URL: www.pejuangislam.com
Email: editor@pejuangislam.com
 
Halaman Depan >>
 
 
Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami
Ustadz H. Luthfi Bashori
 Lihat Biografi
 Profil Pejuang Kaya Ide
 Imam Abad 21
 Info Asshofwah
Karya Tulis Pejuang


 
Ribath Almurtadla
Al-islami
 Pengasuh Ribath
 Amunisi Dari Tumapel
 Aktifitas Pengasuh
 Perjuangan Pengasuh
 Kalender Ribath
Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
 Sekilas Profil
 Program Pendidikan
 Pelayanan Masyarakat
 Struktur Organisasi
 Pengasuh PIQ
 
Navigasi Web
Karya Tulis Santri
MP3 Ceramah
Bingkai Aktifitas
Galeri Sastra
Curhat Pengunjung
Media Global
Link Website
TV GARIS LURUS
Kontak Kami
 
 
 Arsip Teriakan Pejuang
 
MASUK SURGA DENGAN AMAL SHALEH & KEIMANAN 
  Penulis: Pejuang Islam  [11/4/2017]
   
SETIAP ORANG ITU DIDAMPINGI SETAN 
  Penulis: Pejuang Islam  [9/4/2017]
   
TANDA CINTA KEPADA ALLAH, TIDAK MELANGGAR ATURAN SYARIAT 
  Penulis: Pejuang Islam  [8/4/2017]
   
SILATURRAHIM ULAMA JAWA TIMUR & CAGUB MUSLIM UNTUK DKI 
  Penulis: Pejuang Islam  [6/4/2017]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [6/4/2017]
   
 
 Book Collection
 (Klik: Karya Tulis Pejuang)
Pengarang: H. Luthfi B dan Sy. Almaliki
Musuh Besar Umat Islam
Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat
Dialog Tokoh-tokoh Islam
Carut Marut Wajah Kota Santri
Tanggapan Ilmiah Liberalisme
Islam vs Syiah
Paham-paham Yang Harus Diluruskan
Doa Bersama, Bahayakah?
 
 WEB STATISTIK
 
Hari ini: Minggu, 23 April 2017
Pukul:  
Online Sekarang: 5 users
Total Hari Ini: 706 users
Total Pengunjung: 3404232 users
 
 
Untitled Document
PROFIL RIBATH - Ribath Almurtadla Al-islami 

“Amunisi dari bumi Tumapel”

Di tengah padatnya pusat ekonomi sebuah kecamatan kecil kabupaten Malang. Lahirlah sebuah tempat dengan nama yang indah dan lembut, sebuah keinginan dan cita-cita telah terukir indah atas nama kesucian abadi, Ribath Al-murtadla al-Islami namanya. Sebuah lembaga pendidikan yang terletak di pinggiran kota Malang, di lembah gunung arjuna, tepatnya di kecamatan Singosari. Pesantren dengan luas 500m2 itu terlihat sangat kecil dibandingkan dengan pesantren-pesantren lain yang berada disekitarnya. Diasuh langsung oleh pendirinya, seorang aktifis islam yang masih muda yang selalu berada di garis depan dalam memperjuangkan islam dan eksistensinya, K.H Luthfi Basori Alwi. Pondok yang hanya dihuni delapan belas orang itu terlihat sangat bersih, nyaman dan asri. Suasananya yang tenang dengan udara khas pegunungan menjadikan tempat belajar dan menggali ilmu agama tersebut sebuah tempat ideal untuk melahirkan dai-dai muda yang cerdas dan berwawasan luas. Dari tempat kecil nan asri inilah, muncul berbagai ide-ide kreatif dalam metode penyebaran islam sesuai dengan perkembangan masa namun tetap dalam jalur dan aqidah sesuai dengan syariat islam. Meskipun hanya sebuah tempat yang mungil, akan tetapi tidak menjadikan semangat para penuntut ilmu itu kecil, bahkan dengan jumlah yang minimal tersebut akan membuat sistem dalam pembelajaran dan pentransferan ilmu-ilmu yang suci menjadi maksimal.

Aktifitas para santri berawal sebelum adzan shubuh dikumandangkan. Mempergunakan sepertiga terakhir dari waktu malam untuk bermunajat kepada sang Khalik, dengan bersujud, berdzikir dan tilawah al-Quran, atau yang akrab dikalangan para penuntut ilmu dengan istilah qiyamullail atau bangun malam. Tradisi yang diajarkan oleh para ulama salaf itu sangat membantu dalam meningkatkan semangat belajar bagi anak didik kyai yang delapan tahun menempuh pendidikan di timur tengah tersebut. Dilanjutkan dengan shalat shubuh berjamaah yang diimami langsung pengasuh pondok, para calon pewaris rasul dan nabi itu terlihat rapi dan tertib dengan baju takwa putih, peci putih dan bersarung. Sebuah seragam yang menjadi ciri khas yang dibawa oleh para alumni timur tengah khususnya murid-murid Abuya Assayyid Muhammad bin Alwy al-Maliki. Ritual ibadah shubuh telah dilaksanakan bersama, maka dengan penuh kedewasaan, para santri yang tidak diperbolehkan mengikuti sekolah formal itu menyiapkan alat tulis dan kitab yang akan dikaji langsung kepada kyai Luthfi. Dengan berdasar aqidah ahlussunnah wal jamaah dan menggunakan madzhab fiqih syafii, para santri yang berasal dari beberapa kota di Jawa Timur dan Bali itu sangat antusias menyimak serta memperhatikan penjelasan yang disampaikan sang guru. Setelah satu jam setengah mereka mengkaji kitab, maka tibalah waktu yang ditunggu-tunggu para santri, yaitu sarapan pagi. Dengan menu yang disajikan dari ndalem, setiap anak mendapat jatah sarapan pagi berupa satu piring nasi lengkap dengan lauk dan sayuran. Tergolong lengkap dan istimewa memang, karena masakan disajikan langsung dari ndalem kyai, tidak seperti kebanyakan pondok pesantren yang memasak sendiri atau membeli makanan di luar pondok. Satu jam telah berlalu dari waktu yang diberikan kepada para santri untuk menyantap sarapan pagi, maka tibalah kembali waktu untuk menggali ilmu-ilmu Allah. Jadwal pelajaran yang diberikanpun disesuaikan dengan jadwal guru yang bertepatan mengajar pada hari itu. Salah satu pelajaran yang dikaji dalam pondok pesantren yang baru berusia tujuh tahun itu adalah kitab matjaru al-Robih, kitab yang sangat masyhur yang berisi untaian mutiara hadits baginda nabi besar Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh para imam hadits seperti imam Bukhori, imam Muslim, imam Ahmad bin Hambal dan beberapa imam lain yang berhalauan ahlussunnah wal jamaah. Seperti pada waktu dhuha hari selasa itu, kyai yang menempuh pendidikan di Mekkah al-Mukarromah tersebut menjelaskan sebuah hadits tentang keutamaan shalat malam yang berbunyi : “Fadhlu shalati layli ‘ala shalati nahari kafadhli shodaqoti sirri ‘ala shodaqoti ‘alaniyyati”. Dengan gaya bahasa yang ringan beliau menjelaskan, “ Wahai anak-anakku…, ketahuilah bahwasanya shalat malam itu memiliki banyak keutamaan yang tidak dimiliki pada shalat-shalat yang dikerjakan di siang hari. Yang dimaksud shalat di siang hari adalah shalat-shalat sunnah yang mengiringi shalat wajib atau shalat sunnah rowatib. Pada hadits diatas, baginda nabi SAW menyebutkan salah satu keutamaan shalat malam, yaitu ibarat orang yang bersedekah secara terang-terangan dengan orang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi. Perlu juga kalian ketahui wahai anak-anakku sekalian, kenapa Rasulullah mencontohkan dengan pahala orang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi seperti juga pahala orang yang mengerjakan shalat malam. Disini terkandung pelajaran yang besar dalam dua masalah sekaligus. Yaitu, barang siapa yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi maka dia telah mengerjakan suatu ibadah yang sangat jarang dilakukan oleh orang lain. Karena seperti yang kita ketahui bersama pada zaman sekarang ini, banyak sekali orang yang mengeluarkan hartanya untuk bersedekah akan tetapi tidak untuk mencari ridlo dari Allah SWT melainkan untuk mendapatkan simpati atau pamor di mata orang lain. Bahkan yang lebih parah lagi dan yang perlu kalian hindari wahai anak-anakku, banyak diantara mereka yang mengeluarkan hartanya dengan niat dan tujuan tertentu. Semisal, sebagian tokoh politik yang menginginkan kedudukan atau jabatan pada pemerintahan, dengan berdalih ingin memberikan bantuan agar mendapatkan pahala dari Allah SWT, mereka membagikan uang kepada masyarakat akan tetapi juga dengan terang-terangan meminta masyarakat untuk memilihnya dalam ajang pemilihan umum. Padahal, yang seperti ini sangatlah besar dosanya disisi Allah SWT, akan tetapi banyak yang mengerjakanya. Berbeda dengan orang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi. Mereka sangat berhati-hati bahkan tidak ingin orang lain mengetahui apa yang telah mereka kerjakan. Karena mereka tahu, pahala dari Allah SWT pastilah jauh lebih besar dibandingkan dengan simpati yang datangnya dari manusia, akan tetapi sedikit yang melakukanya. Begitu pula dengan shalat malam dalam percontohan masalah ini. Orang yang menunaikan shalat malam jarang yang diketahui orang banyak, maka jarang pula yang mengerjakanya meskipun pahala dan ganjaranya jauh lebih besar dibanding dengan shalat yang dikerjakan pada siang hari yang banyak dilihat orang. Nah, wahai anak-anakku sekalian, disinilah letak perbedaan antara shalat malam dengan shalat yang dikerjakan pada siang hari. Dan juga antara persamaanya dengan sedekah yang telah dijelaskan tadi…”. Begitulah cara penyampaian yang dilakukan kyai yang akrab di panggil oleh murid-muridnya dengan sebutan ammy yang artinya paman. Dengan bahasa yang ringan dan jelas, sehingga penjelasan ilmu kepada murid-muridnya dapat diterima dengan mudah meskipun diantara mereka ada yang masih menginjak usia anak-anak.

Selain pelajaran hadits, masih banyak lagi pelajaran lain yang digali oleh santri ribath. Diantara yang lain adalah, pelajaran ilmu tasawuf dengan menggunakan kitab al-Nashoih al-Diniyyah karangan al-habib Abdullah bin Alwi al-Haddad, ilmu tauhid yang menggunakan kitab al-Bahjah al-Saniyyah fii al-Sarh al-Khoridah al-Bahiyyah karangan imam Hasan Muhammad Masyath, ilmu fiqih dengan menggunakan kitab fathu al-Qorib, ilmu alat dengan menggunakan kitab al-Jurmiyyah, dan masih banyak pelajaran-pelajaran penting lainya yang sangat penting bagi para santri asuhan ketua MUI Komisi Hukum dan Fatwa kabupaten Malang tersebut. Disamping pelajaran yang bersifat teori, pesantren yang terlatak di jantung kecamatan singosari itu juga mengajarkan ilmu sosial dengan cara menerjunkan para santrinya setiap hari kamis untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat. Dengan sistem setiap anak harus bisa mendapatkan ilmu yang menghasilkan kerajinan tangan dari sebuah pabrik atau rumah industry yang telah dimintai ijin sebelumnya. Tujuan dari pembelajaran ini supaya para santri yang sebagian besar hanya tamatan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama itu, kelak bisa menciptakan sebuah lapangan pekerjaan sendiri tanpa harus menggantungkan masa depanya pada orang lain apabila ia ditakdirkan tidak menjadi seorang dai atau tokoh agama. Dari pelajaran ini, ada beberapa karya tangan yang telah dihasilkan oleh santri yang selalu keluar lokasi pondok dengan pakaian putih dan bersarung tersebut. Diantaranya, hasil karya sablon, baik berupa sablon di atas kertas maupun sablon di atas kain. Ada juga karya tangan yang berupa sapu ijuk, yang mereka dapatkan ilmunya dengan berjalan kaki menuju sebuah rumah industri yang berjarak sekitar satu kilometer dari lokasi pesantren. Dan masih banyak lagi hasil karya yang diciptakan tangan-tangan suci para santri.

Selain mendalami ilmu sosial dengan tujuan mendedikasikan para santri agar mempunyai bekal dalam hidup mandiri, ustadz yang aktif sebagai penasihat di beberapa organisasi islam ini juga membekali murid-muridnya dengan pelajaran bersosialisasi dengan masyarakat, dengan tujuan supaya para santrinya tidak asing dengan karakteristik setiap orang yang kelak mereka hadapi sepulang dari pesantren. Kegiatan ini mereka adakan dua kali dalam setahun dengan istilah tarbiyyah ijtima’iyyah atau tar’ij yang artinya pendidikan kemasyarakatan. Sistem pelajaran ini tak ubahnya dengan sistem yang diajarkan oleh perguruan-perguruan tinggi pada umumnya, yaitu, magang atau KKN, dengan menerjunkan para santrinya pada sebuah desa yang telah ditetapkan oleh kyai. Desa-desa yang telah mereka jadikan tempat berdakwah diantaranya adalah desa Nongkojajar, yang terletak di wilayah kabupaten Pasuruan, di puncak perbukitan Tengger. Juga mereka mengunjungi wilayah Jogjakarta, tepatnya di daerah Dengkeng-Krapyak, yang menjadi pusat gempa pada tahun 2006. Diantaranya juga tempat yang menjadi target dakwah mereka yaitu beberapa wilayah Malang dan Singosari, meliputi daerah Batu, Karangploso, Dengkol dan Sendang Biru yang merupakan basis kristenisasi. Disisi lain tujuan untuk mengenalkan para santri kepada masyarakat, kegiatan ini memiliki tujuan mulia yang merupakan puncak cita-cita seorang tholib ilmi, yaitu menyebarkan ajaran yang dibawa oleh baginda nabi besar Muhammad SAW. Inilah sisi-sisi pelajaran santri yang diterapkan pada pondok yang berdiri pada tanggal 5 juli 2001 itu.

Yang menjadikan pesantren kecil ini menjadi ‘besar’ terletak pada sosok pendirinya. Sosok yang keras dan tegas dalam menjalankan syariat agama. Tidak mengenal takut dalam memperjuangkan kebenaran meskipun mendapatkan banyak rintangan. Kyai Haji Luthfi basori, lahir pada tanggal 5 juli 1965, putra kesembilan dari pasangan pendiri pondok pesantren Ilmu al-Quran, yaitu K.H Bashori Alwy. Selain menjadi pendiri dan pengasuh pondok pesantren Ribath al-Murtadla al-Islami, beliau juga menjabat sebagai ketua umum pesantren yang didirikan ayahanda beliau. Di kalangan para aktifis muslim, kyai yang akrab dipanggil ustadz itu terkenal dengan kegigihanya dalam memberantas kemungkaran yang merajalela di bumi Nusantara. Tidak sedikit dari pemikiran-pemikiran tokoh muda yang berguru langsung kepada ulama kaliber dunia, ulama yang terkenal dengan ilmu haditsnya, abuya assayyid Muhammad bin Alwy al-Maliki itu, tertuang dalam berbagai macam karya tulisnya yang berupa buku ilmiah atau artikel-artikel yang dimuat di beberapa media cetak. Karya yang terlahir dari pemikiran ustadz Luthfi, menyesuaikan dengan perkembangan dunia islam. Beliau tidak pernah lelah memerangi penyesatan aqidah yang dilakukan oleh beberapa kelompok tertentu. Dengan berpegang teguh pada ajaran yang beliau dapatkan dari sang guru besar, ustadz Luthfi sejak kembalinya dari negeri hijaz pada tahun 1991, selalu berupaya mengembalikan ajaran yang dibawa oleh wali songo di tanah jawa ini, yang semakin menyimpang dari jalur aqidah Ahlussunnah wal Jamaah. Dari ketegasan beliau memerangi ajaran-ajaran sesat yang dibawa oleh agama Syi’ah, Wahabi, hingga ajaran sesat Ahmadiyah, Ustadz Luthfi juga sangat keras dalam melawan aliran sesat Jaringan Islam Liberal yang diprakarsai oleh tokoh islam dalam negeri sendiri. Beliau tidak mengenal takut demi menjaga kelestarian agama islam meskipun harus berhadapan dengan tokoh nasional sekelas Abdurrahman Wachid, Nurkholis Majid, Masdar F Mas’udi, Ulil Abshar Abdalla dan beberapa tokoh Liberal lainya. Berpegang teguh dengan ajaran islam yang disampaikan oleh Hadhratus Saikh Kyai Haji Hasyim Asy’ari, pendiri oraganisasi islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama, lewat kitab Risalah Ahlussunnah wal Jamaah, usatdz Luthfi berusaha untuk mengembalikan AD/ART NU dengan mengajarkanya pada generasi penerus bangsa dibawah organisasi Nahdlatul Ulama. Upaya mengkaji kembali kitab karangan pendiri NU dilakukan ustadz yang dikaruniai dua bidadari cantik dan cerdas, lantaran munculnya beberapa tokoh sesat yang mengatasnamakan NU mulai menyebarkan ajaran-ajaran menyimpang dari tujuan pendiri NU itu sendiri. Bahkan yang sangat disayangkan lagi oleh juru bicara Dewan Imamah Nusantara atau DIN itu, mereka yang berusaha merusak tatanan NU, adalah mereka yang menjabat sebagai pengurus inti dalam structural organisasi terbesar itu sendiri. Yang sangat menyedihkan lagi bagi para sesepuh NU, komentar kyai muda ini, ada diantara mereka merupakan cucu dari K.H Hasyim Asy’ari, yaitu Gus Dur. Dari sini, maka terbitlah buah karya dari pemikiran beliau, buku ilmiah berjudul Musuh Besar Umat Islam, yang didalamnya mengupas tuntas kesesatan-kesesatan Jaringan Islam Liberal yang mengusung sekularisme, pluralisme dan liberalisme atau SEPILIS. Sehingga tidak sedikit kyai yang hanya tamatan SLTP ini mendapatkan kecaman dan tuduhan radikal dari pihak liberal yang mengatasnamakan Hak Asasi Manusia dan nasionalisme dalam menjaga keutuhan Pancasila. Akan tetapi, dengan keilmuan yang tinggi disertai dengan wawasan yang luas, beliau menganggap itu semua adalah ujian yang diberikan oleh Allah SWT yang harus beliau lewati dengan bijaksana dan penuh kearifan tanpa harus mundur demi tegaknya syariat islam di bumi nusantara ini.

Tidak sedikit dari tokoh-tokoh islam seperjuangan yang bertamu ke kediaman beliau yang menyatu dengan pondok yang berdiri di jalan Tumapel itu. Baik dari kalangan tokoh islam nasional maupun ulama yang datang dari luar Indonesia. Diantara para tokoh tersebut yaitu, K.H Sholahuddin Wahid, Habib Rizieq Syihab, Ustadz Abu Bakar Ba’asir, dan ratusan Habaib serta Ulama lainnya seperti beberapa tokoh islam dari HAMMAS Palestina, Syeikh Yasir Ba`syin dari Jeddah, dll. Meskipun tempatnya kecil yang hanya dihuni beberapa santri, Ribath al-Murtadla merupakan pusat lahirnya ide-ide cemerlang yang sering juga melahirkan keputusan yang menjadi tonggak bagi tegaknya syariat islam di bumi Indonesia. Maka tak heran apabila julukan ” Amunisi dari Tumapel ” ditujukan kepada pondok mungil tersebut. Kecil namun mampu menembus ketebalan dari kesesatan-kesesatan yang muncul ibarat jamur di musim hujan. Tanpa mengenal lelah dalam berjuang, tanpa mengenal takut dalam berkata benar. Ribath Al-Murtadla Al-Islami, ikatan yang menyatukan tiap muslim dalam mengharapkan ridla Allah SWT. Amien ya rabbal ‘alamin. (Abdillah Adam, Pasuruan).

(pejuangislam)

 
  Situs © 2009-2017 Oleh Pejuang Islam