URL: www.pejuangislam.com
Email: editor@pejuangislam.com
 
Halaman Depan >>
 
 
Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami
Ustadz H. Luthfi Bashori
 Lihat Biografi
 Profil Pejuang Kaya Ide
 Imam Abad 21
 Info Asshofwah
Karya Tulis Pejuang


 
Ribath Almurtadla
Al-islami
 Pengasuh Ribath
 Amunisi Dari Tumapel
 Aktifitas Pengasuh
 Perjuangan Pengasuh
 Kalender Ribath
Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
 Sekilas Profil
 Program Pendidikan
 Pelayanan Masyarakat
 Struktur Organisasi
 Pengasuh PIQ
 
Navigasi Web
Karya Tulis Santri
MP3 Ceramah
Bingkai Aktifitas
Galeri Sastra
Curhat Pengunjung
Media Global
Link Website
TV ONLINE
Kontak Kami
 
 
 Arsip Teriakan Pejuang
 
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [29/7/2019]
   
WAJIB TAQLID BAGI SELAIN MUJTAHID 
  Penulis: Pejuang Islam  [28/7/2019]
   
MANFAAT QISHAS DALAM ISLAM 
  Penulis: Pejuang Islam  [25/7/2019]
   
BUKTI EMPAT MADZHAB BANYAK DIMINATI ULAMA SALAF 
  Penulis: Pejuang Islam  [25/7/2019]
   
DALAM URUSAN MAKAN PUN DILARANG SOMBONG 
  Penulis: Pejuang Islam  [22/7/2019]
   
 
 Book Collection
 (Klik: Karya Tulis Pejuang)
Pengarang: H. Luthfi B dan Sy. Almaliki
Musuh Besar Umat Islam
Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat
Dialog Tokoh-tokoh Islam
Carut Marut Wajah Kota Santri
Tanggapan Ilmiah Liberalisme
Islam vs Syiah
Paham-paham Yang Harus Diluruskan
Doa Bersama, Bahayakah?
 
 WEB STATISTIK
 
Hari ini: Rabu, 21 Agustus 2019
Pukul:  
Online Sekarang: 4 users
Total Hari Ini: 504 users
Total Pengunjung: 4544293 users
 
 
Untitled Document
 PEJUANG ISLAM - KARYA ILMIAH USTADZ LUTHFI BASHORI
 
 
Mujahadah Dengan Mendidik jiwa-6 
Penulis: Sayyid Muhammad Alawi Al-Malik [ 3/9/2016 ]
 
Mujahadah Dengan Mendidik jiwa-6

As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani

Hal itu adalah dengan cara berjuang di jalan Allah SWT dan dengan perjuangan mulia untuk (kelangsungan) pergerakan dakwah yang terus menerus ditegakkan demi tercapainya tujuan yang mulia dan sesuai syariat. Bukan demi keinginan dan tujuan pribadi, kemaslahatan bagi suatu golongan saja, kebangkitan suatu kaum saja, keinginan menguasai suatu wilayah atau suatu kerajaan.

Perjuangan tersebut tidak lain hanyalah dijalan Allah taala, yang mana wujud nyatanya terealisasikan dengan tercapainya kebahagiaan bagi seluruh masyarakat serta menghantarkan mereka untuk menaiki tangga kesuksesan. Sehingga masyarakat dapat menikmati suatu pemikiran tentang kebahagiaan manusia serta metode penerapan pemikiran tersebut.

Dua hal ini (pemikiran tentang kebahagiaan dan metode penerapannya) merupakan kemuliaan dan keutamaan yang dianugerahkan Allah taala bagi masyarakat tersebut atas agama-agama dan aturan-aturan yang lain. Hal ini harus dibarengi dengan melepaskan tujuan duniawi dan berlepas diri dari hawa nafsu, keinginan pribadi, (keinginan) memperoleh pangkat dan kemuliaan bagi dirinya atas kaumnya, bertindak semena-mena dan menduduki berbagai jabatan. Allah SWT berfirman, yang artinya: Orang-orang yang beriman mereka berperang di jalan Allah dan orang-orang yang kafir mereka di berperang di jalan Thaghut. (QS.An-Nisa : 76).

Dalam suatu hadits diterangkan bahwa seseorang badui (orang arab pedesaan) berkata kepada Rasulullah SAW: Seseorang berperang karena ingin (mendapatkan) rampasan perang, seseorang berperang karena ingin disebut-sebut (keberaniannya), dan seseorang berperang karena ingin keberaniannya terlibat. Lalu siapakah (diantara mereka) yang (berperang) dijalan Allah ?  Maka Rasulullah SAW bersabda, Barangsiapa yang perang agar Agama Allah menjadi mulia, maka ia (berperang) di jalan Allah.

Allah SWT sungguh telah memberi  motivasi yang agung untuk berjuang dan memberi pahala yang banyak bagi para pejuang dan syuhada. Maka tiada yang  bisa menyamai pahala mereka kecuali orang yang beramal seperti amal mereka dan mengiktui perjuangan mereka. Dan Allah taala menganugerahi berbagai keistimewaan , baik dalam segi Rubiyyah maupun Amaliyyah di dunia maupun akhirat, yang kesemuanya itu merupakan anugerah yang tidak di berikan kepada selain Mereka. Dan Allah taala menjadikan darah mereka yang suci nan bersih sebagai uang muka kemenangan di dunia dan pertanda kebahagiaan kelak di akhirat.

Allah taala mengancam orang-orang yang tidak mau pergi berjuang dengan siksa yang paling mengerikan, menyifati mereka dengan sifat-sifat yang terburuk, mencela mereka karena bersifat pengecut dan pemalas, mengumumkan kelemahan dan ketertinggalan mereka serta menyediakan kehinaan bagi mereka di dunia. Kehinaan ini tidak akan hilang kecuali apabila mereka mau berjuang. Dan Allah taala juga menyiapkan siksaan bagi mereka di akhirat, dan mereka tidak akan bisa menghindari  siksaan itu walaupun mereka memiliki emas sebesar gunung Uhud. Dan Dia menilai bahwa tidak ikut andil dan bahkan lari dari peperangan termasuk dosa yang paling besar dan salah satu dari tujuh dosa besar yang menyebabkan kehancuran.

Sungguh Islam memperhatikan urusan jihad, kemiliteran, dan mobilisasi seluruh umat menjadi satu barisan untuk membela kebenaran dengan sekuat tenaga. Perhatian Islam ini tidak akan anda temukan secara sempurna dalam tatanan kehidupan apapun, baik yang kuno maupun modern, dan dari sisi agama maupun peradaban.

Ayat-ayat Al-Quran yang jelas dan suci serta hadits-hadits yang shahih dan mulia banyak menjelaskan makna-makna luhur tersebut. Dan dengan gaya bahasa yang terindah serta susunan kalimat yang amat gamblang mengajak untuk berjuang, berperang, (membentuk) ketentaraan dan memperkuat sarana-sarana pertahanan dan pertempuran dalam berbagai macam bentuknya, baik berupa angkatan darat, angkatan laut dan lainnya, disetiap situasi dan kondisi.

Ayat-ayat dan hadits-hadits tersebut juga mencela para pemalas dan para pengecut serta mengorbankan semangat untuk melindungi orang-orang lemah, menyelamatkan orang-orang yang di dhalimi dan memotivasi orang-orang yang masih merasa takut agar turun dimedan perang dan menghadapi maut dengan dada yang lapang dan hati yang penuh keberanian. Dan juga menjelaskan kepada mereka bahwasanya kematian pasti akan menemui mereka, dan sungguh lebih baik bagi mereka wafat dalam keadaan berjuang sehingga memperoleh ganti yang terbaik dari kehidupan yang fana dan tak pernah lepas dari ancaman kematian.

Ayat dan hadits tersebut juga menyanjung kedudukan para pejuang, yang memasang pemimpin termulia SAW berkedudukan sebagai panglima mereka. Dan juga menjelaskan bahwa perjuangan adalah tugas penting nan suci bagi Rasulullah SAW serta jalan hidup para sahabat beliau yang penuh berkah. Allah SWT berfirman, yang artinya : Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia, mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka. Dan mereka itulah orang-orang memperoleh kebaikan, dan mereka itulah (pula) orang-orang yang beruntung. Allah telah menyediakan bagi mereka surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya. Itulah kemenangan yang agung. (QS.At-Taubah : 88-89).

Rasulullah SAW sungguh telah melaksanakan tugas penting ini dengan sebaik mungkin. Dan beliau telah mencontohkan kepada para sahabat dengan contoh yang amat mengagungkan tentang arti pengorbanan dan jihad. Sehingga salah satu diantara mereka berkata ketika Rasulullah SAW berada di Mekkah sebelum hijrah, dan ketika itu beliau sendirian diantara penduduk Makkah, agama beliau dianggap sesuatu yang asing, dan beliau menyendiri dari mereka dengan prinsip beliau. Lalu pada situasi yang gelap itu, mereka semua bersepakat untuk memusuhi beliau.

Salah seorang dari mereka berkata dalam suatu pertemuan yang mereka adakah di Hijir Ismail : Kita tidak pernah menyaksikan yang seperti kesabaran kita terhadap orang ini  (Rasulullah SAW). Dia telah meremehkan akal kita, mencela nenek moyang kita, mencemooh agama kita, mencerai beraikan kelompok kita dan mencaci maki tuhan-tuhan kita. Sungguh kita telah bersabar kepadanya atas perkara yang agung ini. (HR.Ahmad 5/246).

Inilah Rasulullah SAW . beliau memeriksa berbagai pasukan, mengatur berbagai barisan, berdiri tegak ditengah berbagai peperangan untuk bertempur di samping para sahabat sehingga beliau ikut
merasakan berbagai kepedihan yang mereka alami. Beliau SAW bersabda : Sungguh jikalau aku terbunuh di jalan Allah (maka) lebih kusenangi dari pada aku berada bersama para penduduk perkotaan dan pedesaan. (HR.An-Nasai).

Dan Rasulullah SAW juga menginginkan agar tidak pernah absen dari suatu peperangan dan tidak pernah melewatkan suatu pertempuran. Beliau SAW besabda : Demi Dzat yang jiwaku berada dalam kekuasan-Nya, sungguh jika bukan karena beberapa orang mukmin yang nahi mereka merasa tidak nyaman jika tidak mengikuti (dalam peperangan). Padahal aku tidak menemukan kendaraan yang bisa membawa mereka, maka aku tidak akan pernah tinggal dari suatu pasukan yang berperang di jalan Allah. Dan demi Dzat yang jiwaku berada dalam kekuasan-Nya, sungguh aku senang jika aku terbunuh di jalan Allah, lalu aku dihidupkan, lalu aku terbunuh (lagi) lalu aku dihidupkan, lalu aku terbunuh (lagi), lalu aku dihidupkan, lalu aku terbunuh. (HR.Al-Bukhari dan Muslim).

Nabi yang gemar beribadah ini, yang selalu menghidupkan waktu malam hinggaa kedua kakinya membengkak, dan juga sering berpuasa wishal (menyambung puasa hari dengan hari setelahnya tanpa berbuka puasa dan makan sahur), adalah pejuang tangguh yang tidak pernah mundur dalam satu pertempuran pun disaat jagoan mundur dan para pemberani melarikan diri, dan tidak pernah menyingkir dari posisinya disaat para ahli menunggang kuda tidak mampu bertahan. Ali ra berkata : Apabila perang berkecamuk ganas maka kita berlindung kepada Rasulullah, sehingga (posisi) beliau adalah yang terdekat diantara kami kepada musuh.

Segala hal yang dijalankan Rasulullah SAW tersebut sangatlah membekas dalam hati para sahabat ra. Maka mereka mengikuti metode beliau serta bersabar dalam membela akidah- terhadap hal-hal yang amat berat yang bisa menjadikan anak-anak (seketika) beruban.
Mereka tidak lantas menjadi lemah, susah, bosan dan lembek. Dan mereka meminta pertolongan dari ruh Rasulullah yang agung dan jiwa beliau yang besar, yang dengannya semua derita menjadi ringan dan semua pengorbanan menjadi hal yang disukai. Maka hati mereka merasa bahagia atas segala hal yang mereka temui di jalan Allah taala karena senantiasa mengharap maghfira-Nya dan menginginkan pertolongan-Nya.

Maka, dalam hal pengorbanan, keteguhan, keberanian dan peperangan teguh kepada akidah, mereka menjadi teladan yang bersungguh-sungguh dan sempurna, sehingga mampu menarik perhatian orang-orang musyrik, menawan hati mereka dan membuat mereka kagum dan terpesona. Hal ini menyebabkan orang-orang musyrik datang dan bergabung dibawah bendera para sahabat. Dan tanpa diragukan lagi, hal ini adalah pengaruh keimanan sang panglima SAW terhadap jiwa para tentara beliau.

Dan dari madrasah ini (madrasah Rasulullah SAW), nampak nyatalah pendirian agung para pahlawan dan bermunculanlah tempat-tempat gugurnya para syuhada. Dan dari sang teladan terbaik ini SAW  , sahabat Bilal ra mengambil kekuatannya dalam bersabar atas berbagai siksaan, yaitu ketika Umayyah melemparkan diatas padang pasir yang teramat panas dan menyala oleh terik matahari yang membakar. Dan sungguh Umayyah membenani dada bilal dengan sebongkah batu sehingga dia kesulitan bernafas. Namun dalam cobaan itu Bilal tak henti-hentinya mengucapkan kalimat tauhid :Ahad.....Ahad.. (Dzat yang maha Esa.... Dzat yang maha Esa..).

Demikian juga keluarga Sahabat Yasir ra. Orang-orang musyrik menuangkan siksaan yang teramat pedih bagi mereka, namun mereka justru menikmati siksaan itu.

Dan dari madrasah ini (madrasah Rasulullah SAW), bangkitlah nilai-nilai penebusan yang sungguh-sungguh dan amat mulia serta motivasi-motivasi terkuat untuk berlomba-lomba dalam pengorbanan.

Dan tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya orang-orang Islam disetiap masa, sebelum masa yang gelap (sekarang ) ini -yang mana jiwa keberanian telah punah- mereka tidak pernah meninggalkan jihad dan tidak pernah teledor, bahkan dari kalangan ulama, ahli tasawwuf, para pekerja dan yang lainnya. Mereka selalu siap siaga untuk berjihad.

Inilah Abdulullah bin Al-Mubarak, seorang pakar fiqih yang zuhud. Kebanyakan waktunya beliau habiskan untuk berjihad dan Abdul Wahid bin Zaid, seorang sufi yang zuhud, juga menghabiskan kebanyakan waktunya untuk berjihad, dan Syaqiq Al-Balkhi, pada masanya beliau mendorong dirinya dan murid-muridnya untuk berjihad.

Sedangkan Al-Badr Al-Aini yang mensyarahi Shahihal Al-Bukhari, seorang pakar fiqih dan hadits, beliau (setiap) satu tahun berperang, satu tahun mengajar dan satu tahun menunaikan haji.

Al-Qadhi Asad bin Al-Furat Al-Maliki, pada masa beliau menjadi panglima armada laut, seperti itulah kebiasaan para salaf shalih ra.

   
 Isikan Komentar Anda
   
Nama 
Email 
Kota 
Pesan/Komentar 
 
 
 
 
 
Kembali Ke atas | Kembali Ke Index Karya Ilmiah
 
 
 
  Situs © 2009-2019 Oleh Pejuang Islam