URL: www.pejuangislam.com
Email: editor@pejuangislam.com
 
Halaman Depan >>
 
 
Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami
Ustadz H. Luthfi Bashori
 Lihat Biografi
 Profil Pejuang Kaya Ide
 Imam Abad 21
 Info Asshofwah
Karya Tulis Pejuang


 
Ribath Almurtadla
Al-islami
 Pengasuh Ribath
 Amunisi Dari Tumapel
 Aktifitas Pengasuh
 Perjuangan Pengasuh
 Kalender Ribath
Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
 Sekilas Profil
 Program Pendidikan
 Pelayanan Masyarakat
 Struktur Organisasi
 Pengasuh PIQ
 
Navigasi Web
Karya Tulis Santri
MP3 Ceramah
Bingkai Aktifitas
Galeri Sastra
Curhat Pengunjung
Media Global
Link Website
TV GARIS LURUS
Kontak Kami
 
 
 Arsip Teriakan Pejuang
 
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [17/5/2017]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [16/5/2017]
   
SEBAIK-BAIK ORANG BERDOSA ADALAH YANG BERTOBAT 
  Penulis: Pejuang Islam  [6/5/2017]
   
KEUTAMAAN KALIMAT LA ILAHA ILLALLAH 
  Penulis: Pejuang Islam  [3/5/2017]
   
BACAAN DUA KALIMAT TASBIH YANG SANGAT BESAR PAHALANYA 
  Penulis: Pejuang Islam  [1/5/2017]
   
 
 Book Collection
 (Klik: Karya Tulis Pejuang)
Pengarang: H. Luthfi B dan Sy. Almaliki
Musuh Besar Umat Islam
Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat
Dialog Tokoh-tokoh Islam
Carut Marut Wajah Kota Santri
Tanggapan Ilmiah Liberalisme
Islam vs Syiah
Paham-paham Yang Harus Diluruskan
Doa Bersama, Bahayakah?
 
 WEB STATISTIK
 
Hari ini: Minggu, 28 Mei 2017
Pukul:  
Online Sekarang: 5 users
Total Hari Ini: 53 users
Total Pengunjung: 3446239 users
 
 
Untitled Document
 PEJUANG ISLAM - GALERI SASTRA
 
 
BERTENGKAR KARENA PAK TUA 
Penulis: Salim (Mojokerto) [ 19/4/2009 ]
 

                             BERTENGKAR KARENA PAK TUA
                                                         Salim (Mojokerto)


 Pada suatu hari, di saat subuh tiba, ada dua orang santri yang sedang melakukan shalat. Mereka adalah Budi dan Agung. Kedua orang santri ini, mempunyai niatan akan pulang ke kampung halaman masing-masing di Surabaya, dengan menaiki kereta api dari stasiun Singosari. Setelah keduanya menyiapkan baju dan kitab ke dalam tas, mereka berangkat menuju stasiun. Setiba di sana, mereka melihat jadwal keberangkatan kereta api yang bertujuan ke Surabaya.
 
 Ternyata kereta api berangkat pada waktu 07.00. Setelah menunggu cukup lama, maka loketpun dibuka karena kereta api sudah dating dan parkir di depan stasiun, dan Agung berdiri untuk membeli tiket. Sedangkan Budi, sambil menunggu pemberangkatan kereta, ia berbincang-bincang dengan bapak tua yang sejak tadi duduk  di samping mereka.
 ’’Assalamu’alaikum”. Budi menyapa.
 “Wa’alaikum salam”. Jawab Pak tua.
 “Numpang tanya, bapak mau ke mana”?. Tanya budi.
 “Oooo,saya mau ke kota bangil”. Jawab Pak tua.
 “Memangnya ada urusan apa pak ke Bangil”?. Tanya Budi dengan wajah penasaran.
“Saya ke Bangil mau berbelanja sepatu  karena sepatu  yang berada di toko saya stoknya habis”. Jawab Pak tua.
 “Kalau adik mau kemana”.Tanya Pak tua.
 “Saya mau pulang ke Surabaya karena liburan pesantren sama teman saya”. Jawab Budi.

 Tiba-tiba Agung berkata kepada Budi dengan wajah murung ,“Bud jangan lama-lama, soalnya keretanya mau berangkat, apakah kamu mau tak tinggal sendirian di stasiun bersama preman-preman di sini ”.
 “Ya tidak toh Gung”. Jawab Budi.

 Tidak lama kemudian dialog dengan orang tua itu terputus, karena kereta api yang akan ke Surabaya sudah mulai menbunyikan bel panjang pertanda akan berangkat. Kedua santri itu naik ke dalam kereta. Di dalam kereta Budi  menyalahkan Agung, karena dioalognya dengan Pak tua dipotong dengan istilah yang kurang mengenakkan hati, sehingga Budi tidak bisa berbincang-bincang lama dengan Pak tua. Tapi Agung cuek saja mendengar omongan Budi, dan mencari posisi untuk dapat memejamkan mata, pertanda kantuk berat menyertai kelopak matanya. Akhirnya, kereta api itu diberangkatkan untuk melanjutkan perjalanannya merlewati kota Lawang, Bangil, Sidoarjo, Wonokromo dan yang terakhir adalah stasiun Surabaya Kota, atau yang lebih dikenal dengan sebutan stasiun Semut.


                                                                                                                       Medio 19 April 09, Ribath. 
 

 
 
Kembali Ke atas | Kembali Ke Index Galeri Sastra
 
 
 
  Situs © 2009-2017 Oleh Pejuang Islam