mobil berhenti, tanda kami telah sampai tujuan.


\"Yah, apa ini tujuan kita?\"
\"Iya, ini tujuan kita.\"
\"Yang benar saja! Inikan rumah nenek, gak mungkin ada salju.\"
\"Kan tadi sudah ayah bilang, kamu akan tahu sendiri wujud salju sebenarnya. Sekarang bangunkan adikmu, karena sebentar lagi salju akan turun.\"


Ku goyangkan tubuh adik. ia kini telah membuka matanya, terlihat matanya masih belum sempurna untuk melihat.


\"Kak, apa kita sudah sampai?\"
\"Sudah, ayo cepat rapikan baju, kita akan turun melihat salju.\" Kataku dengan nada agak kesal.


Kami pun turun dari mobil dan memasuki halaman rumah nenek.


\"Nah, sekarang tetap di sini. Jangan ke mana-mana!\"
\"Ayah, Ayah mau ke mana?\" teriak adik.
\"Sebentar lagi ayah mau menurunkan salju untuk kalian!\" teriak ayah sambil berlari meninggalkan kami berdua sendirian di halaman rumah nenek yang cukup luas.
\"Emang di dalam rumah nenek ada saljunya ya, kak?\"


Aku hanya bisa mengangkat pundak tanda aku tak tahu. Tiba-tiba ayah melambaikan tangan dari jarak jauh.


\"Woi.. sebentar lagi saljunya akan turun, persiapkan diri kalian! Sekarang lihat pintu rumah nenek baik-baik!\" teriak Ayah dari kejauhan.


Kami berdua hanya diam dan melaksanakan apa yang diperintah oleh ayah. Kami melihat pintu dari kejauhan. Pintu terbuka, dan…


\"Ibuuu….!\" Teriak kami sembari berlari menuju ibu kami yang barusan keluar dari balik pintu. Pelukan dari ibu menyambut kami berdua. Ayah berlari menjemput kami bertiga dan lengkaplah jumlah keluarga kami.

Aku merasa inilah salju yang dimaksud oleh ayah. Kini aku mengerti, kehadiran ibu yang sudah lama kami dambakan selama 3 bulan meninggalkan kami demi mencari nafkah. Kini menjadi pendingin hati saat hati dibakar oleh rasa kangen yang sangat. Adikpun kini tertawa riang.


“Ibu kangen sama kalian, apa kalian baik-baik saja?”
“Seperti yang ibu lihat sendiri, kami dalam keadaan sehat”jawab ayah sembari tersenyum.


Salju yang putih, dingin, dan indah kini tergantikan oleh kehadiran sang bunda. Ini adalah kejutan yang amat spesial bagiku. Terima kasih ayah, atas salju yang telah kau hadirkan untuk kami.


“Ibu, apa ibu punya salju?”.perkataan adikku membuat diriku tersenyum kecil lagi.

 
 
Kembali Ke atas | Kembali Ke Index Galeri Sastra
 
 
 
  Situs © 2009-2017 Oleh Pejuang Islam