URL: www.pejuangislam.com
Email: editor@pejuangislam.com
 
Halaman Depan >>
 
 
Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami
Ustadz H. Luthfi Bashori
 Lihat Biografi
 Profil Pejuang Kaya Ide
 Imam Abad 21
 Info Asshofwah
Karya Tulis Pejuang


 
Ribath Almurtadla
Al-islami
 Pengasuh Ribath
 Amunisi Dari Tumapel
 Aktifitas Pengasuh
 Perjuangan Pengasuh
 Kalender Ribath
Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
 Sekilas Profil
 Program Pendidikan
 Pelayanan Masyarakat
 Struktur Organisasi
 Pengasuh PIQ
 
Navigasi Web
Karya Tulis Santri
MP3 Ceramah
Bingkai Aktifitas
Galeri Sastra
Curhat Pengunjung
Media Global
Link Website
TV GARIS LURUS
Kontak Kami
 
 
 Arsip Teriakan Pejuang
 
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [27/8/2017]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [27/8/2017]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [27/8/2017]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [27/8/2017]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [27/8/2017]
   
 
 Book Collection
 (Klik: Karya Tulis Pejuang)
Pengarang: H. Luthfi B dan Sy. Almaliki
Musuh Besar Umat Islam
Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat
Dialog Tokoh-tokoh Islam
Carut Marut Wajah Kota Santri
Tanggapan Ilmiah Liberalisme
Islam vs Syiah
Paham-paham Yang Harus Diluruskan
Doa Bersama, Bahayakah?
 
 WEB STATISTIK
 
Hari ini: Jumat, 22 September 2017
Pukul:  
Online Sekarang: 5 users
Total Hari Ini: 58 users
Total Pengunjung: 3593725 users
 
 
Untitled Document
 PEJUANG ISLAM - GALERI SASTRA
 
 
Penulis: Santri PIQ [ 23/6/2009 ]
 

S


Matahari pagi menebarkan pendarnya di jagat raya, awan putih berbaris rapi, di atas latar berwarna biru muda. Tanaman tebu berkumpul menjadi satu menjadi hutan tebu, puluhan hektare tanaman penghasil gula menari ditiup melodi angin. Aku sebagai anak seorang pengusaha sukses di desa, sering mengajak teman sekelas untuk memotong tebu bersama. Tapi dalam satu minggu ini entah mengapa aku dilarang melakukan kegiatan rutin tersebut.


Bayanganku sekarang sama dengan tinggi tubuhku. Untuk melepas rasa kangen dengan gemericik daun tebu, aku rela berpanas-panasan ,karena resahku dapat musnah saat mendengar nyanyian daun tebu, serta dengan itu aku bisa mentafakkuri kehebatan penciptaan alam semesta di kebun belakang rumahku.


Apa ini penyakit telinga atau bukan ataukah telingaku tertutup kerudung terlalu rapat, aku tidak tahu. Aku mendengar suara yang bukan termasuk melodi nada tebu. Terlihat bungkusan putih bergerak-gerak menggeliat ganas, tak ada suara apapun keluar dari bungkusan tersebut, dan ia masih tetap saja bergerak.


“Astaghfirullah, apa masud dari semua ini!” Wajah lucu nan imut terselip pada buntalan putih, kulitnya lembut masih berwarna semu merah, siapa gerangan yang tega meninggalkannya sendiri dalam keadaan mulut tertutup oleh lakban dan tali pusar masih menempel kokoh di perutnya.


“S?” aku bingung apa maksudnya.


Sebagai manusia, naluriku muncul dalam bentuk rasa sosial, aku membawanya pulang ke rumah. Jarak rumah dengan tempat aku menemukan bayi itu, cukup jauh. Namun pada waktu itu rasa peduliku tiba-tiba membara, padahal kebiasaanku adalah tidak mau tahu dengan keadaan sekitarku.


“Punya siapa ini?” ibuku bertanya. Beliau sangat antusias dengan kehadirannya, aku bisa melihat dari senyumannya. Mungkin sebagai seorang ibu, kehadiran seorang anak merupakan anugerah tersendiri bagi beliau.


“Aku tidak tahu”


“Apa ini?” beliau memegang kalung yang menggantung di leher si kecil.”S?”


“Mungkin itu nama ibunya” Itulah ide yang tiba-tiba muncul. Apa itu Sumiati, Suminten, Sugi, Suparnah atau siapalah…, tapi itu hanya tebakan saja.


“Bukan”


Aku terperangah tak karuan, mengapa beliau bisa berbicara seperti itu, dengan landasan apa bisa berkata seperti itu. Ah... itu hanya tebakan saja, bisa benar bisa juga salah. Maklumlah beliau juga manusia biasa.


“Son”


“Son?”


“Iya son”


“Son?”


“Son yang berarti anak laki-laki, Allah menakdirkan ini semua, pasti ada sesuatu. Sejak kematian ayahmu 2 tahun lalu, perusahaan pabrik gula tidak ada yang meneruskan, kalaupun itu ada hanya untuk waktu jangka pendek dan tidak banyak yang melakukan korupsi. Nah, dengan kehadiran anak laki-laki, kelak ialah yang akan meneruskan perusahaan ayahmu untuk seterusnya.”


Aku sekarang mengerti hakikat arti “S” sebenarnya, ibu sangat bersemangat untuk merawat si kecil, aku tidak cemburu walaupun beliau membagi cintanya pada si kecil, justru aku lebih senang karena aku punya adik, calon penerus perusahaan ayah, semoga saja ibu aslinya rela dengan semua ini. (PIQ)

 
 
Kembali Ke atas | Kembali Ke Index Galeri Sastra
 
 
 
  Situs © 2009-2017 Oleh Pejuang Islam