URL: www.pejuangislam.com
Email: editor@pejuangislam.com
 
Halaman Depan >>
 
 
Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami
Ustadz H. Luthfi Bashori
 Lihat Biografi
 Profil Pejuang Kaya Ide
 Imam Abad 21
 Info Asshofwah
Karya Tulis Pejuang


 
Ribath Almurtadla
Al-islami
 Pengasuh Ribath
 Amunisi Dari Tumapel
 Aktifitas Pengasuh
 Perjuangan Pengasuh
 Kalender Ribath
Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
 Sekilas Profil
 Program Pendidikan
 Pelayanan Masyarakat
 Struktur Organisasi
 Pengasuh PIQ
 
Navigasi Web
Karya Tulis Santri
MP3 Ceramah
Bingkai Aktifitas
Galeri Sastra
Curhat Pengunjung
Media Global
Link Website
TV GARIS LURUS
Kontak Kami
 
 
 Arsip Teriakan Pejuang
 
AYOO, ZIARAH KUBURAN ... ! 
  Penulis: Pejuang Islam  [3/8/2017]
   
DAJJAL ITU BUTA MATA SEBELAH 
  Penulis: Pejuang Islam  [3/8/2017]
   
UMAT ISLAM AKAN DITIMPA MALAPETAKA 
  Penulis: Pejuang Islam  [26/7/2017]
   
LARANGAN MENIMBUN BARANG 
  Penulis: Pejuang Islam  [24/7/2017]
   
LANGKAH SAFARI DAKWAH SANG GURU TERCINTA, ABUYA DR. SAYYID AHMAD BIN MUHAMMAD ALWI ALMALIKI (MAKKAH) 
  Penulis: Pejuang Islam  [18/7/2017]
   
 
 Book Collection
 (Klik: Karya Tulis Pejuang)
Pengarang: H. Luthfi B dan Sy. Almaliki
Musuh Besar Umat Islam
Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat
Dialog Tokoh-tokoh Islam
Carut Marut Wajah Kota Santri
Tanggapan Ilmiah Liberalisme
Islam vs Syiah
Paham-paham Yang Harus Diluruskan
Doa Bersama, Bahayakah?
 
 WEB STATISTIK
 
Hari ini: Jumat, 18 Agustus 2017
Pukul:  
Online Sekarang: 3 users
Total Hari Ini: 657 users
Total Pengunjung: 3553746 users
 
 
Untitled Document
 PEJUANG ISLAM - KARYA ILMIAH USTADZ LUTHFI BASHORI
 
 
KONSEP NU & KRISIS PENEGAKAN SYARIAT 
Penulis: Ustadz Luthfi Bashori [ 3/10/2016 ]
 

Foto Konsep NU

Muqaddimah

Bismillahir rahmaanir rahiim
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah. Setiap umat Islam termasuk warga NU berkewajiban melaksanakan syariat Islam yg diturunkan oleh Allah melalui firman-firman-NYA, dan mengamalkan ajaran Rasulullah SAW yang disabdakan dalam bentuk hadits-haditsnya.

Kewajiban bersyariat ini, merupakan implementasi dari keimanan dan kesaksian; Asyhadu an Laa ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadan rasuulullah, yang secara otomatis berkewajiban memperjuangkan penerapan syariat Islam di muka bumi.

Dalam risalah kecil ini, penulis mencoba mengajak para pembaca untuk menganalisa fenomena yg terjadi pada tubuh Ormas NU dalam menyikapi upaya penerapan syariat Islam, dan pembentengan aqidah Ahlussunah wal Jamaah.

Semoga risalah kecil ini memberi berkah dan manfaat bagi penulis dan para pembacanya. Amin ya rabbal ‘alamin.


Malang, 17 Agustus 2006.

H. LUTHFI BASHORI :

PENEGAKAN SYARIAT ISLAM DAN PEMBENTENGAN AQIDAH DALAM KONSEP NU

 (BAGIAN PERTAMA)


Dalam Anggaran Dasar NU Pasal 2 ayat 2 tentang tujuan berdirinya NU disebutkan: “Menegakkan Syari’at Islam menurut haluan Ahlussunnah wal Jamaah”. Implementasi pasal dan ayat itu salah satunya adalah memperjuangkan formalisasi syariat Islam dalam tatanan hukum positif negara, semisal upaya mengegolkan Perda-Perda anti kemaksiatan yang sangat dibutuhkan oleh umat Islam, termasuk juga upaya memberantas pornografi dan pornoaksi yang dicetuskan lewat Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi.

Untuk itu, jelas sekali bahwa warga NU, baik yang berada pada struktur kepengurusan mulai dari pusat hingga daerah, maupun warga NU kultural, semuanya berkeharusan untuk menerapkan Anggaran Dasar NU pada pasal ini, yaitu memperjuangkan formalisasi syariat Islam.

Dengan demikian, jika ada kelompok yang tidak menaati Anggaran Dasar NU apalagi hingga menentangnya, maka sudah bisa dikatakan mereka ini pada hakekatnya bukanlah warga NU. Demikian ini tentunya jika warga NU konsekuen dengan ketentuan dan ajaran para pendahulunya yang dituangkan dalam AD/ART Organisasi.

Masih segar dalam ingatan bahwa Gus Dur (GD) dan kelompoknya menolak keras pemberlakuan RUU APP yang digodok oleh Pansus DPR RI, sehingga sampai saat ini RUU APP menjadi tidak jelas arah dan tujuan, serta keberlanjutannya. Penolakan GD Cs ini jelas-jelas bertentangan dengan tujuan didirikannya Organisasi NU sebagaimana tersebut di atas.

Pada upaya pembentengan aqidah Ahlus sunnah wal jama’ah, KH. Hasyim Asy’ari telah mengajarkan sebagaimana yang termaktub dalam Muqaddimah Qanun Asasi NU, mengenai keharusan warga NU menolak bid’ah dhalalah (ajaran/aliran sesat), yang dikembangkan oleh para pengusungnya dalam tubuh NU. Hadratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari telah melarang warga NU mengikuti aliran sesat semisal Syi’ah Zaidiyyah, padahal kesalahannya relatif ringan, yaitu mereka mengatakan bahwa S. Ali bin Abi Thalib lebih afdhal daripada S. Abu Bakar dan S. Umar RA. Kesalahan itupun sudah dianggap sesat dan ditolak oleh Hadratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari, apalagi Syi’ah Imamiyyah Khomaeniyyah yang berpusat di Iran, yang salah satu ajarannya mendiskreditkan hingga mencaci-maki, bahkan sampai mengkafirkan para Sahabat RA. Pencaci-makian ini termaktub dalam kitab rujukan utama mereka Al-Kaafi karangan Al-Kulaini.

Untuk itulah warga NU harus mempertanyakan toleransi PBNU atas penerimaan presiden Iran di kantor PBNU pada tanggal 22 Mei 2006. Padahal, pemerintahan Iran dengan terang-terangan menyediakan beasiswa bagi para pelajar Indonesia untuk menimba ilmu di negeri Iran. Sudah menjadi rahasia umum adanya puluhan mahasiswa yang kini belajar aqidah Syi’ah Imamiyah di kota Qum Iran, yang salah satu programnya adalah memperdalam aqidah Syi’ah Imamiyah untuk diajarkan kepada masyarakat saat mereka pulang nanti. Jadi jelas, kebijakan PBNU menerima presiden Iran adalah termasuk Syubhat dalam pendidikan dan dakwah yang sangat bertentangan dengan ajaran Hadratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari.

Warga NU juga harus menolak dengan tegas ajaran dan pemikiran Sepilis (Sekulerisme-Pluralisme-Liberalisme) yang marak diusung oleh tokoh-tokoh liberal, sekalipun mereka ada yang menjabat sebagai pengurus NU baik pada tingkat Pengurus Besar, Pengurus Wilayah, maupun Pengurus Cabang, karena pemikiran liberal ini telah keluar dari Anggaran Dasar maupun Muqaddimah Qanun Asasi NU. Sebagai contoh kongkrit adalah pemikiran salah seorang pengurus PBNU yang melontarkan ide liberalnya tentang manasik haji. Dia mengatakan bahwa pelaksanaan manasik haji mulai wuquf di Arafah, hingga mabit dan lempar jumrah di Mina boleh dilaksanakan pada waktu-waktu selain tanggal 9 s/d 13 Dzul Hijjah, dengan alasan demi keselamatan jiwa.

 Semisal jika ada jamaah haji yang akan melaksanakan wuquf di Arafah dan mabit di Mina pada bulan Syawwal, karena menurutnya, bulan Syawwal termasuk dalam kategori ayat alhajju asyhurun ma’luumaat (haji itu dilaksanakan pada bulan-bulan tertentu), alias mulai bulan Syawwal hingga Dzul Hijjah, demikianlah caranya menafsiri ayat ini secara global. Pemikiran liberal ini sangat kontradiksi dengan hadits Nabi SAW Khudzuu ‘anni manaasikakum [ambillah/ikutilah aku (Nabi SAW) dalam melaksanakan manasik hajimu]. Nabi SAW sendiri melaksanakan ibadah haji dan mengajarkannya tepat tanggal 9 s/d 13 Dzul Hijjah. Manasik haji dengan konsep tauqifiy nabawiy (doktrinasi kenabian) inipun sudah dilaksanakan oleh masyarakat Islam seluruh dunia, mulai sejak Nabi SAW masih hidup, dan dilanjutkan oleh para ulama salaf, termasuk para pendiri, sesepuh NU, dan segenap umat Islam hingga saat ini.

Contoh lain adalah prilaku salah seorang fungsionaris PBNU yang tanpa canggung berkhotbah dalam acara misa umat kristiani di sebuah gereja di Surabaya, dengan background belakangnya adalah salib patung Yesus dalam ukuran yang cukup besar. Beritanya pun dimuat oleh majalah Aula milik warga NU. Fungsionaris PBNU ini juga pernah melontarkan gagasan liberalnya yaitu merencanakan pembangunan sebuah gedung bertingkat, dengan komposisi lantai dasar akan diperuntukkan sebagai masjid bagi umat Islam, sedangkan lantai tingkat satu diperuntukkan sebagai gereja bagi umat kristiani, lantai tingkat dua diperuntukkan sebagai pure bagi penganut Hindu, demikian dan seterusnya.

Di wilayah Pandaan Pasuruan Jatim, ada pendirian tiga gereja ilegal yang IMB tiga gereja itu dipermasalahkan oleh warga setempat, bahkan keberadaannya yang ilegal cukup meresahkan masyarakat. Masyarakat pun mengirim nota protes kepada pihak pemerintah daerah Pasuruan. Namun, yang menjadi keheranan masyarakat Pandaan adalah apa yang dilakukan Ketua Tanfidziyah PBNU, yang tiba-tiba mendatangi termpat ibadah umat kristiani tersebut dalam rangka memberi dukungan keberadaannya, tanpa ada konfirmasi sebelumnya dengan masyarakat setempat. Berita pembelaan Ketua Tanfidziyah PBNU ini sempat dirilis oleh Koran Radar Bromo.

Tentunya, kita tidak ingin organisasi NU ini dijadikan komoditi bagi kepentingan berkembangnya pemikiran dan aliran sesat, maupun kepentingan non muslim di Indonesia. Hal ini sangat bertentangan dengan ajaran syariat Nabi SAW dan ijtihad para ulama salaf yang menjadi basic pemikiran para pendiri NU.

Di bawah ini, penulis (Pen) ingin menampilkan dialog via SMS antara penulis dengan beberapa warga/tokoh NU yang sering berkomunikasi dengan pembahasan seputar ke-NU-an. Semula penulis menerima operan SMS dari seorang teman seperjuangan dan sepemikiran. Karena suatu hal, maka penulis cukup menyebut inisial nama teman tersebut dengan KH. YR. Rupanya, telah terjadi sebelumnya dialog SMS antara KH. YR dan TI, tentang konsep ke-NU-an. Lantas KH. YR mengirim salah satu SMS tersebut kepada penulis, karena dirasa berkompeten untuk menjawabnya.

TI : Partai Rasulullah yang mana? Apakah Rasulullah punya partai? Memang Luthfi tak ubahnya seperti Ba’asyir. Apa Rasulullah menganjurkan Islam harus keras. Coba dia kalau bisa atur pikirannya. Bagaimana dengan para sunan-sunan dahulu dengan gendingnya? Bagaimana para wali dengan kesabarannya, dengan ilmu laddunni-nya, yang menarik dengan akhlak dan tak pernah kasar? Haruskah Islam itu kasar? Apa arti kupasan dari laa ikraaha fid diin (tiada paksaan dalam agama) atau lakum diinukum waliyaa diin (bagimu agamamu dan bagiku agamaku) sedangkan Allah SWT berkata dalam Alquran innaddiina ‘indallaahil islaam (sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah adalah Islam). Tolong suruh kupas Luthfi. Ini Luthfi adalah faktor kebencian. Dalam Islam bolehkah seseorang terlalu membenci mukmin yang lain? Ya akhi KH. YR, tunjukkan SMS ini pada Luthfi.

Pen : Baik Pak Kiai KH. YR, tapi mohon saya diberi waktu dialog yang rileks, tidak tergesa-gesa, untuk mendapatkan hasil dakwah yang maksimal, sekalipun ‘innaka lan tahdii man ahbabta walaakinnallaha yahdii man yasyaa-u’ (sesungguhnya engkau tidak akan bisa memberi hidayah kepada orang yang kau cintai, tapi Allah lah yang akan memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki). Juga karena saya sedang melakukan persiapan, Jumat depan 23 sd 30 Juni saya dengan 10 santri akan berangkat jadi relawan korban gempa di wilayah Kristenisasi Ds. Dengkeng Kec. Wedi, Klaten (ini priode ke 2).

Ini jawaban saya, mohon Pak Kiai sampaikan kepada TI:

1) Penghancuran Masjid Dhirar oleh umat Islam yang dikomandani langsung oleh Rasulullah SAW adalah bukti bahwa pembasmian tempat munkarat boleh dilakukan secara fisik jika diperlukan. Apakah prilaku Rasulullah SAW menghancurkan Masjid Dhirar yang didirikan oleh kelompok munafiq ini dinamakan radikal? Dan apakah dengan prilaku ini juga Rasulullah SAW dikatakan tidak rahmatan lil alamin? Tentu konteksnya berbeda antara prilaku Beliau SAW saat berdakwah kepada umat dakwah, dengan prilaku Beliau SAW saat menghadapi kemungkaran hasil konspirasi kaum kuffar dan munafiqun. Sebaiknya tokoh-tokoh Nahdhiyyin mengkaji ulang tafsif Surat Attaubah mulai ayat 107, bagaimana konspirasi orang-orang munafiq dengan Pendeta Kristen Abu `Amir yang disifati oleh Alquran sebagai musuh Allah dan Rasul-Nya.

Dengan secuplik dari surat ini saja, umat Islam yang bijak akan bisa meletakkan diri kapan harus tegas dan kapan harus lemah lembut (asyiddaa-u `alal kuffar, ruhamaa-u bainahum). Patut disangsikan pemahaman GD saat dia mengatakan Kristen dan Yahudi itu bukan kafir, tapi Alhul kitab (Jawa Pos Ahad 18 Juni 2006). Allah berfirman dengan jelas : laqod kafarol ladziina qooluu innallaha huwal masiihubnu maryam. “Sungguh kafir orang-orang (Kristen) yang mengatakan bahwa Allah adalah Almasih (Isa) bin Maryam)”. Jadi kaum Nasrani yang tidak masuk Islam adalah kafir (bisa harbi/dhimmi/ummat dakwah) tergantung sikon mereka. Tapi tetap saja mereka ini disebut kafir.

2) Almukmin qod ya`shi walaa yakdzib (seorang mukmin terkadang bermaksiat, tapi tidak akan berbohong). Aayatul munafiqi tsalatsah, idza haddatsa kadzaba wa idza wa’ada akhlafa wa idzaktumina khaana (Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga; jika berbicara dia berbohong, jika berjanji dia tidak menetapi, dan jika dipercaya dia berkhianat). Bohong bukan sifat orang Islam, bohong sebagai ciri khas orang-orang munafik. M. Guntur Romli telah melakukan kebohongan publik. Wawancara Guntur Romli dengan GD tentang penodaan terhadap Alquran (paling porno) telah dimuat di Website JIL (Islamlib.com) tanggal 10 Mei 2006 (data copy tersimpan), pada tanggal 16 Mei 2006 koran Duta Masyarakat menukil dan memuatnya ulang. Tatkala para ulama ramai-ramai menuntut GD, maka Guntur cs (JIL) menghapusnya dari Website JIL untuk menghilangkan barang bukti.

Bahkan Guntur membuat opini cerita yang dimuat Koran Harian Bangsa, bahwa perkataan GD itu telah dipelintir oleh lawan politiknya. Dia mengatakan di Website JIL (maksudnya yang telah direvisi) tidak ada penodaan GD terhadap Alquran. Dari peristiwa ini, jadi semakin jelas, bahwa tidak ada kejujuran yang akan ditegakkan oleh Guntur Romli cs.

Jadi mempercayai klarifikasi Guntur yang di muat koran Harian Bangsa, tidak ada manfaatnya di dunia dan akherat nanti. Apa ada manfaat bagi kejayaan umat Islam saat mereka terus-terusan disuguhi kebohongan-kebohongan publik yang sengaja dilakukan oleh `tokoh-tokoh publik figur`, hanya untuk menutup-nutupi kemungkaran aqidah yang dilakukan GD, yang terus menggerogoti keyakinan umat Islam terhadap "kesakralan, kesucian, ke-mahfudz-an, kehormatan, dan kemurnian Alquran?" Wallahi, saya tidak akan pernah mempercayai keimanan dan keislaman `siapa saja` yang telah melecehkan `Alquran`, wa a`taqidu bikufri man ihtaqorol Quran, wahuwa kalamullah almunazzal alaa Sayyidina Muhammad SAW biwaashithoti Jibril AS, almuta`abbadu bitilaawatihi, almu`jizu li a`daaihi bisuurotin waahidah (saya meyakini kekufuran orang yang melecehkan Alquran, sedang Alquran adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril AS, membacanya dihukumi ibadah, bisa melemahkan/menjadi mukjizat bagi musuh-musuhnya, walaupun dengan satu surat).

Jadi, masalahnya bukan `benci kepada sesama mukmin`, tapi saya akan terus memerangi kemungkaran-kemungkaran yang dilakukan dihadapan publik oleh siapa saja, man ra-a minkum munkaron fal yughoyyirhu biyadi, wainlam yastathi` fabilisaanih, fainlam yastathi` `fabiqolbih` wa dzalika adh`aful iimaan (barangsiapa diantara kalian melihat kemunkaran, hendaknya dia merubah dengan tangannya, jika tidak bisa, maka dengan lisan/ucapannya, jika tidak bisa maka dengan hatinya, itulah selemah-lemahnya iman).

Untuk itu pula Rasulullah SAW berkali-kali memimpin dan mengirim tentara-tentara perang, disamping dakwah bil mau`idhotil hasanah. Wali Songo sepakat membunuh Syeikh Siti Jenar, lantaran mereka menilainya telah keluar dari ajaran syariat. Jadi, dakwah para sunan tidak menggunakan pendekatan kultur (gendingan dll) saja, bahkan variatif disesuaikan sikon. Anzilin naasa manaazilahum, wa khootibin naasa biqodri `uquulihim (Letakkanlah ummat itu sesuai dengan posisi kedudukannya, dan bicaralah kepada ummat sesuai kadar akal mereka). Mereka ini pewaris perjuangan Nabi SAW yang rahmatan lil ‘alamin, dan hasil didikan mereka, lahirlah P.Diponegoro, dll, yang dengan berjubah dan berimamah/sorban memerangi kemungkaran transfer kekufuran (kristenisasi) dan penjajahan yang dilakukan oleh tentara Kristen Belanda.

 (termasuk rahmatan lil ‘alamin adalah melawan kemungkaran dan menghindarkan umat dari `dzaharal fasaadu fil barri wal bahri bimaa kasabat aidin naas (telah tampak kerusakan di darat dan di laut sebab ulah tangan-tangan manusia). Termasuk fasad aqidah yang menyebabkan `kemurkaan Allah` dengan datangnya bencana-bencana alam. Bagaimana tidak terjadi, jika banyak tokoh-tokoh partai yang menolak pemberlakuan/formalisasi hukum-hukum Allah di Indonesia, hanya berdalih melindungi minoritas yang jelas-jelas kafir dan menentang `Penciptanya`. Padahal mereka juga makhluk Allah. Ketahuilah, hukum Allah sangat bijak untuk makhluk-makhluk-Nya. Pak Kiai, Saat ini saya `sedang` mampu berdakwah dan memerangi kemungkaran dengan `lisan dan tulisan`. Semoga mata hati umat Islam dibuka oleh Allah.

3) Arti ayat “Laa ikrooha fid diin” = tidak ada paksaan dalam memilih agama. Mau masuk Islam Alhamdulillah, mau pilih kafir atau pilih nerakapun ya terserah, tapi harus diperhatikan terusan ayatnya: qod tabayyanar rusydu minal ghoyyi (Sungguh telah jelas jalan yang benar/Islam dan jalan yang sesat/selain Islam/kekafiran). Tetapi jika pilih masuk Islam ya harus udkhuluu fis silmi kaaffah (masuklah ke agama Islam secara menyeluruh).

Termasuk bersedia melaksanakan secara mutlaq hukum Islam yang diturunkan oleh Allah lewat Alquran. Bukan berhukum dengan hukum bikinan manusia ala demokrasi atau ala kebangsaan, Afahukmal jaahiliyyati yabghuun? (apakah hukum produk jahiliyyah/demokrasi ala barat / kafir yang diinginkan?).

 Maka umat Islam tidak boleh pasif dalam memperjuangkan tatbiiqus syari`ah (penerapan syariat Islam) di muka bumi termasuk Indonesia. Jika suatu saat ada kesempatan untuk melaksanakan syariat Islam secara kaaffah, maka saat itu pula wajib bagi seluruh umat Islam melaksanakannya. Jadi tidak ada kata final dalam memperjuangkan tatbiiqus syari`ah sebelum benar-benar terwujud pemberlakuan syariat Islam. Innad diina `indallahil Islam (sesungguhnya satu-satunya agama (yang diakui kebenaran syariatnya) oleh Allah (setelah Nabi Muhammad diutus) adalah Islam), untuk itu segala sesuatu yang diperjuangkan pun termasuk negara maupun partai wajib berasaskan Islam.

TI : Saya tunggu waktu debat terbuka di TV dengan Luthfi.

Pen : Pak Kiai, tentang tantangan debat TI di TV, saya merasa sanksi, apa adu argumen yang ditampilkan di TV itu akan menghasilkan kejayaan bagi Islam dan umat Islam? Kita belum punya televisi dakwah Islam yang sesungguhnya.

 Saya kira kurang ada manfaatnya. Ilmu yang manfaat tidak harus dipublikasikan lewat TV. Semestinya Hasil ijtihad empat imam madzhab, lebih layak untuk ditampilkan di TV hingga dapat diserap oleh masyarakat, agar yang muslim lebih yakin keislamannya. Dan yang anti tatbiiqus syariah bisa dapat hidayah, sedangkan ilmu saya yang dhaif ini cukup : fa intanaaza`tum fi syai-in farudduuhu ilallahi wa ilar rosuuli in kuntukum tukminuuna billahi wal yaumil aakhir. [Jika kalian berselisih pendapat tentang sesuatu (Kristen itu kafir apa tidak?) maka kembalikan/rujuklah ke (firman) Allah dan (sabda) Rasul, itu jika kalian beriman kepada Allah dan hari Qiamat]. Jika sesuai Alquran dan Hadits akan kita jadikan pedoman/panutan, jika bertentangan dengan kedua-duanya, maka buang saja jauh-jauh dari kehidupan kita. Pak Kiai, saya ini bukan orang partai, jadi saya tidak tahu banyak tentang partai. Saya murni orang pondokan yang puritan, selalu bersarung dan berbaju takwa. Saya juga tidak beli TV untuk rumah tangga saya. Yang ingin tahu pemikiran saya, sebaiknya baca karangan saya Musuh Besar Umat Islam (Terbitan LPPI/ Gema Insani, tersedia di toko-toko buku umum) hingga tuntas.

4) Arti wa maa arsalnaaka illa rahmatan lil `aalamiin. Tidaklah kami utus engkau (Hai Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam. Rahmatan Lil Alamiin (untuk berikutnya disingkat `RLA`) bagi seluruh alam termasuk bagi umat Islam dan orang kafir. Tetapi setiap dari kedua kelompok ini ada bagiannya sendiri-sendiri, tidak disamaratakan. Seperti halnya seorang ayah yang dikatakan dermawan terhadap semua orang, tentu pembagian obyek kedermawanan shadaqahnya berbeda-beda. Misalnya kepada tetangga dia `sering` menyantuni. Sedangkan kepada anaknya, dia `tiap hari memberi nafkah makan dan uang saku`, tetapi kepada Istri tidak sekedar itu, disamping menyantuni juga menafkahi dan sekaligus mengumpuli. Jadi setiap kelompok dapat bagian sendiri-sendiri, tidak bisa disamaratakan. Jika ada pihak yang menerapkan penyemarataan, itu termasuk kedhaliman. Semisal, demi pemerataan, apa para wanita tetangganya juga dikumpuli? Apa anak gadisnya juga dikumpuli? Pemahaman penyamarataan inilah yang dikatakan `kalimatu haqqin uriida bihal baathil` = Kalimat yang benar tetapi dipergunakan untuk tujuan salah.

Hakikat `RLA` bagi umat Islam: Allah menurunkan taufiq dan hidayah kepada umat Islam dan istiqamah di dalam agamanya adalah lantaran dakwah dan rahmat Nabi Muhammad SAW. Umat Islam yang benar-benar cinta Rasul akan terus mendapatkan kemudahan dalam hidup dan mendapatkan bimbingan untuk selalu beramal shaleh. Kelak, tatkala semua manusia di padang mahsyar ada yang akan masuk sorga atau neraka, Rasulullah terus memohon kepada Allah untuk keselamatan umatnya : ummatii...ummatii (Umatku...Umatku...)

Itulah gambaran simpel `RLA` bagi umat Islam. Adapun `RLA` bagi orang kafir adalah takkhirul ‘adzaab = Allah mengakhirkan adzab / balasan siksa bagi orang yang kafir kepada Allah dan Rasulullah, tidak seperti kaumnya para Nabi terdahulu, yang begitu menentang syariat Nabinya langsung diturunkan adzab / siksa, seperti banjirnya Nabi Nuh, hujan batunya Nabi Luth, dll. Namun, Rasulullah SAW diberi keistimewaan sebagai `RLA`, sehingga kaum kafirpun masih ditolelir dan tidak dimintakan adzab secara langsung oleh Rasulullah, karena rahmat beliau kepada umat manusia. Sekalipun demikian, Rasulullah SAW juga masih melakukan peperangan-peperangan dengan orang kafir agar ditiru oleh umatnya bahwa kekafiran kepada Allah di mana pun tetap harus diperangi. Sebagai ilustrasi, Bangsa Yahudi Bani Qainuqa` dan Bani Nadhirpun diusir oleh Rasulullah karena mengkhianati pemberlakuan syariat Islam di negara Islam Madinah yang dicetuskan dalam bentuk Miitsaaqul Madinah (Piagam Madinah).

 Nah, hingga kini pun orang-orang kafir Yahudi dan Nasrani, serta pemeluk agama-agama selain Islam haram masuk Kota Suci Madinah dan Makkah. Makkah dan Madinah adalah kota suci, di antaranya suci dari kekafiran manusia yang tidak mengucapkan asyhadu an laa ilaaha illallah, wa asyhadu anna muhammadan rasuulullah. Jadi arti `RLA` bukan berarti harus terlalu moderat, apalagi jika kebablas hingga pada taraf kerjasama dalam bentuk ritual, aliansi partai, apalagi mengatur undang-undang untuk mengatur hidup manusia.

TI : Ya akhi KH. YR, SMS ini tolong diteruskan ke Luthfi. NU lahir bukan untuk memproduksi ekstrimis. Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy`ari, KH Wahab Hasbullah, KH Bisri Syamsuri dan kiai pendiri NU lain tak pernah bersikap ekstrim dan tak punya sopan santun seperti itu. NU lahir sangat menghargai tradisi lokal. Bukan seperti Wahabi yang mau menyeragamkan tafsir agama seperti itu. Bahkan NU juga lahir sebagai reaksi atas sikap Raja Ibnu Saud yang mau menyeragamkan paham agama di Saudi, yakni ajaran Wahabi.

 Nah, sekarang orang seperti Luthfi Bashori ini Wahabi pura-pura berkedok NU. Padahal ia sama sekali tak paham nilai-nilai dan ajaran NU. Buktinya, tindak tanduknya selalu bertentangan dengan NU yang santun dan penuh tabayyun. Belakangan ini kelompok Islam aliran keras memang berusaha ngaku-ngaku NU dan mendekati orang NU untuk memasukkan ajaran mereka agar bisa diterima oleh warga NU. Padahal, kiai-kiai sudah paham siapa mereka.

Jangan lupa, Din Syamsudin yang sekarang ketua umum PP Muhammadiyah dulu juga ketua IPNU. Jadi kalau sekedar pernah sekolah di muslimat NU, sebagaimana yang ada dalam biodata Luthfi, lalu memproklamirkan diri sebagai orang NU, ditertawakan orang. Seseorang bisa dikategorikan NU atau tidak, dilihat dari paham keagamaan dan perilakunya. Bagaimana mungkin orang yang sangat mudah mengkafirkan orang lain mengaku orang NU.

 Orang NU yang sangat awwam pun paham ajaran bahwa orang yang mengkafirkan orang lain, padahal yang dikafirkan itu baca syahadat, maka yang mengkafirkan itulah yang kafir. Ajaran ini sangat populer di desa-desa karena orang awwam itu mengaji kitab Sullamut Taufiq dan Safinatun Najah. Jadi sejak kecil mereka diajari bersikap moderat, bukan agitasi ekstrim mengkafirkan sesama Islam.

Aneh, mereka secara lisan menyatakan Islam rahmatan lil-alamin, tapi sesama muslim yang beda pendapat saja dikafirkan. Kalau semua umat Islam yang beda pendapat dicap kafir, lalu tinggal berapa umat Islam? Bagaimana umat Islam bisa punya kekuatan kalau yang beda pendapat diusir dari Islam? Memangnya Islam hanya diturunkan kepada mereka saja. Siapa yang punya otoritas dan merasa punya hak paten soal Islam? Kok makin menggelikan. Rasululah menebar kasih sayang, tapi mereka malah menebar permusuhan. Apa komentar Luthfi tentang ini.

Pen : Apapun tuduhan yang mengatakan kalau saya, Luthfi Bashori sebagai Wahabi, sama sekali tidak berdasar. Seorang ahli jarh wat ta`dil (ilmu menilai seseorang dalam musthalah hadits, untuk menentukan perawi itu tsiqat shahih atau tidak) harus benar-benar berdasarkan realita di lapangan, bukan sekedar analisa. Saya sendiri sangat menghormati siapapun lawan bicara saya, asalkan benar-benar sesuai dengan disiplin ilmu masing-masing. Mengapa terkadang saya terkesan keras, sebab seringkali saya menghadapi lawan bicara yang asal tuduh dan asal comot kata-kata. Mereka mengatakan saya Wahabi, tetapi tidak tahu Wahabi itu hakekatnya bagaimana. Kemudian mereka mengaku dirinya paling NU.

 Saya ingin memberi contoh masalahnya. Dalam kitab Sullamut Taufiq, terdapat pembahasan anwaa`ur riddah yang justu bertentangan dengan perilaku kesekuleran dan keliberalan mereka. Lucu jadinya kalau dakwah saya di-counter dengan Sullamut Taufiq dengan alasan saya adalah penganut Wahabi. Kalau boleh saya terangkan, bahwa salah satu ciri penganut Wahabi adalah anti talqin mayyit dan mengharamkan Peringatan Maulid Nabi SAW. Padahal saya sangat meyakini kebenaran talqin bagi mayyit, bahkan sudah berkali-kali mentalqin mayyit (bisa di-cros chek kepada masyarakat di daerah tempat tinggal saya). Di pesantren Ribath Al Murtadla Al Islami yang saya asuh, tiap tanggal 12 Rabi’ul Awwal selalu menyelenggarakan Peringatan Maulid Nabi SAW yang dihadiri oleh para habaib, ulama, dan umat Islam.

 Wahabikah saya? Kini saya balik bertanya kepada para pengaku bahwa dirinya NU tulen, yang terang-terangan mendirikan partai sekuler dan liberal, yang mana sesuai pengakuan GD sendiri bahwa anggota partai yang didirikannya 50 % NU, 25 % non NU, 25 % non Muslim (Kristen, Budha, Hindu, Khong hucu, PKI, dsb). Akan saya tanyakan: Kalau di antara mereka meninggal dunia, dan saya disuruh mentalqin, saya akan membaca : Man rabbuka (siapa tuhanmu?). Kemudian saya tuntun jawabannya: Allahu Rabbi (Allah adalah Tuhanku). Man nabiyyuka (siapa Nabimu?), Muhammadun nabiyyi (Muhammad adalah Nabiku). Maa dinuka (apa agamamu?), Al Islamu diini (Islam agamaku). Maa qiblatuka (Apa qiblatmu?), Alka`batu qiblati (Ka`bah adalah qiblatku). Sampai disini pertanyaan dan jawaban masih aman dan lancar.

 Tetapi talqin berikutnya: Maa imaamuka (apakah pegangan/hukum yang kau tegakkan dalam hidupmu?). Kalau saya talqin, `Alquran pedoman hidupku` pasti tidak sesuai realita, sebab mereka menolak penerapan hukum Alquran/syariat Islam. Terpaksa saya mentalqin mereka dengan : "Demokrasi sekuler dan liberal adalah pedoman hidupku".

Apa Malaikat Munkar Nakir mau menerima jawaban mereka? Belum lagi jika sampai pada pertanyaan talqin terakhir: Man ikhwaanuka (siapa teman / mitra aliansi partai/idola/cs hidupmu?). Kalau saya talqin seperti ajaran NU : `orang muslim dan mukmin adalah teman-temanku` jelas tidak sesuai realita. Maka dengan berat hati akan saya talqin mereka: "Teman-temanku adalah orang muslim, mukmin, Yahudi Simon Peres, orang Nasrani, pendeta Franz Magnis Suseno, artis porno, waria, Budha, Hindu, PKI, dukun, kejawen, pokoknya segala macam manusia dengan latar belakang berbeda-beda yang penting mau gabung dengan `partai terbuka`-ku, maka mereka inilah teman `gado-gado`ku...! Kira-kira apa reaksi Malaikat Munkar-Nakir?.

 Saya yakin jika kita mau kembali merujuk ajaran KH. Hasyim Asy`ari dalam kitab beliau Risalah Ahlis Sunnah Wal Jama`ah, pasti tidak akan ada warga NU yang mau masuk partai bikinan GD yang sekuler. Bagaimana tidak, asas NU saja Islam Ahlus Sunnah Wal Jama`ah, tetapi partainya GD menolak asas Islam Ahlus Sunnah Wal Jama`ah? Yakinlah bahwa figur KH. Hasyim Asy`ari sama sekali berbeda dengan GD. Konsep ke-NU-nya KH. Hasyim Asy`ari juga sangat jauh berbeda dengan konsep partai-nya GD. Mau bukti? Adakan studi banding antara Qanun Asasi Nahdlatul Ulama dengan Mabda` Siyasi partainya GD itu. Pasti akan didapati perbedaan yang sangat jauh. Perlu diketahui, saya hanyalah pengamat partai. Semoga warga NU lebih senang mengamalkan wong kang shalih kumpulono (bergaul dengan orang-orang shalih), bukan mengamalkan wong kang tenar/sugih kumpulono (bukan memilih bergaul dengan orang-orang terkenal dan kaya saja).

TI : Ya akhi KH. YR, Luthfi tidak faham, kalau GD posisinya di politik untuk merangkul orang-orang non Islam dalam ring-ring politik, agar orang-orang non Islam tadi bisa menilai dan memberi suntikan, juga agar mereka tahu bahwa Islam ini rahmatan lil ‘alamin. Cuma memang GD sering membuat move politik dengan cara yang tajam. Kenapa mereka orang kafir kok bisa menyelusup di kalangan Islam?

Pen : Pak Kiai, jawaban saya untuk TI sebagai berikut: Sekali lagi saya tidak yakin bahwa pendukung GD mengaku belajar Sullamut Taufiq, kitab pegangan dasar warga NU. Dalam Sullamut Taufiq pada faslun Fiima yuuqi`u fir riddah (Pasal tentang perkara-perkara yang menjerumuskan ke arah kemurtadan) jelas diterangkan: Murtad ada tiga macam, diantara penyebab kemurtadan :

1.I’tiqad (mis: ragu terhadap kebenaran dan relevansi syariat Islam yang bersumber dari Alquran dan Hadits Nabi untuk diterapkan di segala zaman). GD menentang formalisasi Syariat Islam.

2.Af ’aal (mis: dalam kitab Assyifa, Al-Imam Qadhi Iyadl Alyahshubi Almaliki beliau mengatakan; di antara penyebab kemurtadan adalah `Berjalan menuju Gereja bersama kaum Nasrani, untuk memeriahkan Natal atau ibadah mereka di Gereja, maupun ritual lain di luar Gereja). GD hadir di Senayan bersama 10 ribu kaum Nasrani dalam kegiatan ritual agama Kristen, dan didoakan oleh Pendeta wanita dari luar negeri, atas nama `Tuhan Yesus` untuk kesembuhan mata GD. Kaset CD-nya tersimpan.

3.Aqwaal (mis: Perkataan yang menghina Allah atau Alquran, atau mengatakan bahwa penganut Yahudi dan Nasrani yang tidak mengimani kerasulan Nabi Muhammad itu tidak kafir, jadi ucapannya jelas bertentangan dengan Nash Alquran). GD mengatakan Kitab suci paling porno di dunia adalah Alquran - ini bentuk pelecehan yang paling keji.

 GD menyatakan di Bali saat diangkat jadi Presiden: Semua agama itu sama benarnya. Saya dengar sendiri di TV dan kliping korannya tersimpan, dan diulang lagi beberapa kali dengan kalimat berbeda tapi artinya sama. Termasuk yang baru dimuat Jawa Pos 18 Juni 2006, dia mengatakan : Yahudi dan Nasrani itu tidak kafir, tetapi Ahlul kitab. Ucapan-ucapan GD ini bertentangan dengan firman Allah yang sharih. Tujuan dia untuk mendapat simpati dan dukungan orang-orang kafir tersebut.

Beberapa kali di atas mimbar dan dimuat di koran-koran, dengan bangga GD menyatakan keberhasilan partai yang dirintisnya : 50 % warga NU, 25 % warga Non NU, 25 % sisanya adalah Non Muslim (alias Kafir). Ini adalah konsekuensi sebagai partai terbuka. Allah berfirman: Laa yattakhidil mukminuunal kaafiriina auliyaa-a min duunil mukminiin, waman yaf`al dzaalika falaisa minallahi fii syaiik. [Umat Islam jangan mengambil orang-orang kafir sebagai mitra setia untuk bekerja sama (termasuk dalam aliansi partai) dengan meninggalkan sesama muslim (karena di partai yang berbeda, yang selama ini dibaca oleh orang-orang non partai terkesan sikut-sikutan demi sebuah ‘kepentingan`) barang siapa melakukan hal tersebut, maka Allah tidak akan memperdulikan atau menerima sesuatupun darinya].

Perlu diingat, resiko fanatisme buta yang menyebabkan ketidakberanian untuk mengoreksi perilaku dan pemikiran GD yang jelas-jelas bertentangan dengan ayat suci Alquran, tersirat dalam sabda Nabi SAW : Man maata `alaa `ashobiyyatin maata miitatal jaahiliyyah. (Barang siapa mati karena fanatisme buta, maka mati dalam keadaan jahiliyah).

Satu lagi yang perlu diingat bahwa pencampuradukan ritual agama, seperti pelaksanaan doa bersama tokoh-tokoh lintas agama adalah bertentangan dengan nash Alquran: Waqod nazzala `alaikum an idzaa sami`tum aayaatillahi yukfaru bihaa wa yustahzau bihaa falaa taq`uduu ma`ahum hatta yakhudhuu fi hadiitsin ghoirih, innakum idzan mitsluhum, innallaha jaami`ul munafiqiina wal kaafiriina fi jahannama jamii`an. [Sungguh telah Kami turunkan peringatan untuk kalian, apabila kalian mendengar ayat-ayat/ajaran agama Islam dikufuri/diingkari dan di olok-olok/dilecehkan (dengan cara menyebut-nyebut dan berdoa kepada Tuhan selain Allah) maka jangan sekali-kali kalian duduk bersama mereka (saat pelaksanaan ritual/acara baca doa para penyembah selain Allah), hingga mereka berbincang dalam pembahasan yang lain (misal: urusan bisnis yang tidak ada syarat `Islam` bagi penjual maupun pembeli. Dan jika kalian tetap `nekat` duduk bersama orang-orang kafir penyembah selain Allah saat mereka melaksanakan ritual keagamaannya) niscaya kalian (dihukumi oleh Allah) sama seperti mereka (dalam kekafiran), sesungguhnya Allah akan mengumpulkan orang-orang munafiq dan orang-orang kafir bersama-sama di neraka Jahannam].

Dalam surat Annisa ayat 140 ini sangat jelas diterangkan bahwa hadir dalam perayaan ritual agama selain Islam, oleh Allah disamakan statusnya dengan orang-orang kafir. Adapun dua ayat sebelumnya sangat jelas prilaku pencampuradukan ritual agama adalah pekerjaan orang-orang munafiq yang selalu menjadikan orang-orang kafir sebagai teman/sahabat/mitra/ aliansi dalam menjalani kehidupan. Padahal berapa banyak dari tokoh-tokoh sekuler-liberal bahkan telah berkali-kali hadir ritual Natal bersama penganut Nasrani penyembah Tuhan Bapa, Tuhan Anak, Roh Kudus (Trinitas). Belum lagi yang menghadiri ritual agama-agama lainnya semisal Khong hucu, yang salah satu tradisi ritualnya adalah Barongsai. Tak ubahnya semisal kesenian hadrah diyakini warga NU sejati sebagai salah satu bentuk ritual karena mengandung bacaan shalawat nabi, maka Barongsai juga adalah salah satu ritual umat Khong hucu. Jadi hadir dalam pagelaran Barongsai bukanlah sekedar nonton kesenian. Warga NU yang arif dan shaleh, tidak akan mengorbankan aqidahnya hanya karena mengikuti keinginan hawa nafsunya untuk menonton Barongsai. Apalagi hanya karena membela suatu partai.Patut disayangkan, saat ini tokoh-tokoh publik justru ramai-ramai hadir dalam perayaan-perayaan ritual agama selain Islam. Waman yabtaghi ghairal islaami diinan falan yuqbala minhu wahuwa fil aakhirati laminal khaasiriin. [Barangsiapa mencari (syariat dan ritual) agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima (syariat dan ritual itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi (karena masuk neraka)]. Coba perhatikan lagi perilaku tokoh-tokoh lintas agama dengan ekspos besar-besaran secara nasional oleh media cetak dan TV. Apa tujuannya? Supaya kemungkarannya diikuti umat? Imbasnya, kini di daerah-daerah perbuatan munkar tersebut menjadi marak. Dakwah mereka mengajak umat Islam menentang firman Allah cukup berhasil. Saya infokan bahwa di daerah-daerah cukup banyak tokoh yang mengikuti ajakan dan ajaran kemungkaran tokoh-tokoh sekuler-liberal. Bahkan ada juga santri pondok pesantren NU yang ke mana-mana membawa tas map berlambang salib, salah satunya pernah mampir ke rumah saya. Tatkala saya tanya dari mana tas itu? dia menjawab, ‘hadiah dari gereja saat ikut program tukar menukar santri-pelajar antar pesantren (NU) dan gereja, dalam kegiatan ukhuwah lintas agama’. Hingga saat ini, santri tersebut masih aktif mengikuti kegiatan misa di gereja-gereja demi solidartitas kebersamaan. Dengan keberhasilan ini banggakah tokoh-tokoh sekuler-liberal? Senangkah mereka? Gembirakah mereka? Tetangga saya pun, yang sejak masa kecilnya selalu tidur dan aktif di mushalla, sekarang sudah menjadi Nasrani karena menganut fiqih lintas agama kaum liberal yang melegalkan kawin campur beda agama. Orang awampun menganggap remeh perilaku pindah agama, terimbas oleh ajaran liberalisme. Mereka berdalil : “kata GD, Yahudi dan Nasrani itu tidak kafir, jadi mending sekalian pindah ke Kristen saja agar tidak direpotkan oleh kewajiban shalat lima waktu, dan tidak usah mandi besar (junub) setelah berhubungan dengan istri. Kalau di Kristen kan ibadahnya cuma seminggu sekali!”. Persepsi semacam ini kah target kaum liberal, yakni mengkristenkan warga NU? Apa sesuai dengan tujuan didirikannya Ormas Nahdlatul Ulama yang berarti kebangkitan para ulama?

TI : Kita adakan debat terbuka saja dengan Luthfi. Tolong sampaikan!

Pen : Pak Kiai KH. YR, sekali lagi, saya tidak berhasrat untuk debat terbuka, karena madlaratnya lebih besar dari pada manfaatnya, terutama yang ditampilkan di TV atau media cetak. Sebab saat ini media tidak berpihak pada perjuangan ummat dalam penegakan syariat Islam. Hal tersebut sudah sering terjadi. Pemberitaan di media tidak sesuai realita dalam forum.

KH. YR : Saya setuju ustadz, dengan pendapat Antum. Media-media Indonesia mayoritas bukan milik ummat Islam. Perlu Antum ketahui bahwa pengikut GD akan mati-matian membelanya dengan segala macam cara.

Pen : Benar Pak Kiai KH. YR, di pondok-pondok pesantren sudah banyak forum bahtsul masail. Coba kita lemparkan pertanyaan kepada forum bahtsul masail, tentang apa yang dilontarkan oleh GD di Jawa Pos 18 Juni 2006 kemarin, dia mengatakan bahwa penganut Kristen itu tidak kafir, tetapi ahlul kitab. Kalau masalah ini diangkat dalam perdebatan terbuka, maka kita sebagai warga NU dan ummat Islam tidak akan mendapatkan jawaban yang kongkrit, bahkan bisa mengundang anarkisme. Tapi kalau kita lempar dalam forum bahtsul masail, maka kita akan tahu hakikat statemen GD tersebut. Dengan kata lain, kalau semua peserta bahtsul masail mengatakan penganut Kristen ‘tidak kafir’, berarti GD pintar. Tapi kalau semua peserta bahtsul masail mengatakan penganut Kristen ‘kafir’ dengan dalil firman Allah laqad kafaral ladziina qaaluu innallaaha huwal masiihubnu Maryam (Sungguh telah kafir orang (Kristen) yang mengatakan bahwasannya Allah itu adalah Isa bin Maryam), berarti GD tidak mengerti isi Alquran. Bukankah demikian logikanya, Pak Kiai?

TI : Di sini masyarakat menilai GD baik. Ingat bahwa GD berdiri di partai, GD merangkul segala lapisan masyarakat. GD berkorban. Sedangkan partai siapa saja boleh bersimpatik bahkan membantu partai. GD seorang figur yang jadzab dan khilaf. Siapa tahu orang itu bisa berhenti dari perbuatannya? Bagaimana cerita Abu Nawas dengan himarnya? Dengan gaya maksiat? Apa Luthfi tidak hafal syair Abu Nawas dengan taubatnya? Apakah seorang waria atau pelacur, bahkan pembunuh, simpatik dengan GD atau ingin didatangi, apa tidak boleh? Sekali go publik GD nggak tanggung-tanggung. Kiai dan ulama nggak mau asal partai menang, semua cara dilakukan GD. Lihat saja, makin bertambah waktu; tiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, GD tambah jadzab. Itu kehendaknya ‘khairu wa syar terserah GD wa Minallah’ (baik dan buruk itu terserah GD dan Allah). Betul tidak?

KH. YR : Begitulah ustadz fanatisme pengikut GD yang sangat berlebihan. Semua perilaku GD, termasuk yang bertentangan dengan syariat, akan dipandang baik dan benar.

Pen : Dalam kitab manaqib Syekh Abdul Qadir Jailani, Sulthanul Auliya itu mengatakan: iyyaaka an tuhibba au tubghidha ahadan qabla an tu`ridhahu `alal kitaabi was sunnah, hatta laa tuhibbuhu au tubghidhuhu bi hawa nafsik. “Jangan kau mencintai atau membenci serorang sebelum kau cocokkan prilakunya dengan Alquran dan Hadits/Syariat, sehingga kau tidak mencintai atau membenci seorang karena hawa nafsumu”. Jadi prilaku dan pemikiran GD harus diteropong dengan syariat. Jika sesuai dengan syariat silakan dipakai, jika tidak sesuai, kita tinggalkan saja figur GD dari kehidupan kita. Warga NU harus cerdas dan belajar ulang perbedaan khariqul ‘adah (keluar dari kebiasaan umum/jadzab) dengan mukhalifus syari’ah (melanggar syariat).

Warga NU harus berani tanya kepada PBNU, apakah GD masih istiqamah shalat? Jawaban mereka (rahasia umum) akan mengatakan ‘tidak shalat’, hanya kadang-kadang saja GD shalat. Jadi GD ini pelanggar syariat, bukan jadzab/khariqul `aadah. Kaidah mengatakan, orang jadzab atau maghrum atau majnun tidak boleh diangkat jadi pimpinan, jika dipaksa jadi pimpinan, pasti pengangkatnya adalah masyarakat awwam yang tidak mengerti tata tertib Fiqhus Siyasah. Jadi, jika GD jadzab maka dia tidak layak memimpin Ormas atau partai. Jika dia `sakit` atau `tidak waras` karena pengaruh strok, maka dia harus `dirumahsakitkan`.

Tapi, kalau dia ini sehat segar bugar jasmani rohani dan dianggap sebagai maskot dan sentral Ormas/partai, maka dia adalah figur ‘pemimpin yang ahli maksiat’, dan haram umat Islam mengikutinya, apa lagi menjadikannya sebagai idola panutan. Kiai As`ad Situbondo telah memberi contoh warga NU agar mufaraqah (memisahkan diri) dari kepemimpinan GD yang dianggap seperti ‘imam shalat yang kentut’ (patut dikatakan bahwa Kiai As`ad adalah Waliyullah. Sedang GD…?). Pak Kiai KH. YR, ini sekilas info dari saya. GD tadi (Minggu) malam, 26 Juni 2006, di TMII Jakarta menghadiri kontes waria se Indonesia.

Di tengah berbagai musibah, gempa, awan panas Merapi, banjir lumpur, terus saja GD mendukung kemaksiatan. Tidakkah Allah akan lebih murka lagi, dzaharal fasaadu fil barri wal bahri bimaa kasabat aidin naas. “Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan `kemaksiatan` tangan-tangan manusia”.

Apakah kelakuan GD ini lantaran hanya karena rasa kemanusiaan yang jelas-jelas merugi, innal insaana lafii khusrin (sungguh manusia itu pada merugi). Apa dia tidak tahu kalau illal ladziina aamanu wa `amilus shaalihaat (kecuali mereka yang beriman dan beramal shaleh). Kontes waria adalah kontes kemaksiatan secara terang-terangan.

Dan siapa saja yang terlibat di dalamnya sekecil apapun, adalah ahli maksiat. Laa haula wala quwwata illaa billah. Ini kajian saya murni dari sisi aqidah Islamiyah, bukan dari kacamata Ormas atau partai.

TI : Memang kalau orang seperti Luthfi yang sudah bughut (benci) atau tidak senang dengan seseorang, ada saja cara mengungkapkan ketidaksenangannya. Apa lagi ulama besar semacam GD yang berjuang demi bangsa, negara, dan agama, pasti segala gerakannya dimonitor sampai sekecil-kecilnya, kemudian dicari kesalahannya. Suatu saat kebenaran GD pasti kelihatan nyata.

Pen : Benar Pak Kiai KH. YR yang Antum katakan bahwa fanatisme sering kali menghalangi hati seseorang dari kebenaran syariat. Semoga kita dilindungi oleh Allah SWT.

Dari dialog pada bagian pertama tersebut di atas, bisa dibaca bahwa yang menjadi lawan bicara penulis adalah dari kalangan warga NU yang aktif dalam kepartaian. Karena itu, yang dijadikan tolak ukur untuk menilai sesuatu adalah partai. Adapun pada bagian kedua berikut ini adalah dialog penulis dengan tokoh-tokoh pesantren yang merangkap sebagai fungsionaris NU, dan juga aktif memperjuangkan kelestarian aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

PENEGAKAN SYARIAT ISLAM DAN PEMBENTENGAN AQIDAH DALAM KONSEP NU

 (BAGIAN KEDUA)

Fenomena yang terjadi pada tubuh NU yang harus dicermati oleh seluruh lapisan adalah, terjadinya pengkristalan dua kelompok besar pada generasi penerus NU, yaitu kelompok pengusung liberalisme dan kelompok pengemban serta pelestari ajaran ulama salaf :

1) Kelompok pertama adalah kelompok yang terpengaruh derasnya arus Sepilis (Sekularisme-Pluralisme-Liberalisme). Pada mulanya Sepilis ini menjangkiti anak-anak warga NU yang menempuh pendidikan di IAIN. Hal itu dikarenakan pendidikan formal milik NU seperti Madrasah Ibtidaiyyah, Tsanawiyyah, Aliyyah, pada mulanya tidak memiliki pilihan lain selain menyalurkan anak didiknya ke perguruan tinggi IAIN, yang dianggap dapat memberikan tambahan pendalaman faham keagamaan bagi anak didiknya.

Namun, sejak didengungkan oleh salah seorang mentri agama jargon ‘Hati boleh Makkah, pemikiran harus Jerman’, dan diadopsi oleh tokoh-tokoh IAIN, maka pada kurun akhir-akhir ini, mata kuliah ushuluddin di IAIN justru lebih mengedepankan pemikiran liberalnya.

Akibatnya sedikit demi sedikit generasi penerus dari warga NU yang mengenyam pendidikan di IAIN, banyak yang memiliki pemikiran liberal. Apalagi, saat ini dikalangan mahasiswa bahkan alumni pondok pesantren banyak yang memilih untuk melanjutkan studi keislamannya di Kanada, Boston, Chicago, dan negara-negara Barat lainnya.

Mereka mendapatkan pendidikan dan pemikiran keislaman dari tokoh-tokoh orientalis. Kita bisa mencermati semisal sepak terjang seorang dosen IAIN Sunan Ampel, Sulhawi Ruba, yang dengan terang-terangan di depan anak didiknya menginjak-injak tulisan lafdhul jalalah ‘Allah’ (dengan tulisan Arab), seraya mengatakan bahwa dia sekedar menginjak sebuah karya seni.

Pemikiran Sulhawi yang liberal menempatkan tulisan kaligrafi lafdhul jalalah sebagai karya seni yang tidak wajib dihormati, tentunya akan mengatakan hal yang sama terhadap mushaf Alquran. Bahwa mushaf Alquran yang beredar saat ini adalah sebagai hasil produk percetakan, yang boleh-boleh saja diinjak oleh kakinya. Jika pengajar di IAIN mempunyai kualitas pemikiran semacam ini, maka secara otomatis pemikiran anak didiknya akan terkontaminasi.

Sejalan dengan prilaku Sulhawi, teringat peristiwa di Guantanamo, bahwa serdadu Amerika yang notabene beragama Nasrani, telah menyiksa para mujahidin Iraq, secara fisik, sekaligus menyiksa keyakinan batin mereka dengan memasukkan Mushaf Alquran ke dalam WC. Berita pelecehan terhadap kitab suci umat Islam tersebut, pada akhirnya menyulut kecaman dan reaksi dari umat Islam seantero dunia. Sebenarnya tidak begitu mengherankan jika lahir tokoh semisal Sulhawi. Sebagai ilustrasi adalah wawancara majalah Sidogiri edisi 008/1427 H, dengan Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur yang mengatakan bahwa nabi mendirikan negara bangsa di Madinah tidak atas nama agama, tetapi atas prinsip kebersamaan dengan bermacam-macam suku bangsa. Karena itulah NU memutuskan NKRI itu final dalam Muktamar 27 tahun 1984. Artinya dalam persepsi ini NU tidak mendukung penerapan syariat Islam dalam mengatur kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, maka sistem sekuler lah yang menjadi pedoman bernegara, yaitu fashlud diin ‘anid daulah (memisahkan urusan agama dari pemerintahan).

Pemahaman semacam ini pada dasarnya tidak sesuai dengan Anggaran Dasar organisasi NU, dan realita yang diperjuangkan tokoh-tokoh NU di jaman dahulu. Mereka justru memperjuangkan berdirinya Departemen Agama dalam konsep pemerintahan Indonesia, yang hingga kini masih eksis mengurusi keagamaan warga Indonesia secara formal, mulai urusan yang berhubungan dengan pernikahan, haji, pendidikan agama, dan lain sebagainya.Termasuk yang menjadi tanda tanya adalah tidak diterangkan dalam dialog tersebut apakah di negara Madinah saat itu Rasulullah menerapkan syariat Alquran (Islam) sebagaimana yang diturunkan oleh Allah, atau beliau menerapkan peraturan adat jahiliyah dari suku-suku bangsa yang ada di Madinah sebelum datangnya agama Islam.

Padahal Allah berfirman afahukmal jaahiliyyati yabghuun (Apa hukum masyarakat Jahiliyyah yang mereka inginkan?). Realita yang ada dalam sejarah bahwa sejak Rasulullah menjadi kepala negara Islam pertama kali di dunia yang beribu kota di Madinah, Beliau menerapkan syariat Islam yang diturunkan oleh Allah melalui mukjizat Alquran, serta ajaran Beliau SAW yang berupa hadits-hadits. Ketentuan Beliau SAW berlaku hingga kini bahwa di kota Madinah tetap memberlakukan syariat Islam.

Pada dasarnya, munculnya madzhab-madzhab fiqih, khususnya dalam Bab Mu`amalat, juga dikarenakan Rasulullah menerapkan syariat Islam untuk mengatur kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Aturan main ini juga telah dilestarikan oleh para ulama salaf dalam karya-karya mereka yang berupa kitab-kitab fiqih, sebagai contoh dalam madzhab Syafi`i ada kitab Fathul Qarib, Fathul Mu`in, I`anatut Thalibin, Zubad, dll.

Kitab-kitab tersebut dipelajari kalangan warga NU, terutama kalangan pesantren, dan juga dijadikan rujukan dalam forum bahtsul masail di muktamar-muktamar NU. Hanya saja, isi kandungannya belum pernah dilaksanakan secara maksimal.

Misalnya kitab-kitab tersebut menerangkan bahwa hukuman para pencuri adalah potong tangan, sedangkan pelaksana penerapan hukum tersebut adalah pemerintah. Setiap umat Islam berkewajiban menciptakan suatu negara yang melaksanakan syariat Islam.

Jadi hukuman bagi para pencuri bukan dipenjara seperti yang berlaku sekarang ini. Namun, karena hasil kajian para ulama tersebut belum diformalisasikan dalam hukum positif negara seperti di masa Rasulullah dan Alkhulafaur Rasyidun, maka hingga kini belum diterapkan undang-undang potong tangan bagi para pencuri, termasuk para koruptor uang negara. Di Indonesia pelaksanaan hukum yang diadopsi dari syariat Islam tidaklah bertentangan dengan keutuhan NKRI dan Pancasila.

Jika seluruh komponen umat Islam memperjuangkannya lewat system demokrasi, yaitu suara terbanyak adalah suara yang paling menentukan, maka bisa dipastikan pelaksanaan hukum syariat tersebut akan segera terealisasi. Kendalanya adalah masih banyaknya umat Islam, bahkan dari tokoh-tokohnya yang justru menjadi Islamphoby (alergi terhadap syariat Islam), sehingga hukum Islam sekedar dijadikan bahan kajian, bukan untuk diamalkan.

Padalah pengarang kitab Zubad mengatakan Wa ‘alimun bi ‘ilmihi lam ya’malan Mu’addzabun min qobli ubbaadil watsan [Orang yang mengerti, namun tidak bersedia (lebih-lebih menolak) mengamalkan ilmunya, maka kelak akan disiksa oleh Allah sebelum para penyembah berhala]. Pada dasarnya, umat Islam hanya membutuhkan kesungguhan dalam memperjuang-kan penerapan hukum fiqih tersebut, sehingga kitab-kitab rujukan warga NU tersebut tidak hanya dibaca, dipelajari, dikaji, diajarkan, tetapi juga bisa diamalkan oleh segenap umat Islam.2) Kelompok kedua adalah para pelestari dan pengemban ajaran ulama salaf, sebagaimana diketahui dalam ilmu musthalah hadits, bahwa yang dimaksud ulama salaf adalah para ulama yang hidup hingga pada abad ketiga permulaan tahun hijriyah. Dengan demikian para penerus ajaran ulama ini yaitu mereka yang eksis memperjuangkan penerapan syariat Islam di bumi Indonesia, sesuai dengan tuntunan Alquran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW.Kelompok kedua ini mayoritas adalah ber-basic pendidikan Timur Tengah (dan juga warga NU lain yang mempunyai pemikiran sama dengan mereka dari alumni pesantren-pesntren salaf). Jika dihitung jumlah mereka dan umat yang mendukung pemikiran mereka dari para murid dan pengikutnya cukup signifikan, sebab kebanyakan dari mereka adalah putra-putra tokoh masyarakat warga NU yang mempunyai pengaruh di tengah masyarakat, atau anak didik yang berprestasi lantas dikirim oleh orang tua atau guru mereka ke negara-negara Islam, semisal Saudi Arabia, Yaman, Sudan, Yordan, Kuwait, Emirat Arab, Syria, dll. Mereka setiap saat mendengar pelajaran-pelajaran syariat dan sekaligus dengan lingkungan yang mendukung penerapan syariat, baik kalangan pemerintah, aparat keamanan, masyarakat, media, dan seluruh sendi kehidupan di wilayah tempat mereka belajar juga sangat dominan dalam penerapan syariat Islam. Maka tidak heran jika pelaksanaan syariat Islam telah menyatu dalam sanubari dan denyut jantung kehidupan mereka. Di antara mereka ada yang mendapat pelajaran fiqih 4 (empat) madzhab, namun ada juga yang lebih memperdalam fiqih Syafi`i, karena dibentuk oleh komunitas masyayikh dan masyarakat yang bermadzhab Syafi`i.

Namun, tetap saja setiap saat mereka di bawah bayang-bayang lingkungan dan kebijakan negara yang menerapkan hukum syariat Islam secara formal. Hampir setiap saat mereka mendengar pelaksanaan qishas, rajam, potong tangan, polisi syariat, dan lain sebagainya. Di negara-negara tersebut tidak ada lokalisasi pelacuran atau diskotik tempat hiburan yang rawan peredaran narkoba yang diresmikan pemerintah.

Jikalau ada orang berbuat zina, pasti dilakukan secara sembunyi-sembunyi, sebab resikonya besar dan sangat berat. Ilustrasi semacam inilah yang mencetak kejiwaan mayoritas para alumnus Timur Tengah. Namun, tatkala mereka kembali ke tanah air Indonesia, mereka mendapatkan lingkungan yang tidak mendukung apa yang telah menjadi tuntutan jiwa mereka, baik dari kalangan pemerintah, aparat keamanan, media, masyarakat, bahkan Ormas NU yang menjadi pegangan keluarga mereka. Bahkan, tak jarang mereka mendengar pernyataan sebagian tokoh-tokoh NU yang telah jauh keluar dari kaidah syariat atau realita sejarah.

Contohnya adalah pernyataan bahwa di Madinah yang plural Rasulullah tidak menerapkan syariat Islam, melainkan peraturan bersama dengan segala suku dan agama. Tentunya yang demikian ini tidak sesuai dengan sejarah dan realita, bahkan cenderung sebagai kebohongan publik. Bermula dari sinilah timbul gejolak dari dalam diri para alumni Timur Tengah untuk membuat langkah-langkah strategis demi kepentingan keagamaan yang mereka yakini kebenarannya dan yang mereka dapatkan selama dalam perantauan.

Maka timbullah Ormas-Ormas atau pergerakan-pergerakan untuk mengupayakan penerapan syariat di Indonesia. Perlu diingat, kelompok ini bukan kelompok Masyumi, atau radikal, atau sayap kanan, atau semisalnya yang saat ini sering dituduhkan kepada mereka oleh sebagian tokoh NU. Justru mereka ini adalah generasi penerus NU, yang dulunya dikirimkan oleh tokoh-tokoh NU sendiri untuk dapat mendalami ilmu agama dari sumber yang sesungguhnya.

Langkah-langkah strategis ini menjadi pilihan karena perjuangan mereka tidak terakomodasi di NU sendiri. Bahkan tak jarang justru mendapatkan kecaman atau perlawanan hingga intimidasi secara opini maupun fisik. Sering kali sebagian tokoh NU tidak meletakkan kelompok ini sebagai generasi penerus atau aset yang mempunyai potensi cukup berharga bagi NU, lantaran hanya karena keberanian mereka menyampaikan yang haq itu haq dan yang batil itu batil, sekalipun harus berseberangan dengan tokoh sentral PBNU.

Mayoritas karakter kelompok ini tidak memiliki fanatisme buta terhadap perorangan. Pertimbangan mereka adalah hitam-putih syariat. Sesuai syariat dilaksanakan, tidak sesuai syariat ditinggalkan. Perlu diingat, KH. Hasyim As`ari juga alumni Timur Tengah dan belajar kepada ulama-ulama kaliber yang hidup di lingkungan negara yang menerapkan syariat Islam. Sebagian alumni Timur Tengah yang bermunculan saat ini relatif muda usia.

Namun mereka mempunyai pemikiran yang dewasa dalam upaya melaksanakan kewajiban bersyariat secara menyeluruh.

Dengan tetap mempertahankan semangat NKRI. Dengan demikian sangat mustahil jika ulama sekaliber KH. Hasyim Asy`ari dipersepsikan menolak formalisasi syariat Islam dalam tatanan hukum positif negara. Dengan pakaian beliau yang tidak pernah lepas dari sorban imamah, sudah bisa dibaca bahwa KH. Hasyim Asy`ari pasti berjiwa syar`i dan anti kemaksiatan.

Maka mata batin umat tidak akan percaya begitu saja jika ada tokoh-tokoh yang mengatakan bahwa KH. Hasyim Asy`ari menolak pelaksanaan syariat Islam secara formal. KH. Hasyim Asy`ari pasti tahu tentang ajaran para ulama salaf yang mengatakan tsamaratul ilmi al `amal (buahnya ilmu itu adalah pengamalan).

Kedalaman ilmu syariat (fiqih) beliau yang tidak perlu diragukan. Target beliau untuk mengamalkan ilmu syariatnya secara menyeluruh juga pasti tidak diragukan lagi, seperti misalnya mengambil keputusan bagaimana semestinya hukum pidana bagi para pencuri, termasuk terhadap koruptor, pasti beliau akan merujuk kepada hukum fiqih yaitu potong tangan. Hanya saja pelaksananya adalah pada pihak pemerintah setara hakim atau qadli. Barangkali situasi zaman saat beliau masih hidup, belum mendapatkan kesempatan yang memadai untuk menformalkan syariat, maka beliau tidak menekankan itu.

Namun saat ini beberapa daerah sudah melaksanakan Perda syariat. Jika NU menolak Perda-Perda syariat, pasti disebabkan oleh imbas keberadaan kelompok Sepilis yang ada di dalam tubuh Ormas NU, bukan karena merujuk kebijakan para pendiri NU, karena jelas-jelas sangat bertentangan dengan semangat juang KH. Hasyim Asy`ari.

Hal ini jika merujuk karya tulis beliau semisal Risalah Ahlussunnah wal Jamaah, terbitan Tebuireng Jombang Jatim. Di bawah ini adalah dialog SMS antara penulis dengan tokoh NU di wilayah Jawa Timur. Seperti dalam dialog SMS sebelumnya, penulis hanya menulis inisial pengirimnya. Pada awalnya, penulis mendapatkan pertanyaan mengenai situasi Munas NU tanggal 27-30 Juli 2006 di Surabaya berkaitan dengan Perda syariat.

Lantas SMS tersebut oleh penulis dioperalihkan ke tokoh NU yang berinisial KH.MA. Terkadang SMS juga penulis forward (lampirkan) ke beberapa tokoh NU, maka jawaban pun datang dari mereka secara variatif, diantaranya aktifis PBNU yang berinisial AM.PB, ada juga dari KH. YR dan KH. SJ.

Pertanyaan : Ustadz Luthfi, saya membaca berita di Koran Tempo bahwa NU menolak Perda Syariat, apa benar? (Harun, Jateng)

Pen : Pak Kiai, saya mendapatkan SMS yang menanyakan tentang penolakan NU terhadap Perda syariat. Apa komentar Pak Kiai?

KH. MA : Setahu kami pola pikir (ijtihad) kiai-kiai sepuh NU sejak KH. Wahhab Hasbullah - KH Ahmad Shiddiq dulu memang seperti itu. Gambarannya pada Muktamar ke 27 di situ menerima Asas Pancasila. Kata beliau-beliau, NU belum ada cita-cita membuat Negara Islam. Bahkan menurut KH Ahmad Shiddiq, Pancasila (NKRI) itu final.

Pen : Wah, kalau demikian berarti membenahi NU dari dalam, serasa tidak mungkin. Sebab kata-kata final dalam konteks ini, berarti tidak menerima Perda syariat. Padahal saat ini sudah mulai banyak daerah-daerah dengan status otonominya masing-masing menerapkan Perda-Perda syariat anti kemaksiatan. Apa NU juga menolaknya, atau bahkan berusaha untuk menggagalkannya?

KH. MA : Yang menjadi kekhawatiran kiai-kiai sepuh akan terjadi eksodus besar-besaran dari kalangan abangan, ketimbang mereka dipaksa shalat, zakat, hukum pancung, dll. Mereka akan milih keluar dari Islam agar tidak terkena aturan. Pen : Saat ini (Ahad tanggal 30 Juli 2006, pukul 13.00), saya di Bandara Sukarno Hatta menunggu pesawat. Saya duduk sendirian merenung. Di pesantren-pesantren milik tokoh/warga NU, diajarkan pelajaran Fiqih Madzhab Syafi`i, mulai kitab Peshalatan, Safinatun Najaah, hingga Fathul Mu`in I`anatut Thalibin. Pesantren-pesantren juga mengadakan bahtsul masail. Bahkan saya pernah membaca hasil bahtsul masail Muktamar NU, di antaranya membahas tentang hukum sarang walet. Inti masalah adalah berupa peraturan-peraturan untuk mengatur kehidupan masyarakat. Sanksi pelanggaran bagi `sumpah/nadzar` adalah puasa, demikian dan seterusnya. Nah, andaikata pemerintahan kita menerapkan seluruh hasil bahtsul masail yang tertulis pada tiap muktamar atau pemerintah melaksanakan ajaran kitab fiqih ala pesantren semisal hukuman bagi para pencuri adalah potong tangan, atau secara sederhana bahwa tokoh-tokoh pesantren NU menyodorkan kepada pemerintah Konsep Undang-undang Fathul Mu`in. Demikian ini agar kita terbebas dari ancaman nadzam Zubad: Wa `aalimun bi `ilmihi lam ya`malan # Mu`addzabun min qobli ubbaadil watsan. “Orang alim, kok tidak mengamalkan ilmunya, maka kelak akan disiksa sebelum para penyembah patung”. Pikiran-pikiran semacam ini terus dan sering menggelayuti pikiran saya. Apa Antum punya pendapat?

AM. PB : Kitab-kitab dasar seperti itu perlu ditelaah lagi untuk memperbaiki akidah, ‘amaliyah, dan akhlak umat yang digerus modernitas.

KH. MA : Antum di dalam struktur dulu, kemudian sampaikan pendapat Antum di forum kiai-kiai itu! Di situ bisa adu argumentasi. Kalau Antum di luar begini, dan Antum hanya mau kumpul dengan orang yang sejalan, rasanya sulit untuk mencari titik temu.

Ketimbang panjenangan menyampaikan itu kepada saya dan orang-orang yang tidak ada hubungannya dengan penguasa sentral di Jamiyah NU. Kami menghargai semangat ijtihad Antum, tapi kami juga menghargai ijtihad para kyai sepuh yang kami sebutkan tadi. Kami merasa tidak ada apa-apanya di hadapan mereka. Esensi sama-sama berdakwah li i`lai kalimatillah, tapi caranya berbeda. Ijtihad Sayyidah Aisyah rda.

dan pengikutnya; pembunuh Sayyidina Utsman dicari dulu baru bai`at. Ijthad Sayyidina Ali; bai`at dulu baru mencari pembunuh Sayyidina Utsman. Terjadilah perang Jamal dengan korban ribuan ummat. Ahlissunnah sukut (diam) karena semua berijtihad. Semua yakin akan kebenaran ijthadnya masing-masing. Itu yang kami tahu, dan yang mencita-citakan Negara Islam dan Perda syariat itu orang-orang berpikaran Masyumi. Sekarang mungkin PKS, FPI, MMI, HTI dan lain-lain.

Di Indonesia riil, secara ideologis dan politis PKS berhadapan dengan NU. Sebaiknya Antum sampaikan pemikiran-pemikiran Antum kepada para petinggi NU dengan semangat perjuangan. Maju tak gentar membela yang benar. Allah Akbar.

Pen : Alumni Timur tengah saat ini jumlahnya ribuan, sebagian dari mereka adalah alumni Saudi Arabia, Yaman, Sudan, Yordan, Iraq, Emirat Arab, dan lain sebagainya. Saat mereka belajar di negara-negara Islam tersebut, secara otomatis mereka mendapatkan fenomena pelaksanaan syariat yang menjadi konstitusi bagi negara-negara tersebut.

Setelah mereka pulang, maka keinginan untuk menerapkan syariat Islam di Indonesia menjadi kuat dalam diri mereka. Maka salah jika orang yang mempunyai persepsi bahwa orang-orang yang berjuang melaksanakan syariat Islam dengan formalisasi dalam hukum negara secara otomatis dikategorikan sebagai kelompok Masyumi atau MMI, atau HTI, atau yang lainnya. Sebab banyak alumni Timur Tengah yang saat ini berkiprah di tengah masyarakat justru keluarganya adalah dari pengurus NU.

Banyak sekali tokoh-tokoh NU maupun warga NU yang menyekolahkan putra-putranya di perguruan maupun pesantren di Timur Tengah. Jadi alumni timur tengah yang berbasis NU, setelah pulang, ingin menerapkan ilmu yang diperoleh dari tempat pendidikannya, di antaranya memperjuangkan Syariat Islam lewat Perda-Perda sebagai bentuk penerapan dari AD – ART NU Pasal 2 ayat 2 tentang didirikannya Ormas NU, yaitu melaksanakan syariat Islam dengan haluan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Kalau tokoh-tokoh struktur NU saat ini tidak menerima perjuangan generasi penerus NU yang berstatus alumni Timur Tengah, berarti NU sebelumnya belum siap menerima kedatangan mereka dari tempat belajar.

Belum lagi banyak tuduhan-tuduhan yang dilontarkan oleh tokoh-tokoh NU terhadap para alumni Timur Tengah; mereka dituduh sebagai penganut wahabi yang dikenal militansinya. Padahal para alumni tersebut hanya ingin mempraktikkan dengan sungguh-sungguh ilmu fikih Madzhab Syafi’i yang terdapat dalam kitab-kitab semisal Safinatun Najah, Sullam Taufiq, Fathul Qarib, Fathul Mu’in, Zubad, I’anatut Thalibin, al Muhadzzab, dan kitab-kitab lainnya yang menjadi literatur dalam tubuh NU sendiri. Terutama dalam kegiatan bahtsul masail. Pak Kiai, coba kita renungkan satu kasus saja, misalnya dalam kitab-kitab tersebut tertera hukuman bagi pemabuk adalah cambuk, maka tatkala para pejuang Perda mengupayakan hal itu tiba-tiba mendapatkan counter dari pengurus NU bahwa usahanya bertentangan dengan nilai-nilai ke-NU-an.

Bahkan ada yang mengatakan, “wah, ini kelompok radikal, atau ekstrim, atau Islam Kanan”.

Kalau NU bersikap terus demikian terhadap generasi penerusnya maka NU di masa mendatang akan mendapat banyak kendala sebab para alumni tersebut setiap figur dari mereka yang menjadi tokoh NU non struktural mempunyai pengikut yang cukup banyak. Para alumni tersebut terus mengajarkan pemikiran-pemikirannya yang sejalan dengan kejiwaan mereka. Tidak jarang pula para pengikutnya lebih mendengarkan argumen riil yang syar’i dari gurunya yang alumni Timur Tengah itu, dari pada hasil kesepakatan NU.

KH. MA : Ustadz, yang kami tahu, di antara alasan penolakan Perda syariat ialah instrumen NU belum bahkan tidak siap. Kalau Indonesia jadi negara Islam, Muhammadiyah lebih siap.

Jika itu yang terjadi, maka NU yang diganyang terlebih dahulu. Ketika Moch. Natsir menjadi Perdana Menteri, makam Luar Batang Jakarta pernah akan digusur. Islam formal seperti Spanyol atau Bosnia, setelah kalah di perang salib (seperti membalik telapak tangan mereka) ternyata tidak Islam sejati, sekedar takut penguasa saja (walau sudah dibangun selama 700 tahun). Indonesia yang Islamnya menyatu dengan budaya, walaupan dijajah selama 350 tahun dan dikirim misionaris ulung Snouck, Van der Plas dll, Islam di Indonesia tetap kokoh.

AM. PB : Terimakasih atas segala informasi dan pemikirannya. Perjuangan tampaknya masih panjang. Jazakumullah.

Pen : Pak Kiai, perlu diketahui, di beberapa tempat, termasuk di Malang, sudah ada komunitas wanita muslimah yang menggunakan cadar karena mereka belajar kepada seorang ustadz alumni Timur Tengah. Perlu diketahui bahwa baik ustadznya maupun pengikutnya adalah warga NU. Bahkan ada dari keluarganya yang sebagai pengurus NU.

Nah, apakah komunitas yang ingin menerapkan syariat Islam semisal mereka ini digolongkan sebagai kelompok radikal atau ekstrimis? Fenomena ini lah yang harus dipikir ulang oleh tokoh-tokoh NU.

Para alumni Timur Tengah rata-rata adalah anti dan menolak pemikiran Sepilis yang diadopsi dari pemikiran Barat. Karena itu mereka akan berperang mati-matian untuk menolak liberalisme di tengah masyarakat, termasuk dalam tubuh NU.

Para alumni juga tidak akan mentolelir pendapat-pendapat atau prilaku yang tidak syar’i yang datang dari manapun, termasuk juga jika datanya dari hasil musyawarah tokoh-tokoh NU. Para alumni sudah terbiasa diajari hanya merujuk kepada Alquran, Hadits, dan aqwalus salaf (pendapat ulama salaf), serta tidak terpengaruh oleh pemikiran tokoh-tokoh moderat. Jika keteguhan para alumni ini harus berseberangan dengan tokoh-tokoh berkelas nasionalpun akan dilawan, baik secara perlahan, maupun terang-terangan.

KH. MA : Jika Antum memang yakin akan kebenaran ijthad Antum, seharusnya Antum datang saja kepada Kyai Sahal Mahfudz, Kiai Idris Marzuki, Kiai Zainuddin Jazuli, P. Hasyim Muzadi. Ingatkan mereka semua. Dan apakah Antum tidak berdosa kalau Antum tidak melakukan itu alias diam? Kalau merasa benar kenapa harus takut? Semoga cita-cita Antum disampaikan oleh Allah swt.

KH. YR : Ustadz, dalam hal tersebut Antum tidak sendirian, di antara kawan yang pernah diskusi dengan saya, ada yang berasumsi bahwa hukum Islam sulit diterapkan di Indonesia secara nasional, karena interpretasi terhadap Pancasila yang sulit diseragamkan.

Jadi, mungkin yang bisa kita lakukan dengan melalui Otoda atau daerah istimewa. Sedang senior-senior kita mayoritas berlindung dengan kaidah man ra-a minkum munkaron fal yughoyyirhu biyadi, wainlam yastathi` fabilisaanih, fainlam yastathi` `fabiqolbih` wa dzalika adh`aful iimaan (barangsiapa diantara kalian melihat kemunkaran, hendaknya dia merubah dengan tangannya, jika tidak bisa, maka dengan lisan

ucapannya, jika tidak bisa maka dengan hatinya, itulah selemah-lemahnya iman), dan `maa laa yudraku julluh laa yutraku kulluh`` (apa yang tidak bisa terjangkau keseluruhannya, maka jangan sampai ditinggalkan kesemuanya).

Pen : Makanya Pak Kiai, jangan kita matikan langkah untuk memperjuangkan penerapan syariat dengan memakai ‘kunci’ NKRI dan Pancasila sudah final kemudian `memusuhi` para aktifis yang memperjuangkan pemberlakuan syariat Islam lewat Perda-Perda. Selagi masih ada kesempatan untuk melaksanakan syariat, sekecil apapun itu, termasuk pemberlakuan Perda-Perda syariat, maka NU wajib mendukungnya. Kalau NU tidak mendukung, sebaiknya diam saja dan hukumnya haram jika sampai menolak, apa lagi menggembosi para pejuang penerapan Perda Syariat.

Betulkah demikian, Pak Kiai? Semoga kita termasuk orang yang ikut memperjuangkannya. Amiiin. Pak Kiai, kita alumni Timur Tengah, dari kalangan keluarga NU, sampai hari ini tidak menolak NKRI dan Pancasila. Kami menerjemahkan jargon NKRI dan Pancasila sudah final, bukan berarti harus menolak Perda-Perda syariat maupun formalisasi syariat dalam tataran hukum positif negara.

Dalam pandangan kami, baik Perda maupun formalisasi syariat dalam tataran hukum positif negara tidak bertentangan dengan Pancasila, bahkan justru mengacu pada sila pertama Pancasila dan UUD 45 Pasal 29 yang mengatur kebebasan beribadat bagi pemeluknya. Sebagai warga NU, kami juga meyakini kebenaran anggaran dasar NU pasal 2 ayat 2 tentang tujuan organisasi NU adalah menerapkan syariat yang berhaluan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Untuk itu, sudah selayaknya kita memperjuangkan pemberlakuan syariat dengan adanya sinkronisasi antara Anggaran Dasar NU dan UUD 1945.

KH. YR : Amin, Antum benar ustadz, hanya kita perlu cari format yang tepat, agar ada saling pengertian di antara kita baik yang ada di struktur maupun yang di luar supaya tidak termasuk yang disinyalir pepatah jawa : "buthek banyune ora kena iwake" (memancing ikan tanpa memperkeruh kolam). Afwan

Pen : Pada Ahad malam, 30 Juli 2006, saya melintas pintu keluar terminal bis Bungurasih Surabaya, di sana ada spanduk NU dalam rangka Munas NU, tertulis yang intinya : "NU MENJADI PENGAYOM SEMUA PAHAM", saya baca saat di atas bis Surabaya-Malang, kebetulan bisnya berhenti sejenak menunggu penumpang tambahan menuju Malang. Redaksi aslinya tidak persis seperti itu, tapi maksudnya sangat jelas tidak jauh dari itu. Saya tidak bisa berpikir jernih untuk mengartikan spanduk tersebut. Apakah faham sekularisme, pluralisme, liberalme, juga diayomi NU. Bagaimana pula dengan Syiah, Darmogandul, Khong hucu, Salibis, Zionis, Paganis, dan faham-faham lain selain Islam Ahlus Sunnah Wal Jamaah? Apa juga akan mendapat pengayoman dari NU? Mohon barangkali ada keterangan dari Antum sebagai masukan yang berharga untuk saya. Jazaakumullah.

AM. PB : Saya juga baca sepanduk yang dibuat anak-anak PWNU Jatim yang tak tahu urusan.

KH. MA : Selagi Antum masih di luar struktur, tentu terus akan terjadi kontra pemikiran. Apalagi kalau belum tahu bahwa di tubuh NU tidak semuanya orang-orang baik. Di dalamnya banyak orang dengan berbagai latar belakang dan kepentingan yang berbeda. Bahkan itu yang terbanyak. Apakah tidak berdosa apabila Antum tidak ikut membenahi NU dari dalam? Padahal itu sangat mungkin untuk dilakukan.

Pen : Terima kasih atas keterangan-keterangan Antum. Saya mulai banyak tambahan maklumat dalam mengenal NU lebih dekat. Semoga suatu saat saya bisa menjadi seperti harapan Antum. Pak kiai, saya terus ingin menambah informasi sebanyak mungkin tentang NU dari orang seperti Antum. Syukran lakum.

KH. MA : Maka dari itu, sebaiknya Antum ajak para alumni Timur Tengah yang mempunyai pemikiran sama dengan Antum itu untuk masuk di struktur NU. Hingga bisa mewarnai NU dengan ijtihad yang Antum maksudkan, dan dekatilah para sesepuh NU seperti KH Abdullah Faqih, KH Sahal Mahfudz, KH Idris Marzuki dan lain-lain.

Insya Allah apa yang Antum perjuangkan bisa terwujud. Kalau sekarang tidak mungkin, karena yang ada di dalam kepengurusan background–nya masih bermacam-macam.

KH. SJ : Antum tahu bahwa masih ada oknum yang mengaku NU yang berfikiran aneh. Tapi Alhamdulillah, komisi II yang kami garap bersama KH. Ma`ruf Amin dalam Munas NU Surabaya mendapatkan hasil sesuai perjuangan melawan liberalisme. Banyak wartawan yang bertanya kepada KH. Ma`ruf Amin : Apakah NU akan membantai liberalisme?.

Pen : Jazaakumullah atas infonya.

KH. MA : Kami bersyukur kepada Allah SWT, di PBNU masih ada orang seperti KH. Makruf Amin, di PWNU masih ada KH. SJ, dan masih ada ulama yang tegas seperti Antum, memberi indzar (peringatan) kepada orang orang yang punya mas`uliyah (tanggung jawab). Artinya kita masih dikasihani oleh Allah SWT.

Khatimah

Risalah yang mengangkat tema ke-NU-an dengan menampilkan dialog singkat ini, dimaksudkan untuk membuka wacana baru dan memulai cakrawala yang berbeda dari kebanyakan yang difahami oleh orang tentang fenomena yang terjadi dalam tubuh NU. Seringkali berita yang terkait dengan ke-NU-an, diblow-up oleh media hanya sebatas pemikiran-pemikiran publik figur yang sering mendapatkan kesempatan tampil di media massa, sehingga NU dikonotasikan sebagai gudangnya pemikiran yang moderat, bahkan menjurus ke arah liberalis sekuler. Namun sejatinya masih banyak tersisa generasi NU yang tetap memperjuangkan kemurnian NU sesuai dengan Anggaran Dasar pasal 2 ayat 2 tentang tujuan NU didirikan, yaitu melaksanakan syariat Islam yang berhaluan Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Wallahu a’lam

ARTIKEL TAMBAHANNU DAN STRATEGI KAUM LIBERAL

Oleh : Ainul Yaqin

Warga NU, Aktivis Lembaga Kajian Islam Hanif (eLJihan

Wacana liberalisme Islam yang diperkenankan ke lingkungan NU telah direspon sangat baik oleh sebagian besar generasi mudanya. Fenomena inilah yang oleh Shonhadji Sholeh (2004) disebut dengan fenomena lompatan pemikiran kaum Nahdliyyin dari tradisionalisme menuju pos tradisionalisme.

Berbeda dengan generasi mudanya, di kalangan generasi tua NU, liberalisme Islam telah dianggap sebagai penyimpangan yang harus diluruskan. Bahkan pada muktamar NU di Boyolali yang lalu sempat muncul usulan agar kepengurusan NU bersama organisasi-organisasi di bawahnya di-bebaskan dari pengaruh orang-orang yang berhaluan liberal.

Walaupun penolakan ini pada praktiknya tidak efektif untuk mencegah masuk-nya orang-orang liberal ke dalam kepengurusan NU dan organisasi dibawahnya, karena kaum tua belum membuat definisi yang jelas tentang liberalisme, tetapi hal ini telah cukup dirasakan sebagai ancaman bagi masa depan gerakan liberalisme NU.Menyadari kenyataan tersebut, tak pelak lagi para aktivis liberal merasa perlu membuat strategi baru yang lebih halus, karena strategi lama yang frontal bisa kontraproduktif bagi gerakan liberalisme sendiri. Gus Dur yang selama ini menjadi buffer bagi masuknya alur liberalisme di NU pun mengkritik Ulil yang selama ini menjadi icon gerakan liberalisme di NU, sebagai orang yang terjebak dalam label yang dibuat sendiri (www.gusdur.net).

Kritik Gus Dur ini secara implisit merupakan nasihat bagi Ulil dkk, bahwa untuk menawarkan ide liberalisme di lingkungan NU tak perlu menggunakan cara gembar-gembor karena cara-cara seperti ini malah bisa jadi bumerang.Sehubungan dengan hal tersebut, akhir-akhir ini beberapa aktivis liberal menggulirkan wahabisasi. Isu wahabisasi ini ditujukan kepada setiap upaya yang dilakukan oleh kelompok Islam apa saja yang mempunyai faham berseberangan dengan faham liberalisme.

Menurut tengarah para aktifis liberal, kelompok-kelompok tersebut adalah para aktivis wahabisme atau setidaknya terpengaruh oleh ide wahabisme.

Bahkan dalam kasus kontroversi RUU APP pun kelompok yang pro terhadap RUU APP ditengarahi sebagian wahabian.Abdul Moqsith Ghazali misalnya dalam tulisannya di www.wahidinstitute.org mengatakan bahwa gerakan untuk mewahabikan umat Islam di Indonesia sudah tidak bisa ditutup-tutupi lagi, bahkan tidak hanya di kota-kota besar, tetapi juga telah masuk ke desa-desa yang dimotori oleh aktivis wahabisme.

Moqsith juga menyebutkan banyak tokoh wahabi Timur Tengah yang pikirannya mempunyai pengaruh kuat terhadap aktivis Islam di Indonesia, yang salah satunya adalah Abdul Qadir Zallum (yang benar adalah Abdul Qadim Zallum, pen.) Syeikh Abdu Qadim Zallum pemimpin Hizbut Tahrir di Yordania dituduh sebagai wahabi di dasarkan atas kritiknya terhadap faham demokrasi sebagai faham yang tidak sejalan dengan Islam.Di tempat lain, M. Mas’ud Adnan wakil ketua Balitbang PW NU Jatim (Jawa Pos, 28/03/06) menengarahi bahwa beberapa kiyai di NU telah terpengaruh gerakan wahabisasi. Hal ini disimpulkan dari fakta bahwa PB NU secara resmi ikut mendukung pengesahan terhadap RUU APP, serta adanya keterlibatan beberapa kiyai NU dalam Dewan Imamah Nusantara (DIN).

Menurut Mas’ud, keterjebakan beberapa kiyai dalam perangkap gerakan wahabisasi dikarenakan tiga hal antara lain: melemahnya internalisasi nilai-nilai aswaja, kepentingan aliansi politik yang didasari atas kesamaan visi pragmatis, dan adanya beberapa kiyai NU yang mempunyai latar belakang studi di Saudi Arabia tetapi tidak melalui studi akademik sampai S2 atau S3, sehingga sedikit banyak terpengaruh pada faham Wahabi.Selain mengulirkan isu wahabisasi, dalam waktu yang bersamaan, para aktivis liberal juga gencar melakukan upaya pembelokan makna terhadap idiom kembali ke khitthah 26. Idiom kembali ke khitthah NU 26, pada dasarnya mempunyai makna mengembalikan NU pada arah perjuangan semula yaitu menjadi jam’iyah yang bergerak dalam bidang kemasyarakatan dan keagamaan.

Konsep ini lahir dari adanya kesadaran bahwa NU selama ini telah terlibat terlalu jauh dalam politik praktis sehingga melupakan perannya yang utama sebagai organisasi dakwah. Para aktivis liberal membelokkan pengertian kembali ke khitthah dengan membuat tafsiran baru yaitu mengembalikan NU pada dakwah kultural. Istilah dakwah kultural telah dipertentangkan dengan istilah dakwah struktural, dengan suatu pengertian bahwa dakwah struktural adalah upaya formalisasi agama (syari’at), maka sebaliknya dakwah kultural berarti menolak formalisasi.Pembelokan serupa dilakukan pula terhadap konsep tawassuth, tasaamuh, dan tawaazzun. Ketiga istilah tersebut sebenarnya merupakan istilah untuk mensifati teologi Ahli Sunnah atau Asy’ariah yang dianut oleh NU yang merupakan konsep teologi tengah-tengah antara rasionalisme Qodariah dan antropomorfisme Jabariyah.

Para aktivis liberal telah menggeser maknanya sebagai konsep yang menolak ekstrinitas atau dengan kata lain berpihak pada penolakan terhadap formalisasi agama, karena formalisasi agama adalah sikap ekstrim ke kanan. Model penafsiran seperti di atas antara lain terlihat dari tulisan Mas’ud Adnan mengomentari dukungan PB NU terhadap RUU APP (Jawa Pos: 28/03/06). Menurutnya NU yang berwatak tawassuth, tasaamuh dan tawaazun lebih pas memilih solusi partikelir dari pada menjadi stempel kelompok Islam formalis.

Serupa dengan itu Gus Dur juga secara tegas mengatakan bahwa KH Hasyim Asy’ari adalah orang yang tidak setuju dengan formalisasi agama. (Jawa Pos: 7/04/06).Tuduhan bahwa kelompok-kelompok yang selama ini berseberangan dengan aktivis liberal sebagai Wahabian terkesan terlalu digeneralisasi. Memang diakui bahwa kelompok Wahabi seperti kelompok salafi merupakan salah satu kelompok yang selama ini berseberangan dengan kelompok liberal, tetapi menuduh semua yang berseberangan dengan kelompok liberal sebagai Wahabi jelas merupakan generalisasi yang dipaksakan dan tidak sesuai dengan fakta. Tuduhan terhadap Syeikh Abdul Qodim Zallum sebagai Wahabi misalnya, jelas tidak berdasar. Abdul Qodim Zallum merupakan tokoh yang banyak mengkritisi Wahabi. Dalam bukunya Kaifa Hudimat al-Khilafah, Syeikh Zallum mengkritik keras peran gerakan Wahabi yang terlibat dalam konspirasi meruntuhkan kekhilafahan Ustmaniah di Turki. Di pihak lain kelompok Wahabi, khususnya kelompok salafi, menuduh Hizbut Tahrir yang merupakan organisasi yang dipimpin oleh Syeikh Abdul Qodim Zallum sebagai neo Muktazilah yang sesat. Demikian pula tuduhan terhadap beberapa kiyai NU yang nyantri di Saudi Arabia terpengaruh Wahabi juga tidak berdasar. Banyak kiyai yang kritis terhadap kelompok liberal mempunyai latar belakang studi di Saudi Arabia, tetapi mereka tidak belajar pada ulama Wahabi. Di antara mereka banyak yang belajar pada Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki.

Luthfi Basori misalnya, seorang kiyai muda NU asal Malang yang kritis terhadap liberal adalah murid beliau. Demikian pula tokoh FPI Abdurahman Assegaf. Anggota Dewan Imamah Nusantara seperti Habib Thohir Al-kaff dan K.H. Najih Maimun juga murid beliau. Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki adalah seorang ulama Saudi yang menjadi musuh bebuyutan orang-orang Wahabi. Bahkan beliau divonis sebagai ulama sesat oleh tokoh-tokoh Wahabi seperti Abdullah bin Baz maupun Sulaiman bin Mani’, dan atas rekomondasi ulama Wahabi pula beliau dicekal tidak boleh mengajar di Masjid al Haram oleh pemerintah Saudi. Pencekalan itu akhirnya dicabut sebelum beliau wafat karena kepiawaiannya memenangkan perdebatan dengan tokoh-tokoh Wahabi.Adanya isu wahabisasi yang melibatkan generalisasi yang dipaksakan tersebut mengesankan akal-akalan saja dari aktivis liberal. Dipilihnya isu Wahabisasi dimaksudkan untuk membangkitkan sentimen lama kaum Nahdliyyin.

Karena sebagaimana diketahui, NU pernah mempunyai pengalaman yang tidak menyenangkan terhadap gerakan Wahabi. Bahkan latar belakang berdirinya NU yang merupakan kelanjutan dari Komite Hijaz adalah untuk menangkal terhadap arus Wahabisasi.

Para aktivis liberal sengaja menyulut sentimen lama dengan harapan warga NU bisa disekat dari kelompok-kelompok yang menolak ide liberal. Dengan isu wahabisasi diharapkan warga NU menjadi curiga dan waspada terhadap kelompok-kelompok yang menolak ide liberal.

Dan sebaliknya menjadi tidak kritis terhadap ide-ide kelompok liberal sendiri. Sehingga dalam kesempatan ini tanpa disadari ide-ide liberalisme dapat diterima.Ada satu misi utama yang dibawa oleh aktivis liberal yaitu mensosialisasikan faham sekularisme.

Dalam berbagai kesempatan para aktivis liberal senantiasa menyampaikan misi ini. Penolakannya terhadap RUU APP pun dilakukan karena misi ini. Kaum liberal mengatakan bahwa RUU APP terlampau jauh mengatur masalah moralitas yang dalam pandangannya yang sekuler, hal tersebut merupakan wilayah privat. Dikotomi privat dan publik inilah merupakan ciri dari faham sekularisme. Berbagai upaya yang dilakukan mulai dari pengguliran isu Wahabisasi, pembelokan makna khitthah NU, penggunaan idiom dakwah kultural yang dimaknai sebagai penolakan atas formalisasi, demikian pula pembelokan makna tasaamuh, tawaazun, dan tawassuth, dapat dibaca sebagai strategi sekularisasi khususnya yang dilakukan terhadap NU.

Disinilah yang mesti dicermati oleh para Nahdliyyin. NU sejak kelahirannya tidak berfaham sekuler dan tidak pula anti formalisasi. Khitthah NU yang sebenarnya, tidak pernah memisahkan antara dakwah kultural dan struktural. Bahkan, NU memandang formalisasi syari’at menjadi sebuah kebutuhan.

Hanya saja yang ditempuh NU dalam melakukan upaya formalisasi bukanlah cara-cara paksaan dan kekerasan, tetapi menggunakan cara gradual yang lebih mengarah pada penyadaran. Hal ini karena sepak terjang NU senantiasa berpegang pada kaidah fiqhiyah seperti maa laa yudraku kulluh la yutraku kulluh (apa yang tidak bisa dicapai semua janganlah kemudian meninggalkan semua) dan kaidah dar-ul mafasid muqoddmun ala jalbil mashalih (mencegah kerusakan lebih didahulukan daripada mengambil kemaslahatan).

Sejarah NU dapat menjadi bukti, bahwa sejak kelahirannya NU justru merupakan organisasi yang concern pada perjuangan formalisasi. Dalam kerangka ini, NU pernah mengukuhkan pemerintahan Soekarno sebagai waliyyu al-amri al-dlaruri bi al-syaukah.

Adanya pengukuhan ini merupakan kebutuhan syar’i yang terkait dengan masalah perwalian pernikahan khususnya wali hakim, dimana hanya sah apabila diangkat oleh pemerintah yang sah pula secara syari’at. Dalam kasus ini pemerintah Soekarno dalam batas-batas tertentu dapat ditolerir sebagai pemerintah yang sah secara syari’at karena masih memberikan kebebasan bagi orang Islam untuk menjalankan syari’at. Namun, karena sifatnya yang belum kaffah maka dikatakan al-dlaruri.Penggunaan kata al-draruri (sementara) yang disifatkan pada kata walyy al-amri menunjukkan adanya pengakuan bahwa proses perjuangan menuju formalisasi syari’at belum selesai. Maka upaya menuju ke arah yang lebih sempurna masih terus dilakukan. Hal ini dapat dicermati dari sepak terjang NU pada masa-masa berikutnya, seperti perjuangan NU dipimpin K.H. Bisri Syamsuri melalui fraksi PPP menggolkan UU Perkawinan, serta menolak penetapan aliran kepercayaan sebagai agama.Akhirnya patut ditegaskan bahwa berbagai upaya-upaya yang dilakukan oleh aktivis liberal tidak lebih hanya merupakan akal-akalan yang perlu dicermati secara kritis(pejuangislam)

 
 
Kembali Ke atas | Kembali Ke Index Karya Ilmiah
 
 
 
  Situs © 2009-2017 Oleh Pejuang Islam