URL: www.pejuangislam.com
Email: editor@pejuangislam.com
 
Halaman Depan >>
 
 
Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami
Ustadz H. Luthfi Bashori
 Lihat Biografi
 Profil Pejuang Kaya Ide
 Imam Abad 21
 Info Asshofwah
Karya Tulis Pejuang


 
Ribath Almurtadla
Al-islami
 Pengasuh Ribath
 Amunisi Dari Tumapel
 Aktifitas Pengasuh
 Perjuangan Pengasuh
 Kalender Ribath
Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
 Sekilas Profil
 Program Pendidikan
 Pelayanan Masyarakat
 Struktur Organisasi
 Pengasuh PIQ
 
Navigasi Web
Karya Tulis Santri
MP3 Ceramah
Bingkai Aktifitas
Galeri Sastra
Curhat Pengunjung
Media Global
Link Website
TV ONLINE
Kontak Kami
 
 
 Arsip Teriakan Pejuang
 
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [18/5/2019]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [18/5/2019]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [18/5/2019]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [18/5/2019]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [18/5/2019]
   
 
 Book Collection
 (Klik: Karya Tulis Pejuang)
Pengarang: H. Luthfi B dan Sy. Almaliki
Musuh Besar Umat Islam
Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat
Dialog Tokoh-tokoh Islam
Carut Marut Wajah Kota Santri
Tanggapan Ilmiah Liberalisme
Islam vs Syiah
Paham-paham Yang Harus Diluruskan
Doa Bersama, Bahayakah?
 
 WEB STATISTIK
 
Hari ini: Kamis, 23 Mei 2019
Pukul:  
Online Sekarang: 3 users
Total Hari Ini: 178 users
Total Pengunjung: 4415863 users
 
 
Untitled Document
 PEJUANG ISLAM - KARYA ILMIAH USTADZ LUTHFI BASHORI
 
 
Mujuhadah Dengan Mendidik Jiwa-8 
Penulis: As-Sayyid Muhammad bin Alawi A [ 3/9/2016 ]
 
Mujahadah Dengan Mendidik Jiwa-8

As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani

Demikian ini dengan memberikan harta dengan murah hati dan tanpa ragu di tempat-tempat yang membutuhkan yang (hal itu justru) membawa kembali (kepada kita) kebaikan yang besar dan pahala yang banyak.


Dan sungguh Allah SWT telah menyiapkan berbagai kebaikan dan keutamaan bagi berinfak, sehingga seseorang akan tergesa dan sangat menginginkan berbagai kebaikan dan keutamaan itu
.
Diantara berbagai kebaikan dan keutamaan berinfak adalah bahwa Allah SWT pasti akan menambah nikmat-Nya atas orang yang berinfak, karena berinfak adalah suatu perwujudan rasa syukur, dan Allah berfirman, yang artinya : Sesungguhnya jika kalian bersyukur maka pasti Aku kan menambah (nikmat) kepada kalian. (QS. Ibrahim: 7).

Di antaranya juga adalah bahwa Allah SWT menugaskan seorang malaikat untuk mendoakan orang yang berinfak agar mendapat ganti atas harta yang diinfakkan. Telah diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari Abu Hurairah ra bahwa dia berkata : Rasulullah SAW bersabda : Tiada hari yang mana para hamba masuk dalam waktu pagi kecuali ada dua malaikat yang turun. Lalu salah satunya berdoa : Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak, sedangkan yang lain berdoa : Ya Allah, berikanlah kerusakan bagi orang yang tidak mau berinfak.

Di antaranya juga adalah bahwa Allah taala menjaga orang yang berinfak dari berbagai bala (cobaan/musibah). Sahabat Razin meriwayatkan dari Sayyidina Ali ra bahwa dia berkata : Rasulullah SAW bersabda : Bergegaslah kalian dengan sedekah, karena sesungguhnya bala tidak mampu (maupun) melewati sedekah.

Di antaranya juga adalah bahwa Allah SWT menjaga kesehatan orang yang berinfak dan memberikannya kesembuhan. Diterangkan dalam suatu hadits : Bentengilah harta kalian dengan zakat, dan obatilah orang-orang yang sakit diantara kalian dengan sedekah.  (HR. Abu Dawud dalam Al-Marasil, At-Thabarani dan Al-Baihaqi).

Dalam masalah ini, sang Teladan yang terbaik Rasulullah SAW memiliki pendirian yang paling sempurna dan bukti yang paling agung. Sahabat Jabir bin Abdillah ra berkata : Rasulullah SAW tidak pernah dimintai sesuatu lalu menjawab : Tidak.

Diriwayatkan dari Sayyidina Anas ra bahwa seseorang minta kepada Rasulullah, lalu Rasulullah memberinya kambing (yang memenuhi tempat) diantara dua gunung. Maka dia pulang kepada kaumnya dan berkata : Masuk Islamlah kalian. Sungguh Muhammad memberi pemberian seperti pemberian orang yang tidak takut jatuh miskin.

Dan Rasulullah SAW memberi seratus unta bukan hanya kepada satu orang. Beliau memberi Shafwan seratus untua lalu seratus unta lalu seratus unta. Dan akhlak ini adalah beliau sejak sebelum diangkat sebagai Rasul. Waraqah bin Naufal berkata kepada beliau : : Sungguh engkau membantu orang-orang lemah dan mencari harta yang sulit didapatkan  (karena jumlahnya teramat banyak lalu didermakan).

Dan Rasulullah SAW mengembalikan tawanan perang kepada suatu Hawazin dan mereka berjumlah 6.000 (enam ribu) tawanan. Dan beliau (pernah) memberi emas (yang sangat banyak) kepada sahabat Abbas ra sehingga sahabat Abbas tidak mampu membawanya. (pernah juga) diserahkan kepada beliau 90.000 (sembilan puluh ribu) dirham, lalu harta itu diletakkan di atas tikar dan beliau membaginya. Maka beliau tidak menolak seorangpun yang meminta hingga beliau merampungkan (pembagian) harta tersebut.

Pernah seseorang datang kepada Rasulullah dan meminta kepada beliau, namun beliau bersabda : Aku tidak mempunyai sesuatu. Tetapi belilah (kebutuhanmu) atas namaku. Nanti apabila aku mendapatkan sesuatu maka akan kulunasi. Lalu Sayyidina Umar ra berkata kepada beliau : Allah SWT tidak membebanimu dengan apa yang kau tidak mampu. Dan Rasulullah tidak suka dengan perkataan Sayyidina Umar. Kemudian seseorang dari suku Anshar berkata : Wahai Rasulullah, berinfaklah dan jangan takut menjadi fakir, (engkau akan diberi)  dari (Allah) Dzat yang memiliki Arasy. Maka Rasulullah SAW tersenyum dan wajah beliau berseri-seri seraya bersabda : Dengan hal inilah aku diperintah. (diriwayatkan oleh At-Tirmidzi).

Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa dia berkata : Rasulullah SAW bersabda :  Andai aku mempunyai emas seperti (besarnya) Gunung Uhud maka aku senang apabila setelah lewat tiga hari tiada suatupun dari emas itu (yang teersisa) di sisiku, kecuali sesuatu yang aku siapkan untuk (membayar) hutang.

Dan Al-Bukhari meriwayatkan dari sahabat Uqbah bin Haris ra bahwa dia berkata : Aku menunaikan shalat Ashar di belakang Rasulullah SAW di Al-Madinah Al-Munawwarah, lalu beliau mengucapkan salam dan berdiri dengan tergesa-gesa dan melangkahi leher orang-orang menuju salah satu kamar istri-istri beliau. Maka orang-orang merasa takut karena melihat ketergesaan beliau. Lalu beliau keluar dan melihat orang-orang merasa heran terhadap ketergesaan beliau. Maka beliau bersabda : Aku teringat sedikit emas yang ada di sisiku. Maka aku tidak suka apabila emas itu menahanku (dari mendermakannya). Lalu aku menyuruh agar emas itu dibagikan.

Dan sungguh para sahabat yang mulia ra telah mengikuti metode ini. Dan dengan segenap tindakan mereka yang penuh kesungguhan, mereka telah membuktikan kesungguhan dakwah, keshahihan prinsip, kenyataan (realita) metode dan kemungkinan (possibility) praktek selama disitu terdapat azam (kemauan yang teguh), ketetapan hati, semangat yang menggelora dan akhlak yang mulia.

Dalil yang paling jelas mengenai hal itu adalah kisah muakhoh (persaudaraan) antara kaum Muhajirin dan Anshar. Simaklah kisah Abdurrahman bin Auf ketika datang ke Madinah Al-Munawwarah dan Rasulullah SAW menjadikannya bersaudara dengan Saad bin Rabi Al-Anshari ra. Saad berkata kepadanya : Wahai saudaraku, aku adalah penduduk Madinah yang paling banyak hartanya, maka (kuberikan) bagimu setengah hartaku. Dan aku mempunyai dua orang istri. Lihatlah mana yang kau kagumi maka akan kuceraikan. Abdurrahman bin Auf mejawab : Semoga Allah SWT memberikan keberkahan padamu, dalam keluargamu dan hartamu. Tunjukkanlah padaku letak pasar. Maka mereka menunjukkan kepadanya, lalu Abdurrahman berangkat, melakukan jual beli dan mendapatkan keuntungan. (HR. Ahmad).

Dan kaum Anshar berkata kepada Rasulullah SAW ketika kaum Muhajirin datang : Wahai Rasulullah, bagilah kebun-kebun kurma (kami)  untuk kami dan saudara-saudara kami.  (HR. Al-Bukhari).

Dan kaum Muhajirin mengakui kemuliaan kaum Anshar, dan kaum Muhajirin juga orang-orang yang mulia. Maka mereka berkata : Wahai Rasulullah, kami tiada melihat seperti kaum yang kami datangi. Tiada yang lebih baik (dari mereka) dalam menghibur ketika (mereka hanya mempunyai harta yang) sedikit dan tiada yang lebih baik (dari mereka) dalam memberi ketika (mereka mempunyai harta yang) banyak. Sungguh mereka lelah menanggung beban serta menyertakan kami dalam kebahagiaan. (HR. Ahmad).

Dan pendirian para sahabat yang mulia dalam hal ini tidak dapat dipungkiri dan semuanya bersumber dari sang Teladan yang terbaik Rasulullah SAW.

Sesungguhnya diantara tiang penopang yang paling agung bagi dakwah Islamiyyah pada waktu ini adalah mencurahkan harta di jalan dakwah dengan (penuh) kemurahan hati, bersegera dan dengan respon yang sempurna.

Kita melihat apa yang dikerahkan oleh musuh-musuh Islam berupa harta-harta yang melimpah ruah dan fasilitas-fasilitas yang sangat memadai dalam upaya untuk menyebarkan pemikiran-pemikiran mereka, mempromosikan serta menarik orang-orang kepada pemikiran-pemikiran itu. Juga dalam upaya merusak keyakinan-keyakinan kaum Muslimin. Menggoncangkan keyakinan mereka, merusak akhlak mereka, memasukkan syubhat-syubhat dalam agama mereka, serta menghilangkan kepercayaan mereka terhadap Nabi mereka, para ulama, hadits-hadits, Al-Quran dan para perawi hadits.

Di sisi lain kaum muslimin mengalami kemunduran berupa ketiadaan respon yang sempurna untuk berperan aktif dalam proyek-proyek kebajikan, kegiatan-kegiatan Islami yang bersifat membangun, merangkul sumber-sumber kebaikan dan ishlah (reformasi/perbaikan), memperhatikan tokoh-tokoh yang menjadi sumber kebaikan dan ishlah, memberi semangat dan dukungan bagi mereka, memenuhi kebutuhan mereka serta mencegah tangan mereka dari meminta-minta dan wajah mereka dari kehilangan rasa malu. Maka innaa lillaahiwainnaa ilahi raajiuun.

Namun bersamaan dengan kelemahan dan kemunduran itu, sesungguhnya disana terdapat perhatian yang besar terhadap Islam dengan keinginan yang benar dan kerelaan. Dan kita juga memperhatikan perubahan yang besar dalam cara pandang musuh-musuh Islam dan orang-orang bodoh terhadap substansi-substansi Islam. Yaitu dengan kembalinya mereka dan hal ini bisa dilihat dan dirasakan- kepada kaidah-kaidah penelitian, penyelidikan dan studi. Dan dalam hal ini terdapat keuntungan bagi agama Islam, dan harapan yang besar bagi kita. Dengannya kita menanti kebaikan yang lebih besar, tujuan yang lebih baik serta niat yang lebih tulus, dan siapapun yang diberi petunjuk, dan yang disesatkkan-Nya maka tiada orang yang memberi petunjuk baginya.


   
 Isikan Komentar Anda
   
Nama 
Email 
Kota 
Pesan/Komentar 
 
 
 
 
 
Kembali Ke atas | Kembali Ke Index Karya Ilmiah
 
 
 
  Situs © 2009-2019 Oleh Pejuang Islam