URL: www.pejuangislam.com
Email: editor@pejuangislam.com
 
Halaman Depan >>
Hari ini: Kamis, 18 Desember 2014 - Pejuang Islam, melestarikan kemurnian Ahlussunnah wal Jamaah
 
 
Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami
Ustadz H. Luthfi Bashori
 Lihat Biografi
 Profil Pejuang Kaya Ide
 Imam Abad 21
 Info Asshofwah
Karya Tulis Pejuang


 
Ribath Almurtadla
Al-islami
 Sekilas Profil
 Pengasuh Ribath
 Amunisi Dari Tumapel
 Aktifitas Pengasuh
 Perjuangan Pengasuh
 Kalender Ribath
Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
 Sekilas Profil
 Program Pendidikan
 Pelayanan Masyarakat
 Struktur Organisasi
 Pengasuh PIQ
 
Navigasi Web
Karya Tulis Santri
MP3 Ceramah
Bingkai Aktifitas
Galeri Sastra
Curhat Pengunjung
Media Global
Link Website
TV NU GARIS LURUS
Kontak Kami
 
 
 Arsip Teriakan Pejuang
 
MENGHORMAT PARA TAMU 
  Penulis: Pejuang Islam  [28/11/2014]
   
GROUP PEJUANG ASWAJA GARIS LURUS 
  Penulis: Pejuang Islam  [26/11/2014]
   
MENANGKAL KEBANGKITAN PKI (BAB 4) 
  Penulis: Pejuang Islam  [25/11/2014]
   
MENANGKAL KEBANGKITAN PKI (BAB 3) 
  Penulis: Pejuang Islam  [21/11/2014]
   
MENANGKAL KEBANGKITAN PKI (BAB 2) 
  Penulis: Pejuang Islam  [17/11/2014]
   
 
 Book Collection
 (Klik: Karya Tulis Pejuang)
Pengarang: H. Luthfi B dan Sy. Almaliki
Musuh Besar Umat Islam
Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat
Dialog Tokoh-tokoh Islam
Carut Marut Wajah Kota Santri
Tanggapan Ilmiah Liberalisme
Islam vs Syiah
Paham-paham Yang Harus Diluruskan
Doa Bersama, Bahayakah?
 
 WEB STATISTIK
 
Hari ini: Kamis, 18 Desember 2014
Pukul:  
Online Sekarang: 21 users
Total Hari Ini: 927 users
Total Pengunjung: 2111213 users
 
 
Untitled Document
 PEJUANG ISLAM - KARYA ILMIAH USTADZ LUTHFI BASHORI
 
 
TV RODJA, BID`AH-NYA KAUM WAHHABI  
Penulis: Pejuang Islam [ 16/4/2013 ]
 
TV RODJA, BID`AH-NYA KAUM WAHHABI

Luthfi Bashori.


Melihat TV adalah tergolong amalan bid`ah, dalam pengertian karena tidak pernah dicontohkan oleh Nabi SAW dan para salaf. Namun, kali ini kaum Wahhabi yang selalu mempromosikan diri sebagai kelompok anti bid`ah, justru terjebak oleh perbuatan bid`ah menurut definisi mereka sendiri, karena banyaknya keterlibatan tokoh-tokoh Wahhabi Indonesia dalam memunculkan amalan bid`ah dengan mengudaranya TV Rodja.

Acara-acara yang ditayangkan oleh TV Rodja, memang tampaknya menyerupai pengajian dan majelis ta`lim mencari ilmu agama, namun hakikatnya jika diteliti, adalah upaya kaum Wahhabi dalam menyesatkan aqidah umat Islam Indonesia.

Bagaimana tidak, warga mayoritas umat Islam Indonesia adalah penganut Ahlussunnah wal Jamaah bermadzhab Syafi`i, sedangkan isi acara yang ditayangkan TV Rodja adalah murni ajaran Wahhabi penganut Muhammad bin Abdul Wahhab Annajdi.

Padahal, kauml Wahhabi itu termasuk sekte sesat Mujassimah. Coba tengok salah satu keyakinan tokoh Wahhabi, yaitu Addarimi Alwahhabi (ini bukan nama Imam Addarimi ulama Sunni Ahli hadits). Addarimi Alwahhabi menulis buku tentang sifat Allah dengan menyebutkan:

ALLAH TURUN DARI ARSY MENUJU KE KURSI-NYA.

(kitab Annaqdl, halaman 73, terbitan Darul Kutub Al-ilmiyah yang dita`liq oleh Muhammad Hamid Alfaqiy). Pernyataan Addarimi Alwahhabi ini jelas-jelas menisbatkan kepemilikan jasmani yang dilakukan oleh pentolan Wahhabi terhadap Dzat Allah.

Addarimi Alwahhabi menggambarkan, bahwa Arys-nya Allah itu berada di satu tempat, sedangkan kursi-nya Allah itu berada di tempat yang letaknya lebih rendah daripada Arsy. Lantas Allah yang di dalam firman-Nya menyatakan Arrahmaanu `alal `arsyis tawaa, diterjemahkan oleh kaum Wahhabi sbb: Allah itu duduk di atas Asry. Kemudian digambarkan oleh Addarimi Alwahhabi, bahwa terkadang Allah itu turun dari Arsy-Nya menuju Kursi-Nya yang berada di langit lebih rendah. Karena sudah dimaklumi bahwa Allah menciptakan langit itu berlapis hingga tujuh tingkat.

Inti dari ajaran Aqidah Wahhabi adalah, mereka meyakini bahwa Allah versi Wahhabi itu memiliki bentuk tubuh, dan saat ini Allah sedang berada di langit. Terkadang Allah duduk-duduk di-Arsy-Nya, namun tak jarang Allah ingin jalan-jalan turun menuju ke langit yang tingkatnya lebih rendah, karena Allah akan menikmati suasana istirahat duduk-duduk di kursi-Nya.

Lantas apa bedanya aqidah Wahhabiyah ini dengan keyakinan para penyembah berhala-berhala. Tuhan-tuhan berhala itu sengaja dibuat oleh tangan mereka dalam bentuk patung yang memiliki bentuk jasmani. Mereka berasumsi bahwa dengan tampaknya bentuk tuhan di depan mata, maka lebih memudahkan mereka untuk menyembah dan mengingtnya, lantaran sudah ketemu bentuk tubuh tuhannya itu.

Demikianlah gambaran aqidah asli pengelola TV Rodja yang diperkenalkan kaum Wahhabi untuk diikuti oleh kaum awam, dengan tujuan agar kaum awam dapat mengenal tuhan-nya kaum Wahhabi yang mempunyai bentuk tubuh seperti berhala.

Hal yang tak kalah penting untuk diwaspadai oleh umat Islam juga, adalah TV INSAN, SUNNAH TV, AHSAN TV, TV WESAL, serta tayangan Trans 7 yang ikut-ikutan menyiarkan dakwah sesat ala Wahhabiyah ini lewat tayangan KHAZANAH, maka hendaklah umat Islam membaikot TV Trans 7 dengan tidak menontonnya.

Stop, mulai sekarang dan seterusnya, hendaklah umat Islam tidak menonton TV Rodja, TV Insan, TV Wesal, SUNNAH TV, AHSAN TV, dan Trans 7 ... !!
   
 Isikan Komentar Anda
   
Nama 
Email 
Kota 
Pesan/Komentar 
 
Tulis Kode Di Bawah
 
 
1.
Pengirim: M ALI ALAWI  - Kota: pangkalan Bun Kalteng
Tanggal: 15/4/2013
 
Bagus infonya dan Info Ini harus d sampaikan ke KPI agar mereka melarang karena tlh menggangu ketenangan umat khususnya NU  
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Sedang diupayakan oleh kawan2 aktifis di Jakarta. Mohon doa.

2.
Pengirim: udien  - Kota: Solo
Tanggal: 15/4/2013
 
Ustadz, Menurut pemahaman Ahlusunnah, Alloh berada dimana . Makasih 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
> Mohon akhi membaca artikel kami berjudul: Allah tidak berada di langit, dengan komentar2nya.

> Menurut para ulama Aswaja, pertanyaan seperti itu hukumnya Bid'ah yang tidak boleh ditanyakan.

> Allah adalah Dzat yg menciptakan segala macam makhluq. Sebelum Allah menciptakan satupun makhluq, namanya jaman azali. Sedangkan yang namanya 'sebuah tempat', yg dibatasi oleh kanan, kiri, atas, bawah itu termasuk makhluk ciptaan Allah. Padahal Allah itu adalah Dzat yang tidak membutuhkan makhluq ciptaan-Nya termasuk tempat, (Qiyaamuhu bi nafsihi/Berdiri sindiri).

> Dimensi Allah sebagai Sang Pencipta segala makhluq itu sangat berbeda dengan dimensi makhluq ciptaan-Nya, termasuk dengan dimensi tempat. Karena itu menurut para ulama Aswja, Allah itu ada tanpa tempat. Karena Allah tidak sama dg segala sesuatu yang menjadi ciptaan-Nya, maka tidak ada satu pun makhluq yang mampu memahami secara sempurna tentang kesempurnaan sifat2 Allah.

3.
Pengirim: Abul Bashar  - Kota: Palangka Raya
Tanggal: 15/4/2013
 
Berdakwah adalah termasuk ibadah mahdlah. Klaim mereka, setiap ibadah mahdlah yg tdk pernah diajarkan oleh Nabi maupun tdk terdpat ketentuannya dlm al-Quran adalah suatu yg baru (muhdats), dan sesuatu yg baru itu adalah bid'ah, dan tdk ada tempat bagi pelaku bid'ah adalah neraka.

Sungguh tragis dan sangat ironis, mereka masuk neraka sebelum Allah menetapkannya lantaran pemahaman sempit pemikiran mereka sendiri.

Semoga kaum wahhabi menyadari, dakwah adalah salah satu dr kegiatan ibadah mahdlah. Jika dlu tdk ada siaran televisi, kenapa kalian berdakwah dg media itu?
Dan yang paling penting utk kalian ketahui, khutbah jum'at adalah ibadah mahdlah. Dulu Nabi tdk menhajarkan khutbah jum'at dg bahasa selain bahasa Arab, knp kalian sekarang berkhutbah dg bahasa selain bahasa Arab?

Ketahuilah wahai kaum wahhabi, setiap sesuatu yg baru itu bid'ah dan sesat..! (Menurut pemahaman sempit kaum wahhabi).

Aku berlindung kepada Allah dr pemikiran sempit kaum wahhabi. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Yaa demikianlah realita yang terjadi. Memang sudah jamannya: Maling teriak maliiiing....! Koruptor teriak korupsiiii.....! Ahli bid'ah teriak bid'aaah....!

4.
Pengirim: herman  - Kota: Bogor
Tanggal: 15/4/2013
 
Assalamualaikum ustadz lutfi,
Kemudian Radio RASIL (cibubur), pengasuhnya habib husein menghina sahabat abu hurairah dan muawiyah ra, dengan mengatakan apa orang seperti muawiyyah ini layak di sebut sahabat? Kemudian juga mengatakan imam ahlul bait jakfar as shadiq adalah maksum
Ternyata radio Rasil ini mempunyai link dengan ICC (islamic cultural center) di jakarta yg berafiliasi dengan Iran. Jadi ini radio SYIAH, tolong ustadz lutfi juga menyebarkan informasi ini ke warga aswaja yang lain.

 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Benaar, radio Rasil itu memang asli milik kaum Syiah Sesat. Mudah-mudahan ada kawan yang dapat memberi info lebih lengkap untuk diungkap. Terima kasih.

5.
Pengirim: surahmad  - Kota: malang
Tanggal: 15/4/2013
 
Abul basar, mana dalil pelarangan khotbah jumat dg bahasa indonesia? Kalo gak dilarang knp kmu salahkan org khotbah jumat dg selain bhs arab? 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Mas Suharmad, yang dimaksud Akhi Abul Basyar tidak seperti itu, tapi kaum Wahhabi itu selalu mengatakan bahwa beribadah itu harus sama persis dg apa yang dicontohkan oleh Nabi SAW, sedangkan Nabi SAW selalu Khothbah Jumat dg bhs. Arab, dan tidak pernah Khothbah Jumat dg Bhs. Indonesia. Padahal Kaum Wahhabi Indonesia berkhothbah Jumat dg Bhs. Indonesia, jadi kaum Wahhabi Indonesia itu tidak konsisten dg keyakinannya sendiri.

6.
Pengirim: ifan syaifudin alghozi  - Kota: Kepanjen
Tanggal: 15/4/2013
 
mohon info seperti ini dishare di kalangan umum, supaya Orang-orang Ahlussunah khususnya yang awwam bisa mengerti...  
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Kami persilahkan kepada ikhwan yang banyak punya Link-link untuk share bagi ikhwan lainnya.

7.
Pengirim: agus ali efendi  - Kota: greik
Tanggal: 15/4/2013
 
banyak yg bilang"klu gak lihat trans 7 saya gak bisa lihat OVJ?"
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Saat ini Trans 7 sedang 'kerasukan' Wahhabi. Waspadalah sebelum pindah merasuki akhi.

8.
Pengirim: Rijal Bejo  - Kota: Surabaya
Tanggal: 15/4/2013
 
Percuma melarang mereka dgn kata "Stop, mulai sekarang dan seterusnya, jangan sampai umat Islam menonton TV Rodja, TV Insan & Trans 7".
Solusi jitu adalah mengajak mereka menuju ke jln lurus dgn kelembutan, bukan kekerasan. Kyk dakwah Sunan Kalijaga dulu. Simpel tapi mengena di hati org Jawa 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Tetap penting umat Islam untuk diingatkan. Fadzakkir fa innad dzikra tanfa'ul mukminin, ingatkanlah, karena peringatan itu sangat bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.

Jangan akhi lupakan sejarah bahwa Walisongo telah menfatwa MATI terhadap Sidi Jenar, karena menganut paham Manunggaling Kawulo Gusti (wihdatul wujud/menyatu dengan Tuhan).

Itulah bentuk keluwesan dan keluasan Dakwah Walisongo.

9.
Pengirim: riandi  - Kota: jakarta
Tanggal: 15/4/2013
 
Assalamualaikum kanjeng kyai.
wahabi dikenal sangat licik dan masuk kesemua lini lembaga dan organisasi baik swasta dan pemerintah.

pihak aswaja kurang memperhatikan dan kurang masuk masuk kewilayah2 saya sebutkan diatas.

suatu saat pihak KPI lambat laun akan dikuasi oleh mreka sehingga mreka akan leluasa lagi memutuskan tayangan TV sesuka mreka.

kapan aswaja akan memperhatikan dan peduli dengan pergerakan wahabi yg agresif ? aswaja hanya bersifat dan bertindak reaksioner terhadap gerakan wahabi.

mohon pihak aswaja dapat melakukan pendekatan dan dakwah kewilayah pemerintahan dan swasta kantoran.
hebatnya lagi mreka rela tidak dibayar agar bisa masuk kewilayah tersebut demi pemahaman mreka ditrima oleh org awam

salam rindu dan smoga kanjeng kyai beserta kluarga sehat selalu dan dilimpahi keberkahan.

salam 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Mudah-mudahan harapan akhi ini ada yang dapat menjembatani. Keinginan kami bahkan lebih dari itu, yaitu semoga Presiden Indonesia di masa mendatang dari kalangan Pejuang Islam Sunni Syafi'i, yg peduli terhadap memaslahatan aqidah umat Islam serta memperjuangkan kemurniannya.

10.
Pengirim: rahman  - Kota: bandung
Tanggal: 15/4/2013
 
Wah Ustadz Lutfhi makin "sangar" saja menelanjangi aliran sesat yang berkembang di Indonesia. Semoga perjuangan Ustadz diridhai oleh Allah.
Juga jangan lupa Ustadz untuk menelanjangi aliran sesat lainnya seperti JIL & SYIAH RAFIDAH 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Banyak artikel kami tentang kesesatan JIL, SYIAH dan WAHHABI. Mereka ini ibarat BA'RATUN TUQSAMU TSALAATSA AQSAAM = Kotoran Sapi dibagi tiga. Mohon buka kolom KARYA TULIS PEJUANG.

11.
Pengirim: adi  - Kota:
Tanggal: 16/4/2013
 
apakah wesal tv termasuk wahabi juga tadz?
tv ini disiarkan lewat digital... 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Benar, TV RODJA, INSAN dan WESAL adalah TV WAHHABI dg mayoritas pengisi acaranya adalah alumni Saudi Arabiah yang beraliran Wahhabi dan alumni LIPIA Jakarta (pendidikan yang konon dibidangi oleh tokoh-tokoh Saudi Arabiah beraliran Wahhabi). Ciri khas mereka adalah anti Tahlil, Tawassul, Talqin, Maulid Nabi SAW dg Tuduhan Keras terhadap para pengamalnya dg vonis: Syirik, Bid'ah dan Sesat.

12.
Pengirim: rahman  - Kota: bandung
Tanggal: 16/4/2013
 
oh iya Ustadz ada juga situs WAHABI yang sangat berbahaya bagi aqidah umat Islam Indonesia karena sering memecah belah umat Islam
yaitu ARRAHMAH.COM dan VOA-ISLAM.COM.kedua situs ini sangat berbahaya ustadz apalagi VOA-ISLAM , berita dan artikelnya sangat payah karena ditulis dengan emosi dan bahasa yang kasar.
coba Ustadz berkunjung ke situs tersebut. moga-moga Ustadz dapat mempelajari dan membantah pemikiran sesat mereka. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Kalau yg berbentuk SITUS dari ALIRAN SESAT itu sangat banyak di INTERNET. Kami tidak tertarik gabung atau mengunjungi apalagi menanggapi mereka, cukup bagi kami berkonsentrasi merawat Situs Pejuang Islam NU Garis Lurus, dg segala kelebihan dan kekurangannya. Mohon maaf.

13.
Pengirim: adi  - Kota:
Tanggal: 18/4/2013
 
bagaimana dengan alif tv ustadz?
soalnya ketika saya tonton kadang menampilkan film dari iran, dan wawancara syeikh dari iran (pakaiannya mirip khomeini) tapi juga menampilkan ceramah aswaja. yang parahnya ada acara standup comedy islami (ustadz ngelawak). 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Siaran TV Syiah yg perlu diwaspadai juga:
> Hadi TV.
> TV Satelite (haditv.com).
> TV Al-Manar.
> Myshiatv.com.
> Shiatv.net.
>Termasuk yg perlu diwaspadai adalah Radio IRIB dan Radio RASIL 720 AM.

14.
Pengirim: syahril ramadhan  - Kota: jakarta-selatan
Tanggal: 18/4/2013
 
Bahkan Rodja mulai ikutan Maulid loh pak Kyai, tapi biasa dng gaya malu2 kucing dan segudang pembenaran dan mereka juduli 'TABLIGH AKBAR' - cinta Rasulullah-
Ya Robbi jauhkan kami semua dari paham2 yg 'nyeleneh' seperti wahabi dan syiah, dgn seluruh media dan corong2nya rodja,wesal,ihsan, rasil dll, aminnn Ya Robb...

 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Demi promosi aqidah sesatnya yang tersembunyi, maka metode halal maupun haram itu no problem bagi kaum Wahhabi dan Syiah untuk melakukannya. Maklumlah, setiap aliran sesat pasti tidak pernah konsisten memegangi prinsip aqidah mereka sendiri, apalagi jika kesesaatannya sudah diungkap oleh umat Islam. Maka metode bunglon pun akan diterapkan, asalkan ada umat Islam yang ikut-ikutan tersesat bersama mereka.

Ingatlah kisah permohonan Iblis kepada Allah, agar dirinya diberi umur panjang biar dapat menyesatkan anak turun Nabi Adam hingga hari Qiamat nanti. Demikian ini karena Allah telah menentukan kesesatan Iblis atas pembangkangannya terhadap perintah Allah.

15.
Pengirim: Agus  - Kota: Bekasi
Tanggal: 18/4/2013
 
Assalamu'alaikum Warahmatullah

Memprihatinkan, seperti gerilya saja ini Pak Ustadz. Ironisnya niat mereka mungkin "dakwah"/ Jihad menghidupkan sunnah (Self-Claims) tp ya begitu deh.
Seolah - olah kita malah berperang dengan sesama muslim.

Kalau di amati memang paham mereka sangat kontras dengan masyarakat awam di sekitar kita seperti anti maulid dll, tp yg membuat ngeri yaitu paham mujassimah. Ngeri sekali pak ustadz, mayoritas umat islam di indonesia itu awam sekali seolah-olah ngak tau dosa.

Bahkan di lingkungan keluarga, kerabat dan masyarakat sekitar saya jg seperti itu. Buka aurat sudah biasa (ibu2 pakai daster, celana pendek dll), bahkan maaf menyusui anak dgn terang2an saja sptnya gak malu, jabatan tangan dengan non mahram sudah lumrah, saya jg kesusahan menasihati adik saya yg malah boncengan dengan teman laki2 (satu PT) yg jelas non mahram dan masih banyak lg tingkahnya jg belum berhijab (bikin sedih). Susah jg Pak Ustadz, apalagi lingkungan PT atau teman2nya jg spt itu buka urat dll, padahal pernah saya lihat mulai ada keinginan untuk berhijab tp ternyata godaannya cukup kuat. Faktor lingkungan...

Mereka sangat asing dengan hukum syariah yg sudah baku sekalipun. Mayoritas ya yg seperti ini Pak Ustadz terutama Di JABODETABEK. Sulit sekali Pak Ustadz, saya sendiri jg sedang berusaha menasihati adik yg belum lama baligh supaya mau menutup aurat (pakai celana pendek sekali) memang hanya di dalam rumah, tp respon orang tua malah bikin saya sedih. Saya juga tidak mau jd anak durhaka karena meninggikan suara (triak2) atau malah debat dengan orang tua. Saya jg amati mereka lebih gampang percaya dan mengikuti ustadz/ustadzah kondang di TV, gak tau aswaja atau bukan, tp saya lihat sendiri mereka malah berjabatan/bersentuhan tangan dengan non mahrom. Malah ibu saya pernah bilang "kt ustadzah anu boleh"..???
Menurut saya yg paling NGERI ustadz/ustadzah spt mereka ini Pak Ustadz, mengajarkan paham yg mungkin menurut mereka MODERAT, jd kalau di dakwahi hukum syariah yg baku mungkin mereka menganggap ekstrim atau aneh (karena keawaman mereka).

Hanya sedikit sekali Ulama Aswaja yg dakwah di TV, Alhamdulillah Habib Mundzir Almusawwa sempat dakwah di TV, tp sayang skrg tidak lagi.

Di TV atau media2 lain perlu banyak tokoh ulama Aswaja, sekarang orang lebih banyak duduk nonton TV ketimbang Duduk di Majelis taklim, jd ngeri sekali kalau ada pengajian di TV atau Radio tp malah menyesatkan, sudah acara TV di isi dgn Ghibah, porno aksi, eh malah di tambah lg dgn paham sesat tambah lengkap deh.

Mohon maaf jika ada kata2 saya yg menyinggung perasaan. Hanya sekedar curhat dari seorang awam juga. Astagfirullah.

Mohon Do'a dari Pak Ustadz.

Wassalam 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Na'udzubillahi minal wahhabismer rajiim.

16.
Pengirim: azuan al azmi  - Kota: cileungsi bogor
Tanggal: 19/4/2013
 
assalammu'alaikum.. Pada awalnya internet jg tdk ada,knp antum pngelola pakai internet?apa bedanya dgn Rodja TV?.internet jg tdk ada pd jaman nabi.kalau bicara bidah,pengelola jg bidah dong? Yg Saya tau bidah kn hanya untuk masalah akherat,bkn masalah keduniaan.!!! cerita anda tentang Rodja Tv adalah PITNAH,Rodja Tv /radio rodja adalah ahlusunnah wal jama'ah 1OO PERSEN DAN BUKAN WAHABI & HIMBAUAN BAGI PEMBACA ; JANGAN PERCAYA APA2 YG DI BERITAKAN PEJUANGISLAM.COM TENTANG RODJA TV SEBELUM MENGKAJI TERLEBIH DAHULU & JANGAN BERBICARA TANPA ILMU.BAGI SIAPA SAJA YG INGIN MENGENAL AHLUSUNNAH WAL'JAMAAH YG MURNI DENGARKAN RADIO RODJA 756 AM JADEBOTABEK /RODJA TV.Wassalam. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Ha ha ha, anda ini lucu dan Wahhabi banget. Sebelum komentar, anda harus baca dulu artikel kami berjudul KULLU BID'ATIN DHALALAH.

Kami para Pejuang Islam NU Garis Lurus, adalah penganut aqidah BID'AH HASANAH. Karena keyakinan kami bahwa Bid'ah itu dibagi dua mengikuti kontekstual ayat Alquran dan Nash Hadits:

1. Bid'ah Hasanah seperti Mauid Nabi SAW dan jamuan makan acara Maulid Nabi SAW, Tahlilan, Dakwah lewat TV dan Internet.
2. Bid'ah Dhalalah seperti kegiatan Ritual Lintas Agama dan sesatnya orang yang menuduh Syirik terhadap amalan Ziarah Maqam Walisongo.

Berbeda sekali dengan Yazid Jawas-Alwahhabi Assalafi pengisi acara TV RODJA yang kerap menuduh Bid'ah Dhalalah terhadap-amaliah warga NU.

Rupanya anda adalah Wahhabi Bogor yang kebakaran jenggot (sekali pun mungkin tidak punya jenggot) juga dengan situs kami.

17.
Pengirim: herman  - Kota: Bogor
Tanggal: 19/4/2013
 
Assalamualaikum Ustadz Lutfi,
Apa kabarnya Ustadz, Insya Allah sehat walhamdulillah.

Sekedar menambahkan, website yang mengatasnamakan ASWAJA ternyata SYIAH DHOLALAH:

1. SatuIslam.wordpress.com
menampilkan photo habib sayyid almaliki, habib umar, isinya: Selalu mengatakan SYIAH sayang NU, kemenag mengatakan syiah bagian dari islam, SYIAH SUNNI bergandengan tangan.
2. SYIAHALI.wordpress.com
Isinya:
1.Khalifah ke2 (umar bin khatab) menendang perut fathimah.
2. Imam khatib al bagdadi (ahli hadits) ASWAJA doyan mabuk-mabukan dan berzina.
3. Abu Bakar, Umar, Ustman mereka fitnah dan dicerca.

YANG MEMBUAT ana heran bin bingung bin kesel:
Kenapa HABIB RIZIEQ selalu aktif mengisi di radio RASIL??? memangnya sang habib nggak tau klo sahabat dicerca oleh habib husein pengurus RASIL, klo habib rizieq aswaja ngapain ngisi di SYIAH RASIL??

Bingung saya ustad lutfi?

Waalaikumsalam,
Herman 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Sebaiknya umat Islam mencari info dari sumber-sumber yang jelas Awajanya. Da' maa yariibuk ilaa maa laa yariibuk (tinggakan apa yang meragukan dirimu, dan ambillah apa yang tidak meragukan dirimu.

Insyaallah Situs Pejuang Islam tidak meragukan bagi umat Islam untuk dijadikan sumber info.

18.
Pengirim: pejuangislam  - Kota: balikpapan
Tanggal: 22/4/2013
 
Fikihku Mengikuti Imam Syafi'i
Aqidahku Juga Mengikuti Imam Syafi'i. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Alhamdulillah, kita menjadi Sunni Syafi'i tulen.

19.
Pengirim: arief  - Kota: sidoarjo
Tanggal: 24/4/2013
 
Ada lagi ustadz, yufid TV
http://yufid.tv/
Sekedar menambahkan saja. Saya juga baru tahu. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Mudah2an umat semakin waspada.

20.
Pengirim: wono  - Kota: wonosobo
Tanggal: 26/4/2013
 
Kyai ga usah saling menghujat dan fitnah jln sendiri2 aj yg rukun dan damai biar indonesia aman dan nyaman . 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Sebaiknya anda membuat situs sendiri saja, biar anda bebas berbicara sesuai pemikiran anda. Situs ini kami khususkan melawan dan membongkar kejahatan aqidah aliran sesat secara ilmiah. Jadi yang tidak mengerti pembahasan ilmiah ya nggak perlu ngotot nimbrung di situs kami.

21.
Pengirim: Hamdani  - Kota: Metro
Tanggal: 27/4/2013
 
Dakwah kearah tauhid dikatakan sesat, dakwah anti bid'ah dikatakan sesat.... ilmu agama anda sangat dangkal.... belajar agama Islam lagi ya broo... 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Wah…, ternyata Pemurnian Tauhid yang anda maksud dengan pembelaan anda terhadap TV Rodja, TV-nya kaum Wahhabi adalah Tauhid Tajsim, alias penisbatan jasmani terhadap Dzat Allah dengan menggunakan dalil dari hadits-hadits palsu.

Anda perlu tahu, bahwa kaum Nasrani yang meyakini bahwa Yesus adalah Tuhan dalam bentuk manusia seutuhnya, maka aqidah kaum Nasrani ini disebut dengan: Tauhid Tajsim.

Berikut ada artikel menarik, kami copy untuk anda baca, agar anda tahu apa yang anda maksud dengan 'dakwah ke arah Tauhid' versi Wahhabi/Salafi:

AQIDAH MUJASSIMAH/MUSYABBIHAH SEKTE SESAT SALAFI/WAHABI

oleh Imam Nawawi

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Mari sekarang kita teliti lagi riwayat-riwayat berikut ini –jelas mengarah dan menunjukkan tajsim dan tasybih– yang mana golongan Wahabi/Salafi dan pengikutnya menyakini serta mempercayai makna dhohir hadits secara hakiki, hanya manusia tidak boleh membayangkan Tuhannya.

- Berkata Wahab bin Munabbih waktu ditanya oleh Jaad bin Dirham tentang asma wa sifat: Celaka engkau wahai Jaâd karena permasalahan ini. Sungguh aku menduga engkau akan binasa. Wahai Jaâd, kalau saja Allah tidak mengkabarkan dalam kitab-Nya bahwa dia memiliki tangan, mata atau wajah, tentu kamipun tidak akan mengatakannya. Bertakwalah engkau kepada Allah! (Aqidatus Salaf Ashhabul Hadits, hal. 190)

- Abdullah ibn Ahmad rh. meriwayatkan, disertai dengan menyebut sanad-sanadnya. Beliau berkata, “Rasulallah saw. telah bersabda; ’Tuhan kita telah menertawakan keputus-asaan hamba-hamba-Nya dan kedekatan yang lainnya. Perawi berkata; ‘Saya bertanya, ‘Ya Rasulallah, apakah Tuhan tertawa?’ Rasulallah saw. menjawab, ‘Ya.’Saya berkata, ‘Kita tidak ke hilangan Tuhan yang tertawa dalam kebaikan’ “. (Kitab as-Sunnah, hal. 54)

- Abdullah ibn Ahmad berkata, “Saya membacakan kepada ayahku. Lalu, dia menyebutkan sanadnya hingga kepada Sa’id bin Jubair yang berkata, Sesungguhnya mereka berkata, ‘Sesungguhnya ruh-ruh berasal dari batu yaqut-Nya. Saya tidak tahu, apakah dia mengatakan merah atau tidak?’ Saya berkata kepada Sa’id bin Jubair, lalu dia berkata, ‘Sesungguhnya ruh-ruh berasal dari batu zamrud dan naskah tulisan emas, yang Tuhan menuliskannya dengan tangan-Nya, sehingga para penduduk langit dapat mendengar suara gerak pena-Nya.” (Kitab as-Sunnah, hal. 76)

- Abdullah ibn Ahmad berkata, “Ayahku berkata kepadaku dengan sanad dari Abi ‘Ithaq yang berkata, ‘Allah menuliskan Taurat bagi Musa dengan tangan-Nya, dalam keadaan menyandarkan punggungnya kebatu, pada lembaran-lembaran yang terbuat dari mutiara. Musa dapat mendengar bunyi pena Tuhannya, sementara tidak ada penghalang antara dirinya dengan Tuhannya kecuali sebuah tirai.’ (Kitab as-Sunnah, hal. 76)

Mari kita baca lagi riwayat lainnya dibawah ini yang menetapkan bahwa Allah mempunyai jari, dan mereka juga menetapkan bahwa di antara jari-jari-Nya itu terdapat jari kelingking, serta jari kelingking-Nya mempunyai sendi.

Sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Khuzaimah didalam kitab at-Tauhid dengan bersanad dari Anas bin Malik ra yang berkata:

- Rasulallah saw. telah bersabda; ‘Manakala Tuhannya menaiki gunung, Dia mengangkat jari kelingking-Nya, dan mengerutkan sendi jari kelingkingnya itu, sehingga dengan begitu lenyaplah gunung. Humaid bertanya kepadanya, ‘Apakah kamu akan menyampaikan hadits ini?’ Dia menjawab, ‘Anas menyampaikan hadits ini kepada kami dari Rasulallah, lalu kamu menyuruh kami untuk tidak menyampaikan hadits ini?’ “ (Kitab at-Tauhid, hal 113; Kitab as-Sunnah, hal. 65)

Hadits ini menunjukkan bahwa Allah swt. mempunyai tangan, tangan-Nya mempunyai jari, dan diantara jari-Nya itu ialah jari kelingking. Kemudian mereka juga mengata- kan jari kelingking itu mempunyai sendi..!!

- Abdullah rh juga berkata, dengan bersanad dari Abu Hurairah, dari Rasulallah saw. yang bersabda;”Sesungguhnya kekasaran kulit orang kafir panjangnya tujuh puluh dua hasta, dengan ukuran panjang tangan Yang Maha Perkasa.” (Kitab at-Tauhid, hal. 190).

Dari hadits ini dapat dipahami, Tuhan mempunyai dua tangan, juga kedua tangan Tuhan mempunyai ukuran panjang tertentu. Karena jika tidak, maka tidak mungkin kedua tangan tersebut menjadi ukuran bagi satuan panjang.

- Abdullah bin Ahmad bin Hanbal rh, dengan bersanad kepada Anas bin Malik yang berkata, “Rasulallah saw. telah bersabda, ‘Orang-orang kafir dilemparkan kedalam neraka. Lalu neraka berkata, ‘Apakah masih ada tambahan lagi ?, maka Allah pun meletakkan kaki-Nya kedalam neraka, sehingga neraka berkata, ‘Cukup, cukup’ (Kitab at-Tauhid, hal. 184)

- Ibnu Khuzaimah meriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Rasulallah saw. yang bersabda; “Neraka tidak menjadi penuh sehingga Allah meletakkan kaki-Nya kedalamnya. Lalu, nerakapun berkata, ‘Cukup cukup.’ Ketika itulah neraka menjadi penuh.” (Kitab at-Tauhid, hal. 184).

Dari riwayat ini dapat dipahami bahwa Allah swt. mempunyai kaki.
Ada riwayat lebih jauh lagi dengan menetapkan bahwa Allah swt. mempunyai nafas. Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata, dengan bersanad kepada Ubay bin Ka’ab yang berkata, “Janganlah kamu melaknat angin, karena sesungguhnya angin berasal dari nafas Tuhan. (Kitab as-Sunnah, hal. 190)

Mereka juga menetapkan dan bahkan menyerupakan suara Allah dengan suara besi. Abdullah bin Ahmad, dengan sanadnya telah berkata, “Jika Allah berkata-kata menyampaikan wahyu, para penduduk langit mendengar suara bising tidak ubahnya suara bising besi di suasana yang hening. (Kitab as-Sunnah, hal. 71)

Dan Selanjutnya, riwayat berikut ini yang menetapkan bahwa Allah swt. duduk dan mempunyai bobot. Oleh karena itu, terdengar suara derit kursi ketika Allah sedang duduk diatasnya. Jika Allah tidak mempunyai bobot, lantas apa arti dari suara derit?

- Abdullah bin Ahmad bin Hanbal meriwayatkan, dengan bersanad dari Umar ra yang berkata, “Jika Allah duduk di atas kursi, akan terdengar suara derit tidak ubahnya seperti suara deritnya koper besi.” (Kitab as-Sunnah, hal.79)
Atau, tidak ubahnya seperti suara kantong pelana unta yang dinaiki oleh penunggang yang berat.

- Beliau juga mengatakan, dengan bersanad kepada Abdullah ibn Khalifah, “Seorang wanita telah datang kepada Nabi saw. lalu berkata, ‘Mohonkanlah kepada Allah supaya Dia memasukkan saya kedalam surga.’ Nabi saw. berkata, Maha Agung Allah.’ Rasulallah saw. kembali berkata, ‘Sungguh luas kursi-Nya yang mencakup langit dan bumi. Dia mendudukinya, sehingga tidak ada ruang yang tersisa darinya kecuali hanya seukuran empat jari. Dan sesungguhnya Dia mempunyai suara tidak ubahnya seperti suara derit pelana tatkala dinaiki’ “. (Kitab as-Sunnah, hal. 81).

Ada riwayat yang mengatakan lebih dari itu umpama didalam sebuah hadits disebutkan, Allah swt. menciptakan Adam berdasarkan wajah-Nya, setinggi tujuh puluh hasta. Dengan demikian manusia akan membayangkan bahwa Allah swt. akan mempunyai wajah yang berukuran tingginya seperti wajah Adam as. Hadits-hadits diatas dan berikut ini juga tidak bisa dipertanggung-jawabkan kebenarannya karena bertentangan dengan firman Allah Ta'ala dalam QS. As-Syuro ayat 11.

Ada juga hadits yang menetapkan bahwa Allah swt dapat dilihat, mempunyai tangan yang dingin dan sebagainya. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah, dengan bersanad kepada Ibnu Abbas yang berkata: Rasulallah saw. telah bersabda, “Aku melihat Tuhanku dalam bentuk-Nya yang paling bagus. Lalu Tuhanku berkata, ‘Ya Muhammad.’ Aku menjawab, ‘Aku datang memenuhi seruan-Mu.’ Tuhanku berkata lagi, ‘Dalam persoalan apa malaikat tertinggi bertengkar’? Aku menjawab, ‘Aku tidak tahu, wahai Tuhanku.’ Rasulallah saw. melanjutkan sabdanya, ‘Kemudian Allah meletakkan tangan-Nya diantara dua pundak-ku, sehingga aku dapat merasakan dinginnya tangan-Nya diantara kedua tetek-ku, maka akupun mengetahui apa yang ada di antara timur dan barat’ “. (Kitab at-Tauhid, hal. 217)

Riwayat yang lebih aneh lagi, Abdullah bin Ahmad juga berkata, sesungguhnya Abdullah bin Umar bin Khattab ra mengirim surat kepada Abdullah bin Abbas ra., Abdullah bin Umar bertanya, ‘Apakah Muhammad telah melihat Tuhan-nya?’ Maka Abdullah bin Abbas pun mengirim surat jawaban kepadanya. Abdullah bin Abbas menjawab, ‘Benar. Abdullah bin Umar kembali mengirim surat untuk menanyakan bagaimana Rasulallah saw. melihat Tuhan-nya. Abdullah bin Abbas mengirim surat jawaban, ‘Rasulallah saw. melihat Tuhannya di sebuah taman yang hijau, dengan permadani dari emas. Dia tengah duduk di atas kursi yang terbuat dari emas, yang diusung empat orang malaikat. Seorang malaikat dalam rupa seorang laki-laki, seorang lagi dalam rupa seekor sapi jantan, seorang lagi dalam rupa seekor burung elang dan seorang lagi dalam rupa seekor singa.’ (Kitab at-Tauhid, hal. 194)

Dengan adanya riwayat-riwayat ini semua, jelas Allah swt. menjadi seorang makhluk –na’udzubillahi– yang mempunyai sifat-sifat hakiki/sebenarnya yang dimiliki oleh makhluk-Nya. Para ulama salaf bersepakat bahwa barang siapa yang menyifati Allah dengan salah satu sifat diantara sifat-sifat manusia maka ia telah kafir. Sebagaimana hal ini ditulis oleh Imam al Muhaddits as-Salaf ath-Thahawi (227 – 321 H) dalam kitab aqidahnya yang terkenal dengan nama al Aqidah ath-Thahawiyah, menyatakan, yang artinya: “Barang siapa mensifati Allah dengan salah satu sifat dari sifat-sifat manusia, maka ia telah kafir”.

Semua riwayat hadits tersebut jelas menunjukkan tajsim atau tasybih Allah kepada makhluk-Nya dan hal itu bertentangan dengan firman Allah swt. yang telah dikemukakan tadi. Umpama saja riwayat-riwayat ini shohih, maka makna yang berkaitan dengan shifat Allah swt. harus disesuaikan dengan ke Maha Sucian dan ke Maha Agungan-Nya!! Jika tidak demikian, maka jelas sekali riwayat-riwayat itu mengarah kepada sifat-sifat yang ada kepada Makhluk-Nya secara hakiki. Orang yang mempercayai hadits-hadits itu akan membayangkan Tuhannya -walaupun mereka ini berkata tidak membayangkan-Nya– tentang bentuk jari kelingking Allah swt., kaki-Nya, wajah-Nya, berat-Nya dan lain sebagainya.

(www.facebook.com/notes/imam-nawawi/aqidah-mujassimahmusyabbihah)

Sekalian anda baca artikel kami: Gejolak WAHHABI vs SYIAH (edisi revisi), biar mantaaab ... !

22.
Pengirim: Hamid Alhamid  - Kota: pasuruan
Tanggal: 27/4/2013
 
Assalaamu 'alaikum Warohmatulloohi Wabarokaatuh.

Keif haalukum ya akhina fillah ad da'i ilalloh al ustad H. Luthfi Bashori??

ana sangat senang membaca karya-karya tulis pejuang yang mana isinya sangat diperlukan oleh ummat Islam yg awam. Mudah-mudahan antum diberikan kesehatan dan kekuatan untuk terus istiqomah membela aqidah salafunassholeh Ahlusunnah Wal Jammaah daripada aqidah2 sesat dan menyesatkan seperti WAHABI, SYIAH dan JIL (SEPILIS).

Ana mohon izin untuk mengcopy dan menyebarkan sebagian karya-karya tulis antum ke Facebook yg ana miliki.

Walafu minkum
Wassalam. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Terima kasih kunjungannya, kami persilahkan ikut menyebarkannya sekira bermanfaat untuk umat.

23.
Pengirim: Hamdani  - Kota: Metro
Tanggal: 28/4/2013
 
Apakah anda punya kitab hadits Syakhih Bukhori dan Muslim. Coba buka HR. Bukhari No: 54, 407, 431, 113, 1197, 1213, 2917, 3153, 3608, 3623, 3643, 3741, 3773, 3990, 3991, 4057, 4982, 5236, 5599, 5635, 5817, 5861, 5896, 5943, 5967, 6236, 6425, HR. Muslim No: 828, 1052, 1562, 1759, 1760, 3076, 5297
Silakan dibaca secara cermat apa isinya .... 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Apa anda bisa baca artikel kami KULLU BID'ATIN DHALALAH, apa anda paham kalau membacanya dengan semua komentarnya, karena kami kemas secara ilmiah ? Bacalah sekarang juga.

24.
Pengirim: abu dzaki  - Kota: jambi
Tanggal: 17/5/2013
 
Sepertinya anda tdk mgenal wahabi, 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Alhamdulillah kami sangat mengenal Wahhabi, bahkan kami telah 'berkenalan' sangat akrab selama delapan tahun saat kami bermukim di Saudi Arabiah sejak tahun 1983 sampai 1991, karena Wahhabi ini bersumber dari negara Saudi Arabiah, khususnya pada suku Najed.

25.
Pengirim: ALwalid  - Kota:
Tanggal: 20/5/2013
 
ya ustaz anda ini emang paling aneh sedunia seperti berilmu ternyata kosong seperti tong .cuma asbun,silahkan teruskan dakwah asbun mu wahai ustad semoga ALLAH memberimu hidayahNYA. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Komentar anda ini pertanda bahwa anda adalah kaum Wahhabi yang tidak ilmiah, sebaiknya untuk berikutnya anda menulis komentar secara ilmiah agar kami dapat menanggapi secara ilmiah. Kalau model komentar anda ini cocoknya dikirim ke FB bukan ke Situs Pejuang Islam.

26.
Pengirim: ikbal  - Kota: cikarang -bekasi
Tanggal: 21/5/2013
 
Betul sekali kyai , saya tinggal di bekasi , memang sangat meresahkan kaum salafi wahabi , sedikit-sedikit yang tidak ada di alquran dan hadist di bilang bidah, kelompok mereka banyak di bekasi, tapi yang saya heran , di rumah mereka ada komputer, punya HP , punya FB lagi, dan yang lebih bidah nya lagi, kalau mau sholat 5 waktu , mereka pasti lihat jam , padahal nabi kalau mau sholat tidak pernah lihat jam .kan konyol kalau begitu kyai . lucu aneh tapi nyata. maling teriak maling.
mudah-mudahan alloh memberi hidayah kepada mereka , wabil khusus teman-teman saya. agar kembali ke aswaja. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Wahhabi itu adalah kelompok Ahli bid'ah yang senang menuduh pihak lain sebagai pelaku Bid'ah, yaa itulah namanya MALING TERIAK MALING.

27.
Pengirim: tgk,rahmat arif  - Kota: bagok,city
Tanggal: 22/5/2013
 
perdalam ilmu,agar kita tidak mudah untuk dikibuli ma kaum wahabi. syukran 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Benar sekali. Terima kasih koment positifnya.

28.
Pengirim: amir  - Kota: cibinong
Tanggal: 27/5/2013
 
Assalamu alaikum ustadz. saya sbg orang yang terlahir dari lingkungan Islam mainstream (tradisional), Alhamdulillah dengan semangat belajar terus menerus akhirnya saya menemukan manhaj Islam yang saya yakini benar yaitu Manhaj Salaf. Saya berharap kepada saudaraku sekalian untuk sesekali bisa mendengarkan Radio Rodja, TV Rodja, dan manhaj salaf lainnya. agar tau bahwa agama ini dibangun dengan dasar yang kuat (Al-Quran dan hadist). Saya sebagai orang yang terlahir dari Islam Indonesia, apa-apa yang ustadz ataupun saudara tuduhkan kepada manhaj salaf (Wahabi versi antum) memang perlu diluruskan. Syukron. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Benar, ajaran Wahhabi yang suka menuduh AMALAN NU sebagai amalan Bid'ah itu perlu diluruskan, seperti perayaan Maulid Nabi SAW yang haram-haramkan oleh Wahhabi, maka hukum haram versi Wahhabi terhadap Perayaan Maulid Nabi SAW ini benar-benar perlu diluruskan, karena Wahhabinya ternyata Gemar juga melakukan BID'AH itu sendiri. TV RODJA ADALAH BID'AHNYA KAUM WAHHABI.

29.
Pengirim: amir  - Kota: cibinong
Tanggal: 27/5/2013
 
Masih terkait tulisan ustadz kita ini tentang Wahabi mem-bid'ah kan puasa sunnah Rojab. Barangkali ustadz kita ini tidak membaca atau mendengar dengan sempurna. Bahwa yang dibid'ah kan bukan pelaksaan puasa sunnah yang biasa dilakukan Rasulullah di bulan-bulan lain, akan tetapi puasa sunnah KHUSUS pada bulan Rojab . misalnya tgl 1 sampai 10 Rojab atau lainnya. Adapun puasa sunnah spt senin kamis, Daud, 13,14 dan 15 ini akan dilipatgandakan di bulan-bulan Hurum (Rojab). syukron 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Puasaj khusus di bulan Rajab itu pernah dilakukan oleh Nabi SAW. Coba akhi baca artikel kami YANG MAU PUASA RAJAB, INI LOH DALILNYA...! Jadi bukan bid'ah dhalalah, karena ada memang ada dalilnya. Hanya Wahhabi saja yang mengingkarinya dan menuduh tata cara puasa Sunnah Rajab dari warga Sunni Syafi'i Asy'ari itu sebagai Amalan Bid'ah dhalalah dg alasan Nabi SAW tidak pernah melakukannya. Ironisnya Wahhabi sendiri tidak menghukumi Bid'ah Sesat terhadap dakwah lewat TV, Internet dan media modern lainnya padahal Nabi SAW tidak pernah mencontohkannya.

30.
Pengirim: amir  - Kota: cibinong
Tanggal: 30/5/2013
 
ustadz, sy terlahir sebagai Islam yang diturunkan oleh kedua orang tua sy (Semoga Allah SWT me-rahmati keduanya). Sy besar dilngkungan Islam tradisional NU dan Islam umumnya di Sumut. Kuliah di Jogja sy mengenal Jamaah Tabligh, dan sekarang saya mengenal Salaf dari Rodja. Proses pencarian ini menjatuhkan pilihan saya pada Salaf. karena dalam beragama kita harus berilmu, tdk taqlid dan penuh akhlaq. Manhaj ini sgt menekankan pd dakwah Tauhid. Dan ini tidak saya temukan di dua manhaj sblmnya. Afwan. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Apalagi anda mau jadi pengikut Eyang Subur dengan delapan istrinya, pasti ajarannya itu tidak akan dapat anda temukan dalam Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah Syafi'iyah Asy'ariayah (Sunni Syafi'i Asy'ari) sebagai aqidah asli bangsa Indonesia. Karena bagaimana mungkin ada kelompok-kelompok sempalan yang sama ajarannya dengan aqidah aslinya? Pastinya tidak sama. Berikut ini artikel kami yang perlu akhi baca:

ASLI MUSLIM INDONESIA PRODUK SUNNI SYAFI`I

H. Luthfi Bashori

Dalam panduan buku sejarah yang dipelajari di sekolah-sekolah negeri diterangkan, bahwa masuknya Islam ke Indonesia itu dibawa oleh para pedagang dari Gaujarat India. Sebenarnya, mereka adalah para ulama yang datang ke Indonesia untuk berdakwah secara murni. Namun karena melihat sektor perdagangan lebih memungkinkan untuk dijadikan batu loncatan dalam mengenal kultur masyarakat, maka dari sektor inilah para ulama asal Gaujarat tersebut memulai langkah dakwahnya.

Jika ditarik garis ke atas dari segi nasab, ternyata para ulama asal Gaujarat yang dimaksudkan adalah keturunan dari bangsa Arab yang hidup di negeri Yaman, tepatnya dari daerah Hadramaut. Umat Islam di daerah Hadramaut ini mayoritas bermadzhab Sunni Syafi`i (beraqidah Ahlussunnah wal Jama`ah dan beribadah menggunakan tatacara madzhab Syafi`i).
Bermula dari para ulama asal Hadramaut, mereka menyebarkan agama Islam ke wilayah Asia lewat sektor perdagangan. Pada akhirnya mereka masuk ke negeri India. Umumnya para ulama asal Hadramaut ini datang tanpa disertai keluarga, hingga akhirnya mereka melaksanakan pernikahan asimilasi dengan para wanita setempat, dan melahirkan para ulama dari pernikahan campur berdarah Arab-Gaujarat. Islam pun berkembang di Gaujarat dengan nuansa madzhab Sunni-Syafi`i. Pada era berikutnya para ulama dari keturunan asimilasi Arab-Gaujarat inilah yang membawa Islam ke Asia Tenggara termasuk Indonesia.

Karena masuknya Islam ke Indonesia juga dibawa para ulama asal Arab-Gaujarat, dan diperkenalkan kepada masyarakat melewati sektor perdagangan, serta pernikahan asimilasi dengan wanita Indonesia, maka Islam asli Indonesia pun bermadzhab Sunni Syafi`i. Demikian ini selaras dengan Islam yang ada di Hadramaut Yaman sebagai induk utama. Bukti riil yang tidak bisa dipungkiri, adalah masih banyak penduduk Indonesia hingga saat ini yang beretnis Arab, namun lebih dominan menggunakan bahasa Indonesia. Mereka pun masih memiliki datuk-datuk yang berada di Hadramaut.
Etnis Arab yang berada di Indonesia sering disebut dengan istilah kalangan Habaib dan Masyayekh. Atau dalam kontek ini lebih tepat disebut sebagai warga Arab-Indonesia. Demikian ini, karena mereka memiliki silsilah nasab atau garis keturunan dari pihak ayah yang bersambung kepada kakek moyangnya di Hadramaut, tetapi perilaku, adat, serta bahasa mereka lebih dominan Indonesia. Bahkan tidak jarang di kalangan warga Arab-Indonesia yang hanya bisa berbahasa Indonesia, dan meninggalkan bahasa kakek moyangnya. Menurut sejarah, bahwa Wali Songo termasuk warga Arab-Indonesia keturunan Hadramaut, karena itu dakwah yang disampaikan oleh Wali Songo berafiliasi kepada madzhab Sunni Syafi`i.

Di awal-awal agama Islam dianut oleh bangsa Indonesia, maka seluruh umat Islam yang pada akhirnya menjadi penduduk mayoritas negara ini berwarna satu yaitu bermadzhab Sunni Syafi`i. Karena menganut satu madzhab, maka tidak banyak terjadi permasalahan di dalam tubuh umat Islam di negeri tercinta Indonesia. Mereka menyatu dalam persatuan yang kompak, saling bahu membahu membentuk karakter bangsa Indonesia. Demikianlah, hingga datang Belanda yang berusaha menjajah bangsa Indonesia dari segala sektor termasuk pada bidang keagamaan.

Karena pengaruh penjajah Belanda yang sengaja berusaha memecah belah umat Islam, mulailah bermunculan beberapa perbedaan pendapat di antara tokoh-tokoh Islam. Bahkan perbedaan tersebut berpengaruh pula di kalangan awam umat Islam. Lebih parah lagi, di saat penjajah Belanda telah pulang ke negara asalnya, mereka menyisakan warisan perpecaha di kalangan umat Islam, dengan bermunculannya aliran demi aliran yang menyebar di kalangan umat Islam di luar kontek Sunni Syafi`i.
Bahkan tidak jarang aliran yang baru bermunculan, tiba-tiba berusaha menafikan eksistensi madzhab Sunni Syafi`i, dalam menjalankan amaliyah sehari-hari bagi individu setiap muslim, amaliyah keluarga muslim, keyakinan masyarakat muslim, bahkan tatacara mengatur kehidupan bernegara sebaris dengan ajaran syariat Islam dalam koridor Sunni Syafi’i.
Namun berkat rahmat dan pertolongan Allah, mayoritas umat Islam Indonesia hingga kini tetap bermadzhab Sunny Syafi`i, bahkan tetap mendominasi kependudukan di negeri ini. Maka sudah sewajarnya jika para pelaku roda pemerintahan dewasa ini, menjadikan madzhab Sunni Syafi`i sebagai madzhab resmi bangsa Indonesia. Dengan tujuan agar kesatuan dan kebersatuan umat dapat terwujud kembali seperti di saat awal bangsa Indonesia memeluk agama Islam.

31.
Pengirim: amir  - Kota: cibinong
Tanggal: 30/5/2013
 
ustadz, sy cm seorang penuntut ilmu. Pengertian Bid'ah yang dijelaskan dalam Hadist sesuatu yang baru dalam urusan agama (pengertian scr syar'i). Adapun motor, mobil TV, HP ini adalah tidak terkait urusan agama, dan ini juga disebut dengan Bid'ah (scr Lughoh/ bahasa) dan ini mubah. Adapun terkait sifat2 Allah, ulama Salaf hanya membatasi diri meyakini dengan apa yang ada di nash terkait dengan Tangan Allah, Wajah Allah, Istiwaa. Tidak menfsirkan lebih jauh dengan menjelaskan kaifiyatnya (bagaimana caranya). sukron 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Tidak ada sama sekali Nash/Dalil shahih yang secara Tekstual baik dari Allah (Alquran) maupun Hadits Nabi SAW yang mengatakan bahma BID'AH SESAT itu khusus bidang agama saja, sedangkan untuk bidang duniawi itu bukan Bid'ah. Coba akhi sebutkan satu saja dalil secara TEKSTUALnya ! Paling-paling hanya Kontekstual dari ayat/hadits semata ! Perlu anda tahu, pembagian Bid'ah menjadi Bid'ah Agama (Diniyah) dan Bid'ah Non Agama (Duniawiyah), pembagian semacam ini adalah hanyalah karya anda semata, bukan datang dari Allah maupun Nabi SAW. Inilah sejatinya BID'AH yang anda ciptakan sendiri.

32.
Pengirim: Kyai  - Kota: Probolinggo
Tanggal: 31/5/2013
 
Pengirim: amir - Kota: cibinong
Tanggal: 30/5/2013

ustadz, sy cm seorang penuntut ilmu. Pengertian Bid'ah yang dijelaskan dalam Hadist sesuatu yang baru dalam urusan agama (pengertian scr syar'i). Adapun motor, mobil TV, HP ini adalah tidak terkait urusan agama, dan ini juga disebut dengan Bid'ah (scr Lughoh/ bahasa) dan ini mubah. Adapun terkait sifat2 Allah, ulama Salaf hanya membatasi diri meyakini dengan apa yang ada di nash terkait dengan Tangan Allah, Wajah Allah, Istiwaa. Tidak menfsirkan lebih jauh dengan menjelaskan kaifiyatnya (bagaimana caranya). sukron

------------------------
Saya tanggapi dengan beberapa hal :

Pertama, Apakah anda adalah Jubir Nabi, sehingga memaknai sabda Kanjeng Rasul dengan “sesuatu yang baru dalam urusan agama (pengertian scr syar'i). Adapun motor, mobil TV, HP ini adalah tidak terkait urusan agama, dan ini juga disebut dengan Bid'ah (scr Lughoh/ bahasa) dan ini mubah”. Pernahkah Rasul sendiri tidak pernah menyatakan hal tersebut?. Pemaknaan yang anda lakukan itulah yang tepatnya dikatakan bid’ah.

Kedua, apakah anda pernah membaca hadist sayyidina bilal?. Sayyidina bilal melakukan sholat 2 rakaat tiap setelah adzan, dan 2 rakaat tiap setelah wudhu. Nabi belum pernah menyuruh atau mengerjakan shalat 2 rakaat setiap selesai wudhu atau setiap selesai adzan. Akan tetapi sayyidina bilal mengerjakannya atas dasar ijtihad pribadi, tanpa dianjurkan dan tanpa terlebih dahulu bertanya kepada Rasul. Namun, ternyata Nabi membenarkan apa yang dilakukan sayyidina bilal tsb, bahkan Nabi memberi kabar gembira tentang derajatnya di surga, sehingga shalat 2 rakaat tiap selesai wudhu menjadi sunnat bagu seluruh umat. Bukankah yang dilakukan sayyidina bilal itu adadalah bid’ah (secara syar’i)???

Ketiga, para ulama Ahlussunnah wal Jamaah mayoritas membagi bid;ah menjadi 2 bahkan menjadi 5 bagian.
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Komentar Sdr. Kiai memang benar..., kalau Akhi Amir benar-benar konsisten dengan keyakinannya, yaitu Akhi Amir tidak mau mengamalkan sesuatu yang baru dalam urusan agama yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi SAW, maka mulai saat ini dia tidak boleh mempermasalahkan status sebuah hadits, dengan pembagian: HADITS ini SHAHIH atau HASAN atau DHA'IF. Jadi semua Hadits Nabi yang ditulis oleh siapapun ya wajib diterima oleh Amir secara mutlak, tanpa harus dipilah-pilah statusnya. Karena Nabi SAW tidak pernah memiliah-milah status sabda beliau SAW sendiri menjadi SHAHIH, HASAN maupun DHA'IF.

Kalau Akhi Amir tetap memilah-milah status Hadits Nabi SAW maka dia sendiri hakikatnya sebagai PELAKU BID'AH. Sedangkan jika Akhi Amir menolak beberapa Hadits Nabi SAW karena mempertimbangkan status tertentu, maka Akhi Amir adalah penganut Ingkarus Sunnah (Pengingkar Hadits Nabi SAW).

Kalau Akhi Amir mengatakan bahwa pembagian status Hadits yang dilakukan oleh para Ulama (bukan oleh Nabi SAW) ini bukan urusan agama, maka dia telah mengingkari hadits IBADAH WAJIB THALABUL ILMI, yang banyak sekali dalilnya, salah satunya adalah Hadits:Thalabul Ilmi fariidlatun 'alaa kulli muslimin (belajar ilmu agama itu adalah difardlukan/diwajibkan atas setiap muslim). HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

33.
Pengirim: Kyai  - Kota: probolinggo
Tanggal: 31/5/2013
 
Pengirim: amir - Kota: cibinong
Tanggal: 30/5/2013

ustadz, sy cm seorang penuntut ilmu. Pengertian Bid'ah yang dijelaskan dalam Hadist sesuatu yang baru dalam urusan agama (pengertian scr syar'i). Adapun motor, mobil TV, HP ini adalah tidak terkait urusan agama, dan ini juga disebut dengan Bid'ah (scr Lughoh/ bahasa) dan ini mubah. Adapun terkait sifat2 Allah, ulama Salaf hanya membatasi diri meyakini dengan apa yang ada di nash terkait dengan Tangan Allah, Wajah Allah, Istiwaa. Tidak menfsirkan lebih jauh dengan menjelaskan kaifiyatnya (bagaimana caranya). sukron

------------------------
Saya tanggapi dengan beberapa hal :

Pertama, Apakah anda adalah Jubir Nabi, sehingga memaknai sabda Kanjeng Rasul dengan “sesuatu yang baru dalam urusan agama (pengertian scr syar'i). Adapun motor, mobil TV, HP ini adalah tidak terkait urusan agama, dan ini juga disebut dengan Bid'ah (scr Lughoh/ bahasa) dan ini mubah”. Pernahkah Rasul sendiri tidak pernah menyatakan hal tersebut?. Pemaknaan yang anda lakukan itulah yang tepatnya dikatakan bid’ah.

Kedua, apakah anda pernah membaca hadist sayyidina bilal?. Sayyidina bilal melakukan sholat 2 rakaat tiap setelah adzan, dan 2 rakaat tiap setelah wudhu. Nabi belum pernah menyuruh atau mengerjakan shalat 2 rakaat setiap selesai wudhu atau setiap selesai adzan. Akan tetapi sayyidina bilal mengerjakannya atas dasar ijtihad pribadi, tanpa dianjurkan dan tanpa terlebih dahulu bertanya kepada Rasul. Namun, ternyata Nabi membenarkan apa yang dilakukan sayyidina bilal tsb, bahkan Nabi memberi kabar gembira tentang derajatnya di surga, sehingga shalat 2 rakaat tiap selesai wudhu menjadi sunnat bagu seluruh umat. Bukankah yang dilakukan sayyidina bilal itu adadalah bid’ah (secara syar’i)???

Ketiga, para ulama Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) mayoritas membagi bid;ah menjadi 2 bahkan menjadi 5 bagian.

Keempat, pernyataan anda: “Adapun terkait sifat2 Allah, ULAMA SALAF HANYA MEMBATASI diri meyakini dengan apa yang ada di nash terkait dengan Tangan Allah, Wajah Allah, Istiwaa. Tidak menfsirkan lebih jauh dengan menjelaskan kaifiyatnya (bagaimana caranya)”. Saya sangat tidak sependapat karena anda melakukan pembodohan sekaligus pembohongan publik. ulama salaf juga banyak yang melakukan takwil. mengenai sifat Allah sebagaian ulama Aswaja melakukan takwil dikarenakan beberapa sebab diantaranya agar umat awam tidak terjebak dengan faham mujassimah yang diusung kaum wahabi. tradisi ta’wil sudah biasa dilakukan oleh ulama salaf. Salah satunya adalah ta’wil yang dilakukan oleh Imam Ahmad bin Hanbal atas ayat wa ja’a rabbuka wal malaku shaffan-shaffa (QS. al-Fajr : 22). Imam Ahmad mentakwil ayat tersebut dengan ja’a tsawabuhu wa qhadha’uhu (datangnya pahala dan ketetapan Allah subhanahu wa ta‘ala). Imam bukhari pun melakukan takwil terhadap suatu ayat didalam Quran, dan karena Imam bukhari melakukan takwil, ulama bahlul wahabi yang bernama al Albani menyatakan bahwa Imam bukhari adalah kafir.

 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Semestinya Akhi Amir juga paham tentang hadits Nabi SAW berikut:

عَنْ جَرِيْرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْبَجَلِيِّ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم مَنْ سَنَّ فِي اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مَنْ بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ
رواه مسلم

“Jarir bin Abdullah al-Bajali radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang memulai perbuatan baik dalam Islam, maka ia akan memperoleh pahalanya serta pahala orang-orang yang melakukannya sesudahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barangsiapa yang memulai perbuatan jelek dalam Islam, maka ia akan memperoleh dosanya dan dosa orang-orang yang melakukannya sesudahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka.” (HR. Muslim [1017]).

Membagi Hadits menjadi Shahin, Hasan, Dhaif adalah amal ibadah yang sifatnya perbuatan baru dalam agama (yang tidak pernah dicontohkan ole Nabi SAW) namun para ulama yang memulainya membagi-bagi itu akan mendapatkan pahala yang besar, karena mendapatkan kiriman pahala dari para pengikutnya (orang-orang yang ikut menjustifikasi pembagian status Hadits itu). Hal semacam inilah yang oleh para ulama Aswaja (non Wahhabi) dinamakan Bid'ah Hasanah (bid'ah yang baik).

34.
Pengirim: ihsan  - Kota: kuningan
Tanggal: 1/6/2013
 
afwan ustadz katanya semua hadis harus diterima, satu aja yang saya tanyakan KEMANA JENGGOT ANDA pa ustadz dalilnya jelaskan. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Maaf, sebelum komentar, semestinya anda beli Kaca Mata Minus dulu agar tidak salah melihat foto kami yang terpampang di halaman pertama dan ke dua. Atau bisa juga anda membeli KACA PEMBESAR, agar tidak malu-maluin teman-teman Wahhabi anda. Semoga anda juga tidak menjadi seperti Bin Baz sang panutan kaum Wahhabi, hingga dapat melihat foto kami dengan baik dan benar.

Atau mungkin anda punya hadits Nabi SAW tentang berapa centi meter ukuran jenggot yang disunnahkan, atau juga anda menemukan Hadits Nabi SAW mengenai bentuk jenggot sunnah itu yang bagaimana, apakah seperti bentuk jenggotnya kambing yang jumlahnya sedikit tapi agak panjang, seperti yang sering kami temui di kalangan non NU, atau yang bagaimana?

35.
Pengirim: Heri Saputra  - Kota: Bengkulu
Tanggal: 1/6/2013
 
Benar sekali Kiai, orang-orang Wahhabi itu memang banyak yang dungu-dungu, mereka sudah termakan oleh doktrin kebodohan dari tokoh-tokohnya, terbukti kalau Sdr. Ihsan sudah tidak dapat mengenal Kiai Luthfi yang terkenal BREWOK lengkap (berjenggot, berjambang dan berkumis) masih saja dipertanyakan. Jadi kedunguan figur sdr. Ihsan inilah yang hakikatnya mewakili ketololan para Wahhabi Indonesia pada khususnya. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Semoga Mas Ihsan ikut menyadarinya.

36.
Pengirim: Redouane  - Kota: Sidoarjo
Tanggal: 1/6/2013
 
Saudara Ihsan, kalo mau membuat malu temen2 WAHHABI anda jangan keterlaluan dong,,, kemana aja anda selama ini? Baru kenal ya sama Kiai Luthfi? Lha kok bisa nggak tahu JENGGOT, CAMBANG, dan KUMIS sejelas itu, anak TK aja tahu kalau rambutnya Kiai Luthfi yang melingkar di sekitar janggutnya itu namanya JENGGOT DAN KAWAN2NYA,... Berarti anda kalah dong sama anak TK, 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Memang pertanyaannya itu berkelas Play Group.

37.
Pengirim: Kurniawan Junaidy  - Kota:
Tanggal: 1/6/2013
 
Assalamu'alaikum.

Apakah anda sendiri tidak bid'ah krn pakai internet? 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Alhamdulillah, dalam aqidah Aswaja, Bid'ah itu dibagi dua:

1. Bid'ah Dhalalah (sesat), contohnya jika ada umat Islam menghadiri undangan natal dan perayaan hari2 besar non muslim lainnya.

2. Bid'ah hasanah (baik): Seperti mengadakan perayaan Maulid Nabi SAW dengan mendendangkan bacaan shalawat yang dilantunkan secara bersama. Termasuk juga menggunakan alat-alat elektronik sebagai penunjang dakwah islamiyah.

Ayooo segera baca artikel kami berjudul KULLU BID'ATIN DHALALAH yang banyak dikunjungi kawan-kawan yang lain, biar tidak jadi Wahhabi.

38.
Pengirim: Kyai  - Kota: Probolinggo
Tanggal: 2/6/2013
 
Pengirim: ihsan - Kota: kuningan
Tanggal: 1/6/2013

afwan ustadz katanya semua hadis harus diterima, satu aja yang saya tanyakan KEMANA JENGGOT ANDA pa ustadz dalilnya jelaskan

----------------------
Ihsan, judul diatas adalah menyinggung mengenai TV RODJA. Silahkan anda lihat acara TV Rodja yang isinya selalu menyudutkan amalan-amalan kaum nahdliyyin. Salah satu Ustadz yang menjadi narasumber popular di TV Rodja adalah Ust. Firanda Andirja, Lc, MA.

Ust. Firanda Andirja, MA. Ini disebut-sebut bisa menyaingi keilmuan Pendekar Ahlussunnah wal Jama’ah dari Kaum Nahdliyyin al Ustadz Muhammad Idrus Ramli. Akhirnya kedua Ustadz andalan Wahabi dan Ustadz andalan NU tsb saling berdebat secara polemic di Internet. Ust. Firanda membantah tulisan Ust. Muhammad Idrus Ramli di website pribadinya (www.firanda.com) , sedangkan Ust. Muhammad Idrus Ramli meluruskan tulisa Ust. Firanda di Facebook Page miliknya (komunitas Muhammad Idrus Ramli). Silahkan and abaca sendiri tulisan argumentatif dari Ust. Muhammad Idrus Ramli di FP-nya. Dan silahlan menilai sendiri. Sampai-sampai Ust. Firanda mengeroyok secara polemik tulisan Ust. Muhammad Idrus Ramli dengan dibantu oleh Ust. Musmulyadi, Lc; Ust. Abul Jauza’ (Nama Samaran Ust. Hakim Abdat), Dll.

Sekarang, segera anda ambil remote control TV anda dan saksikan TV Rodja. Coba anda amati wajah Ust. Firanda, apakah dia memakai jenggot?????
Wajah Ust. Firanda sangat bersih dari jenggot, padahal menurut anda dalilnya kan sudah jelas.

Dan perlu anda ketahui bahwa memangkas jenggot itu hukumnya TIDAK BERDOSA. Dan KH. Luthfi Bashori itu BERJENGGOT.
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Kaum Wahhabi selalu bersifat tidak fair. Mereka hobi menyalahkan orang lain, padahal seringkali dirinya terperosok ke dalam amalan yang sama dengan orang lain yang dituduh salah itu .

Dalam pertandingan bola saja para pemain diharuskan Fair Play, dan dilarang Diving, apalagi dalam berdiskusi ilmiah keislaman, maka kewajiban Fair Play ini pasti menjadi tolok ukur kebenaran aqidah seseorang, karena Islam itu dibangun atas kejujuran, bukan atas dasar kecurangan.

Alhamdulillah kami berjenggot, namun tidak pernah menyalahkan orang lain yang tidak dikaruniai jenggot. Karena urusan berjenggot ini hukumnya sunnah dan bukan prinsip beragama.

Seperti juga sunnahnya bepergian naik ONTA seperti yang selalu dicontohkan oleh Nabi SAW, namun sayangnya umat Islam jaman sekarang banyak yang meninggalkan sunnah Nabi SAW bepergian naik ONTA, tentunya termasuk Sdr. Ihsan juga yang tidak mau bepergian naik ONTA. Berarti dia jelas-jelas tidak mengamalkan ajaran Nabi SAW juga.

39.
Pengirim: azmi  - Kota: salatiga
Tanggal: 8/6/2013
 
Pak ustadz. Padahal kalo dilihat yang ditampilkan bagus lho. Kebetulan keluarga saya semua NU tapi bisa menerima apa yg disampaikan TV TV tersebut. Saya tanya ke temen2 Muhammadiyah katanya juga memang begitu yg betul. Saya masih cross cek lagi ke beberapa temen lain, di MTA, Dewan Dakwah, Persis, kok ya juga sama ya. Kalo saya sih mungkin kita saja yang Belum bisa menerima pendapat diluar kita. Saya kira tidak perlu kita menjelek jelekkan orang lain. Nanti di akhirat kan akan diperlihatkan kepada kita tentang apa yang diperselisihkan. Tinggal kita berdoa saja semoga pendapat kita benar. Menurut sata itu lebih baik. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
1. Syeikh Nashiruddin Al-Albani salah satu tokoh sentral Wahhabi telah mengharamkan anggotanya menonton TV, sebagaimana dimuat oleh Majalah Assunnah edisi 04/Tahun I/1422 H, bahkah beberapa tokoh Wahhabi sekelas Syeikh Ustaimin dan Syeikh Muqbil panutan kaum Wahhabi saja menjatuhkan fatwa haramnya menonton TV. (sumber: www.muqbel.net). Loh para pengikutnya justru mendirikan stasiun TV Rodja, dll.

2. Kalau ada keluarga NU yang tidak tahu TV Rodja adalah milik kaum Wahhabi dan yang sejenisnya, yaa karena keawamannya dalam beragama, maka tidak dapat dijadikan patokan.

3. Yazid Jawas pentolan kaum Wahhabi adalah termasuk pengisi acara TV Rodja. Sedangkan anda pastinya termasuk sejenis dengannya, jadi ya maklum saja jika merasa no problem menonton Bid'ahnya kaum Wahhabi ini.

40.
Pengirim: Muhamad  - Kota: Surabaya
Tanggal: 10/6/2013
 
Assalammualaikum, ustad sepertinya mulai resah dgn berkembangnya salaf,ditempat ana mulai bergairah & banyak peserta kajiannya karena bersifat umum dan mengutamakan menuntut ilmu bukan menghujat dan mengutamakan persatuan umat untuk pemurnian akidah serta tetap berusaha melaksanakan sunah rasul  
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Wah, mengapa anda kok jadi resah segala dengan Situs kami yang mengupas tentang kesesatan aqidah Wahhabiyah ini.

41.
Pengirim: shatina  - Kota: palu
Tanggal: 11/6/2013
 
kita heran ya napa org ngkunya mazhab imam syafi' i tp kitab imam syafi i aja mrka gak kenal ato gak pernah baca kali... apa ygi imam syafi i lrng dlm permslhn tahlililan....?? tau gak...mk nya beljar dulu sblm memveto orng lain sesat... 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Kok lucu dam jauh amat nyempal pembahasannya, mau menghindar ya? Ingatlah Imamnya kaum Wahhabi: Al-albani itu loh benar-benar mengharamkan TV... Lah kok anda bela-belain TV Rodja, Bid'ahnya Kaum Wahhabi yang jelas-jelas DIHARAMKAN oleh Imamnya Kaum Wahhab gitu.

42.
Pengirim: Ahmad  - Kota: Gorontalo
Tanggal: 13/6/2013
 
Kenapa bukan tv2 dandut yg di cegah??
Malah tv yg mengajak org sholat berjamaah..
Aneh.. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Sudah banyak yang berbicara bahayanya TV DANGDUT dan maksiat dhahir lainnya, namun kebanyakan orang menyangka bahwa kaum Wahhabi itu hanya mengajak shalat semata, padahal kemaksiatan aqidahnya justru jauh lebih menbahayakan daripada maksiat dhahir. Bagaimana tidak, lah kaum Wahhabi itu adalah kaum mujassimah alias kelompok yang menisbatkan jasmani pada diri Allah.

Seperti pernyataan akhi ini, banyak terjadi di masyarakat yang menilai salah langkah MUI dalam menfatwa satu aliran SESAT. Kemudian ada awwam yang bilang: Loh, MUI kok nggak pernah mengeluarkan Fatwa Haramnya Korupsi, kok malah orang yang beribadah kepada Tuhan sesuai keyakinannya difatwa SESAT?

Nah, tinjauannya, MUI itu tidak mengurusi sesuatun yang hukumnya jelas, misalnya Korupsi hukumnya jelas-jelas haram. Namun banyak orang menyangka setiap orang yang beribadah menurut keyakinannya itu pasti benar, padahal seringkali tidak disadari bahwa keyakinan seseorang harus berdasarkan dalil-dalil syar'i. Maka MUI menfatwa satu aliran sebagai SESAT karena kebanyakan orang seperti akhi itu kurang tahu duduk permasalahannya. Gitu looh.

43.
Pengirim: yudi  - Kota: Drpok
Tanggal: 15/6/2013
 
Alhamdulillah setelah d larang nonton Tv rodja oleh ustadz Luthfi saya penasaran pingin liat eee ternyata dakhwahnya sangat bagus sesuai dngn Al-Quran dan hadist sekali lagi saya ucapkan trimakasih atas larangan utadz jadi saya menemukan islaam yg sebenarnya d TV RODJA... 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Tentu saja anda pas dengan TV-nya kaum Mujassimah ahli Bid'ah dhalalah itu, karena anda penganut Wahhabi pengagum dan pelaku Bid'ah Dhalalah. TV RODJA, BID'AHNYA KAUM WAHHABI yang telah dihukumi haram oleh Ustaimin, Muqbil dan Al-albani, ketiganya adalah tokoh sentral Wahhabi.

44.
Pengirim: Jazeri bin Samani  - Kota: Depok
Tanggal: 17/6/2013
 
Insya Alloh dakwah wahabi tidak sesat, tetapi melestarikan dakwah sunnah yg diajarkan oleh nabi, para sahabat dan ulama-ulama besar sebelumnya tanpa dicampur dengan paham filsafat, golongan dan paham yg menyimpang. Memang beberapa hal terkesan tidak sesuai dengan tradisi nenek moyang kita yg dulunya animisme dan beragama lain. Insya Alloh dakwah Islam yg benar akan bersambung dengan dakwah Imam Mahdi dan Isa bin Maryam di akhir zaman kelak. Allohumma Amiin, wa sholawatu wassalamu ala Nabi Muhammad wa ala alihi wa shohbihi wa sallim ajma'in ila yaumiddin. Amiin. Tidak perlu emosi dengan dakwah wahabi saudaraku semuanya. Teliti saja.  
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Agar umat Islam lebih mengenal Wahhabi, maka kami haturkan pemahanan Wahhabi yang kami nukil dari tulisan Salafytobat.com, semoga bermanfaat:

Bukti Kongkrit Akidah wahabi-salafi adalah Akidah Yahudi

Para pembaca sekalian, mungkin banyak yang tidak mengetahui apa dan bagaimana sebenarnya akidah wahabi-salafi, orang-orang awam pada umumnya hanya mengetahui bahwa akidah mereka menetapkan sifat-sifat Allah yang ada dalam al-Quran dan menghindari takwil karena takwil bagi mereka adalah perbuatan Yahudi.

Apalagi orang-orang yang telah menjadi doktrin mereka atau tertarik ajaran mereka sebab topeng yang mereka gunakan dengan slogan kembali pada Al-Quran dan Sunnah dan menjauhi segala bentuk kesyirikan, maka sudah pasti akan melihat ajaran dan akidah mereka murni ajaran tauhid yang suci. Usaha keras untuk memberantas segala bentuk kesyirikan yang ada dan telah merata di seluruh permukaan bumi ini.
Tapi tidak bagi kaum muslimin yang memiliki pondasi Tauhid Ahlus sunnah waljama’ah,
mereka akan mampu mengetahui dan melihat misi jahat yang diselipkan di belakang slogan itu. Seiring waktu berjalan, semakin terlihat, semakin terbongkar akidah wahabi-salafi yang sesungguhnya, semakin tercium dan tampak persamaan akidah wahabi-salafi dan Yahudi. Mereka secara lahir menampakkan pada kaum muslimin permusuhan pada Yahudi, tapi secara sembunyi berteman akrab dengan Yahudi.

Pada kali ini, saya akan bongkar untuk pembaca akidah wahabi-salafi yang sesungguhnya yaitu “ AKIDAH WAHABI-SALAFI ADALAH AKIDAH YAHUDI “. Tidak perlu saya mengambil sumber dari kitab-kitab para ulama ahlus sunnah yang menceritakan akidah wahabi. Jika saya nukil dari para ulama ahlu sunnah tentang perkataan tasybih dan tajsim mereka, maka mungkin mereka masih bisa menolak dan mengelak, mereka akan mengatakan itu fitnah dan tuduhan yang tak berdasar pada syaikh-syaikh kami, tapi saya akan tampilkan dengan bukti-bukti kuat akurat yang bersumber dari kitab-kitab karya ulama mereka sendiri yang sudah mereka cetak, terutama Ibnu Taimiyyah, Muhammad bin Abdul Wahhab, ad-Darimi (bukan ad-Darimi sunni pengarang kitab sunan), Albani, Ibnu Utsaimin dan yang lainnya, Yang tak akan mampu mereka bantah.

Saya hanya menampilkan bukti-bukti kongkrit ini semata-mata hanya untuk suadara-saudaraku yang telah terpengaruh dengan akidah wahabi. Dan petunjuk hanyalah dari Allah Swt.
Jika masih ada wahabi yang membantah bukti dan penjelasan nyata ini, maka ibarat orang yang berusaha menutupi cahaya matahari yang terang benderang di sinag hari dengan segenggam tangannya.

Akidah Yahudi :

Di dalam naskah kitab Taurat yang sudah dirubah yang merupakan asas akidah Yahudi yang mereka namakan “ SAFAR AL-MULUK “ Al-Ishah 22 nomer : 19-20 disebutkan :

و قال فاسمع إذاً كلام الرب قد رأيت الرب جالسا على كرسيه و كل جند السماء وقوف لديه عن يمينه و عن يساره

“ Dan berkata “ Dengarkanlah, ucapan Tuhan..aku telah melihat Tuhanku duduk di atas kursinya dan semua pasukan langit berdiri di hadapannya dari sebelah kanan dan kirinya “.
Dalam kitab mereka yang berjudul “ SAFAR AL-MAZAMIR “ Al-Ishah 47 nomer 8 disebutkan :

الله جلس على كرسي قدسه

“ Allah duduk di atas kursi qudusnya “.
Akidah wahabi-salafi :

Di dalam kitab andalan wahabi-salafi yaitu Majmu’ al-Fatawa Ibnu Taimiyyah al-Harrani imam wahabi juz 4 halaman 374 :

إن محمدا رسول الله يجلسه ربه على العرش معه

“ Sesungguhnya Muhammad Rasulullah didudukkan Allah di atas Arsy bersama Allah “.
Di dalam kitab “ Syarh Hadits an-Nuzul “ halaman 400 cetakan Dar al-‘Ashimah disebutkan bahwasanya Ibnu Taimiyyah berkata :

فما جاءت به الأثار عن النبى من لفظ القعود و الجلوس فى حق الله تعالى كحديث جعفر بن أبى طالب و
حديث عمر أولى أن لا يماثل صفات أجسام العباد

“ Semua hadits yang datang dari Nabi dengan lafadz qu’ud dan julus (duduk) bagi Allah seperti hadits Ja’far bin Abi Thalib dan hadits Umar, lebih utama untuk tidak disamakan dengan anggota tubuh manusia “.

Dalam halaman yang sama Ibnu Taimiyyah berkata :

إذا جلس تبارك و تعالى على الكرسي سمع له أطيط كأطيط الرحل الجديد

“ Jika Allah duduk di atas kursi, maka terdengarlah suara suara saat duduk sebagaimana suara penunggang bintang tunggangan karena beratnya ”
Kitab tersebut dicetak di Riyadh tahun 1993, penerbit Dar al-‘Ashimah yang dita’liq oleh Muhammad al-Khamis.

Di dalam kitab ad-Darimi (bukan ulama sunni al-Hafdiz ad-Darimi pengarang hadits sunan) halaman 73 disebutkan :

هبط الرب عن عرشه إلى كرسيه

“ Allah turun dari Arsy ke kursinya “
Kitab itu terbitan Dar al-Kutub al-Ilmiyyah yang dita’liq oleh Muhamamd Hamid al—Faqiy.
Kitab ad-Darimi (al-wahhabu) ini dipuji-puji oleh Ibnu Taimiyyah dan menganjurkannya untuk dipelajari, sebab inilah wahabi menjadi taqlid buta.
Tapi akidah mereka ini disembunyikan dan tidak pernah dipublikasikan ke khalayak umum.
Sekedar info : Lafadz duduk bagi Allah tidak pernah ada dalam al-Quran dan hadits.

Akidah Yahudi :

Di dalam naskah Taurat yang sudah ditahrif yang mereka namakan “ Safar at-Takwin Ishah pertama nomer : 26-28 disebutkan :

و قال الله نعمل الإنسان على صورتنا على شبهنا… فخلق الله الإنسان على صورته على صورة الله خلقه ذكرا و أنثى خلقهم

“ Allah berkata ; “ Kami buat manusia dengan bentuk dan serupa denganku…lalu Allah menciptakan manusia dengan bentuknya, dengan bentuk Allah, dia menciptakan laki-laki dan wanita “.

Akidah wahabi :

Di dalam kitab “ Aqidah ahlu Iman fii Khalqi Adam ‘ala shurati ar-Rahman “ karya Hamud bin Abdullah at-Tuajari syaikh wahabi, yang dicetak di Riyadh oleh penerbit Dar al-Liwa cetakan kedua, disebutkan dalam halama 16 :

قال ابن قتيبة: فرأيت في التوراة: إن الله لما خلق السماء و الأرض قال: نخلق بشرا بصورتنا

“ Berkata Ibnu Qathibah “ Lalu aku melihat di dalam Taurat : “ Sesungguhnya Allah ketika menciptakan langit dan bumi, Dia berkata : “ Kami ciptakan manusia dengan bentukku “.
Pada halaman berikutnya di halaman 17 disebutkan :

و في حديث ابن عباس: إن موسى لما ضرب الحجر لبني إسرائيل فتفجر و قال: اشربوا يا حمير فأوحى الله إليه: عمدت إلى خلق من خلقي خلقتهم على صورتي فتشبههم بالحمير ، فما برح حتى عوتب

“ Di dalam hadits Ibnu Abbas : “ Sesungguhnya Musa ketika memukul batu untuk Bani Israil lalu keluar air dan berkata : “ Minumlah wahai keledai, maka Allah mewahyukan pada Musa “ Engkau telah mencela satu makhluk dari makhlukku yang Aku telah ciptakan mereka dengan rupaku, lalu engkau samakan mereka dengan keledai “ Musa terus ditegor oleh Allah “.
Naudzu billah dari pendustaan pada Allah dan pada para nabi-Nya.

Akidah Yahudi :

Disebutkan dalam kitab Yahudi yang mereka namakan “ Safar Khuruj “ ishah 19 nomer : 3-6 :
فناداه الرب من الجبل … فالآن إن سمعتم لصوتي و حفظتم عهدي
“ Maka Tuhan memanggil kami dari bukit….sekarang jika kalian mendengar suaraku dan menjaga janjiku “.

Akidah wahabi :

Di dalam kitab “ Fatawa al-Aqidah “ karya Muhammad bin Shalih al-Utsaimin yang dicetak Maktabah as-Sunnah cetakan pertama tahun 1992 di Mesir, pada halaman 72 Ibnu Utsaimin berkata :

في هذا إثبات القول لله و أنه بحرف و صوت ، لأن أصل القول لا بد أن يكون بصوت فإذا أطلق القول
فلا بد أن يكون بصوت
“ Dalam hal ini dijelaskan adanya penetapan akan ucapan Allah Swt. Dan sesungguhnya ucapan Allah itu berupa huruf dan suara. Karena asli ucapan itu harus adanya suara. Maka jika dikatakan ucapan, maka sudah pasti ada suara “.

Akidah Yahudi :

Di dalam kitab taurat yang sudah ditahrif yang mereka namakan dengan “ SAFAR ISY’IYA “ Ishah 25 nomer 10, Yahudi berkata :
لأن يد الرب تستقر على هذا الجبل
“ Sesungguhnya tangan Tuhan istiqrar / menetap di gunung ini “
Akidah wahabi :

dalam kitab Fatawa al-Aqidah karya Muhammad bin Shalih al-Utsaimin yang diterbitkan oleh Maktabah as-Sunnah cetakan pertama halaman 90, al-Utsaimin berkata :
و على كل فإن يديه سبحانه اثنتان بلا شك ، و كل واحدة غير الأخرى ، و إذا وصفنا اليد الأخرى بالشمال فليس المراد أنها أنقص من اليد اليمنى
“ kesimpulannya, sesungguhnya kedua tangan Allah itu ada dua tanpa ragu lagi. Satu tangannya berlainan dari tangan satunya. Jika kita sifatkan tangan Allah dengan sebelah kiri, maka yang dimaksud bukanlah suatu hal yang kurang dari tangan kanannya “.

Akidah Yahudi :

Di dalam kitab Yahud “ Safar Mazamir “ Ishah 2 nomer : 4 disebutkan :
الساكن في السموات يضحك الرب
“ Yang tinggal di langit, Tuhan sedang tertawa “

Akidah wahabi :
Di dalam kitab “ Syarh Hadits an-Nuzul “ cetakan Dar al-’Ashimah halaman 182, Ibnu Taimiyyah berkata :

أن الله فوق السموات بذاته

“ Sesungguhnya Allah itu di atas langit dengan Dzatnya “
Di dalam kitab “ Qurrah Uyun al-Muwahhidin “ karya Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab (cicit Muhammad bin Abdul wahhab), cetakan Maktabah al-Muayyad tahun 1990 cetakan pertama, halaman 263 disebutkan :

أجمع المسلمون من أهل السنة على أن الله مستو على عرشه بذاته…استوى على عرشه بالحقيقة لا بالمجاز

“ Sepakat kaum muslimin dari Ahlus sunnah bahwa sesungguhnya Allah beristiwa di Arsy dengan dzat-Nya…Allah beristiwa di atas Arsy secara hakekat bukan majaz “.
Dan masih segudang lagi akidah-akidah wahabi-salafi yang meyakini Tuhannya dengan sifat-sifat makhluk-Nya sebagaimana akidah Yahudi.

Dan masih segudang lagi akidah-akidah wahabi-salafi yang meyakiniTuhannya dengan sifat-sifat makhluk-Nya sebagaimana akidah Yahudi. Dan jika saya beberkan semuanya, maka akan menjadi lembaran yang sangat banyak. Cukup yang singkat sedikit ini membuktikan bahwa akidah wahabi-salafi yang sesungguhnya adalah akidah Yahudi

45.
Pengirim: ahmad amin  - Kota: ende
Tanggal: 18/6/2013
 
wahabi dawah nya benar, kita aja yg taklit buta....ustadz mesti mau belajar lagi 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Karena ini situs kelasnya Situs Ilmiah, milik kaum Aswaja, maka komentar-komentar yang tidak ilmiah terpaksa sering tidak kami muat atau tidak kami tanggapi secara ilmiah. Seperti komentar Ahmad Amin ini.

46.
Pengirim: mahfud  - Kota: bekasi
Tanggal: 19/6/2013
 
Semoga Allah berikan hidayah bagi mereka yang belum mengenal sunnah yang sebenarnya, bagi mereka yang hanya sekedar taqlid. Tanpa harus berolok-olok dan berkata kasar walau didunia maya. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Benar, seperti kaum Wahhabi yang hanya bisa bertaqlid kepada Ibnu Taimiyah, Muhammad bin Abdul Wahhab, Nashiruddin Al-Albani, Bin Baz, Muqbil, dan cs-nya.

47.
Pengirim: harun  - Kota: jakarta
Tanggal: 20/6/2013
 
kata ane punya guru radio&tv rodja adalah radio&tv jahannam,, karena isinya neraka mulu,, amalan orang lain di kate sesat, dikate ahli neraka,, ane g benci ame salafi yg bener,, yg ane benci orang2 yg ngaku salafi, tp kerjaan nye bikin putus asa orang atas amalan nye, karena di kate bid'ah mulu,, maka nye pantes radio&tv rodja ganti nama jd radio& tv jahannam 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Kaum Wahhabi yang ciri khasnya MENUDUH BID'AH amalan-amalan sunnah umat Islam, ternyata dirinya sendiri adalah pelaku BID'AH, jadi tidak ada bedanya dengan pribahasa: IBARAT MALING TERIAK MALING. Kami bisa memastikan TIDAK ADA DALILNYA sama sekali tentang BOLEHNYA BERDAKWAH LEWAT TV RODJA. Jadi, dakwah Wahhabi lewat TV RODJA adalah Syariat Bikinan Kaum Wahhabi.

48.
Pengirim: lukman  - Kota: Balikpapan
Tanggal: 21/6/2013
 
Cabut hak siar rodja tv, bisa menyesatkan ummat islam. Bahaya bgi yg belajar sepotong2. Dikit2 jihad. Maklum ngajix sampai bab jihad ªjª . Gak yg lain. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Yaa begitulah tipe penganut sekte Wahhabiyah yang sangat tidak cocok dengan kultur bangsa Indonesia. Mereka ini kan dapat support dari pemerintah Saudi Arabiah, khususnya dari tokoh-tokoh Najed, jadi bukan murni Islam Indonesia yang Sunni Syafi'i.

49.
Pengirim: Achmad alQuthfby  - Kota: Probolinggo
Tanggal: 22/6/2013
 
Pengirim: Jazeri bin Samani - Kota: Depok
Tanggal: 17/6/2013 Insya Alloh dakwah wahabi tidak sesat, tetapi melestarikan dakwah sunnah yg diajarkan oleh nabi, para sahabat dan ulama-ulama besar sebelumnya tanpa dicampur dengan paham filsafat, golongan dan paham yg menyimpang. Memang beberapa hal terkesan tidak sesuai dengan tradisi nenek moyang kita yg dulunya animisme dan beragama lain. Insya Alloh dakwah Islam yg benar akan bersambung dengan dakwah Imam Mahdi dan Isa bin Maryam di akhir zaman kelak. Allohumma Amiin, wa sholawatu wassalamu ala Nabi Muhammad wa ala alihi wa shohbihi wa sallim ajma'in ila yaumiddin. Amiin. Tidak perlu emosi dengan dakwah wahabi saudaraku semuanya. Teliti saja.

- Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata:
“Aku pada waktu itu tidak mengerti makna la ilaha illallah dan tidak mengerti
agama Islam, sebelum kebaikan yang dianugerahkan oleh Allah. Demikian pula
guru-guruku, tidak seorang pun di antara mereka yang mengetahui hal tersebut.
Barangsiapa yang berasumsi di antara ulama Aridh (Riyadh) bahwa ia
mengetahui makna la ilaha illallah atau mengetahui makna Islam sebelum waktu
ini, atau berasumsi bahwa di antara guru-gurunya ada yang mengetahui hal
tersebut, berarti ia telah berdusta, mereka-reka (kebohongan), menipu manusia
dan memuji dirinya dengan sesuatu yang tidak dimilikinya.” (Ibn Ghannam,
Tarikh Najd hal. 310).

Dalam pernyataan di atas, jelas sekali Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
menyatakan bahwa sebelum ia menyebarkan faham Wahhabi, ia sendiri tidak
mengerti makna kalimat la ilaha illallah dan tidak mengerti agama Islam. Bahkan
tidak seorang pun dari guru-gurunya dan ulama manapun yang mengerti makna
kalimat la ilaaha illallah dan makna agama Islam. Pernyataan ini menunjukkan
bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengkafirkan guru-gurunya,
semua ulama dan mengkafirkan dirinya sebelum menyebarkan faham Wahhabi.
Pernyataan tersebut ditulis oleh muridnya sendiri, Syaikh Ibn Ghannam dalam
Tarikh Najd hal. 310.

Apakah ini yang anda maksud melestarikan dakwah sunnah yg diajarkan oleh nabi, para sahabat dan ulama-ulama besar sebelumnya tanpa dicampur dengan paham filsafat, golongan dan paham yg menyimpang???
Apakah ini dakwah Islam yg benar akan bersambung dengan dakwah Imam Mahdi dan Isa bin Maryam di akhir zaman kelak???

Silahkan anda teliti ajaran wahhab itu dengan cermat, tidak asal celoteh!




Pengirim: yudi - Kota: Drpok
Tanggal: 15/6/2013 Alhamdulillah setelah d larang nonton Tv rodja oleh ustadz Luthfi saya penasaran pingin liat eee ternyata dakhwahnya sangat bagus sesuai dngn Al-Quran dan hadist sekali lagi saya ucapkan trimakasih atas larangan utadz jadi saya menemukan islaam yg sebenarnya d TV RODJA

- Yang anda tonton itu mungkin ketika acara dakwah yg sifatnya universal. Perhatikan terus dan pasti anda akan menemukan tausyiah yg membid’ahkan amalan shahih yang digemari warga Nahdliyyin. Jika anda mau mendalami apa ajaran wahhabi itu, bacalah kitab2 primernya. Baca koment sy kepada Jazeri bin Samani - Kota: Depok


Pengirim: Ahmad - Kota: Gorontalo
Tanggal: 13/6/2013 Kenapa bukan tv2 dandut yg di cegah??
Malah tv yg mengajak org sholat berjamaah..
Aneh..

- Kalo TV Dangdut mah orang sudah pada tahu hukumnya jika menyaksikan acara2 pornoaksi tsb. Namun jika TV Rodja ini yang sangat berbahaya bagi masyarakat, karena kepalsuannya terselubung. Ibaratnya Racun Cap Madu. Oleh karenanya, TV Rodja sangat perlu diwaspadai.

Pengirim: shatina - Kota: palu
Tanggal: 11/6/2013 kita heran ya napa org ngkunya mazhab imam syafi' i tp kitab imam syafi i aja mrka gak kenal ato gak pernah baca kali... apa ygi imam syafi i lrng dlm permslhn tahlililan....?? tau gak...mk nya beljar dulu sblm memveto orng lain sesat..

- Sebutkan saja mana dalilnya Imam Syafii ketika mengharamkan tahlilan? Apanya yang dilarang?. Kaum wahhabi itu anti taqlid, lantas mengapa anda melakukan taqlid kepada Imam Syafii terhadap permasalahan tahlilan?

Pengirim: azmi - Kota: salatiga
Tanggal: 8/6/2013 Pak ustadz. Padahal kalo dilihat yang ditampilkan bagus lho. Kebetulan keluarga saya semua NU tapi bisa menerima apa yg disampaikan TV TV tersebut. Saya tanya ke temen2 Muhammadiyah katanya juga memang begitu yg betul. Saya masih cross cek lagi ke beberapa temen lain, di MTA, Dewan Dakwah, Persis, kok ya juga sama ya. Kalo saya sih mungkin kita saja yang Belum bisa menerima pendapat diluar kita. Saya kira tidak perlu kita menjelek jelekkan orang lain. Nanti di akhirat kan akan diperlihatkan kepada kita tentang apa yang diperselisihkan. Tinggal kita berdoa saja semoga pendapat kita benar. Menurut sata itu lebih baik

- kalo anda merasa orang NU dan meras berterima dg ajarab wahhabi yg dikembangkan di TV Rodja, maka anda NU yang tak faham akan ke-NU-an anda. berdirinya NU justru untuk membendung aliran wahhabi. Bacalah kitan pembesar2 wahhabi Saudi, mereka mengkafirkan golongan yang tidak sesuai dengan mreka. Jika leluhur anda seorang NU tentunya mereka akan bertahlil, dan itu berarti leluhur anda juga tak luput dari fatwa kafir oleh kaum wahhabi karena melakukan tahlilan.

 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Alhamdulillah, Akhi Ahmad Alquthfby kembali mengunjungi Situs kami dengan upaya PENYEGARAN ILMU untuk para pengunjung, khususnya untuk para Wahhabiyun seperti Sdr. Jazeri bin Samani.

50.
Pengirim: supriyadi noor  - Kota: samarinda
Tanggal: 22/6/2013
 
boleh tidak kita kumandangkan azan sebelum sholat eid ( iedul Fitri / Adha ). azan untuk memanggil orang sholat, atau sholat subuh kita lakukan 4 rakaat boleh tidak ( banyak rakaat kan baik ), karena di Quran tidak ada pentunjuk tentang melakukan / tata cara beribadah, petunjuk tata cara beribadah adanya dari sunnah Nabi,  
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Perlu diketahui, bahwa Islam itu mengambil sumber hukum dari 4 sumber: Alquran, Hadits, Ijma' dan Qiyas. Jadi tidak hanya melulu dari Alquran saja. Mudah2an ada manfaat untuk umat.

51.
Pengirim: Arden  - Kota: jakarta
Tanggal: 22/6/2013
 
Perbedaan dua "Wahabi"

Siapa itu wahabi..? Apakah anda mengenalnya, atau anda hanya terbawa doktrin kebencian karna fakirnya ilmu dan membenci kemurnian islam..

Bagaimanakah sejarah penamaan mereka??

Marilah kita simak dialog Ilmiah yang sangat menarik antara Syaikh Muhammad bin Sa’ad Asy Syuwai’ir dengan para masyaikh/dosen-dosen disuatu Universitas Islam di Maroko.
...
____________________________
Salah seorang Dosen itu berkata: ”Sungguh hati kami sangat mencintai Kerajaan Saudi Arabia, demikian pula dengan jiwa-jiwa dan hati-hati kaum muslimin sangat condong kepadanya, dimana setiap kaum muslimin sangat ingin pergi kesana, bahkan antara kami dengan kalian sangat dekat jaraknya. Namun sayang, kalian berada diatas suatu Madzhab, yang kalau kalian tinggalkan tentu akan lebih baik, yaitu Madzhab Wahabi.”

============================
Kemudian Asy Syaikh dengan tenangnya menjawab: ”Sungguh banyak pengetahuan yang keliru yang melekat dalam pikiran manusia, yang mana pengetahuan tersebut bukan diambil dari sumber-sumber yang terpercaya, dan mungkin kalian pun mendapat khabar-khabar yang tidak tepat dalam hal ini.

Baiklah, agar pemahaman kita bersatu, maka saya minta kepada kalian dalam diskusi ini agar mengeluarkan argumen-argumen yang diambil dari sumber-sumber yang terpercaya,dan saya rasa di Universitas ini terdapat Perpustakaan yang menyediakan kitab-kitab sejarah islam terpercaya .Dan juga hendaknya kita semaksimal mungkin untuk menjauhi sifat Fanatisme dan Emosional.”

____________________________
Dosen itu berkata : ”saya setuju denganmu, dan biarkanlah para Masyaikh yang ada dihadapan kita menjadi saksi dan hakim diantara kita.

============================
Asy Syaikh berkata : ”saya terima, Setelah bertawakal kepada Allah, saya persilahkan kepada anda untuk melontarkan masalah sebagai pembuka diskusi kita ini.”

____________________________
Dosen itu pun berkata :
”baiklah kita ambil satu contoh, ada sebuah fatwa yang menyatakan bahwa firqoh wahabi adalah Firqoh yang sesat. Disebutkan dalam kitab Al-Mi ’yar yang ditulis oleh Al Imam Al-Wansyarisi, beliau menyebutkan bahwa Al-Imam Al-Lakhmi pernah ditanya tentang suatu negeri yang disitu orang-orang Wahabiyyun membangun sebuah masjid,”Bolehkan kita Sholat di Masiid yang dibangun oleh orang-orang wahabi itu ?? ”maka Imam Al-Lakhmi pun menjawab: ”Firqoh Wahabiyyah adalah firqoh yang sesat, yang masjidnya wajib untuk dihancurkan, karena mereka telah menyelisihi kepada jalannya kaum mu ’minin, dan telah membuat bid’ah yang sesat dan wajib bagi kaum muslimin untuk mengusir mereka dari negeri-negeri kaum muslimin ”.

(wajib kita ketahui bahwa Imam Al-Wansyarisi dan Imam Al-Lakhmi adalah ulama ahlusunnah)

Dosen itu berkata lagi :”Saya rasa kita sudah sepakat akan hal ini, bahwa tindakan kalian adalah salah selama ini,”

============================
Kemudian Asy Syaikh menjawab : ”Tunggu dulu..!! kita belum sepakat, lagipula diskusi kita ini baru dimulai, dan perlu anda ketahui bahwasannya sangat banyak fatwa yang seperti ini yang dikeluarkan oleh para ulama sebelum dan sesudah Al-Lakhmi, untuk itu tolong anda sebutkan terlebih dahulu kitab yang menjadi rujukan kalian itu !”

____________________________
Dosen itu berkata: ”anda ingin saya membacakannya dari fatwanya saja, atau saya mulai dari sampulnya ??”

============================
Asy Syaikh menjawab:”dari sampul luarnya saja.”

____________________________
Dosen itu kemudian mengambil kitabnya dan membacakannya: ”Namanya adalah Kitab Al-Mi’yar,yang dikarang oleh Ahmad bin Muhammad Al-Wansyarisi. Wafat pada tahun 914 H di kota Fas, di Maroko.”

============================
Kemudian Asy Syaikh berkata kepada salah seorang penulis di sebelahnya:”wahai syaikh, tolong catat baik- baik, bahwa Imam Al-Wansyarisi wafat pada tahun 914 H. Kemudian bisakah anda menghadirkan biografi Imam Al- Lakhmi??”

____________________________
Dosen itu berkata:
”Ya,”kemudian dia berdiri menuju salah satu rak perpustakaan, lalu dia membawakan satu juz dari salah satu kitab-kitab yang mengumpulkan biografi ulama. Didalam kitab tersebut terdapat biografi Ali bin Muhammad Al-Lakhmi, seorang Mufti Andalusia dan Afrika Utara.

============================
Kemudian Asy Syaikh berkata : ”Kapan beliau wafat?”
Yang membaca kitab menjawab: ”beliau wafat pada tahun 478 H”

Asy Syaikh berkata kepada seorang penulis tadi: ”wahai syaikh tolong dicatat tahun wafatnya Syaikh Al-Lakhmi ” kemudian ditulis.

Lalu dengan tegasnya Asy Syaikh berkata : ”Wahai para masyaikh….!!! Saya ingin bertanya kepada antum semua …!!! Apakah mungkin ada ulama yang memfatwakan tentang kesesatan suatu kelompok yang belum datang (lahir) ???? kecuali kalau dapat wahyu????”

____________________________
Mereka semua menjawab :”Tentu tidak mungkin, Tolong perjelas lagi maksud anda !”

============================
Asy syaikh berkata lagi : ”bukankah wahabi yang kalian anggap sesat itu adalah dakwahnya yang dibawa dan dibangun oleh Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab????

____________________________
Mereka berkata : ”Siapa lagi???”

============================
Asy Syaikh berkata:”Coba tolong perhatikan..!!! Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab lahir pada tahun 1115 H dan wafat pada tahun 1206 H, …

Nah,ketika Al-Imam Al-Lakhmi berfatwa seperi itu, jauh RATUSAN TAHUN lamanya syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab belum lahir.. bahkan sampai 22 generasi keatas dari beliau sama belum yang lahir..apalagi berdakwah..

KAIF ??? GIMANA INI???

(Merekapun terdiam beberapa saat..)

____________________________
Kemudian mereka berkata:”Lalu sebenarnya siapa yang dimaksud Wahabi oleh Imam Al-Lakhmi tersebut ??” mohon dielaskan dengan dalil yang memuaskan, kami ingin mengetahui yang sebenarnya !”

============================
Asy Syaikh pun menjawab dengan tenang : ”Apakah anda memiliki kitab Al-Firaq Fii Syimal Afriqiya, yang ditulis oleh Al-Faradbil, seorang kebangsaan Francis ?”

____________________________
Dosen itu berkata:”Ya ini ada,”

============================
Asy Syaikh pun berkata :”Coba tolong buka di huruf “ wau” ..maka dibukalah huruf tersebut dan munculah sebuah judul yang tertulis “ Wahabiyyah”

Kemudian Asy Syaikh menyuruh kepada Dosen itu untuk membacakan tentang biografi firqoh wahabiyyah itu.

____________________________
Dosen itu pun membacakannya: ”Wahabi atau Wahabiyyah adalah sebuah sekte KHOWARIJ ABADHIYYAH yang dicetuskan oleh Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum Al-Khoriji Al- Abadhi, Orang ini telah banyak menghapus Syari’at Islam, dia menghapus kewajiban menunaikan ibadah haji dan telah terjadi peperangan antara dia dengan beberapa orang yang menentangnya. Dia wafat pada tahun 197 H di kota Thorat di Afrika Utara. Penulis mengatakan bahwa firqoh ini dinamai dengan nama pendirinya, dikarenakan memunculkan banyak perubahan dan dan keyakinan dalam madzhabnya. Mereka sangat membenci Ahlussunnah.

Setelah Dosen itu membacakan kitabnya

============================
Asy Syaikh berkata : ”Inilah Wahabi yang dimaksud oleh imam Al-Lakhmi, inilah wahabi yang telah memecah belah kaum muslimin dan merekalah yang difatwakan oleh para ulama Andalusia dan Afrika Utara sebagaimana yang telah kalian dapati sendiri dari kitab-kitab yang kalian miliki. Adapun Dakwah yang dibawa oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang didukung oleh Al-Imam Muhammad bin Su’ud-Rahimuhumallah-, maka dia bertentangan dengan amalan dakwah Khowarij, karena dakwah beliau ini tegak diatas kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih, dan beliau menjauhkan semua yang bertentangan dengan keduanya, mereka mendakwahkah tauhid, melarang berbuat syirik, mengajak umat kepada Sunnah dan menjauhinya kepada bid ’ah, dan ini merupakan Manhaj Dakwahnya para Nabi dan Rasul.

Syubhat yang tersebar dinegeri-negeri Islam ini dipropagandakan oleh musuh- musuh islam dan kaum muslimin dari kalangan penjajah dan selain mereka agar terjadi perpecahan dalam barisan kaum muslimin.

Sesungguhnya telah diketahui bahwa dulu para penjajah menguasai kebanyakan negeri-negeri islam pada waktu itu,dan saat itu adalah puncak dari kekuatan mereka. Dan mereka tahu betul kenyataan pada perang salib bahwa musuh utama mereka adalah kaum muslimin yang bebas dari noda yang pada waktu itu menamakan dirinya dengan Salafiyyah. Belakangan mereka mendapatkan sebuah pakaian siap pakai, maka mereka langsung menggunakan pakaian dakwah ini untuk membuat manusia lari darinya dan memecah belah diantara kaum muslimin, karena yang menjadi moto mereka adalah “PECAH BELAHLAH MEREKA, NISCAYA KAMU AKAN MEMIMPIN MEREKA ”

Sholahuddin Al-Ayubi tidaklah mengusir mereka keluar dari negeri Syam secara sempurna kecuali setelah berakhirnya daulah Fathimiyyah Al-Ubaidiyyin di Mesir, kemudian beliau (Sholahuddin mendatangkan para ulama ahlusunnah dari Syam lalu mengutus mereka ke negeri Mesir, sehingga berubahlah negeri mesir dari aqidah Syiah Bathiniyyah menuju kepada Aqidah Ahlusunnah yang terang dalam hal dalil, amalan dan keyakinan.

=========================================================================== =========
Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum wafat pada tahun 197 H
Syaikh Al-Lakhmi wafat pada tahun 478 H
Imam Al-Wansyarisi wafat pada tahun 914 H
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab lahir pada tahun 1115 H dan wafat pada tahun 1206 H
==========================

Via : Langkah menuju kebahagiaan 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Kopasan anda ini sudah sering dilontarkan oleh Kaum Wahhabi yang pura-pura mengaku sebagai Salafi.

Justru kami tidak membahas figur Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum yang wafat pada tahun 197 H. Tapi kami sedang mengupas kesesatan aqiadah Muhammad bin Abdul Wahhab lahir pada tahun 1115 H dan wafat pada tahun 1206 H, yang mana aqidahnya sangat berbeda dengan aqidah umat Islam dunia.

Bahkan Muhammad bin abdul Wahhab inilah yang kami juluki sebagai BAPAK WAHHABI DUNIA.

Coba simak apa saja yang dia katakan:


Misalnya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata:
“Aku pada waktu itu tidak mengerti makna la ilaha illallah dan tidak mengerti
agama Islam, sebelum kebaikan yang dianugerahkan oleh Allah. Demikian pula
guru-guruku, tidak seorang pun di antara mereka yang mengetahui hal tersebut.
Barangsiapa yang berasumsi di antara ulama Aridh (Riyadh) bahwa ia
mengetahui makna la ilaha illallah atau mengetahui makna Islam sebelum waktu
ini, atau berasumsi bahwa di antara guru-gurunya ada yang mengetahui hal
tersebut, berarti ia telah berdusta, mereka-reka (kebohongan), menipu manusia dan memuji dirinya dengan sesuatu yang tidak dimilikinya.” (Ibn Ghannam,
Tarikh Najd hal. 310).

Dalam pernyataan di atas, jelas sekali Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
menyatakan bahwa sebelum ia menyebarkan faham Wahhabi, ia sendiri tidak mengerti makna kalimat la ilaha illallah dan tidak mengerti agama Islam. Bahkan tidak seorang pun dari guru-gurunya dan ulama manapun yang mengerti makna kalimat la ilaaha illallah dan makna agama Islam. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengkafirkan guru-gurunya, semua ulama dan mengkafirkan dirinya sebelum menyebarkan faham Wahhabi.
Pernyataan tersebut ditulis oleh muridnya sendiri, Syaikh Ibn Ghannam dalamTarikh Najd hal. 310.

Dalam kitab Kasyf al-Syubuhat hal. 29-30, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
berkata: “Ketahuilah bahwa kesyirikan orang-orang dulu lebih ringan dari pada
kesyirikan orang-orang masa kita sekarang ini.” Maksudnya kaum Muslimin di luar golongannya itu telah syirik semua. Kesyirikan mereka melebihi kesyirikan orang-orang Jahiliyah. Sebagaimana ia tulis dalam kitab Kasyf al-Syubuhat, kitab pendiri Wahhabi yang paling ekstrem dan paling keras dalam mengkafirkan seluruh kaum Muslimin selain golongannya.

Dalam kitab al-Durar al-Saniyyah fi al-Ajwibat al-Najdiyyah, kumpulan fatwafatwa ulama Wahhabi sejak masa pendirinya, yang di-tahqiq oleh Syaikh
Abdurrahman bin Muhammad bin Qasim, ulama Wahhabi kontemporer, ada
pernyataan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, bahwa ilmu fiqih dan kitab-kitab
fiqih madzhab empat yang diajarkan oleh para ulama adalah ilmu syirik, sedangkan para ulama yang menyusunnya adalah syetan-syetan manusia dan jin. (Al-Durar al-Saniyyah, juz 3 hal. 56).

Pernyataan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab ini berarti pembatalan dan pengkafiran terhadap kaum Muslimin
yang mengikuti madzhab fiqih yang empat.
Dalam berbagai kitab dan risalahnya, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
selalu menyebutkan kalimat-kalimat yang ditujukan kepada orang-orang musyrik.
Namun ia tidak pernah menyebut seorang pun nama orang musyrik yang
menjadi lawan polemiknya dalam kitab-kitab dan tulisannya. Justru yang ia
sebutkan adalah nama-nama para ulama terkemuka pada waktu itu seperti
Syaikh Ibn Fairuz, Marbad al-Tamimi, Ibn Suhaim, Syaikh Sulaiman dan ulama-ulama
lainnya. Maksudnya, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengkafirkan
seluruh ulama pada waktu itu yang tidak mengikuti ajarannya. Bahkan secara
terang-terangan, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menyebutkan dalam
kitab Kasyf al-Syubuhat, bahwa kaum Muslimin pada waktu itu telah memilih
mengikuti agamanya Amr bin Luhay al-Khuza’i, orang yang pertama kali
mengajak orang-orang Arab memuja berhala.

Pengkafiran terhadap kaum Muslimin terus dilakukan oleh ulama Wahhabi
dewasa ini. Dalam kitab Kaifa Nafhamu al-Tauhid, karangan Muhammad bin
Ahmad Basyamil, disebutkan:
“Aneh dan ganjil, ternyata Abu Jahal dan Abu Lahab lebih banyak tauhidnya
kepada Allah dan lebih murni imannya kepada-Nya dari pada kaum Muslimin
yang bertawassul dengan para wali dan orang-orang saleh dan memohon
pertolongan dengan perantara mereka kepada Allah. Ternyata Abu Jahal dan
Abu Lahab lebih banyak tauhidnya dan lebih tulus imannya dari mereka kaum
Muslimin yang mengucapkan tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad Rasul
Allah.” (Muhammad bin Ahmad Basyamil, Kaifa Nafhamu al-Tauhid, hal. 16).

Dalam pernyataan tersebut, Basyamil menganggap bahwa kaum Muslimin selain
Wahhabi, lebih syirik dari pada Abu Jahal dan Abu Lahab. Kitab karya Basyamil
ini dibagi-bagikan secara gratis oleh tokoh-tokoh Wahhabi kepada siapapun
yang berminat.

Wahhabi itu hanya istilah yang sematkan oleh kalangan non wahabi terhadap orang yang anti tahlil, maulid, dll.. Bebas saja orang memberikan istilah terhadap suatu golongan. Karena yang gencar menyebarkan faham anti tahlil, maulid, dll tsb adalah Abdullah Ibn Abdul Wahhab maka mayoritas Ulama Ahlussunnah menamakannya sbg Wahabi. Dan org-org yg pndptnya sama dg anti tahlil, maulid, dll maka yang diistilahkan sbg wahabi agar mudah masyakarat modern dalam memahaminya.

52.
Pengirim: suheri  - Kota: jakarta
Tanggal: 22/6/2013
 
wahhabi 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Ya, ajarannya kontradiksi.

53.
Pengirim: muhammad Al idsa  - Kota: Banda Aceh
Tanggal: 26/6/2013
 
jika larangan ditujukan untuk tidak menonton tazkiyah,rodja tv, insan tv,wesal tv, yufid tv saya kurang setuju.. karena apa yang ditayangkan di tv tersebut lebih bermanfaat daripada TV pada umumnya di indonesia dengan politik, film, iklan, dll yang tidak bernuansa islami.kenapa kita tidak bisa menerima kelompok mereka lebih baik dalam menyebarkan pemahaman ke-islaman mereka yang menyatakan dirinya ahlussunnah walaupun sedikit berbeda dengan pemahaman pasantren atau NU. Saya juga sering membaca tentang pemikiran wahabi dan situs2 salafytobat serta sebuah forum yang mewakili 4 juta bangsa Aceh membenci Wahabi . Saya memang tidak meneliti secara ilmiah dan mendalami tentang wahabi seperti yang ustadz lakukan.. tetapi ketika bersahabat dengan mereka orang-orang yang digelari wahabi dll, ketika melihat keyakinan dan tauhidnya kita hampir sama, bahkan pendapat-pendapatnya menurut pendapat imam mazhab yang empat dan..mungkin mereka bukanlah para tokoh pemuka besar, yang telah ustaz kaji dalam kitab2 mereka. Apa yang ditayangkan di tv-tv yang saya sebutkan diatas, itu sungguh bagus dan bisa menjadi perbandingan dengan ilmu yang diajarkan dipasantren..dengan kita menontonnya maka kita bisa mengkritisinya, saya tidak melihat ditampilkannya perdebatan yang membawa kepada kesesatan atau kekafiran mungkin memang dakwah yang bersifat umum… ketika misalnya dijelaskan tentang isbal,berdoa setelah shalat,tahlil,maulid,tawasul dll dari situlah pasantren memberikan dalil-dalil dan ulama yang membolehkan kita dalam mengamalkannya.. tidaklah menyembunyikan perbedaan pendapat para ulama… saya berterimakasih atas tulisan2 ustadz..bukanlah menolak sinar matahari di siang hari tetapi ketika melihat realita tokoh2 dan pemuka besar kita yang cinta dunia; walaupun tidak adil dalam menilai secara keseluruhan dapat kita lihat dunia multimedia kita atau entertainment dan kepemimpinan di Indonesia.. hanya tinggal beberapa saja para ulama dikalangan pasantren yang zuhud dan diberikan karamah serta hikmah oleh Allah SWT.. sudah sepatutnya kita tidak egois dalam melihat perbedaan dalam ilmu kecuali hal-hal yang merusak keimanan atau tauhid seperti yang ustasdz sampaikan..saya rasa penonton dan masyarakat dengan system informasi yang sudah serba modern dengan banyaknya smartphone dan menjamurnya system digital seperti 2013 ini lebih cerdik dalam menerima berbagai referensi dalam mendengar,melihat dan membaca sebuah pemahaman.. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Situs ini kami beri nama NU GARIS LURUS. Jadi warga NU yang berhaluan lurus, yang aqidahnya tidak ingin bercampurbaur dg aqidah Wahhabiah, Syiah dan JIL, mereka berhak tahu dan berhak mendapat info yang sebenarnya, khususnya tentang hakikat aqidah Wahhabi, Syiah dan JIL. Untuk itu kami berusaha memberi penerangan kepada mereka yang membutuhkan, seperti keterangan-keterangan kami.

54.
Pengirim: ade indra  - Kota: sukabumi
Tanggal: 28/6/2013
 
awalnya saya hanya googling tentang siapa pemilik rodja tv. soalnya saya heran tentang dakwah dakwah dari rodja yg seakan akan aneh, apa2 haram, apa2 sesat. kebetulan pas googling keluar pertama itu situs pa ustadz. saya sekarang mengerti apa itu wahabi, salafi, dll. maklum pak ustadz saya masih SMA jadi mesti banyak belajar. kalo boleh, saya minta referensi artikel2 tentang pembahasan yg seperti ini. mudah2an ilmu yg saya dapat di situs ini bisa saya sebarkan minimal ke keluarga saya, umumnya temen2 saya pak ustadz. terimakasih  
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Akhi klik di Situs pejuangislam.com ini pada kolom: KARYA TULIS PEJUANG, trus klik pada Kategori: TERIAKAN PEJUANG, maka akhi akan dapati banyak artikel kami tentang Aliran2 sesat.

55.
Pengirim: Ilyas.  - Kota: Jakarta
Tanggal: 2/7/2013
 
Bismillah
Yang mencela ustadz Firanda, beliau bukan tidak mau berjenggot, qodarulloh tidak tumbuh.
Yang mencela wahhabi, apa sih arti wahhabi?siapakah Muhammad bin Abdul Wahhab?
Semoga jawaban antum menjawab fitnah antum semua.
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Muhammad bin Abdul Wahhab adalah pencetus paham Wahhabi yang sudah sering kami terangkan di artikel-artikel kami dan komentarnya, silahkan rajin mencarinya, jangan mengulang2i pertanyaan yang serupa.

56.
Pengirim: ardi  - Kota: sleman
Tanggal: 2/7/2013
 
Assalamu'alaikum. saya awam. jika semua yang anti tahlilan wahabi berarti muhammadiyah, persis, pks, itu wahabi ya ustadz? soalnya mereka tidak mau tahlilan di kampung saya, bahkan masjid muhammadiyah tdk mengadakan yasinan..lantas apakah sholat saya di masjid muhammadiyah sah? dan saya cari masjid lain yang lebih jauh,.. karena saya baca komentar di sini wahabi harus dihancurkan.  
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Kami sedang membahas TV RODJA yang didirikan oleh kelompok Wahhabi pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab yang aqidahnya Mujassimah sesat itu, yang mana mereka secara terang-terangan sering menuduh SESAT kepada para pengamal Tahlilan (warga NU) serta amalan-amalan NU lainnya.

Bagi kami Tahlilan adalah sunnah, bukan wajib, jadi yang tidak mau Tahlilan maka No Problem bagi kami, tapi kalau ada yang berani menuduh Tahlilan itu sesat dan pengamalnya diancam masuk Neraka, maka akan kami lawan dengan berbagai macam cara yang dibenarkan dalam Islam.

57.
Pengirim: ardi  - Kota: sleman
Tanggal: 2/7/2013
 
assalamu'alaikum. ustadz jika aswaja hanya NU saja maka bagaimana dengan Muhammadiyah? soalnya saya pernah bekerja dengan sd muhammadiyah? apakah gaji saya haram? lantas Persis itu siapa? DDII? Jamaah tabligh? Tarbiyah? FPI? Hidayatullah? semua nya membuat saya bingung?  
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Kami sedang melawan kaum Wahhabi, kami tidak sedang membahas ormas-ormas yang akhi tanyakan.

Alhamdulillah, HB, Rizieq adalah sahabat kami. Bahkan kami punya kawan dari ormas Muhammadiyah, Hidayatullah, DDII, Al-irsyad, PKS, dll.

Tapi secara tegas, kami menolak keberadaan Wahhabi, Syiah dan JIL.

58.
Pengirim: andi  - Kota: pekalongan
Tanggal: 3/7/2013
 
Assalamu'alaikum wr.wb
Dengan hormat kpda bpak pengurus stasiun TV Rodja.
Saya selaku orang NU merasa tidak
nyaman akan kehadiran nya tv dan radio milik anda kami minta tolong TUTUP TV dan Radio anda.
Karna bisa menjadikan permusuhan antara kami orang NU dan Golongan anda.
Sebelumnya saya mengucapkan banyak terima kasih atas pengertian nya.
Syukro..

 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Akhi Andi, surat terbuka sampean pasti dibaca oleh kaum Wahhabi. Terima kasih atas dukungannya.

59.
Pengirim: sani Fauzi  - Kota: Tasikmalaya
Tanggal: 5/7/2013
 
pada saat pertama saya lihat Rodja Tv, wesal tv, insan tv,, saya tidak tau kalo itu wahabi.. karena dalam setiap ceramahnya ada yang mengutip perkataan imam maliki, imam syafi'i, dan imam hambali.. tapi belum pernah denger ngutip dari perkataan imam hanafi.. hehe lupa kali kalo imam mujtahid ahlussunnah waljama'ah ada 4.. hehe. tapi setelah saya dengar dari salah satu ustadznya bahwa ayat-ayat yang mutasyabihat itu tidak boleh dita'wil harus di artikn dengan terjemahan seadanya.. langsung kaget.. wih, ini mh wahabi.. ane pikir ini Aswaja, soalnya bawa-bawa nama imam-imam kita, termasuk imam ghozaly, imam nawawi,, padahal setau saya wahabi itu tidak suka terhadap imam-imam kita.. aneh bukan?! he. sampai saat ini saya & keluarga saya masih sering liat acara2 d rodja tv,, karena ingin tau ulama-ulama wahabi itu siapa saja, ajaran-ajarannya apa saja, bukan untuk mengikutinya tapi untuk tahu sampai mana keilmuannya dan bagaimana cara menghindarinya. Alhamdulillah dan insya Alloh sampai saya meninggal, saya dan keluarga saya tetap memegang teguh Ahlusunnah wal jama'ah madzhab Syafi'iyah dan Asy'ariyah Maturidiyah. keluarga kami keturunan kiai,, dan saya pernah menjadi Mufassir pesantren yang didirikan oleh Mama ( UWA ) Ajengan KH. Khoer Affandi yaitu Ma'had Miftahul Huda Manonjaya untuk bidang ilmu Ushuluddin.. saya yakin dengan dengan keyakinan saya karena mengandung dalil ijmali dan dalil tafsili, yang bisa meruntuhkan aqidah yang bathil. insya Alloh. pidu'an we.. hehe 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Karena itu kami iklankan lewat media ini bahwa: TV RODJA, BID'AHNYA KAUM WAHHABI. Tentu pemilihan judul ini telah kami pikirkan matang-matang, agar siapapun yang membacanya akan brrpikir dengan bersih dan dapat mengambil manfaat. Semoga...!

60.
Pengirim: Abdulsaniman@gmail.com  - Kota: SAMBAS
Tanggal: 7/7/2013
 
Dakwah nabi dari rumah ke rumah untuk mengajak umat taat kpd allah 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Benar. Jadi TV Rodja tidak mengikuti tata cara Nabi SAW secara persis/tepat. Maka pantaslah jika dikatakan TV Rodja, Bid'ahnya kaum Wahhabi.

61.
Pengirim: wan muhammad  - Kota: semarang
Tanggal: 7/7/2013
 
Bagus informasinya. Tapi alangkahkah lebih elegan dan lebih baik jika sekalian saja kita kaum ahlusunnah wal jamaah, juga memberikan kontribusi dengan membat stasiun penyiaran yang jauh lebih baik untuk memberikan memberikan pemahaman beragama dan beraqidah yang benar.
Sekian dan mohon tanggapannya 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Permasalahan utama adalah, Kaum Wahhabi dapat suprort dana besar dari Negara Kaya Minyak, Saudi Arabiah. Syiah dapat support dana besar dari Negara Kaya Uranium, Iran. Sedangkan Ahlus sunnah tidak ada Negara Kaya yang mensupport dana untuk kepentingan dakwah Aswaja. Bahkan berdiri dan berkembangnya Situs Pejuang Islam inipun dengan dana penulis pribadi.

62.
Pengirim: mashuri  - Kota: sarolangun jambi
Tanggal: 8/7/2013
 
Skrg tv rodja banyak dijadikan rujukan kawula muda yg tdk tahu alirannya wahabbi, mk pemerintah hrs ikut membredelnya. Jgn dibiarkan berkdmbang tv rodja. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Sepakat, semoga telinga Pak Pemerintah mendengarkan curhat akhi ini...!

63.
Pengirim: abi ammar  - Kota: pontianak
Tanggal: 11/7/2013
 
Assalamulaikum, kalo para Ulama Wahabi ini tidak sependapat soal dakwah televisi berati mereka (wahabi) bisa dihukumi plin-plan ya Ustad? trus kalau Ustad NU seperti Anda menghukumi Syi'ah sesat sedangkan Ketum NU blg tidak sesat jdnya bole ngga dihukumi plin-plan? link : http://www.majulah-ijabi.org/16/post/2012/10/said-aqil-siradj-syiah-tidak-sesat.html 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Yaa sangat bisa doong ... kalau Said Agil Siraj si Penjual Agama itu didapuk menjadi BAPAK PLIN-PLAN INDONESIA, karena tokoh Liberal yang satu ini, kerjanya hanya mencari-cari dimana ada dana dan fasilitas yang menguntungkan, maka di situ pula dia bela mati-matian, termasuk membela kesesatan Syiah.

Dia kan aliran Bengkok, bukan Lurus. Coba baca artikel kami di situs ini, sebagai berikut:

SAID AGIL SIROJ, ADALAH PEJUANG HINDU BUDHA KRISTEN KONGHUCU

Judul di atas disimpulkan dari judul KEBHINNEKAAN DAN PLURALISME bab 13 buku TASAWAUF SEBAGAI KRITIK SOSIAL karangan Said Aqil Siroj, tebitan Mizan, September 2006. Said mengatakan : Meski berasal dari bahasa Sansekerta yang dikatakan identik dengan ajaran Hindu/Budha, sebetulnya semboyan Bhinneka Tunggal Ika sangat relevan pula dengan ajaran- ajaran agama besar sesudahnya.

Dalam agama Islam misalnya, secara tegas Allah berfirman (artinya) : Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS. Al-Hujurat 13).

Said melanjutkan : Selanjutnya kemajmukan manusia tersebut dipungkasi pula dengan ayat yang sama, `Sesungguhnya orang yan paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang bertaqwa di antara kamu (paling taat dan patuh kepada-Nya)`. Esensi firman Tuhan tersebut berlaku bagi semua agama di dunia, terutama agama monoteis (Yahudi, Kristen, dan Islam).

Kristen Protestan, Katolik, Islam, Hindu, Budha Konghucu, ataupun agama-agama lainnya, hakikatnya SAMA, yakni mengakui adanya Zat yang menciptakan dunia dan isinya. Zat inilah yang wajib disembah dan ditaati oleh semua orang tanpa pandang bulu sehingga kualitas ketaatan seorang manusia berada da atas ras, golongan, status sosial, warna kulit, serta perbedaan- perbedaan lahiriah lainnya. (halaman 279-280).

Cuplikan di atas memberikan pemahaman, bahwa menurut Said, seorang penganut Hindu yang menyembah Dewa Wisnu, asalkan taat kepada Dewa Wisnu sekalipun mengingkari ketuhanan Allah dan kerasulan Nabi Muammad SAW adalah sangat mulia di sisi Tuhan.

Demikian juga penganut agama Budha yang taat kepada Sidharta Gautama dan mengingkari ketuhanan Allah serta kerasulan Nabi Muhammad SAW, atau penganut Kristen Katolik/Protestan yang mengingkari kerasulan Nabi Muhammad SAW, apalagi menyakini adanya tiga tuhan (Trinitas): Tuhan Bapak, Tuhan Anak, Tuhan Roh Qudus (Bunda Maria), menurut Said, asalkan mereka taat memegangi ajaran agamanya masing-masing serta taat beribadah menyembah tuhannya masing- masing, maka menjadi mulia di sisi Allah sesuai dengan ayat Alquran di atas.

Pembelokan pemahaman ayat Alquran yang dilakukan oleh Said ini, umum diistilahkan oleh para ulama sebagai perilaku `Kalimatu haqqin uriida bihal baathil` = menggunakan kalimat yang haq (ayat Alquran) untuk kebatilan (memperjuangkan kemuliaan penganut Hindu, Budha, Kristen, Konghucu dan agama-agama non Islam lainnya).

Di sisi lain, memberi makna bahwa Said Aqil Siraj mengingkari ayat Innad diina `indallahil islaam (Sesungguhnya satu-satunya agama yang (aqidah dan syariatnya) BENAR di sisi Allah, hanyalah agama Islam).

Sedangkan kaum Wahhabi Plin-plannya seragam, inkonsisten dengan keyakinannya sendiri.

64.
Pengirim: novan nurhidayat  - Kota: banyuwangi
Tanggal: 17/7/2013
 
kyai, apa g kepikiran membuat tv dalam berdakwah, untuk membentengi generasi muda kita dari gencarnya syiar aliran sesat. kami di banyuwangi, daerah tapalkuda basis aswaja pasti akan mendukung baik materi dan doa. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Dulu aktifis muslim di Malang pernah merintis TV Syiar. Bahkan ada donatur dana hingga 900 juta, ternyata dana itu masih kurang banyak dan tujuan utama tidak terpenuhi.

65.
Pengirim: jeffrey  - Kota: medan
Tanggal: 20/7/2013
 
apa dalil anda menambahkan kata " sayyidina " bershalawat untuk Rasulullah SAW. dan 3 atau 7, 40, 100, 1000 hari tahillan untuk orang meninggal ???? 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
1. Lantas, apa dalil anda dari Alquran maupun Hadits shahih, kok berani-beraninya anda melarang umat Islam yang ingin menghormati Sayyidina Muhammad SAW dengan menambah lafadz Sayyidina saat bershalawat?

2. Wah, rupanya literatur anda masih minim sekali, karena menyodorkan pertanyaan kuno ini. Nah, berikut ini secuplik jawaban, dan untuk selanjutnya anda yang rajin baca artikel-artikel kami, dan jangan malas-malas agar naik kelas, dan keilmuan anda sedikit bisa terbuka:

TAHLILI SAJA MAYITMU SAMPAI 7 HARI, NO PROBLEM !

Jika ada di antara umat Islam, yang benar-benar penganut Ahlus sunnah wal jamaah, tengah mendapatkan musibah ditinggal wafat oleh anggota keluarganya, maka hendaklah handai taulan mayit itu mengamalkan ajaran para Shahabat Nabi SAW dan para Tabi’in, yaitu mentahlili mayitnya itu selama 7 hari.

Adapun salah satu ajaran para Shahabat dan para Tabi’in itu telah diriwayatkan oleh Imam Suyuthi Rahimahullah dalam kitab Al-Hawi li al-Fatawi-nya, beliau mengatakan bahwa Imam Thawus Attabi’i berkata: “Sungguh orang-orang yang telah meninggal dunia itu difitnah (diuji) dalam kuburannya selama 7 hari, karena itu mereka (para shahabat Nabi SAW) menganjurkan (bersedekah) memberi makanan atas nama para mayit itu pada hari-hari tersebut “.

Dalam riwayat lain disebutkan: Dari Ubaid bin Umair beliau berkata: “Dua orang yakni seorang mukmin dan seorang munafiq memperoleh fitnah kubur. Adapun seorang mukmin maka ia difitnah (diuji) selama tujuh hari, sedangkan seorang munafiq disiksa selama empat puluh hari“. Menurut Imam Suyuthi, para perawinya adalah shahih. (al-Hawi) li al-Fatawi, juz III hlm. 266-273, Imam As-Suyuthi).

Adapun, sebagaimana dimaklumi oleh umat Islam, bahwa sedekah itu sendiri dalam pandangan syariat adalah bervariatif, sebagaimana disebut dalam sabda Nabi SAW:

“Bukankah Allah telah menjadikan untuk kalian sesuatu yang kalian bisa sedekahkan? Sesungguhnya setiap ucapan tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap ucapan tahlil adalah sedekah, amar ma’ruf adalah sedekah, nahi munkar adalah sedekah, dan pada kemaluan kalian juga terdapat sedekah.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah orang yang mendatangi syahwatnya di antara kami juga akan mendapatkan pahala?” Beliau menjawab, “Bagaimana menurut kalian jika dia menyalurkan syahwatnya pada sesuatu yang haram, apakah dia akan mendapat dosa? Maka demikian pula jika dia menyalurkannya pada sesuatu yang halal, dia pun akan mendapatkan pahala.” (HR. Muslim)

Dari Abu Hurairah RA beliau berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Setiap anggota tubuh manusia wajib disedekahi, setiap hari dimana matahari terbit lalu engkau berlaku adil terhadap dua orang (yang bertikai) adalah sedekah, engkau menolong seseorang yang berkendaraan lalu engkau bantu dia untuk naik kendaraanya atau mengangkatkan barangnya adalah sedekah, ucapan yang baik adalah sedekah, setiap langkah ketika engkau berjalan menuju shalat adalah sedekah dan menghilangkan gangguan dari jalan adalah sedekah”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Adapun dalam kegiatan tahlilan itu sendiri mencakup pembacaan surat Yasin seperti yang diperintahkan oleh Nabi SAW: Bacakanlah surat Yasin untuk mayit kalian. (HR. Abu Dawud).

Kemudian membaca kalimat thayyibah seperti: Tahlil, Takbir, Tahmid, Hasbana, Hauqala, Istighfar, Shalawat Nabi, serta doa-doa untuk kebaikan mayit, Semua amalan ini termasuk dalam kategori sedekah yang dianjurkan oleh Nabi SAW sebagai ibadah sunnah.

Belum lagi, keluarga yang ketempatan dalam kegiatan tahlilan rutin di kampung-kampung, atau para tetangga dari keluarga yang terkena musibah, umumnya ikut mengeluarkan sedekah berupa suguhan bagi para pelayat, yang mana amalan ini juga termasuk sunnah bagi umat Islam.

Jadi menentukan tahlilan untuk mayit dalam keadaan apapun, serta dalam waktu kapanpun, khususnya memilih waktu pada hari ke 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 itu bukanlah tradisi Hindu seperti yang dituduhkan oleh kaum Wahhabi, namun telah dicontohkan dan diamalkan oleh para Shahabat dan para Tabi’in sebagaimana tersebut di atas.

66.
Pengirim: jeffrey  - Kota: medan
Tanggal: 20/7/2013
 
jelas anda menentang al-albani, karena di bukunya sifat solat nabi mengatakan rasulullah menbaca surat al-fatihah dengan memutus bacaan ayat demi ayat, sedangkan anda solat terawihnya menyambung ayat tersebut dan sujud rukuknya seperti burung pelatuk (sangat cepat) dan witirnya 2 rakaat 1 salam tambah 1 rakaat 1 salam, sedangkan yang artinya witir itu kan GANJIL ????? 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Benar, kami SANGAT MENENTANG Al-Albani tokoh Wahhabi yang anda bangga-banggakan itu ! Karena Al-Albani dengan kedangkalan ilmunya berani menyalahkan dan mengkafirkan Imam Bukhari, lihat tulisan al Albani ini, dalam kitab karyanya; al Fatawa, hlm. 523, ia berkata:
Siapa yang mentakwil firman Allah “Kullu Sya’in Halikun Illa Wajhahu” maka takwilnya adalah sesuatu yang tidak akan dikatakan oleh seorang muslim”.

Padahal Imam al Bukhari telah mentakwil ayat tersebut, beliau mengatakan “Illa wajhahu” artinya “Illa Mulkahu”. Dengan demikian makna ayat tersebut “Segala sesuatu akan punah kecali kekuasaan /kerajaan Allah”. lihat Shahih al Bukhari dalam tafsir surat al Qasas.

Ini berarti sama saja Al-Albani mengkafirkan Imam al Bukhari.

Anda lihat kembali al Albani berkata:

Siapa yang mentakwil firman Allah “Kullu Sya’in Halikun Illa Wajhahu” maka takwilnya adalah sesuatu yang tidak akan dikatakan oleh seorang muslim. > (alias takwilan orang kafir)

67.
Pengirim: Rudi rahman  - Kota: jambi
Tanggal: 20/7/2013
 
weih ternyata segitunya yah kaum wahabi mau meracuni pikiran orang awam., saya pun hampir terkecoh dengn acara2 yang slalu ceramah dan mengeluarkan hadist2 mereka... 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Semoga umat Islam Indonesia tetap Sunni Syafi'i dan tidak berubah haluan.

68.
Pengirim: jeffrey  - Kota: medan
Tanggal: 21/7/2013
 
anda yang men-ada adakan / menambahkan kata "sayydina" . sementara sabda Rasulullah SAW: apabila salah seorang antara kamu membaca tasyawud dalam bershalawat hendaklah ia membaca " Allahumma salli 'ala muhammad " dan seterusnya. (HR. MUSLIM DAN BUKHARI). atau yang lain HR. Ibnu Khuzaimah, Daruqutni, Ibnu Hibban/ riwayat baihaqi dan hakim. jadi kalau mengikuti apa yang anda pahami berarti saya tidak mengikuti ajaran nabi. pilih sunnah nabi atau bid'ah anda????? 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Menambah kata "Sayyid" sebelum menyebut nama Nabi Muhammad adalah perkara yang dibolehkan di dalam syari’at. Karena pada kenyataannya Rasulullah adalah seorang Sayyid, bahkan beliau adalah Sayyid al-‘Alamin, penghulu dan pimpinan seluruh makhluk. Salah seorang ulama bahasa terkemuka, ar-Raghib al-Ashbahani dalam kitab Mufradat Alfazh al-Qur’an, menuliskan bahwa di antara makna “Sayyid” adalah seorang pemimpin, seorang yang membawahi perkumpulan satu kaum yang dihormati dan dimuliakan (Mu’jam Mufradat Alfazh al-Qur’an, h. 254).
Dalam al-Qur’an, Allah menyebut Nabi Yahya dengan kata “Sayyid”:

وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ (ءال عمران: 39)

“... menjadi sayyid (pemimpin) dan ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang nabi termasuk keturunan orang-orang saleh”. (QS. Ali ‘Imran: 39)

Nabi Muhammad jauh lebih mulia dari pada Nabi Yahya, karena beliau adalah pimpinan seluruh para nabi dan rasul. Dengan demikian mengatakan “Sayyid” bagi Nabi Muhammad tidak hanya boleh, tapi sudah selayaknya, karena beliau lebih berhak untuk itu. Bahkan dalam sebuah hadits, Rasulullah sendiri menyebutkan bahwa dirinya adalah seorang “Sayyid”. Beliau bersabda:

أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ ءَادَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ فَخْرَ (رواه الترمذي)
“Saya adalah (sayyid) penghulu manusia di hari kiamat”. (HR. at-Tirmidzi)

Dengan demikian di dalam membaca shalawat boleh bagi kita mengucapkan “Allahumma Shalli ‘Ala Sayyidina Muhammad”, meskipun tidak ada pada lafazh-lafazh shalawat yang diajarkan oleh Nabi (ash-Shalawat al Ma'tsurah) dengan penambahan kata “Sayyid”. Karena menyusun dzikir tertentu yang tidak ma'tsur boleh selama tidak bertentangan dengan yang ma'tsur.
Sahabat ‘Umar ibn al-Khaththab dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim menambah lafazh talbiyah dari yang sudah diajarkan oleh Rasulullah. Lafazh talbiyah yang diajarkan oleh Nabi adalah:

لَبَّيْكَ اللّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لاَ شَرِيْكَ لَكَ

Namun kemudian sabahat Umar ibn al-Khaththab menambahkannya. Dalam bacaan beliau:

لَبَّيْكَ اللّهُمَّ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ ، وَالْخَيْرُ فِيْ يَدَيْكَ، وَالرَّغْبَاءُ إِلَيْكَ وَالْعَمَلُ

Dalil lainnya adalah dari sahabat ‘Abdullah ibn ‘Umar bahwa beliau membuat kalimat tambahan pada Tasyahhud di dalamnya shalatnya. Kalimat Tasyahhud dalam shalat yang diajarkan Rasulullah adalah “Asyhadu An La Ilaha Illah, Wa Asyhadu Anna Muhammad Rasulullah”. Namun kemudian ‘Abdullah ibn ‘Umar menambahkan Tasyahhud pertamanya menjadi:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ

Tambahan kalimat “Wahdahu La Syarika Lah” sengaja diucapkan oleh beliau. Bahkan tentang ini ‘Abdullah ibn ‘Umar berkata: “Wa Ana Zidtuha...”. Artinya: “Saya sendiri yang menambahkan kalimat “Wahdahu La Syarika Lah”. (HR Abu Dawud)
Dalam sebuah hadits shahih, Imam al-Bukhari meriwayatkan dari sahabat Rifa'ah ibn Rafi', bahwa ia (Rifa'ah ibn Rafi’) berkata: “Suatu hari kami shalat berjama'ah di belakang Rasulullah. Ketika beliau mengangkat kepala setelah ruku' beliau membaca: “Sami’allahu Liman Hamidah”, tiba-tiba salah seorang makmum berkata:

رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ

Setelah selesai shalat Rasulullah bertanya: “Siapakah tadi yang mengatakan kalimat-kalimat itu?". Orang yang yang dimaksud menjawab: “Saya Wahai Rasulullah...”. Lalu Rasulullah berkata:

رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلاَثِيْنَ مَلَكًا يَبْتَدِرُوْنَهَا أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلَ

“Aku melihat lebih dari tiga puluh Malaikat berlomba untuk menjadi yang pertama mencatatnya”.

al-Imam al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam kitab Fath al-Bari, dalam menjelaskan hadits sahabat Rifa’ah ibn Rafi ini menuliskan sebagai berikut: “Hadits ini adalah dalil yang menunjukkan kepada beberapa perkara. Pertama; Menunjukan kebolehan menyusun dzikir yang tidak ma'tsur di dalam shalat selama tidak menyalahi yang ma'tsur. Dua; Boleh mengeraskan suara dzikir selama tidak mengganggu orang lain di dekatnya. Tiga; Bahwa orang yang bersin di dalam shalat diperbolehkan baginya mengucapkan “al-Hamdulillah” tanpa adanya hukum makruh” (Fath al-Bari, j. 2, h. 287).
Dengan demikian boleh hukumnya dan tidak ada masalah sama sekali di dalam bacaan shalawat menambahkan kata “Sayyidina”, baik dibaca di luar shalat maupun di dalam shalat. Karena tambahan kata “Sayyidina” ini adalah tambahan yang sesuai dengan dasar syari’at, dan sama sekali tidak bertentangan dengannya.
Asy-Syaikh al’Allamah Ibn Hajar al-Haitami dalam kitab al-Minhaj al-Qawim, halaman 160, menuliskan sebagai berikut:

وَلاَ بَأْسَ بِزِيَادَةِ سَيِّدِنَا قَبْلَ مُحَمَّدٍ، وَخَبَرُ"لاَ تُسَيِّدُوْنِي فِيْ الصَّلاَةِ" ضَعِيْفٌ بَلْ لاَ أَصْلَ لَهُ

“Dan tidak mengapa menambahkan kata “Sayyidina” sebelum Muhammad. Sedangkan hadits yang berbunyi “La Tusyyiduni Fi ash-Shalat” adalah hadits dla'if bahkan tidak memiliki dasar (hadits maudlu/palsu)”.

Di antara hal yang menunjukan bahwa hadits “La Tusayyiduni Fi ash-Shalat” sebagai hadits palsu (Maudlu’) adalah karena di dalam hadits ini terdapat kaedah kebahasaan yang salah (al-Lahn). Artinya, terdapat kalimat yang ditinjau dari gramatika bahasa Arab adalah sesuatu yang aneh dan asing. Yaitu pada kata “Tusayyiduni”. Di dalam bahasa Arab, dasar kata “Sayyid” adalah berasal dari kata “Saada, Yasuudu”, bukan “Saada, Yasiidu”. Dengan demikian bentuk fi’il Muta'addi (kata kerja yang membutuhkan kepada objek) dari “Saada, Yasuudu” ini adalah “Sawwada, Yusawwidu”, dan bukan “Sayyada, Yusayyidu”. Dengan demikian, -seandainya hadits di atas benar adanya-, maka bukan dengan kata “La Tasayyiduni”, tapi harus dengan kata “La Tusawwiduni”. Inilah yang dimaksud dengan al-Lahn. Sudah barang tentu Rasulullah tidak akan pernah mengucapkan al-Lahn semacam ini, karena beliau adalah seorang Arab yang sangat fasih (Afshah al-‘Arab).
Bahkan dalam pendapat sebagian ulama, mengucapkan kata “Sayyidina” di depan nama Rasulullah, baik di dalam shalat maupun di luar shalat lebih utama dari pada tidak memakainya. Karena tambahan kata tersebut termasuk penghormatan dan adab terhadap Rasulullah. Dan pendapat ini dinilai sebagai pendapat mu’tamad.

Asy-Syaikh al-‘Allamah al-Bajuri dalam kitab Hasyiah al-Bajuri, menuliskan sebagai berikut:

الأوْلَى ذِكْرُ السِّيَادَةِ لأَنّ الأفْضَلَ سُلُوْكُ الأدَبِ، خِلاَفًا لِمَنْ قَالَ الأوْلَى تَرْكُ السّيَادَةِ إقْتِصَارًا عَلَى الوَارِدِ، وَالمُعْتَمَدُ الأوَّلُ، وَحَدِيْثُ لاَ تُسَوِّدُوْنِي فِي صَلاتِكُمْ بِالوَاوِ لاَ بِاليَاءِ بَاطِلٌ

“Yang lebih utama adalah mengucapkan kata “Sayyid”, karena yang lebih afdlal adalah menjalankan adab. Hal ini berbeda dengan pendapat orang yang mengatakan bahwa lebih utama meninggalkan kata “Sayyid” dengan alasan mencukupkan di atas yang warid saja. Dan pendapat mu’tamad adalah pendapat yang pertama. Adapun hadits “La Tusawwiduni Fi Shalatikum”, yang seharusnya dengan “waw” (Tusawwiduni) bukan dengan “ya” (Tusayyiduni) adalah hadits yang batil” (Hasyiah al-Bajuri, j. 1, h. 156)

69.
Pengirim: jeffrey  - Kota: medan
Tanggal: 21/7/2013
 
berdarsarkan sabda Rasulullah SAW :
"jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru, (sebab) sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid'ah dan setiap bid'ah itu sesat" (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

riwayat lain: " barang siapa yang membuat dalam urusan (agama) kita ini sesuatu tidak termasuk darinya maka dia tertolak. (Muttafaq 'alaih).

riwayat lain: " barang siapa yang melakukan amalan yang tidak ada padanya (dasarnya dalam) urusan (agama) kita, maka dia tertolak". (HR. MUSLIM). disini jelas saya berpegang teguh sunnah nabi bukan susunan anda.. jd dalil dr mana anda datangkan??? perhatikanlah dan tanyalah kalau anda kurang paham tanya ke ahlinya pa ada Rasulullah SAW meriwayatkan / mengajarkan para sahabat tentang tambahan kata sayyidina. terus gimana dengan witir anda 2 rakaat 1 salam pa mungkin anda meng artikan Witir kadang bisa genab dan bisa ganjil menurut kebutuhan anda.

dalam riwayat lain: " jika orang ini mati dalam keadaan sperti itu, ia mati diluar agama Muhammad. (ia shalat seperti burung gagak memetuk makanan), permisalan oarang yang ruku' nya tidak sempurna dan sujud sujudnya cepat seperti orang kelaparan yang memakan sebiji atau dua biji kurma yang tidak mengenyangkannya sedikit pun". (HR. Abu Ya'la, ath-Thabrani).

Abu Hurairah ra. berkata, " kekasihku (Nabi SAW) melarangku sujud dengan cepat seperti ayam mematuk, ia juga melarangku menoleh ke kanan atau kekiri sperti menolehnya musang, dan melarang ku duduk iq'aa seperti kera. (HR. ath-Thayalisi, Ahmad dan Ibnu Abi Syaibah.

jadi jelas dalam gerakan sholat wajib Tuma'ninah dalam sujud dan kenapa kebanyakan warga anda sholat terawihnya bisa cepat?


 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Lebih-lebih kalau anda ingin SEGERA MATI DI LUAR AJARAN NABI MUHAMMAD SAW, maka TONTONLAH DAKWAH TV RODJA, BID'AHNYA KAUM WAHHABI, karena Nabi SAW tidak pernah mengajarkan CARA BERDAKWAH atau MENDENGARKAN CERAMAH LEWAT TV RODJA, dan NABI SAW tidak pernah membagi BID'AH itu menjadi DUA, yaitu BID'AH DINIYAH (keagamaan) dan BID'AH DUNIAWIYAH (urusan dunia) dalam hadits shahihnya. Kalau nggak percaya, hayoo carikan dalil dari Hadits Shahih untuk dasar bolehnya BERDAKWAH LEWAT TV dan dasar BID'AH dibagi dua : BID'AH DINIYAH & BID'AH DUNIAWIYAH...!

Bid'ahnya kaum Wahhabi mendirikan TV Rodja dan membagi bid'ah menjadi BID'AH DINIYAH & BID'AH DUNIAWIYAH ini jelas-jelas menuruti hawa nafsunya belaka, tidak mengikuti sunnah Nabi SAW, padahal Rasulullah SAW bersabda : "jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru, (sebab) sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid'ah dan setiap bid'ah itu sesat" (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi). riwayat lain: " barang siapa yang membuat dalam urusan (agama) kita ini sesuatu tidak termasuk darinya maka dia tertolak. (Muttafaq 'alaih). riwayat lain: " barang siapa yang melakukan amalan yang tidak ada padanya (dasarnya dalam) urusan (agama) kita, maka dia tertolak". (HR. MUSLIM).

70.
Pengirim: taufik  - Kota: jkt
Tanggal: 21/7/2013
 
Assalamu'alaikum.. ustadz, maaf saya mau nanya, sebelumnya saya ketahui dari berita di media ada umat yang mengaku Islam melakukan bom bunuh diri di Masjid Polresta Cirebon, bisa2nya sebagai umat Islam menganiaya diri sendiri untuk aniaya sesama muslim, itu kenapa ya, Islam 'ko gitu? apakah perbuatan bomber tersebut disunahkan (ada dhalilnya) atau bid'ah? 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Dalam konteks ke-indonesia-an, umat Islam mengalami berbagai evolusi. Menurut sejarah Indonesia, Islam masuk ke Indonesia dibawa oleh para Ulama dari negeri Gujarat India lewat jalur perdagangan.

Jika diteliti lebih lanjut dan ditarik garis ke atas, maka akan ditemukan bahwa para perintis penyebaran Islam di Indonesia ini adalah keturunan dari tokoh-tokoh Ulama yang berasal dari negeri Yaman, tepatnya di tanah Hadramaut.

Terbukti, bahwa pemahaman Islam yang mereka sebarkan di Indonesia adalah bermadzhab Sunny Syafi`i, sesuai dengan madzhab yang dianut oleh nenek moyang mereka yang berada di Hadramaut Yaman.

Belum lagi banyaknya warga keturunan Hadramaut yang hingga kini mendominasi keberadaan etnis Arab yang tersebar di negeri ini. Terjadinya evolusi dalam tubuh umat Islam Indonesia, ditengarai sejak datangnya penjajah Belanda yang ikut menyebarkan agama Nasrani, serta memberi kontribusi perilaku yang tidak sesuai dengan budaya masyarakat Indonesia, terutama kalangan umat Islamnya.

Ringkasnya, pengaruh penjajahan Belanda mencapai 350 tahun mencaplok bumi Indonesia, inilah yang menjadi salah satu faktor utama mengapa umat Islam Indonesia tidak lagi menjadi utuh dalam pemahaman keagamaannya, sebagaimana yang diajarkan oleh para penyebar Islam pertama kali di Indonesi, terutama Walisongo dan para koleganya. Kini umat Islam Indonesia telah menganut berbagai madzhab pemikiran, serta perilaku keagamaan, yang semakin hari semakin bermunculanlah hal-hal yang sebelumnya tidak dikenal oleh masyarakat Islam Indonesia.

Sebut saja misalnya munculnya paham nasionalis religius, yang mana keberadaan pengikut pamahan ini tiada lain karena terinspirasi dari sikap sekelompok tokoh beragama Islam, namun tetap ingin mempertahankan eksistensinya sebagai orang-orang yang selalu berkiprah dalam perebutan kekuasaa kebangsaan di negeri ini, yang mana dalam menjalani kehidupan sosial kemasyarakatannya tidak bersedia diatur oleh hukum syariat Islam secara utuh.

Dewasa ini, ada tiga kelompok besar dalam tubuh umat Islam Indonesia:

KAUM LIBERAL, yaitu kelompok yang tetap mengaku sebagai pemeluk Islam, namun tidak bersedia diikat oleh peraturan syariat agama Islam yang telah baku dan menjadi standar hukum di kalangan masyarakat dunia Islam.

Kelompok Liberal ini dalam status penolakannya terhadap syariat Islam bertingkat-tingkat. Adapun yang tergolong kelompok ini antara lain adalah kaum sekuleris, nasionalis, pluralis, dan liberalis.

Kelompok ini pada dasarnya adalah lebih menuhankan akal pikiran dan hawa nafsunya dibanding ketaatan dan ketundukannya kepada syariat Islam secara utuh.

KAUM MODERAT, namun penulis lebih senang mengistilahkan dengan KELOMPOK KONSISTEN, sebagai terjemahan dari istilah ISTIQAMAH, ini jika yang dimaksud adalah umat Islam yang masih konsisten berpegang teguh terhadap ajaran syariat Islam dalm pemahaman Ulama Salaf Ahlussunnah wal jamaah. Karena jika disebut dengan istilah KAUM MODERAT dewasa ini, maka akan dipahami oleh masyarakat awam, lebih berorientasi kepada kelompok liberal, karena arti MODERAT, kini sudah bergeser kepada arti kelompok yang dapat menerima hal-hal di luar konteks syariat, termasuk dapat menerima segala macam aliran pemikiran bahkan menerima perilaku dan ritual non muslim.

Jadi dalam pembahasan kelompok Moderat ini, penulis akan menfokuskan pada istilah kelompok Konsisten.

Kelompok Konsisten ini adalah mayoritas umat Islam yang masih mengikuti ajaran syariat yang telah diterima secara estafet dengan panduan kitab yg standar yang diterima secara estafet pula dari para ulama dan orang tua, dari generasi pendahulunya yang lebih tua lagi hingga sampai kepada para pembawa dan penyebar agama Islam yang pertama kali datang ke Indonesia, yaitu para Walisongo dan ulama sejamannya.

Kelompok Konsisten ini, selalu berupaya untuk menerapkan syariat Islam secara utuh, namun tetap disesuaikan dengan kondisi masyarakat yang secara riil dihadapi.

Di saat bergaul dengan masyarakat yang belum mampu menerapkan syariat Islam secara utuh, maka kelompok ini mengambil kebijakan yang sedikit lentur namun tetap mengarahkan masyarakat untuk dapat melaksanakan syariat Islam dengan sempurna.

Sebagai ilustrasi, Walisongo dapat berdakwah melalui jalur budaya asli tanah Jawa yang secara kasat mata tidak ada kolerainya dengan pelaksanaan syariat.

Namun pada kesempatan lain, para Walisongo tidak segan-segan menghukum mati Syekh Sidi Jenar, yang secara ilmu dhahir atau kasat mata dinilai telah melakukan tindak pidana perbuatan kemurtadan di depan khalayak, dengan pengakuannya semisal AKU ADALAH ALLAH.

Para Walisongo ini hanyalah melaksanakan kaedah syariat: Nahnu nahkum bid dhawahir wallahu ya`lamus sarair (kami menghukumi secara dhahir, sedangkan Allah yang mengetahui rahasia yang tersembunyi), serta mengqiaskan dengan hadits: Man baddala diinahu faqtuluuhu (barang siapa yang menggantikan agamanya/murtad, maka bunuhlah).

Keputusan para Walisongo dalam menghukum mati Syekh Sidi Jenar, adalah upaya melaksanaan syariat Islam secara utuh, tatkala mereka mendapatkan kesempatan yang memungkinkan terhadap pelaku kemurtadan, tentunya sesuai dhahir kaedah syariat.

Kelompok Konsisten di masa kini, sudah seharusnya meneladani sikap dan perilaku serta ajaran Walisongo ini. Yaitu, saat menghadapi situasi yang belum memungkinkan melaksanakan syariat semisal terhadp tindak pidana, maka selayaknya dapat menyesuaikan diri dengan keadaan di sekitarnya.

Namun, jika ada kesempatan dan ada kemampuan untuk melaksanakan Amar ma`ruf sekaligus mengamalkan Nahi mungkar dengan arti yang sesungguhnya dan dirasakan dapat membawa kemaslahatan umat, maka sudah sepatutnya kelompok konsisten ini menjalankan kewajiban tersebut, tanpa harus merasa khawatir atau takut dijuluki masyarakat sebagai kelompok garis keras, atau kelompok ekstrim, dll.

Sebab, jika benar orang yang melaksanakan syariat nahi mungkar dengan memerangi perilaku tindak pidana, dikategorikan sebagai kelompok garis keras atau ekstrim, maka para Walisongo-lah yang paling tepat mendapat julukan kelompok garis keras maupun ekstrim.

Jadi, mengelompokkan kaum Konsisten ke dalam kelompok garis keras, atau ekstrim, atau bahkan radikal, yang akan dibahas pada sesi berikut, menjadi tidak logis dan tidak tepat.

KAUM RADIKAL. Dalam hal ini, penulis membagi kaum Radikal menjadi dua. Pertama, kaum Radikal dalam pemikiran dan pemhaman. Maksudnya, setiap kelompok Islam yang tidak dapat bertoleransi dengan kelompok Islam lainnya, hanya karena beda organisasi, atau hanya karena perbedaan pemahaman yang bersifat furu` atau khilafiyah furu`iyah, bukan perbedaan yang menyangkut aqidah atau usuluddin atau ketauhidan, maka kelompok ini dinamakan kaum Radikal.

Seperti adanya kelompok Wahhabi/Salafi yang senang mengkafirkan kaum muslimin, karena dianggap telah melakukan bid`ah dhalalah, padahal yang dilakukan oleh masyarakat hanyalah sekedar mengundang warga untuk membaca Alquran, shalawat Nabi, dzikir, mendengar ceramah agama, dan memberi sedekah makan, hanya saja dilakukan dalam sebuah rangkaian acara yang disebut TAHLILAN.

Jadi, kelompok yang mengkafirkan jama`ah tahlilan inilah yang disebut sebagai kelompok Radikal dalam pemikiran dan pemahaman.

Kedua kaum Radikal dalam perilaku. Kelompok ini adalah mereka yang melakukan perusakan fisik maupun pembantaian terhadap nyawa orang lain, tanpa mempertimbangkan syarat-syarat yang ditetapkan ole syariat perang.

Ada istilah yang memudahkan umat untuk mengenal kelompok ini, yaitu adanya BOM BUNUH DIRI dan BOM SYAHID.

Bom bunuh diri yaitu bom yang dilakukan di negara daarul amaan, dengan sasaran membabibuta, menghancurkan fasilitas umum yang diperkenankan oleh syariat semisal halte bis, membunuh wanita dan anak-anak serta orang-orang tua rentah, menumbangkan pepohonan dsb.

Bom bunuh diri hukumnya haram dan pelakunya dianggap fasik, namun tidak sampai murtad, karena telah melanggar tata cara syariat peperangan melawan kekafiran.

Sedangkan bom syahid dilakukan di negara konflik antar umat Islam melawan orang-orang kafir.

Dengan adanya perkembangan teknologi, maka salah satu strategi untuk dapat membalas serangan musuh, yang dewasa ini memiliki peralatan perang yang lebih canggih dari peralatan milik umat Islam, maka sebagian para ulama yang hidup di wilayah konflik telah menfatwakan bolehnya melakukan bom syahid, yang dalam bahasa Jepang dikenal dengan istilah Kamikaze.

Pelaku bom syahid tidak dinamakan sebagai kelompok radikal, namun tergolong kelompok Konsisten dalam membela agama Islam.

Penulis: H. Luthfi Bashori [ 18/8/2011 ]

71.
Pengirim: dedat  - Kota: smd
Tanggal: 21/7/2013
 
ustadz sebagian penceramah di tv rodja pakek laptop.. Baru lihat saya penceramah pakek laptop... Kemudian sebagian penceramahnya kurang begitu halus dan lembut cara penyampaianya dan cenderung memojokan faham yang lain,,, 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Berdakwah dengan membawa laptop jelas-jelas tidak pernah dicontohkan oleh Nabi SAW. Jadi termasuk amaliyah bid'ahnya Ustadz TV RODJA .

72.
Pengirim: jeffrey  - Kota: medan
Tanggal: 23/7/2013
 
disini saya hanya memambahkan pendapat saudara azuan al azmi dari kota cileunsi bogor.

saya kira memang anda lah yang kenbakaran jenggot karna mungkin ngak kebagian tampil di statiun tv. tv anda katakan bid'ah karna ngak ada di zaman Rasulullah, sementara media ini anda pakai anda. pertanyaannya apakah media ini ada pd Rasulullah?
anda pernahkah naik pesawat, mobil, motor kapal laut, dan itu semua ngk ada dizaman Rasulullah???

ada jgn melatur ngomong bolak balik kesana kesini yg ngk nyambung sama sekali. cari dan tuntut ilmu dulu baru dakwah. jgn pake ilmu ngekor dan fanatik anda dah sesumbar mangab, hati2 entar kemasukan lalat.

beli sana unta/ kuda dan pulaunya padang pasir. entar kalau anda nempuh jln tol/ jln raya bisa jd bid'ah, jg lupa listrik di rumah anda buang aja krn itu semua tidak ada zaman Rasulullah. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Sayang sekali, anda ini seorang Wahhabi, tapi anda belum memahami benar apa itu Wahhabi? Kalau ingin tahu jati diri Wahhabi, ayao baca info berikut:

Dari Situs Wahhabi: pemudamuslim.com

كل فعل توفر سببه على عهد النبي – صلى الله عليه وسلم – ولم يفعله فالمشروع تركه

“Semua perbuatan yang “sebab” mengerjakannya ada pada zaman rasulullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, namun beliau tidak mengerjakannya, maka yang disyariatkan adalah meninggalkan perbuatan tersebut.”
(Kaidah Fiqh)

Muqaddimah

Setiap pemuda muslim niscaya paham bahwa sebagai utusan Allāh ta’āla, segala perbuatan yang dilakukan Nabi Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam merupakan teladan yang patut diikuti, baik perbuatan yang menjadi ibadah wajib maupun sekadar sunnah saja. Namun, bagaimana jika nabi di zaman itu tidak melakukan suatu perbuatan, apakah kita di zaman sekarang ini juga diharuskan tidak melakukan semua perbuatan yang tidak dikerjakan nabi?

Pembahasan

Perlu diketahui bahwa perbuatan yang tidak dikerjakan nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, ada beberapa kemungkinan kasus, sebagai berikut.

Pertama: Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam meninggalkan suatu perbuatan, padahal ada sebab dan tuntutan untuk mengerjakannya di zaman beliau, dan tidak ada yang menghalangi beliau untuk melakukannya. Perbuatan dalam kasus pertama ini, harus ditinggalkan dan tidak boleh diamalkan. Jika mengerjakannya termasuk melakukan BID'AH (perbuatan mengada-ada dalam ibadah yang tidak ada contohnya dari nabi) yang TERLARANG.

Inilah kaedah Wahhabi yang dibuktikan dan diamalkan oleh Ustadz Wahhabi yang bernama Mahrus Ali (Mantan Kyai Yang Memeluk Wahhabi), seperti diberitakan:

Desember 11, 2010 • by orgawam

Sebenarnya tak tertarik untuk mengungkap lebih lanjut tentang Mantan Kyai NU H Mahrus Ali. Namun karena di artikel terdahulu (Mantan Kyai NU Menggugat) banyak “pemuja” yang bertaqlid kepadanya, maka berita di bawah ini patut untuk disimak. Sebagai informasi tambahan bagi pendukung maupun yang kontra.

Berikut adalah ajaran lebih lanjut H Mahrus Ali (sang mantan kyai NU yang memeluk Wahhabi).

Jamaah Darul Quran Shalat Tanpa Alas

Rabu, 17 November 2010, 21:36 WIB
REPUBLIKA.CO.ID,SIDOARJO–

Puluhan jamaah Darul Quran pimpinan Mahrus Ali warga Tambak Sumur, Kecamatan Waru, Sidoarjo, Jatim, melakukan shalat Idul Adha tanpa menggunakan alas seperti sajadah yang lazimnya digunakan oleh umat Islam pada umumnya.

Pimpinan jamaah Darul Quran Mahrus Ali, Rabu (17/11) mengatakan, shalat tanpa alas seperti sajadah tersebut sesuai dengan aturan dari Al Quran dan Hadist yang ada.

“Kami melakukan shalat ini sesuai dengan aturan dan berlaku dan tidak perlu dibeda-bedakan karena Islam itu memuat ajaran yang baik serta tidak menyesatkan,” katanya.

Selain tanpa menggunakan alas seperti sajadah, jamaah Darul Quran ini juga melakukan shalat di lahan kosong utara pintu masuk tol simpang susun Waru-Juanda di kawasan Tambak Sumur bukan di masjdi atau lapangan.

Mereka juga tetap mengenakan alas kaki seperti sepatu dan sandal yang mereka pakai untuk melakukan ibadah shalat Idul Adha.

Dalam menjalankan shalat Idul Adha ini, kata dia, imam dan para makmumnya yang terdiri dari shaf depan lelaki dewasa, kecil dan belakang shaf wanita berjumlah sekitar 30 orang.

Tatanan dalam bertakbir, dalam rakaat pertama dan kedua, jamaah yang kebanyakan penghafal Al Quran ini hanya melakukan sebanyak satu kali, tidak pada umumnya rakaat pertama tujuh kali dan kedua lima kali.

Pada posisi sesudah takbir, imam dan makmum jamaah ini juga dalam sikap biasa, tidak menyedekapkan tangan kanan di atas tangan kiri.

Menurut dia, apa yang dilakukan dalam menjalankan shalat ini, sesuai dengan apa yang pernah diajarkan Nabi Muhammad SAW seperti yang tertera dalam Al Quran dan Al Hadits.

Ia mengemukakan, Nabi Muhammad dalam bershalat, tanpa menggunakan alas dalam bersujud dan itu yang menjadi panutannya selama ini.

“Sujud dengan posisi kepala lansung menyentuh tanah, bisa menjadikan atau menjauhkan orang itu dalam bersifat negatif,” ucapnya yakin.

Dengan bersujud seperti ini, kata dia, bisa membawa pelaku sujud di atas tanah, menjadi tunduk dan tawadhu di hadapan Allah SWT.

“Jadikan bumi atau tanah itu untuk masjid dan tempat bersujud. banyak yang sudah mengikuti shalat di tanah lapang, tapi sayang masih menggunakan alas atau sajadah. Dan itu dinilai ‘di’dah’ atau tertolak,” dalihya.

Dalam takbir, lanjutnya, yang dilakukannya itu sudah sesuai dengan apa yang diriwayatkan Imam Bukhori dan Imam Muslim dalam haditsnya.

Takbir lebih dari satu kali itu, dalam hadits diriwayatkan Imam Tirmidzi dan Imam Tirmidzi sendiri mengakui kalau takbir melebihi satu kali itu kurang kuat.

Red: Budi Raharjo

Silahkan lihat fotonya secara lengkap di: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/10/11/17/147211-jamaah-darul-quran-shalat-tanpa-alas

Jika shalat dengan menggunakan alas sajadah itu dihukumi bid’ah dan tertolak, maka banyak ketidak konsistenan terlihat di sini. Mahrus Ali dan Wahhabi jamaannya shalat pakai sandal jepit, baju warna abu-abu dan celana panjang (ada yang pakai Jean lagi), berjenggot awut-awutan dan berkumis, tidak pakai tutup kepala, di dalam ruangan bercat merah, ruangan mushala pakai atap genteng, ada listriknya.

Dan itu .. sandalnya kayaknya ada yang menginjak xxx ayam (najis).

Sumber gambar: http://www.facebook.com/album.php?aid=239926&id=351534640896

Jadi, sangat cocok dengan keberadaan DAKWAH menggunakan TV RODJA yang konon tidak pernah dilakukan oleh Nabi SAW itu memang benar-benar harus ditutup karena sudah dihukumi Bid’ah Dhalalah sesuai definisi Wahhabi sendiri, karena kasusnya sama persis dengan hukum shalat dengan menggunakan alas sajadah yang dinyatakan Bid’ah oleh Mantan Kyai dan menjadi aktifis sekte Wahhabi itu.

(Atau sudah ada perpecahan di antara intern kaum Wahhabi dalam memahami definisi Bid'ah versi Wahhabi: Segala amalan apapun bentuknya yang tidak ada contoh dari Nabi SAW adalah Bid’ah Dhalalah ?)

73.
Pengirim: jeffrey  - Kota: medan
Tanggal: 23/7/2013
 
Allah berfirman:
"Berkatalah Rasul, 'Wahai Tuhanku. sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur'an sebagai sesuatu yang tidak mendapatkan perhatian sedikit pun." (QS. Furqan: 30)

Allah menurunkan Al-Qur'an tidak lain adalah untuk orang-yang masih hidup agar mereka mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. jadi, Al-Qur'an diturunkan bukan untuk orang-orang mati. karena orang-orang sudah mati itu terputus segala amalnya. mereka sudah tidak mampu lagi membaca Al-Qur'an, apalagi isinya. pahala bacaan Al-Qur'an seseorang tidak akan sampai kepada orang yang sudah mati, kecuali bacaan dari anaknya, karena itu sebenarnya hasil dari usaha orang-tuanya yang telah meninggal.
Rusulullah bersabda:
" bila manusia meninggal dunia, maka terputuslah (pahala) dari semua amalnya, kecuali yang berasal dari tiga hal, yaitu: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang berdoa untuknya." (HR. Muslim)

sebagaimana dosa seorang tidak bisa dipikulkan kepada orang lain, maka begitu pula dalam urusan pahala, seseornag tidak bisa mendapatkan pahala kecuali hasil dari amalanya sendiri. bahwa pahal membaca Al-Qur'an tidak bisa di hadiahkan atau dioperkan kepada orng-orang yang sudah mati karena itu bukan hasil usaha dan amalan dia. seseorang yang semasa hidup meninggalkan shalat, lalu mati, maka bagaimana mungkin bacaan Al-Qur'an yang dibacakan sesudah matinya bisa bermanfaat baginya?! bahkan sebaliknya Al-Qur'an sendiri mengancam orang semacam itu dengan neraka dan azab yang pedih:
"maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang sholat, (yaitu) yang lalai dari sholatnya." (QS. Al-Ma'un: 4-5)

ayat diatas mengancam orang-orang yang suka mengakhirkan dan menunda-nunda shalatnya, bagaimana dia meninggalkannya sama sekali 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Banyak jawaban untuk menerangkan ayat-ayat yang akhi nukil, seperti juga pada surat Annajm pada ayat wa an laisa lil insani maa sa'aa (sesungguhnya tidaklah seseorang itu kecuali hanyalah akan mendapatkan balasan dari amal perbuatannya sendiri), karena sudah keseringan dibahas oleh para santri yang terbisa membaca kitab 'gundul' (tanpa harakat) dengan keterangan yang jelas dan gamblang. Tapi seringkali orang awam merasa bingung memahami ayat ini. Antara lain:
1. Sesuai dengan pemberiataan isi ayat, bahwa aturan itu berlaku bagi umatnya Nabi Ibrahim dan Nabi Musa (fi shuhufi ibraahiima wa muusa). Sedangkan dalam syariat Nabi Muhammad SAW ayat tersebut sudah dimansukh oleh ayat wa alhaqnaa dzurriyyatahum (dan Kami masukkan sorga anak cucu mereka), artinya karena kebaikan amalan orang-orang tua, maka Allah berkenan memasukkan anak cucu orang-orang shalih itu ke dalam sorga), demikian ini menurut tafsir Shahabat Abdullah bin Abbas RA.
2. Ibnu Taimiyah sendiri menerangkan ada 21 jawaban tentang ayat wa an laisa lil insaani illaa maa sa'aa, di dalam kitab Ghayatul Maksud hal 101, antara lain Ibnu Taimiyah mengatakan : man i'taqada annal insaana laa yantafi'u illaa bi'amalihi, faqad kharraqal ijmaa', wa dzaalika baathilun min wujuuhin katsiirah (barangsiapa yang meyakini bahwa manusia (termasuk mayit) itu tidak dapat mengambil manfaat (pahala dari orang lain) kecuali hanya dengan amalnya sendiri, maka ia telah melanggar (merusak) ijma' (kesepakat para shahabat/ulama) dari beberapa sudut pandang, (Ibnu Taimiyah mencontohkan) :
- Bahwasannya seseorang itu dapat mengambil manfaat dari doanya orang lain, ini termasuk mengambil manfaat dari amalan orang lain.
- Bahwa Nabi SAW kelak akan mensyafa'ati calon-calon penghuni sorga di Padang Mahsyar, kemudian mensyafa'ati kaum muslimin yang masuk neraka untuk dikeluarkan lantas dimasukkan ke dalam sorga berkat syafaat Nabi SAW. Ini juga termasuk mengambil manfaat dari amalan orang lain.
- Demikian hingga 21 keterangan dari Ibnu Taimiyah. Belum lagi keterangan para ulama mengenai arti ayat yang ditanyakan oleh Kacung Ngaran. Jadi yakinlah, bahwa masyarakat Aswaja tidak mengamalkan sesuatu amalan sunnah kecuali menggunakan dalil Alquran, Hadits dan ijtihad para ulama salaf.
Sayangnya orang di luar Aswaja, ada yang hobinya main tuduh bid'ah sesat terhadap amalan-amalan masyarakat Aswaja, dengan tuduhan ceroboh dan tanpa dasar yang benar.
IKUT TAHLILAN YOOK ... !
Asli kata Tahlilan adalah bacaan tahlil atau membaca Laa ilaaha illallah. Barangsiapa yang mengharamkan orang membaca tahlil dalam konteks ini, bisa-bisa menjadi murtad, keluar dari agama Islam.
Sedangkan tahlilan dalam pengertian umum adalah, sekelompok orang yang membaca kumpulan doa, berupa bacaan surat Alfatihah, surat Yaasiin, surat Al-ikhlas, Alfalaq, Annaas, lafadz tasbih (subhanallah), lafadz hamdalah (alhamdulillah), lafadz hauqalah (laa haula walaa quwwata illaa billah), bacaan istighfar, shalawat kepada Nabi SAW, dan doa maupun dzikir lainnya, kemudian tak jarang pula dirangkai dengan kegiatan majlis ta`lim, serta mengamalkan hadits ith`aamut tha`aam (bershadaqah makanan) kepada orang yang dikenal maupun yang belum dikenal.
Kalau demikian, siapa gerangan yang berani melarang orang-orang yang mengadakan tahlilan ? Kiranya hanya golongan kaum fasiq sajalah yang berani mengharamkan umat Islam untuk melaksanakan tahlilan.
* Tidak beriman kepada Allah orang yang berani mengharamkan bacaan surat Alfatihah.
* Tidak beriman kepada Allah orang yang berani mengharamkan bacaan surat Yaasiin, surat Al-ikhlas, surat Alfalaq dan surat Annaas.
* Tidak beriman kepada Allah orang yang berani mengharamkan bacaan tasbih (subhanallah).
* Tidak beriman kepada Allah orang yang berani mengharamkan bacaan hauqalah (la haula wala quwwata illa billah)
* Tidak beriman kepada Allah orang yang berani mengharamkan bacaan shalawat kepada Nabi SAW.
* Tidak beriman kepada Allah orang yang berani mengharamkan shadaqah memberi makan tamu baik yang dikenal maupun yang belum dikenal.
* Tidak beriman kepada Allah orang yang berani mengharamkan pelaksanaan majelis ta`lim.
Jadi, tidak beriman kepada Allah orang yang berani mengharamkan TAHLILAN, karena tahlilan adalah membaca kalimat-kalimat thayyibah yang seluruh komponen isinya adalah kumpulan doa, dzikir, shalawat, shadaqah dan belajar ilmu agama, yang semuanya itu adalah perintah Allah dan Rasul-Nya.
Di sisi lain, Allah berfirman dalam surat Alhasyr/10, yang artinya : Dan orang-orang yang datang (hidup) sesudah mereka (kaum Muhajirin da Anshar), mereka (para tabi`in dan para generasi sesudahnya) berdoa, Wahai Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami (kalangan para shahabat baik yang masih hidup maupun yang telah wafat) yang telah beriman terlebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.
Ayat ini menerangkan bahwa orang yang telah wafat, semisal kalangan para shahabat, dapat mengambil manfaat bacaan doa dan istighfar dari doa orang-orang yang masih hidup baik dari kalangan para tabi`in maupun dari umat Islam dewasa ini.
Bahkan ayat ini adalah bukti kongkrit dan dalil yang nyata, tentang bolehnya membaca istighfar yang diperuntukkan bagi para mayyit yang telah mendahului.
Mendoakan orang lain baik yang masih terikat hubungan kerabat, seperti doa orangtua untuk anaknya, atau doa anak untuk orangtuanya, maupun yang tidak terikat hubungan kerabat, sangatlah dianjurkan oleh Allah, bahkan para Nabi pun selalu mendoakan umatnya, dan tidak membatasi khusus yang masih hidup saja, tetapi untuk seluruh umatnya baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat, baik yang terikat hubungan kerabat maupun orang lain dalam hubungan nasab.
Doa Nabi Nuh AS : Ya Tuhanku, ampunilah aku, ibu bapakku, dan orang-orang yang masuk ke rumahku dengan beriman, serta orang-orang lelaki dan perempuan yang beriman. Janganlah engkau tambahkan bagi orang-orang yang dzalim itu kecuali kebinasaan. (QS. Annuh 28)
Doa Nabi Ibrahim AS : Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku, orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua orangtuaku, serta seluruh orang-orang mukmin pada hari perhitungan nanti.
Wah, berarti Nabi Nuh AS dan Nabi Ibrahim AS melegalitas tahlilan, karena subtansinya sama, yaitu sama-sama mendoakan orang lain, baik untuk yang masih hidup maupun yang sudah wafat, bahkan yang belum lahir sekalipun, selagi beriman kepada Allah maka akan mendapatkan manfaat dari doanya beliau berdua, `alaihimas salaam.
Demilian juga tujuan umat Islam mengadakan tahlilan, adalah untuk memohonkan ampunan dan mendoakan kebaikan bagi kerabatnya yang telah wafat mendahului mereka, serta membaca doa untuk para hadirin yang masih hidup, dan diamini bersama-sama secara kompak.
Dari Abu Hurairah RA, beliau mendengarkan Nabi SAW bersabda : Jika kalian menyalati mayyit, maka doakanlah mayyit itu dengan penuh ikhlas. (HR. Attirmidzi).
Imam Muslim dalam kitab hadits shahihnya (1618), meriwayatkan dari Sayyidah `Aisyah RA, beliau menceritakan :
Sesungguhnya Rasulullah SAW keluar ke makam Baqi` pada akhir malam di saat giliran menginap di rumahnya. Kemudian Rasulullah SAW mengucapkan : Assalamu `alaikum, semoga keselamatan tetap atas kalian semua, Wahai penghuni tanah makam kaum muslimin, pasti akan datang janji (Allah) untuk kalian sekalipun diakhirkan, dan insyaallah kami akan menyusul kalian semua. Ya Allah, berilah ampunan bagi Ahli Baqi` Algharqad.
Lihatlah Nabi SAW juga mendoakan para mayyit penghuni makam Baqi`, sama dengan umat Islam yang mengadakan tahlilan untuk mendoakan para mayyit yang telah mendahului wafat.
Imam Bukhari pun tak mau kalah meriwayatkan hadits bernomer 2563, tentang pentingnya bershadaqah yang pahalanya dapat dikirimkan untuk mayyit :
Dari Ibnu Abbas RA, ada seorang lelaki bertanya kepada Nabi SAW :
Wahai Rasulullah SAW, ibu saya telah meninggal dunia, apakah beliau akan mendapatkan kemanfaatan jika saya bershadaqah untuknya ? Nabi SAW menjawab : Ya ...! Orang itu mengatakan : Saya mempunyai kebun, maka saya mohon kepadamu Wahai Rasulullah, untuk menjadi saksi, bahwa sekarang saya menyadaqahkan kebun ini atas nama ibu saya ...!
Dalam kegiatan Tahlilan juga diajarkan shadaqah makanan kepada para tamu, dan pahalanya diperuntukkan untuk mayyit yang ditahlili.
Sebuah ilustrasi : Ada seorang muslim yang menyembeleh ayam dengan mengucapkan bismillahir rahmanir rahim dan disaksikan oleh seorang ustadz. Setelah ayam dimasak lantas disuguhkan kepada sang ustadz, dan beliaupun ditanya : Apa hukumnya daging ayam yang disuguhkan kepadanya itu?
Sang Ustadz yang terkenal cermat itupun menjawab : Hukumnya sih, bisa halal bisa haram.
Tentu saja si penyembeleh menjadi penasaran atas jawabannya : Kok bisa Ustadz ?
Sang Ustadz menimpali : Jika ayam ini asli hak milikmu, dan tadi saat kamu menyembelehnya sudah sesuai dengan tuntunan syariat, maka hukumnya halal, bahkan halalan thayyiban. Tapi, jika ayam ini adalah hasil curian, maka bagaimanapun caramu menyembeleh, yaa tetap saja haram.
Si penyembelehpun manggut-manggut tanda setuju, dan semakin tahu bagaimana tata cara memberlakukan suatu hukum halal dan haram dalam kehidupan sehari-hari, berkat pelajaran singkat dari sang Ustadz. Alangkah bahagianya si penyembeleh itu mempunyai seorang Ustadz yang begitu arif dan bijak, serta penuh kehati-hatian.
Demikian juga tentunya dalam pelaksanaan Tahlilan, maka hukum Tahlilan bisa menjadi haram, jika dalam pelaksanaannya itu bertentangan dengan syariat Islam, misalnya acara Tahlilannya didahului dengan undian togel, sedangkan suguhan minumannya terdiri dari bir arak yang memabukkan, kemudian doa dan dzikirnya diganti lagu dangdut dan tari jaipong, dan biaya konsumsi suguhannya diambil dari harta warisan si mayyit yang belum dibagikan kepada ahli warisnya. Tentu saja Tahlilan semacam ini hukumnya adalah Bid`ah Dhalalah, yang sangat sesat, haram, haram dan haram yang tidak dapat ditolelir.
Tapi, melaksanakan Tahlilan, kirim pahala untuk si mayyit yang jauh dari kemaksiatan, bahkan penuh dengan nilai ibadah kepada Allah, semisal semua yang dibaca dalam acara Tahlilan mencakup surat Alquran, Shalawat kepada Nabi SAW, bacaan tahlil, tasbih, tahmid, hauqalah, hamdalah, istighfar, shadaqah makanan dengan harta yang halal, karena hak milik sendiri si tuan rumah, lebih-lebih berasal dari shadaqah para sanak famili dan tetangga secara ikhlas, bukan diambil dari harta warisan si mayyit yang belum dibagi kepada ahli warisnya, serta ditutup dengan mengadakan kajian ilmiah majlis ta`lim, maka acara Tahlilan yang sudah ditradisikan oleh warga Ahlus sunnah wal jamaah ini, hukumnya adalah : HALALAN THAYYIBAN, BOLEH, BAIK, BAHKAN SUNNAH, karena bertujuan mengamalkan ayat-ayat suci Alquran dan Hadits-hadits shahih.
Maka, jika ada kaum Wahhabi yang mengharamkan Tahlilan dan menghukuminya sebagai amalan yang Bid`ah Dhalalah dan sesat, itu hanyalah karena `kekuperan` mereka dalam memahami apa subtansi Tahlilan yang sebenarnya, dan yang jelas karena kesempitan dan kedangkalan mereka semata dalam memahami ayat-ayat Alquran dan Hadits-hadits shahih.
Padahal masih banyak dalil-dalil Alquran dan hadits-hadits selain yang tertera di atas. Jika diulas, semuanya menunjukkan dalil kebolehan bahkan kesunnahan umat Islam mengadakan acara Tahlilan untuk mengenang kebaikan para mayyit serta mengirim pahala doa bagi mereka.
Namun karena keterbatasan media, maka cuplikan di atas sudah dianggap cukup mewakili yang lainnya.
Jadi, hakikatnya bukan karena hukum Tahlilan itu termasuk dalam rana khilafiyah antar para ulama salaf. Apalagi menurut Imam Thawus, bahwa kegiatan Tahlilan dan kirim doa kepada mayyit ini sudah diamalkan oleh para shahabat dan diabadikan oleh para tabi`in serta para ulama salaf Ahlus sunnah wal jamaah, bahkan hingga kini lestari di kalangan umat Islam mayoritas.

74.
Pengirim: Admin  - Kota: Markaz Pejuang Islam
Tanggal: 23/7/2013
 
TO: Mas Jeffrey dari Medan. Komentar-komentar jorok anda yang berupa hujatan dengan kata-kata kotor, sengaja tidak kami muat, karena Situs ini khusus untuk orang-orang yang dapat berkomentar secara ilmiah, sekeras apapun pertentangannya dengan aqidah yang kami yakini, insyaallah akan kami muat dengan respon balik. Namun jika ada hujatan jorok, maka sebaiknya anda muat di FB anda saja, karena itu menandakan kapasitas pribadi anda. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
TO: Mas Jeffrey dari Medan. Komentar-komentar jorok anda yang berupa hujatan dengan kata-kata kotor, sengaja tidak kami muat, karena Situs ini khusus untuk orang-orang yang dapat berkomentar secara ilmiah, sekeras apapun pertentangannya dengan aqidah yang kami yakini, insyaallah akan kami muat dengan respon balik. Namun jika ada hujatan jorok, maka sebaiknya anda muat di FB anda saja, karena itu menandakan kapasitas pribadi anda.

75.
Pengirim: MUHAIMIN EL KARIM  - Kota: bombana
Tanggal: 24/7/2013
 
ALHAMDULILLAH...
KOK HATI DAN AKAL SAYA LEBIH PERCAYA USTADZ RODJA TV YAA...

coba mengutip yang "orang pintar" bilang. "salah satu ciri masyarakat tertinggal adalah tidak mengetahui adanya konspirasi.
maju terusss... RADIO RODJA DAN RODJA TV...!!!!!!!!!!!!!!!!!! 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Rupanya anda sudah tidak takut terhadap fatwa Sang Juragan Wahhabi, Seikh Muqbil :

Fatwa Primitif Wahhabi

Ada sebuah fatwa jenaka yang layak Anda dengar segabai humor kurang menggelikan yang dikeluarkan Juru Ramu
Fatwa Sekte wahhabi. Berikut fatwa lengkap tersebut: Sumber: http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=853

Soal : Apa hukumnya kita melihat televisi cuma sekedar melihat berita saja ?

Jawab Syaikh Muqbil : Tidak boleh dikarenakan ada gambarnya, dan dikarenakan pula terjadi di dalamnya dari perbuatan kejahatan dan perbuatan fasik
(seperti zina dan pornografi), dan didalamnya mengajari orang untuk mencuri (banyak tayangan televisi yang menampilkan cara bemaksiat kepada Allah, pacaran, zina, peragaan TKP, dst, red), dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda : ﺭﻮﺻ ﻻﻭ ﺐﻠﻛ ﻪﻴﻓ ﺎﺘﻴﺑ ﺔﻜﺋﻼﻤﻟﺍ ﻞﺧﺪﺗ ﻻ “Malaikat tidak akan memasuki suatu rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan gambar (yang bernyawa)”. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam pada saat itu ingin masuk ke biliknya ‘Aisyah maka dijumpai disana terdapat tirai yang
bergambar (makhluk hidup), kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam Bersabda : ﺭﻮﺼﻟﺍ ﻩﺬﻫ ﻥﻭﺮﺼﻳ ﻦﻳﺬﻟﺍ ,ﺔﻣﺎﻴﻘﻟﺍ ﻡﻮﻳ ﺎﺑﺍﺬﻋ ﺱﺎﻨﻟﺍ ﺪﺷﺃ ﻦﻣ ّﻥﺇ “Sesungguhnya orang yang paling pedih siksanya di hari Akhir, yang menggambar gambar ini” Kemudian di robek-robek tirai yang bergambar tersebut oleh ‘Aisyah. Dan didalam “As-Shahihain” dari Abi Hurairah radiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam beliau bersabda :
“Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : - ﻭﺃ ,ﺔﺒﺣ ﺍﻮﻘﻠﺨﻴﻟ ﻭﺃ ,ﺓّﺭﺫ ﺍﻮﻘﻠﺨﻴﻠﻓ ,ﻲﻘﻠﺨﻛ ﺍﻮﻘﻠﺨﻳ ﺐﻫﺫ ﻦّﻤﻣ ﻢﻠﻇﺃ ﻦﻣﻭ ﺓﺮﻴﻌﺷ - “Dan siapakah yang lebih dzolim yang mencoba untuk menciptakan seperti ciptaanku, maka ciptakanlah biji jagung, ata ciptakanlah biji-bijian, atau biji gandum” Begitu pula seorang laki-laki menonton seorang penyiar wanita, dan Allah –Azza wa Jall- berfirman : - ﻢﻬﻟ ﻰﻛﺯﺃ ﻚﻟﺍﺫ ﻢﻬﺟﻭﺮﻓ ﺍﻮﻈﻔﺤﻳ ﻭ ﻢﻫﺭﺎﺼﺑﺃ ﻦﻣ ﺍﻮّﻀﻐﻳ ﻦﻴﻨﻣﺆﻤﻠﻟ ﻞﻗ - “Katakanlah kepada orang-orang laki-laki yang beriman hendaklah mereka menundukkan pandangannya, dan memelihara kemaluannya yang demikian itu lebih suci bagi mereka” [An-Nur : 30]. Atau kalau penyiarnya laki-laki dan yang menonton wanita, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : - ّﻦﻬﺟﻭﺮﻓ ّﻦﻈﻔﺤﻳ ﻭ ّﻦﻫﺭﺎﺼﺑﺃ ﻦﻣ ﻦﻀﻀﻐﻳ ﺕﺎﻨﻣﺆﻤﻠﻟ ّﻞﻗ ﻭ - “Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan dan memelihara kemaluannaya”. [An-Nur :31]. (Lihat kitab “Tuhfatul Mujib” pertanyaan dari negara Prancis (soal nomor : 10/halaman 270). (Diterjemahkan oleh Al Ustadz Abu Abdillah Muhammad Abdullah Mubarok Barmim, Surabaya. Beliau murid syaikh Muqbil Ibn Hadi al Wadi’i rahimahullah, Yaman.) SUMBER: http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=853

76.
Pengirim: jeffrey  - Kota: medan
Tanggal: 24/7/2013
 
berdasarkan dari pemahaman tau keyakinan anda, saya mengambil kesimpulan bahwa anda tlh merenKanisasi ayat ayat, sejauh ini ngak ada dalil atas apa yg anda katakan sunnah.
dalil2nya shahih,tapi andanya yg menafsirkannya berdasarkan pikiran dan perasaan serta hawa nafsu anda. Tegaskan dengan mengatakan tentang hal ini Rasulullah SAW bersabda. jngan andalkan atas kesepakatan supaya jelas perkaranya, sebab kalau dalil kesepakatan dari kami anda pasti tidak mau dengar kan???.

Sekarang lebih baik anda brfikir gimana caranya anda dan rencana tv siyar anda bisa on air sebelum ada orang lain katakan bahwa tv itu hukumnya Bi'dah, buruuu!!"" 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Kata-kata kasar anda kami edit, agar Situs ini tetap sesuai Fakta dan Ilmiah.

Anda sudah jauh keluar dari tema pembahasan. Kami mengangkat judul TV RODJA, BID'AHNYA KAUM WAHHABI berdasarkan fakta dari fatwa tokoh-tokoh Wahhabi, bukan membuat-buat sendiri semau gue:

Syeikh Nashiruddin Al-Albani salah satu tokoh sentral Wahhabi telah mengharamkan anggotanya menonton TV, sebagaimana dimuat oleh Majalah Assunnah edisi 04/Tahun I/1422 H, bahkah beberapa tokoh Wahhabi sekelas Syeikh Ustaimin dan Syeikh Muqbil
panutan kaum Wahhabi saja menjatuhkan fatwa haramnya menonton TV. (sumber:
www.muqbel.net).

Loh kok para pengikut Wahhabi Indonesia justru mendirikan stasiun TV Rodja, dll, ini namanya kontradiksi.

Sama juga dengan kasus Mahrus Ali sang Mantan Kyai, alumni Saudi Arabiah yang memilih jadi penganut Wahhabi, tiba-tiba mengeluaran fatwa menyerang para masyaikhnya sendiri yaitu tokoh-tokoh Wahhabi Saudi Arabiah:

FATWA MAHRUS ALI, MANTAN KYAI: Salat Tarawih 20 Rakaat haditsnya PALSU .

Mahrus Ali, Mantan Kyai yang terbuang dari kalangan NU dan eksodus menjadi Wahhabi Indonesia, telah mengeluarkan fatwa yang menghantam tokoh-tokoh Wahhabi Saudi Arabiah, yang mana mereka secara kontinyu melaksanakan Shalat Tarawih 20 Rakaat di Masjidil Haram Makkah dan Masjid Nabawi Madinah.

Menurut Mahrus Ali, bahwa tokoh-tokoh Wahhabi Saudi Arabiah itu telah mengamalkan HADITS PALSU. Hal ini dinyatakan oleh Mahrus Ali dalam blog ke II: www.mantan kyainu2.blogspot.com.

Mahrus Ali, mantan Kyai yang dibuang oleh kalangan NU, secara terang-terangan mengadopsi pendapat Al-albani yang mengatakan bahwa Hadits-hadits shalat Tarawih 20 rakaat itu adalah lemah (dhaif), sedangkankan menurutnya, semua Hadits Dhaif itu adalah PALSU.

Tentunya kaum Wahhabi Indonesia perlu berpikir ulang atas kontradiksi ini, karena menurut Mantan Kyia yang terbuang dari kalangan NU ini, shalat tarawih yang tidak bid’ah dhalalah itu adalah shalat Tarawih 11 rakaat. Sedangkan tokoh-tokoh Wahhabi Saudi Arabiah yang menjadi rujukan utama mayoritas kaum Wahhabi Indonesia, sebut saja Syeikh Bin Baz, Syeikh Sudais, Syeikh Bin Shalih, Syeikh Utsaimin, Syeikh Shalih Fauzan dan sebagainya, yang mana mereka juga termasuk tokoh- tokoh sentral dan mascot kerajaan Saudi Arabiah, mereka sudah puluhan tahun melaksanakan shalat Tarawih dengan 20 rakaat yang ditutup Witir 3 rakaat, baik di Masjidil Haram Makkah dan Masjid Nabawi Madinah serta di masjid-masjid Saudi Arabiah lainnya.

Berikut ini beberapa nama para Imam Masjidil Haram Makkah Al Mukarramah yang melaksanakan shalat Tarawih 20 rakaat, baik yang bertindak menjadi imam shalat Tarawih 20 rakaat maupun yang menjadi makmum, dan mereka inilah yang telah difatwa sebagai pengamal Hadits Palsu :

> Sheikh Dr. Abdul Rahman Al-Sudais . Kepala Imam Masjid Al Haram.
> Sheikh Dr. Saud Al-Shuraim - Hakim pada Mahkamah tinggi di Makkah ; Wakil dari kepala Imam Masjidil Haram.
> Sheikh Abdullah Awad Al Juhany (Sejak tahun 2005 mulai memimpin shalat tarawih di Masjidil Haram, dan diangkat menjadi imam Masjidil Haram secara penuh pada Juli 2007. Sebelumnya beliau menjadi imam di Masjid Nabawi Madinah).
> Sheikh Maher Al Mueaqly. Mulai diangkat menjadi imam pada tahun 2007 (Sebelumnya beliau memimpin shalat tarawih di Masjid Nabawi Madinah pada bulan Ramadhan 2005 and 2006).
> Sheikh Khaled Al Ghamdi (Diangkat setelah pelaksanaan ibadah haji pada tahun 2008).
> Sheikh Dr. Salih bin Abdullah al Humaid -Pimpinan Majlis al Shura Saudi Arabia.
> Sheikh Dr. Usaama bin Abdullah al Khayyat .
> Sheikh Dr. Salih Al-Talib (Hakim pada Mahkamah tinggi di Makkah) diangkat pada tahun 2003.
> Sheikh Faisal Al Ghazzawi. Diangkat setelah pelaksanaan ibadah haji pada tahun Kepala Urusan haramain (Masjdil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah) telah menunjuk imam sholat selama Ramadhan kepada tujuh imam dari Masjidil Haram di Makkah.
> Menurut jadwal, Syaikh Abdullah Al-Juhani dan Syaikh Abdurrahman As-Sudais, yang juga kepala urusan masjidil haram, yang sekarang menjadi imam shalat Taraweh di hari-hari ganjil pada 20 hari hari pertama bulan Ramadhan.
> Syaikh Su’ud Asy Syuraim dan Syaikh Mahr Al-Muaiqli mengimami sholat fardhu setiap hari, (surat kabar harian Al-Eqtisadiah melaporkan).

Dalam 10 hari terakhir bulan Ramadhan, Al-Juhani dan Al-Muaiqli akan mengimami shalat Taraweh. Syaikh Shalih Ath-Thalib menyampaikan khutbah Jumat pertama dan mengimami shalat Jum’at pada hari pertama Ramadhan. Syaikh Usamah Khayyat, Asy-Syuraim, Syaikh Shalih bin Humaid, dan As-Sudais. Syaikh Humaid akan mengimami shalat Idul Fitri.

Berikut beberapa nama Imam Masjid Nabawi Madinah Al Munawwarah yang melaksanakan shalat Tarawih 20 rakaat ditutup shalat Witir 3 rakaat:

> Imam Masjid Nabawi Madinah, pertama : Sheikh Abdullah Al-Khulaifi
> Imam Masjid Nabawi Madinah, kedua : Sheikh Ali Jaber
> Imam Masjid Nabawi Madinah, ketiga : Sheikh Umar Al-Subayyil (putra dari Muhammad Al- Subayyil).
> Imam Masjid Nabawi Madinah, keempat : Sheikh Abdullah Al Humaid. Beliau adalah Pimpinan Mahkamah Saudi Arabia.
> Imam Masjid Nabawi Madinah, kelima : Sheikh Abdullah Al-Harazi Pimpinan Majlis al Shura Saudi Arabia.
> Imam Masjid Nabawi Madinah, keenam : Sheikh Abdullah Khayyat
> Imam Masjid Nabawi Madinah, ketujuh : Sheikh Ali Bin Abdur Rahman Al Hudzaify – Kepala Imam Masjid Nabawi Madinah
> Imam Masjid Nabawi Madinah, kedelapan : Sheikh Dr. Salah Ibn Muhammad Al Budair (memimpin tarawih pada 2005-2006) sekarang menjadi imam penuh di Masjid Nabawi
> Imam Masjid Nabawi Madinah, kesembilan : Sheikh Muhammed Al-Subayyil
> Imam Masjid Nabawi Madinah, kesepuluh: Sheikh Adil Kalbani (Memimpin tarawih pd 1429 H)

Demikianlah sepuluh Imam Masjid Nabawi Madinah dan masih ada imam yang lain yang tidak tersebut disini, mereka telah difatwa sebagai pengamal hadits palsu oleh Mahrus Ali (salah satu mascot Wahhabi Indonesia). Karena para tokoh Wahhabi Saudi Arabiah ini tiap tahun melaksanakan shalat Tarawih 20 rakaat ditutup shalat witir 3 rakaat di Masjid Nabawi Madinah Almunawwarah.

77.
Pengirim: muhammad hamim  - Kota: tangsel
Tanggal: 24/7/2013
 
terima kasih saya juga mantan wahabi yang sekarang konsen di zikir , wass 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Alhamdulillah. Semoga dapat istiqamah berpegang teguh dg Aswaja.

78.
Pengirim: jeffrey  - Kota: medan
Tanggal: 24/7/2013
 
dan kenapa rodja tv menyiarkan dakwah ustadz yahya tentang aliran sesat wahabi? Berati rodja tv tidak sesat. Coba anda simak dulu rodja tv. Baru anda bisa menyimpulkan sesat atau tidak.  
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Alhamdulillah jika semua orang sudah mulai paham jika Wahhabi/Salafi aliran produk Muhammad bin Abdul Wahhab Annajdi mitranya Ibnu Saud itu adalah ALIRAN SESAT karena memang ajarannya SESAT seperti kata Ust. Yahya. Kami menghimbau kepada masyarakat Indonesia agar semuanya MENOLAK keberadaan kaum Wahhabi di Indonesia.

79.
Pengirim: jeffrey  - Kota: medan
Tanggal: 25/7/2013
 
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
ditanya:
“Bagaimanakah hukum Televisi sekarang ini?”
Jawaban:
Televisi sekarang ini tidak diragukan lagi
keharamannya. Sesungguhnya televisi
merupakan sarana semacam radio dan tape
recorder dan ia seperti nikmat-nikmat lain
yang Allah karuniakan kepada para
hambaNya.
Sebagaimana Allah telah berfirman: “Dan jika
kamu menghitung-hitung nikmat Allah niscaya
kamu tidak dapat menentukan jumlahnya.”
Pendengaran adalah nikmat, penglihatan
adalah nikmat, demikian juga kedua bibir dan
lisan.
Akan tetapi kebanyakan nikmat-nikmat ini
berubah menjadi adzab bagi pemiliknya
karena mereka tidak mempergunakannya
untuk hal-hal yang dicintai Allah. Radio,
televisi dan tape recorder saya kategorikan
sebagai nikmat, akan tetapi kapankah ia
menjadi nikmat? yaitu ketika ia diarahkan
untuk hal-hal yang bermanfaat untuk umat.
Televisi dewasa ini 99 % di dalamnya
menyiarkan kefasikan, pengumbaran hawa
nafsu, kemaksiatan, lagu-lagu haram dan
seterusnya, dan 1 % lagi disiarkan hal-hal
yang terkadang bisa diambil manfaatnya oleh
sebagian orang.
Maka faktor yang menentukan adalah hukum
umum (faktor mayoritas yang ada dalam
siaran televisi tadi), sehingga ketika didapati
suatu negeri Islam sejati yang meletakkan
manhaj / metode ilmiah yang bermanfaat bagi
umat (dalam siaran televisi) maka ketika itu
saya tidak hanya mengatakan televisi itu
boleh hukumnya, bahkan wajib.
[Disalin almanhaj, dari Majalah As-Sunnah
Edisi 04/Tahun I/VI/1422H. Penerbit Yayasan
Lajnah Istiqomah Surakarta.]
Hal ini pula diamini syaikh ibn baz, dalam
perkataan beliau:
“…Mengenai televisi, tidak boleh ditaruh di
mushalla dan tidak boleh menonton acara-
acara yang mempertontonkan acara-acara
yang mempertontonkan perempuan telanjang
atau perbuatan-perbuatan lain yang tidak
senonoh.”
(Dinukil dari Majalah Salafy, Edisi V/
Dzulhijjah/1416/1996 Judul asli Fatwa Ulama
tentang Hukum Gambar, oleh Syaikh Abdullah
Bin Abdul Aziz bin Baz, mufti Saudi Arabia.
Diterjemahkan oleh Ustadz Idral Harits.)
Maka Jika kita MENGKHUSUSKAN penggunaan
televisi untuk mempertontonkan acara-acara
yang bermanfa’at, maka hukumnya boleh,
bahkan dianjurkan, bahkan wajib (lihat bagian
akhir fatwa syaikh Al Albaaniy diatas).
Maka menjadi titik keharaman adalah
digunakannya tivi pada acara-acara yang
mengandung keharaman (ditampilkannya
aurat, musik, dll.); sebagaimana radio,
komputer, internet, dan selainnya yang
hukumnya tergantung pada penggunaannya.
Maka hendaknya seseorang MENYARING
channel-channel tivinya, yaitu hanya
menampilkan channel-channel yang
bermanfaat (yang berisikan kajian-kajian
islamiy).
[Lihat pula komentar ustadz aris, disini:
http://ustadzaris.com/hukum-menonton-
televisi-di-zaman-ini] 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
> Fatwa-fatwa yang anda nukil di atas, adalah fatwa 'lucu' dari tokoh-tokoh Wahhabi, karena hanya keluar dari pendapat mereka pribadi, dan sama sekali tidak berdasarkan satupun dari ayat Alquran maupun Hadits Shahih.

Coba perrhatikan cuplikan dari Situs Dakwatuna: Kita tahu, bahwa kaidah ibadah dalam Islam adalah: Setiap ibadah adalah terlarang kecuali yang ada contoh atau perintahnya dalam syariat. Sesuai hadits Rasulullah Shallallahu: Alaihi wa Sallam: Barangsiapa yang beramal dengan suatu perbuatan yang kami tidak pernah memerintahkannya maka ia tertolak. (HR. Muslim). Artinya ibadah yang mengada-ada yang tidak pernah dilakukan dan diperintahkan agama, walau dilakukan oleh orang shalih dan ulama berwibawa, tetaplah tertolak oleh menurut syariat Islam. Itu adalah bid'ah, dan setiap bid'ah adalah sesat, dan setiap kesesatan adalah neraka tempatnya.

Fatwa adalah bagian dari Ibadah, jadi menurut Wahhabi, jika BERFATWA maka wajib berdasarkan ayat Alquran atau Hadits Shahih (contoh langsung dari Nabi SAW). Se-shalih apapun tokoh Wahhabi, jika berfatwa dari pikiran pribadinya maka hukumnya tetap bid'ah dan sesat menurut definisi Wahhabi.

Kalau anda tidak percaya bahwa fatwa-fatwa yang anda nukil itu hanya produk Wahhabi semata, hayoo anda hadirkan sekarang juga dasar hukum dari Alquran dan Haditsnya? Jangan sampai nge-les/menghindar looh !

Anda harus sadar, saat warga NU shalat fardhu, dan sebelum takbiratul ihram membaca: Ushalli... ! Itu pun dilakukan di luar shalat. Maka dengan serta merta dituduh Bid'ah oleh kaum Wahhabi, dengan alasan, baca Ushalli itu tidak ada dasar hukumnya dari Alquran maupun Hadits Shahih. Sekarang giliran Tokoh-tokoh Wahhabi yang berfatwa tanpa dasar hukum dari Alquran maupun Hadits Shahih (contoh langsung dari Nabi SAW), maka pasti juga harus dihukumi Bid'ah seata kaan? Karena itu TV RODJA, BID'AHNYA KAUM WAHHABI.

> CUPLIKAN KONTRADIKSI TOKOH-TOKOH WAHHABI DI BELAKANG TV RODJA (dari blog Generasi Salafus Sholeh), sbb:

Tapi benarkah Syaikh Sholeh Al Fauzan semanhaj dengan kubu Firanda seperti yang ingin dia kesankan kepada umat? Atau justru ulama Rodja cs yang menjadi korban “gaya tahdzir” Syaikh Al Fauzan? Simak saja…

Wallahi lihatlah ya ikhwah bagaimana mungkin orang sekelas Firanda (yang amat sangat tidak ma’ruf di kalangan Salafiyun Ahlussunnah di berbagai penjuru dunia) bersikap lancang dengan menghukumi Syaikh Abdullah Al-Bukhari dan Syaikh Ahmad Bazmuul sebagai tidak ma’ruf

Dalam keadaan Salafiyyun Ahlussunnah di berbagai belahan dunia menjadi ma’ruf dengan berbagai bukti penyimpangan dan kesesatan Ali Hasan Al Halaby dan Ibrahim Ar Ruhaily dari bantahan-bantahan beliau berdua hafizhahumallah?!

Perhatikanlah kelancangannya yang melampaui batas ini untuk memalingkan dan menjauhkan Ahlussunnah dari bantahan kedua ulama tersebut yang secara tandas menelanjangi kesesatan dua tokoh besarnya!

Gambar 5. Screenshot fb Rodja. Streaming Rodja, Badrusalam dan Ar Ruhaily yang menyimpang yang telah dibantah oleh beberapa masyaikh, Syaikh Robi’, Syaikh ‘Ubaid Al Jabiry, Syaikh Muhammad bin Hady & Syaikh Abdullah Al Bukhary

Apakah pernyataan Firanda tersebut tidak mampu membuat Ahlussunnah tersentak dan terbangun dari tidurnya? Apakah peremehannya tersebut tidak mampu membuat Ahlussunnah bangkit berdiri menghadang makar jahat si durjana ini???!

Lalu dimana kecemburuan dan pembelaan kalian manakala melihat dan mendengar dilecehkannya para ulamanya yang berdiri menghadapi serbuan para penyesat umat dalam rangka melindungi kaum muslimin??

Di saat beliau hafizhahumallah berjuang dengan segala resikonya, di saat yang sama pula kita dipertontonkan deal-deal basa-basi dan transaksi pragmatis dengan si khabits peleceh lagi fajir semacam Firanda ini dalam urusan dakwah dan kebenaran Allahumma…

Tidak cukup itu, bahkan Firanda dengan tandas menyatakan bahwa pentahdzir Rodja hanyalah mengikuti prasangka dan dugaan saja!!

Gambar 6. Maka kami ingin buktinya, sebutkan link-link para ustadz radiorodja!! Tantang Firanda Secara khusus pesan utama dikirimkan kepada AMDz, Firanda mempublikasikan pernyataan Syaikh Al Fauzan yang meminta agar dia dengan AMDz bisa berdamai dan bersatu dan pernyataan Firanda tersebut dinukil ulang oleh AMDz sebagai penegasan betapa pentingnya hal ini

Gambar 7. Apa yang harus kami lakukan terhadap shahabat kami ini (Dzulqornain) Berdamailah…saling bersatulah Walaupun AMDz sempat pula mengeluarkan gertakan “berasap” pekat…

Gambar 8. Screenshot (lepas dari persoalan dialognya dengan Syaikh Fauzan nantinya) walaupun Firanda atau yang lainnya tidak ada yang menuntut, secara syar’i

AMDz tetap wajib untuk membuktikan tuduhannya kalau tidak ingin dicap sebagai… Kalau memang persoalan pribadi, kenapa mengancam untuk diungkapkan? Mestinya disembunyikan. Tetapi jika manhaj (dan memang manhaj sebagaimana diakui keduanya) yang menjadi masalahnya, adalah menjadi hal yang sangat aneh bahwa setelah mengeluarkan ancaman berupa kemampuan beliau dalam membeberkan, menyingkap, secara detail dan rinci kesalahan Rodja dan Firanda masih pula dilontarkan tawaran “berasap” damai… “Apakah beliau sudah memandang bahwa Saya perlu menguraikan kesalahan-kesalahan Rodja secara detail? Apakah beliau siap membaca detail jawaban terhadap tulisannya?”

Bukan hanya mengiming-imingi umat dengan janji-janji semata, bahkan inilah yang ditunggu-tunggu oleh umat setelah AMDz memamerkan dan menyebarluaskan pernyataan “menggiurkan” seperti di atas tentang kesangatmampuan beliau dalam menjawab, merinci dan menyingkap kesalahan-kesalahan dai Rodja dan Firanda !

Lalu apa urusannya dengan siap atau tidak siapnya Firanda, jika memang secara manhaji Firanda memiliki sekian banyak kesalahan?! Apakah tidak cukup bukti dan belum saatnya umat mengetahui rincian kejahatan Firanda walaupun Syaikh Abdullah Al Bukhari telah mentahdzirnya sedemikian keras?

Dan bukankah itu merupakan kewajiban untuk beramar ma’ruf nahi munkar bagi siapa yang (mengaku) mengetahuinya secara rinci dan detail? Lain masalah jika statemen-statemen di atas hanyalah hiasan dari gelembung besar balon yang berisi gas semata yang ringan tak berbobot dan kepala-kepala manusiapun mendongak ke atas, pandangan mata melihatnya membubung ke angkasa yang cukup hanya bermodal sebuah jarum kecil untuk membuatnya kempis tak berisi lagi?

Apakah hal yang bijak menggelitik pembaca dengan Rodja Fatamorgana (baca:harapan semu) memajukan pertanyaan menantang “SIAPKAH ANDA MENDENGAR JAWABAN?” Tetapi yang justru nampak adalah “TAWARAN UNTUK BERDAMAI DAN KETIDAKSIAPAN ANDA MENULISKAN JAWABAN SECARA RINCI DAN DETAIL KESALAHAN FIRANDA DAN KENAPA MENTAHDZIR RODJA (SESUAI DOSIS)”.

Di awal bantahan memang nampak suatu kesan perlawanan yang heroik sehingga bagi banyak pembaca - yang Nampak – adalah bantahan telak terhadap tulisan Firanda tetapi jika pembaca sedikit lebih jeli maka sesungguhnya ada point-point yang lebih krusial dan lebih parah keadaannya (kategori: manhaj) yang begitu saja diloloskan tanpa sanggahan apapun yang sesungguhnya lebih berhajat untuk dibantah, disingkap dan dijelaskan secara detail agar diketahui penyimpangannya oleh umat (karena para ulama Ahlussunnah telah berbicara dalam masalah tersebut) daripada menjawab tuduhan Firanda terhadap diri, secara pribadi.

Apalagi jika membaca mulai poin ke Sembilan sampai akhir maka nampaklah bahwa bantahan tersebut hanyalah sebuah “hiasan” untuk sama-sama bermain mata mengatur pertandingan dengan skor kacamata, 0 – 0. Allahu a’lam, tujuan yang nampak memang hanyalah untuk menggertak (bukanlah membantah dan menyingkap tuntas penyimpangan Rodja dan Firanda) agar diketahui oleh segenap umat, perhatikan pernyataan beliau sendiri “kalau mengikuti sulutan api yang ustadz Firanda kobarkan”, tetapi tujuan intinya adalah agar Firanda mencabut/menghapus tulisannya yang mana salah satu point yang diungkap Firanda agar AMDz berdamai mengikuti “nasehat” Syaikh Al Fauzan adalah fakta yang dia ungkap (dan yang tidak diungkap Firanda di depan Syaikh Al Fauzan adalah bahwa dirinya, Rodja beserta para da’inya adalah pendukung utama dakwah Ali Hasan Al Halabi Al Mubtadi’, ‘Ar’ur di negeri ini) bahwa AMDz mengajarkan kitab Al-Juwaini sebagaimana tudingannya.

Gambar 9. Screenshot Firanda mempertanyakan buku Ahlul Bid’ah yang diajarkan AMDz Tuduhan Firanda terhadap Al Juwainy di atas perlu digaris merah dan dicermati dalam-dalam, simak pernyataan Al Allamah ‘Utsaimin di bawah ini: “Imamul Haramain Abdul Malik Bin Yusuf Abul Ma’aly Al-Juwainy yang wafat pada tahun 478H telah menulis sebuah risalah kecil tentang Ushulul Fiqih yang beliau beri judul Al Waraqat. RISALAH TERSEBUT TELAH DISYARAH OLEH BANYAK ULAMA , sedangkan ulama lain ada yang membuatkan nazham diantaranya Al Imrithy, Syarfudin Yahya bin Musa yang beliau ini merupakan salah seorang fuqaha bermazhab Syafi’i dari desa Imrith bagian timur Mesir” (Syarah Nazhmin Waraqat, hal.5, cetakan Darul Aqidah, 1423H)

Dan kami berharap tidak ada pembaca yang berprasangka bahwa penyimpangan RODJA (karena tantangan Firanda tidak khusus tertuju kepada AMDz) yang akan kita ungkap terkesan sebagai resep OD (Over Dosis) hanya karena resep yang akan kita ungkapkan ini tidak dibahas oleh AMDz sesuai resep dosis tepat dalam pandangan beliau.

Allahu a’lam, kita semakin kuat melihat bahwa bukanlah perlawanan tuntas untuk menyingkap penyimpangan Rodja, Firanda dan para da’inya yang memang dimaukan oleh AMDz dari tulisan tanggapan beliau terhadap Firanda, jika tidak tentulah tidak perlu ada embel-embel transaksi “berasap” semacam ini… ”Kalau Ustadz Firanda mencabut tulisannya untuk melanjutkan nasihat Syaikh Shalih Al-Fauzan, insya Allah tulisan ini juga akan Saya cabut.”

Sebuah teladan yang tidak baik, setelah melontarkan sekian pernyataan dan tuduhan (lihat rincian 3 point yang harus beliau tulis “kalau mengikuti” sulutan api yang dikobarkan Firanda) ternyata sama sekali tak diiringi dengan tanggungjawab ilmiyah berupa konsekwensi kewajiban bagi penuduh untuk membuktikan ucapannya dan begitu mudahnya (setelah mengancam) menawarkan transaksional-pragmatis yang berasap…Allahul musta’an.

Jika memang apa yang beliau tuliskan diyakini di atas Al-Haq tanpa ragu, maka tidak ada alasan apapun bagi beliau untuk menghapus bantahannya terhadap Firanda (setelah beliau publikasikan kepada umat) bahkan beliau tidak akan berhenti sebatas memamerkan kepada kita semua akan kemampuan beliau dalam menjawab, merinci dan membahas secara detail tulisan Firanda, mengungkap Rodja dan para da’inya dan fakta-fakta inilah yang akan beliau majukan kepada guru beliau, Syaikh Al Fauzan hafizhahullah.

Tetapi….jika setiap tuduhan yang terlontar, setiap persoalan manhaji yang diperselisihkan menjadi sedemikian rupa cara penyelesaiannya, hapus tulisanmu kan kuhapus pula ancaman/bantahanku, bukankah tidak perlu lagi bagi orang yang bersalah - apalagi menjahrkan kepada umat pembelaannya terhadap orang-orang yang menyimpang, bersikap miring kepada para masyayikh
Ahlussunnah – untuk diterangkan bukti-bukti kesesatannya kepada umat agar kaum muslimin waspada dan tidak terkecoh darinya atau dimintai rujuk, taubat dan mempertanggungjawabkan secara ilmiyah atas apa yang telah ia lontarkan/tuduhkan? Ingatlah bahwa dihapusnya tulisan tersebut yang secara berterang muka menyerang Ahlussunnah, tidaklah otomatis masalah menjadi selesai dan tanggung jawab menjadi sirna kecuali menuntut adanya penjelasan.

Bagaimanapun… Firanda telah menuliskan tawaran damainya dengan dasar pernyataan Syaikh Fauzan dan sebaliknya, AMDz-pun menawarkan solusi untuk masing-masingnya menghapus tulisannya dan tawaran ini juga dipenuhi oleh Firanda. Sebelum itu secara berterang muka bendera ishlah Kategori: Manhaj (yang sebelumnya gagal diwujudkan Firanda bersama Ustadz Askari dan Luqman) telah dikibarkannya…

Gambar 10. Screenshot bendera Ishlah (Kategori: manhaj) diantara kedua elite dikibarkan secara resmi oleh Firanda.com Masih bisa dilihat bekasnya di: http://goo.gl/325sD

Dan sebagai imbalannya, AMDz telah “merusak” bantahan (baca: ancamannya) yang “ilmiyah” terhadap Firanda dan menghapus tahdzirnya terhadap RODJA sehingga umat tidak lagi mampu dan siap membaca tulisan beliau karena bantahan “ilmiyah” yang beliau tulis sebelumnya sekonyong-konyong telah berubah total menjadi susunan kata sandi (yang mungkin hanya mereka berdua saja yang mengetahuinya, Allahu a’lam) yang sulit untuk dimengerti. Yang jelas, karakter tanda tanya “?” buanyak sekali bermunculan dalam link bantahan ilmiyah yang telah berubah total menjadi tidak ilmiyah semacam ini. Allahul musta’an.

Gambar 11. Screenshot Siapkan Anda Untuk Tidak Mampu Membaca (apalagi Mendengar) Jawaban Aneh di atas kecuali (mungkin) orang yang memiliki kapabilitas khusus yang lebih daripada intel saja yang mampu membacanya, Allahu a’lam.

Benarkah Tuduhan terhadap Rodja hanya Prasangka & Dugaan? Yang pasti, orang-orang dekat AMDz adalah orang-orang yang membela/miring kepada Rodja dan para da’inya. Ke Mekah (majelis Syaikh Rabi’) memperjuangkan Rodja, ke Ma’bar (Syaikh Al Imam) juga memperjuangkan Rodja, walaupun gagal tetaplah itu sebuah perjuangan wahai Firanda. Saya rasa ini adalah data “perjuangan” yang mungkin terluput dari pengetahuan paduka.

Alasan yang dipakai Firanda untuk mencari dukungan kepada Syaikh Al-Fauzan dengan banyaknya kaum muslimin yang hadir dalam acara Tabligh Akbar Syaikh Abdurrazzaq di Masjid Istiqlal, itu pula alasan sama persis dengan yang dipakai oleh kafilah AMDz dalam memperjuangkan Rodja. Sekali lagi, saya rasa ini adalah data “perjuangan” yang mungkin terluput dari pengetahuan paduka.

80.
Pengirim: Tioma  - Kota: Pekanbaru
Tanggal: 25/7/2013
 
Itu udah dibahas pak... kalau TV bukan bid'ah.... dan topik "TV" udah dibahas di TV rodja itu sendiri, bahwsanya TV itu bukan bid'ah.... :-) 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Anda rupanya peserta baru ya dalam diskusi ini? Kok anda gak tahu apa definisi Bid'ah menurut Wahhabi? Coba anda baca dulu semua isi komentar para pengunjung dan respon kami, sekalian biar anda rajin baca. Yang membahas di TV Rodja itu kan orang Wahhabi sendiri, ya pasti saja pura-pura TV nya tidak bid'ah. Mana ada dalil Alquran dan Hadits Shahih yang menjadi dasar bolehnya membuat TV Rodja? Coba anda baca juga dialog kami dg Mas Jeffrey, Medan. Biar anda tambah wawasan

81.
Pengirim: Hamba Allah  - Kota: Surabaya
Tanggal: 27/7/2013
 
Maaf,apakah ajaran aswaja yang katanya mayoritas di jawa atau indonesia sudah 100 % sesuai dengan Ajaran islam Nabi Muhammad SAW,yang difahami generasi sahabat?
Apakah waktu Nabi Muhammad SAW wafat,para sahabat Nabi mengadakan selamatan 7,40,100 hari,1000 hari,adakah dalilnya yang shohih? 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Semua ada dalilnya, dan sudah sering kami bahas di situs ini, hanya saja anda yang kurang rajin membacanya, jadi anda ketinggalan 'ilmunya'.

82.
Pengirim: fathorrozi  - Kota: pamekasan madura
Tanggal: 27/7/2013
 
Ustad, mau tanya,
apkh imam masjidil haram juga wahabi? Lalu kalau memang wahabi, berarti imam tersebut jg sesat, dan dgn ini berarti do'a atau qunnut dan penghayatan saat beliu mengimami sambil menangis krn menghayati ayat al-qur'an itu tdk serius dan pura-pura mengangis ya?
Jujur saja saya tdk begitu tau tentang wahabi dan ahlus sunnah,
akan tetapi saya tdk berani menyesatkan krn berbeda pandangan tentang penafsiran.
Dan yg saya tau tentang BID'AH adlh sesuatu ritual ibadah yg d lakukan tanpa ada contoh dari nabi dan sahabatnya, sedangkan ritual ibadah trsbut sangat mumgkin dilalukan pada zaman nabi jk ritual trsbt memang benar.
Contoh.
1. Perayaan kelahiran
2. Tahlilan untk org mati
Dua contoh di atas sangat mungkin dilakukan nabi dan sahabatnya jika memang ada dalil.
Lain halnya dgn adanya televisi, hal ini memang benar-benar blm ada dizaman nabi.
Jadi seharusnya dibedakan antara bid'ah yg mgkin d lakukan atau ditinggalkan.
Yg saya heran jg, mengapa jamaah indonesia sgt antusias jika berjamaah d belang imam masjidil haram, padahal menurut sebagian/lbh bnyk ulama' muslim indonesia mengatakan imam mekkah adlh wahabi.
Bila saya boleh mengartikan begini
IMAM MEKAH=WAHABI
WAHABI=SESAT
pantaskah kita menjadi ma'mum di belakangnya?
Lalu kenapa ALLAH membiarkan orang-orang sesat menjadi imam di BAITULLAH?
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Kaum Wahhabi selalu mengatakan bahwa yang namanya ajaran agama itu harus berdasar Alquran dan Hadits Shahih, buka berdasarkan pemahaman seseorang, terus mana dasar/dalil Alquran dan Hadits Shahihnya anda mengatakan sbb:

Yg saya tau tentang BID'AH adlh sesuatu ritual ibadah yg d lakukan tanpa ada contoh dari nabi dan sahabatnya, sedangkan ritual ibadah trsbut sangat mumgkin dilalukan pada zaman nabi jk ritual trsbt memang benar. Contoh. 1. Perayaan kelahiran 2. Tahlilan untk org mati Dua contoh di atas sangat mungkin dilakukan nabi dan sahabatnya jika memang ada dalil. Lain halnya dgn adanya televisi, hal ini memang benar-benar blm ada dizaman nabi. Jadi seharusnya dibedakan antara bid'ah yg mgkin d lakukan atau ditinggalkan.

Pemahaman anda ini tentunya bukan ajaran Islam jika anda tidaj dapat menyebutkan dalil qaht'i dari Alquran atau Hadits Shahihnya.

83.
Pengirim: jeruk  - Kota: Yaman
Tanggal: 30/7/2013
 
Lagi-lagi NU, Lagi-lagi NU,,,
SYIAR yang tidak laku, NU memang kumpulan ULAMA GOBLOK.
apa??? pejuang Islam? malu donk... apakah anda pernah bertemu NABI lantas di anjurkan untuk membuat kelompok si "NU" ini,,???
sudah kalian ini yang memecah belah umat. ada gak siaran TV'NU??? gak ada kan..??? kenapa gak di bikin aja???TOLOL.
TRANS7 juga pernah bwakan dakwah org NU mass,,, Ustadz H. Luthfi Bashori memang iri hati kamu tuh. bikin aja TV'Ustadz H. Luthfi Bashori
sampai ketemu di AKHIRAT. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
semacam inilah komentar ilmiah kaum Wahhabi, jika kesalahan2nya sudah diungkap sesuai dengan keyakinan Wahhabi sendiri, kemudian mereka tidak dapat menjawab secara ilmiah, maka mereka akhirnya memilih jalur caci-maki dan ungkapan-ungkapan jorok lainnya, dan sedemikian inilah kualitas keilmiah kaum Wahhabi yang dapat dibaca oleh umat.

Banyak komentar-komentar kaum Wahhabi yang senada ini, dan kami putuskan untuk tidak kami tampilkan di situs ilmiah kami ini.

84.
Pengirim: sam  - Kota: Banjar
Tanggal: 30/7/2013
 
Penjelasan Anda sangat lebih banyak emosionalnya. Jangan2 Anda takut kehilangan pengikut saja. Kalau betul yg didakwahkan Quran dan Sunnah pasti mendapat tantangan seperti Nabi SAW berdakwah, itu Sunnahnya. Jangan mengajarkan pada ummat untuk bercaCI maki. Apalagi Ulama harus santuk kalau mau diikut ummat. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Kalau ingin kometar, biasakan dengan dalil Alquran dan Hadits, jangan hanya berasumsi saja. Apa ada dalil Alquran maupun HAdits shahih tentang bolehnya berdakwah lewat TV Rodja? Apalagi tokoh Wahhabi sekelas Al-Albani, Utsaimin dan Muqbil telah mengharamkan TV. Jadi benar, TV RODJA, BID'AHNYA KAUM WAHHABI.

85.
Pengirim: sam  - Kota: Banjar
Tanggal: 30/7/2013
 
Penjelasan Anda nampaknya sangat emosional sehingga terkesan tidak adil. Bukankah Allah sdh melarang untuk membahas tentang ZatNya. Mengenai Bid'ah, hanya dalam ibadah. Islam sdh sempurna ajarannya dan satu-satunya contoh pelaksanaan ajaran Islam yg sempurna itu hanya dari Rasul SAW. Kalau Rasul melarang maka tinggalkan dan yg disuruk wajib dilaksanakan. Selama berpegang pd alQuran dan Sunnah pasti TIDAK SESAT. Ini jaminan Rasul SAW siapapun yg menyampaikan dan lewat media apapun. Boleh membenci tp harus tetap adil. Ini baru ajaran Islam yg lurus. Wallahua'lam 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Biar anda dan kaum Wahhabi sadar bahwa ternyata ajaran agama itu tidak hanya berdasarkan tekstual dalil Alquran maupun Hadits. Ternyata dakwah melalui TV RODJA itu hanya berdasarkan Kontekstual dalil, karena memang tidak ada tekstual dalil dari Alquran maupun Hadits yg memperbolehkannya. Jadi anda harus belajar banyak tentang Islam agar ada paham bahwa Warga Aswaja mengamalkan kontekstual Hadits Shahih: Iqra-uu yaasiin 'alaa mautaakum, maka dikemaslah metode Tahlilan untuk mayit, yg berisi pengamlan kontekstual Hadits Iqra-uu yaasiin 'alaa mautaakum. Anda pahami itu !

86.
Pengirim: sam  - Kota: Banjar
Tanggal: 30/7/2013
 
Kenapa TV Rodja sekarang tetap exist? klo emang sesat laporin aja, knp ga bisa? 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Ini Indonesia bung, TV Budha juga ada, sama eksisnya dg TV Rodja. Media yg tetap eksis di Indonesia tidak menjamin kebenarannya menurut standar Syariat.

87.
Pengirim: sam  - Kota: Banjar
Tanggal: 30/7/2013
 
Maaf Saya tidak paham jalan pikiran Anda. Anda seorang Ulama tp sepertinya tidak bisa memilah secara adil. Saya setuju nonton TV itu haram kalau yg ditonton yg diharamkan Allah dan Rasul SAW misalnya tontonan yg mengekspos aurat wanita. Tapi kalau yg ditonton siaran dakwah Islam yg sarat dengan kebenaran dan mengajak orang kepada kebaikan,apakah haram juga. Anda liat dunia sekarang ini sdh sangat maju. adzan pakai pengeras suara, tanda masuk waktu shalatpun pakai sirene apalagi khusus TV dakwah yg ada d Indonesia sangat diperlukan untuk menjangkau daerah2 terpencil yg Ulama sendiri tidak bs datang kedaerah itu. Ingat Dinul Islam bukan milik orang perorang tp Allah dan Rasul yg berhak memberikaN CONTOH selain itu para Ulama yg memegang Quran dan Sunnah yang SHAHIH. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Yang mengharamkan TV itu justru tokoh-tokoh Wahhabi Internasional sendiri, Al-albani, Utsaimin dan Muqbil, mereka telah mengeluarkan Fatwa dari pribadi mereka sendiri. Tapi justru anak buahnya sendiri, Wahhabi Indonesia yang melanggar Fatwa-fatwa dari tokoh-tokoh Wahhabi Internasional dg mendirikan TV Rodja.

88.
Pengirim: sam  - Kota: Banjar
Tanggal: 30/7/2013
 
Saya tertarik dgn tanggapan Anda mengenai Bid'ah. Apakah ada hadist Nabi SAW yg menyatakan bid'ah itu terbagi dua; Hasanah dan dhololah. Setahu saya yang dimaksudkan bid'ah dhololah itu dalam kegiatan ibadah yg sdh jelas2 tuntunanannya dari Allah dan Rasul SAW. Kalau berdakwah lewat TV itu bukan bid'ah tidak hanya karena dijaman Rasul tidak ada TV. Hal ini semata mata karena kemajuan Iptek saja. Contoh lain kalau Nabi SAW makan tidak pakai sendok, kita pakai sendok, apa ini bid'ah juga. Anda berhaji naik pesawat, apa ini juga bid'ah. Kalau ini bid'ah anda mestinya naik haji pakai Unta saja supaya ibadah haji Anda tidak ada unsur bid'ahnya. Anda menulis pakai pen dan kertas, apaini bid'ah juga. Adzan pakaipengeras suara apa ini bid'ah juga. trus shalat pakai peci hitam atau celana panjang, bid'ah juga, dll masalah keduniaan saja yg bisa berubah dari masa ke masa. Anda sungguh lucu memahami hadist. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Anda ini Wahhabi yang lucu, karena anda dan kaum Wahhabi sudah menerjemahkan Sabda Nabi SAW Kullu bid'atin dhalalah itu, hanya terbatas pada urusan ibadah saja. Kapan Nabi SAW mengatakan dan membatasi yang demikian? Makanya dengan dasar pemahaman seperti anda juga kaum Wahhabi berani membagi bid'ah menjadi dua: 1. Bid'ah Diniyah (ibadah) dan 2. Bid'ah Duniawiyah (teknologi). Padahal Nabi SAW hanya secara datar saja mengatakan KULLU BID'ATIN DHALALAH, tanpa embel-embel lainnya.

Nah, pemahaman anda itu ternyata hanya berdasarkan Kontekstual Hadits semata kaan? Karena Nabi SAW tidak pernah mengatakan ada bid'ah dalam ibadah dan ada bid'ah dalam teknologi, kecuali hanya anda dan kaum Wahhabi yang mengatakan seperti itu. Kalau anda tidak percaya, coba hadirkan Hadits Nabi tentang pembagian itu !

Bahkan kaum Wahhabi yang pergi Haji saat ini juga, terang-terangan melanggar contoh langsung dari Nabi SAW, beliau bersabda: Khudzuu 'annii manasikakum (ambillah contoh dariku manasik haji kalian). Nabi SAW saat berangkat haji dari Madinah menuju Makkah memberi contoh dengan naik onta, demikian itu diikuti oleh para shahabat. Tapi orang Wahhabi jaman sekarang kan tidak mau pergi haji naik onta, ini pertanda ibadah hajinya berdasar kontekstual hadits semata. Tapi ngakunya sebagai kelompok pemurni agama. Padahal ibadah haji hukumnya WAJIB, itupun kaum Wahhabi berani berkreasi segala. Sedangkan kami hanya mengamalkan ibadah SUNNAH dengan dasar Iqra-uu yasiin 'alaa mautaakum, hanya saja kami beri istilah Tahlilan untuk mayit. Nah ternyata kaum Wahhabi jadi sewot menyikapi ibadah SUNNAH kami, dan dengan garangnya menuduh kami dalam kesesatan dan diancam neraka. Apa demikian ajaran Islam yang rahmatan lil 'aalamin itu?

Jadi yang paling bid'ah itu siapa sih?

Kelompok yang membagi Bid'ah menjadi Bid'ah Diniyah (Ibadah) dan Duniawiyah (Teknologi), atau yang membagi Bid'ah menjadi Bid'ah Dhalalah dan Bid'ah Hasanah.

Menurut kami kemajuan teknologi dan kreasi metode ibadah sunnah yang tidak bertentangan dengan syariat adalah BID'AH HASANAH yang sinonim dengan BID'AH MAQBULAH/BID'AH THAYYIBAH/NI'MATIL BID'ATU HADZIHI.
Jangan nge-les (menghindar) yaa jawabannya !


89.
Pengirim: ahmad sukera  - Kota: bogor
Tanggal: 31/7/2013
 
Assalamualaikum Wr Wb
Salam kenal , Ustad. Maaf cuma koreksi. awal mulanya saya mendengar Rodja namun radio selalu berakhir keras dan penuh dengan Bi'dah. namun saya mencari radio dakwah untuk mendengarkan dakwah yang islamiyah. pilihan jatuh di Rasil 720am. maaf banget, ustad salah menafsirkan bahwa Rasil sama dengan Rodja 720am.
Maafkan saya apabila salah berkata kata. jamaah saya pun sekarang lebih suka dengar 720 Rasil am dibandingkan Rodja
BarakAllahu Fikum 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Rodja menjadi corongnya kaum Wahhabi sedang Rasil menjadi corongnya kaum Syiah. Sebaiknya akhi baca artikel kami berjudul WAHHABI vs SYIAH agar akhi lebih mengenal Islam dg baik dan benar.

90.
Pengirim: sam  - Kota: Banjar
Tanggal: 31/7/2013
 
Saya sdh membaca banyak tentang tanggapan-tanggapan Anda di Media ini. Sebagian tanggapan itu saya nilai tidak memuaskan alias mempertahankan keyakinan NU Garis LURUS. Seberapa jauh keyakinan Anda terhadap NU Garis LURUS ini. Saya ingin bertanya dan mohon di jawab dgn dalil yang tegas baik dari AlQuran atau ALHadist yang shahih dari kitab-kitab yang masyhur jgn pendapat-pendapat Imam semata. Pertama tentang Tahlilan. Apakah ada kegiatan Tahlilan di masa Nabi SAW atau Sahabat generasi pertama seperti Tahlilan yg ada di Indonesia sekarang ini. Kedua, peringatan Maulid Nabi dgn membaca syai-syair tertentu yg bertujuan mencintai Rasul SAW apakah sdh ada di jaman Nabi SAW atau para sahabat. Ketiga, apakah Anda sdh memperoleh pengakuan dari Ustadz-ustadz TV Rodja bahwa mereka memang Wahabi. Keempat, nampaknya Anda tidak bisa membedakan antara makna yg diada-adakan dgn suatu kemajuan hasil pemikiran manusia. Nah, hasil pemikiran manusia yg berwujud kemajuan tidak boleh di katakan Bid'ah, apalagi Bid'ah Hasanah yg sekedar memberi lawan pada Bid'ah Dhololah, salah kafrah. Setiap pekerjaan yg bertujuan mendekatkan diri kepada Allah dinamakan Ibadah yg sdh pasti bersumber pada Quran dan Hadist yg kuat. Jadi kalau sekiranya melakukan pekerjaan yg dianggap ibadah yg tidak jelas asal usulnya sebaiknya ditinggalkan menuju kepada ibadah yg jelas-jelas diperintahkan. Sekedar saran saja jangan pernah takut kehilangan pengikut/ummat atau famor kita turun dan bisa menyeret kita kepada menyembunyikan yg Hak dan menyuburkan yg Bathil padahal Anda sendiri mengetahuinya. Wallahua'alam 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
1. Anda sewot dengan pegangan kami NU Garis Lurus yaa? Itu sih, biar anda tahu kalau Wahhabi yang anda bela itu adalah Garis Bengkok.

2. Sebenarnya kami agak malas merespon komentar anda, apalagi anda mengaku-ngaku sudah baca semua respon dari kami, karena permaslahan yang anda anggap 'bermasalah' justru sudah banyak kami angkat dalam artikel dengan dalil-dalil Alquran dan Haditsnya, namun rupanya anda masih belum mampu memahami dan mencernanya, jadi mengharuskan kam mengulang-ulang jawabannya, tapi kami pikir-pikir lagi, yaaa nggak apa lah, karena untuk memahamkan kaum awwam memang butuh berulang-ulang untuk disampaikan, bahkan bila perlu harus 100x untuk diulangi, agar anda benar-benar bisa paham.

(Padahal, anda dan kaum Wahhabi belum ada yang mampu menghadirkan tekstusal dalil untuk AMALAN BID'AH KAUM WAHHABI yang kami tulis dalam artikel khusus, mudah-mudahan anda masih mampu membaca dan memahaminya).

Secara lughah tahlilan berakar dari kata hallala yuhallilu tahlilan, artinya adalah membaca Laila
illallah.Istilah ini kemudian merujuk pada sebuah tradisi membaca kalimat dan doa- doa tertentu yang diambil dari ayat al- Qur’an,
dengan harapan pahalanya dihadiahkan untuk orang yang meninggal dunia. Biasanya tahlilan dilakukan selama 7 hari dari
meninggalnya seseorang, kemudian hari ke 40, 100, dan pada hari ke 1000 nya.

Begitu juga tahlilan sering dilakukan secara rutin pada
malam jum’at dan malam-malam tertentu lainnya. Bacaan ayat-ayat al-Qur’an yang dihadiahkan untuk mayit menurut pendapat
mayoritas ulama, boleh dan pahalanya bisa sampai kepada mayit tersebut. Berdasarkan beberapa dalil, diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan lainnya; Dari sahabat Ma’qal bin Yasar bahwa Rasulallah s.a.w. bersabda : surat Yasin adalah pokok dari al-Qur’an, tidak dibaca oleh
seseorang yang mengharap ridha Allah kecuali diampuni dosa-dosanya. Bacakanlah surat Yasin kepada orang-orang yang meninggal
dunia di antara kalian. (H.R. Abu Dawud, dll)

Adapun beberapa ulama juga berpendapat seperti Imam Syafi'i yang mengatakan bahwa disunahkan membacakan ayat-ayat al-Qur’an kepada mayit, dan jika sampai khatam al-Qur’an maka akan lebih baik.

Bahkan Imam Nawawi dalam kitab Majmu’-nya menerangkan bahwa tidak hanya tahlil dan do’a, tetapi juga disunahkan bagi orang
yang ziarah kubur untuk membaca ayat-ayat al-Qur’an lalu setelahnya diiringi berdo’a untuk mayit. Begitu juga Imam al-Qurthubi memberikan penjelasan bahwa, dalil yang dijadikan acuan oleh para ulama tentang sampainya pahala
kepada mayit adalah bahwa, Rasulallah saw pernah membelah pelepah kurma untuk ditancapkan di atas kubur dua sahabatnya
sembari bersabda “Semoga ini dapat meringankan keduanya di alam kubur sebelum pelepah ini menjadi kering”.

Imam al-Qurtubi kemudian berpendapat, jika pelepah kurma saja dapat meringankan beban si mayit, lalu bagaimanakah dengan
bacaan-bacaan al-Qur’an dari sanak saudara dan teman-temannya Tentu saja bacaan-bacaan al-Qur’an dan lain-lainnya akan lebih
bermanfaat bagi si mayit. Abul Walid Ibnu Rusyd juga mengatakan: Seseorang yang membaca ayat al-Qur’an dan menghadiahkan pahalanya kepada mayit, maka pahala itu bisa sampai kepada
mayit tersebut.

Dalil Naqli : Jamuan Makanan dalam Acara Tahlilan.
Dalam setiap acara tahlilan selain di hari wafatnya mayit (hari-hari duka cita), umumnya tuan rumah memberikan makanan kepada orang-orang yang mengikuti tahlilan. Selain sebagai sedekah yang pahalanya diberikan kepada mayit, juga untuk memotivasi tuan rumah agar selalu menghormati para tamu yang turut mendoakan keluarga yang meninggal dunia.

Dilihat dari sisi sedekah, bahwa dalam bentuk apapun sedekah merupakan sesuatu yang sangat dianjurkan. Memberikan makanan kepada orang lain dalah perbuatan yang sangat terpuji. Sabda Nabi Muhammad SAW: Dari Amr bin Abasah, ia berkata, saya mendatangi Rasulullah SAW kemudian saya bertanya: Wahai Rasul, apakah Islam itu? Rasulullah SAW menjawab: Bertutur kata yang baik dan menyuguhkan makanan. (HR Ahmad) Kaitannya dengan sedekah untuk mayit, pada masa Rasulullah SAW, jangankan makanan, kebun pun (harta yang sangat berharga) disedekahkan dan pahalanya diberikan kepada si mayit.

Dalam sebuah hadits shahih disebutkan: Dari Ibnu Abbas, sesungguhnya ada seorang laki-laki bertanya: Wahai Rasulullah SAW, Sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia, apakah ada manfaatnya jika aku bersedekah untuknya? Rasulullah menjawab: Ya...! Laki-laki itu berkata: tAku memiliki sebidang kebun, maka aku mempersaksikan kepadamu bahwa aku akan menyedekahkan kebun tersebut atas nama ibuku. (HR Tirimidzi).

Ibnu Qayyim al-Jawziyah dengan tegas mengatakan bahwa sebaik-baik amal yang dihadiahkan kepada mayit adalah memerdekakan budak, sedekah, istigfar, doa dan haji. Adapun pahala membaca Al-Qur'an secara sukarela dan pahalanya diberikan kepada mayit, juga akan sampai kepada mayit. Sebagaimana pahala puasa dan haji. (Ibnul Qayyim, ar-Ruh, hal 142).

Jika kemudian perbuatan tersebut dikaitkan dengan usaha untuk memberikan penghormatan kepada para tamu, maka itu merupakan perbuatan yang dianjurkan dalam Islam. Sabda Rasulullah SAW: Dari Abi Hurairah, ia berkata, Rasulullah bersabda: Barangsiapa yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, maka janganlah menyakiti tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, maka hormatilah tamunya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, hendaklah ia berkata dengan kebaikan atau (jika tidak bisa), diam.(HR Muslim).

Seorang tamu yang keperluannya hanya urusan bisnis atau sekedar ngobrol dan main catur harus diterima dan dijamu dengan baik, apalagi tamu yang datang untuk bertakziyah dan mendoakan mayit, sudah seharusnya lebih dihormati dan diperhatikan.

Hanya saja, kemampuan ekonomi harus tetap menjadi pertimbangan utama. Tidak boleh memaksakan diri untuk memberikan jamuan dalam acara tahlilan, apalagi sampai berhutang ke sana ke mari atau sampai mengambil harta anak yatim dan ahli waris yang lain. Hal tersebut jelas ridak dibenarkan.

Dalam kondisi seperti ini, sebaiknya perjamuan itu diadakan ala kadarnya. Dalam masyarakat kita biasanya kalau tuan rumah tidak mampu, maka para tetangga disekitarnya dengan suka rela membantu. Lain halnya jika memiliki kemampuan ekonomi yang sangat memungkinkan.

Selama tidak israf (berlebih-lebihan dan menghamburkan harta) atau sekedar menjaga gengsi, suguhan istimewa yang dihidangkan, dapat diperkenankan sebagai suatu bentuk penghormatan serta kecintaan kepada keluarga yang telah meninggal dunia. Dan yang tak kalah pentingnya masyarakat yang melakukan tahlilan hendaknya menata niat di dalam hati bahwa apa yang dilakukan itu semata-mata karena Allah SWT.


Tahlilan tidaklah bid'ah. Banyak dalil Al Qur’an, hadits maupun keterangan ulama yang menjelaskan tentang diperbolehkannya tahlil dan do’a atau pahala
yang ditujukan kepada orang yang sudah meninggal bisa sampai dan bermanfaat bagi orang yang meninggal tersebut, di antaranya:

QS. Muhammad ayat 19 “Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan”. (Muhammad:19) Ayat tersebut menerangkan bahwa orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan mendapatkan manfaat dari istighfar orang mukmin
lainnya.

Dalam Tafsir Al-Khazin dijelaskan: “Makna ayat ﻚﺒﻧﺬﻟ ﺮﻔﻐﺘﺳﺇ‎ adalah mohonlah ampunan bagi dosa-dosa keluargamu dan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, artinya selain keluargamu. Ini adalah penghormatan dari Allah ‘Azza wa Jalla kepada umat Muhammad, dimana Dia
memerintahkan Nabi-Nya untuk memohonkan ampun bagi dosa-dosa mereka, sedangkan Nabi SAW adalah orang yang dapat
memberikan syafa’at dan do’anya diterima” (Tafsir Al-Khazin, Juz VI, hal 180)

QS. Al-Hasyr 10 “Dan orang-orang yang beriman, serta anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka
dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang
dikerjakannya”

Mengenai ayat ini Syekh ‘Alaudin Ali bin Muhammad bin Ibrahim Al-Baghdadi memberikan penjelasan: “Artinya Kami menyamakan anak-anak mereka yang kecil dan yang dewasa dengan keimanan orang tua mereka. Yang dewasa
dengan keimanan mereka sendiri, sementara yang kecil dengan keimanan orang tuanya. Keislaman seorang anak yang masih kecil
diikutkan pada salah satu dari kedua orang tuanya. (Kami menyamakan kepada mereka keturunan mereka) artinya menyamakan
orang-orang mukmin di surga sesuai dengan derajat orang tua mereka, meskipun amal-amal mereka tidak sampai pada derajat amal
orang tua mereka. Hal itu sebagai penghormatan kepada orang tua mereka agar mereka senang. Keterangan ini diriwayatkan dari
Ibnu Abbas RA.” (Tafsir Al-Khazin, Juz VI, hal 250).

Penjelasan yang sama dapat dilihat dalam Tafsir Jami’ Al-Bayan karya Ibnu Jarir Al-Thabari Juz 28 hal. 15.
Beberapa ayat dan penafsiran tersebut menjadi bukti nyata bahwa orang yang beriman tidak hanya memperoleh pahala dari
perbuatannya sendiri.


Dalam hadits lain yang diriwayatkan dari Abi Sa’id Al-Khudri, Rasulullah SAW bersabda: “Dari Abi Sa’id al-Khudri RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah berkumpul suatu kaum sambil berdzikir kepada Allah
SWT, kecuali mereka akan dikelilingi malaikat, dan Allah SWT akan memberikan rahmat-Nya kepada mereka, memberikan ketenangan
hati dan memujinya di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya” (HR. Al-Muslim, 4868).

Syaikhul Islam Taqiyuddin Ahmad bin Taymiyah dalam kitab Fatwanya berkata, pendapat yang benar dan sesuai dengan
kesepakatan para imam, bahwa mayit dapat memperoleh manfaat dari semua ibadah, baik ibadah badaniyah (ibadah fisik) seperti
shalat, puasa, membaca Al-Qur’an, atau ibadah maliyah (ibadah materiil) seperti sedekah dan lain-lainnya. Hal yang sama juga
berlaku untuk berdo’a dan membaca istighfar bagi mayit.” (Hukm Al-Syariah Al-Islamiyah fi Ma’tamil Arba’in, 36)

Dalam kitab Nihayah al-Zain disebutkan: “Ibnu Hajar dengan mengutip Syarh Al-Mukhtar berkata, “Madzhab Ahlussunnah berpendapat bahwa seseorang dapat
menghadiahkan pahala amal dan do’anya kepada orang yang telah meninggal dunia. Dan pahalanya akan sampai
kepadanya.” (Nihayah Al-Zain, 19.3) Ibnu Qayyim Al-Jauziah berkata, “Sebaik-baik amal yang dihadiahkan kepada mayit adalah memerdekakan budak, sedekah,
istighfar, do’a, dan haji.

Adapun pahala membaca Al-Qur’an secara suka rela (tanpa mengambil upah) yang dihadiahkan kepada
mayit, juga sampai kepadanya. Sebagaimana pahala puasa dan haji” (Al-Ruh, 142).

Dari beberapa dalil hadits, Al Qur’an, hadits dari keterangan para ulama di atas dapat disimpulkan bahwa hukum tahlilan bukanlah
bid’ah dan pahala yang ditujukan kepada mayit bisa sampai dan bermanfaat bagi mereka.

91.
Pengirim: Kyai  - Kota: Probolinggo
Tanggal: 1/8/2013
 
Pengirim: sam - Kota: Banjar
Tanggal: 30/7/2013 Penjelasan Anda sangat lebih banyak emosionalnya. Jangan2 Anda takut kehilangan pengikut saja. Kalau betul yg didakwahkan Quran dan Sunnah pasti mendapat tantangan seperti Nabi SAW berdakwah, itu Sunnahnya. Jangan mengajarkan pada ummat untuk bercaCI maki. Apalagi Ulama harus santuk kalau mau diikut ummat.
--------------------------
Itu hanya pendapat anda. Emosional yang bagaimana dari pernyataan admin pejuangislam.com? coba beberkan jika anda memang seorang yang pintar. Jadi ulama itu intinya konsisten dengan doktrin/faham ahlussunnah wal jama’ah, urusan di ikuti ummat dan tidak itu bukan menjadi pembenar dan tidak ada relevansinya.

Pengirim: sam - Kota: Banjar
Tanggal: 30/7/2013 Penjelasan Anda nampaknya sangat emosional sehingga terkesan tidak adil. Bukankah Allah sdh melarang untuk membahas tentang ZatNya. Mengenai Bid'ah, hanya dalam ibadah. Islam sdh sempurna ajarannya dan satu-satunya contoh pelaksanaan ajaran Islam yg sempurna itu hanya dari Rasul SAW. Kalau Rasul melarang maka tinggalkan dan yg disuruk wajib dilaksanakan. Selama berpegang pd alQuran dan Sunnah pasti TIDAK SESAT. Ini jaminan Rasul SAW siapapun yg menyampaikan dan lewat media apapun. Boleh membenci tp harus tetap adil. Ini baru ajaran Islam yg lurus. Wallahua'lam
-----------------------------
Anda memang sengaja tidak menanggapi argumentasi admin pejuangislam.com, itu tandanya anda mengaku kalah dan tidak bisa menjawab dengan mmuaskan.
Dibagian mana yang anda sebut emosional? Dan tidak adil?
Bid’ah dalam hal ibadah bagaimana menurut anda?
Ana tantang anda debat berdua dengan ana di forum ini, untuk admin pejuangislam.com mohon izinkan saya saja yang menanggapi.
Ajaran Islam memang sudah sempurna, siapa yang bilang tidak sempurna. Adanya bid’ah hasanah itu bukan mengindikasikan bahwa ajaran Islam itu belum sempurna, tp bahkan sebaliknya bahwa bid’ah hasanah itu semakin menguatkan bahwa ajaran Islam itu sudah sempurna, karena bid’ah hasanah itu juga berdalil.
Ayat 3 dalam surat al-Maidah yang biasa tokoh wahabi sebutkan itu tidak
berkaitan dengan bid’ah hasanah. Karena yang dimaksud dengan
penyempurnaan agama dalam ayat tersebut, seperti dikatakan oleh para ulama
tafsir, adalah bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah menyempurnakan kaedah-kaedah
agama. Seandainya yang dimaksud dengan ayat tersebut, tidak boleh melakukan bid’ah hasanah, tentu saja para sahabat sepeninggal Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak akan melakukan bid’ah hasanah. Sayidina Abu Bakar menghimpun al-Qur’an, Sayyidina Umar menginstruksikan shalat tarawih secara berjamaah, dan Sayyidina Utsman menambah adzan Jum’at menjadi dua kali, serta beragam bid’ah hasanah lainnya yang diterangkan dalam kitab-kitab hadits. Dalam hal ini tak seorang pun dari kalangan sahabat yang menolak hal-hal baru tersebut dengan alasan ayat 3 surat al-Maidah. Jadi, ayat yang tokoh wahabi sebutkan tidak ada kaitannya dengan bid’ah hasanah. Justru bid’ah hasanah masuk dalam kesempurnaan agama, karena dalil-dalilnya terdapat
dalam sekian banyak hadits Rasul shallallahu alaihi wa sallam dan perilaku para
sahabat.

Pengirim: sam - Kota: Banjar
Tanggal: 30/7/2013 Kenapa TV Rodja sekarang tetap exist?
klo emang sesat laporin aja, knp ga bisa?
---------------------
Permasalahan sesat itu tidak bisa dikaitkan dengan laporan atau tidak. Apakah jika kesesatan jika tidak dilaporkan maka akan berubah menjadi kebenaran? Logika mana yang anda pakai?

Pengirim: sam - Kota: Banjar
Tanggal: 30/7/2013 Maaf Saya tidak paham jalan pikiran Anda. Anda seorang Ulama tp sepertinya tidak bisa memilah secara adil. Saya setuju nonton TV itu haram kalau yg ditonton yg diharamkan Allah dan Rasul SAW misalnya tontonan yg mengekspos aurat wanita. Tapi kalau yg ditonton siaran dakwah Islam yg sarat dengan kebenaran dan mengajak orang kepada kebaikan,apakah haram juga. Anda liat dunia sekarang ini sdh sangat maju. adzan pakai pengeras suara, tanda masuk waktu shalatpun pakai sirene apalagi khusus TV dakwah yg ada d Indonesia sangat diperlukan untuk menjangkau daerah2 terpencil yg Ulama sendiri tidak bs datang kedaerah itu. Ingat Dinul Islam bukan milik orang perorang tp Allah dan Rasul yg berhak memberikaN CONTOH selain itu para Ulama yg memegang Quran dan Sunnah yang SHAHIH.
-----------------------
Orang seperti anda ya tidak akan mudah faham dengan pemikiran Kyai Luthfi. Butuh banyak belajar, biar mengerti omongan orang.
Lihatl;ah al albani seorang muhaddist dadakan yang karena sombongnya dan kurang ajarnya MENGKAFIRKAN IMAM BUKHARI karena mentakwil salah satu ayat didalam firmanNya.
Bagaimana al Albani berani melontarkan pengkafiran terhadap Imam Bukhary dan mengatakan Imam Bukhary tidak beriman iman, dan kaum wahabi menganggap al Albani sebagai muhaddits? Sangat memalukan.

Pengirim: sam - Kota: Banjar
Tanggal: 30/7/2013 Saya tertarik dgn tanggapan Anda mengenai Bid'ah. Apakah ada hadist Nabi SAW yg menyatakan bid'ah itu terbagi dua; Hasanah dan dhololah. Setahu saya yang dimaksudkan bid'ah dhololah itu dalam kegiatan ibadah yg sdh jelas2 tuntunanannya dari Allah dan Rasul SAW. Kalau berdakwah lewat TV itu bukan bid'ah tidak hanya karena dijaman Rasul tidak ada TV. Hal ini semata mata karena kemajuan Iptek saja. Contoh lain kalau Nabi SAW makan tidak pakai sendok, kita pakai sendok, apa ini bid'ah juga. Anda berhaji naik pesawat, apa ini juga bid'ah. Kalau ini bid'ah anda mestinya naik haji pakai Unta saja supaya ibadah haji Anda tidak ada unsur bid'ahnya. Anda menulis pakai pen dan kertas, apaini bid'ah juga. Adzan pakaipengeras suara apa ini bid'ah juga. trus shalat pakai peci hitam atau celana panjang, bid'ah juga, dll masalah keduniaan saja yg bisa berubah dari masa ke masa. Anda sungguh lucu memahami hadist.
-------------------------
Apa definisi bid’ah menurut anda? Mohon sertakan dalilnya!
Para sahabat seperti sayyidina umar membagi ulama menjadi dua (Hasanah-Sayyi’ah), para ulama membagi bid’ah menjadi dua (termasuk imam syafi’i), bahkan imam nawawi membaginya menjadi lima. Lalu anda mengikuti pemahaman siapa?

Ini saya nukilkan pernyataan sayyidina umar:
“Abdurrahman bin Abd al-Qari berkata: “Suatu malam di bulan Ramadhan aku
pergi ke masjid bersama Umar bin al-Khaththab. Ternyata orang-orang di masjid
berpencar-pencar dalam sekian kelompok. Ada yang shalat sendirian. Ada juga
yang shalat menjadi imam beberapa orang. Lalu Umar radhiyallahu anhu
berkata: “Aku berpendapat, andaikan mereka aku kumpulkan dalam satu imam,
tentu akan lebih baik”. Lalu beliau mengumpulkan mereka pada Ubay bin Ka’ab.
Malam berikutnya, aku ke masjid lagi bersama Umar bin al-Khaththab, dan
mereka melaksanakan shalat bermakmum pada seorang imam. Menyaksikan hal
itu, Umar berkata: “Sebaik-baik bid’ah adalah ini. Tetapi menunaikan shalat di
akhir malam, lebih baik daripada di awal malam”. Pada waktu itu, orang-orang
menunaikan tarawih di awal malam.” (HR. al-Bukhari [2010]).

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah menganjurkan shalat tarawih
secara berjamaah. Beliau hanya melakukannya beberapa malam, kemudian
meninggalkannya. Beliau tidak pernah pula melakukannya secara rutin setiap
malam. Tidak pula mengumpulkan mereka untuk melakukannya. Demikian pula
pada masa Khalifah Abu Bakar radhiyallahu’anhu. Kemudian Umar radhiyallahu’anhu mengumpulkan mereka untuk melakukan shalat tarawih pada seorang imam dan menganjurkan mereka untuk melakukannya. Apa yang beliau lakukan ini tergolong bid’ah. Tetapi bid’ah hasanah, karena itu beliau mengatakan: “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”. Lebih faham mana sayyidina umar dengan anda mengenai bid’ah? Apa yg dilakukan oleh sayyidina umar ini adalah bid’ah dalam hal ibadah.

“Al-Sa’ib bin Yazid radhiyallahu anhu berkata: “Pada masa Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar adzan Jum’at pertama dilakukan setelah
imam duduk di atas mimbar. Kemudian pada masa Utsman, dan masyarakat
semakin banyak, maka beliau menambah adzan ketiga di atas Zaura’, yaitu
nama tempat di Pasar Madinah.” (HR. al-Bukhari [916]).
Pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar adzan
Jum’at dikumandangkan apabila imam telah duduk di atas mimbar. Pada masa
Utsman, kota Madinah semakin luas, populasi penduduk semakin meningkat,
sehingga mereka perlu mengetahui dekatnya waktu Jum’at sebelum imam hadir
ke mimbar. Lalu Utsman menambah adzan pertama, yang dilakukan di Zaura’,
tempat di Pasar Madinah, agar mereka segera berkumpul untuk menunaikan
shalat Jum’at, sebelum imam hadir ke atas mimbar. Semua sahabat yang ada pada waktu itu menyetujuinya. Apa yang beliau lakukan ini termasuk bid’ah,
tetapi bid’ah hasanah dan dilakukan hingga sekarang oleh kaum Muslimin. Benar
pula menamainya dengan sunnah, karena Utsman termasuk Khulafaur Rasyidin
yang sunnahnya harus diikuti berdasarkan hadits sebelumnya.
Selanjutnya, beragam inovasi dalam amaliah keagamaan juga dipraktekkan oleh
para sahabat secara individu. Dalam kitab-kitab hadits diriwayatkan, beberapa
sahabat seperti Umar bin al-Khaththab, Abdullah bin Umar, Anas bin Malik, al-
Hasan bin Ali dan lain-lain menyusun doa talbiyah-nya ketika menunaikan ibadah
haji berbeda dengan redaksi talbiyah yang datang dari Nabi shallallahu alaihi wa
sallam. Para ulama ahli hadits seperti al-Hafizh al-Haitsami meriwayatkan dalam
Majma’ al-Zawaid, bahwa Anas bin Malik dan al-Hasan al-Bashri melakukan
shalat Qabliyah dan Ba’diyah shalat idul fitri dan idul adhha.
Berangkat dari sekian banyak hadits-hadits shahih di atas, serta perilaku para
sahabat, para ulama akhirnya berkesimpulan bahwa bid’ah terbagi menjadi dua,
bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah. Al-Imam al-Syafi’i, seorang mujtahid pendiri
madzhab al-Syafi’i berkata:

Pengirim: sam - Kota: Banjar
Tanggal: 31/7/2013 Saya sdh membaca banyak tentang tanggapan-tanggapan Anda di Media ini. Sebagian tanggapan itu saya nilai tidak memuaskan alias mempertahankan keyakinan NU Garis LURUS. Seberapa jauh keyakinan Anda terhadap NU Garis LURUS ini. Saya ingin bertanya dan mohon di jawab dgn dalil yang tegas baik dari AlQuran atau ALHadist yang shahih dari kitab-kitab yang masyhur jgn pendapat-pendapat Imam semata. Pertama tentang Tahlilan. Apakah ada kegiatan Tahlilan di masa Nabi SAW atau Sahabat generasi pertama seperti Tahlilan yg ada di Indonesia sekarang ini. Kedua, peringatan Maulid Nabi dgn membaca syai-syair tertentu yg bertujuan mencintai Rasul SAW apakah sdh ada di jaman Nabi SAW atau para sahabat. Ketiga, apakah Anda sdh memperoleh pengakuan dari Ustadz-ustadz TV Rodja bahwa mereka memang Wahabi. Keempat, nampaknya Anda tidak bisa membedakan antara makna yg diada-adakan dgn suatu kemajuan hasil pemikiran manusia. Nah, hasil pemikiran manusia yg berwujud kemajuan tidak boleh di katakan Bid'ah, apalagi Bid'ah Hasanah yg sekedar memberi lawan pada Bid'ah Dhololah, salah kafrah. Setiap pekerjaan yg bertujuan mendekatkan diri kepada Allah dinamakan Ibadah yg sdh pasti bersumber pada Quran dan Hadist yg kuat. Jadi kalau sekiranya melakukan pekerjaan yg dianggap ibadah yg tidak jelas asal usulnya sebaiknya ditinggalkan menuju kepada ibadah yg jelas-jelas diperintahkan. Sekedar saran saja jangan pernah takut kehilangan pengikut/ummat atau famor kita turun dan bisa menyeret kita kepada menyembunyikan yg Hak dan menyuburkan yg Bathil padahal Anda sendiri mengetahuinya. Wallahua'alam
-----------------------
Wahabi: Apakah ada kegiatan Tahlilan di masa Nabi SAW atau Sahabat generasi pertama seperti Tahlilan yg ada di Indonesia sekarang ini.

Sunni: Tahlilan terambil dari kosa kata tahlil, yang dalam bahasa Arab diartikan dengan mengucapkan kalimat la ilaha illallah. Sedangkan tahlilan, merupakan sebuah
bacaan yang komposisinya terdiri dari beberapa ayat al- Qur'an, shalawat, tahlil,
tasbih dan tahmid, yang pahalanya dihadiahkan kepada orang yang masih hidup
maupun sudah meninggal, dengan prosesi bacaan yang lebih sering dilakukan
secara kolektif (berjamaah), terutama dalam hari-hari tertentu setelah kematian
seorang Muslim. Dikatakan tahlilan, karena porsi kalimat la ilaha illallah dibaca
lebih banyak dari pada bacaan- bacaan yang lain.

Akan tetapi berkaitan dengan tradisi tahlilan, hemat saya itu bukan tradisi Indonesia atau
Jawa. Kalau kita menyimak fatwa Syaikh Ibn Taimiyah al-Harrani, tradisi tahlilan
telah berkembang sejak sebelum abad ketujuh Hijriah, Dalam kitab Majmu'
Fatawa Syaikh al-Islam Ibn Taimiah disebutkan:
"Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah ditanya, tentang seseorang yang memprotes ahli
dzikir (berjamaah) dengan berkata kepada mereka, "Dzikir kalian ini bid'ah,
mengeraskan suara yang kalian lakukan juga bid'ah". Mereka memulai dan
menutup dzikirnya dengan al-Qur'an, lalu mendo’akan kaum Muslimin yang
masih hidup maupun yang sudah meninggal. Mereka mengumpulkan antara
tasbih, tahmid, tahlil, takbir, hauqalah (laa haula wa laa quwwata illa billaah) dan
shalawat kepada Nabi SAW. Lalu Ibn Taimiyah menjawab: "Berjamaah dalam
berdzikir, mendengarkan al-Qur'an dan berdoa adalah amal shaleh, termasuk
qurbah dan ibadah yang paling utama dalam setiap waktu. Dalam Shahih al-
Bukhari, Nabi SAW bersabda, "Sesungguhrrya Allah memiliki banyak Malaikat
yang selalu bepergian di muka bumi. Apabila mereka bertemu dengan
sekumpulan orang yang berdzikir kepada Allah, maka mereka memanggil,
"Silahkan sampaikan hajat kalian", lanjutan hadits tersebut terdapat redaksi,
"Kami menemukan mereka bertasbih dan bertahmid kepada-Mu"... Adapun
memelihara rutinitas aurad (bacaan-bacaan wirid) seperti shalat, membaca'a Qur'an, berdzikir atau berdoa, setiap pagi dan sore serta padi sebagian waktu
malam dan lain-lain, hal ini merupakan tradisi Rasulullah SAW dan hamba-hamba
Allah yang saleh, zaman dulu dan sekarang.” (Majmu’ Fatawa Ibn
Taimiyah, juz 22, hal. 520)

Wahabi: Peringatan Maulid Nabi dgn membaca syai-syair tertentu yg bertujuan mencintai Rasul SAW apakah sdh ada di jaman Nabi SAW atau para sahabat

Sunni: Sejak dahulu, kelahiran nabi memang selalu di peringati, bahkan oleh Rasul sendiri. Peringatan Maulid Nabi SAW itu adalah pernyataan kegembiraan dan kebahagiaan dengan kelahiran Beliau SAW. Bahkan orang kafir pun dapat mengambil manfaat dengan kelahiran Beliau SAW. Imam Bukhari meriwayatkan, bahwa Abu Lahab pada setiap hari Senin, selalu mendapat keringanan siksaan dari Allah, karena dia pernah memerdekakan budaknya yang bernama Tsuwaibah, tatkala sang budak memberi informasi kepadanya, bahwa keponakan Abu Lahab telah lahir sebagai bayi laki-laki, yaitu Muhammad. Mendengar informasi keponakannya sudah lahir, maka secara spontanitas Abu Lahab bergembira, dan kegembiraan itu dicetuskan dengan memerdekakan Tsuwaibah sang budak pembawa informasi. Riwayat ini dapat dibaca secara lengkap dalam kitab Shahih Bukhari, pada Kitabun Nikaah. Dinukil pula oleh Alhafidz Ibnu Hajar di dalam kitab Fathul Baari, serta diriwayatkan oleh para ulama antara lain Imam Abdur Razzaq Asshon`ani dalam kitab Almushannaf juz 7, oleh Alhafidz dalam kitab Addalail, oleh Ibnu Katsir dalam kitab Sirah Nabawiyyah bagian dari Albidayah, oleh Ibnud Dabi` Assyaibani dalam kitab Hadaiqul anwar, oleh Albaghawi dalam kitab syarhus sunnah, oleh Ibnu Hisyam dan Assuhaili dalam kitab Raudhul unuf, oleh Al`amiri dalam kitab Bahjatul mahafil, oleh Albaihaqi dalan kitab sunannya.

Nabi SAW menghormati dan memuliakan hari kelahirannya sendiri, dan bersyukur kepada Allah atas ni`mat yang paling besar itu, serta kedermawanan Allah yang telah menciptakan diri Beliau SAW ke alam dunia, karena dengan kelahirannya itu maka bergembiralah seluruh alam semesta. Beliau SAW mencetuskan kegembiraannya itu dengan cara berpuasa, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya, bahwa Beliau SAW ditanya tentang sebab Beliau SAW berpuasa pada setiap hari Senin, maka Beliau menjawab : `Pada hari itu aku dilahirkan, dan pada hari itu pula pertama kali Alquran diturunkan kepadaku`. Amalan Nabi SAW inilah yang termasuk menjadi landasan hukum bolehnya memperingati Maulid Nabi SAW, hanya saja terdapat perbedaan teknis pelaksanaannya antara cara Nabi SAW memperingati hari kelahirannya, dengan cara kita memperingatii hari kelahiran Nabi SAW.

Dewasa ini orang menghormati Maulid Nabi SAW dengan cara bersedekah memberi makan kepada orang lain, atau berkumpul bersama untuk berdzikir kepada Allah, atau bersama-sama membaca shalawat Nabi SAW, atau mendengarkan pembacaan sejarah hidup Nabi SAW, sedang Nabi SAW sendiri merayakan hari kelahirannya dengan cara berpuasa pada setiap hari Senin. Jadi, subtansinya tetap sama yaitu sama-sama menghormati hari kelahiran Nabi SAW. Tentunya, jika cara-cara yang diamalkan dalam memperingati hari kelahiran Nabi SAW tidak bertentangan dengan ajaran syariat Islam dan tidak berlawanan dengan ayat Alquran maupun Hadits, maka dapat dikatakan bahwa memperingati hari kelahiran Nabi SAW itu adalah termasuk sunnah Nabi SAW.

Sesungguhnya bergembira dengan keberadaan Nabi SAW adalah implementasi dari ayat Alquran yang artinya : `Katakanlah (wahai Muhammad kepada umatmu), dengan adanya kedermawanan Allah dan rahmat-Nya, maka hendaklah mereka bergembira`. Lihatlah, Allah memerintahkan kita agar bergembira terhadap rahmat yang diturunkan-Nya, padahal kelahiran dan keberadaan Nabi SAW di dunia ini adalah paling agung-agungnya rahmat Allah, hal itu sesuai dengan firman-Nya yang artinya : `Tidaklah Aku utus engkau (wahai Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam`.

Wahabi: Apakah Anda sdh memperoleh pengakuan dari Ustadz-ustadz TV Rodja bahwa mereka memang Wahabi

Sunni: Kami tidak perlu pengakuan bahwa mereka adalah Wahabi. Kamu tanya saja, bagaimana profil Syaik Muhammad Ibn Abdul Wahhab kepada mereka?. Dan stigma wahabi itu kami yang menyebutnya karena mereka mengharamkan tawasul, tabarruk, tahlilan, maulid, dlsb. Yang kesemuanya itu adalah doktrin wahabi.

Wahabu: Nampaknya Anda tidak bisa membedakan antara makna yg diada-adakan dgn suatu kemajuan hasil pemikiran manusia

Sunni: Sebetulnya tidak faham itu adalah anda. Argumentasi2 anda sudah saya luruskan.

Dan yang perlu anda fahami wahabi Paman Sam dari Banjar :
Sesuatu yang tidak pemah dikerjakan oleh Rasulullah SAW itu belum tentu dilarang atau tidak boleh. Jika Sesuatu yang tidak pemah dikerjakan oleh Rasulullah SAW pasti TERLARANG, mana dalilnya???

Giliran saya tanya :
bagaimana Anda menanggapi doa-doa yang
disusun oleh para sahabat yang belum pernah diajarkan oleh Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam? Bagaimana dengan doa al-Imam Ahmad bin Hanbal
dalam sujud ketika shalat selama 40 tahun yang berbunyi:
“Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Saya mendoakan al-Imam al-Syafi’i dalam
shalat saya selama empat puluh tahun. Saya berdoa, “Ya Allah ampunilah aku,
kedua orang tuaku dan Muhammad bin Idris al-Syafi’i.” (Al-Hafizh al-Baihaqi,
Manaqib al-Imam al-Syafi’i, 2/254).

Doa seperti itu sudah pasti tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam, para sahabat dan tabi’in. Tetapi al-Imam Ahmad bin Hanbal
melakukannya selama empat puluh tahun


 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Ini adalah tambahan ilmu untuk Sam, Banjar,

92.
Pengirim: sam  - Kota: Banjar
Tanggal: 1/8/2013
 
Pertama saya ucapkan terimakasih atas tanggapan Anda yg begitu panjang namun jujur saya akui tanggapan Anda tidak memuaskan saya. Anda sangat lebih banyak mengajukan pendapat-pendapat para Imam dan sejauh yang saya kaji mereka pun banyak yang berselisih pendapat. Jadi yang mana yang bisa diambil sebagai hujjah untuk melaksanan pekerjaan yang dianggap ibadah apalagi mengharap ridhoNya Allah. Lagi pula Anda hanya bisa mengkaitkan-kaitkan nash-nash yang bisa dihubungkan. Secara keseluruhan kegiatan Tahlilan yang sangat digemborkan dan dilestarikan NU ini memang tidak pernah ada dimasa Nabi SAW, para sahabat baik generasi pertama,kedua atau ketiga. Kalau memang Tahlilan seperti ini disyariatkan dalam Islam niscaya bertebaranlah hadist-hadist yg menjelaskan tentang Tahlil tst baik dari sisi bacan-bacaannya, waktu dan pelaksanaanya terlebih-lebih manfaatnya yg konon bisa over-over pahala kepada si mayit. Kalau ini dianggap pekerjaan yg sangat berpahala, mengapa tidak ada petunjuk dari ALLah dan Rasulnya, seperti halnya shalat, puasa, zakat dan haji. Dalam Tanggapan Anda jelaskan bahwa surat An Najam ayat 39 itu mansukh. Kalau demikian akan ada ayat-ayat lain yang dimansukh karena maknanya senada itu. Ada beberapa ayat di AlQuran yang sama maknanya yaitu tentang tidak bisanya over-over pahala apalagi dosa, bahkan penjelasan AlQuran ini sangat didukung oleh hadist-hadist yang shahih baik dari sahabat atau dari istri Nabi SAW sendiri Siti A'isyah.
Anda belum menjawab pertanyaan saya yang lain. Perlu Anda ketahui bahwa menuduh orang sesat bukan perkara yang ringan, sungguh ia perkara yg BERAT disisi Allah SWT. Seingat saya Anda belum menjelaskan siapa WAHABI yg Anda klaim sesat itu. Apakah Ulama-ulama di Saudi Arabia Wahabi semuahanya hanya karena mereka menentang Tahlilan. Setahu saya tokoh Wahabi yg sesat itu ABDUL WAHHAB bin ROSTUM, yg hidup abad ketiga hijriah,jadi wajar kalau alirannya disebut Wahabi. Sedangkan ulama yg sangat terkenal di Saudi Arabia yang menjadi rujukan sampai sekarang adalah SYEH MUHAMMAD bin ABDUL WAHHAB yg hidup pada abad ke sebelas hijrial. Kalau beliau ini disebut tokoh Wahabi salah kafrah,karena nama beliau Muhammad bukan Wahhab. Sudahlah saya kira sdh banyak tanggapan teman-teman yg senada d media ini.
Berikut saya akan sampaikan sebuah kutipan :
Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) memutuskan bahwa selamatan kenduri kematian setelah hari wafat, hari ketiga, ketujuh dll adalah : MAKRUH, RATAPAN TERLARANG, BID’AH TERCELA (BID’AH MADZMUMAH), OCEHAN ORANG-ORANG BODOH.
Berikut apa yang tertulis pada keputusan itu :
MUKTAMAR I NAHDLATUL ULAMA (NU)
KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER MUKTAMAR I NAHDLATUL ULAMA (NU)
KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926
TENTANG
KELUARGA MAYIT MENYEDIAKAN MAKAN KEPADA PENTAKZIAH
1926 TENTANG KELUARGA MAYIT MENYEDIAKAN MAKAN KEPADA PENTAKZIAH
Hukumnya keluarga mayat menyediakan makanan untuk hidangan kepada mereka yang datang berta’ziah pada hari wafatnya atau hari-hari berikutnya, dengan maksud bersedekah untuk mayat tersebut? Apakah keluarga memperoleh pahala sedekah tersebut?
Menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh itu hukumnya MAKRUH, apabila harus dengan cara berkumpul bersama-sama dan pada hari-hari tertentu, sedang hukum makruh tersebut tidak menghilangkan pahala itu.
KETERANGAN :
Dalam kitab I’anatut Thalibin Kitabul Janaiz:
“MAKRUH hukumnya bagi keluarga mayit ikut duduk bersama orang-orang yang sengaja dihimpun untuk berta’ziyah dan membuatkan makanan bagi mereka, sesuai dengan hadits riwayat Ahmad dari Jarir bin Abdullah al Bajali yang berkata: ”kami menganggap berkumpul di (rumah keluarga) mayit dengan menyuguhi makanan pada mereka, setelah si mayit dikubur, itu sebagai bagian dari RATAPAN ( YANG DILARANG ).”
Dalam kitab Al Fatawa Al Kubra disebutkan :
“Beliau ditanya semoga Allah mengembalikan barokah-Nya kepada kita. Bagaimanakah tentang hewan yang disembelih dan dimasak kemudian dibawa di belakang mayit menuju kuburan untuk disedekahkan ke para penggali kubur saja, dan tentang yang dilakukan pada hari ketiga kematian dalam bentuk penyediaan makanan untuk para fakir dan yang lain, dan demikian halnya yang dilakukan pada hari ketujuh, serta yang dilakukan pada genap sebulan dengan pemberian roti yang diedarkan ke rumah-rumah wanita yang menghadiri proses ta’ziyah jenazah.
Mereka melakukan semua itu tujuannya hanya sekedar melaksanakan kebiasaan penduduk setempat sehingga bagi yang tidak mau melakukannya akan dibenci oleh mereka dan ia akan merasa diacuhkan. Kalau mereka melaksanakan adat tersebut dan bersedekah tidak bertujuan (pahala) akhirat, maka bagaimana hukumnya, boleh atau tidak? Apakah harta yang telah ditasarufkan, atas keingnan ahli waris itu masih ikut dibagi/dihitung dalam pembagian tirkah/harta warisan, walau sebagian ahli waris yang lain tidak senang pentasarufan sebagaian tirkah bertujuan sebagai sedekah bagi si mayit selama satu bulan berjalan dari kematiannya. Sebab, tradisi demikian, menurut anggapan masyarakat harus dilaksanakan seperti “wajib”, bagaimana hukumnya.”
Beliau menjawab bahwa semua yang dilakukan sebagaimana yang ditanyakan di atas termasuk BID’AH YANG TERCELA tetapi tidak sampai haram (alias makruh), kecuali (bisa haram) jika prosesi penghormatan pada mayit di rumah ahli warisnya itu bertujuan untuk “meratapi” atau memuji secara berlebihan (rastsa’).
terhadap seseorang yang batal (karena hadast) shalatnya untuk menutup hidungnya dengan tangan (seakan-akan hidungnya keluar darah). Ini demi untuk menjaga kehormatan dirinya, jika ia berbuat di luar kebiasaan masyarakat.Dalam melakukan prosesi tersebut, ia harus bertujuan untuk menangkal “OCEHAN” ORANG-ORANG BODOH (yaitu orang-orang yang punya adat kebiasaan menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh, dst-penj.), agar mereka tidak menodai kehormatan dirinya, gara-gara ia tidak mau melakukan prosesi penghormatan di atas. Dengan sikap demikian, diharapkan ia mendapatkan pahala setara dengan realisasi perintah Nabi
Tirkah tidak boleh diambil / dikurangi seperti kasus di atas. Sebab tirkah yang belum dibagikan mutlak harus disterilkan jika terdapat ahli waris yang majrur ilahi. Walaupun ahli warisnya sudah pandai-pandai, tetapi sebagian dari mereka tidak rela (jika tirkah itu digunakan sebelum dibagi kepada ahli waris).
SELESAI, KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926
 REFERENSI : Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Hukum Islam, Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004 M), halaman 15-17), Pengantar: Rais ‘Am PBNU, DR.KH.MA Sahal Mahfudh, Penerbit Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Jawa Timur dan Khalista, cet.III, Pebruari 2007.
 CATATAN : Madzhab Syafi’i berpendapat bahwa bacaan atau amalan yang pahalanya dikirimkan/dihadiahkan kepada mayit adalah tidak dapat sampai kepada si mayit. Lihat: Imam an-Nawawi dalam Syarah Muslim 1 : 90 dan Takmilatul Majmu’ Syarah Muhadzab 10:426, Fatawa al-Kubro (al-Haitsami) 2:9, Hamisy al-Umm (Imam Muzani) 7:269, al-Jamal (Imam al-Khozin) 4:236, Tafsir Jalalain 2:19 Tafsir Ibnu Katsir ttg QS. An-Najm : 39, dll.

Akhirnya, semoga tulisan bisa membuka sedikit nalar Anda untuk tidak sembarangan mengambil dasar hukuk dalam melaksanan perintah Agama. Ketahuilah bahwa saya dulu juga seperti Anda. Tapi semakin saya ngotot saya semakin terpojok dengan nash-nash AlQuran dan AlHadist shahih dari kitab-kitab yg masyhur. Semoga amal ibadah kita mendapat ridho dari Allah SAW. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Sekali lagi kami hanya bicara tentang MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB ANNAJDI (BAPAK WAHHABI DUNIA) yang menjadi mitra Ibnu Saud. Kami sama sekali tidak membicarakan Abdul Wahhab bin Abdurrahman bin Rustum .
Anda harus baca kitab Fitnatul Wahabiyah karya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, I’tirofatul Jasus AI-Injizy pengakuan Mr. Hempher, Daulah Utsmaniyah dan Khulashatul Kalam karya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, dan lain-lain.
Nama Aliran Wahabi ini diambil dari nama pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab (lahir di Najed tahun 1111 H / 1699 M). Asal mulanya dia adalah seorang pedagang yang sering berpindah dari satu negara ke negara lain dan diantara negara yang pernah disinggahi adalah Baghdad, Iran, India dan Syam.

Kemudian pada tahun 1125 H / 1713 M, dia terpengaruh oleh seorang orientalis Inggris bernama Mr. Hempher yang bekerja sebagai mata-mata Inggris di Timur Tengah. Sejak itulah dia menjadi alat bagi Inggris untuk menyebarkan ajaran barunya.

Inggris memang telah berhasil mendirikan sekte-sekte bahkan agama baru di tengah umat Islam seperti Ahmadiyah dan Baha’i. Bahkan Muhammad bin Abdul Wahab ini juga termasuk dalam target program kerja kaum kolonial dengan alirannya Wahabi.
Mulanya Muhammad bin Abdul Wahab hidup di lingkungan sunni pengikut madzhab Hanbali, bahkan ayahnya Syaikh Abdul Wahab adalah seorang sunni yang baik, begitu pula guru-gurunya. Namun sejak semula ayah dan guru-gurunya mempunyai firasat yang kurang baik tentang dia bahwa dia akan sesat dan menyebarkan kesesatan. Bahkan mereka menyuruh orang-orang untuk berhati-hati terhadapnya.

Ternyata tidak berselang lama firasat itu benar. Setelah hal itu terbukti ayahnya pun menentang dan memberi peringatan khusus padanya. Bahkan kakak kandungnya, Sulaiman bin Abdul Wahab, ulama’ besar dari madzhab Hanbali, menulis buku bantahan kepadanya dengan judul As-Sawa’iqul Ilahiyah Fir Raddi Alal Wahabiyah. Tidak ketinggalan pula salah satu gurunya di Madinah, Syekh Muhammad bin Sulaiman AI-Kurdi as-Syafi’i, menulis surat berisi nasehat:

“Wahai Ibn Abdil Wahab, aku menasehatimu karena Allah, tahanlah lisanmu dari mengkafirkan kaum muslimin, jika kau dengar seseorang meyakini bahwa orang yang ditawassuli bisa memberi manfaat tanpa kehendak Allah, maka ajarilah dia kebenaran dan terangkan dalilnya bahwa selain Allah tidak bisa memberi manfaat maupun madharrat, kalau dia menentang bolehlah dia kau anggap kafir, tapi tidak mungkin kau mengkafirkan As-Sawadul A’dham (kelompok mayoritas) diantara kaum muslimin, karena engkau menjauh dari kelompok terbesar, orang yang menjauh dari kelompok terbesar lebih dekat dengan kekafiran, sebab dia tidak mengikuti jalan muslimin.

Sebagaimana diketahui bahwa madzhab Ahlus Sunah sampai hari ini adalah kelompok terbesar. Allah berfirman yang artinya: “Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu (Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan) dan kami masukkan ia ke dalam jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali (QS: An-Nisa 115)

Salah satu dari ajaran yang (diyakini oleh Muhammad bin Abdul Wahab, adalah mengkufurkan kaum muslim sunni yang mengamalkan tawassul, ziarah kubur, maulid nabi, dan lain-lain. Berbagai dalil akurat yang disampaikan ahlussunnah wal jama’ah berkaitan dengan tawassul, ziarah kubur serta maulid, ditolak tanpa alasan yang dapat diterima. Bahkan lebih dari itu, justru berbalik mengkafirkan kaum muslimin sejak 600 tahun sebelumnya, termasuk guru-gurunya sendiri.

Pada satu kesempatan seseorang bertanya pada Muhammad bin Abdul Wahab Annajdi, Berapa banyak Allah membebaskan orang dari neraka pada bulan Ramadhan??

Dengan segera dia menjawab, “Setiap malam Allah membebaskan 100 ribu orang, dan di akhir malam Ramadhan Allah membebaskan sebanyak hitungan orang yang telah dibebaskan dari awal sampai akhir Ramadhan”

Lelaki itu bertanya lagi “Kalau begitu pengikutmu tidak mencapai satu person pun dari jumlah tersebut, lalu siapakah kaum muslimin yang dibebaskan Allah tersebut? Dari manakah jumlah sebanyak itu? Sedangkan engkau membatasi bahwa hanya pengikutmu saja yang muslim.

Mendengar jawaban itu Ibn Abdil Wahab pun terdiam seribu bahasa. Sekalipun demikian Muhammad bin Abdul Wahab tidak menggubris nasehat ayahnya dan guru-gurunya itu.

Dengan berdalihkan pemurnian ajaran Islam, dia terus menyebarkan ajarannya di sekitar wilayah Najed. Orang-orang yang pengetahuan agamanya minim banyak yang terpengaruh.

Termasuk diantara pengikutnya adalah penguasa Dar’iyah, Muhammad bin Saud (meninggal tahun 1178 H / 1765 M) pendiri dinasti Saudi, yang dikemudian hari menjadi mertuanya.

Dia mendukung secara penuh dan memanfaatkannya untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Ibn Saud sendiri sangat patuh pada perintah Muhammad bin Abdul Wahab. Jika dia menyuruh untuk membunuh atau merampas harta seseorang dia segera melaksanakannya dengan keyakinan bahwa kaum muslimin telah kafir dan syirik selama 600 tahun lebih, dan membunuh orang musyrik dijamin surga.

Sejak semula Muhammad bin Abdul Wahab sangat gemar mempelajari sejarah nabi-nabi palsu, seperti Musailamah Al-Kadzdzab, Aswad Al-Ansiy, Tulaihah Al-Asadiy dll. Agaknya dia punya keinginan mengaku nabi, ini tampak sekali ketika ia menyebut para pengikut dari daerahnya dengan julukan Al-Anshar, sedangkan pengikutnya dari luar daerah dijuluki Al-Muhajirin.

Kalau seseorang ingin menjadi pengikutnya, dia harus mengucapkan dua syahadat di hadapannya kemudian harus mengakui bahwa sebelum masuk Wahabi dirinya adalah musyrik, begitu pula kedua orang tuanya.

Dia juga diharuskan mengakui bahwa para ulama2 besar sebelumnya telah mati kafir. Kalau mau mengakui hal tersebut dia diterima menjadi pengikutnya, kalau tidak dia pun langsung dibunuh.

Muhammad bin Abdul Wahab juga sering merendahkan Nabi SAW dengan dalih pemurnian akidah, dia juga membiarkan para pengikutnya melecehkan Nabi di hadapannya, sampai-sampai seorang pengikutnya berkata :
“Tongkatku ini masih lebih baik dari Muhammad, karena tongkat-ku masih bisa digunakan membunuh ular, sedangkan Muhammad telah mati dan tidak tersisa manfaatnya sama sekali. Muhammad bin Abdul Wahab di hadapan pengikutnya tak ubahnya seperti Nabi di hadapan umatnya.

Pengikutnya semakin banyak dan wilayah kekuasaan semakin luas. Keduanya bekerja sama untuk memberantas tradisi yang dianggapnya keliru dalam masyarakat Arab, seperti tawassul, ziarah kubur, peringatan Maulid dan sebagainya. Tak mengherankan bila para pengikut Muhammad bin Abdul Wahab lantas menyerang makam-makam yang mulia.

Bahkan, pada 1802, mereka menyerang Karbala-Irak, tempat dikebumikan jasad cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali bin Abi Thalib. Karena makam tersebut dianggap tempat munkar yang berpotensi syirik kepada Allah. Dua tahun kemudian, mereka menyerang Madinah, menghancurkan kubah yang ada di atas kuburan, menjarah hiasan-hiasan yang ada di Hujrah Nabi Muhammad.

Keberhasilan menaklukkan Madinah berlanjut. Mereka masuk ke Mekkah pada 1806, dan merusak kiswah, kain penutup Ka’bah yang terbuat dari sutra. Kemudian merobohkan puluhan kubah di Ma’la, termasuk kubah tempat kelahiran Nabi SAW, tempat kelahiran Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Ali, juga kubah Sayyidatuna Khadijah, masjid Abdullah bin Abbas. Mereka terus menghancurkan masjid-masjid dan tempat-tempat kaum solihin sambil bersorak-sorai, menyanyi dan diiringi tabuhan kendang. Mereka juga mencaci-maki ahli kubur bahkan sebagian mereka kencing di kubur kaum solihin tersebut.

Gerakan kaum Wahabi ini membuat Sultan Mahmud II, penguasa Kerajaan Usmani, Istanbul-Turki, murka. Dikirimlah prajuritnya yang bermarkas di Mesir, di bawah pimpinan Muhammad Ali, untuk melumpuhkannya. Pada 1813, Madinah dan Mekkah bisa direbut kembali.

Gerakan Wahabi surut. Tapi, pada awal abad ke-20, Abdul Aziz bin Sa’ud bangkit kembali mengusung paham Wahabi. Tahun 1924, ia berhasil menduduki Mekkah, lalu ke Madinah dan Jeddah, memanfaatkan kelemahan Turki akibat kekalahannya dalam Perang Dunia I. Sejak itu, hingga kini, paham Wahabi mengendalikan pemerintahan di Arab Saudi. Dewasa ini pengaruh gerakan Wahabi bersifat global.

Riyadh mengeluarkan jutaan dolar AS setiap tahun untuk menyebarkan ideologi Wahabi. Sejak hadirnya Wahabi, dunia Islam tidak pernah tenang penuh dengan pergolakan pemikiran, sebab kelompok ekstrem itu selalu menghalau pemikiran dan pemahaman agama Sunni-Syafi’i yang sudah mapan.

Kekejaman dan kejahilan Wahabi lainnya adalah meruntuhkan kubah-kubah di atas makam sahabat-sahabat Nabi SAW yang berada di Ma’la (Mekkah), di Baqi’ dan Uhud (Madinah) semuanya diruntuhkan dan diratakan dengan tanah dengan mengunakan dinamit penghancur.

Demikian juga kubah di atas tanah Nabi SAW dilahirkan, yaitu di Suq al Leil diratakan dengan tanah dengan menggunakan dinamit dan dijadikan tempat parkir onta.
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=413723665364286&set=a.104389446297711.6773.100001799685063&type=1&theater

Anda juga harus baca:
Kebohongan Wahabi Seputar Kenduren dan Selamatan Kematian
Oleh: Muhammad Idrus Ramli (Alumnus Ponpes Sidogiri)

Pada tanggal 23 Juli 2011, penulis mengisi acara Daurah pemantapan Ahlussunnah Wal-Jama’ah di Pondok Pesantren Sunan Pandan Aran, Sleman Yogyakarta yang diasuh oleh KH. Mu’tashim Billah Mufid. Dalam acara tersebut, salah seorang peserta mengajukan pertanyaan kepada penulis tentang hukum selamatan kematian, di mana dalam selebaran Manhaj Salaf, media siluman kaum Wahabi, selamatan atau suguhan makanan kematian dianggap haram secara mutlak. Selebaran tersebut banyak melakukan pelintiran dan distorsi terhadap pernyataan para ulama madzhab Syafi’i dalam kitab-kitab fiqih mu’tabaroh. Ulama menyatakan makruh, selebaran tersebut merubahnya menjadi haram.

Oleh karena itu, catatan ini akan mengupas secara ringkas tentang hukum suguhan kematian menurut para ulama. Suguhan makanan yang dibuat oleh keluarga duka cita kepada orang-orang yang berta’ziyah, diperselisihkan di kalangan ulama menjadi 3 pendapat. Pertama, pendapat yang menyatakan makruh. Pendapat ini diikuti oleh mayoritas ulama madzhab empat, seperti dikutip oleh Syaikh al-Bakri dalam kitab I’anah al-Thalibin dengan mengutip fatwa gurunya, Sayyid Ahmad Zaini Dahlan berikut ini:

مَا يَفْعَلُهُ النَّاسُ مِنَ اْلاِجْتِمَاعِ عِنْدَ أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصُنْعِ الطَّعَامِ مِنَ الْبِدَعِ الْمُنْكَرَةِ (2/145) وَفِيْ حَاشِيَةِ الْعَلاَّمَةِ الْجَمَلِ عَلَى شَرْحِ الْمَنْهَجِ وَمِنَ الْبِدَعِ الْمُنْكَرَةِ وَالْمَكْرُوْهِ فِعْلُهَا مَا يَفْعَلُهُ النَّاسُ مِنَ الْوَحْشَةِ وَالْجُمَعِ وَاْلأَرْبَعِيْنَ بَلْ كُلُّ ذَلِكَ حَرَامٌ إِنْ كَانَ مِنْ مَالِ مَحْجُوْرٍ أَوْ مِنْ مَيِّتٍ عَلَيْهِ دَيْنٌ أَوْ يَتَرَتَّبُ عَلَيْهِ ضَرَرٌ أَوْ نَحْوُ ذَلِكَ اهـ (2/146) وَلاَ شَكَّ أَنَّ مَنْعَ النَّاسِ مِنْ هَذِهِ الْبِدْعَةِ الْمُنْكَرَةِ فِيْهِ إِحْيَاءٌ لِلسُّنَّةِ وَإِمَاتَةٌ لِلْبِدْعَةِ وَفَتْحٌ لِكَثِيْرٍ مِنْ أَبْوَابِ الْخَيْرِ وَغَلْقٌ لِكَثِيْرٍ مِنْ أَبْوَابِ الشَّرِّ فَإِنَّ النَّاسَ يَتَكَلَّفُوْنَ تَكَلُّفًا كَثِيْرًا يُؤَدِّيْ إِلَى أَنْ يَكُوْنَ ذَلِكَ الصُّنْعُ مُحَرَّمًا (2/146).

“Apa yang dilakukan oleh manusia berupa berkumbul di rumah keluarga duka cita dan menyediakan makanan adalah termasuk perbuatan bid’ah yang munkar. Dalam Hasyiyah al-Jamal diterangkan, “Di antara bid’ah yang munkar adalah tradisi selamatan (kenduri) kematian yang disebut wahsyah, juma’, dan arba’in (nama-nama tradisi di Hijaz). Bahkan semua itu dihukumi haram apabila makanan tersebut diambil dari harta mahjur ‘alaih (orang yang belum dibolehkan mentasarufkan hartanya seperti anak yang belum dewasa), atau harta si mati yang memiliki hutang, atau dapat menimbulkan madarat pada si mati tersebut dan sesamanya.” Tidak diragukan lagi bahwa mencegah manusia dari bid’ah yang munkar ini, dapat menghidupkan sunnah, mematikan bid’ah, membuka sekian banyak pintu-pintu kebaikan dan menutup sekian banyak pintu-pintu kejelekan. Karena manusia yang melakukannya telah banyak memaksakan diri yang membawa pada hukum keharaman.” (Syaikh al-Bakri, I’anah al-Thalibin, juz 2 hal. 145-146).

Demikian fatwa Sayyid Ahmad Zaini Dahlan al-Syafi’i yang dikutip oleh Syaikh al-Bakri dalam I’anah al-Thalibin. Kesimpulan dari fatwa tersebut adalah sebagai berikut. Pertama, selamatan pada hari kematian, sampai hari ketujuh dan hari empat puluh adalah makruh, apabila makanan yang disediakan berasal dari harta keluarga si mati. Kedua, selamatan tersebut bisa menjadi haram, apabila makanan disediakan dari harta mahjur ‘alaih (orang yang tidak boleh mengelola hartanya seperti anak yatim/belum dewasa), atau dari harta si mati yang mempunyai hutang, atau dapat menimbulkan madarat dan sesamanya. Demikian kesimpulan fatwa Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan yang bermadzhab Syafi’i. Fatwa yang sama juga dikemukakan oleh ulama madzhab Hanafi, Maliki dan Hanbali. Meski demikian, apabila makanan yang disediakan kepada penta’ziyah tersebut berasal dari bantuan para tetangga, maka status hukum makruhnya menjadi hilang dan berubah menjadi tidak makruh. Hal ini seperti dikemukakan oleh Syaikh Abdul Karim Bayyarah al-Baghdadi, mufti madzhab Syafi’i di Iraq, dalam kitabnya Jawahir al-Fatawa. Dalam hal ini, ia berkata:

اِنِ اجْتَمَعَ الْمُعِزُّوْنَ الرُّشَدَاءُ وَأَعْطَى كُلٌّ مِنْهُمْ بِاخْتِيَارِهِ مِقْدَارًا مِنَ النُّقُوْدِ أَوْ جَمَعُوْا فِيْمَا بَيْنَهُمْ مَا يُكْتَفَى بِهِ لِذَلِكَ الْجَمْعِ مِنَ الْمَأْكُوْلاَتِ وَالْمَشْرُوْبَاتِ وَأَرْسَلُوْهُ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ أَوْ إِلَى أَحَدِ جِيْرَانِهِمْ وَتَنَاوَلُوْا ذَلِكَ بَعْدَ الْوُصُوْلِ اِلَى مَحَلِّ التَّعْزِيَةِ فَلاَ حَرَجَ فِيْهِ هَذَا وَاللهُ الْهَادِيْ إِلَى الْحَقِّ وَالصَّوَابِ.

“Apabila orang-orang yang berta’ziyah yang dewasa berkumpul, lalu masing-masing mereka menyerahkan sejumlah uang, atau mengumpulkan sesuatu yang mencukupi untuk konsumsi perkumpulan (selamatan kematian) berupa kebutuhan makanan dan minuman, dan mengirimkannya kepada keluarga si mati atau salah satu tetangganya, lalu mereka menjamahnya setelah sampai di tempat ta’ziyah itu, maka hal tersebut tidak mengandung hukum kesulitan (tidak apa-apa). Allah lah yang menunjukkan pada kebenaran.” (Jawahir al-Fatawa, juz 1, hal. 178).

Kedua, pendapat yang menyatakan boleh atau mubah. Pendapat ini diriwayatkan dari Khalifah Umar, Sayyidah Aisyah dan Imam Malik bin Anas. Riwayat dari Khalifah Umar bin al-Khatthab disebutkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar sebagai berikut:

عَنِ الْأَحْنَفِ بْنِ قَيْسٍ قَالَ كُنْتُ أَسْمَعُ عُمَرَ رضي الله عنه يَقُوْلُ لاَ يَدْخُلُ أَحَدٌ مِنْ قُرَيْشٍ فِيْ بَابٍ إِلَّا دَخَلَ مَعَهُ نَاسٌ فَلاَ أَدْرِيْ مَا تَأْوِيْلُ قَوْلِهِ حَتَّى طُعِنَ عُمَرُ رضي الله عنه فَأَمَرَ صُهَيْبًا رضي الله عنه أَنْ يُصَلِّيَ بِالنَّاسِ ثَلاَثًا وَأَمَرَ أَنْ يُجْعَلَ لِلنَّاسِ طَعَاماً فَلَمَّا رَجَعُوْا مِنَ الْجَنَازَةِ جَاؤُوْا وَقَدْ وُضِعَتِ الْمَوَائِدُ فَأَمْسَكَ النَّاسُ عَنْهَا لِلْحُزْنِ الَّذِيْ هُمْ فِيْهِ. (المطالب العالية، 5/328).

“Dari Ahnaf bin Qais, berkata: “Aku mendengar Umar berkata: “Seseorang dari kaum Quraisy tidak memasuki satu pintu, kecuali orang-orang akan masuk bersamanya.” Aku tidak mengerti maksud perkataan beliau, sampai akhirnya Umar ditusuk, lalu memerintahkan Shuhaib menjadi imam sholat selama tiga hari dan memerintahkan menyediakan makanan bagi manusia. Setelah mereka pulang dari jenazah Umar, mereka datang, sedangkan hidangan makanan telah disiapkan. Lalu mereka tidak jadi makan, karena duka cita yang menyelimuti.” (Al-Hafizh Ibnu Hajar, al-Mathalib al-‘Aliyah, juz 5 hal. 328).

Hal yang sama juga dilakukan oleh Sayyidah Aisyah, istri Nabi SAW. Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya:

عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهَا كَانَتْ إِذَا مَاتَ الْمَيِّتُ مِنْ أَهْلِهَا فَاجْتَمَعَ لِذَلِكَ النِّسَاءُ ثُمَّ تَفَرَّقْنَ إِلاَّ أَهْلَهَا وَخَاصَّتَهَا أَمَرَتْ بِبُرْمَةٍ مِنْ تَلْبِيْنَةٍ فَطُبِخَتْ ثُمَّ صُنِعَ ثَرِيْدٌ فَصُبَّتْ التَّلْبِيْنَةُ عَلَيْهَا ثُمَّ قَالَتْ كُلْنَ مِنْهَا فَإِنِّيْ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ اَلتَّلْبِيْنَةُ مُجِمَّةٌ لِفُؤَادِ الْمَرِيْضِ تُذْهِبُ بَعْضَ الْحُزْنِ. رواه مسلم.

“Dari Urwah, dari Aisyah, istri Nabi SAW, bahwa apabila seseorang dari keluarga Aisyah meninggal, lalu orang-orang perempuan berkumpul untuk berta’ziyah, kemudian mereka berpisah kecuali keluarga dan orang-orang dekatnya, maka Aisyah menyuruh dibuatkan talbinah (sop atau kuah dari tepung dicampur madu) seperiuk kecil, lalu dimasak. Kemudian dibuatkan bubur. Lalu sop tersebut dituangkan ke bubur itu. Kemudian Aisyah berkata: “Makanlah kalian, karena aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Talbinah dapat menenangkan hari orang yang sedang sakit dan menghilangkan sebagian kesusahan.” (HR. Muslim [2216]).

Dua hadits di atas mengantarkan pada kesimpulan bahwa pemberian makanan oleh keluarga duka cita kepada orang-orang yang berta’ziyah tidak haram. Khalifah Umar berwasiat, agar para penta’ziyah diberi makan. Sementara Aisyah, ketika ada keluarganya meninggal, menyuruh dibuatkan kuah dan bubur untuk diberikan kepada keluarga, orang-orang dekat dan teman-temannya yang sedang bersamanya. Dengan demikian, tradisi pemberian makan kepada para penta’ziyah telah berlangsung sejak generasi sahabat Nabi SAW.

Demikian pula Imam Malik bin Anas, pendiri madzhab Maliki, berpandangan bahwa hidangan kematian yang telah menjadi tradisi masyarakat dihukumi jaiz (boleh), dan tidak makruh. Dalam konteks ini, Syaikh Abdullah al-Jurdani berkata:

يَجُوْزُ مِنْهُ مَا جَرَتْ بِهِ الْعَادَةُ عِنْدَ الْإِماَمِ مَالِكٍ كَالْجُمَعِ وَنَحْوِهَا وَفِيْهِ فُسْحَةٌ كَمَا قَالَهُ الْعَلاَّمَةُ الْمُرْصِفِيُّ فِيْ رِسَالَةٍ لَهُ.

“Hidangan kematian yang telah berlaku menjadi tradisi seperti tradisi Juma’ dan sesamanya adalah boleh menurut Imam Malik. Pandangan ini mengandung keringanan sebagaimana dikatakan oleh al-Allamah al-Murshifi dalam risalahnya.” (Syaikh Abdullah al-Jurdani, Fath al-‘Allam Syarh Mursyid al-Anam, juz 3 hal. 218).

Ketiga, pendapat yang mengatakan sunnat. Pendapat ini diriwayatkan dari kaum salaf sejak generasi sahabat yang menganjurkan bersedekah makanan selama tujuh hari kematian untuk meringankan beban si mati. Dalam hal ini, al-Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dalam kitab al-Zuhd:

عَنْ سُفْيَانَ قَالَ قَالَ طَاوُوْسُ إِنَّ الْمَوْتَى يُفْتَنُوْنَ فِيْ قُبُوْرِهِمْ سَبْعاً فَكَانُوْا يَسْتَحِبُّوْنَ أَنْ يُطْعَمَ عَنْهُمْ تِلْكَ الْأَياَّمَ.

“Dari Sufyan berkata: “Thawus berkata: “Sesungguhnya orang yang mati akan diuji di dalam kubur selama tujuh hari, karena itu mereka (kaum salaf) menganjurkan sedekah makanan selama hari-hari tersebut.”

Hadits di atas diriwayatkan al-Imam Ahmad bin Hanbal dalam al-Zuhd, al-Hafizh Abu Nu’aim dalam Hilyah al-Auliya’ (juz 4 hal. 11), al-Hafizh Ibnu Rajab dalam Ahwal al-Qubur (32), al-Hafizh Ibnu Hajar dalam al-Mathalib al-‘Aliyah (juz 5 hal. 330) dan al-Hafizh al-Suyuthi dalam al-Hawi lil-Fatawi (juz 2 hal. 178). Menurut al-Hafizh al-Suyuthi, hadits di atas diriwayatkan secara mursal dari Imam Thawus dengan sanad yang shahih. Hadits tersebut diperkuat dengan hadits Imam Mujahid yang diriwayatkan oleh Ibnu Rajab dalam Ahwal al-Qubur dan hadits Ubaid bin Umair yang diriwayatkan oleh Imam Waki’ dalam al-Mushannaf, sehingga kedudukan hadits Imam Thawus tersebut dihukumi marfu’ yang shahih.

Demikian kesimpulan dari kajian al-Hafizh al-Suyuthi dalam al-Hawi lil-Fatawi. Tradisi bersedekah kematian selama tujuh hari berlangsung di Kota Makkah dan Madinah sejak generasi sahabat, hingga abad kesepuluh Hijriah, sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh al-Suyuthi.

Berdasarkan paparan di atas, dapat kita simpulkan bahwa tradisi hidangan makanan dari keluarga duka cita untuk orang-orang yang berta’ziyah masih diperselisihkan di kalangan ulama salaf sendiri antara pendapat yang mengatakan makruh, mubah dan sunnat. Di antara mereka tidak ada pendapat yang menyatakan haram. Bahkan untuk selamatan tujuh hari, berdasarkan riwayat Imam Thawus, justru dianjurkan oleh kaum salaf sejak generasi sahabat dan berlangsung di Makkah dan Madinah hingga abad kesepuluh Hijriah. Wallahu a’lam.

Kami sudah menjawab banyak hal tentang permasalahan yang anda tidak paham-paham sekalipun mengaku sudah sering membacanya. Sekarang anda dan kaum Wahhabi pelaku Bid’ah siapapun adanya dan sepandai apapun orangnya, kami jamin tidak akan pernah dapat mencarikan dalil-dalil secara langsung, tekstual dan harfiyah (bukan maknawiyah) bagi amalan Ibadah Bid’ahnya kaum Wahhabi sbb:

AMALAN BID’AH ORANG WAHHABI

Luthfi Bashori

Orang Wahhabi memang tampak aneh bin ajaib, mereka gemar sekali menuduh umat Islam melakukan amal perbuatan yang mereka tuduhkan sebagai Bid’ah dhalalah/sesat, seperti umat Islam yang pada bulan Sya’ban ini sedang giat-giatnya mengadakan pembacaan shalawat keliling, karena ayat perintah bershalawat itu turunnya adalah di bulan Sya’ban.

Bahkan orang Wahhabi berani mengancam umat Islam yang mereka tuduh sebagai pelaku bid’ah sesat itu akan dimasukkan neraka. Tentunya yang dimaksiud Bid’ah oleh orang Wahhabi adalah Bid’ah yang sesuai dengan definisi mereka sendiri, bukan Bid’ah berdasarkan definisi para ulama salaf.

Adapun definisi Bid’ah sesat yang diyakini oleh orang Wahhabi adalah: Segala amal perbuatan yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW maupun oleh para shahabat secara mutlak maka dinamakan Bid’ah, contohnya Nabi SAW dan para shahabat tidak pernah melakukan pembacaan shalawat keliling.

Intinya orang Wahhabi selalu mengatakan, bahwa hukum semua amal perbuatan itu pada dasarnya adalah dilarang (haram) sehingga ditemukan dalil Alquran maupun Hadits shahih yang memperbolehkannya. Bahkan secara kaku, orang Wahhabi memandang jika ada amalan yang hanya didasari oleh dalil hadits (bukan ayat Alquran), maka hadits yang dapat diterima itu terbatas pada Hadits SHAHIH saja.

Dengan demikian, hampir semua umat Islam di dunia ini tidak ada yang luput dari tuduhan sebagai pelaku bid’ah oleh kaum Wahhabi. Karena orang Wahhabi menganggap bahwa kebanyakan amal perbuatan umat Islam itu tidak didasari dalil secara tekstual (harfi) baik dari Alquran maupun Hadits shahih (tidak dicontohkan secara langsung oleh Nabi SAW)

Orang Wahhabi sering kali menolak dalil kontekstual (ma’nawi) dari Alquran maupun Hadits, jika menghukumi suatu amalan yang dilakukan oleh umat Islam. Misalnya Allah perintah: Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian bershalawat dan bersalam kepada Nabi dengan sebenar-benar salam..!

Kemudian umat Islam mengarang redaksi shalawat dengan berbagai macam bentuk kalimatnya dan metode pembacaan, sebut saja shalawat Burdah, shalawat Nariyah, shalawat Alfatih, dan sebagainya. Maka dengan mudahnya orang Wahhabi mengatakan bahwa macam-macam bentuk redaksi shalawat ini adalah Bid’ah, karena Nabi SAW tidak pernah mengajarkan secara langsung redaksi shalawat Burdah, shalawat Nariyah, shalawat Alfatih dan sebagainya, sekalipun shalawat-shalawat ini telah diamalkan oleh umat Islam di seluruh dunia.

Namun runyamnya, di sisi lain orang Wahhabi sendiri ternyata banyak mengamalkan perbuatan Bid’ah yang tidak didasari dalil secara tekstual baik dari Alquran maupun Hadtsi shahih itu sendiri (tidak pernah dicontohkan secara langsung oleh Nabi SAW).

Jadi, pada hakikatnya orang Wahhabi itu kerap melanggar keyakinan yang mereka buat sendiri, sehingga jika diteliti, banyak sekali amalan-amalan mereka yang tidak luput dari perbuatan Bid’ah sesuai dengan definisi mereka itu.

Coba diteliti amalan-amalan yang menjadi keyakinan orang Wahhabi sebagai berikut:

1. Tatkala umat Islam mempertanyakan mengapa orang Wahhabi dewasa ini menggunakan mobil saat bepergian, padahal Nabi SAW dan para Shahabat tidak pernah naik mobil? Maka untuk nge-les (menghindar) dari pertanyaan semacam ini, orang Wahhabi tiba-tiba secara serampangan membagi Bid’ah itu menjadi dua, yaitu Bid’ah Diniyah, seperti Bid’ahnya naik mobil dan Bid’ah Duniawiyah seperti Bid’ahnya shalawat Burdah, shalawat Nariyah, shalawat Alfatih dan sebagainya. Padahal pembagian yang dilakukan oleh orang Wahhabi ini jelas-jelas tidak berdasar satupun dari dalil secara tekstual baik dari Alquran mapun Hadits Shahih. Artinya baik Alquran maupun Hadits tidak pernah membagi Bid’ah menjadi Diniyah dan Duniawiyah.

2. Nabi SAW perintah: Khudzuu ‘anni manaasikakum (Ambillah/contohlah dariku manasik (tata cara haji)-mu (HR. Muslim). Saat itu Nabi SAW pergi haji dari Madinah menuju Makkah adalah dengan naik onta. Jika saja kaum Wahhabi jujur dalam dakwah sesuai yang diyakininya, maka sudah seharusnya mereka juga jika pergi haji adalah dengan naik onta, karena mengikuti sunnah Nabi SAW ini, bukan naik pesawat maupun mobil. Tapi kenyataannya tidak demikian.

3. Orang Wahhabi menyakini bahwa Tauhid itu dibagi menjadi tiga, yaitu Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah, dan Tauhid Asma wa shifat. Pembagian ini juga tidak bedasar dalil secara tekstual baik dari Alquran maupun Hadits shahih manapun.

4. Kaum Wahhabi selalu mensyaratkan bahwa amalan yang sah menurut syariat itu dalam pandangan mereka, harus didasari oleh Hadits shahih (selain Alquran). Padahal aturan penggunaan Haditsh Shahih ini bukan berasal dari tekstual ayat Alquran maupun Hadits Nabi SAW sendiri. Namun ketentuan itu hanyalah berdasarkan pemahaman orang Wahhabi sendiri.

5. Belum lagi pembagian derajat hadits menjadi Shahih, Hasan dan Dhaif, itu juga hakikatnya tidak berdasarkan tekstual Alquran maupun Hadits Nabi SAW, namun hanyalah hasil ijtihad para ulama ahli Hadits. Anehnya orang Wahhabi terpaksa menerima ijtihad para ulama ini sekalipun bukan berdasarkan dari tekstual dalil.

6. Jika datang bulan Ramadhan, orang Wahhabi Suadi Arabiah mengadakan Shalat Tahajjud berjamaah sebulan suntuk, dengan memilih waktu khusus di bulan Ramadhan (dari awwal hingga akhir bulan Ramadhan) seperti yang dilakukan di Masjidil Haram Makkah dan Masjid Nabawi Madinah dan diimami oleh tokoh-tokoh Wahhabi. Tradisi tata cara amalan berjamaah Tahajjud sebulan suntuk yang dikhususkan pada bulan Ramadhan ini jelas-jelas tidak pernah dicontohkan oleh Nabi SAW.

7. Bilal Shalat Tahajjudnya juga orang Wahhabi dan mengucapkan: Shalaatul Qiyaami atsaabakumullah, sebelum shalat tahajjud di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, bacaan ini termasuk bid`ah karena tidak pernah dilakukan oleh Nabi maupun para Shahabat.

8. Orang Wahhabi dewasa ini juga berdakwah menggunakan media radio, kaset, CD, TV Rodja, internet dan media cetak, ini termasuk amalan bid`ah yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi SAW maupun para Shahabat.

9. Orang Wahhabi Indonesia juga mendirikan perkumpulan yang sering diberi nama Salafi Indonesia. Ini juga tidak ada tuntunannya baik dari Alquran maupun Hadits shahih.

10. Orang Wahhabi juga mendirikan sekolah formal dengan sistem klasikal, ini termasuk bid`ah yang tanpa ada dasar tekstual dalil Alquran mupun Hadits.

11. Orang Waahabi tidak menolak penulisan Alquran menjadi buku dan diperbanyak lewat percatakan dan huruf tulisan modern, padahal amalan pencetakan Alquran ini tidak ada di jaman Nabi SAW maupun para shahabat.

12. Orang Wahhabi juga menerima upaya pengelompokan Hadits shahih dalam satu buku karangan seperti kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, padahal termasuk bid`ah yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi SAW maupun para Shahabat.

13. Penerjemahan Alquran ke dalam berbagai bahasa, seperti yang diterbitkan oleh Depag, adalah termasuk bid`ah menurut definisi orang Wahhabi sendiri, bahkan di Indonesia, terjemahan Depag ini sering dijadikan kitab rujukan bagi orang Wahhabi Indonesia sendiri.

14. Orang Wahhabi mengaku-ngaku sebagai penerus ulama Salaf, pengakuan ini juga tidak ada dasarnya secara tekstual baik dari Alquran maupun hadits shahih.

15. Masih banyak amal perbuatan orang Wahhabi yang tergolong Bid’ah, menurut definisi orang Wahhabi sendiri, karena amal perbuatan mereka itu tidak didasari oleh dalil secara tekstual baik dari Alquran maupun Hadits shahih. Padahal, dalam pemahaman kaum Wahhabi, bahwa semua Bid’ah itu adalah sesat, tanpa kecuali. Jadi amalan kaum Wahhabi sebagaimana tersebut di atas, tentunya juga harus dihukumi SESAT



93.
Pengirim: Adnan  - Kota: tenggarong
Tanggal: 1/8/2013
 
antum harus berdebat ilmiah secara terbuka dengan pihak rodja tv, jangan hanya berkomentar di internet, supaya jelas letak masalahnya, yg mana yg benar dan yg mana yg salah, supaya sesama muslim bisa saling memperbaiki 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Masalahnya sudah jelas, bahwa TV RODJA itu BID'AHNYA Kaum Wahhabi menurut definisi dari kaum Wahhabi sendiri. Apalagi tiga orang pentolan Wahhabi (Al-Albani, Utsaimin dan Muqbil) sudah mengharamkan tayangan TV.

94.
Pengirim: sam  - Kota: Banjar
Tanggal: 1/8/2013
 
Terimakasih atas tanggapan anda yg sangat panjang,
Kesan saya adalah ternyata Anda seorang yg keras hati dan sarat gengsi. Bagaimana tidak, berulang kali Allah memperingatkan TAATILAH ALLAH dan TAATILAH RASUL bahkan pula dalam sebuah hadist Nabi SAW bersabda "Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak ada contohnya dari kami (kata Rasul), maka amalan itu tertolak". Dan juga Anda tidak malu dengan keputusan Muktamar NU sendiri yg jelas -jelas menyatakan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) memutuskan bahwa selamatan kenduri kematian setelah hari wafat, hari ketiga, ketujuh dll adalah : MAKRUH, RATAPAN TERLARANG, BID’AH TERCELA (BID’AH MADZMUMAH), OCEHAN ORANG-ORANG BODOH. Perlu Anda sadari bahwa Nabi SAW orang yg paling tinggi derajatnya dihadapan Allah SWT, manusia yg paling saleh yg pernah ada dimuka bumi, tidak berani membuat syariat sendiri tanpa bimbingan wahyu dari Allah SWT. Bagaimana dgn Imam-Imam yg sengaja membikin bacaan-bacaan shalawat sendiri. Padahal Rasul SAW sdh mencontohkannya dengan sangat singkat dan mudah untuk dihafal bagi siapa saja.Kalau Rasul yang mencontohkan pasti berpahala.Ingatlah beragama BUKAN dengan SELERA. Kalau Anda tetap ngotot memodifikasi syariat Agama sehingga tidak ada contohnya,itu sama halnya Anda tidak percaya sempurnanya Agama Islam dan Kerasulan Nabi Muhammad SAW. Karena bagaimana mungkin PENDAPAT-PENDAPAT bisa mengalahkan nash ALQURAN dan SUNNAH.
Sekian 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
TAATILAH ALLAH dan TAATILAH RASUL

Inilah aqidah dan amaliah kaum Wahhabi yang dibuat-buat sendiri oleh mereka tanpa ada ketaatan kepada Allah dan Rasul SAW.

Kaum Wahhabi membuat syariat sendiri di luar ajaran Islam.

1. Tatkala umat Islam mempertanyakan mengapa orang Wahhabi dewasa ini menggunakan mobil saat bepergian, padahal Nabi SAW dan para Shahabat tidak pernah naik mobil? Maka untuk nge-les (menghindar) dari pertanyaan semacam ini, orang Wahhabi tiba-tiba secara serampangan membagi Bid’ah itu menjadi dua, yaitu Bid’ah Diniyah, seperti Bid’ahnya naik mobil dan Bid’ah Duniawiyah seperti Bid’ahnya shalawat Burdah, shalawat Nariyah, shalawat Alfatih dan sebagainya. Padahal pembagian yang dilakukan oleh orang Wahhabi ini jelas-jelas tidak berdasar satupun dari dalil secara tekstual baik dari Alquran mapun Hadits Shahih. Artinya baik Alquran maupun Hadits tidak pernah membagi Bid’ah menjadi Diniyah dan Duniawiyah.

2. Nabi SAW perintah: Khudzuu ‘anni manaasikakum (Ambillah/contohlah dariku manasik (tata cara haji)-mu (HR. Muslim). Saat itu Nabi SAW pergi haji dari Madinah menuju Makkah adalah dengan naik onta. Jika saja kaum Wahhabi jujur dalam dakwah sesuai yang diyakininya, maka sudah seharusnya mereka juga jika pergi haji adalah dengan naik onta, karena mengikuti sunnah Nabi SAW ini, bukan naik pesawat maupun mobil. Tapi kenyataannya tidak demikian.

3. Orang Wahhabi menyakini bahwa Tauhid itu dibagi menjadi tiga, yaitu Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah, dan Tauhid Asma wa shifat. Pembagian ini juga tidak bedasar dalil secara tekstual baik dari Alquran maupun Hadits shahih manapun.

4. Kaum Wahhabi selalu mensyaratkan bahwa amalan yang sah menurut syariat itu dalam pandangan mereka, harus didasari oleh Hadits shahih (selain Alquran). Padahal aturan penggunaan Haditsh Shahih ini bukan berasal dari tekstual ayat Alquran maupun Hadits Nabi SAW sendiri. Namun ketentuan itu hanyalah berdasarkan pemahaman orang Wahhabi sendiri.

5. Belum lagi pembagian derajat hadits menjadi Shahih, Hasan dan Dhaif, itu juga hakikatnya tidak berdasarkan tekstual Alquran maupun Hadits Nabi SAW, namun hanyalah hasil ijtihad para ulama ahli Hadits. Anehnya orang Wahhabi terpaksa menerima ijtihad para ulama ini sekalipun bukan berdasarkan dari tekstual dalil.

6. Jika datang bulan Ramadhan, orang Wahhabi Suadi Arabiah mengadakan Shalat Tahajjud berjamaah sebulan suntuk, dengan memilih waktu khusus di bulan Ramadhan (dari awwal hingga akhir bulan Ramadhan) seperti yang dilakukan di Masjidil Haram Makkah dan Masjid Nabawi Madinah dan diimami oleh tokoh-tokoh Wahhabi. Tradisi tata cara amalan berjamaah Tahajjud sebulan suntuk yang dikhususkan pada bulan Ramadhan ini jelas-jelas tidak pernah dicontohkan oleh Nabi SAW.

7. Bilal Shalat Tahajjudnya juga orang Wahhabi dan mengucapkan: Shalaatul Qiyaami atsaabakumullah, sebelum shalat tahajjud di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, bacaan ini termasuk bid`ah karena tidak pernah dilakukan oleh Nabi maupun para Shahabat.

8. Orang Wahhabi dewasa ini juga berdakwah menggunakan media radio, kaset, CD, TV Rodja, internet dan media cetak, ini termasuk amalan bid`ah yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi SAW maupun para Shahabat.

9. Orang Wahhabi Indonesia juga mendirikan perkumpulan yang sering diberi nama Salafi Indonesia. Ini juga tidak ada tuntunannya baik dari Alquran maupun Hadits shahih.

10. Orang Wahhabi juga mendirikan sekolah formal dengan sistem klasikal, ini termasuk bid`ah yang tanpa ada dasar tekstual dalil Alquran mupun Hadits.

11. Orang Waahabi tidak menolak penulisan Alquran menjadi buku dan diperbanyak lewat percatakan dan huruf tulisan modern, padahal amalan pencetakan Alquran ini tidak ada di jaman Nabi SAW maupun para shahabat.

12. Orang Wahhabi juga menerima upaya pengelompokan Hadits shahih dalam satu buku karangan seperti kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, padahal termasuk bid`ah yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi SAW maupun para Shahabat.

13. Penerjemahan Alquran ke dalam berbagai bahasa, seperti yang diterbitkan oleh Depag, adalah termasuk bid`ah menurut definisi orang Wahhabi sendiri, bahkan di Indonesia, terjemahan Depag ini sering dijadikan kitab rujukan bagi orang Wahhabi Indonesia sendiri.

14. Orang Wahhabi mengaku-ngaku sebagai penerus ulama Salaf, pengakuan ini juga tidak ada dasarnya secara tekstual baik dari Alquran maupun hadits shahih.

15. Masih banyak amal perbuatan orang Wahhabi yang tergolong Bid’ah, menurut definisi orang Wahhabi sendiri, karena amal perbuatan mereka itu tidak didasari oleh dalil secara tekstual baik dari Alquran maupun Hadits shahih. Padahal, dalam pemahaman kaum Wahhabi, bahwa semua Bid’ah itu adalah sesat, tanpa kecuali. Jadi amalan kaum Wahhabi sebagaimana tersebut di atas, tentunya juga harus dihukumi SESAT.

_______________________

Dalam bahasa arab, Tahlil berarti menyebut kalimah “syahadah” yaitu “La ilaha illa Allah” (لااله الا الله). Definisi ini dinyatakan oleh Al-Lais dalam kitab “Lisan al-Arab”. Dalam kitab yang sama, Az-Zuhri menyatakan, maksud tahlil adalah meninggikan suara ketika menyebut kalimah Thayyibah.

Namun kemudian kalimat tahlil menjadi sebuah istilah dari rangkaian bacaan beberapa dzikir, ayat Al-Qur'an, do'a dan menghidangkan makanan shadaqah tertentu yang dilakukan untuk mendo'akan orang yang sudah meninggal. Ketika diucapkan kata-kata tahlil pengertiannya berubah seperti istilah masyarakat itu.

Tahlil pada mulanya ditradisikan oleh Wali Songo (sembilan pejuang Islam di tanah Jawa). Seperti yang telah kita ketahui, di antara yang paling berjasa menyebarkan ajaran Islam di Indonesia adalah Wali Songo. Keberhasilan dakwah Wali Songo ini tidak lepas dari cara dakwahnya yang mengedepankan metode kultural atau budaya.

Wali Songo mengajarkan nilai-nilai Islam secara luwes dan tidak secara frontal menentang tradisi Hindu yang telah mengakar kuat di masyarakat, namun membiarkan tradisi itu berjalan, hanya saja isinya diganti dengan nilai Islam.

Dalam tradisi lama, bila ada orang meninggal, maka sanak famili dan tetangga berkumpul di rumah duka. Mereka bukannya mendoakan mayit tetapi begadang dengan bermain judi atau mabuk-mabukan. Wali Songo tidak serta merta membubarkan tradisi tersebut, tetapi masyarakat dibiarkan tetap berkumpul namun acaranya diganti dengan mendoakan pada mayit. Jadi istilah tahlil seperti pengertian di atas tidak dikenal sebelum Wali Songo.

KH Sahal Mahfud, ulama asal Kajen, Pati, Jawa Tengah, yang kini menjabat Rais Aam PBNU, berpendapat bahwa acara tahlilan yang sudah mentradisi hendaknya terus dilestarikan sebagai salah satu budaya yang bernilai islami dalam rangka melaksanakan ibadah sosial sekaligus meningkatkan dzikir kepada Allah.

Persoalannya adalah, apakah doa orang yang bertahlil akan sampai kepada mayit dan diterima oleh Allah? Jika diperhatikan dalam hadits bahwa Nabi SAW pernah mengajarkan doa-doa yang perlu dibaca untuk mayit:
عَنْ عَوْفٍ بْنِ مَالِكٍ أَنَّهُ قَالَ: صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّىاللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى جَنَازَةٍ فَسَمِعْتُهُ يَقُوْلُ اللَّهُمَّ اِغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَاعْفُ عَنْهُ

“Diriwayatkan dari ‘Auf bin Malik, ia berkata; Nabi SAW telah menunaikan shalat jenazah, aku mendengar Nabi SAW berdoa; Ya Allah!! ampunilah dia, rahmatilah dia, maafkan dia.”

Di dalam hadis, Nabi SAW pernah menyatakan;
يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ

“orang yang menyebut “la ilaha illa Allah” akan dikeluarkan dari neraka."

Hadis ini menyatakan tentang keselamatan mereka menyebut kalimah syahadah dengan diselamatkan dari api neraka. Jaminan ini menandakan bahwa, menyebut kalimah syahadat merupakan amalan soleh yang diakui dan diterima Allah SWT.

Maka dengan demikian, apabila seseorang yang mengadakan tahlil, mereka berzikir dengan mengalunkan kalimah syahadah terlebih dahulu, kemudian mereka berdoa, maka amalan itu tidak bertentangan dengan syari’at, sebab bertahlil itu sebagai cara istighatsah kepada Allah agar doanya diterima untuk mayit.

Dari hadis tersebut juga dapat diambil kesimpulan hukum bahwa, doa kepada mayit adalah ketetapan dari hadits Nabis SAW maka dengan demikian, anggapan yang mengatakan doa kepada mayit tidak sampai, merupakan pemahaman yang hanya melihat kepada zhahir nash, tanpa dilihat dari sudut batin nash. Argumentasi mereka adalah firman Allah SWT:
وَاَنْ لَيْسَ للإنْسَانِ اِلاَّ مَاسَعَى

“Dan tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dia kerjakan”. (QS An-Najm 53: 39)

Juga hadits Nabi Muhammad SAW:
اِذَامَاتَ ابْنُ ادَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ اِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَوْعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ اَوْوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ

“Jika anak Adam meningga, maka putuslah segala amal perbuatannya kecuali tiga perkara; shadaqah jariyah, ilmu yang dimanfa’atkan, dan anak shaleh yang mendo’akannya.”

___________________________

Mereka yang mempunyai anggapan bahwa doa kepada mayit tidak sampai sepertinya hanya secara tekstual (harfiyah) memahami suatu dalil tanpa menghubungkan dengan dalil-dalil lainnya.

Sehingga kesimpulan yang mereka ambil mengenai do’a, bacaan Al-Qur’an, shadaqoh dan tahlil tidak berguna bagi orang yang telah meninggal. Dalam ayat lain Allah SWT menyatakan bahwa orang yang telah meninggal dapat menerima manfaat doa yang dikirimkan oleh orang yang masih hidup. Allah SWT berfirman:
وَالَّذِيْنَ جَاءُوْامِنْ بَعْدِ هِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَااغْفِرْلَنَا وَلإخَْوَانِنَاالَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإَْيْمَانِ......

“Dan orang-orang yang datang setelah mereka, berkata: Yaa Tuhan kami, ampunilah kami dan ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan beriman.” (QS Al-Hasyr 59: 10)

1. ٍAyat ini menunjunkkan bahwa doa generasi berikut bisa sampai kepada generasi pendahulunya yang telah meninggal. Begitu juga keterangan dalam kitab “At-Tawassul” karangan As-Syaikh Albani menyatakan: “Bertawassul yang diizinkan dalam syara’ adalah tawassul dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah, tawassul dengan amalan soleh dan tawassul dengan doa orang shaleh.”

2. Mukjizat para nabi, karomah para wali dan ma’unah para ulama tidak terputus dengan kematian mereka. Dalam kitab Syawahidu al Haq, karya Syeikh Yusuf Ibn Ismail an-Nabhani: 118 dinyatakan:
وَيَجُوزُ التَّوَسُّلُ بِهِمْ إلَى اللهِ تَعَالَى ، وَالإِسْتِغَاثَةُ بِالأنْبِيَاءِ وَالمُرْسَلِيْنَ وَالعُلَمَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ بَعْدَ مَوتِهِمْ لأَنَّ مُعْجِزَةَ الأَنْبِيَاءِ وَكَرَمَاتِ الأَولِيَاءِ لاَتَنْقَطِعُ بِالمَوتِ

“Boleh bertawassul dengan mereka (para nabi dan wali) untuk memohon kepada Allah SWT dan boleh meminta pertolongan dengan perantara para Nabi, Rasul, para ulama dan orang-orang yang shalih setelah mereka wafat, karena mukjizat para Nabi dan karomah para wali itu tidaklah terputus sebab kematian.”(Syeikh Yusuf Ibn Ismail an-Nabhani, Syawahidul Haq, (Jakarta: Dinamika Berkah Utama, t.th), h. 118)

3. Dasar hukum yang menerangkan bahwa pahala dari bacaan yang dilakukan oleh keluarga mayit atau orang lain itu dapat sampai kepada si mayit yang dikirimi pahala dari bacaan tersebut adalah banyak sekali. Antara lain hadits yang dikemukakan oleh Dr. Ahmad as-Syarbashi, guru besar pada Universitas al-Azhar, dalam kitabnya, Yas`aluunaka fid Diini wal Hayaah juz 1 : 442, sebagai berikut:
وَقَدِ اسْتَدَلَّ الفُقَهَاءُ عَلَى هَذَا بِأَنَّ أَحَدَ الصَّحَابَةِ سَأَلَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّم فَقَالَ لَهُ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّا نَتَصَدَّقُ عَنْ مَوتَانَا وَنُحَجُّ عَنْهُمْ وَنَدعُو لَهُمْ هَلْْ يَصِلُ ذَلِكَ إِلَيْهِمْ؟ قَالَ: نَعَمْ إِنَّهُ لَيَصِلُ إِلَيْهِمْ وَإِنَّهُمْ لَيَفْرَحُوْنَ بِهِ كَمَا يَفْرَحُ اَحَدُكُم بِالطَّبَقِ إِذَا أُهْدِيَ إِلَيْهِ!

“Sungguh para ahli fiqh telah berargumentasi atas kiriman pahala ibadah itu dapat sampai kepada orang yang sudah meninggal dunia, dengan hadist bahwa sesungguhnya ada salah seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw, seraya berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami bersedekah untuk keluarga kami yang sudah mati, kami melakukan haji untuk mereka dan kami berdoa bagi mereka; apakah hal tersebut pahalanya dapat sampai kepada mereka? Rasulullah saw bersabda: Ya! Sungguh pahala dari ibadah itu benar-benar akan sampai kepada mereka dan sesungguhnya mereka itu benar-benar bergembira dengan kiriman pahala tersebut, sebagaimana salah seorang dari kamu sekalian bergembira dengan hadiah apabila hadiah tersebut dikirimkan kepadanya!"

Sedangkan Memberi jamuan yang biasa diadakan ketika ada orang meninggal, hukumnya boleh (mubah), dan menurut mayoritas ulama bahwa memberi jamuan itu termasuk ibadah yang terpuji dan dianjurkan. Sebab, jika dilihat dari segi jamuannya termasuk sedekah yang dianjurkan oleh Islam yang pahalanya dihadiahkan pada orang telah meninggal. Dan lebih dari itu, ada tujuan lain yang ada di balik jamuan tersebut, yaitu ikramud dla`if (menghormati tamu), bersabar menghadapi musibah dan tidak menampakkan rasa susah dan gelisah kepada orang lain.

Ketiga hal tersebut, semuanaya termasuk ibadah dan perbuatan taat yang diridlai oleh Allah AWT. Syaikh Nawawi dan Syaikh Isma’il menyatakan: "Bersedekah untuk orang yang telah meninggal dunia itu sunnah (matlub), tetapi hal itu tidak harus dikaitkan dengan hari-hari yang telah mentradisi di suatu komunitas masyarakat dan acara tersebut dimaksudkan untuk meratapi mayit.
وَالتَّصَدُّقُ عَنِ المَيِّتِ بِوَجْهٍ شَرْعِيٍ مَطْلُوْبٌ وَلاَ يَتَقَيَّدُ بِكَوْنِهِ فِىْ سَبْعَةِ أَيَّامٍ أَوْ أَكْثَرَ أَوْ أَقَلَّ وَتَقْيِيْدُ بَعْضِ الأَيَّامِ مِنَ العَوَائِدِ فَقَطْ كَمَا أَفْتىَ بِذَالِكَ السَيِّدُ اَحْمَد دَحْلاَنْ وَقَدْ جَرَتْ عَادَةُ النَّاسِ بِالتَّصَدُّقِ عَنِ المَيِّتِ فِىْثاَلِثٍ مِنْ مَوْتِهِ وَفِىْسَابِعٍ وَفِىْ تَمَامِ العِشْرِيْنَ وَفِى الأَرْبَعِيْنَ وَفِى المِائَةِ وَبَعْدَ ذَالِكَ يَفْعَلُ كُلَّ سَنَةٍ حَوْلاً فِىْ يَوْمِ المَوْتِ

"Memberi jamuan secara syara’ (yang pahalanya) diberikan kepada mayyit dianjurkan (sunnah). Acara tersebut tidak terikat dengan waktu tertentu seperti tujuh hari. Maka memberi jamuan pada hari ketiga, ketujuh, kedua puluh, ke empat puluh, dan tahunan (hawl) dari kematian mayyit merupakat kebiasaan (adat) saja. (Nihayatuz Zain: 281 , I’anatuth-thalibin, Juz II: 166)
HM Cholil Nafis MA
Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masa’il PBNU


95.
Pengirim: tata  - Kota: banda aceh
Tanggal: 2/8/2013
 
ass.wr, wb
ustad yth, mohon maaf apa yg ustad utarakan tentang salaf berbanding terbalik dgn wahhabi.kalolah ustad paham akan as-sunnah tidak demikian cara mengkritik sesama muslim..jelas bid'ah itu sesat kok dibagi jadi 2...yg bid'ah itu manalah hassanah...maaf rasanya bapak harus bayak belajar lagi tentang as-sunnah.mohon maaf saya sudah salah sebut diatas memanggil bapak dgn sebutan ustad... 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Loh, jangan tidur saja bung...!
Anda harus tahu kalau orang Wahhabi sendiri membagi Bid'ah menjadi dua, tanpa dasar tekstual dalil, namun hanya hasil pemikiran dan karangan mereka semata. Coba baca buku karya tokoh Wahhabi, Muhammad Abdussalam, Bid’ah-Bid’ah yang Dianggap Sunah, (Qisthi Press, 2005), cet V, hlm. 4-6.

Bid’ah ada dua macam, yaitu: BID'AH DINIYAH dan DUNIAWIYAH. Bid’ah yang berkaitan dengan kemaslahatn dunia hukumnya boleh, selama itu bermanfaat, tidak menimbulkan kerusakan atau memancing niat jahat, tidak melanggar hal-hal yang diharamkan dan tidak merusak nilai-nilai agama. Allah membolehkan hamba-hamba-Nya melakukan kreativitas demi kemaslahatan hidup di dunia.... dst.

96.
Pengirim: ryani  - Kota: pontianak
Tanggal: 2/8/2013
 
melarang sesuatu yg berbeda/bertentangan dgn keyakinannya,
bukanlah sikap orang islam yg sebenarnya.
Kalaulah mau menegakkan hukum islam yg sebenar-benarnya...
Itu lihat pemilu yg mubajir & sangat bertentangan dgn seriat islam.
Membagi-bagi duit & barang2 dgn mengharapkan imbalan dukungan,
menghadirkan hiburan2 yg mempertontonkan aurat...
D'mana pembenaran ada dlm islam,
dgn bebas masa antara laki2 & perempuan saling bersentuhan...
Padahal mereka bukanlah muhrim.
Ya sudah lumrah manusia kalau menganggap dirinya yg paling benar,
menghilangkan sesuatu yg bakal mengancam kepercayaannya...
Sudahlah sikap manusia yg punya nafsu.
Harusnya tak perlu ada film2 yg mengisahkan suami istri...
Padahal pemeran bukanlah suami istri,
tapi adegannya macam suami istri.
Afwan 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Yang jelas, seperti itulah semestinya kewajiban nahi munkar yg harus dilakukan oleh tokoh-tokoh Wahhabi. Bukan kerjaannya justru melarang orang-orang Islam yang aktif hadir pada perkumpulan pengajian Yasinan di kampung2 pada malam Jumat, aktif kirim doa untuk mayit, aktif ziarah kubur, aktif berjamaah baca shalawat dll, yg malah 'diperangi' dan dituduh sesat, bid'ah, calon masuk neraka, musyrik, murtad, dll. Gitu kan mestinya?

97.
Pengirim: sam  - Kota: Banjar
Tanggal: 2/8/2013
 
Untuk kesekian kalinya saya ucapkan terimakasih atas kesediaan Anda memberikan tanggapan yg cukup panjang.
Menurut hemat saya, penjelasan HM Cholil Nafis MA, Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masa’il PBNU, secara tidak langsung merupakan PENGAKUAN bahwa Tahlilan setelah upacara KEMATIAN tidak berdasar pada nash yang kuat bahkan hanya TRADISI atau BUDAYA belaka. Kalau demikian alangkah zalimnya pelaksana Tahlilan yg mengklaim pekerjaan tersebut sangat bermanfaat bagi si mayit dan ahli warisnya mendapat keberkahan dari Allah SWT. Oleh karena itu Keputusan Muktamar PBNU tersebut tidak perlu diragukan lagi dan bersegera meninggalkan Tahlilan dimaksud yang divonis sebagai pekerjaan yang tidak berdasar dan sangat tercela dalam agama Islam.
Berikut saya akan sajikan penjelasan kegiatan TAHLILAN setelah upacara kematian dalam pandangan Islam.
Telah kita maklumi bersama bahwa acara tahlilan merupakan upacara ritual seremonial yang biasa dilakukan oleh keumuman masyarakat Indonesia untuk memperingati hari kematian. Secara bersama-sama, berkumpul sanak keluarga, handai taulan, beserta masyarakat sekitarnya, membaca beberapa ayat Al Qur’an, dzikir-dzikir, dan disertai do’a-do’a tertentu untuk dikirimkan kepada si mayit. Karena dari sekian materi bacaannya terdapat kalimat tahlil yang diulang-ulang (ratusan kali bahkan ada yang sampai ribuan kali), maka acara tersebut dikenal dengan istilah “Tahlilan”.
Acara ini biasanya diselenggarakan setelah selesai proses penguburan (terkadang dilakukan sebelum penguburan mayit), kemudian terus berlangsung setiap hari sampai hari ketujuh. Lalu diselenggarakan kembali pada hari ke 40 dan ke 100. Untuk selanjutnya acara tersebut diadakan tiap tahun dari hari kematian si mayit, walaupun terkadang berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya.
Tidak lepas pula dalam acara tersebut penjamuan yang disajikan pada tiap kali acara diselenggarakan. Model penyajian hidangan biasanya selalu variatif, tergantung adat yang berjalan di tempat tersebut. Namun pada dasarnya menu hidangan “lebih dari sekedarnya” cenderung mirip menu hidangan yang berbau kemeriahan. Sehingga acara tersebut terkesan PESTA kecil-kecilan, memang demikianlah kenyataannya.
Entah telah berapa abad lamanya acara tersebut diselenggarakan, hingga tanpa disadari menjadi suatu kelaziman. Konsekuensinya, bila ada yang tidak menyelenggarakan acara tersebut berarti telah menyalahi ADAT dan akibatnya ia diasingkan dari masyarakat. Bahkan lebih jauh lagi acara tersebut telah membangun opini muatan hukum yaitu sunnah (baca: “wajib”) untuk dikerjakan dan sebaliknya, BID’AH (hal yang baru dan ajaib) apabila ditinggalkan.
Sebenarnya acara tahlilan semacam ini telah lama menjadi pro dan kontra di kalangan umat Islam. Sebagai muslim sejati yang selalu mengedepankan kebenaran, semua pro dan kontra harus dikembalikan kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Sikap seperti inilah yang sepatutnya dimiliki oleh setiap insan muslim yang benar-benar beriman kepada Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Bukankah Allah subhanahu wata’ala telah berfirman (artinya):
“Maka jika kalian berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Ar Rasul (As Sunnah), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Yang demikian itu lebih utama bagi kalian dan lebih baik akibatnya.” (An Nisaa’: 59)

Kalau kita buka catatan sejarah Islam, maka acara ritual tahlilan tidak dijumpai di masa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, di masa para sahabatnya ? dan para Tabi’in maupun Tabi’ut tabi’in. Bahkan acara tersebut tidak dikenal pula oleh para Imam-Imam Ahlus Sunnah seperti Al Imam Malik, Abu Hanifah, Asy Syafi’i, Ahmad, dan ulama lainnya yang semasa dengan mereka ataupun sesudah mereka. Lalu dari mana sejarah munculnya acara tahlilan?
Awal mula acara tersebut berasal dari upacara peribadatan ( selamatan) nenek moyang bangsa Indonesia yang mayoritasnya beragama Hindu dan Budha. Upacara tersebut sebagai bentuk penghormatan dan mendo’akan orang yang telah meninggalkan dunia yang diselenggarakan pada waktu seperti halnya waktu tahlilan. Namun acara tahlilan secara praktis di lapangan berbeda dengan prosesi selamatan agama lain yaitu dengan cara mengganti dzikir-dzikir dan do’a-do’a ala agama lain dengan bacaan dari Al Qur’an, maupun dzikir-dzikir dan do’a-do’a ala Islam menurut mereka.
Dari aspek historis ini kita bisa mengetahui bahwa sebenarnya acara tahlilan merupakan ADOPSI (pengambilan) dan sinkretisasi (pembauran) dengan agama lain.

Tahlilan Dalam Kaca Mata Islam
Acara tahlilan –paling tidak– terfokus pada dua acara yang paling penting yaitu:
Pertama: Pembacaan beberapa ayat/ surat Al Qur’an, dzikir-dzikir dan disertai dengan do’a-do’a tertentu yang ditujukan dan dihadiahkan kepada si mayit.
Kedua: Penyajian hidangan makanan.
Dua hal di atas perlu ditinjau kembali dalam kaca mata Islam, walaupun secara historis acara tahlilan bukan berasal dari ajaran Islam.
Pada dasarnya, pihak yang membolehkan acara tahlilan, mereka tiada memiliki argumentasi (dalih) melainkan satu dalih saja yaitu istihsan (menganggap baiknya suatu amalan) dengan dalil-dalil yang umum sifatnya. Mereka berdalil dengan keumuman ayat atau hadits yang menganjurkan untuk membaca Al Qur’an, berdzikir ataupun berdoa dan menganjurkan pula untuk memuliakan tamu dengan menyajikan hidangan dengan niatan shadaqah.

1. Bacaan Al Qur’an, dzikir-dzikir, dan do’a-do’a yang ditujukan/ dihadiahkan kepada si mayit.
Memang benar Allah SWT dan Rasul-Nya menganjurkan untuk membaca Al Qur’an, berdzikir dan berdoa. Namun apakah pelaksanaan membaca Al Qur’an, dzikir-dzikir, dan do’a-do’a diatur sesuai KEHENDAK PRIBADI dengan menentukan cara, waktu dan jumlah tertentu (yang diistilahkan dengan acara tahlilan) tanpa merujuk praktek dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya bisa dibenarakan?
Kesempurnaan agama Islam merupakan kesepakatan umat Islam semuanya, karena memang telah dinyatakan oleh Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama Islam bagi kalian, dan telah Aku sempurnakan nikmat-Ku atas kalian serta Aku ridha Islam menjadi agama kalian.” (Al Maidah: 3)

Juga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلاَّ قَدْ بُيِّنَ لَكُمْ
“Tidak ada suatu perkara yang dapat mendekatkan kepada Al Jannah (surga) dan menjauhkan dari An Naar (neraka) kecuali telah dijelaskan kepada kalian semuanya.” (H.R Ath Thabrani)

Ayat dan hadits di atas menjelaskan suatu landasan yang agung yaitu bahwa Islam telah sempurna, tidak butuh DITAMBAH dan DIKURANGI lagi. Tidak ada suatu ibadah, baik perkataan maupun perbuatan melainkan semuanya telah dijelaskan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

Suatu ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mendengar berita tentang pernyataan tiga orang, yang pertama menyatakan: “Saya akan shalat tahajjud dan tidak akan tidur malam”, yang kedua menyatakan: “Saya akan bershaum (puasa) dan tidak akan berbuka”, yang terakhir menyatakan: “Saya tidak akan menikah”, maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menegur mereka, seraya berkata: “Apa urusan mereka dengan menyatakan seperti itu? Padahal saya bershaum dan saya pun berbuka, saya shalat dan saya pula tidur, dan saya menikahi wanita. Barang siapa yang membenci sunnahku maka bukanlah golonganku.” (Muttafaqun alaihi)

Ibadah menurut kaidah Islam tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wata’ala kecuali bila memenuhi dua syarat yaitu ikhlas kepada Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Allah subhanahu wata’ala menyatakan dalam Al Qur’an (artinya):
“Dialah Allah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji siapa diantara kalian yang paling baik amalnya.” (Al Mulk: 2)
Para ulama ahli tafsir menjelaskan makna “yang paling baik amalnya” ialah yang paling ikhlash dan yang paling mencocoki sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.
Tidak ada seorang pun yang menyatakan shalat itu jelek atau shaum (puasa) itu jelek, bahkan keduanya merupakan ibadah mulia bila dikerjakan sesuai tuntunan sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.
Atas dasar ini, beramal dengan dalih niat baik (istihsan) semata -seperti peristiwa tiga orang didalam hadits tersebut- tanpa mencocoki sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, maka amalan tersebut tertolak. Simaklah firman Allah subhanahu wata’ala (artinya): “Maukah Kami beritahukan kepada kalian tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya”. (Al Kahfi: 103-104)
Saya ulangi lagi hadist berikut biar anda tidak keras kepala dengan ancaman Nabi SAW. Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa yang beramal bukan diatas petunjuk kami, maka amalan tersebut tertolak.” (Muttafaqun alaihi, dari lafazh Muslim)

Atas dasar ini pula lahirlah sebuah kaidah ushul fiqh yang berbunyi:
فَالأَصْلُ فَي الْعِبَادَاتِ البُطْلاَنُ حَتَّى يَقُوْمَ دَلِيْلٌ عَلَى الأَمْرِ
“Hukum asal dari suatu ibadah adalah batal, hingga terdapat dalil (argumen) yang memerintahkannya.”
Maka beribadah dengan dalil istihsan semata tidaklah dibenarkan dalam agama. Karena tidaklah suatu perkara itu teranggap baik melainkan bila Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya menganggapnya baik dan tidaklah suatu perkara itu teranggap jelek melainkan bila Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya menganggapnya jelek.

Lebih menukik lagi pernyataan dari Al Imam Asy Syafi’I:
مَنِ اسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَعَ
“Barang siapa yang menganggap baik suatu amalan (padahal tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah –pent) berarti dirinya telah menciptakan hukum syara’ (syari’at) sendiri”.
Kalau kita mau mengkaji lebih dalam madzhab Al Imam Asy Syafi’i tentang hukum bacaan Al Qur’an yang dihadiahkan kepada si mayit, beliau diantara ulama yang menyatakan bahwa pahala bacaan Al Qur’an tidak akan sampai kepada si mayit. Beliau berdalil dengan firman Allah subhanahu wata’ala (artinya):
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh (pahala) selain apa yang telah diusahakannya”. (An Najm: 39), (Lihat tafsir Ibnu Katsir 4/329).

2. Penyajian hidangan makanan.
Memang secara sepintas pula, penyajian hidangan untuk para tamu merupakan perkara yang terpuji bahkan dianjurkan sekali didalam agama Islam. Namun manakala penyajian hidangan tersebut dilakukan oleh keluarga si mayit baik untuk sajian tamu undangan tahlilan ataupun yang lainnya, maka memiliki hukum tersendiri. Bukan hanya saja tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bahkan perbuatan ini telah melanggar sunnah para sahabatnya radhiallahu ‘anhum. Jarir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu–salah seorang sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam– berkata: “Kami menganggap/ memandang kegiatan berkumpul di rumah keluarga mayit, serta penghidangan makanan oleh keluarga mayit merupakan bagian dari niyahah (meratapi mayit).” (H.R Ahmad, Ibnu Majah dan lainnya)
Sehingga acara berkumpul di rumah keluarga mayit dan penjamuan hidangan dari keluarga mayit termasuk perbuatan yang dilarang oleh agama menurut pendapat para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan para ulama salaf. Lihatlah bagaimana fatwa salah seorang ulama salaf yaitu Al Imam Asy Syafi’i dalam masalah ini. Saya sengaja menukilkan madzhab Al Imam Asy Syafi’i, karena mayoritas kaum muslimin di Indonesia mengaku bermadzhab Syafi’i. Al Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata dalam salah satu kitabnya yang terkenal yaitu ‘Al Um’ (1/248): “Aku membenci acara berkumpulnya orang (di rumah keluarga mayit –pent) meskipun tidak disertai dengan tangisan. Karena hal itu akan menambah kesedihan dan memberatkan urusan mereka.” (Lihat Ahkamul Jana-iz karya Asy Syaikh Al Albani hal. 211)
Al Imam An Nawawi seorang imam besar dari madzhab Asy Syafi’i setelah menyebutkan perkataan Asy Syafi’i diatas didalam kitabnya Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab 5/279 berkata: “Ini adalah lafadz baliau dalam kitab Al Um, dan inilah yang diikuti oleh murid-murid beliau. Adapun pengarang kitab Al Muhadzdzab (Asy Syirazi) dan lainnya berargumentasi dengan argumen lain yaitu bahwa perbuatan tersebut merupakan perkara yang diada-adakan dalam agama (bid’ah).
Lalu apakah pantas acara tahlilan tersebut dinisbahkan kepada madzhab Al Imam Asy Syafi’i?
Malah yang semestinya, disunnahkan bagi tetangga keluarga mayit yang menghidangkan makanan untuk keluarga mayit, supaya meringankan beban yang mereka alami. Sebagaimana bimbingan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dalam hadistnya:
اصْنَعُوا لآلِ جَعْفَرَ طَعَامًا فَقَدْ أَتَاهُمْ أَمْرٌ يُشْغِلُهُمْ
“Hidangkanlah makanan buat keluarga Ja’far, Karena telah datang perkara (kematian-pent) yang menyibukkan mereka.” (H.R Abu Dawud, At Tirmidzi dan lainnya)
Mudah-mudahan pembahasan ini bisa memberikan penerangan bagi semua yang menginginkan kebenaran di tengah gelapnya permasalahan. Wallahu ‘a’lam.
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Itu sih anda saja yang bebal, tidak dapat memahami dalil Alquran dan hadits yang kami sebutkan. Anda termasuk kelompok Yukminu bi ba'dil kitab wa yakfuruuna bi ba'd.

Jawaban kami jauh lebih valid daripada Logika anda dan seluruh wahhabi Dunia yang tidak dapat menghadirkan satupun dari dalil Alquran dan Hadits Shahih per-item tentang Amalan Bid'ah Kaum Wahhabi, kalau gak anda jawab dan masih mutar-mutar pada masalah yang lain, maka respon anda tidak akan kami muat:

Orang Wahhabi memang tampak aneh bin ajaib, mereka gemar sekali menuduh umat Islam melakukan amal perbuatan yang mereka tuduhkan sebagai Bid’ah dhalalah/sesat, seperti umat Islam yang pada bulan Sya’ban ini sedang giat-giatnya mengadakan pembacaan shalawat keliling, karena ayat perintah bershalawat itu turunnya adalah di bulan Sya’ban. Bahkan orang Wahhabi berani mengancam umat Islam yang mereka tuduh sebagai pelaku bid’ah sesat itu akan dimasukkan neraka. Tentunya yang dimaksiud Bid’ah oleh orang Wahhabi adalah Bid’ah yang sesuai dengan definisi mereka sendiri, bukan Bid’ah berdasarkan definisi para ulama salaf. Adapun definisi Bid’ah sesat yang diyakini oleh orang Wahhabi adalah: Segala amal perbuatan yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW maupun oleh para shahabat secara mutlak maka dinamakan Bid’ah, contohnya Nabi SAW dan para shahabat tidak pernah melakukan pembacaan shalawat keliling. Intinya orang Wahhabi selalu mengatakan, bahwa hukum semua amal perbuatan itu pada dasarnya adalah dilarang (haram) sehingga ditemukan dalil Alquran maupun Hadits shahih yang memperbolehkannya. Bahkan secara kaku, orang Wahhabi memandang jika ada amalan yang hanya didasari oleh dalil hadits (bukan ayat Alquran), maka hadits yang dapat diterima itu terbatas pada Hadits SHAHIH saja. Dengan demikian, hampir semua umat Islam di dunia ini tidak ada yang luput dari tuduhan sebagai pelaku bid’ah oleh kaum Wahhabi. Karena orang Wahhabi menganggap bahwa kebanyakan amal perbuatan umat Islam itu tidak didasari dalil secara tekstual (harfi) baik dari Alquran maupun Hadits shahih (tidak dicontohkan secara langsung oleh Nabi SAW) Orang Wahhabi sering kali menolak dalil kontekstual (ma’nawi) dari Alquran maupun Hadits, jika menghukumi suatu amalan yang dilakukan oleh umat Islam. Misalnya Allah perintah: Wahai orang- orang yang beriman, hendaklah kalian bershalawat dan bersalam kepada Nabi dengan sebenar- benar salam..! Kemudian umat Islam mengarang redaksi shalawat dengan berbagai macam bentuk kalimatnya dan metode pembacaan, sebut saja shalawat Burdah, shalawat Nariyah, shalawat Alfatih, dan sebagainya. Maka dengan mudahnya orang Wahhabi mengatakan bahwa macam-macam bentuk redaksi shalawat ini adalah Bid’ah, karena Nabi SAW tidak pernah mengajarkan secara langsung redaksi shalawat Burdah, shalawat Nariyah, shalawat Alfatih dan sebagainya, sekalipun shalawat- shalawat ini telah diamalkan oleh umat Islam di seluruh dunia. Namun runyamnya, di sisi lain orang Wahhabi sendiri ternyata banyak mengamalkan perbuatan Bid’ah yang tidak didasari dalil secara tekstual baik dari Alquran maupun Hadtsi shahih itu sendiri (tidak pernah dicontohkan secara langsung oleh Nabi SAW). Jadi, pada hakikatnya orang Wahhabi itu kerap melanggar keyakinan yang mereka buat sendiri, sehingga jika diteliti, banyak sekali amalan-amalan mereka yang tidak luput dari perbuatan Bid’ah sesuai dengan definisi mereka itu. Coba diteliti amalan-amalan yang menjadi keyakinan orang Wahhabi sebagai berikut: 1. Tatkala umat Islam mempertanyakan mengapa orang Wahhabi dewasa ini menggunakan mobil saat bepergian, padahal Nabi SAW dan para Shahabat tidak pernah naik mobil? Maka untuk nge-les (menghindar) dari pertanyaan semacam ini, orang Wahhabi tiba-tiba secara serampangan membagi Bid’ah itu menjadi dua, yaitu Bid’ah Diniyah, seperti Bid’ahnya naik mobil dan Bid’ah Duniawiyah seperti Bid’ahnya shalawat Burdah, shalawat Nariyah, shalawat Alfatih dan sebagainya. Padahal pembagian yang dilakukan oleh orang Wahhabi ini jelas-jelas tidak berdasar satupun dari dalil secara tekstual baik dari Alquran mapun Hadits Shahih. Artinya baik Alquran maupun Hadits tidak pernah membagi Bid’ah menjadi Diniyah dan Duniawiyah. 2. Nabi SAW perintah: Khudzuu ‘anni manaasikakum (Ambillah/contohlah dariku manasik (tata cara haji)-mu (HR. Muslim). Saat itu Nabi SAW pergi haji dari Madinah menuju Makkah adalah dengan naik onta. Jika saja kaum Wahhabi jujur dalam dakwah sesuai yang diyakininya, maka sudah seharusnya mereka juga jika pergi haji adalah dengan naik onta, karena mengikuti sunnah Nabi SAW ini, bukan naik pesawat maupun mobil. Tapi kenyataannya tidak demikian. 3. Orang Wahhabi menyakini bahwa Tauhid itu dibagi menjadi tiga, yaitu Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah, dan Tauhid Asma wa shifat. Pembagian ini juga tidak bedasar dalil secara tekstual baik dari Alquran maupun Hadits shahih manapun. 4. Kaum Wahhabi selalu mensyaratkan bahwa amalan yang sah menurut syariat itu dalam pandangan mereka, harus didasari oleh Hadits shahih (selain Alquran). Padahal aturan penggunaan Haditsh Shahih ini bukan berasal dari tekstual ayat Alquran maupun Hadits Nabi SAW sendiri. Namun ketentuan itu hanyalah berdasarkan pemahaman orang Wahhabi sendiri. 5. Belum lagi pembagian derajat hadits menjadi Shahih, Hasan dan Dhaif, itu juga hakikatnya tidak berdasarkan tekstual Alquran maupun Hadits Nabi SAW, namun hanyalah hasil ijtihad para ulama ahli Hadits. Anehnya orang Wahhabi terpaksa menerima ijtihad para ulama ini sekalipun bukan berdasarkan dari tekstual dalil. 6. Jika datang bulan Ramadhan, orang Wahhabi Suadi Arabiah mengadakan Shalat Tahajjud berjamaah sebulan suntuk, dengan memilih waktu khusus di bulan Ramadhan (dari awwal hingga akhir bulan Ramadhan) seperti yang dilakukan di Masjidil Haram Makkah dan Masjid Nabawi Madinah dan diimami oleh tokoh-tokoh Wahhabi. Tradisi tata cara amalan berjamaah Tahajjud sebulan suntuk yang dikhususkan pada bulan Ramadhan ini jelas-jelas tidak pernah dicontohkan oleh Nabi SAW. 7. Bilal Shalat Tahajjudnya juga orang Wahhabi dan mengucapkan: Shalaatul Qiyaami atsaabakumullah, sebelum shalat tahajjud di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, bacaan ini termasuk bid`ah karena tidak pernah dilakukan oleh Nabi maupun para Shahabat. 8. Orang Wahhabi dewasa ini juga berdakwah menggunakan media radio, kaset, CD, TV Rodja, internet dan media cetak, ini termasuk amalan bid`ah yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi SAW maupun para Shahabat. 9. Orang Wahhabi Indonesia juga mendirikan perkumpulan yang sering diberi nama Salafi Indonesia. Ini juga tidak ada tuntunannya baik dari Alquran maupun Hadits shahih. 10. Orang Wahhabi juga mendirikan sekolah formal dengan sistem klasikal, ini termasuk bid`ah yang tanpa ada dasar tekstual dalil Alquran mupun Hadits. 11. Orang Waahabi tidak menolak penulisan Alquran menjadi buku dan diperbanyak lewat percatakan dan huruf tulisan modern, padahal amalan pencetakan Alquran ini tidak ada di jaman Nabi SAW maupun para shahabat. 12. Orang Wahhabi juga menerima upaya pengelompokan Hadits shahih dalam satu buku karangan seperti kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, padahal termasuk bid`ah yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi SAW maupun para Shahabat. 13. Penerjemahan Alquran ke dalam berbagai bahasa, seperti yang diterbitkan oleh Depag, adalah termasuk bid`ah menurut definisi orang Wahhabi sendiri, bahkan di Indonesia, terjemahan Depag ini sering dijadikan kitab rujukan bagi orang Wahhabi Indonesia sendiri. 14. Orang Wahhabi mengaku-ngaku sebagai penerus ulama Salaf, pengakuan ini juga tidak ada dasarnya secara tekstual baik dari Alquran maupun hadits shahih. 15. Masih banyak amal perbuatan orang Wahhabi yang tergolong Bid’ah, menurut definisi orang Wahhabi sendiri, karena amal perbuatan mereka itu tidak didasari oleh dalil secara tekstual baik dari Alquran maupun Hadits shahih. Padahal, dalam pemahaman kaum Wahhabi, bahwa semua Bid’ah itu adalah sesat, tanpa kecuali. Jadi amalan kaum Wahhabi sebagaimana tersebut di atas, tentunya juga harus dihukumi SESAT.

98.
Pengirim: sam  - Kota: Banjar
Tanggal: 3/8/2013
 
Lagi-lagi saya ucapkan terimakasih yg tak terhingga atas kesediaan Anda memuat tulisan saya.
Karena Anda tidak lagi memberikan tanggapan seputar tahlilan, maka saya menganggap semua argumen saya tentang Tahlilan dalam Pandangan Islam sudah selesai. Boleh jadi Anda bosan,jengkel atau barangkali tidak punya referensi yang lebih akurat lagi. Sebenarnya saya suka mencari kebenaran yang murni bersumber dari ajaran Islam. Tapi biarlah para pembaca yang lain saja yang akan menimbang dan minilai terhadap pembahasan Tahlilan tersebut di atas.
Adapun masalah Wahabi, terus terang saya tidak berpihak ke Wahabi dan tidak juga kepada Anda. Saya hanya akan berkiblat kepada kemurnia akidan dan syariat Agama Islam yang berpijak di atas AlQuran dan Sunnah. Ingatlah bahwa Nabi SAW diutus ke dunia untuk mentauhidkan Allah dan menyempurnakan Akhlakul karimah, tidak untuk sesuatu yang bersifat keduniaan belaka seperti harus naik unta, berdakwah lewat televisi, azan pakai pengeras suara atau terkait dengan metode-metode yang bermanfaat apabila digunakan oleh ummat Islam misalnya metode penentuan setiap awal bulan (bisa dengan rukyat atau hisab) bahkan hisab waktu shalat yg sekarang dipakai di seluruh dunia, baik cara mengajar ataupun belajar atau hal-hal lain yang bermanfaat bagi kelangsungan hidup manusia seiring perkembangan jaman. Hal ini sesuai dengan hadist Nabi SAW " antum a'lamuu bi umuuri dunyakum (kalian lebih mengerti tentang dunia kalian).
Adapun yang berkenaan dengan Akidan dan Syariat Agama, Nabi SAW sudah membatasi dengan sabdanya dari Aisyah radhiallahu ‘anha, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ “Barang siapa yang beramal bukan diatas petunjuk kami, maka amalan tersebut tertolak.” (Muttafaqun alaihi, dari lafazh Muslim)

Semoga Allah selalu melimpahkan hidayahnya bagi kita yang mendambakan kemurnian dalam beragama. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Dalil Tahlilan sudah jelas sabda Nabi SAW: Iqra-uu yaasiin 'alaa mautaakum/bacakan surat Yasin untuk mayit kalian (HR. Abu Dawud). Kalau sedikit saja anda cerdas, maka anda akan paham bahwa: Tahlilan dan Yasinan itu SINONIM.

Sayangnya anda juga tidak paham cara mempraktekkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: ‎ ِﻦْﺑ ﻰَﺳﻮُﻣ ْﻦَﻋ ِﺶَﻤْﻋَﺄْﻟﺍ ْﻦَﻋ ِﺪﻴِﻤَﺤْﻟﺍ ِﺪْﺒَﻋ ُﻦْﺑ ُﺮﻳِﺮَﺟ ﺎَﻨَﺛَّﺪَﺣ ٍﺏْﺮَﺣ ُﻦْﺑ ُﺮْﻴَﻫُﺯ ﻲِﻨَ&#