URL: www.pejuangislam.com
Email: editor@pejuangislam.com
 
Halaman Depan >>
 
 
Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami
Ustadz H. Luthfi Bashori
 Lihat Biografi
 Profil Pejuang Kaya Ide
 Imam Abad 21
 Info Asshofwah
Karya Tulis Pejuang


 
Ribath Almurtadla
Al-islami
 Pengasuh Ribath
 Amunisi Dari Tumapel
 Aktifitas Pengasuh
 Perjuangan Pengasuh
 Kalender Ribath
Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
 Sekilas Profil
 Program Pendidikan
 Pelayanan Masyarakat
 Struktur Organisasi
 Pengasuh PIQ
 
Navigasi Web
Karya Tulis Santri
MP3 Ceramah
Bingkai Aktifitas
Galeri Sastra
Curhat Pengunjung
Media Global
Link Website
TV GARIS LURUS
Kontak Kami
 
 
 Arsip Teriakan Pejuang
 
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [17/5/2017]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [16/5/2017]
   
SEBAIK-BAIK ORANG BERDOSA ADALAH YANG BERTOBAT 
  Penulis: Pejuang Islam  [6/5/2017]
   
KEUTAMAAN KALIMAT LA ILAHA ILLALLAH 
  Penulis: Pejuang Islam  [3/5/2017]
   
BACAAN DUA KALIMAT TASBIH YANG SANGAT BESAR PAHALANYA 
  Penulis: Pejuang Islam  [1/5/2017]
   
 
 Book Collection
 (Klik: Karya Tulis Pejuang)
Pengarang: H. Luthfi B dan Sy. Almaliki
Musuh Besar Umat Islam
Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat
Dialog Tokoh-tokoh Islam
Carut Marut Wajah Kota Santri
Tanggapan Ilmiah Liberalisme
Islam vs Syiah
Paham-paham Yang Harus Diluruskan
Doa Bersama, Bahayakah?
 
 WEB STATISTIK
 
Hari ini: Minggu, 28 Mei 2017
Pukul:  
Online Sekarang: 5 users
Total Hari Ini: 53 users
Total Pengunjung: 3446239 users
 
 
Untitled Document
 PEJUANG ISLAM - GALERI SASTRA
 
 
NUKLIR TUNDUK PADA IBUKU 
Penulis: Muhammad R. Sidoarjo [ 23/10/2009 ]
 

                                                       NUKLIR TUNDUK PADA IBUKU

                                                            Muhammad R. Sidoarjo


Asap hitam pekat mengepul mewarnai langit biru kota Kanchanaburi ,Thailand. Aliran darah dan jeritan menyayat hati selalu menyeruak di balik suasana kota tersebut. Para pemberontak berkeliaran . Banyak anak-anak tak berdosa menjadi korbannya. Terlihat seorang remaja keluar dari sebuah bangunan yang hampir roboh bersama seorang perempuan. Dia adalah Rhevan dan ibunya, beruntung mereka bisa menyelamatkan diri dari serangan pemberontak yang membabi buta.
“Ibu baik-baik saja kan?” tanya Rhevan.
“Iya, syukurlah ibu dalam keadaan baik kok” jawab ibu dengan dengan nafas terengah-engah.
“Ibu tunggu di sini saja, Rhevan mau pergi sebentar”
“Kamu mau ke mana Rhev?”
“Tenang saja bu, Rhevan bisa jaga diri kok, ibu jaga diri ya!” seru Rhevan sambil berlari meninggalkan ibunya.
Berbekal ilmu kimia yang didapatnya, Rhevan merakit sendiri bom gas air mata, dengan alat apa adanya. Setelah lama melewati beberapa proses yang lumayan sulit, akhirnya jadilah bom gas air mata tersebut. Rhevan bersembunyi mencari kesempatan untuk menyerang. Dilihatnya seorang pasukan akan keluar dari tank, si pasukan membuka pintu atap tank .Seketika itu, Rhevan melempar bom tersebut, dan masuk tepat ke dalam tank, pasukan tersebut terbatuk-batuk dan keluar dari tank. Rhevan mengambil senjata laras panjang yang ia temukan di tengah jalan. Dibidiknya orang itu dan Duarrr…peluru tepat bersarang di kepala pasukan tersebut. Rhevan berlari menaiki tank tersebut.
Tank Rhevan masuk dalam kelompok tank Ramdox, Rhevan mulai beraksi, ia mundur dari formasi sepuluh tank musuh. Tank Rhevan berhenti untuk mencari posisi menembak, tiba-tiba radar penghubung tank Rhevan berbunyi.
“Tank 025…tank 025…apa yang kau lakukan, cepat kembali ke barisanmu!” tegas salah satu pasukan lewat radar penghubung.
“Maaf, aku bukan pasukanmu, aku adalah Rhevan penduduk kota ini, jadi siapkanlah dirimu untuk merasaan tembakanku ini!” dengan sedikit senyuman, Rhevan mengancam.
“Apa kamu sudah gila…tolong jangan lakukan itu…jangan lakukan itu!” pinta pasukan tersebut.
“Terlambat…! Tiada maaf bagi kalian…!
“TIDAKKKKK…!!!”
Rhevan menembaki sembilan tank musuh dengan cepat, tanpa ada perlawanan, tank-tank musuh hancur beserta awaknya tanpa meninggalkan sisa sedikitpun kehidupan. Akhirnya kota Pattani aman untuk sementara waktu, walaupun masih meninggalkan pahit yang mendalam.
 “Siapa yang berani membantai anak buahku!” Genjy marah besar.
“Menurut informasi yang kami dapat, yang membantai mereka adalah Rhevan, seorang remaja 17 tahun tinggal di Kota Pattani sebelah barat” terang salah seorang pasukan.
“Baiklah, besok kita akan menyerang kota itu lagi, sekaligus untuk membalas dendam, aku akan ikut bersama kalian, apa kalian siap melakukan penyerangan besok lusa?”
“Siap…!!!” serentak seluruh pasukan.
“Malam ini, siapkan semua persenjataan kita, kita hancurkan kota tersebut tanpa sisa”
Semua persenjataan dipersiapkan. Genjy merasa yakin akan menang melawan seorang anak. Tapi di samping itu, ia mempunyai tujuan lain, selain membalas dendam pada Rhevan, yaitu menghancurkan seluruh Kota Pattani.
Pasukan Ramdox telah memasuki kota Pattani, orang-orang merasa ketakutan, mereka kembali lagi, mereka takut akan penyiksaan yang akan dilakukan mereka lagi pada penduduk kota. Seluruh pasukan mengumpulkan seluruh penduduk kota menjadi satu di alun-alun kota, setelah mereka berkumpul , Genjy membuka pembicaraannya.
“Siapa diantara kalian yang bernama Rhevan, cepat maju kemari!” tanya Genjy pada seluruh penduduk kota.
Semua orang  diam, karena tidak ada diantara mereka yang bernama Rhevan, selain Rhevan itu sendiri.
“Kalau Rhevan tidak mau keluar, maka aku tidak segan-segan membunuh kalian semua pada saat ini juga!!!”
Tiba-tiba…
“Aku adalah Rhevan, orang yang kau cari, sekarang apa yang kau mau dariku?” tantang Rhevan.
“Kemarin kau telah membunuh anak buahku , maka sebagai pemimpin, aku akan membunuhmu di depan mata penduduk kota ini sebagai rasa balas dendamku.” Terang Genjy.
“Tapi sebelum kau membuuhku, lihatlah anak buahmu, mereka akan merasakan kematian yang amat menyakitkan hanya dalam satu kedipan mata.” Gertak Rhevan.
Raja Genjy merasa kebingungan, begitu pula semua pasukannya, mereka merasa ketakutan ketika mendengar gertakan Rhevan.
“Apa maksud dari semua itu, aku tidak akan terpengaruh dengan gertakanmu!”
“Baiklah...sekarang lihat semua pasukanmu, mereka akan mati ketika aku memencet tombol ini!” sekali lagi Rhevan menggertak dengan senyuman, di tangan kanannya terdapat sebuah Remote kecil, ia angkat dan perlahan-lahan ia memencet tombol tersebut. Dan....
BLAM...BLAM...BLAM...semua kendaraan perang serta para pasukan Ramdox meledak hanya dalam hitungan detik, hanya ada satu kendaraan yang tidak meledak, yaitu kendaraan yang dikendarai si Genjy. Rupanya, Rhevan telah memasang bom pada kendaraan  mereka. Ia memasangnya ketika seluruh pasukan mengumpulkan penduduk kota, dengan tubuh mungilnya ia menyelinap sekaligus mengoperasikan bom waktu tersebut di badan kendaraan perang.


Pemimpin pasukan Ramdox terdiam sejenak, ia marah sekali dengan perbuatan Rhevan, ia pun berdiri dan menantang Rhevan kembali.
“Akutidak akan pernah kalah darimu, kau hanyalah anak kecil sedangkan aku adalah pemimpin sebuah pasukan besar” ejek Genjy.
“Hai, pemimpin tak tahu malu, sekarang seluruh pasukanmu telah mati, maka pulanglah dan menangislah dan jangan pernah kembali ke kotaku ini!”
Wajah Genjy berubah menjadi merah. Ia sangat tidak terima dengan pernyataan yang diutarakan Rhevan.
“Baiklah, engkau menang, tapi dengan benda ini, aku bisa menghancurkanmu bahkan bersama kotamu yang indah ini.Ha...Ha...Ha...!!!” sambil menunjuk sebuah nuklir berukuran raksasa.
Rhevan terdiam kaku, tak bisa bergerak , seakan-akan nafasnya berhenti, ia tidak menyangka kalau pasukan Ramdox punya benda seperti itu. Ia hanya tertunduk lesu, merasa tak sanggup lagi untuk melindungi kota tercintanya. Ia menganggap sa-isia saja usahanya untuk menyelamatakan kota. Sedangkan Genjy sangat berantusias meledakkan diri dan kota Rhevan, ia pu mulai menekan tombol tersebut dan...
DUAAAARRR...semua orang memejamkan mata, pasrah akan apa yang ditakdirakan Yang di Atas, dan mereka telah mengucapkan selamat tinggal pada dunia. Namun, tak ada hawa panas yang menyerang mereka. Perlahan-lahan Rhevan membuka matanya, dilihatnya Genjy telah tewas bersimbah darah, dalam batin Rhevan merasa senang sekali karena kotanya terselamatkan, di sisi lain ia merasa bingung siapa yang telah membunuh Genjy.
Sesosok bayangan terlihat dari jauh di belakang mayat Genjy. Rhevan meneliti siapakah sebenarnya orang tersebut, dan ternyata orang itu adalah ibu Rhevan sendiri, Rhevan berlari menjemput ibunya.
“Apa ibu tidak apa apa?”
“Iya nak ibu baik-baik saja, bagaimana denganmu?”
“Iya, Revan juga baik, ngomong ngomong ibu dapat shotgun  dari mana?” tanya Rhevan curiga.
“Oh senjata ini, tadi ibu menemukannya di tengah jalan saat aku mau ke sini.”
“Tetapi...ibu kok bisa ke sini, padahal Rhevan suruh ibu untuk tetap tinggal di tempat persembunyian, kalau ibu mati, siapa yang repot, Rhevan  kan !!!” Rhevan sangat marah pada ibunya, ia tidak mau terjadi apa apa pada ibunya.
“Maafkan ibu nak, sebagai seorang ibu aku tidak mau melihat anakku berjuang sendirian, aku khawatir dengan keadaanmu, jadi ibu membuntutimu dari belakang, ibu tak mau terjadi apa apa padamu.” Kata kata yang meluncur dari bibir membuat hati Rhevan melemas, apalagi sang ibu juga meneteskan air mata.
Suasana mendadak menjadi sunyi senyap. Rhevan hanya bisa diam mendengar tangisan ibunya. Beberapa menit kemudiam mata Rhevan tak kuat lagi kuat menahan air mata yang mau keluar. Air mata mata begitu deras mengalir membasahi pipi Rhevan.
“Bu, lihat kedua mataku”
Sang ibu sudah tak kuat lagi menahan tangisan,dengan pelukan hangat Rhevan memeluk tubuh ibunya sebagai tanda rasa kasih sayang padanya.
“Maafkan Rhevan bu, Rhevan telah menyakiti hati ibu.”
“Tidak apa apa Rhev, asal kamu selamat ibu akan selalu menyayangimu.”
Suasana sepi kembali menyelimuti kota, keselamatan para penduduk dalam keadaan sedikit tegang. Namun dengan kematian Genjy, sudah dipastikan tidak akan ada lagi penjarah sekejam dia. Berduyun-duyun seluruh penduduk meninggalkan tempat itu, mereka kembali ke rumah masing-masing dan menata kembali rumah yang roboh akibat ulah Genjy dan pasukannya. Sementara itu Rhevan masih merasakan kehangatan kasih sayang seorang ibu yang telah lama ia tidak rasakan.


 

 
 
Kembali Ke atas | Kembali Ke Index Galeri Sastra
 
 
 
  Situs © 2009-2017 Oleh Pejuang Islam