URL: www.pejuangislam.com
Email: editor@pejuangislam.com
 
Halaman Depan >>
 
 
Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami
Ustadz H. Luthfi Bashori
 Lihat Biografi
 Profil Pejuang Kaya Ide
 Imam Abad 21
 Info Asshofwah
Karya Tulis Pejuang


 
Ribath Almurtadla
Al-islami
 Pengasuh Ribath
 Amunisi Dari Tumapel
 Aktifitas Pengasuh
 Perjuangan Pengasuh
 Kalender Ribath
Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
 Sekilas Profil
 Program Pendidikan
 Pelayanan Masyarakat
 Struktur Organisasi
 Pengasuh PIQ
 
Navigasi Web
Karya Tulis Santri
MP3 Ceramah
Bingkai Aktifitas
Galeri Sastra
Curhat Pengunjung
Media Global
Link Website
TV ONLINE
Kontak Kami
 
 
 Arsip Teriakan Pejuang
 
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [18/5/2019]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [18/5/2019]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [18/5/2019]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [18/5/2019]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [18/5/2019]
   
 
 Book Collection
 (Klik: Karya Tulis Pejuang)
Pengarang: H. Luthfi B dan Sy. Almaliki
Musuh Besar Umat Islam
Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat
Dialog Tokoh-tokoh Islam
Carut Marut Wajah Kota Santri
Tanggapan Ilmiah Liberalisme
Islam vs Syiah
Paham-paham Yang Harus Diluruskan
Doa Bersama, Bahayakah?
 
 WEB STATISTIK
 
Hari ini: Kamis, 23 Mei 2019
Pukul:  
Online Sekarang: 3 users
Total Hari Ini: 181 users
Total Pengunjung: 4415868 users
 
 
Untitled Document
 PEJUANG ISLAM - KARYA ILMIAH USTADZ LUTHFI BASHORI
 
 
TAWASSUL DENGAN JEJAK PENINGGALAN NABI 
Penulis: As-Sayyid Muhammad bin Alawi A [ 3/9/2016 ]
 
TAWASSUL DENGAN JEJAK PENINGGALAN NABI

 As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani

 Ada sebuah riwayat yang menjelaskan bahwa para sahabat memohon berkah dengan peninggalan-peninggalan beliau SAW. memohon berkah ini tidak ada lain kecuali memberikan satu pengertian, yakni bertawassul dengan jejak-jejak peninggalan beliau SAW sebab tawassul bisa dilakukan dengan beragam cara bukan hanya dengan satu cara.

 Apakah anda mengira para sahabat hanya bertawassul dengan perantara jejak peninggalan beliau, tidak dengan sosok beliau sendiri? Apakah logis jika cabang bisa dijadikan objek tawassul tapi yang pokok tidak?

 Apakah logis, jika jejak peninggalan beliau yang kemuliaannya disebabkan pemiliknya, yakni Nabi Muhammad, bisa dijadikan objek tawassul, lantas ada seseorang berkata, Sesungguhnya beliau SAW tidak bisa dijadikan objek tawassul. Subhaanaka Hadzaa Buhtaanun Adhiim.

 Dalil-dalil menyangkut tema ini sangatlah banyak jumlahnya. Namun kami hanya akan menyebut nash yang paling populer. Diriwayatkan bahwa Amirul Mukminin Umar ibn Al-Khattab sangat ingin untuk dimakamkan di samping makam Rasulullah. Saat ajalnya menjelang tiba, ia mengutus anaknya, Abdullah untuk meminta izin kepada Sayyidah Aisyah agar bisa dikubur di samping makam beliau SAW. kebetulan Aisyah menyatakan keinginan yang sama.

Dulu saya ingin tempat itu menjadi kuburanku, dan saya akan memprioritaskan Umar untuk menempatinya. Kata Aisyah. Abdullah pun pulang memberi kabar suka cita yang besar kepada ayahnya. Alhamdulillah, tidak ada sesuatu yang lebih penting melebihi hal itu. Ucap Umar. Kisah ini secara detail bisa dilihat di Shahih Al-Bukhari. Lalu apa arti keinginan besar dari Umar dan Aisyah?

 Mengapa dimakamkan di dekat Rasulullah menjadi hal yang sangat diinginkan oleh Umar? Hal ini tidak bisa dipahami kecuali semata-mata tawassul dengan Nabi SAW sesudah wafat seraya mengharap keberkahan dekat dengan beliau.

 Dalam riwayat disebutkan, Ummu Sulaim memotong mulut geriba (tempat air susu) yang beliau SAW meminum dari wadah itu. Anas berkata, Potong mulut geriba itu ada pada kami.


Bahkan diriwayatkan, para sahabat berebut untuk memungut sehelai rambut kepala beliau SAW, saat beliau mencukurnya.

 Asma binti Abu Bakar menyimpan jubah beliau dan berkata, Kami membasuhnya untuk orang-orang sakit dengan harapan memohon kesembuhan dengannya.

 Cincin Rasulullah disimpan oleh Sahabat Abu Bakar, Umar, dan Utsman setelah beliau wafat. Dan cincin itu akhirnya jatuh ke sumur dari tangan Utsman.

 Semua hadits-hadits di atas derajatnya kuat dan shahih sebagaimana akan kami jelaskan dalam bahasan memohon keberkahan (tabarruk). Yang ingin saya katakan adalah ada apa dengan perhatian para sahabat terhadap jejak-jejak peninggalan Nabi SAW? (mulut geriba, rambut, keringat, jubah, cincin, dan tempat shalat). Apa maksud perhatian mereka terhadapnya? Apakah hanya sekedar kenangan, tidak lebih dan tidak kurang, atau hanya menjaga benda-benda peninggalan bersejarah untuk di simpan di museum? Jika alasan pertama sebagai jawaban, lalu mengapa mereka sangat menaruh perhatian dengannya ketika berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah saat tertimpa musibah atau penyakit? Jika alasan kedua sebagai jawaban, lalu di manakah museum itu berada dan dari mana ide baru itu sampai kepada mereka? Subhaanaka Haadzaa Buhtaanun Adhiim.

 Tidak ada tujuan lain dari para sahabat dengan menggunakan jejak-jejak peninggalan Nabi untuk dijadikan media tawassul kepada Allah saat berdoa. Hal ini karena Allah adalah Dzat pemberi dan tempat meminta. Semua makhluk adalah hamba-Nya dan di bawah kendali-Nya, yang tidak bisa memberi apapun kepada diri mereka sendiri apalagi orang lain, kecuali atas izin Allah.

   
 Isikan Komentar Anda
   
Nama 
Email 
Kota 
Pesan/Komentar 
 
 
 
1.
Pengirim: Mohamad Sanin  - Kota: Bali
Tanggal: 21/3/2015
 
alhamdulillah terima kasih tas ulasan dan petuahnya Ustadz semoga Allah senantiasa menjaga kemurnian NU dari oknum-oknum yang tidak suka dg NU.  
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Semoga kita dapat menjaga NU dari pengaruh aliran sesat seperti: JIL, Syiah dan Wahhabi.

 
 
Kembali Ke atas | Kembali Ke Index Karya Ilmiah
 
 
 
  Situs © 2009-2019 Oleh Pejuang Islam