URL: www.pejuangislam.com
Email: editor@pejuangislam.com
 
Halaman Depan >>
Hari ini: Jumat, 21 November 2014 - Pejuang Islam, melestarikan kemurnian Ahlussunnah wal Jamaah
 
 
Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami
Ustadz H. Luthfi Bashori
 Lihat Biografi
 Profil Pejuang Kaya Ide
 Imam Abad 21
 Info Asshofwah
Karya Tulis Pejuang


 
Ribath Almurtadla
Al-islami
 Sekilas Profil
 Pengasuh Ribath
 Amunisi Dari Tumapel
 Aktifitas Pengasuh
 Perjuangan Pengasuh
 Kalender Ribath
Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
 Sekilas Profil
 Program Pendidikan
 Pelayanan Masyarakat
 Struktur Organisasi
 Pengasuh PIQ
 
Navigasi Web
Karya Tulis Santri
MP3 Ceramah
Bingkai Aktifitas
Galeri Sastra
Curhat Pengunjung
Media Global
Link Website
TV NU GARIS LURUS
Kontak Kami
 
 
 Arsip Teriakan Pejuang
 
BULLY - BULLY - BULLY  
  Penulis: Pejuang Islam  [1/11/2014]
   
KLARIFIKASI FACE BOOK ``NU GARIS LURUS`` 
  Penulis: Pejuang Islam  [30/10/2014]
   
KLARIFIKASI MUNCULNYA AKUN FACEBOOK NU GARIS LURUS  
  Penulis: Admin Situs Pejuang Islam  [30/10/2014]
   
DAMPAK TAWAKKAL KEPADA ALLAH 
  Penulis: Pejuang Islam  [21/10/2014]
   
Ucapan dan Perbuatan yang Menyebabkan Kemurtadan (3) 
  Penulis: Pejuang Islam  [15/10/2014]
   
 
 Book Collection
 (Klik: Karya Tulis Pejuang)
Pengarang: H. Luthfi B dan Sy. Almaliki
Musuh Besar Umat Islam
Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat
Dialog Tokoh-tokoh Islam
Carut Marut Wajah Kota Santri
Tanggapan Ilmiah Liberalisme
Islam vs Syiah
Paham-paham Yang Harus Diluruskan
Doa Bersama, Bahayakah?
 
 WEB STATISTIK
 
Hari ini: Jumat, 21 November 2014
Pukul:  
Online Sekarang: 24 users
Total Hari Ini: 942 users
Total Pengunjung: 1980457 users
 
 
Untitled Document
 PEJUANG ISLAM - KARYA ILMIAH USTADZ LUTHFI BASHORI
 
 
PAHAM-PAHAM YANG HARUS DILURUSKAN - 3 
Penulis: PROF.DR.SY. MUHAMMAD ALMALIKI [ 18/3/2009 ]
 

                                                                              BAB II
                                                                   KAJIAN KENABIAN
  URAIAN MENGENAI KEISTIMEWAAN NABI, SUBSTANSI KENABIAN, KEMANUSIAAN DAN                                                               SUBSTANSI KEHIDUPAN BARZAKH

 
KEISTIMEWAAN YANG MELEKAT PADA NABI MUHAMMAD 
DAN SIKAP ULAMA TERHADAPNYA

Para ulama memberikan perhatian besar terhadap keistimewaan-spesikasi kenabian dengan menyusun karangan, memberikan komentar ( syarh ), menyatukan dan menyendirikannya dalam sebuah kajian. Karya paling populer dan lengkap adalah Al Khashaaish Al Kubraa yang disusun oleh Al Imam AL Hafidh Jalaluddin Al Suyuthi. 
Keistimewaan-keistimewaan ini sangat banyak jumlahnya. Ada yang sanadnya shahih ada yang tidak. Ada yang dipersengkatakan ulama. Sebagian memandang shahih sebagian tidak. Persoalan ini adalah persoalan khilafiah.
Perbincangan antar ulama mengenai keistimewaan-keistimewaan kenabian ini semenjak dahulu berputar di sekitar benar, salah, sah dan batal, bukan antara kufur dan iman. Para ulama berselisih dalam banyak hadits. Mereka saling membantah dalam menilai kesahihan, kelemahan atau dalam penolakannya karena perbedaan perspektif dalam menilai sanad dan kredibilitas perawinya. Siapapun yang menilai shahih terhadap hadits dla’if, menilai dla’if terhadap hadits shahih, menetapkan hadits yang ditolak atau menetapkan hadits yang ditetapkan dengan argumentasi, ta’wil atau syubhat dalil maka ia telah menempuh metode para ulama dalam melakukan kajian dan analisa. Dan hal ini adalah haknya layaknya manusia yang berakal dan memiliki pemahaman. Kesempatan terbuka, medan terbentang luas dan ilmu tersebar bagi semua manusia. 
Imam orang-orang berakal, junjungan para ulama, Nabi paling agung dan rasul paling mulia Muhammad SAW telah memberi motivasi untuk melakukan kajian dan analisa. Karena beliau menetapkan dua pahala bagi mujtahid yang mencapai kebenaran dan satu pahala bagi yang gagal mencapainya. 

KITAB-KITAB SALAF DAN KEISTIMEWAAN-KEISTIMEWAAN KENABIAN

Seandainya kita mau kembali kepada kitab-kitab salaf niscaya kita akan menemukan banyak ulama dan para pakar fiqh menyebutkan sejumlah keistimewaan-keistimewaan Nabi SAW dalam kitab-kitab tersebut. Dari keistimewaan-keistimewaan ini mereka mengutip hal-hal ajaib dan aneh. Seandainya dalam menerima keistimewaan-keistimewaan ini orang yang melakukan kajian terpaku pada kesahihan sanad niscaya ia hanya akan menemukan sangat sedikit yang bersih dari keistimewaan-keistimewaan itu dibandingkan dengan jumlah yang mereka kutip. Penyebutan sejumlah keistimewaan-keistimewaan dalam kitab-kitab salaf ini tetap berdasarkan kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan para ulama dalam persoalan ini. 

IBNU TAIMIYYAH DAN KEISTIMEWAAN-KEISTIMEWAAN KENABIAN

Ibnu Taimiyyah terkenal dengan sikapnya yang ketat. Dalam kitab-kitabnya, ia mengutip sebagian pendapat mengenai keistimewaan-keistimewaan kenabian yang sanadnya tidak sahih. Ia menggunakannya sebagai argumentasi dalam banyak masalah dan menilainya bisa dijadikan pedoman dalam memberikan penjelasan atau menguatkan hadits yang ia tafsirkan. Sebagian dari pendapat yang ia kutip misalnya adalah ucapannya dalam Al Fataawaa Al Kubraa, “Telah diriwayatkan bahwa Allah SWT telah menulis nama Nabi Muhammad SAW pada ‘arsy dan pintu, kubah serta dedaunan surga.” Dalam hal ini telah diriwayatkan pula sejumlah atsar yang senada dengan hadits-hadits yang ada yang menjelaskan sanjungan terhadap nama Nabi dan peninggian sebutan beliau SAW saat ia mengatakan, “Telah disebutkan teks hadits yang terdapat dalam Al Musnad dari Maisarah Al Fajr saat Nabi ditanya, “Kapan engkau menjadi Nabi ?” “Saat Adam masih dalam kondisi antara ruh dan jasad,” jawab beliau. Hadits ini juga telah diriwayatkan oleh Abul Husain ibn Busyran dari jalur Al Syaikh Abi Al Faraj ibn Al Jauzi dalam Al Wafaa bi Fadlaaili al Mushthafa SAW sbb : Bercerita kepadaku Abu Ja’far Muhammad ibn ‘Umar, bercerita kepadaku Ahmad ibn Ishaq ibn Shalih, bercerita kepadaku Muhammad ibn Sinan Al ‘Aufi, bercerita kepadaku, bercerita kepadaku Ibrahim ibn Thuhman dari Yazid ibn Maisarah dari Abdillah ibn Sufyan dari Maisarah, ia berkata : Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, kapankah engkau menjadi Nabi ?” 
  لما خلق الله الأرض واستوى إلى السماء فسواهن سبع سموات وخلق العرش كتب على 
ساق العرش محمد رسول الله خاتم الأنبياء , وخلق الجنة التي أسكنها آدم وحواء فكتب الأسمي 
على الأبواب والأوراق والقباب والخيام وآدم بين الروح والجسد , فلما أحياه الله تعالى نظر إلى 
العرش فرأى اسمى فأخبره الله أنه سيد ولدك , فلما غرهما الشيطان تابا واستشفعا باسمي إليه.
“Ketika Allah menciptakan bumi dan menuju ke langit kemudian langit dijadikan-Nya tujuh lapis dan menciptakan ‘arsy maka Allah menulis pada batang ‘arsy Muhammadun Rasulullahi Khatamul Anbiyaai. Dan ketika Allah menciptakan sorga yang didiami Adam dan Hawa maka Allah menulis namaku pada pintu, dedaunan, kubah dan kemah sedang Adam dalam kondisi antara ruh dan jasad. Saat Allah menghidupkan Adam, ia memandang ‘arsy lalu melihat namaku. Kemudian Allah memberitahukan kepada Adam bahwa Muhammad adalah Junjungan anak cucumu. Waktu syetan berhasil memperdayai Adam dan Hawa, keduanya bertaubat dan memohon syafaat kepada Allah dengan namaku,” jawab Nabi. Al Fataawaa vol. II hlm. 151.

IBNU TAIMIYYAH DAN KAROMAH :

Keistimewaan dan karomah itu identik dilihat dari aspek hukum, pengutipan, dan tidak diperlukannya upaya ketat sebagaimana upaya ketat dalam mengutip hukum-hukum dari halal dan haram. Keistimewaan dan karomah berada dalam wilayah sikap-sikap terpuji dan keutamaan-keutamaan. 
Berangkat dari fakta ini, sikap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyangkut karomah para wali sama persis dengan sikapnya mengenai keistimewaan-keistimewaan para Nabi. 
Dalam kitab-kitabnya beliau mengutip sejumlah karomah dan hal-hal yang di luar kebiasaan yang terjadi dalam generasi awal. Jika kita kaji status, isnad dan jalur ketetapan periwayatannya maka kita akan menemukan bahwa sebagian dari karomah dan hal-hal yang di luar kebiasaan yang terjadi dalam generasi awal ada yang berstatus shahih, hasan, dla’if, diterima, ditolak, munkar dan syadz. Meskipun demikian semuanya diterima dalam masalah ini dan dibawa serta ditransfer dari ulama. Di antara kutipan-kutipan dari Ibnu Taimiyyah tentang karomah sebagian sahabat adalah sebagai berikut :
 Ummu Aiman pergi berhijrah tanpa membawa bekal dan air hingga ia hampir mati karena kehausan. Saat tiba waktu berbuka – ia sedang berpuasa – ia mendengar di atas kepalanya ada suara halus. Lalu ia mendongakkan kepalanya. Ternyata ada timba menggantung. Kemudian ia minum dari timba tersebut sampai merasa segar dan tidak merasakan haus dalam sisa hidupnya.
 Sebuah perahu mantan budak Rasulullah SAW memberitahu kepada seekor singa bahwa ia adalah utusan Rasulullah. Akhirnya singa tersebut berjalan bersamanya sampai mengantarkan menuju tempat tujuannya. 
 Al Bara’ ibn Malik jika bersumpah atas Allah maka Allah akan merealisasikan sumpahnya. Jika dalam situasi perang memberatkan kaum muslimin dalam berjihad, mereka akan berteriak, “Wahai Bara’ ! bersumpahlah atas Tuhanmu.” “Ya Rabbi, aku bersumpah atas-Mu , berikanlah bahu-bahu orang-orang kafir kepada kami,” sumpah Bara’. Akhirnya musuh pun mengalami kekalahan. Ketika berlangsung perang Qadisiyyah, Bara’ bersumpah, “Aku bersumpah atas-Mu, ya Rabbi, berikanlah bahu-bahu orang-orang kafir kepada kami dan jadikan aku orang pertama yang mati syahid.” Akhirnya kaum muslimin diberi bahu-bahu orang-orang kafir dan Bara’ sendiri terbunuh sebagai syahid.
 Khalid ibn Al Walid mengepung sebuah benteng yang kokoh. “Kami tidak akan menyerah sampai kamu minum racun,”kata orang-orang kafir. Akhirnya Khalid minum racun dan racun itu tidak menimbulkan efek apa-apa. 
 Ketika mengirimkan bala tentara, ‘Umar ibn Al Khatthab mengangkat seorang lelaki bernama Sariyah sebagai pemimpin pasukan. Ketika sedang berkhutbah di atas mimbar tiba-tiba ‘Umar berteriak, “Wahai Sariyah !, tetaplah berada di gunung. Wahai Sariyah !, tetaplah berada di gunung.” Saat utusan bala tentara datang, ‘Umar bertanya kepadanya, yang kemudian dijawab, “Wahai Amirul Mu’minin !, Kami bertemu musuh dan mereka berhasil mengalahkan kami. Tiba-tiba ada suara orang berteriak : “Wahai Sariyah !, tetaplah berada di gunung.” Akhirnya kami pun tetap berada di gunung, hingga Allah mengalahkan mereka. 
 ‘Ala’ ibn Al Hadlrami adalah gubernur Rasulullah untuk wilayah Bahrain. Dalam do’a yang dipanjatkannya ia berkata, “Wahai Dzat Yang Maha Mengetahui, wahai Dzat Yang Maha Sabar, wahai Dzat Yang Maha Tinggi, wahai Dzat Yang Maha Agung.” Maka do’anya pun dikabulkan. Ia juga pernah berdo’a agar orang-orang diberi hujan dan bisa berwudlu ketika mereka mengalami ketiadaan air dan hujan untuk sesudah mereka lalu do’anya pun dikabulkan. Waktu bala tentara muslimin terhalang oleh laut dan tidak mampu menyeberangkan kuda-kuda mereka, ia berdo’a hingga akhirnya mereka bisa melewati laut dengan pelana kuda yang tidak basah oleh air. Ia juga berdo’a agar ketika mati jasadnya tidak bisa dilihat orang. Akhirnya ketika mati orang-orang tidak menemukan jasadnya di liang lahat.
 Karomah seperti di muka juga terjadi pada Abu Muslim Al Khaulani saat ia diceburkan ke dalam api. Ceritanya ketika ia bersama teman-teman pasukannya berjalan di atas sungai Tigris. Dari bentangannya sungai itu melemparkan lalu Abu Muslim menoleh kepada teman-temannya. “Periksalah barang-barang kalian hingga aku berdo’a kepada Allah !” perintahnya. “Saya kehilangan keranjang rumput,” kata sebagian temannya. “Ikuti saya,” kata Abu Muslim. Teman yang kehilangan keranjang rumput pun mengikutinya dan menemukan keranjang itu menyangkut pada sesuatu lalu memungutnya. Al Aswad Al ‘Ansi ketika mengklaim sebagai Nabi, mencari Abu Muslim. 
“Apakah kamu bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah ?” tanya Al Aswad kepada Abu Muslim.
 “Saya tidak bisa mendengar,” jawab Abu Muslim
“Apakah kamu bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah ?”
“Betul.”
Akhirnya Al Aswad menyuruh Abu Muslim dimasukkan ke dalam api. Ia akhirnya dimasukkan kedalam api namun mereka melihat Abu Muslim sedang shalat di tengah kobaran api itu. Api telah menjadi dingin dan menyelamatkan baginya.
Setelah Nabi wafat Abu Muslim datang ke Madinah. “Umar menyuruhnya duduk antara dirinya dan Abu Bakar Al Shiddiq. “Segala puji bagi Allah yang tidak mematikanku sampai aku melihat dari ummat Muhammad seseorang yang diperlakukan sebagaimana Ibrahim kekasih Allah.” Kata ‘Umar. 
Seorang budak wanita memasukkan racun pada makanannya dan racun itu tidak membahayakannya. 
Seorang perempuan menipu istrinya. Akhirnya perempuan itu ia kutuk dan akhirnya menjadi buta. Perempuan itu lalu datang dan bertaubat. Abu Muslim pun akhirnya mendo’akannya hingga Allah mengembalikan kembali penglihatannya. 
 Sa’id ibn Al Musayyib dalam peperangan pada era Yazid ibn Mu’awiyah mendengar adzan dari kuburan Rasulullah pada waktu-waktu shalat padahal masjid telah sepi tidak ada orang lain selain dirinya. 
 ‘Umar ibn ‘Uqbah ibn Farqad suatu hari shalat di siang hari yang sangat panas lalu mendung pun memayunginya. Binatang buas melindunginya saat ia mengawasi kereta-kereta teman-temannya, karena ia disyaratkan untuk membantu mereka waktu perang. 
 Mutharrif ibn ‘Abdillah ibn Syikhkhir jika masuk rumah maka wadah-wadah miliknya ikut bertasbih bersamanya. Ia dan temannya pernah berjalan berdua dalam kegelapan kemudian ujung cambuknya menerangi keduanya. 
Dikutip dari Al Fataawaa Al Kubraa karya Syaikh Ibnu Taimiyyah vol. XI hlm. 281.

SYAIKH IBNUL QAYYIM DAN DUDUKNYA NABI SAW DI ATAS ‘ARSY

Al Imam Al ‘Allamah Syaikhul Islam Ibnul Qayyim telah mengutip keistimewaan yang aneh dan langka dan ia nisbatkan kepada banyak para imam salaf, yaitu ucapannya sebagai berikut :
( Faidah ) : Al Qadli berkata : “Al Marwazi telah menyusun sebuah kitab tentang keutamaan Nabi SAW. Di dalamnya ia menyebutkan didudukkannya Nabi di atas ‘arsy. Kata Al Qadli, “Didudukkannya Nabi di atas ‘arsy ini adalah pendapat Abu Dawud, Ahmad ibn Ashram, Yahya ibn Abi Thalib, Abi Bakr ibn Hammad, Abi Ja’far Al Dimasyqi, ‘Iyasy al Dawri, Ishaq ibn Rahawiah, ‘Abdul Wahhab Al Warraq, Ibrahim Al Ashbihani, Ibrahim Al Harbi, Harun ibn Ma’ruf, Muhammad ibn Isma’il Al Salami, Muhammad ibn Mush’ab Al ‘Abid, Abi Bakr ibn Shadaqah, Muhammad ibn Bisyr ibn Syuraik, Abi Qilabah, Ali ibn Sahl, Abi Abdillah ibn Abdinnur, Abi ‘Ubaid, Al Hasan ibn Fadhl, Harun ibn Al ‘Abbas Al Hasyimi, Ismail ibn Ibrahim Al Hasyimi, Muhammad ibn ‘Imran Al Farisi Al Zahid, Muhammad ibn Yunus Al Bashri, Abdullah ibn Al Imam Ahmad Al Marwazi dan Bisyr Al Hafi. 
Syaikh Ibnul Qayyim berkata, “Saya katakan bahwa duduknya Nabi SAW di atas ‘arsy adalah pendapat Ibnu Jarir Al Thabari, Imam dari semua ulama di atas yakni Mujahid Imamu al Tafsir, dan juga pendapat Abu Al Hasan Al Daruquthni. Salah satu syair dari Al Daruquthni mengenai duduknya Nabi di atas ‘arsy adalah sebagai berikut :
حديث الشفاعة عن أحمد إلى أحمد المصطفى مسنده
و جاء حديث باقعاده على العرش أيضا فلا نجحده
أمرّوا الحديث على وجهه ولا تدخلوا فيه ما يفسده
و لا تنكروا أنه قاعد و لا تنكروا أنه يقعده

Hadits tentang syafaat dari Ahmad 
Sanadnya sampai Ahmad Al Mushthafa
Ada juga hadits tentang didudukkannya beliau
Di atas ‘arsy , maka kita tidak boleh mengingkarinya
Pahamilah hadits sesuai teksnya 
Janganlah memasukkan sesuatu yang merusak maknanya
Jangan kalian ingkari bahwa Nabi itu duduk
Dan jangan kalian ingkari bahwa Allah telah mendudukkannya
( Dikutip dari Badaa’iul Fawaaid karya Syaikh Ibnul Qayyim vol. IV hlm. 40 )

MEMBUKA TOPENG DAN KEISTIMEWAAN-KEISTIMEWAAN YANG UNIK

 Al Faqih Al ‘Allamah Al Syaikh Manshur ibn Yunus Al Bahuti dalam kitabnya Kisyaafu Al Qinaa’ menyebut sejumlah keistimewaan-keistomewaan Nabi SAW yang dinilai aneh oleh banyak orang yang kapasitas intelektualnya tidak mampu untuk memahami prinsip-prinsip dasar ini dan memahami kaidah-kaidah di atas. 
Diantaranya adalah : 
1. Apa yang untuk kita dikategorikan najis itu suci untuk Nabi SAW dan Nabi-Nabi yang lain. Diperboleh berobat menggunakan urine dan darah beliau SAW, berdasarkan hadits riwayat Al Daruquthni : Sesungguhnya Ummu Aiman meminum urine Nabi.” “Perut kamu tidak akan masuk neraka,” kata Nabi Saw, namun status hadits ini dla’if, dan juga berdasarkan hadits riwayat Ibnu Hibban dalam Al Dlu’afaa’ : “Seorang budak membekam Nabi SAW. Setelah selesai membekam ia minum darah Nabi.” “Celaka kamu, apa yang kamu lakukan dengan darah?” tanya Nabi. “Darah itu telah aku masukkan dalam perutku,” jawab budak. “Pergilah ! engkau telah menjaga dirimu dari api neraka,” suruh Nabi. 
Al Hafidl Ibnu Hajar mengatakan bahwa rahasia masuk surganya budak yang meminum darah bekam Nabi adalah karena tindakan kedua malaikat yang membasuh perutnya. 
2. Nabi tidak memiliki bayangan di bawah terpaan sinar matahari dan bulan. Karena Nabi itu makhluk cahaya sedangkan bayangan adalah jenis dari kegelapan. Keterangan ini disebut oleh Ibnu ‘Aqil dan yang lain. Fakta ini diperkuat oleh tindakan Nabi SAW yang memohon kepada Allah agar seluruh anggota badan dan seluruh arah mata angin dijadikan cahaya. Beliau juga mengakhir do’anya dengan “jadikanlah saya cahaya”. Bumi itu menelan kotoran-kotoran Nabi SAW, berdasarkan hadits-hadits. 
3. Kedudukan terpuji ( almaqam almahmud ) adalah duduknya Nabi SAW di atas ‘arsy. Dari ‘Abdullah ibn Salam : di atas kursi. Kedua riwayat ini disebutkan oleh Al Baghawi. 
4. Sesungguhnya Rasulullah SAW tidak pernah menguap. 
Dan sesungguhnya diperlihatkan kepada Nabi SAW semua makhluk mulai Nabi Adam sampai manusia sesudahnya sebagaimana Adam diajari nama-nama segala sesuatu, berdasarkan hadits riwayat Al Dailami : “Dunia dicontohkan kepadaku dengan tanah liat dan air. Maka saya mengetahui segala sesuatu seluruhnya.” Ditampilkan kepada Nabi SAW semua ummatnya sehingga beliau bisa melihat mereka, berdasarkan hadits riwayat Al Thabarani : “Semalam di dalam kamar ditampilkan kepadaku ummatku, baik generasi awal maupun akhir. Mereka digambarkan kepadaku dengan air dan tanah liat sehingga saya mengenal salah satu dari mereka dengan temannya.” Kepada Nabi juga ditampilkan peristiwa yang bakal terjadi pada ummatnya hingga tiba hari kiamat berdasarkan hadits riwayat Ahmad dan perawi lain, yaitu : Diperlihatkan kepadaku apa yang dialami ummatku sepeninggal diriku. Mereka saling menumpahkan darah. 
4. Ziarah kubur Nabi SAW itu disunnahkan bagi para lelaki dan wanita, berdasarkan keumuman hadits riwayat Al Daruquthni dari Ibnu ‘Umar, ia berkata,Rasulullah SAW bersabda :  
من حج وزار قبري بعد وفاتي فكأنما زارني في حياتي
\"Barangsiapa yang melaksanakan haji dan berziarah pada kuburanku setelah saya wafat, maka seakan-akan ia berziarah padaku saat aku masih hidup.\" Kisyaafu Al Qinaa’ vol. V hlm. 30 yang dicetak atas instruksi raja Faisal ibn Abdul Aziz dari dinasti Sa’udi. 
Keistimewaan-keistimewaan di atas yang telah disebut dan dikutip oleh para perawi ada sebagian yang shahih, ada yang dla’if dan ada yang sama sekali tidak memiliki dalil. 
Saya tidak tahu apa yang akan diucapkan oleh orang yang menantang keajaiban-keajaiban yang telah dikutip para imam besar ahlussunnah di atas. Para imam ini tidak menentang malah menerima keajaiban-keajaiban itu, dan memberikan toleransi dalam pengutipannya karena berpijak pada prisnsip toleransi dalam mengutip keutamaan-keutamaan amal padahal dalam keistimewaan-keistimewaan ini ada pendapat-pendapat yang jika didengar oleh orang yang menolak atau mengingkarinya niscaya ia akan menjatuhkan vonis lebih berat dari vonis kufur kepada pihak yang mengatakannya. Apa yang kami sebutkan di atas belum ada apa-apanya jika dibandingkan pendapat orang yang mengatakan bahwa junjungan kita Muhammad di hari kiamat didudukkan Allah di atas ‘arsy-Nya sebagaimana dikutip oleh Al Imam Al Syaikh Ibnul Qayyim dari para imam besar generasi salaf dalam kitabnya yang populer Badaa’iul Fawaaid tanpa bukti dan dalil sahih dan marfu’, baik dari Al Qur’an maupun Al Sunnah. Keistimewaan-keistimewaan yang saya kutip tidak ada apa-apanya dengan yang tercantum dalam Kisyaaful Qinaa’ yang menyatakan bahwa Nabi SAW adalah cahaya, yang tidak memiliki bayangan dan kotoran yang dikeluarkan beliau ditelan bumi hingga tidak tersisa sedikitpun di atas permukaan tanah. Keistimewaan-keistimewaan yang saya kutip juga tidak ada apa-apanya dengan keistimewaan-keistimewaan yang dikutip oleh Ibnu Taimiyyah. seperti ucapannya bahwa nama Nabi SAW tertulis dalam betis atau batang ‘arsy, dan pada daun, pohon, pintu, buah dan kubah surga. Di manakah mereka yang memberikan ulasan dan kajian ? Mengapa persoalan-persoalan ini tidak mendapat kritik dan koreksi. Tindakan sebagian kalangan yang membuang dan memberi tambahan pada kitab-kitab klasik agar teks sesuai dengan aspirasi mereka adalah tindakan kriminal dan pengkhianatan besar yang berhak mendapat vonis pemenggalan. Karena yang wajib dilakukan adalah menetapkan nash apa adanya betapapaun ia berlawanan dengan perspektif orang yang mengkaji dan memberikan ulasan. Selanjutnya ia bebas menulis apa saja yang sesuai dengan perspektif dan pemikirannya. 

SURGA DI BAWAH TELAPAK KAKI IBU 
MENGAPA TIDAK DI BAWAH URUSAN NABI SAW

Salah satu keistimewaan kenabian yang menjadi polemik di kalangan ulama keterangan yang menyatakan bahwa Nabi SAW membagi-bagi tanah surga. Al Hafidh Al Suyuthi dan Al Qasthalani telah menyebutkan keistimewaan ini dalam kitab syarhnya terhadap AL Mawaahib Al Laadunniyyah. Sudah maklum, kalau pemberian bagian ini hanya untuk mereka yang berhak dari orang-orang yang mengesakan Allah dan atas izin Allah SWT, baik lewat jalan wahyu, ilham atau penyerahan dari Allah kepada beliau. Dalam haditsnya yang berbunyi : 
إنما أنا قاسم والله معطي
“Aku hanyalah pembagi sedang Allah yang memberi,”
menunjukkan indikasi penyerahan. Jika ungkapan bahwa surga di bawah telapak kaki ibu itu dianggap sah. Maka mengapa tidak sah ungkapan bahwa surga di bawah urusan Nabi SAW atau malah di bawah telapak kaki Nabi ? kedua ungkapan ini identik dan diketahui oleh pelajar dengan pengetahuan paling minim. Ungkapan ini adalah ungkapan majaz yang maksudnya adalah bahwa mencapai surga lewat jalur berbakti dan mengabdi kepada kedua orang tua, khususnya ibu. Dan hal ini bisa dicapai lewat Nabi dengan cara taat, cinta dan setia kepada beliau. 
Ada banyak contoh yang menunjukkan otentisitas keistimewaan-keistimewaan ini. Dan kami akan menyebutkan keistimewaan yang paling penting :

NABI SAW MENANGGUNG SURGA

Satu arti dengan pembagian Nabi terhadap tanah surga adalah jaminan masuk surga dari Nabi untuk sebagian ummatnya. Jaminan ini diperoleh oleh para sahabat yang mengangkat bai’at dalam bai’at ‘aqabah. Dari ‘Ubadah ibn Shamit, ia berkata, “Saya adalah salah seorang yang menghadiri bai’at ‘aqabah pertama.” Dalam hadits ini tercantum : “Kami mengangkat bai’at kepada Rasulullah SAW bahwa kami tidak akan menyekutukan Allah dengan yang lain, tidak mencuri, berzina, membunuh anak-anak kami dan tidak melakukan dusta besar yang kami buat-buat di antara tangan-tangan dan kaki-kaki kami serta tidak membangkang dalam melakukan kebaikan.” “Jika kalian memenuhi baiat kalian bagi kalian surga. Jika kalian melanggar salah satu bai’at kalian maka urusan kalian diserahkan kepada Allah. Dia bisa memberi siksaan atau ampunan,” kata Nabi SAW. Hadits ini disebutkan Ibnu Katsir dalam Babu Bad’i Islaami Al Anshari. (Al Sirah vol. II hlm 176). 
Dalam shahih Al Bukhari terdapat keterangan yang tegas bahwa bai’at di atas diberi jaminan surga. ‘Ubadah ibn Shamit berkata, “Saya termasuk salah satu pimpinan yang membai’at Rasulullah SAW.” “Kami membai’at Rasulullah SAW untuk tidak menyekutukan Allah dengan yang lain, tidak mencuri, berzina, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali secara legal dan tidak merampok. Kami membai’at beliau dengan jaminan surga jika mematuhi isi bai’at ini,” lanjut ’Ubadah. HR Al Bukhari dalam Kitab Manaaqibul Anshar Babu Bai’atil ‘Aqabah. 
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Nabi SAW menyatakan : 
فمن وفى فله الجنة
“Barangsiapa memenuhi isi bai’at maka baginya surga.” Demikian tercantum dalam Al Bidayah vol. III hlm. 150.
Dari Qatadah bahwasanya mereka ( yang hendak berbai’at ) bertanya, “Wahai Rasulullah !, apa yang kami dapatkan jika kami mengangkat bai’at ?” “Surga,” jawab Rasulullah. Al Bidayah vol. III hlm. 162.
Dari Ibnu Mas’ud bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : 
فإذا عملتم ذلك فلكم على الله الجنة وعليّ
“Jika kalian melaksanakan isi bai’at tersebut maka bagi kalian sorga atas Allah dan aku.” HR Al Thabarani. Lihat Kanzul ‘Ummal vol. I hlm 63 dan Majma’ul Zawaaid vol. VI hlm. 47. 
Dari ‘Utbah ibn ‘Amr Al Anshari bahwasanya Nabi SAW bersabda : “Jika kalian melaksanakan isi bai’at tersebut maka bagi kalian sorga atas Allah dan aku.” HR. Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu ‘Asakir. Lihat Kanzul ‘Ummal vol. I hlm 67.
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : 
  إن رسول الله أعطاه صلى الله عليه وسلم أعطاه نعليه , فقال له : اذهب فمن لقيت وراء 
هذا الحائط يشهد أن لا إله إلا الله فبشره بالجنة. ( رواه مسلم في كتاب الإيمان )
“Sesungguhnya Rasulullah SAW memberinya sepasang sandal beliau. “Pergilah,” perintah Nabi, “Siapapun yang engkau temui di belakang tembok ini yang bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah maka berilah kabar gembira dengan sorga.” HR. Muslim dalam Kitabul Iman. 

TIKET MASUK SURGA BERADA DI TANGAN NABI SAW

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata, “ Rasulullah SAW bersabda : 
  يوضع للأنبياء منابر من نور يجلسون عليها ويبقى منبري لا أجلس عليه , أو قال : لا أقعد عليه , قائما بين يدي ربي مخافة أن يبعث بي الجنة وتبقى أمتي بعد , فأقول : يارب ! أمتي
أمتي , فيقول الله عز وجل : يامحمد ! ما تريد أن أصنع بأمتك ؟ فأقول : يارب عجل حسابهم , 
فيدعى بهم فيحاسبون , فمنهم من يدخل الجنة برحمته , ومنهم من يدخل الجنة بشفاعتي , فما أزال أشفع حتي أعطي صكاكا برجال قد بعث بهم إلى النار حتى إن ملكا خازن النار ليقول : 
يا محمد ! ما تركت لغضب ربك في أمتك من نقمة .
“ Diletakkan untuk para Nabi beberapa mimbar dari cahaya yang mereka duduk di atasnya. Dan tersisa mimbarku yang tidak aku duduki. Aku berdiri di hadapan Tuhanku karena khawatir diutus masuk ke surga sedang umatku belum memasukinya. “ Ya Tuhanku ! umatku umatku, “ kataku. “Wahai Muhammad ! kata Allah, “ Wahai Muhammad ! kamu ingin Aku berbuat apa terhadap umatmu ? Ya Tuhanku percepatlah hisab mereka, “jawab Nabi. Akhirnya umat Muhammad dipanggil lalu dihisab. Sebagian ada yang masuk surga berkat rahmat Allah dan sebagian lain berkat syafa’atku. Saya senantiasa memberi syafa’at sampai saya diberi buku berisi daftar orang-orang yang akan dikirim ke neraka, hingga Malik penjaga neraka berkata, “ Wahai Muhammad ! siksaan apa yang Engkau tinggalkan karena murka Tuhanmu terhadap umatmu. HR. At Thabrani dalam Al Kabiir dan Al Ausat dan Al Baihaqi dalam Al Ba’ts. “ Tidak ada perawi yang berstatus matruk dalam daftar perawi hadits ini, “kata Al Mundziri.
NABI SAW MEMBERIKAN SURGA
Dalam sebuah riwayat dari Jabir bahwasanya ia berkata, “Kami bertanya, “Untuk apa kami membai’atmu ?”. “Untuk mendengar dan mematuhi baik dalam kondisi bersemangat dan malas serta untuk mendanai bala tentara dalam keadaan kekurangan biaya dan untuk menyuruh kebaikan dan melarang kemungkaran. Dan bagi kalian surga,” jawab Nabi. 
Al Hafidh Ibnu Hajar berkata, “Dari jalur lain, Ahmad meriwayatkan dari Jabir, ia berkata : 
كان العباس آخذا بيد رسول الله فلما فرغنا قال رسول الله : اخذت واعطيت
“Abbas memegang tangan Rasulullah kemudian ketika kami selesai belilau berkata, “Engkau telah mengambil dan bakal diberi.” ( Fathul Bari vol. VII hlm. 223 ) HR Ahmad Majma’ul Zawaaid vol. VI hlm. 48. Maksud dari sabda Nabi adalah : Engkau telah mengambil bai’at dan akan mendapat surga.
Saya katakan bahwa dalam riwayat lain terdapat ungkapan yang lebih jelas dari sabda Nabi tersebut. Jabir berkata : 
  إن النبي صلى الله عليه وسلم قال لهم : تبايعوني على السمع والطاعة إلى أن قال : ولكم الجنة , قال : فقالوا : والله لا ندع هذه البيعة أبدا ولا نسلبها أبدا فبايعناه فأخذ علينا وشرط 
ويعطينا على ذلك الجنة . 
“Sesungguhnya Nabi berkata kepada mereka ( yang akan berbai’at ), “Kalian membai’atku untuk mendengar, dan patuh, sampai Nabi mengatakan, dan bagi kalian surga.” Jabir berkata, “Mereka menjawab, “Demi Allah, kami tidak akan meninggalkan bai’at ini selamanya dan tidak akan mencabutnya selamanya. Akhirnya kami membai’at Nabi lalu beliau mengambil bai’at, memberi syarat dan memberi surga jika memegang teguh bai’at itu.” Al Haitsami berkata, “Sebagian hadits ini diriwayatkan oleh para penyusun Al Sunan. Ahmad dan Al Bazzar juga turut meriwatkannya. Status para perawi Ahmad adalah sesuai dengan kriteria perawi hadits shahih. (Majmaa’ul Zawaid vol. VI hlm. 46.

NABI MENJUAL SURGA DAN ‘UTSMAN MEMBELINYA

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : 
  اشترى عثمان الجنة من النبي صلى الله عليه وسلم مرتين بيع الحق حيث حفر بئر معونة 
وحيث جهز جيش العسرة .
“’Utsman melakukan pembelian surga dengan sesungguhnya dua kali dari Nabi SAW ; saat menggali sumur ma’unah dan saat memberikan akomodasi untuk pasukan yang dikirim ke medan perang Tabuk ( jaisul ‘usrah ).” HR Al Hakim dalam Al Mustadrak vol. III hlm. 107. Al Hakim menilai hadits ini shahih.
Setiap orang berakal pasti mengerti bahwa surga itu milik Allah semata. Siapa saja tidak bisa memiliki dan mengaturnya, betapapun tinggi nilai dan kedudukannya, baik ia malaikat, Nabi atau Rasul. Tetapi Allah memberi para rasul sesuatu yang membedakan mereka dengan orang lain, karena kedudukan mereka yang mulia dan ketinggian derajat mereka di sisi-Nya. Akhirnya apa yang diberikan Allah dinisbatkan kepada mereka dan pengaturannya juga dikaitkan dengan mereka. Hal ini diberikan semata-mata karena memuliakan, mengagungkan, menghargai dan persembahan terhadap mereka. Berangkat dari pandangan ini muncul ungkapan menyangkut keistimewaan-keistimewaan Nabi SAW, seperti beliau membagi-bagi tanah surga, memberi jaminan surga, menjual surga atau memberi kabar dengan surga. Padahal tidak ada yang ragu bahwa surga itu milik Allah semata, kecuali orang bodoh yang tidak memilki pengetahuan minimal terhadap luasnya persoalan keilmuan. 
\"Ya Allah sinarilah penglihatan kami, bukalah telinga kami dan perlihatkanlah kebenaran sebagai kebenaran serta karuniailah aku untuk mengikutinya.\" 

APA YANG DIMAKSUD DENGAN MALAM KELAHIRAN YANG DIUTAMAKAN

Dalam keistimewaan-keistimewaan kenabian, sebagian ulama menyebut malam kelahiran Nabi lebih utama daripada lailatul qadr dan mereka membuat komparasi menyangkut mana yang lebih utama antara dua malam ini. Yang ingin kami sampaikan di sini adalah bahwa yang dimaksud dengan malam kelahiran adalah malam sesungguhnya di mana kelahiran Nabi terjadi. Malam ini telah lewat semenjak ratusan tahun silam dan tidak ragu lagi terjadi sebelum dikenal atau munculnya lailatul qadr. Yang dimaksud malam kelahiran di sini bukan malam kelahiran yang terulang setiap tahun dan merupakan waktu yang sama dari hari kelahiran sesungguhnya. Sebenarnya mengkaji persoalan ini tidak memberikan faidah besar dan tidak ada konsekuensi negatif jika mengingkari atau mengakui. Juga tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip akidah apapun. Para ulama sendiri telah mengkaji banyak persoalan sepele dan menyusun risalah-risalah khusus tentang persoalan itu padahal persoalan-persoalan itu tidak berarti apa-apa dibanding persoalan yang sedang kita kaji ini. Walhasil, kami meyakini bahwa komparasi ini terjadi antara malam kelahiran Nabi sesungguhnya dengan lailatul qadr dan bahwa malam dimana kelahiran Nabi terjadi yang menjadi bahan kajian perbandingan dan komparasi itu telah lewat dan selesai, dan sekarang malam itu tidak lagi berwujud. Sedang lailatul qadr itu masih eksis dan berulang setiap tahun dan merupakan malam paling utama berdasarkan firman Allah : 
إنا أنزلناه في ليلة القدر وما أدراك ما ليلة القدر ليلة القدر خير من ألف شهر
\"Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al Qur\`an) pada malam kemuliaan, dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? , malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.\" Q.S.Al.Qadr : 1-3 ) )
Polemik tentang persoalan ini dan sejenisnya berlangsung antar ulama dan menjadi bahan diskusi ulama-ulama besar generasi salaf. Al Syaikh Al Imam Ibnu Taimiyyah membicarakan persoalan komparasi antara lailatul qadr dan lailatul isra’ ( malam diisra’kannya Nabi SAW ) dengan detail dan mendalam padahal tidak ada fakta bahwa salah seorang imam generasi salaf dan generasi awal apalagi para sahabat dan lebih-labih lagi Nabi SAW, mengkaji atau membicarakannya. 
FATWA IBNU TAIMIYYAH TENTANG PERSOALAN INI
Al Imam Al Syaikh Ibnu Al Qayyum mengatakan, “Syaikh Ibnu Taimiyyah ditanya tentang seorang lelaki yang mengatakan lailatul isra’ lebih utama daripada lailatul qadr. Yang lain menjawab justru lailatul qadr lebih utama. Siapakah yang benar di antara keduanya ?
Syaikh menjawab, “Alhamdulillah, adapun orang yang mengatakan bahwa lailatul isra’ lebih utama daripada lailatul qadr maka jika maksudnya adalah bahwa malam di mana Nabi diisra’kan dan malam-malam yang sama setiap tahunnya itu lebih utama untuk ummat Muhammad daripada lailatul dengan pengertian bahwa shalat malam dan berdo’a pada malam isra’ itu lebih utama dilakukan dari pada pada malam lailatul qadr maka ini adalah pendapat keliru yang tidak dikatakan oleh seorang muslimpun dan jelas pasti salah dari sudut pandang Islam. Jika maksudnya adalah malam tertentu pada saat Nabi SAW diisra’kan dan memperoleh sesuatu yang tidak diperoleh pada malam lain tanpa harus melakukan shalat dan do’a secara khusus maka pendapat ini benar. Lihat Muqaddimatu Zadi al-Ma’aadi karya Ibnu Al Qqayyim. JANGAN MEMUJIKU SECARA BERLEBIHANSebagian kalangan memahami sabda Nabi SAW : لا تطروني كما أطرت النصارى عيسى ابن مريم“Janganlah kalian memujiku sebagimana pujian yang diberikan kaum nashrani kepada ‘Isa ibn Maryam,”sebagai larangan memuji beliau SAW dan mengkategorikan pujian kepada beliau sebagai sanjungan berlebihan yang bisa mengarah pada kemusyrikan dan memahami bahwa orang yang memuji beliau, melebihkan derajatnya di atas manusia biasa, menyanjung dan mensifati beliau dengan sifat-sifat yang berbeda dari yang lain, telah melakukan praktik bid’ah dalam agama Islam dan melanggar sunnah sayyidil mursalin Muhammad SAW. Persepsi di atas adalah sebuah kesalahfahaman dan mengindikasikan dangkalnya pandangan orang yang memiliki persepsi demikian. Mengapa ? Karena Nabi SAW melarang pujian kepada beliau sebagaimana ummat nashrani memuji ‘Isa ibn Maryam saat mereka mengatakan : Isa adalah anak Allah. Makna dari hadits di atas adalah sesungguhnya orang yang memuji Nabi dan mensifatinya dengan sifat yang diberikan ummat nashrani kepada Nabi mereka berarti orang tersebut sama dengan mereka. Adapun orang yang memuji dan mensifati beliau dengan karakter yang tidak mengeluarkan beliau dari substansi kemanusiaan seraya meyakini bahwa beliau adalah hamba dan utusan Allah serta menjauhi keyakinan ummat nashrani maka pasti ia adalah sebagian dari orang yang paling sempurna ketauhidannya. دع ما ادعته النصارى في نبيهم واحكم بما شئت مدحا فيه واحتكمفان فضل رسول الله ليس له حد فيعرب عنه ناطق بفمفمبلغ العلم فيه أنه بشر و أنه خير خلق الله كلهمBuanglah keyakinan ummat nashrani terhadap Nabi merekaBerilah beliau pujian sesukamuKarena keutamaan Rasulullah tidak memiliki batasHingga mampu diungkapkan dengan lisan Batas pengetahuan kita adalah beliau manusiaDan makhluk Allah yang paling baikAllah SWT sendiri telah memuji Nabi Muhammad SAW dalam firman-Nya :وإنك لعلى خلق عظيم\"Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung\".( Q.S.Al.Qalam : 4 ) menyuruh bersikap sopan dalam berbicara dan memberi jawaban :يا أيها الذين آمنوا لاترفعوا أصواتكم فوق صوت النبي\"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih darisuara Nabi\". ( Q.S.Al.Hujuraat : 2 ) melarang kita bersikap kepada beliau sebagaimana sikap sebagian kita kepada sebagian yang lain, atau memanggil beliau sebagaimana sebagian kita memanggil sebagian yang lain. Allah berfirman :لاتجعلوا دعاء الرسول بينكم كدعاء بعضكم بعضا\"Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian ( yang lain ).\" ( Q.S.An.Nuur : 63 )Allah juga mengecam mereka yang menyamakan Nabi dengan orang lain dalam interaksi sosial dan tata cara pergaulan : إن الذين ينادونك من وراء الحجرات أكثرهم لايعقلون\"Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar ( mu ) kebanyakan mereka tidak mengerti.\" ( Q.S.Al.Hujuraat : 4 )Para sahabat yang mulia adalah orang-orang yang menyanjung Nabi SAW.Hassan ibn Tsabit membacakan syairnya :أغر عليه للنيوة خاتم من الله مشهود يلوح و يشهدوضم الإله اسم النبي اسمه إذا قال في الخمس المؤذن أشهدو شق له من اسمه ليجله فذو العرش محمود و هذا محمدنبي أتانا بعد يأس وفترة من الرسل والأوثان في الأرض تعبدفأمسى سراجا مستنيرا وهاديا يلوح كما لاح الصقيل المهندفأنذرنا نارا و بشر جنة و علمنا الإسلام فلله نحمدOrang yang bersinar wajahnya dan ada cap kenabian padanyaCap kenabian dari Allah yang terlihat cemerlang. Allah menggabungkan nama beliau dengan nama-NyaKetika muadzin mengumandangkan Asyhadu, lima kali dalam sehar.iSebagai penghormatan, dari nama-Nya Tuhan memberikan kepada Nabi Maka Tuhan pemilik ‘arsy itu Dzat yang dipuji dan beliau orang yang banyak dipuji.Beliau adalah Nabi yang datang setelah masa kekosongandari para rasul, pada saat arca-arca disembah di muka bumi.Beliau adalah pelita yang menyinari dan petunjukyang mengkilap bak pedang India.Beliau mengancam dengan neraka dan memberi kabar bahagia dengan sorgadan mengajarkan Islam kepada kami, maka hanyalah untuk Allah segala pujian.Selanjutnya Hassan juga mengatakan :يا ركن معتمد و عصمة لائذ وملاذ منتجع و جار مجاوريا من تخيّره الإله لخلقه فحباه بالخلق الزاكي الطاهرأنت نبي و خير عصبة آدم يا من يجود كفيض بحر زاخرميكال معك وجبرئيل كلاهما مدد لنصرك من عزيز قادرWahai pilar penyangga dan pelindung orang yang berlindungtempat orang meminta bantuan dan tetangga bagi yang berdampinganWahai orang yang dipilih Tuhan untuk makhluk-NyaAllah telah memberimu perilaku yang bersih dan suciEngkau adalah Nabi dan sebaik-baik keturunan AdamWahai orang yang berderma laksana limpahan samudera yang pasang Mikail dan Jibril senantiasa bersamamusebagai bantuan dari Dzat Yang Maha Perkasa dan Kuasa untuk menolongmu Shafiyyah binti ‘Abdil Muththallib meratapi dan menyebut-nyebut kebaikan Rasulullah SAW :ألا يا رسول الله كنت رجاءنا و كنت بنا برا ولم تك جافياوكنت رحيما هاديا ومعلما لبيك عليك اليوم من كان باكياصدقت وبلغت الرسالة صادقا رمت صليب العود أبلج صافيافدى لرسول الله أمي وخالتي و عمى و آبائي و نفسي وماليالعمرك ما أبكى النبي لفقده ولكن لما أخشى من الهرج آتياكأن على قلبي لذكر محمد و ما خفت بعد النبي مطاويافلو أن رب الناس أبقى نبينا سعدنا و لكن أمره كان ماضياعليك من الله السلام تحية وادخلت جنات من العدن راضياأفاطم صلى الله رب محمد على جدث أمسى بطيبة ثاوياWahai Rasulullah, engkau adalah harapan kamiEngkau baik pada kami dan tidak kasarEngkau pengasih, pembimbing dan pengajarHendaklah menangis sekarang orang yang ingin menangisEngkau jujur, engkau telah menyampaikan risalah dengan jujurEngkau telah melemparkan kayu salib yang mengkilapIbu, bibi, paman, ayah, diriku dan hartaku menjadi tebusan untuk RasulullahSungguh, aku tak menangisi kematian NabiNamun aku khawatir akan datangnya kekacauanDi hatiku seolah-olah ada ingatan MuhammadSesudah kematian beliau, aku tak takut pada kesusahan yang terpendamJika Allah mengekalkan Nabi kamiKami akan bahagia, tapi urusan beliau telah berlaluSalam dari Allah untukmu, sebagai ungkapan penghormatanEngkau telah dimasukkan ke surga ‘Adn dengan suka citaWahai Fathimah, Allah Tuhan Muhammad telah menyampaikan shalawatAtas kuburan yang berada di ThaibahIbnu Sa’d dalam Al Thabaqaat menyatakan bahwa bait-bait Shofiah ini adalah milik ‘Urwa binti Abdil Muththallib.Ka’b ibn Zuhair menyanjung Nabi dalam qasidah populernya yang prolognya Sebagai berikut :بانت سعاد فقلبي اليوم متبول متيم إثرها لم يفيد مكبولأنبئت أن رسول الله أوعدني والعفو عند رسول الله مأمولإن الرسول لنور يستضاء به مهند من سيوف الله مسلولفي عصبة من قريش قال قائلهم ببطن مكة لما أسلموا زولوايمشون مشى الجمال الزهر يعصمهم ضرب إذا عود السود التنابيلSu’ad telah bercerai maka hatiku kini merasa sedih, diperbudak dan terbelenggu.Pengaruhnya tak bisa ditebus Aku dikabari bahwa rasulallah menjanjikankuAmpunan dapat diharapkan di sisi RasulullahSungguh Rasulullah adalah cahaya yang menyinariLaksana pedang India dari beberapa pedang Allah, yang terhunusDalam kelompok suku Qurays di mana salah satu mereka berkataDi dalam Makkah saat masuk Islam mereka berhijrah Mereka berjalan seperti unta yang berkemilau. Mereka terlindungi oleh pukulan saat orang-orang negro yang pendek berusia lanjut.Dalam riwayat Abu Bakar ibn Hanbali bahwasanya saat Zuhair sudah datang pada bait :إن الرسول لنور يستضاء به مهند من سيوف الله مسلولSungguh Rasulullah adalah cahaya yang menyinari  Laksana pedang India dari beberapa pedang Allah, yang terhunusMaka, Rasulullah melemparkan selimut yang melekat pada badannya kepada Ka’ab dan bahwa Mu’awiyah menawarkan 10.000 dirham kepada Ka’ab untuk memiliki selimut tersebut. “Saya tidak akan memprioritaskan siapapun dengan Rasulullah,” kata Ka’ab. Waktu Ka’ab meninggal dunia Mu’awiyah mengambil selimut tersebut dari ahli warisnya dengan memberi 20.000 dirham kepada mereka. Rasulullah juga memuji dirinya sendiri. Beliau berkata :أنا خير أصحاب اليمين“Saya adalah sebaik-baik kelompok kanan ( Ashabul Yamin )”أنا خير السابقين“Saya adalah sebaik-baik orang dahulu.”أنا أثقى ولد آدم وأكرمهم على الله ولا فخر“Saya adalah anak cucu Adam yang paling bertaqwa dan paling mulia di sisi Allah, namun saya tidak merasa angkuh.” HR Al Turmudzi dan Al Baihaqi dalam Al Dalaail. أنا أكرم الأولين والآخرين ولا فخر“Saya adalah orang paling mulia dari generasi awal dan akhir, namun aku tidak merasa angkuh.” HR. AL Turmudzi dan Al Darimi.لم يلتق أبوى على سفاح قط“Kedua orang tuaku sama sekali tidak pernah melakukan perzinahan.” HR Ibnu ‘Umar Al ‘Adani dalam Musnadnya.Jibril berkata, “Saya telah menelusuri wilayah timur dan barat bumi. Saya tidak melihat seorang lelaki yang lebih utama melebihi Muhammad dan tidak melihat anak cucu seorang ayah yang lebih utama melebihi anak cucu Hasyim.” HR Al Baihaqi, Abu Nu’aim dan Al Thabarani dari ‘Aisyah RA. Dari Anas RA, bahwasanya Nabi SAW didatangi buraq pada malam beliau diisra’kan. Buraq itu sulit untuk dinaiki Nabi. “Kepada Muhammad kamu bersikap demikian ?” tanya Jibril, “Tidak ada yang menaiki kamu seseorang yang lebih mulia di sisi Allah daripada Muhammad.” Akhirnya keringat Buraq itu keluar dengan deras. HR Al Bukhari dan Muslim.Dalam hadits Abi Sa’id, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda :   أنا سيد ولد آدم يوم القيامة ولا فخر , وبيدي لواء الحمد ولا فخر , وما من نبي يومئذ- آدم فمن سواه – إلا تحت لوائي , وأنا أول من تنشق عنه الأرض ولا فخر“Saya adalah junjungan anak Adam pada hari kiamat namun aku tidak merasa angkuh. Di tanganku ada panji pujian ( liwaa’ul hamdi ) namun aku tidak merasa angkuh. Tidak ada seorang Nabi pun pada hari itu - Nabi Adam dan Nabi lain - kecuali di bawah panjiku. Saya adalah orang pertama yang bumi terbelah karenanya namun aku tidak merasa angkuh.” HR Al Turmudzi yang menilainya sebagai hadits hasan shahih.Dari Anas, ia berkata, “Rasulullah SAW berkata :   أنا أول الناس خروجا إذا بعثوا , وأنا قائدهم إذا وفدوا , وأنا خطيبهم إذا انصتوا , وأنا شفيعهم إذا حبسوا , وأنا مبشرهم إذا يئسوا , الكرامة والمفاتيح يومئذ بيدي ولواء الحمد يومئذ .  وأنا أكرم ولد آدم على ربي يطوف علي ألف خادم كأنهم بيض مكنون أو لؤلؤ منثور .“Saya adalah orang pertama yang keluar ketika manusia dibangkitkan. Saya adalah penuntun mereka ketika mereka menghadap Allah. Saya adalah yang berbicara ketika mereka bungkam. Saya adalah orang yang memberi syafaat ketika mereka ditahan. Saya adalah pemberi kabar gembira tatkala mereka merasa putus asa. Kemuliaan dan kunci-kunci di hari itu ada ditanganku juga panji pujian.” “Saya adalah anak cucu Adam paling mulia di sisi Tuhanku. Seribu khadim laksana permata terpendam atau intan yang bertaburan mengelilingiku.” HR. Al Turmudzi dan Al Darimi. Dari Abu Hurairah dari Nabi SAW, beliau berkata :   أنا أول من تنشق عنه الأرض فأكسى حلة من حلل الجنة ثم أقوم على يمين العرش ليس أحد من الخلائق يقوم ذلك المقام غيري .“Saya adalah orang pertama yang bumi terbelah karenanya. Aku diberi busana surga kemudian aku berdiri di sebelah kanan ‘arsy. Tidak ada makhluk lain yang berdiri di tempat itu kecuali aku.” HR Al Turmudzi. “Hadits ini hasan sekaligus shahih.”PARA NABI ADALAH MANUSIA, TETAPI….Sebagian orang menganggap bahwa para Nabi sama dengan manusia lain dalam segala kondisi dan karakter. Asumsi ini jelas keliru dan kebodohan yang nyata yang ditolak oleh dalil-dalil sahih dari Al Kitab dan Al Sunnah. Para Nabi, meskipun mereka sama dengan semua manusia dalam substansi dasar yang nota bene sebagai manusia berdasarkan firman Allah : قل إنما أنا بشر مثلكمKatakanlah : \"Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu.\" ( Q.S.Al.Kahfi : 110 ) hanya saja mereka berbeda dalam banyak sifat dan karateristik insidental. Jika tidak demikian lalu apa keistimewaan mereka ? dan bagaimana bisa terlihat buah terpilihnya mereka mengalahkan orang lain ?Dalam bahasan ini kami akan menjelaskan sedikit sifat-sifat mereka di dunia dan keistimewaan-keistimewaan mereka di alam barzakh yang ditetapkan berdasarkan Al Kitab dan Al Sunnah.PARA NABI ADALAH PIMPINAN MANUSIA :Para Nabi adalah hamba-hamba Allah pilihan yang dimuliakan Allah dengan status kenabian serta diberi kebijaksanaan, kekuatan akal, dan cara pandang yang benar. Para Nabi dipilih Allah untuk menjadi mediator antara Dia dengan makhluk-Nya. Para Nabi menyampaikan perintah-perintah Allah kepada mereka, memperingatkan mereka akan murka dan siksa Allah, dan membimbing mereka menuju jalan yang mengantar kebahagiaan dunia akhirat. Hikmah Allah menetapkan bahwa mereka dari jenis manusia agar manusia bersosialisasi dengan mereka dan meneladani perangai dan budi pekerti mereka. Kemanusiaan adalah esensi kemu’jizatan mereka. Mereka adalah manusia biasa namun memiliki perbedaan yang tidak mungkin disamai manusia manapun. Karena itu memberikan penilaian dari sisi kemanusiaan terhadap mereka tanpa melibatkan unsur-unsur lain adalah perspektif jahiliyah yang musyrik. Salah satu penilaian kemanusiaan semata adalah - Ucapan kaum Nabi Nuh terhadap Nabi Nuh sebagaimana diceritakan Allah :فقال الملأ من قومه ما نراك إلا بشرا مثلنا (هود27)Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya : \"Kami tidak melihat kamu, melainkan ( sebagai ) seorang manusia ( biasa ) seperti kami.\" ( Q.S.Huud : 27 ) - Ucapan kaum Nabi Musa dan Isa terhadap mereka berdua seperti diceritakan Allah :فقال أنؤمن لبشرين مثلنا وقومهما لنا عابدون (المؤمنون 47)Dan mereka berkata : \"Apakah ( patut ) kita percaya kepada dua orang manusia seperti kita ( juga ), padahal kaum mereka ( Bani Israil ) adalah orang-orang yang menghambakan diri Kepada kita ?\" ( Q.S.Al.Mu\`minuun : 47 )- Ucapan kaum Tsamud terhadap Nabi Shalih Nuh sebagaimana disebutkan Allah :ما أنت إلا بشر مثلنا فأت بآية إن كنت من الصادقين ( الشعراء 154)\"Kamu tidak lain melainkan seorang manusia seperti kami; maka datangkanlah sesuatumu\`jizat, jika kamu memang termasuk orang-orang yang benar.\" ( Q.S.Asy.Syu\`araa\` : 154 ) - Ucapan Ashabul Aikah terhadap Nabi mereka Syu’aib sebagaimana dikatakan Allah :قالوا إنما أنت من المسحرين , وما أنت إلا بشر مثلنا وإن نظنك لمن الكاذبين (الشعراء : 186)Mereka berkata : \"Sesungguhnya kamu adalah salah seorang dari orang-orang yang kena sihir, dan kamu tidak lain melainkan seorang manusia seperti kami, dan sesungguhnya kami yakin bahwa kamu benar-benar termasuk orang-orang yang berdusta.\" ( Q.S.Asy.Syu\`araa\` : 185-186 ) - Ucapan kaum musyrikin terhadap Nabi Muhammad SAW yang memandang Nabi dari aspek kemanusiaan semata, seperti diceritakan Allah :وقالوا ما لهذا الرسول يأكل الطعام ويمشي في الأسواق ( الفرقان : 7 )Dan mereka berkata : \"Mengapa Rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar ?\"( Q.S.Al.Furqaan : 7 )SIFAT-SIFAT PARA NABI AS :Para Nabi, meskipun mereka juga manusia yang makan, minum, sehat, sakit, menikahi perempuan, berjalan di pasar, mengalami apa yang dialami manusia seperti lemah, lanjut usia, dan mati namun mereka memiliki perbedaan dengan berbagai keistimewaan dan memiliki sifat-sifat yang agung yang bagi mereka adalah salah satu hal yang harus melekat serta paling urgen. Sifat-sifat ini bisa diringkas sebagai berikut :1. Jujur2. Amanah3. Bebas dari aib yang menjijikkan 4. Menyampaikan5. Cerdas6. Terhindar dari dosa Di sini bukanlah tempat untuk membicarakan sifat-sifat ini secara detail. Karena pembicaraan masalah ini telah ditanggung oleh buku-buku tauhid. Di sini, kami hanya akan menyebut sebagian sifat yang membedakan Nabi Muhammad SAW dengan manusia biasa. MAMPU MELIHAT DARI BELAKANG SEBAGAIMANA DARI DEPAN :Al Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda :   هل ترون قبلتي هاهنا ؟ فوالله ما يخفى عليّ ركوعكم ولا سجودكم إنيّ لأراكم من وراء ظهري .“Apakah kalian melihat qiblatku di sini ? Demi Allah, ruku’ dan sujud kalian tidak samar bagi saya. Sungguh saya bisa melihat kalian dari balik punggungku.” Muslim meriwayatkan dari Anas bahwa Rasulullah SAW bersabda :   أيها الناس إنيّ إمامكم فلا تسبقوني بالركوع ولا بالسجود فانيّ أراكم من أمامي ومن خلفي .“Wahai manusia, sesungguhnya saya adalah imam kalian. Maka janganlah mendahului saya dengan ruku’ dan sujud. Karena saya bisa melihat kalian dari arah depan dan belakang.” Abdurrazaq meriwayatkan dalam karyanya, dan Al Hakim serta Abu Nu’aim dari Abu Hurairah bahwa Nabi SAW bersabda : إنيّ لأنظر إلى ما ورائي كما أنظر إلى ما بين يدي“Sesungguhnya saya mampu melihat sesuatu dari arah belakangku sebagaimana dari arah depanku.”Abu Nu’aim meriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda : إنيّ أراكم من وراء ظهري“Sungguh saya mampu melihat kalian dari balik punggungku.”BELIAU MAMPU MELIHAT APA YANG TIDAK KITA LIHAT DAN MAMPU MENDENGAR APA YANG TIDAK KITA DENGAR :Dari Abu Dzarr, ia berkata, “Rasulullah bersabda :   إنيّ أرى ما لا ترون وأسمع ما لا تسمعون , أطت السماء وحق لها أن تئط , والذي نفسي بيده ما فيها موضع أربعة أصابع إلا وملك واضع جبهته ساجد لله , والله لو تعلمون ما أعلم لضحكتم قليلا ولبكيتم كثيرا , وما تلذذتم بالنساء على الفرشات , ولخرجتم إلى الصعدات تجأرون إلى الله .“Sungguh saya mampu melihat apa yang tidak kalian lihat dan mampu mendengar apa yang tidak kalian dengar. Langit bersuara dan ia memang wajib bersuara. Demi Dzat yang nyawaku berada di tangannya, tidak ada di langit tempat seluas empat jari-jari kecuali ada malaikat yang meletakkan keningnya bersujud kepada Allah. Demi Allah, jika kalian mengetahui apa yang saya ketahui, niscaya kalian sedikit tertawa dan banyak tersenyum, tidak akan bersenang-senang dengan wanita di atas tempat tidur dan niscaya akan pergi ke tempat-tempat tinggi berlindung kepada Allah.” Abu Dzarr berkata, “Sekiranya saya jadi pohon yang ditebang.” HR. Ahmad, Al Turmudzi dan Ibnu Majah. KETIAK MULIA NABI SAW : Al Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Anas, ia berkata, “Saya melihat Rasulullah SAW berdo’a seraya mengangkat kedua tangan beliau hingga kedua ketiaknya terlihat.” Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Jabir, ia berkata, “Nabi SAW itu jika sujud maka warna putih kedua ketiak beliau terlihat.” Dalam banyak hadits dari sekelompok sahabat terdapat keterangan yang menjelaskan putihnya kedua ketiak beliau. Al Muhib Al Thabari berkata, “Salah satu keistimewaan beliau SAW adalah bahwa ketiak semua orang berubah warnanya kecuali beliau.” Al Qurthubi mengemukan pendapat yang sama dengan Al Thabari. “Dan sesungguhnya ketiak beliau tidak berambut,” tambahnya. NABI SAW TIDAK MENGUAP :Al Bukhari meriwayatkan dalam Al Tarikh, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf dan Ibnu Sa’ad dari Yazid ibn Al Ashamm, ia berkata, “Tidak pernah sekalipun Nabi SAW menguap.”Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Maslamah ibn Abdil Malik ibn Marwan, ia berkata, “Tidak pernah sekalipun Nabi SAW menguap.”AIR KERINGAT MULIA NABI SAW :Muslim meriwayatkan dari Anas, ia berkata, “Rasulullah SAW masuk menemui kami lalu beliau tidur siang. Saat tidur badan beliau mengeluarkan keringat. Ibuku datang membawa botol. Kemudian ia mengambil keringat Nabi dengan kain. Lalu Nabi terjaga dan bertanya, “Apa yang kamu lakukan ini, wahai Ummu Sulaim ?”. “Keringat yang saya masukkan dalam minyak wangi saya. Keringat ini paling wanginya wewangian,” jawab ibuku. Muslim juga meriwayatkan lewat jalur lain dari Anas, ia berkata, “Sesungguhnya Nabi SAW mendatangi Ummu Sulaim. Lalu beliau hendak tidur siang. Ummu Sulaim kemudian menggelar alas dari kulit dan Nabi tidur di atasnya. Nabi adalah orang yang banyak mengeluarkan keringat. Ummu Sulaim kemudian mengumpulkan keringat beliau lalu memasukkannya dalam minyak wangi dan botol. “Wahai Ummu Sulaim, apa ini ?” tanya Nabi. “Keringat yang saya campurkan pada minyak wangi saya,” jawab Ummu Sulaim. TINGGI BADAN NABI SAW :Ibnu Khaitsamah meriwayatkan Tarikhnya, Al Baihaqi dan Ibnu ‘Asakir dari ‘Aisyah, ia berkata, “Rasulullah bukan lelaki terlalu tinggi dan pendek. Jika berjalan sendirian postur beliau dinilai sedang. Jika beliau berjalan dengan seseorang yang dinilai tinggi maka tinggi beliau akan melampauinya. Terkadang beliau didampingi oleh dua orang yang berpostur tinggi tapi tinggi badan beliau mengalahkan keduanya. Jika keduanya meninggalkan beliau, maka beliau dinilai sebagai orang yang berpostur sedang. Dalam Al Khashaish, Ibnu Sab’in menyebutkan hal di atas. “Sesungguhnya Rasulullah SAW jika duduk maka pundak beliau lebih tinggi dari semua orang yang duduk,” tambah Ibnu Sab’in.BAYANGAN NABI SAW :Al Hakim dan Al Turmudzi meriwayatkan dari Dzakwan bahwa Rasulullah SAW tidak memiliki bayangan baik di bawah sinar matahari atau pun bulan. Ibnu Sab’in berkata, “Salah satu keistimewaan Nabi SAW adalah bahwa bayangan beliau tidak jatuh di atas tanah dan bahwa beliau adalah cahaya. Jika beliau berjalan di bawah sinar matahari atau bulan maka tidak terlihat bayangan beliau. Sebagian ulama mengatakan, “Fakta ini diperkuat oleh sebuah hadits beliau dalam berdo’a, “Jadikanlah saya cahaya.”Al Qadli ‘Iyadl dalam Al Syifa’ dan Al ‘Azafiy dalam Maulidnya mengatakan, “Salah satu keistimewaan Nabi SAW bahwa beliau tidak dihinggai lalat.” Dalam Al Khashaish. Ibnu Sab’in menyebutkannya dengan redaksi : Tidak ada seekor nyamuk pun yang hinggap di atas pakaian Nabi SAW. “Bahwa kutu tidak menyakiti beliau,” tambahnya. DARAH NABI SAW :Al Bazzar, Abu Ya’la, Al Thabarani, Al Hakim dan Al Baihaqi meriwayatkan dari Abdullah ibn Zubair bahwa ia datang kepada Nabi SAW pada saat beliau sedang melakukan bekam. Setalah Nabi selesai berbekam beliau berkata, “Wahai Abdullah, pergilah dan tumpahkanlah darah ini di tempat yang tidak diketahui orang.” Abdullah meminum darah tersebut. Ketika ia kembali Nabi bertanya, “Apa yang kamu lakukan?” “Saya letakkan darah tersebut dalam tempat paling tersembunyi yang saya tahu bahwa tempat itu tersembunyi dari manusia,” jawab Abdullah ibnu Zubair. “Mungkinkah engkau meminumnya.”“Benar.”“Celakalah manusia karena kamu dan celakalah kamu karena mereka,” kata Nabi. Akhirnya orang-orang menganggap bahwa kekuatan yang dimiliki Abdullah ibnu Zubair adalah akibat meminum darah Nabi SAW. TIDURNYA NABI SAW :Al Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari ‘Aisyah, ia bertanya, “Apakah engkau akan tidur sebelum shalat witir ?” ياعائشة ! إنّ عينيّ تنامان ولا ينام قلبي“Wahai ‘Aisyah ! sesungguhnya kedua mataku tertidur tapi hatiku tidak tidur,” jawab Nabi SAW.Nabi SAW bersabda : الأنبياء تنام أعينهم ولا تنام قلوبهم“Para Nabi itu mata mereka tertidur namun hati mereka tidak.”HUBUNGAN INTIM NABI SAW :Al Bukhari meriwayatkan dari jalur Qatadah dari Anas, ia berkata, “Nabi SAW menggilir para istrinya yang berjumlah sebelas orang dalam satu waktu pada siang dan malam.” Saya bertanya kepada Anas, “Apakah Nabi kuat?” “Kami mengatakan bahwa beliau diberi kekuatan 30 laki-laki,” jawab Anas. TERHINDARNYA BELIAU DARI MIMPI BASAH :Al Thabarani meriwayatkan lewat jalur ‘Ikrimah dari Anas dan Ibnu ‘Abbas, dan Al Dinawari dalam Al Mujalasah lewat jalur Mujahid dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Tidak ada seorang Nabi pun yang mimpi basah. Karena mimpi basah hanyalah dari syetan.”AIR SENI NABI SAW :Al Hasan ibnu Sufyan meriwayatkan dalam Al Musnadnya, Abu Ya’la, Al Hakim, Al Daruquthni, dan Abu Nu’aim dari Ummu Aiman, ia berkata, “Suatu malam Nabi bangkit berdiri menuju kendi yang ada di samping rumah lalu beliau kencing pada tempat itu. Kemudian pada malam itu saya bangun dan merasa haus. Lalu saya minum dari isi kendi tersebut. Saat pagi tiba saya menceritakan peristiwa semalam kepada beliau. Beliau tertawa dan berkata, “Sesungguhnya setelah hari ini perut kamu tidak akan merasakan sakit selamanya.”‘Abdurrazaq meriwayatkan dari Ibnu Juraij, ia berkata, “Saya diberi informasi bahwa Nabi SAW kencing pada wadah kayu lalu wadah itu diletakkan di bawah tempat tidur beliau. Kemudian Nabi datang tapi tiba-tiba wadah itu tidak ada isinya sama sekali. Lalu Nabi bertanya kepada seorang perempuan bernama Barakah yang mengabdi kepada Ummu Habibah dan datang bersamanya dari tanah Habasyah, “Di manakah air seni yang ada pada wadah ?” “Saya minum,” jawab Barakah. “Sehat, wahai Ummu Yusuf,” lanjut Nabi. Barakah pun dijuluki Ummu Yusuf dan tidak mengalami sakit sama sekali sampai sakit yang dialami waktu kematian menjemput. Ibnu Dihyah berkata, “Peristiwa yang dialami Barakah adalah peristiwa lain, bukan peristiwa Ummu Aiman dan Barakah Ummu Yusuf bukan Barakah Ummu Aiman.”RINGKASAN YANG BERGUNASebagian ulama telah menadhamkan ( mempuisikan ) sejumlah keistimewaan yang membuat Nabi berbeda dengan yang lain dari aspek sifat-sifat kemanusiaan biasa sebagai berikut :خص نبينا بعشرة خصال لم يحتلم قط وما له ظلالوالأرض ما يخرج منه تبتلع كذالك الذباب عنه ممتنعتنام عيناه و قلب لا ينام من خلفه يرى كما يرى أماملم يتشاءب قط وهي السابعة ولد مختونا إليها تابعةتعرفه الدواب حين يركب تأتي إليه سرعة لا تهربيعلو جلوسه جلوس الجلسا صلى عليه الله صبحا و مساNabi kita telah diberi sepuluh keistimewaanBeliau belum pernah sekalipun mimpi basah, tidak memiliki bayanganBumi menelan kotoran yang dikeluarkan beliauDan lalat tidak mampu hinggap pada tubuhnyaMata beliau tertidur namun hatinya tetap terjagaMampu melihat dari belakang sebagaimana dari depanYang ketujuh beliau tidak pernah menguapSelanjutnya beliau dilahirkan sudah dikhitanBinatang-binatang mengenal beliau saat beliau sedang menunggangBinatang-binatang itu datang dengan segera tidak lari menjauhDuduk beliau mengungguli duduknya orang lain yang dudukShalawat dan salam Allah untuknya setiap pagi dan sore Kami telah menyebutkan dalam pembahasan kenabian pada bab kedua sebagian keistimewaan kenabian dan ringkasan dari yang saya lihat dalam keistimewaan tersebut. Keistimewaan-keistimewaan itu ternyata sangat banyak. Sebagian ada yang sanadnya sahih, sebagian ada yang sanadnya tidak shahih, sebagian ada yang diperselisihkan para ulama. Sebagian ulama memandangnya shahih, sebagian lain tidak. Masalah ini adalah masalah khilafiyyah.Polemik antar ulama dalam masalah ini sejak dulu berkisar antara salah dan benar, dan antara sah dan batal. Bukan antara kufur dan iman. Kami telah mengutip sebagian besar dari keistimewaan-keistimewaan yang di antaranya ada yang shahih, tidak shahih, dan ada yang diterima dan lain seterusnya. Kami kutip sebagian keistimewaan di atas agar menjadin penguat atas apa yang kami kemukakan mengenai toleransi sebagian pakar hadits dalam mengutip keistimewaan itu tanpa kajian mendalam dan kritik. Maksud dari mengutip sebagian keistimewaan itu bukanlah membicarakan seputar keabsahan dan tidaknya keistimewaan tersebut atau ada dan tidaknya keistimewaan itu. Maka Perhatikanlah !PERSEPSI TABARRUK ( MEMOHON BERKAH )Banyak orang keliru memahami esensi tabarruk dengan Nabi SAW, jejak-jejak peninggalan beliau, keluarga dan para pewarisnya dari para ulama dan wali. Mereka menilai setiap orang yang melakukan tabarruk telah melakukan tindakan syirik dan sesat sebagaimana kebiasaan mereka menyikapi hal-hal baru yang tidak diterima oleh pandangan mereka dan tidak terjangkau pemikiran mereka.Sebelum kami jelaskan dalil–dalil dan bukti-bukti yang menunjukkan diperbolehkannya tabarruk malah disyariatkannya tabarruk perlu kami sampaikan tabarruk tidak lain tawassul kepada Allah dengan obyek yang dijadikan tabarruk baik peninggalan, tempat atau orang. Adapun tabarruk dengan orang-orang maka karena meyakini keutamaan dan kedekatan mereka kepada Allah dengan tetap meyakini ketidakmampuan mereka memberi kebaikan atau menolak keburukan kecuali atas izin Allah. Adapun tabarruk dengan peninggalan-peninggalan maka karena peninggalan tersebut dinisbatkan kepada orang-orang di mana kemuliaan peninggalan itu berkat mereka dan dihormati, diagungkan dan dicintai karena mereka. Adapun tabarruk dengan tempat maka substansi tempat sama sekali tidak memiliki keutamaan dilihat dari statusnya sebagai tempat. Tempat memiliki keutamaan karena kebaikan dan ketaatan yang berada dan terjadi di dalamnya seperti sholat, puasa dan semua bentuk ibadah yang dilakukan oleh para hamba Allah yang shalih. Sebab karena ibadah mereka rahmat turun pada tempat, malaikat hadir dan kedamaian meliputinya. Inilah keberkahan yang dicari dari Allah di tempat-tempat yang dijadikan tujuan tabarruk. Keberkahan ini dicari dengan berada di tempat-tempat tersebut untuk bertawajjuh kepada Allah, berdoa, beristighfar dan mengingat peristiwa yang terjadi di tempat-tempat tersebut dari kejadian-kejadian besar dan peristiwa-peristiwa mulia yang menggerakkan jiwa dan membangkitkan harapan dan semangat untuk meniru pelaku peristiwa itu yang nota bene orang-orang yang berhasil dan shalih. Mari kita simak keterangan-keterangan di bawah ini yang kami kutip dari risalah karya kami yang khusus mengenai topik keberkahan. TABARRUK DENGAN RAMBUT, SISA AIR WUDLU DAN KERINGAT NABI SAW :1. Dari Ja’far ibn Abdillah ibn Al Hakam bahwa Khalid ibnu Al Walid kehilangan peci miliknya saat perang Yarmuk. “Carilah peciku,” perintah Khalid kepada pasukannya. Mereka mencari peci tersebut namun gagal menemukannya. “Carilah peci itu,” kata Khalid lagi. Akhirnya peci itu berhasil ditemukan. Ternyata peci itu peci yang sudah lusuh bukan peci baru. “Rasulullah melaksanakan umrah lalu beliau mencukur rambut kepalanya kemudian orang-orang segera menghampiri bagian-bagian rambut beliau. Lalu saya berhasil merebut rambut bagian ubun-ubun yang kemudian saya taruh di peci ini. Saya tidak ikut bertempur dengan mengenakan peci ini kecuali saya diberi kemenangan,” jelas Khalid. Al Haitsami berkata, “Hadits semisal di atas diriwayatkan oleh Al Thabarani dan Abu Ya’la dengan perawi yang memenuhi kriteria hadits shahih. Ja’far mendengar hadits di atas ini dari sekelompok shabat. Saya tidak tahu apakah ia mendengar langsung dari Khalid atau tidak. (9/349). Hadits ini juga disebut oleh Ibnu Hajar dalam Al Mathalib Al ‘Aliyah vol. IV hlm. 90. Dalam hadits ini Khalid berkata, “Saya tidak pergi menuju medan pertempuran kecuali diberi kemenangan.”2. Dari Malik ibn Hamzah ibn Abi Usaid Al Sa’idi Al Khazraji dari ayahnya dari kakeknya, Abi Usaid yang memiliki sumur di Madinah yang disebut Sumur Bidlo’ah yang pernah diludahi oleh Nabi SAW. Abi Usaid minum air dari sumur tersebut dan memohon berkah dengannya. HR Al Thabarani dengan para perawi yang memiliki kredibilitas. PENILAIAN ‘URWAH IBNU MAS’UD TERHADAP PERILAKU SAHABAT BERSAMA RASULULLAH :3. Al Imam Al Bukhari mengatakan beserta sanadnya, “Kemudian ‘Urwah mengamati para sahabat Nabi SAW dengan matanya. “Demi Allah,” kata “urwah, “Rasulullah tidak mengeluarkan dahak kecuali dahak itu jatuh pada telapak tangan salah satu sahabat yang kemudian ia gosokkan pada wajah dan kulitnya. Jika beliau memberikan perintah maka mereka segera mematuhi perintahnya. Jika beliau berwudlu maka nyaris mereka berkelahi untuk mendapat air sisa wudlu’nya. Jika beliau berbicara mereka memelankan suara di depan beliau. Dan tidak ada yang berani memandang tajam kepada beliau semata-mata karena menghormatinya.” ‘Urwah lalu pulang menemui teman-temannya. “Wahai kaumku !” seru ‘Urwah, “Demi Allah, saya pernah diutus menemui para raja, kaisar, kisra dan najasyi. Demi Allah, tidak ada sama sekali raja yang mendapat penghormatan seperti penghormatan yang diberikan para sahabat Muhammad kepada Muhammad SAW. Demi Allah, ia tidak berdahak kecuali dahak itu jatuh pada telapak tangan salah seorang dari mereka lalu dahak itu diusapkan ke wajah dan kulitnya. Jika ia memberikan perintah maka mereka segera mematuhinya. Jika ia berwudlu maka mereka nyaris berkelahi untuk memperebutkan sisa air wudlunya. Jika mereka berbicara, mereka memelankan suaranya di dekatnya. Dan mereka tidak berani memandang dengan tajam semata-mata karena menghormatinya.” HR. Al Bukhari dalam Kitab Al Syuruuth dalam Bab Al Syarthi fi Al Jihaadi. (Fathul Baari vol. V hlm. 330)KOMENTAR AL HAFIDH IBNU HAJAR TERHADAP KISAH DI ATAS :Hadits di atas menunjukkan kesucian dahak, rambut yang terlepas, dan memohon berkah dengan sesuatu yang suci yang keluar dari badan orang-orang shalih. Barangkali para sahabat melakukan semua hal di atas di hadapan ‘Urwah dan melakukannya secara berlebihan untuk menepis kekhawatiran ‘Urwah bahwa mereka akan lari. Dengan sikap mereka seolah-olah mereka mengatakan : “Mereka yang mencintai dan mengagungkan pemimpinnya seperti ini, bagaimana mungkin dibayangkan mereka akan lari dan menyerahkan pemimpin mereka kepada musuh ? Justru mereka adalah orang yang sangat menyenangi pemimpinnya, agamanya dan siap membelanya melebihi para suku yang sebagian melindungi yang lain hanya semata-mata karena ikatan kekerabatan.” Dari hadits ini bisa ditarik kesimpulan diperbolehkan meraih tujuan yang hendak dicapai dengan cara apapun yang diperkenankan. Fathul Baari vol. V hlm. 341.NABI SAW MENGANJURKAN UNTUK MENJAGA SISA AIR WUDLU BELIAU :4. Dari Thalq ibnu ‘Ali, ia berkata, “Kami pergi sebagai delegasi untuk menghadap Nabi SAW. Lalu kami membai’at beliau, shalat bersamanya dan mengabarkan bahwa di daerah kami ada sebuah sinagog milik kami. Kemudian kami meminta sisa air wudlu beliau. Beliau kemudian meminta didatangkan air lalu berwudlu, berkumur terus menumpahkan sisa air wudlu itu untuk kami pada kantong dari kulit dan memberikan perintah kepada kami, “Pergilah kalian!, Jika kalian telah tiba di daerah kalian robohkan sinagog itu dan percikilah tempat sinagog itu dengan air sisa wudlu ini dan jadikanlah tempat sinagog itu sebagai masjid.” “Sesungguhnya daerah kami jauh, cuaca sangat panas dan air ini bisa kering,” ujar kami. “Tambahkanlah air, karena tambahan air akan semakin membuatnya wangi,” kata Nabi. Al Nasa’i dalam Al Misykat no. 716 meriwayatkan hadits ini demikian. Hadits ini dikategorikan sebagai dasar-dasar pedoman populer yang mengindikasikan disyariatkannya tabarruk dengan Nabi, peninggalan beliau dan dengan apa saja yang dinisbatkan kepada beliau. Karena beliau SAW mengambil air wudlu lalu memasukkannya ke dalam kantong kulit kemudian menyuruh sahabat membawanya bersama mereka. Tindakan beliau ini untuk mengabulkan permintaan mereka dan mewujudkan harapan mereka. Dalam peristiwa ini pasti ada rahasia kuat yang tertanam dalam sanubari mereka yang mendorong untuk meminta sisa air wudlu secara khusus padahal kota Madinah penuh dengan air, bahkan daerah mereka juga penuh dengan air. Lalu mengapa mereka bersusah payah membawa sedikit air sisa wudlu dari satu daerah ke daerah lain padahal jaraknya jauh, perjalanan menempuh waktu lama, dan di bawah sengatan panas sinar matahari ?Betul, bahwa mereka tidak mempedulikan pengorbanan ini. Sebab faktor di balik tindakan mereka membawa air sisa wudlu membuat semua hal yang berat dirasa ringan. Faktor itu ialah, tabarruk dengan Nabi, peninggalan-peninggalan beliau dan dengan semua hal yang dinisbatkan kepada beliau, di mana faktor ini tidak terdapat di daerah mereka dan dalam kondisi apapun tidak bisa ditemukan dengan sempurna pada mereka. Apalagi Nabi memberi penegasan kepada mereka dan meridloi tindakan mereka dengan menjawab perkataan mereka saat mengatakan, “Sesungguhnya air bisa kering karena cuaca sangat panas,” dengan jawaban : “Tambahkanlah ia air.” Nabi menjelaskan kepada mereka bahwa keberkahan yang melekat pada air sisa wudlu tetap terjaga sepanjang mereka menambahkan ke dalamnya air lagi. Barokah itu akan terus berlanjut. TABARRUK DENGAN RAMBUT NABI SAW SEPENINGGAL BELIAU :5. Dari ‘Utsman ibnu ‘Abdillah ibnu Mauhib, ia berkata, “Keluargaku mengutus saya kepada Ummu Salamah dengan membawa gelas berisi air. Lalu Ummu Salamah datang dengan membawa sebuah genta dari perak yang berisi rambut Nabi. Jika seseorang terkena penyakit ‘ain atau sesuatu hal maka ia datang kepada Ummu Salamah membawakan bejana untuk mencuci pakaian. “Saya amati genta itu dan ternyata saya melihat ada beberapa helai rambut berwarna merah,” kata ‘Utsman. HR. Al Bukhari dalam Kitabul Libaas Baabu Maa Yudzkaru fi Al Syaibi.Al Imam Al Hafidh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menegaskan, “Waki’ telah menjelaskan hadits di atas dalam karangannya. “Genta ( Jaljal ) itu terbuat dari perak yang dibuat untuk menyimpan rambut-rambut Nabi yang ada pada Ummu Salamah. Jaljal adalah benda mirip lonceng yang terbuat dari perak, kuningan atau tembaga. Kerikil-kerikil yang bergerak-gerak dalam jaljal terkadang dibuang lalu apa yang dibutuhkan diletakkan dalam jaljal. ( Fathul Bari vol. I hlm. 353 ).Al Imam Al ‘Aini berkata, “Penjelasan hadits di atas intisarinya adalah bahwa Ummu Salamah memiliki beberapa helai rambut Nabi SAW yang disembunyikan dalam sebuah benda mirip genta dan orang-orang ketika mengalami sakit memohon berkah dari rambut tersebut serta memohon kesembuhan dari keberkahan rambut itu. Mereka mengambil sebagian rambut Nabi dan meletakkannya dalam wadah berisi air. Kemudian mereka meminum air yang ada rambutnya itu hingga mereka sembuh. Keluarga ‘Utsman itu mengambil sedikit dari rambut itu dan meletakkannya dalam gelas dari perak. Mereka lalu minum air yang berada dalam wadah tersebut hingga mereka sembuh. Selanjutnya mereka mengutus ‘Utsman dengan membawa gelas perak itu kepada Ummu Salamah. Ummu Salamah pun mengambil gelas itu dan meletakkannya pada genta. Lalu ‘Utsman mengamati isi genta itu dan ternyata ia melihat beberapa rambut berwarna merah. Ucapan ‘Utsman : “Jika seseorang terkena penyakit ‘ain atau sesuatu hal maka ia datang kepada Ummu Salamah membawakan bejana untuk mencelup kain dst, adalah ucapan ‘Utsman ibn ‘Abdillah ibn Mauhib. Maksudnya adalah bahwa keluargaku…. Demikian penafsiran Al Kirmani. Sebagian ulama mengatakan, “Maksudnya adalah bahwa orang-orang, jika salah satu dari mereka. Pendapat Al Kirmani lebih tepat, yang menjelaskan bahwa seseorang jka ia terkena penyakit ‘ain atau sesuatu hal maka keluarganya mengirimkan kepada Ummu Salamah sebuah bejana untuk mencuci pakaian yang diisi dengan air dan sedikit rambut Nabi yang berkah. Orang tersebut kemudian duduk dalam bejana tersebut hingga ia sembuh kemudian rambut itu dikembalikan lagi kepada Ummu Salamah. ( ‘Umdatul Qaari Syarhu Shahihi Al Bukhari vol. 18 hlm. 79 ). NABI MEMBAGI RAMBUT BELIAU KEPADA ORANG-ORANG :Muslim meriwayatkan dari haditsnya Anas :   أن النبي أتى منى فأتى الجمرة فرماها , ثم أتى منزله بمنى ونجر , وقال للحلق : خذ , وأشار إلى جانبه الأيمن ثم الأيسر , ثم جعل يعطيه الناس  \"Bahwa Nabi SAW mendatangi Mina lalu datang ke Jamrah dan melemparnya. Kemudian mendatangi rumahnya dan menyembelih. Lalu beliau berkata kepada tukang cukur sambil menunjuk ke arah kanan lalu arah kiri, “ambillah !” Selanjutnya beliau memberikan rambutnya kepada orang-orang.\"Al Turmudzi meriwayatkan dari haditsnya Anas juga, ia berkata :   لما رأى رسول الله الجمرة نحر نسكه ثم ناول الحالق شقة الأيمن فحلقه , فأعطاه أبا طلحة , ثم ناوله شقه الأيسر فحلقه , فقال : اقسم بين الناس .  “Saat Rasulullah SAW melihat jamrah beliau menyembelih hewan sembelihan lalu mempersilahkan sisi kanan kepala kepada tukang cukur,lalu tukang cukur itu mencukur rambutnya. Kemudian Nabi memberikan rambut kepada Abu Thalhah. Kemudian beliau mempersilahkan sisi kepala kiri lalu dicukur oleh tukang cukur lalu berkata, “Bagikanlah rambut ini kepada orang-orang.” Riwayat Muslim kelihatannya menunjukkan bahwa rambut yang beliau menyuruh Abu Thalhah untuk membaginya kepada orang-orang adalah rambut kepala bagian kiri. Demikian riwayat Muslim dari jalur Ibnu ‘Uyainah. Adapun riwayat Hafsh ibn Ghiyats dan Abdul A’la adalah : Bahwa sisi kepala yang rambutnya dibagikan kepada orang-orang adalah sisi kanan. Kedua riwayat ini sama-sama dari Muslim. PEMBAGIAN RAMBUT NABI SAW SEHELAI-SEHELAI :Dalam riwayat hafsh versi Muslim hadits di atas menggunakan redaksi :   فبدأ بالشق الأيمن فوزعه الشعرة والشعرتين بين الناس , ثم قال بالأيسر فصنع مثل ذلك   \"Lalu Nabi mengawali dengan sisi kanan kepala kemudian beliau membagi-bagikan rambut sehelai - dua helai kepada orang-orang. Lalu beliau melakukan hal yang sama untuk sisi kiri rambut.\"Dalam riwayatnya dari Hafsh, Abu Bakar berkata :   قال للحلاق : هاء وأشار بيده إلى الجانب الأيمن هكذا , فقسم شعره بيم من يليه , قال : ثم أشار اشارة إلى الحلاق إلى الجانب الأيسر فحلقه وأعطاه أم سليم .  “Nabi berkata kepada tukang cukur, “Cukurlah ini !”, sambil menunjuk sisi kanan kepala. Lalu beliau membagikan rambutnya kepada orang-orang yang ada di sekitar beliau. “Kemudian memberi syarat kepada tukang cukur untuk mencukur sisi kiri kepala lalu tukang cukur mencukurnya dan beliau memberikan rambut kepada Ummu Sulaim,” lanjut Abu Bakar. ORANG-ORANG BEREBUT MEMUNGUT RAMBUT NABI SAW :Dalam riwayat Ahmad dalam Al Musnad terdapat keterangan yang menunjukkan bahwa Nabi SAW menyuruh Anas mengirimkan rambut kepala bagian kanan kepada ibunya, Ummu Sulaim istri Abu Thalhah. Karena dalam riwayat tersebut Anas berkata :   لما حلق رسول الله رأسه بمنى أخذ شق رأسه الأيمن بيده , فلما فرغ ناولني فقال : ياأنس! انطلق بهذا إلى أم سليم , قال : فلما رأى الناس ما خصنا به تنافسوا في الشق الآخر , هذا يأخذ الشيء وهذا يأخذ الشيء .  \"Saat Rasulullah SAW mencukur rambut kepalanya di Mina beliau memegang sisi kanan kepala dengan tanggannya. Setelah selesai dicukur beliau memberikan rambut kepada saya. “Wahai Anas,” kata beliau, “Pergilah dengan membawa rambut ini kepada Ummu Sulaim.” “Ketika orang-orang melihat apa yang diberikan secara khusus kepada kami maka mereka berebutan memungut rambut sisi kiri kepala. Si A mengambil, si B juga, dst.\" KAJIAN MENDALAM MENYANGKUT TOPIK HADITS TENTANG RAMBUT :Sebagai mana Anda simak, banyak riwayat berbeda menyangkut topik ini. Sebagian riwayat menyatakan bahwa yang diberikan Nabi kepada Abu Thalhah adalah rambut sisi kanan kepala sedang yang beliau bagikan kepada orang-orang adalah rambut sisi kiri kepala. Sebagian riwayat lagi menjelaskan sebaliknya. Dan ada lagi riwayat yang menerangkan bahwa beliau memberikan rambut sisi kiri kepala kepada Ummu Sulaim. Riwayat-riwayat ini bisa dikompromikan dengan keterangan yang datang dari penyusun Al Mufhim fi Syarhi Al Muslim, karena ia mengatakan bahwa ucapan Anas : “Saat Rasulullah mencukur rambut sisi kanan kepala beliau memberikan rambut kepada Abu Thalhah” bertentangan dengan kandungan riwayat kedua bahwasanya Nabi SAW membagi rambut sisi kanan kepala kepada orang-orang dan sisi kiri kepala kepada Ummu Sulaim yang notabene istri Abu Thalhah dan ibu Anas. “Dari semua riwayat-riwayat ini dapat disimpulkan bahwa Nabi SAW ketika mencukur rambut sisi kanan kepala beliau memberikan rambut kepada Abu Thalhah agar dibagikan kepada orang-orang. Lalu Abu Thalhah melaksanakan perintah beliau. Nabi juga menyerahkan rambut sisi kiri kepala kepada Abu Thalhah agar disimpan oleh Abu Thalhah sendiri. Dengan demikian sahlah menisbatkan masing-masing rambut kepada orang yang menerima. Wallahu A’lam,” jelas penyusun Al Mufhim. Al Muhib Al Thabari telah melakukan kompromi pada riwayat-riwayat yang bisa dikompromikan dan menguatkan salah satu riwayat ketika tidak bisa menerapkan kompromi. Ia berkata, “Yang sahih bahwa rambut yang Nabi bagikan kepada orang-orang adalah rambut sisi kanan kepala dan beliau menyerahkan rambut sisi kiri kepala kepada Abu Thalhah. Tidak ada kontradiksi antara kedua riwayat ini karena Ummu Sulaim itu istri Abu Thalhah. Maka Nabi memberikan rambut kepada keduanya. Terkadang pemberian dinisbatkan kepada Abu Thalhah dan terkadang kepada Ummu Sulaim.”Dalam hadits di atas sungguh, ia menunjukkan adanya tabarruk dengan rambut Nabi SAW dan peninggalan-peninggalan beliau yang lain. Ahmad dalam hadits yang sanadnya sampai kepada Ibnu Sirin meriwayatkan bahwa Ibnu Sirin berkata, “’Ubaidah Al Salmani menceritakan kepada hadits ini.” “Sungguh memiliki sehelai rambut beliau itu lebih saya inginkan dari semua perak dan emas yang ada di atas permukaan dan di dalam perut bumi,” ujar Ibnu Sirin. Bukan cuma seorang perawi yang menyebutkan bahwa Khalid ibnu Al Walid menyimpan beberapa helai rambut Nabi dalam pecinya, yang karenanya ia tidak pernah mengalami kekalahan ketika berperang di medan pertempuran apa saja. Keterangan ini diperkuat oleh apa yang disebutkan oleh Al Mala dalam Al Sirah yang menyatakan bahwa Khalid meminta rambut ubun-ubun Nabi kepada Abu Thalhah ketika membagikannya kepada para sahabat. Abu Thalhah pun mengabulkan permintaan Khalid. Maka bagian depan ubun-ubun Nabi itu relevan dengan setiap kemenangan yang diperoleh Khalid dalam semua pertempuran yang diikuti. ‘Umdatul Qaari Syarhu Al Bukhari vol. VIII hlm. 230 – 231.TABARRUK DENGAN KERINGAT NABI SAW :6. Dari ‘Utsman dari Anas bahwa Ummu Sulaim menggelar alas dari kulit untuk Nabi. Lalu beliau tidur siang dengan menggunakan alas itu di tempat Ummu Sulaim. “Jika Nabi telah tertidur,” kata Anas, “maka Ummu Sulaim mengambil keringat dan rambut beliau lalu dimasukkan dalam botol kemudian dicampurkan ke dalam minyak wangi sukk.” “Menjelang wafat Anas ibnu Malik berwasiat agar rambut dan keringat Nabi dimasukkan dalam ramuan obat yang dimasukkan pada kafannya, dari wewangian sukk.” Kata ‘Utsman, “Rambut dan keringat itu ditaruh di ramuan obatnya yang dimasukkan pada kafan.” HR. Al Bukhari dalam Kitabul Isti’dzan man Zara Qauman Faqaala ‘Indahum.7. Dalam sebuah riwayat dari Muslim berbunyi : “Nabi masuk menemui kami lalu beliau tidur siang dan berkeringat. Kemudiaan ibuku datang membawa botol lalu memasukkan keringat Nabi ke dalamnya. Nabi pun akhirnya terbangun dan bertanya, “Wahai Ummu Sulaim !, apa yang kamu lakukan ?” “Ini adalah keringatmu yang aku campurkan pada wewangianku. Keringat ini adalah wewangian paling harum,” jawab Ummu Sulaim.8. Dalam riwayat Ishaq ibnu Abi Thalhah sebagai berikut : “Nabi berkeringat lalu keringat itu dikumpulkan oleh Ummu Sulaim dalam sepotong kulit kuno lalu diseka dan diperas dimasukkan dalam botol-botol miliknya hingga akhirnya Nabi terbangun dan bertanya, “Apa yang kamu lakukan ?” Kami mengharapkan keberkahan keringatmu untuk anak-anak kecil kami,” jawab Ummu Sulaim. “Kamu benar,” lanjut Nabi.Dalam riwayat Abu Qilabah sebagai berikut : “Ummu Sulaim mengumpulkan keringat Nabi dan dimasukkan dalam wewangian dan botol. “Apa ini ? tanya Nabi. “Keringatmu yang saya campurkan ke dalam wewangianku,” jawab Ummu Sulaim. Dari riwayat-riwayat di atas bisa disimpulkan bahwa Nabi melihat apa yang dilakukan Ummu Sulaim dan membenarkan tindakannya itu. Tidak ada kontradiksi antara ucapan Ummu Sulaim bahwa ia mengumpulkan keringat Nabi untuk dicampurkan ke dalam wewangiannya dengan ucapannya untuk mengharap keberkahan. Justru bisa dipahami bahwa ia melakukannya untuk dua alasan tersebut. Fathul Baari vol. XI hlm. 2.TABARRUK DENGAN MENYENTUH KULIT NABI SAW :Dari Abdurrahman ibnu Abi Laila dari ayahnya, ia berkata, “Usaid ibnu Hudlair adalah seorang lelaki yang shalih, suka tertawa dan jenaka. Saat ia bersama Rasulullah ia sedang bercerita di hadapan orang-orang dan membuat mereka tertawa. Rasulullah lalu memukul pinggangnya. “Engkau telah membuatku merasa sakit,” kata Usaid. “Silahkan membalas,” jawab Nabi. “Wahai Rasulullah, engkau mengenakan qamis sedang saya tidak,” ujar Usaid. “Lalu,” kata ayah Abdurrahman, “beliau melepas qamisnya dan Usaid merangkul beliau dan menciumi pinggang beliau.” “Ayah dan ibuku menjadi tebusanmu, wahai Rasulullah, saya menginginkan ini,” kata Usaid.  Kata Al Hakim, “Hadits ini isnadnya shahih namun Al Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya.” Al Dzahabi juga sependapat dengan Al Hakim. “Hadits ini shahih,” kata Al Dzahabi.Ibnu ‘Asakir juga meriwayatkan dari Abu Laila hadits yang sama dengan hadits ini sebagaimana keterangan yang terdapat dalam Al Kanzu vol. VII hlm. 701.Saya berkata, “Hadits semisal juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Al Thabarani dari Abu Laila, sebagaimana terdapat dalam AL Kanzu vol. IV hlm. 43.Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Hibban ibnu Wasi’ dari beberapa guru dari kaumnya bahwa Rasulullah meluruskan barisan para sahabatnya dalam perang Badar. Beliau membawa anak panah di tangan untuk meluruskan barisan mereka. Lalu lewat Sawad ibnu Ghazyah, sekutu bani ‘Adi ibnu Al Najjar. Ia keluar dari barisan perang. Beliau kemudian memukul perutnya dengan anak panah sambil berkata, “Luruslah, wahai Sawad !” “Wahai Rasulullah !, engkau telah menyakitiku padahal Allah mengutusmu dengan membawa kebenaran dan keadilan. Berilah kesempatan bagi saya untuk membalasmu dengan setimpal, “ujar Sawad. Rasulullah kemudian menyingkap badannya. “Silahkan membalas, “perintah Nabi. Tiba-tiba Sawad merangkul dan mencium perut Nabi. “Apa yang mendorongmu melakukan hal ini, wahai Sawad, “tanya Nabi. “Tiba apa yang engkau bisa dilihat. Maka saya ingin akhir waktu pertemuan denganmu, agar kulitku menyentuh kulitmu, “jawab Sawad. Akhirnya rasululullah mendoakan Sawad mendapat kebaikan. Demikian dari Al Bidayah wa Al Nihayah vol VI hlm. 271. Abdurrazaq meriwayatkan dari Al Hasan bahwa Nabi SAW bertemu dengan seorang lelaki yang menggunakan semir kuning. Tangan beliau sendiri memegang pelepah kurma. “Tumbuh tanaman waras,”kata Nabi. Lalu beliau menusuk perut lelaki tersebut dengan pelepah kurma dan berkata, “Bukankah saya telah melarangmu melakukan ini ( keluar dari barisan ) ?” Tusukan beliau menimbulkan luka berdarah pada perut lelaki itu. “Pembalasan sepadan, wahai Rasulullah !” ujar sang lelaki. “Apakah kepada Rasulullah kamu berani meminta pembalasan, “tanya orang-orang. “Tidak ada kulit siapapun yang memiliki kelebihan atas kulitku,” jawabnya. Lalu Rasulullah menyingkap perutnya kemudian berkata, “Balaslah dengan sepadan !” “Saya tidak akan membalas, agar engkau memberiku syafaat kelak di hari kiamat,” jawab lelaki itu. Demikian dikutip dari Al Kanzu vol. XV hlm. 91.Dalam vol. III hlm 72 Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Al Hasan bahwa Rasulullah SAW melihat Sawad ibnu ‘Amr berselimut. Demikian dikatakan Ismail. Lalu Nabi bekata, “ Tumbuh tumbuh, tanaman waras tanaman waras.” Kemudian Nabi menusuk perut Sawad dengan kayu atau siwak. Perut Sawad pun bergoyang dan ada bekas tusukan. Lalu Ibnu Sa’ad menuturkan hal yang sama yang diriwayatkan Abdurrozaq. Abdurrazaq juga meriwayatkan dari Al Hasan sebagaimana disebutkan dalam Al Kanzu vol. XV hlm. 19. Al Hasan berkata, “Ada seorang lelaki Anshar yang dipanggil Sawadah ibnu ‘Amr. Ia memakai wewangian seolah-olah ‘urjun . Jika Nabi melihatnya maka ia gemetaran. Suatu hari ia datang dengan memakai wewangian. Kemudian Nabi menusukkan kayu kepadanya yang membuatnya terluka. “Pembalasan setimpal, wahai Rasulullah !” kata lelaki itu, lalu beliau menyerahkan kayu kepadanya. Nabi sendiri saat itu memakai dua qamis. Kemudian beliau melepaskan kedua qamisnya. Orang-orang membentak dan menghalangi Sawadah hingga saat Sawadah sampai di tempat di mana ia dilukai Nabi ia melempar pedangnya yang tajam dan menciumi Nabi. “Wahai Nabi Allah, saya tidak akan membalas, agar engkau memberi syafaat kepadaku di hari kiamat, “kata Sawadah. Al Baghawi meriwayatkan hadits yang sama sebagaimana tercantum dalam Al Ishabah vol. II hlm. 96.HADITS TENTANG ZAHIR RA :Rasulullah SAW bersabda, “Zahir orang kampung kami sedang kami orang kota dia.” Beliau sendiri senang terhadap Zahir. Suatu hari beliau berjalan masuk pasar dan melihat Zahir sedang berdiri. Lalu beliau datang dari arah belakang Zahir dan dengan tangannya beliau memeluk Zahir menempelkan ke dada beliau. Zahir mengerti bahwa yang memeluknya adalah Rasulullah. “Saya mengusapkan punggungku pada dada beliau berharap keberkahan beliau,” kata Zahir. Dalam riwayat Al Turmudzi dalam Al Syamaa’il sebagai berikut : “Lalu Nabi merangkulnya dari belakang dan Zahir tidak melihat beliau. “Lepaskan, siapakah ini,” kata Zahir. Zahir pun menoleh dan ternyata orang yang merangkulnya adalah Nabi SAW. Akhirnya ia tetap membiarkan punggungnya menempel pada dada beliau. Rasulullah pun berkata, “Siapakah yang mau membeli budak ?” “Wahai Rasulullah, jika saya dijual maka saya tidak akan laku,” kata Zahir. “Di mata Allah hargamu mahal,” balas Nabi. Dalam riwayat Al Turmudzi pula : “Di mata Allah engkau laku” atau “Di mata Allah engkau mahal.” (Al Mawaahib Al Laadunniyyah vol. I hlm. 297). TABARRUK DENGAN DARAH NABI SAWHadits Abdullah ibnu Zubair RA :Dari ‘Amir ibnu Abdullah ibn Zubair bahwa ayahnya menceritakan kepadanya bahwa ia datang kepada Nabi SAW pada saat beliau sedang melakukan bekam. Setelah Nabi selesai berbekam beliau berkata :   ياعبد الله ! اذهب بهذا الدم فاهرقه حيث لا يراك أحد , فلما برز عن رسول الله عدل إلى الدم فشربه , فلما رجع قال : ياعبد الله ! ما صنعت بالدم ؟ قال : جعلته في أخفى مكان علمت أنه يخفى عن الناس , قال : لعلك شربته ؟ قال : نعم , فقال صلى الله عليه وسلم ولم شربت الدم ؟ ويل للناس منك وويل لك من الناس .  “Wahai Abdullah, pergilah dan tumpahkanlah darah ini di tempat yang tidak diketahui orang.” Ketika Abdullah keluar meninggalkan Rasulullah ia mendekati darah tersebut dan meminumnya. Ketika ia kembali, Nabi bertanya, “Apa yang kamu lakukan terhadap darah?” “Saya letakkan darah tersebut dalam tempat paling tersembunyi yang saya tahu bahwa tempat itu tersembunyi dari manusia,” jawab Abdullah ibnu Zubair. “Paling engkau meminumnya.”“Benar.”“Celakalah manusia karena kamu dan celakalah kamu karena mereka,” kata Nabi. Berkata Abu Musa : Berkata Abu Qasim : Orang-orang menganggap bahwa kekuatan yang dimiliki Abdullah ibnu Zubair adalah akibat meminum darah Nabi SAW. (Al Ishabah vol. II hlm. 310). Al Hakim meriwayatkan pada vol. III hlm 554 dan Thabarani semisal hadits dari Abdullah ibnu Abbas di atas. Al Haitsami berkata dalam vol. VIII hlm. 270 : Hadits di atas diriwayatkan oleh Al Thabarani dan Al Bazzar dengan singkat. Para perawi Al Bazzar adalah para perawi yang sesuai dengan keiteria hadits shahih kecuali Hunaid ibnu Al Qasim yang nota bene tsiqah (kredibel). Ibnu ‘Asakir juga meriwayatkan semisal hadits riwayat Ahmad sebagaimana dijelaskan dalam Al Kanzu vol. VII hlm. 57 besertaan dengan menyebut ucapan Abu ‘Ashim. Dalam sebuah riwayat disebutkan : Berkata Abu Salamah : “Para sahabat menilai bahwa kekuatan yang dimiliki Abdullah ibnu Al Zubair berasal dari kekuatan darah Rasulullah SAW. Dalam versi Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyaa’ vol. I hlm. 33 dari Kaisan maula Abdullah ibnu Al Zubair RA berkata :   دخل سلمان رضي الله عنه على رسول الله صلى الله عليه وسلم وإذا عبد الله ابن الزبير معه طست يشرب ما فيها , فدخل عبد الله على رسول الله فقال له : فرغت ؟ قال : نعم , قال سلمان : ما ذاك يارسول الله ؟ قال : أعطيته غسالة محاجمى يهريق ما فيها , قال سلمان : ذاك شربه والذي بعثك بالحق , قال : شربته ؟ قال : نعم , قال : لم ؟ قال : أحببت أن يكون دم رسول الله في جوفي , فقام وربت بيده على رأس ابن الزبير , وقال : ويل لك من الناس وويل للناس منك لا تمسك النار إلا قسم اليمين . “Salman masuk menemui Rasulullah SAW. Kebetulan ada Abdullah ibnu Al Zubair yang membawa sebuah baskom dan sedang meminum isinya. Abdullah lalu masuk menemui beliau. “Sudah selesai ?” tanya beliau. “Sudah,” jawab Abdullah. “Apa itu ?, wahai Rasulullah !” tanya Salman. “Saya berikan kepada Abdullah wadah yang berisi bekas darah bekamku untuk dibuang isinya, “ jawab Nabi. “Demi Dzat yang mengutusmu dengan haq, ia telah meminumnya, “ lanjut Salman. Nabi pun bertanya kepada Abdullah, “Apa kamu meminumnya ?” “Benar,” jawab Abdullah. “Mengapa.”“Saya ingin darah Rasulullah ada dalam perutku.”Nabi lalu bangkit berdiri dan mengusap kepala Abdullah dengan tangan beliau dan berkata, “Celakalah manusia karena kamu dan celakalah kamu karena mereka. Neraka tidak akan menyentuhmu kecuali sumpah”Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dari Salman semisal hadits ini dengan singkat dan para perawinya adalah para perawi yang kredibel. ( tsiqaat ). Demikian dalam Al Kanzu VII hlm. 56. Al Daruquthni dalam Sunannya meriwayatkan hadit semisal. Dalam sebuah riwayat : Bahwa Abdullah ibnu Al Zubair ketika meminum darah Rasulullah ditanya oleh Nabi SAW, “Apa yang mendorongmu melakukan hal ini ?” “Saya yakin bahwa darahmu tidak akan terkena api neraka Jahannam maka karena alasan inilah aku meminumnya,” jawab Abdullah. “Celakalah kamu karena manusia,” ujar Nabi SAW. Versi Al Thabarani dari haditsnya Asmaa’ binti Abi Bakr semisal hadits di atas dan di dalamnya berisi sbb : “Api neraka tidak akan menyentuhmu.” Dalam Kitabu Al Jauhari Al Maknuni fi Dzikri Al Qabaaili wa Al Buthuni sbb : “Ketika Abdullah minum darah Nabi SAW maka mulutnya menebarkan bau harum misik dan bau ini tidak pernah hilang dari mulutnya sampai ia disalib.” (Al Mawaahib karya Al Hafidh Al Qasthalani). HADITS DARI SUFAINAH MAULA NABI SAWAl Thabarani meriwayatkan dari Safinah RA, ia berkata :   احتجم النبي صلى الله عليه وسلم ثم قال : حذ هذا الدم فادفنه من الدواب والطير والناس , فتغيبت فشربته , ثم ذكرت ذلك له فضحك . ( قال الهيثمي ج 8 280 : رجال الطبراني ثقات )“Nabi SAW melakukan bekam lalu beliau berkata, “Ambillah darah ini lalu kuburlah agar tidak diminum oleh binatang, burung dan manusia.” Saya kemudian bersembunyi dan meminum darah itu. Selanjutnya hal ini saya sampaikan kepada beliau dan beliau tertawa. Kata Al Haitsami dalam vol. VIII hlm. 280 : “Para perawi hadits riwayat Al Thabarani itu kuat.”HADITS MALIK IBNU SINAN RADalam Sunan Sa’id ibnu Manshur dari jalur ‘Amr ibnu Al Sa’ib bahwasanya sampai kepada ‘Amr bahwa Malik ibnu Sinan ayah dari Abu Sa’id Al Khudlri ketika Rasulullah terluka pada wajah beliau yang mulia dalam perang Uhud maka Malik menghisap luka Nabi sampai luka tersebut bersih dari darah dan tampak daerah yang terluka setelah dihisap berwarna putih. “Muntahkan darah itu ! perintah Nabi kepadanya. “Saya tidak akan memuntahkannya selamanya,” jawabnya lalu ia pun menelan darah yang dihisapnya. من أراد أن ينظر إلى رجل من أهل الجنة فلينظر إلى هذا فاستشهد بأحد“Barangsiapa yang ingin melihat lelaki penghuni surga maka lihatlah kepadanya,” kata Nabi. Akhirnya Malik mati syahid dalam medan perang Uhud. Hadits di atas juga diriwayatkan oleh Al Thabarani yang di dalamnya tercantum : Nabi SAW bersabda : من خالط دمي دمه لا تمسه النار “Siapa yang mencapur darahnya dengan darahku, ia tidak akan terkena api neraka.” Kata Al Haitsami, “Dalam isnad hadits ini saya tidak melihat perawi yang disepakati dla’if. Sa’id ibnu Manshur juga meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda : من سره أن ينظر الاى رجل خالط دمي دمه فالينظر إلى مالك بن سنان“Siapa yang merasa senang melihat lelaki yang mencampur darahku dengan darahnya maka hendaklah melihat Malik ibnu Sinan.”TUKANG BEKAM LAIN YANG MEMINUM DARAH NABI SAWDalam Al Dlu’afaa’ Ibnu Hibban meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Seorang budak milik sebagian suku Qurays membekam Nabi SAW. Setelah selesai dari membekam ia mengambil darah dan pergi membawanya menuju belakang tembok. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri dan ia tidak melihat siapapun. Lalu ia meminum darah Nabi sampai tuntas lalu datang kepada Nabi. Beliau memandang wajah budak itu dan bertanya, “Celaka kamu, apa yang kamu lakukan terhadap darah ?” “Saya sembunyikan di belakang tembok,” jawab budak. “Di mana kamu menyembunyikan darah ?” tanya Nabi lagi. “Wahai Rasulullah !, saya tahan darahmu dari saya tumpahkan ke tanah. Darah itu ada dalam perutku,” jawab sang budak. “Pergilah !, engkau telah melindungi dirimu dari api neraka,” kata Nabi. ( Disebutkan oleh Al Qasthalani dalam Al Mawaahib Al Laadunniyyah ). HADITS BARAKAH PELAYAN UMMU HABIBAH RAAl Hafidh Ibnu Hajar mengatakan : Abdurrazaq meriwayatkan dari Ibnu Juraij, ia berkata, “Saya dikabari bahwa Nabi SAW kencing di dalam gelas terbuat dari kayu lalu gelas itu ditaruh di bawah tempat tidur beliau. Kemudian beliau datang namun ternyata gelas itu sudah kosong. Nabi pun bertanya kepada seorang perempuan bernama Barakah, pelayan Ummu Habibah yang datang bersama Ummu Habibah dari Habasyah. “Di manakah air seni yang ada dalam gelas ?” “Saya minum,” jawab Barakah. “Sehat, wahai Ummu Yusuf,” lanjut Nabi. Ummu Yusuf adalah gelar untuk Barakah. Berkat minum air seni Nabi, Barakah tidak pernah mengalami sakit sama sekali hingga sakit yang membuatnya meninggal dunia.” (Al Talkhish Al Khabir fi Takhriji Ahaditsi Al Rafi’I Al Kabir vol. I hlm. 32).Kataku : “Hadits di atas telah diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Al Nasa’i secara ringkas. Al Hafidh Al Suyuthi berkata, “Hadits ini telah disempurnakan oleh Ibnu ‘Abdil Barr dalam Al Isti’aab dan di dalamnya terdapat sebagai berikut : Sesungguhnya Nabi bertanya kepada Barakah tentang air seni yang berada dalam gelas. “Saya telah meminumnya,” jawab Barakah. Ibnu ‘Abdil Barr lalu menyebutkan kelanjutan hadits. ( Syarhu Al Suyuthi ‘ala Sunan Al Nasaa’i vol. I hlm. 32 ).HADITS UMMU AIMAN RAAl Imam Al Hafidh Al Qasthalani berkata dalam Al Mawaahib : Al Hasan ibnu Sufyan dalam musnadnya, Al Hakim, Al Daruquthni, Al Thabarani, dan Abu Nu’aim meriwayatkan dari haditsnya Abu Malik Al Nakha’i dari Al Aswad ibnu Al Qais dari Nabih Al ‘Anazi dari Ummu Aiman, ia berkata, ““Suatu malam Nabi bangkit berdiri menuju kendi yang ada di samping rumah lalu beliau kencing pada tempat itu. Kemudian pada malam itu saya bangun dan merasa haus. Lalu saya minum dari isi kendi tersebut tanpa menyadari isinya adalah air kencing. Saat pagi tiba beliau berkata, “Wahai Ummu Aiman!, bangunlah dan tumpahkan apa yang ada dalam kendi itu.” Demi Allah saya telah meminum isinya,” jawab Ummu Aiman. “Rasulullah pun tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya lalu berkata, “Sesungguhnya setelah hari ini perut kamu tidak akan merasakan sakit selamanya.”Al Hafidh Ibnu Hajar berkata dalam Al Talkhish, “Ibnu Dihyah menilai shahih bahwa kedua hadits di atas terjadi dalam dua persoalan berbeda untuk dua perempuan yang berbeda pula. Hal ini jelas dilihat dari perbedaan rangkain kalimat dan juga jelas bahwa Barakah Ummu Yusuf bukanlah Barakah Ummu Aiman, mantan budak Rasulullah SAW. ( FAIDAH ) : Dalam riwayat Salma, istri Abu Rafi’ terdapat keterangan bahwa ia minum sebagian air yang digunakan mandi oleh Rasulullah SAW lalu beliau berkata kepadanya, “Allah telah mengharamkan badanmu masuk neraka.” HR Al Turmudzi dalam Al Ausaath dari haditsnya Salmaa. Ada kelemahan dalam sanad hadits ini. Demikian dalam Al Talkhish vol. I hlm. 32.Al Qasthalani berkata, “Terdapatnya kelemahan pada sanad adalah pandangan yang dikemukakan Syaikhul Islam Al Bulqini. Hadits-hadits di atas mengindikasikan bahwa air seni dan darah Nabi SAW itu suci. HADITS SARAH PELAYAN UMMU SALAMAH RAAl Thabarani meriwayatkan dari Hukaimah binti Umaimah dari ibunya, ia berkata :   كان للنبي قدح من عيدان يبول فيه ويضعه تحت سريره , فقام فطلبه فلم يجده , فسأل فقال : أين القدح ؟ قالوا : شربته سرة خادم لأم سلمة التي قدمت معها من أرض الحبشة , فقال النبي : لقد احتظرت من النار بحظار . “Nabi Saw memiliki gelas kayu yang digunakan untuk menampung air seni beliau dan ditaruh di bawah tempat tidur. Saat beliau bangun beliau mencarinya tapi tidak menemukan gelas itu. Lalu beliau bertanya, “Di manakah gelas?” Para sahabat menjawab,”Isi gelas diminum oleh Sarrah pelayan Ummu Salamah yang datang bersama Ummu Salamah dari Habasyah.” “Ia telah memagari dirinya dari api neraka dengan pagar yang kuat,” jawab Nabi selanjutnya. Al Haitsami dalam vol. VIII hlm. 271 berkata, “Para perawi hadits ini sesuai dengan kriteria perawi hadits shahih kecuali Abdullah ibnu Ahmad ibnu Hanbal dan Hukaimah. Keduanya adalah perawi yang kuat ( tsiqah ). PANDANGAN ULAMA MENYANGKUT TOPIK TABARRUK DENGAN DARAH DAN AIR SENI NABI SAWDalam syarh Al Muhadzdzab Al Imam Muhyiddin Al Nawawi mengatakan, “Ulama yang menilai kesucian air seni dan darah Nabi Saw menggunakan dua hadits yang telah dikenal sebagai dalil. Yaitu hadits : Sesungguhnya Abu Thaibah seorang tukang bekam membekam Nabi Saw dan meminum darahnya sedang beliau tidak mengingkari tindakan Abu Thaibah ini dan hadits : Sesungguhnya seorang perempuan meminum air seni beliau dan beliau tidak mengingkarinya. Status hadits Abu Thaibah itu lemah sedang hadits perempuan yang meminum air seni beliau itu shahih yang diriwayatkan oleh Al Daruquthni. Al Daruquthni berkata, “Hadits tentang perempuan yang minum air seni Nabi ini statusnya hasan shahih. Dan hal ini secara analogi cukup dijadikan sebagai argumen akan kesucian segala sesuatu yang dikeluarkan oleh tubuh Nabi. Selanjutnya Al Nawawi menyatakan, “Bahwa Al Qadli Husain berkata, “Yang paling shahih ( Al Ashahh ) memastikan kesucian segala sesuatu yang dikeluarkan oleh tubuh Nabi.” Dalam mengomentari pertanyaan mengapa beliau membersihkan hal-hal yang dikeluarkan oleh tubuh beliau, Al Nawawi menjawab bahwa tindakan Nabi hanyalah sebuah kesunnahan.” Syarh Al Muhadzdzab vol. I hlm. 233.Al Imam Al ‘Allamah Badruddin Al ‘Aini pensyarah Shahih Al Bukhari dalam kitabnya ‘Umdatul Qaari vol II hlm. 35 menyatakan, “Adapun rambut Nabi Saw itu dimuliakan, diagungkan serta dikeluarkan dari hukum najis. Saya katakan, “Ucapan Al Mawardi : “Adapun rambut Nabi maka pendapat madzhab yang shahih itu memastikan kesuciannya”, mengindikasikan bahwa mereka ( Wahhabi ) memiliki pendapat yang berbeda dengan madzhab shahih. Na’udzubillah dari pendapat ini. Sebagian pengikut madzhab Syafi’i telah melanggar ijma’ dan hampir keluar dari lingkaran agama Islam di mana mereka mengatakan bahwa dalam rambut Nabi ada dua pandangan. Mustahil status rambut Nabi diperselisihkan. Mengapa mereka sampai berpandangan demikian ? Padahal telah disebutkan tentang kesucian hal-hal yang dikeluarkan oleh tubuh Nabi, lebih-lebih rambut beliau yang mulia. Selanjutnya Al ‘Aini berkata, “Terdapat banyak hadits yang menerangkan mereka yang telah meminum darah Nabi. Di antaranya Abu Thaibah Al Hajjam ( tukang bekam ), seorang budak Qurays yang membekam beliau. Abdullah ibnu Al Zubair sendiri pernah meminum darah Nabi seperti diriwayatkan Al Bazzar, Al Thabarani, Al Hakim, Al Baihaqi, dan Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyaa’. Diriwayatkan dari Ali bahwa ia pernah meminum darah Nabi. Diriwayatkan pula bahwa Ummu Sulaim pernah meminum air kencing Nabi. Hal ini diriwayatkan oleh Al Hakim, Al Daruquthni, Al Thabarani dan Abu Nu’aim. Dalam Al Awsath pada riwayat Salmaa, istri Abu Rafi’, Al Thabarani meriwayatkan bahwa Salmaa meminum sebagian dari air yang digunakan untuk mandi oleh Nabi Saw lalu beliau berkata kepadanya, “Allah telah mengharamkan badanmu masuk neraka.”Al Hafidh Al Qasthalani dalam Al Mawahib mengomentari pendapat Al Nawawi dari Al Qadli Husain, “Pendapat yang ashahh ( paling shahih ) adalah memastikan kesucian hal-hal yang dikeluarkan oleh badan Nabi ( Al Fadlalat ).” Abu Hanifah juga berpendapat seperti ini sebagaimana dituturkan oleh Al ‘Aini. Syaikhul Islam Ibnu Hajar menyatakan, “Sungguh banyak dalil-dali yang menunjukkan kesucian hal-hal yang dikeluarkan oleh badan Nabi Saw ( Al Fadlalat ).” Para Aimmah menilai kesucian ini termasuk keistimewaan beliau Saw. TABARRUK DENGAN LOKASI YANG DIJADIKAN TEMPAT SHOLAT NABI SAW :Dari Nafi’ bahwa ‘Abdullah ibnu ‘Umar bercerita kepadanya bahwa Nabi Saw melaksanakan sholat di masjid kecil yang terletak di bawah masjid yang ada di bukit Rauhaa’. Abdullah sendiri mengetahui lokasi di mana beliau melaksanakan sholat. Ia berkata, “Di sana dari arah kananmu ketika kemu berdiri untuk sholat. Masjid tersebut berada di tepi jalan sebelah kanan ketika Anda pergi ke Makkah. Jarak antara masjid itu dan masjid besar itu sejauh lemparan batu atau semisal itu.” HR Al Bukhari. TABARRUK DENGAN TEMPAT YANG DISENTUH MULUT NABI SAW : Imam Ahmad dan perawi lain meriwayatkan dari Anas bahwa Nabi Saw masuk menemui Ummu Sulaim dan di rumah terdapat kantong air dari kulit yang tergantung. Lalu beliau minum air dari mulut kantong air tersebut dalam keadaan tidur. Ummu Sulaim kemudian memotong mulut kantong kulit itu yang kini berada di tangan saya. Maksud dari hadits ini adalah bahwa Ummu Sulaim memotong mulut kantong kulit yang merupakan tempat beliau menelan air minum dan mulut kantong itu ia rawat di rumahnya dengan alasan memohon keberkahan dari peninggalan beliau. Hadits ini diriwayatkan oleh Al Thabarani dan di dalam sanadnya ada Al Bara’ ibnu Zaid yang hanya disebutkan oleh Abdul Karim Al Jazari. Ahmad tidak menilai Al Bara’ sebagai perawi lemah. Adapun perawi lain sesuai dengan kriteria perawi hadits shahih. TABARRUK DENGAN MENCIUM TANGAN ORANG YANG MENYENTUH RASULULLAH SAWDari Yahya ibnu Al Harits Al Dzimari, ia berkata, “Saya bertemu dengan Watsilah ibnu Al Asqa’ RA. “Apakah engkau telah membai’at Rasulullah dengan tanganmu ini ?” tanyaku. “Benar,” jawab Yahya. “Julurkan tanganmu, aku akan menciumnya !” aku memohon. Ia kemudian mengulurkan tangannya dan aku mencium tangan tersebut. Al Haitsami berkata dalam vol. VIII hlm 42 : Di dalam hadits ini ada Abdul Malik Al Qari yang tidak saya kenal sedang perawi-perawi lainnya adalah tsiqat. Dalam versi Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyaa’ vol. IX hlm 306 dari Yunus ibnu Maisarah ia berkata, “Kami berkunjung kepada Yazid ibnu Al Aswad. Lalu datang Watsilah ibnu Al Asqa’. Waktu Yazid melihat Watsilah, ia menjulurkan tangannya memegang tangan Watsilah kemudian mengusapkan tangan tersebut ke wajahnya. Hal ini dilakukan karena Watsilah membai’at Rasulullah. “Wahai Yazid !, apa anggapanmu kepada Tuhanmu ?” tanya Watsilah. “Baik,” jawab Yazid. “Berbahagialah, karena saya mendengar Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT berfirman : أنا عند ظن عبدي بي إن خيرا فخير , وإن شرا فشر .“Aku tergantung anggapan hamba-Ku terhadap-Ku. Jika ia beranggapan baik maka Aku pun bersikap baik. Jika buruk maka Aku-pun bersikap buruk.”Dalam Al Adab Al Mufrad hlm. 144 Al Bukhari meriwayatkan dari Abdurrahman ibnu Razin, ia berkata, “Aku berjalan melewati Ribdzah lalu dikatakan kepadaku, “Di sini terdapat Salamah ibnu Al Akwa’ RA. Kemudian aku mendatangi dan memberi salam kepadanya. Lalu Salamah menjulurkan kedua tangannya dan berkata, “Saya telah membai’at Nabi Saw dengan kedua tanganku ini.” Salamah mengeluarkan telapak tangannya yang besar seperti telapak kaki unta. Kemudian kami berdiri dan menciumi tangannya.Ibnu Sa’ad vol. IV hlm 39 meriwayatkan hadits yang sama dari Abdurrahman ibnu Zaid.Al Bukhari juga meriwayatkan dalam Al Adab Al Mufrad hlm 144 dari Ibnu Jad’an, ia berkata, “Tsabit bertanya kepada Anas RA, “Apakah engkau menyentuh Nabi dengan tanganmu ?”. “Betul,” jawab Anas. Lalu Tsabit mencium tangan Anas. Al Bukhari juga meriwayatkan dalam Al Adab Al Mufrad hlm 144 dari Shuhaib, ia berkata, “Saya melihat Ali ra mencium tangan dan kedua kaki Abbas RA.”Dari Tsabit, ia berkata, “Jika aku datang kepada Anas maka ia diberi tahu posisiku. Lalu aku masuk menemuinya dan memegang kedua tangannya untuk aku ciumi. “Kedua tanganmu ini telah menyentuh Rasulullah,” kataku. Dan saya juga mencium kedua matanya lalu berkata,”Kedua mata ini telah melihat Rasulullah.”Hadits di atas ini disebutkan oleh Al Hafidh Ibnu Hajar dalam Al Mathalib Al ‘Aliyah vol. II hlm. 111. Al Haitsami berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Ya’la dan para perawinya sesuai dengan kriteria perawi hadits shahih kecuali Abdullah ibnu Abi Bakar Al Maqdimi yang statusnya tsiqat dan tidak dikomentari oleh Al Bushairi. Demikian dalam Majma’ Al Zawaaid vol. IX hlm. 325. TABARRUK DENGAN JUBAH NABI SAWDari Asma’ binti Abi Bakar bahwa sesungguhnya ia mengeluarkan jubah hijau Persia yang bertambalkan sutera yang kedua celahnya dijahit dengan sutera juga. “Ini adalah jubah Rasulullah, “ kata Asma’,”ia disimpan oleh ‘Aisyah. Saat ia wafat jubah ini aku ambil. Nabi pernah mengenakan jubah ini dan saya membasuhnya untuk orang-orang sakit dalam rangka memohon kesembuhan dengannya.” ( Kitabullibas wazzinah vol. III hlm. 140 ). TABARRUK DENGAN APA YANG DISENTUH TANGAN NABI SAWDari Shofiyah binti Mujza’ah bahwa Abu Mahdzurah memiliki jambul di bagian depan kepalanya. Jika duduk ia membiarkan jambul itu tergerai sampai menyentuh tanah. Orang-orang berkata kepadanya, “Kenapa tidak engkau potong saja ?” “Sesungguhnya Rasulullah Saw telah menyentuh jambulku ini dengan tangannya maka saya tidak akan memotongnya sampai mati,” jawabnya. Hadits ini diriwayatkan oleh Al Thabarani dan di dalam sanadnya ada Ayyub ibnu Tsabit Al Makki. Kata Abu Hatim, “LAYUHMALU HADITSUHU.” Demikaian dala, Majma’ Al Zawaaid vol V hlm. 165.Dari Muhammad ibnu Abdil Malik ibnu Abu Mahdzurah dari ayahnya dari kakeknya, ia berkata, “Aku berkata, ”Wahai Rasulullah !, ajarilah aku cara adzan.” Lalu beliau mengusap bagian depan kepalaku dan mengatakan, “Katakan : “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar dengan mengeraskan suaramu dan seterusnya….”Dalam sebuah riwayat : “Abu Mahdzurah tidak memotong dan memisah-misahkan rambut depannya karena Nabi pernah mengusapnya.” HR Al Baihaqi, Al Daruquthni, Ahmad, serta Ibnu Hibban, dan Al Nasai meriwayatkannya senada dengan hadits ini. TABARRUK DENGAN GELAS NABI DAN MASJID YANG NABI SHOLAT DI DALAMNYADari Abu Burdah, ia berkata, “Saya tiba di Madinah dan disambut oleh Abdullah ibnu Salam. “Mari pergi ke rumah, engkau akan kuberi minum dalam gelas yang pernah digunakan minum Rasulullah dan engkau sholat di masjid yang beliau sholat di dalamnya,” ajak Abdullah ibnu Salam. Akhirnya saya pergi bersama Abdullah dan ia memberi saya minum, memberi makan kurma dan sholat di masjid Nabi. HR Al Bukhari dalam Kitabu Al I’tisham bi Al Kitab wa Al Sunnah. TABARRUK DENGAN TEMPAT TELAPAK KAKI NABI SAWDalam hadits Abu Mijlaz terdapat keterangan bahwa Abu Musa berada antara Makkah dan Madinah lalu ia sholat ‘Isya’ dua rakaat kemudian berdiri melaksanakan satu rakaat sholat witir dengan membaca 100 ayat dari surat Al Nisaa’. “Saya tidak menyia-nyiakan kesempatan dengan menaruh kedua telapak kakiku pada tempat di mana Rasulullah dulu meletakkan kedua telapak kakinya dan saya membaca apa yang dulu dibaca beliau Saw.” HR Al Nasa’i vol. III hlm. 246.TABARRUK DENGAN RUMAH YANG PENUH BERKAHDari Muhammad ibnu Sauqah dari ayahnya, ia berkata, “Saat ‘Amr ibnu Harits membangun rumahnya saya datang kepadanya untuk menyewa sebagian rumah tersebut. “Apa yang akan kamu lakukan,” tanya ‘Amr. “Saya ingin duduk di rumah itu dan melakukan jual beli,” kataku. ‘Amr berkata, “Saya katakan : Sungguh saya akan menyampaikan kepadamu mengenai rumah ini, sebuah hadits bahwa rumah ini adalah rumah yang memberi keberkahan kepada orang yang tinggal di dalamnya, dan orang yang melakukan jual beli di tempat itu. Demikian itu karena saya datang kepada Nabi dan di dekat beliau diletakkan uang. Lalu beliau mengambil beberapa dirham dengan telapak tangannya dan menyerahkannya kepadaku. “Wahai ‘Amr, ambillah beberapa dirham ini sampai kamu berfikir di manakah kamu akan meletakkannya.” Dirham-dirham itu adalah pemberian Rasulullah untukku. Lalu aku pun mengambil dirham-dirham tersebut kemudian saya tingga beberapa lama hingga saya tiba di Kufah dan ingin membeli sebuah rumah. “Wahai anakku !, jika engkau ingin membeli rumah dan dan sudah menyiapkan uangnya, beritahulah aku,” kata ibuku. Saya pun melaksanakan perintah ibu. Kemudian saya datang kepada ibu lalu memangginya. Lalu ibu datang dan uang sudah diletakkan. Ibu mengeluarkan sesuatu beserta dirham-dirham tersebut lalu dengan tangan mencampurkannya dengan dirham. “Bu,” kataku, “apa sih ini.” “Anakku !, ini adalah dirham-dirham yang kamu datang membawanya dan kamu mengira Rasulullah telah memberikannya dengan tangan beliau. Saya tahu bahwa rumah ini memberikan keberkahan bagi orang yang duduk di dalamnya dan bagi yang melakukan jual beli di tempat itu.” HR Al Thabarani dalam Al Kabir dan Abu Ya’la vol. IV hlm 111 Majma’ al Zawaid. TABARRUK DENGAN MIMBAR NABI SAWAl Qadli ‘Iyadl berkata, “Ibnu ‘Umar pernah diketahui meletakkan tangannya di atas bagian mimbar yang diduduki Nabi lalu mengusapkan tangannya pada wajah. Dari Abu Qusai dan Al ‘Utba : Jika masjid sepi, para sahabat Nabi meraba-raba dengan tangan kanan mereka pusat mimbar yang berdekatan dengan kuburan kemudian mereka menghadap kiblat untuk berdoa. Dari Al Syifaa’ karya Al Qadli ‘Iyadl.Al Mala Al Qari pensyarah kitab Al Syifaa’ menyatakan, “Hadits di atas diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dari Abdurrahman ibnu Abdul Qari vol. III hlm. 518.Hal di atas juga diriwayatkan oleh Ibnu Taimiyyah dari Al Imam Ahmad bahwasanya Imam Ahmad memberi dispensasi dalam mengusap mimbar dan pusat mimbar Nabi Saw. Disebutkan bahwa Ibnu ‘Umar, Sa’id ibnu Al Musayyib, Yahya ibnu Sa’id dari kalangan pakar fiqh Madinah melakukan hal ini. ( Iqtidlaai Al Shirath Al Mustaqim hlm. 367 ). TABARRUK DENGAN KUBURAN BELIAU YANG MULIASaat ajalnya menjelang tiba, Amirul Mu’minin ‘Umar ibnu Al Khaththab menyuruh anaknya, Abdullah, “Pergilah kepada Ummul Mu’minin ‘Aisyah Ra dan katakan “ ‘Umar menyampaikan salam untukmu. Janganlah kamu mengatakan : amirul mu’minin karena sekarang saya bukan amirul mu’minin. Katakan ‘Umar ibnu Al Khaththab meminta izin untuk dikubur bersama kedua sahabatnya. di samping makam beliau SAW. Kebetulan ‘Aisyah menyatakan keinginan yang sama. “Dulu saya ingin tempat itu menjadi kuburanku, dan saya akan memprioritaskan Umar untuk menempatinya,” kata ‘Aisyah. Abdullah pun pulang memberi kabar suka cita yang besar kepada ayahnya. “Alhamdulillah, tidak ada sesuatu yang lebih penting melebihi hal itu,” ucap Umar. Kisah ini secara detail bisa dilihat di Shahih Al Bukhari. Lalu apa arti keinginan besar dari ‘Umar dan ‘Aisyah ? Perawi berkata, “Lalu Abdullah meminta izin dan memberi salam. Kemudian ia masuk menemui ‘Aisyah yang sedang menangis. “Umar menyampaikan salam untukmu dan meminta izin untuk dikubur bersama kedua sahabatnya,” kata Abdullah. “Dulu saya ingin tempat itu menjadi kuburanku, dan saya akan mengalah dengan memprioritaskan Umar untuk menempatinya,” kata ‘Aisyah. Ketika tiba, ada yang mengatakan : “Abdullah ibnu ‘Umar telah tiba. “Angkatlah saya,’ kata ‘Umar. Seorang lelaki lalu memberikan sandaran kepada ‘Umar. “Apa hasilnya,” tanya ‘Umar . “Tercapai apa yang engkau harapkan, wahai Amirul Mu’minin,” jawab Abdullah. Abdullah pun pulang memberi kabar suka cita yang besar kepada ayahnya. “Alhamdulillah, tidak ada sesuatu yang lebih penting melebihi hal itu,” ucap Umar. Jika saya telah meninggal, pikullah saya lalu berikan salam dan katakan : “Umar meminta izin. Jika ‘Aisyah memberi izin, masukkan saya. Jika ia menolak, kembalikan saya ke pemakaman kaum muslimin,” lanjut ‘Umar. Hadits ini secara panjang lebar disebutkan Al Bukhari dalam Kitabul Janaa’iz Babu Ma Jaa’a fi Qabrinnabi dan dalam Kitabu Fadlailu Al Shahabat Babu Qishshatul Bai’ah.TABARRUK DENGAN KUBURAN NABI DALAM MADZHAB HAFIDHUL ISLAM DAN IMAMU AIMMATIL MUSLIMIN AL DZAHABIAl Imam Syamsuddin Muhammad ibnu Ahmad Al Dzahabi : Bercerita kepadaku Ahmad ibnu ‘Abdil Mun’im tidak hanya sekali, bercerita kepadaku Abu Ja’far Al Shaidalani – secara tertulis – bercerita kepadaku Abu ‘Ali Al Haddad – dengan kehadirannya – bercerita kepadaku Abu Nu’aim Al Hafidh, bercerita kepadaku Abdullah ibnu Ja’far, bercerita kepadaku Muhammad ibnu ‘Ashim, bercerita kepadaku Abu Usamah dari ‘Ubaidillah dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar : Sesungguhnya Ibnu ‘Umar tidak suka menyentuh kuburan Nabi Saw. Menurut saya : “Ia tidak suka hal ini karena memandang sebagai perbuatan kurang sopan.” Ahmad ibnu Hanbal ditanya mengenai menyentuh dan mencium kuburan Nabi, ia menjawab tidak apa-apa. Diriwayatkan dari Ahmad ibnu Hanbal oleh putranya sendiri, Abdullah ibnu Ahmad. Apabila ditanyakan, “Apakah ada sahabat yang melakukan itu ( menyentuh dan mencium kuburan Nabi ) ?” Pertanyaan ini bisa dijawab bahwa karena mereka telah melihat dengan mata kepala sendiri waktu beliau masih hidup, bergembira bersama beliau dalam waktu lama, mencium tangan beliau, nyaris berkelahi berebut sisa wudlu beliau, dan meminta bagian rambut suci beliau pada hari haji akbar serta jika beliau mengeluarkan dahak maka dahak itu hampir tidak jatuh kecuali di tangan salah seorang sahabat kemudian ia mengusapkan ke wajahnya dahak itu. Sedang kita, karena tidak mungkin melakukan perbuatan sangat indah semisal ini maka kita melampiaskannya di atas kuburan beliau yang mulia dengan memelihara, memuliakan, mengusap dan mencium kuburan beliau. Lihatlah apa yang dilakukan Tsabit Al Bunani ! Ia mencium tangan Anas ibnu Malik dan menempelkan tangan itu ke wajahnya sambil berkata, “Tangan (milik Anas) yang telah menyentuh tangan Rasulullah.” Tindakan-tindakan di atas yang dilakukan seorang muslim semata-mata digerakkan oleh rasa cinta yang mendalam kepada Nabi. Karena ia diperintah untuk mencintai Allah dan rasul-Nya melebihi cintanya kepada dirinya, anak dan semua manusia dan juga melebihi harta bendanya, surga dan bidadari yang ada di dalamnya. Malah banyak juga orang mu’min yang mencintai Abu Bakar dan ‘Umar melebihi cinta mereka kepada diri sendiri. Diceritakan kepada kami bahwa Jundar sedang berada di gunung Al Biqa’ lalu ia mendengar seorang lelaki mengumpat Abu Bakar. Jundar lalu menghunus pedangnya dan memenggal kepala orang yang mengumpat tersebut. Seandainya Jundar mendengar lelaki itu mengumpat dirinya atau orang tuanya niscaya ia tidak akan menghalalkan darah si pengumpat. Lihatlah betapa dalamnya rasa cinta sahabat kepada Nabi Saw. Mereka berkata,” Tidakkah kami bersujud kepadamu ?” “Tidak boleh, ‘ jawab beliau. Seandainya Nabi mengizinkan mereka sujud, niscaya mereka akan melakukannya dalam bentuk sujud penghormatan bukan sujud ibadah sebagaimana sujudnya saudara-saudara Yusuf kepada Yusuf. Demikian pula sujud seorang muslim pada kuburan Nabi dalam bentuk sujud penghormatan sama sekali ia tidak dianggap kafir, hanya masuk kategori melakukan tindakan maksit. Ia harus diberitahu bahwa tindakan ini dilarang. Begitu pula sholat menghadap kuburan beliau. ( Mu’jamu Al Syuyukh karya Al Dzahabi vol. I hlm. 73 – 74 )TABARRUK DENGAN PENINGGALAN-PENINGGALAN ORANG-ORANG SHALIH DAN PARA NABI DAHULUDari Nafi’ bahwa Abdullah ibnu ‘Umar menceritakan kepadaku bahwa para sahabat bersama Rasulullah singgah di Al Hijr, tanah kaum Tsamud. Mereka mengambil air dari sumur-sumur kaum Tsamud dan membuat adonan roti dengan air tersebut. Kemudian Rasulullah menyuruh mereka untuk menumpahkan air yang mereka ambil dan memberikan adonan roti kepada unta serta menyuruh mereka mengambil air dari sumur yang didatangi unta Nabi Shalih. HR Muslim dalam Kitabuzzuhdi bab Al Nahyi ‘an Al Dukhul ‘ala Ahli Al Hijr.Al Imam Al Nawawi berkata, “Hadits ini mengandung banyak faidah di antaranya tabarruk dengan peninggalan-peninggalan orang-orang shalih. TABARRUK DENGAN TABUT ( PETI )Dalam Al Qur’an Allah menyebutkan keutamaan tabut :  وقال لهم نبيهم إن آية ملكه أن يأتيكم التابوت فيه سكينة من ربكم وبقية مما ترك آل موسى وآل هارون تحمله الملائكة .Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka : \"Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat kemenangan dari Tuhanmu dan  sisa dari peninggalan keluarga Musa dan Harun; tabut itu dibawa oleh malaikat.\"( Q.S.Al.Baqarah :248 )Ringkasan cerita : Tabut asalnya berada di tangan bani Israil. Mereka memohon kemenangan dengan perantaraan tabut dan bertawassul kepada Allah dengan isinya yaitu peninggalan-peninggalan Nabi Musa dan Nabi Harun. Hal ini adalah yang saya maksudkan dengan tabarruk dalam arti sesungguhnya. Allah SWT telah menjelaskan isi tabut :وبقية مما ترك آل موسى وآل هارونPeninggalan-peninggalan ini adalah peninggalan Nabi Musa dan Harun. Yaitu tongkat Musa, sedikit pakaian Nabi Musa dan Nabi Harun, sandal keduanya, papan-papan Taurat dan baskom sebagaimana disebutkan para mufassir dan pakar sejarah seperti Ibnu Katsir, Al Qurthubi, Al Suyuthi, dan Al Thabari. Silahkan lihat buku-buku mereka. Ayat di atas menunjukkan banyak kesimpulan. Di antaranya tawassul dengan peninggalan-peninggalan orang-orang shalih, merawat peninggalan-peninggalan tersebut dan memohon keberkahan dengannya. TABARRUK DENGAN MASJID ‘ASYSYAR( WILAYAH DEKAT BASHRAH )Dari Shalih ibnu Dirham, ia berkata, “Kami pergi melaksanakan haji. Kebetulan kami bertemu seorang lelaki yang berkata kepadaku, “Di dekat kalian ada desa yang disebut Ubullah.” “Betul,” jawab kami. “Siapakah di antara kalian yang bisa memberi jaminan kepadaku agar aku bisa disholatkan di masjid ‘Asysyar dua atau empat roka’at ,” lanjutnya. Shalih ibnu Dirham berkata : “Ini untuk Abu Hurairah : Saya mendengar orang yang saya cintai, Abu Al Qasim SAW bersabda : إن الله عز وجل يبعث من مسجد العشار يوم القيامة شهداء لا يقوم مع شهداء بدر غيرهم .( رواه أبو داود )“Sesungguhnya Allah SWT membangkitkan dari masjid ‘Asysyar pada hari kiamat para syuhada’ yang tidak berdiri bersama para syuhada’ Badar kecuali mereka.” HR Abu Dawud. Menurut Al Qari masjid ini berdiri di dekat sungai Furat. ( Misykatul Mashabih vol. III hlm. 1496 ). Dalam kitabnya Badzlul Majhud syarh Sunan Abi Dawud, Al ‘Allamah Al Kabir Al Syaikh Khalil Ahmad Al Saharnapuri mengatakan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa ketaatan-ketaatan fisik pahalanya bisa disampaikan kepada orang lain dan bahwa peninggalan-peninggalan para wali dan orang-orang yang dekat dengan Allah dapat diziarahi dan dimohon keberkahannya. ( Badzlul Majhud vol. XVII hlm. 225 ).Al ‘Allamah Al Muhaddits Al Syaikh Abu Al Thayyib penyusun ‘Aunul Ma’bud mengatakan bahwa masjid ‘Asysyar adalah masjid terkenal yang dimintakan berkah dengan sholat di dalamnya. ( ‘Aunul Ma’bud vol. XI hlm. 422 ). KAMI DALAM KEBERKAHAN RASULULLAH SAWKami sering mendengar orang-orang berkata bahwa kami berada dalam keberkahan Rasulullah atau keberkahan Rasulullah SAW bersama kita. Saat ditanya tentang ungkapan ini, Ibnu Taimiyyah menjawab bahwa ucapan seseorang bahwa ia berada dalam keberkahan fulan atau sejak keberadaannya bersama kami keberkahan muncul adalah ungkapan yang memiliki dua dimensi, bisa salah dan bisa benar dilihat dari sudut masing-masing. Ungkapan ini dianggap benar jika yang dimaksud adalah bahwa fulan membimbing kami, mengajar kami, menyuruh kami berbuat kebajikan dan melarang kami mengerjakan kemungkaran. Maka sebab keberkahan mengikuti dan menaati fulan kita dapat meraih kebaikan. Ungkapan ini berarti ucapan yang benar sebagaimana penduduk Madinah waktu Nabi SAW datang kepada mereka berada dalam keberkahan beliau karena mereka beriman dan taat kepada beliau. Akibat keberkahan ini mereka meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Bahkan bukan cuma mereka saja yang mendapat keberkahan, akan tetapi semua orang mu’min yang beriman dan taat kepada Rasulullah, sebab keberkahan beliau karena beriman dan taat kepada beliau, akan memperoleh kebaikan dunia dan akhirat yang hanya Allah yang mengetahui. Sedangkan jika yang dimaksud dengan ungkapan itu adalah bahwa dengan keberkahan do’a fulan dan kesalihannya Allah menolak keburukan dan kita memperoleh rizki serta pertolongan, maka ungkapan ini adalah ungkapan yang benar sebagaimana sabda Nabi Saw : وهل تنصرون وترزقون إلا بضعفائكم بدعائهم وصلاتهم واخلاصهم“Bukankah kalian tidak diberi pertolongan dan rizki kecuali karena orang-orang lemah kalian; dengan do’a, sholat serta keikhlasan mereka.” Terkadang adzab tidak menerjang orang-orang kafir dan jahat agar ia tidak menimpa orang-orang mu’min yang tidak berhak mendapat adzab, yang tinggal bersama mereka. Salah satu firman Allah yang menjelaskan hal ini adalah :لولا رجال مؤمنون ونساء مؤمنات لم تعلموهم أن تطئوهم فتصيبكم منهم معرة بغير علم ليدخل اللهفى رحمته من يشاء لو تزيلوا لعذبنا الذين كفروا منهم عذابا أليما\"Dan kalau tidaklah karena laki-laki yang mu\`min dan perempuan-perempuan yang mu\`min yang tiada kamu ketahui, bahwa kamu akan membunuh mereka yang menyebabkan kamu ditimpa kesusahan tapa pengetahuanmu ( tentulah Allah tidak akan menahan tanganmu dari membinasakan mereka ). Supaya Allah memasukkan siapa yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya. Sekiranya mereka tidak bercampur baur, tentulah Kami akan mengazab orang-orang kafir di antara mereka dengan azab yang pedih.\" ( Q.S.Al.Fath : 25 ) Jika saja tidak ada orang-orang mu’min yang lemah yang tinggal di Makkah bersama-sama orang-orang kafir niscaya Allah menimpakan adzab kepada orang-orang kafir ini. Demikian pula Nabi bersabda :   لو لا ما في البيوت من النساء و الذراري لأمرت بالصلاة فتقام , ثم انطلق معي برحال معهم حزم من حطب إلى قوم لا يشهدون الصلاة معنا فأحرق عليهم بيوتهم .“Jika tidak ada para wanita dan anak-anak di dalam rumah-rumah niscaya saya akan menyuruh mendirikan sholat lalu sholat itu dikerjakan kemudian saya pergi bersama beberapa lelaki yang membawa beberapa ikat kayu bakar menuju mereka yang tidak melakukan shalat berjamaah bersama kami lalu saya bakar rumah-rumah mereka.”Nabi juga menunda merajam perempuan hamil hingga ia melahirkan bayinya. Al Masih AS mengatakan : وجعلني مباركا أينما كنت\"Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada.\" ( Q.S.Maryam : 31 ) Keberkahan para auliyaillah yang shalih dari segi manfaat yang diberikan mereka dengan ajakan mereka untuk taat kepada Allah, mendoakan makhluk dan diturunkannnya rahmat oleh Allah serta ditolaknya adzab berkat eksistensi mereka adalah fakta konkrit. Barangsiapa yang menghendaki keberkahan dalam konteks demikian dan ia jujur maka ucapannya benar. Adapun pengertian yang salah itu misalnya jika yang mengungkapkannya bermaksud menyekutukan Allah dengan makhluk seperti ada seorang lelaki yang dikubur di sebuah tempat lalu ada anggapan bahwa Allah menyayangi masyarakat sekitarnya gara-gara lelaki yang dikubur tersebut meskipun masyarakat itu tidak mematuhi ajaran Allah dan Rasulnya. Pemahaman semacam ini adalah sebuah kebodohan. Karena Rasulullah sendiri yang nota bene junjungan anak cucu Adam dikebumikan di Madinah pada ‘Aamal Harrah dan penduduk Madinah dihantui tindakan pembunuhan, perampokan dan rasa takut yang hanya Allah yang mengetahui keadaaanya. Situasi ini terjadi karena sepeninggal al khulafaa al rasyidin melakukan hal-hal yang mengakibatkan situasi demikian. Sedang pada era al khulafaa al rasyidin Allah melindungi mereka dari situasi chaos di atas berkat keimanan dan ketakwaan mereka. Karena al khulafaa al rasyidin mendorong mereka untuk bersikap demikian. Jadi karena barokah ketaatan mereka kepada al khulafaa al rasyidin dan juga keberkahan amal perbuatan al khulafaa al rasyidin bersama mereka Allah memberikan pertolongan kepada mereka. Demikian pula Nabi Ibrahim AS dikebumikan di Syam namun kaum Nashrani pernah menguasai negara itu selama sekitar 100 tahun dan penduduk Syam dalam kondisi buruk. Barangsiapa beranggapan bahwa orang mati bisa menolak adzab yang akan menimpa sebuah daerah padahal penduduk daerah itu pelaku maksiat maka ia jelas salah. Demikian pula keliru jika ada orang beranggapan bahwa keberkahan seseorang dapat dirasakan oleh orang yang menyekutukan Allah dan melanggar ketentuan Allah dan rasul-Nya seperti mengira keberkahan sujud untuk kepada orang lain, mencium tanah yang ada di dekatnya dan lain sebagainya bisa membuatnya mendapat keberkahan meskipun ia tidak taat kepada Allah dan rasul-Nya. Begitu pula jika ia meyakini bahwa orang tersebut akan memberinya syafaat dan memasukkannya ke sorga hanya karena ia mencintainya dan berafiliasi dengannya. Hal-hal ini dan yang semisal dengannya dari apa saja yang bertentangan dengan Al Qur’an dan Al Sunnah yang termasuk sebagian dari sikap-sikap orang musyrik dan ahlul bid’ah ( pembuat bid’ah ) adalah salah, tidak boleh diyakini dan dijadikan acuan. AL IMAM AHMAD MEMOHON KEBERKAHAN DAN AL HAFIDH AL DZAHABI MENGUATKANNYAAbdullah ibnu Ahmad mengatakan, “Saya melihat ayah mengambil sehelai rambut dari rambut Nabi Saw lalu meletakkan pada mulutnya seraya menciumi rambut tersebut. Saya rasa saya pernah melihat ayah meletakkan rambut itu pada matanya, mencelupkan rambut tersebut ke dalam air dan meminumnya serta memohon kesembuhan dengannya. Saya juga melihat ayah mengambil mangkuk besar Nabi lalu membasuhnya dalam tong air kemudian meminumnya. Saya lihat ayah juga minum air zamzam guna memohon kesembuhan dengannya dan mengusapkannya pada kedua tangan dan wajahnya. Saya bertanya di manakah orang yang berlagak berkata fasih yang berani mengingkari Imam Ahmad padahal telah terbukti bahwa Abdullah bertanya kepada ayahnya tentang orang yang menyentuh pusat mimbar Nabi Saw dan menyentuh kamar nabi ( al hujrah al nabawiyyah ) ?, lalu ayahnya menjawab, “Saya menilai hal ini tidak apa-apa.”Semoga Allah melindungi kita dan kalian dari pandangan kaum khawarij dan pandangan-pandangan bid’ah. (Siyaru A’lami Al Nubalaa’ vol. XI hlm. 212). RINGKASANKesimpulan dari beberapa atsar dan hadits di muka adalah bahwa memohon berkah dengan Nabi Saw , peninggalan-peninggalan beliau dan dengan segala sesuatu yang dikaitkan dengan beliau adalah sunnah yang luhur dan metode yang terpuji dan disyari’atkan. Cukuplah untuk membuktikan hal ini tindakan yang dilakukan oleh para sahabat pilihan, dukungan beliau terhadap tindakan mereka, perintah beliau dalam sebuah kesempatan dan isyarah beliau untuk melakukannya dalam kesempatan lain. Melalui teks-teks yang telah kami kutip tampak jelas kebohongan orang yang beranggapan bahwa memohon berkah tidak mendapat perhatian dan kepedulian dari seorang sahabat pun kecuali Ibnu ‘Umar dan dalam hal ini tidak ada seorang sahabat pun yang sependapat dengannya. Pandangan ini adalah sebuah kebodohan, kebohongan atau pengelabuan. Karena faktanya banyak sahabat selain Ibnu ‘Umar melakukan permohonan berkah dan menaruh perhatian akan hal ini. Di antara mereka adalah Al Khulafaa Al Rasyidin, Ummu Salamah, Khalid ibnu Al Walid, Watsilah ibnu Al Asqa’, Salamah ibnu Al Akwa’, Anas ibnu Malik, Ummu Sulaim, Usaid ibnu Hudlair, Sawad ibnu Ghaziyyah, Sawad ibnu ‘Amr, Abdullah ibnu Salam, Abu Musa, Abdullah ibnu Al Zubair, Safinah eks budak Nabi, Sarrah pelayan Ummu Sulaim, Malik ibnu Sinan, Asmaa’ binti Abi Bakr, Abu Mahdzurah, Malik ibnu Anas, dan beberapa tokoh besar dari kalangan penduduk Madinah seperti Sa’id ibnu Al Musayyib dan Yahya ibnu Sa’id. 
 
 
Kembali Ke atas | Kembali Ke Index Karya Ilmiah
 
 
 
  Situs © 2014 Oleh Pejuang Islam