URL: www.pejuangislam.com
Email: editor@pejuangislam.com
 
Halaman Depan >>
 
 
Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami
Ustadz H. Luthfi Bashori
 Lihat Biografi
 Profil Pejuang Kaya Ide
 Imam Abad 21
 Info Asshofwah
Karya Tulis Pejuang


 
Ribath Almurtadla
Al-islami
 Pengasuh Ribath
 Amunisi Dari Tumapel
 Aktifitas Pengasuh
 Perjuangan Pengasuh
 Kalender Ribath
Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
 Sekilas Profil
 Program Pendidikan
 Pelayanan Masyarakat
 Struktur Organisasi
 Pengasuh PIQ
 
Navigasi Web
Karya Tulis Santri
MP3 Ceramah
Bingkai Aktifitas
Galeri Sastra
Curhat Pengunjung
Media Global
Link Website
TV GARIS LURUS
Kontak Kami
 
 
 Arsip Teriakan Pejuang
 
AYOO, ZIARAH KUBURAN ... ! 
  Penulis: Pejuang Islam  [3/8/2017]
   
DAJJAL ITU BUTA MATA SEBELAH 
  Penulis: Pejuang Islam  [3/8/2017]
   
UMAT ISLAM AKAN DITIMPA MALAPETAKA 
  Penulis: Pejuang Islam  [26/7/2017]
   
LARANGAN MENIMBUN BARANG 
  Penulis: Pejuang Islam  [24/7/2017]
   
LANGKAH SAFARI DAKWAH SANG GURU TERCINTA, ABUYA DR. SAYYID AHMAD BIN MUHAMMAD ALWI ALMALIKI (MAKKAH) 
  Penulis: Pejuang Islam  [18/7/2017]
   
 
 Book Collection
 (Klik: Karya Tulis Pejuang)
Pengarang: H. Luthfi B dan Sy. Almaliki
Musuh Besar Umat Islam
Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat
Dialog Tokoh-tokoh Islam
Carut Marut Wajah Kota Santri
Tanggapan Ilmiah Liberalisme
Islam vs Syiah
Paham-paham Yang Harus Diluruskan
Doa Bersama, Bahayakah?
 
 WEB STATISTIK
 
Hari ini: Jumat, 18 Agustus 2017
Pukul:  
Online Sekarang: 3 users
Total Hari Ini: 657 users
Total Pengunjung: 3553746 users
 
 
Untitled Document
 PEJUANG ISLAM - KARYA ILMIAH USTADZ LUTHFI BASHORI
 
 
Musuh Besar Umat Islam III 
Penulis: USTADZ LUTHFI BASHORI [ 7/10/2016 ]
 
PENGARUH BUDAYA KAFIR

    Akhir-akhir ini, ummat Islam banyak mengalami tekanan dari musuh-musuhnya. Tekanan tersebut bervariasi, adakalanya secara fisik seperti pembantaian sadis dan biadab, dengan tanpa pilih-pilih, anak-anak kecil dan kaum wanita tak luput dari sasaran, ibu-ibu hamil pun dirobek perutnya untuk dikeluarkan janin mereka dari kandungan. Kejadian semacam ini sering terdengar hampir di setiap priode, seiring berputarnya waktu.

Korban demi korban berjatuhan, ummat Islam mengalami penderitaan yang cukup panjang, sebagaimana yang terjadi di Yugoslavia, Palestina, Kosovo, Chechnya, Kashmir, India, Afghanistan, Ambon, Poso,  dan pelbagai tempat lainnya

Tekanan senada juga dilancarkan lewat infiltrasi (penyusupan) peradaban yang amat halus, rapi, sistematik namun ganas menye-rang moral ummat Islam. Hingga tak jarang ummat Islam terpedaya oleh budaya-budaya kafir, yang jelas-jelas bertentangan dengan nash sharih baik al-Qur`an, Hadits Nabawi maupun warisan Ijtihad para ulama salaf.

Yang lebih memprihatinkan, seringkali tokoh-tokoh Islam yang seharusnya berusaha menepis dan membendung pengaruh budaya kafir yang menimpa ummat Islam, justru terbawa arus dan tenggelam dalam pusaran budaya musuh-musuh Islam.

Disadari maupun tidak, mereka terjebak dalam konspirasi musuh yang justru berusaha untuk menghancurkan ummat Islam. Memang terasa runyam, kebanyakan yang hanyut dalam badai ini, tiada lain mereka yang terperangkap ke dalam kubangan hubbud dunya wa karaahiyatul maut (cinta kehidupan dunia dan takut menghadapi kematian).

Transfer peradaban oleh pihak musuh ini ternyata sangat efektif, ibarat wabah penyakit yang menyerang di kalangan awam, terlebih para pemuda, akibatnya korban pun berjatuhan dimana-mana.

Tidak terhitung jumlah ummat Islam yang semakin jauh dari tuntunan al-Qur`an dan hadits. Bahkan mereka lebih senang berkiblat kepada peradaban musuh-musuh Islam. Belum lagi pengaruh narkotika dan obat-obat terlarang (narkoba) yang kian marak.

Juga pengaruh pornografi dalam film-film import, baik lewat bioskop, VCD, internet, maupun media cetak yang semua itu diikuti oleh aktor dan aktris nasional yang secara formal mayoritas dari mereka mengaku beragama Islam.

Peralatan berteknologi modern memang banyak memberi nilai positif bagi perkembangan ummat Islam, terlebih dalam menghadapi era globalisasi. Namun tanpa kontrol yang ketat dari ummat Islam sendiri, arus derasnya budaya musuh telah siap melumat siapa saja yang tidak waspada..


MUSUH-MUSUH ISLAM  DALAM AL-QURAN

Seluruh makhluk yang ada di muka bumi ini tiada lain adalah ciptaan Allah, dzat Yang Maha Pencip-cipta. Di antara sekian banyak ciptaan yang ada, Allah mengkhususkan kepada dua jenis makhluk yang diberi nafsu dan akal, yaitu bangsa jin dan manusia.

Pemberian keistimewaan ini tiada lain sebagai ujian bagi keduanya, apakah mereka mempergunakan keistimewaan tersebut sesuai dengan nilai fitrah penciptaan atau sebaliknya.

Dalam kaitannya dengan kefitrahan penciptaan jin dan manusia, dengan tegas Allah menggariskan dalam firman-Nya yang artinya: Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanyalah untuk menyembah-Ku. (Qs. az-Dzaariyat, 56).

Sangat keliru jika kedua makhluk ini dengan pongahnya meremehkan dan melupakan unsur ibadah dalam menjalani hidup. Sebagai dzat Pencipta, Allah juga mempunyai rambu-rambu yang khusus diperuntukkan untuk kedua makhluk ini, apabila dilanggar  Allah akan murka, dan tidak seorang pun yang mampu menghindar dari siksaan-Nya.

Rambu-rambu terbesar yang harus dimengerti adalah larangan berbuat syirik (menyekutukan Allah dengan menyembah selain-Nya) dan kafir (mengingkari dan me-nentang-Nya). Apabila jin dan manusia melanggar rambu-rambu tersebut, Allah tidak akan mentolerirnya. Disini pula Allah menampakkan tidak adanya kompromi bagi siapa saja yang berani melanggar-Nya.

Untuk itulah Allah memberi gelar bagi yang mempertahan- kan nilai kefitrahan sesuai yang telah digariskan dengan nama mukmin/muslim. Mereka inilah yang selalu menyembah dan mendahulukan kepentingan Allah daripada selainnya.

Se-dangkan siapa saja yang menyekutukan dan menentang kebijaksanaan-Nya dinamakan musyrik / kafir. Mereka inilah musuh-musuh Allah yang nyata, dan kelak  mendapat siksa yang pedih di neraka selama-lamanya.

Kedua kubu tersebut, muslim versus kafir selamanya tidak akan bertemu pada satu titik. Konflik theologi dasar dalam beraqidah mengharuskan terjadinya perbedaan yang menyolok, dimana satu kubu membela kepentingan Allah I, Sang Pencipta, sedang yang lain menjadi musuh Allah I sebab kesyirikan dan kekafirannya.

Suatu kebohongan yang nyata bagi siapa saja atau kelompok mana saja, yang menyatakan dirinya mampu me-nyatukan dua kubu yang bertentangan tersebut dalam satu wadah persatuan yang hakiki, sebab Allah I sendirilah yang tidak menghendaki terwujudnya hal itu.

Suatu hal yang barangkali dipaksakan sebagaimana telah terjadi akhir-akhir ini, yaitu adanya usaha sebagian tokoh masyarakat untuk menyatukan ummat Islam dengan orang-orang kafir dalam satu organisasi atau partai politik.

Implikasi dari hal yang terlalu dipaksakan, adalah timbulnya ekses yang tidak baik yang akan merusak tatanan yang telah mapan. Ibarat usaha mempertemukan dua kutub utara dan selatan, adalah hal yang mustahil terwujud. Kalau pun itu terjadi, tentu tatanan planet bumi yang sudah mapan dengan segala pesonanya akan menjadi rusak.

Untuk lebih jelas dalam mengenal musuh-musuh Allah I, tentunya diperlukan penelaahan terhadap firman-firman-Nya secara jeli, dan untuk selanjutnya ummat Islam harus jelas dan tegas dalam menyikapi musuh-musuh Allah. Apakah ummat Islam akan berpeluk mesra dengan orang-orang kafir musuh-musuh Allah, atau seharusnya mewaspadai gerak langkah mereka, sekurang-kurangnya ummat Islam diharapkan bisa menjaga jarak. Allah I berfirman dalam al-Quran yang artinya: Sesungguh- nya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagi kalian. (Qs. an-Nisa, 101).

Yang dimaksud dengan orang-orang kafir adalah orang-orang di luar Islam, baik yang tergolong Ahli Kitab seperti Yahudi dan Nasrani, maupun yang bukan, seperti Majusi, Hindu, Budha, Shinto, Khonghucu, Sikh, Taoisme, dan pe-nyembah berhala lainnya yang sering diistilahkan dengan kaum paganis, atau mereka yang tidak mempercayai adanya Tuhan, yaitu kaum komunis atau atheis.

Paling utama untuk diwaspadai adalah pengaruh pemikiran, kebudayan, dan adat istiadat kelompok Ahli Kitab yang secara eksplisit ditegaskan Allah I dalam firman-Nya yang artinya:
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan tinggal diam terhadap kamu (Ya Muhammad) hingga kamu mengikuti agama mereka. (Qs. al-Baqarah,120)

Di samping itu, Allah juga memberitakan tentang kekafiran dan kemusyrikan mereka dalam firman-Nya yang artinya:

Orang-orang Yahudi berkata: Uzair itu putra Allah dan orang-orang Nasrani berkata: Al-Masih itu putra Allah . Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allahlah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling? (Qs. at-Taubah, 30).

Sebagaimana dalam tiga ayat tersebut di atas, seorang  muslim tentunya tidak akan mengingkari kekafiran orang Yahudi dan Nasrani, serta perseteruan mereka dengan ummat Islam. Hanya orang-orang yang mengingkari kebenaran al-Qur`an yang akan selalu berusaha menjalin hubungan diplomatik, perdagangan maupun upaya menjalin hubungan persaudaraan serta persatuan dengan mereka.

Sekalipun hubungan kemanusiaan seperti perdagangan, bertetangga dan lainnya tidak diharamkan oleh Islam, namun ummat Islam tetap harus waspada terhadap pengaruh kebudayaan kafir, sebab tidak sedikit ummat Islam yang kini lebih condong meniru budaya kafir ketimbang memper-tahankan budaya Islam ajaran Rasulullah r.

Kalaupun ada sekelompok orang yang mengatakan mayoritas orang kafir dewasa ini tergolong kafir dzimmi (yang wajib dilindungi) maka kriteria dzimmi yang disepa-kati para ulama belum terpenuhi, diantaranya harus mem-bayar pajak kepada pemerintah Islam dan berhukum pidana dengan standar hukum Islam.

Atau barangkali ummat Islam Indonesia inilah yang justru saat ini patut dijuluki sebagai Muslim Dzimmi kehidupan mereka selalu dililit oleh pajak kepada pemerintah yang tidak menerapkan syari`at Islam. `

MEWASPADAI STRATEGI MUSUH

 UMMat Islam banyak mendapat berbagai macam tantangan, perlawanan, dan pengaruh yang serius dari musuh-musuh Islam. Hal itu dilakukan secara terang-terangan dalam bentuk penindasan-penindasan sebagaimana dilakukan oleh kaum Yahudi di Palestina dan negara-negara lainnya, termasuk juga perlakuan destruktif orang-orang barat terhadap negara-negara Islam khususnya Timur Tengah.

Perlakuan serupa juga dilakukan dengan samar-samar namun pasti, yaitu dengan merusak kebudayaan ummat Islam, sehingga ummat Islam cenderung berorientasi kepada kebudayaan orang-orang kafir daripada merujuk sunnah-sunnah Nabawiyah.

Bahkan semua itu telah diamalkan ummat Islam dalam pergaulan, cara berpakaian, maupun mengkonsumsi makanan-makanan yang dibuat oleh orang-orang kafir sehingga tidak jelas halal haramnya. Musuh Islam, terutama Yahudi dan Nasrani tidak akan berdiam diri  jika ummat Islam di muka bumi ini, masih eksis mengamalkan ajaran-ajaran yang murni, yang diambil dari intisari al Quran dan Hadits Nabawi.

Musuh-musuh Islam sangat jeli melihat kelemahan ummat Islam. Mereka juga sangat faham atas pilar-pilar agama yang harus dijunjung tinggi oleh ummat. Apabila ummat Islam telah meninggalkannya pasti akan mengalami kehancuran, sehingga Islam hanyalah akan menjadi sebatas nama, persis ungkapan:

Maa baqiyal Islaamu illaa ismuhu,
wamaa baqiyal Qur`anu illaa rasmuhu
(Tiada tinggal di dalam Islam kecuali namanya,
dan tiada tinggal di dalam al-Qur`an kecuali tulisannya)
Di antara sendi-sendi Islam yang dijadikan sasaran utama mereka untuk dipisahkan dari ummat Islam adalah kandungan wasiat Rasulullah r:

 Aku tinggalkan pada kalian dua perkara, apabila kalian berpegang teguh pada keduanya, niscaya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya, setelah aku tiada yaitu: Kitabullah (al-Quran) dan sunnahku (al-Hadits). (H.R. Malik dalam kitab Muwattha).

Bermula dari peristiwa perang salib yang berakhir pada abad ke 13, orang Nasrani menyadari bahwa ummat Islam tidak dapat ditundukkan dengan perang fisik semata. Maka mereka merubah strategi dengan gerakan non fisik, yaitu mengarah pada penghancuran ide-ide Islam.

Salah satu cara yang mereka tempuh adalah dengan membatasi gerak dakwah Islam hingga  keberadaannya menjadi kabur dan meragukan.

Bersamaan dengan itu bergerak pula orang-orang Yahudi, Atheis, Paganis dan orang-orang munafik yang sejak semula memusuhi Islam, dengan membuat satu langkah bersama untuk menghancurkan Islam. Mereka bersepakat dalam satu strategi yang terkenal dengan istilah Ghazwul Fikri (perang pemikiran).


Ghazwul Fikri

Ghazwul fikri yang dimaksudkan disini, adalah aksi perang non fisik yang dilakukan musuh-musuh Islam, dengan tujuan memurtadkan umat Islam dari agamanya. Seorang pemimpin partai liberal Inggris yang bernama Glad Stone mengingatkan teman-temannya dalam suatu pertemuan dengan kata-katanya yang berbisa:

Selama kitab ini (seraya mengangkat al-Qur`an dengan tangannya ke atas) masih ada di muka bumi (dipelajari dan diterapkan), maka jangan berharap kalian mampu menundukkan ummat Islam.

Karena itu banyak sekali cara mereka dalam usaha menjauhkan ummat Islam dari al-Qur`an yang semestinya untuk landasan kehidupan sehari-hari. Di antaranya mereka berusaha keras untuk memasarkan kepada ummat Islam apa yang popular disebut  4 .S. (Sing, Sex, Sport, Smoke), dan 4. F. (Fun, Fashion, Food, Faith ). Tujuannya jelas, agar ummat Islam melupakan kitab pegangan utamanya (al-Qur`an), serta tuntunan Nabi Muhammad r lewat hadits-hadits Nabawiyah.

Ghazwul fikri yang mereka lancarkan ternyata sangat efektif untuk mematikan aqidah dan pemikiran serta perjuangan ummat Islam secara perlahan. Hal ini dapat kita jumpai dalam rumah tangga ummat Islam bahkan sampai pada tingkat negara sekalipun. Adapun isi dari ghazwul fikri itu adalah:

A.    Empat Es (4-S)
SING     :    Musik dengan  berbagai jenis dan instru-mennya.
SEX    : Gambar-gambar pornografi dan film-film yang ditayangkan di televisi yang sarat de-ngan unsur pornografi.

SPORT    :     Kegilaan terhadap olahraga yang tampak-nya secara lahiriah membawa kebaikan bahkan mengangkat nama bangsa jika berprestasi, namun yang sering dilupakan oleh ummat Islam adalah bentuk pakaian yang digunakan di berbagai cabang olah raga yang tidak mencerminkan kultur Islam, yaitu tidak menutup aurat, baik putra atau-pun putri. Juga even-even olahraga yang digelar tanpa memperhatikan waktu shalat, di antaranya sepak bola yang biasanya diiringi oleh arak-arakan suporter.

SMOKE    :    Rokok, sudah umum dikonsumsi oleh gene-rasi tua maupun muda, di kalangan awam, intelektual, maupun kaum santri. Jumhur ulama berpendapat bahwa hukum rokok adalah makruh (sesuatu yang dibenci oleh Allah dan rasul-Nya), khususnya makruh yang dapat merusak kesehatan, bahkan menurut sebagian ulama hukum merokok adalah haram, atau paling tidak adalah makruh tahrim (makruh yang mendekati keharaman). Kecanduan rokok secara umum di kalangan ummat Islam, tentunya membawa dampak negatif bagi ketegaran ibadah dan jiwa perjuangan ummat, di dalam melaksanakan amar ma`ruf nahi mungkar secara utuh, serta menghalangi turunnya rahmat Allah kepada mereka.

B.    Empat Ef (4-F)
FUN    :    Lawakan, tontonan-tontonan yang lucu yang mengajak pemirsanya bergelak tawa seringkali kita jumpai di televisi, panggung-panggung hiburan dll. Yang patut disesalkan adalah kegiatan dakwah atau ceramah agama yang terkadang porsi lawakannya justru lebih banyak dari fatwa atau isi dakwah itu sendiri. Mengajak hadirin tertawa, tidak dilarang selagi pada batas-batas wajar sesuai dengan akhlak Islami. Adapun menyajikan lawakan yang menyebabkan tertawa terpingkal-pingkal, jelas dilarang oleh agama, apalagi dengan menirukan gaya badut dan yang semisalnya.

FASHION    :    Generasi muda merupakan konsumen utama dari perkembangan model pakaian yang biasanya banyak berkiblat pada trend mode barat. Sehingga mereka sering menjadi korban mode yang jauh dari tuntunan Islam. Khususnya kaum wanita yang kurang bisa menjaga auratnya.

FOOD    :    Berbagai macam dan merk makanan siap saji dengan mudah didapat dan harganya pun relatif terjangkau. Sisi lain dari makanan jadi ini adalah proses pembuatannya yang terkadang tidak jelas halal haramnya (walaupun berlabel halal) Rasullah Shallalahu alaihi wa Sallam bersabda yang  artinya: Yang halal itu jelas dan  yang haram itu jelas, di antara keduanya ada perkara yang syubhat (meragukan) yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang, barang siapa yang terjerumus dalam perkara yang syubhat (tidak jelas halal haramnya ) sungguh ia telah terjerumus dalam keharaman.

FAITH    :    Kepercayaan, yang dimaksud adalah berbagai faham yang dikembangkan  oleh orang-orang kafir, seperti Liberalisme, Zionisme, Sekularisme, Kapitalisme, Nasionalisme, Demokrasi ala barat, Westernisasi, Kristenisasi, Emansipasi, Karirisasi, pemberlakuan HAM melebihi ketentuan hukum syara sesuai yang termaktub dalam al- Qur`an dan hadits.

Sebagai contoh kongkrit yang perlu direnungkan secara jujur oleh ummat Islam akan keberhasilan musuh-musuh Islam adalah permisalan sebagai berikut: Jika ada seorang muslim yang tengah santai di kamar, lantas disodori dua kaset beserta tape recorder-nya, satu kaset tartil al-Qur`an dan yang satu lagi kaset musik yang sesuai dengan seleranya. Kira-kira, kaset manakah yang kemungkinan besar di putar berulang-ulang?



Target Ghazwul Fikri

Secara umum, target dari perang pemikiran (ghazwul Fikri) ini, dapat disebutkan antara lain:

1.    Memurtadkan ummat Islam secara massal.

2.    Menjadikan ummat Islam tidak faham terhadap ajaran agamanya secara benar dan mendalam.

3.    Menciptakan tokoh-tokoh muslim untuk dijadikan agen-agen dan antek-antek mereka dengan dalih kerjasama atau demokrasi.

4.    Merintangi gerak dakwah Islam berikut aktifitasnya.

5.    Menjauhkan ummat Islam dari memiliki semangat jihad dan melemahkan ummat Islam dari amar ma`ruf nahi munkar selain hanya dijadikan slogan-slogan semata.

6.    Menciptakan perpecahan dan permusuhan serta menjadikan ummat Islam terkotak-kotak, agar kekuatan mereka menjadi musnah.

7.    Menjadikan ummat Islam lemah dalam beribadah kepada Allah I.
Adapun strategi penghancuran ide-ide Islam antara lain:

A.    Gerakan modernisasi yang membawa masyarakat mau tidak mau harus mengubah gaya hidup, yang pada akhirnya  meninggalkan al-akhlaqul karimah,  padahal Rasulullah bersabda yang artinya: Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia.

B.    Gerakan yang berupaya mempersatukan agama-agama sedunia dalam satu wadah, yang mana mereka memberikan pemahaman bahwa semua agama pada dasarnya adalah sama karena mengajak kepada kebaikan. Pemikiran semacam ini sangat popular  dengan istilah Singkretisme atau dalam bahasa santrinya wihdatul adyan. Secara mendasar pemahaman ini telah mengaburkan kebenaran agama Islam.

Gerakan ini pula yang kini menjadi program Jaringan Islam Liberal (JIL) yang marak dipasarkan oleh tokoh-tokoh Islam moderat yang bekerja sama dengan musuh-musuh ummat Islam.

Walaupun tampaknya gerakan ini menguntungkan perdamaian dunia, namun dirasakan cukup efektif untuk memurtadkan ummat Islam secara besar-besaran. Paling tidak, akan terlena dengan dalih toleransi, perdamaian, kerukunan, demokrasi atau mungkin dengan dalih ukhuwah basyariah dan ukhuwah wathaniyah yang lebih mereka utamakan dari pada ukhuwah Islamiyah. Sehingga semangat jihad akan semakin menipis di dalam dada umat Islam, bahkan tidak berani menyuarakan bahwa orang-orang kafir (non muslim) itu adalah musuh-musuh Allah yang sekaligus musuh-musuh ummat Islam.

Kini tak jarang ummat Islam ikut menghadiri dan me-meriahkan acara-acara keagamaan orang Nasrani dan Yahudi serta agama-agama lain di luar Islam. Akhir-akhir ini pembauran antar ummat beragama telah dicetuskan dalam bentuk kerja sama ritual keagamaan, misalnya mengadakan doa bersama antara muslim dan non muslim, yang dipimpin oleh setiap tokoh agama yang berlainan, dan subhanallah, diamini oleh para hadirin yang berlainan agama pula. Strategi semacam ini diterapkan oleh orang-orang kafir untuk menampakkan kesungguhan untuk hidup rukun.

Mereka juga menghadiri acara-acara yang digelar oleh ummat Islam, seperti muktamar-muktamar Islam yang semesti-nya menjadi urusan intern ummat Islam. Rencana besar di balik itu semua, adalah ummat Islam bersedia pula menghadiri acara-acara keagamaan mereka. Dengan demikian ummat Islam menjadi murtad tanpa mereka sadari.
Allah telah memperingatkan dalam firman-Nya yang artinya:

Katakanlah (Muhammad): Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak akan pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah pula menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Bagimu agamamu dan bagiku agamaku  (Qs. Al Kafirun)

Gerakan pemurtadan ummat Islam dewasa ini dilakukan dengan gencar bahkan di hampir setiap kesempatan, selalu mereka tawarkan dan sodorkan dengan berbagai macam cara yang tidak disadari oleh ummat Islam.

Langkah yang demikian ini dilakukan oleh musuh-musuh Islam karena mereka memahami sabda Nabi Muhammad r(yang artinya): Barang-siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dalam golongan mereka.

Satu contoh mudah adalah budaya terompet tahun baru dan yang serangkai dengan acara tahun baru. Jelas ini adalah salah satu dari rentetan perayaan Natal yang sering diikuti dan diramaikan oleh generasi muda Islam. Inilah salah satu bukti ketidak-berdayaan ummat Islam dalam membendung pengaruh musuh-musuh Islam. Padahal kaum muslimin mem-punyai tahun baru sendiri, yaitu 1 Muharram Tahun Hijriyah.
 
As-Syeikh Muhammad al-Hijaz al- Halabi dalam kitabnya Shaut al-Mimbar hal. 272 cetakan kedua, Dar Misra Litthiba`ah mengatakan: Di antara penyebab kemurtadan, adalah berjalan menuju Gereja dengan para aktifis Gereja, dan  bersama-sama merayakan perayaan-perayaan mereka yang dilaksanakan di dalam Gereja, serta acara-acara kufur lainnya yang dilakukan (aktivis Gereja) dan ia duduk bersama mereka.

Beberapa tokoh Yahudi dan Nasrani kerapkali menganjur-kan kepada ummat Islam, agar mereka dan khususnya para ulamanya bersedia hadir bahkan berkhotbah di tempat peribadatan Yahudi dan Nasrani. Tentunya anjuran ini mempunyai misi tersembunyi demi terlaksananya program mereka. Yang kini menjadi permasalahan adalah fenomena di atas sudah menggejala di kalangan ummat Islam `  


Peradapan Aurat

Seorang kawan alumni Al Azhar Mesir, A. Syamsu Madyan, Lc mengirimkan tulisannya kepada penulis. Melihat pentingnya tulisan tersebut, maka penulis pun merasa perlu untuk memuatnya di dalam buku kecil ini. Berikut ini naskah tentang pornografi yang menjadi salah satu setrategi musuh untuk menghancurkan Umat Islam.

Judul di atas adalah refleksi saya tentang fenomena Indonesia kita saat ini sebagai seorang anak bangsa yang mungkin juga diresahkan beberapa orang.

Ketika zaman maju, tekhnologi sudah mencapai taraf yang demikian  kompetitif, seharusnya apa yang ditampilkan adalah bentuk kedewasaan. Namun bangsa menunjukkan peradapan dengan tingkat kedewasan yang sebaliknya. Saya kira budaya buka-bukaan, pornografi dan sebagainya itu adalah satu bentuk kemunduran itu sendiri.

Heran, ketika manusia pada abad ini mengaku telah maju dengan menemukan kecanggihan ilmu dan technologi di segala bidang, namun mereka tidak menyadari bahwa kepribadian mereka sedang menuju kemunduran. Sebagai contoh, cara berbusana mereka yang serba minim, pada dasarnya, sedang menuju ke mode-mode busana gaya purba.

Tertarik saya ketika berada di Mesir, kawan saya melihat gadis yang sedang berjalan layaknya gadis kota. Tiba-tiba kawan saya itu menggodanya dengan bersiul. Apa yang terjadi?

Gadis itu melapor ke polisi setempat dengan mengadukan bentuk pelecehan yang mungkin di negara kita itu hanyalah hal sepele dan biasa.

Pihak-pihak kepolisian bergerak menangani pelanggaran etis sekecil-kecilnya ini. Tidak perlu menunggu khutbah-khutbah yang berbulan-bulan di gembar-gemborkan di masjid, kemudian rakyat banyak menjadi resah dan berdemo. Cukup satu atau dua orang yang mengadu, polisipun sigap.

Polisi di mesir tidak hanya menjaga ketertiban dalam lingkup kriminalitas saja, namun mereka juga menangani masalah-masalah etis dan moral. Mereka disebut syurthah adab atau polisi moral.

Entahlah di Indonesia. Maraknya tabloid dan majalah - majalah yang menampilkan pornografi dan vulgar bak kecambah yang bersemi murah dan sangat mudah didapat. Namun pihak-pihak yang seharusnya punya wewenang malah hanya menunggu reaksi massa.     Saya kira bukan kesalahan masyarakat jika terlanjur emosi, ketika pihak-pihak berwajibnya juga masih lamban dalam bergerak, menunggu reaksi dan baru beraksi. Apapun alasannya, di manapun tempatnya, pornografi sama tidak mendidik, justru merugikan generasi bangsa.

Belum jauh kita memikirkan bangsa ini secara spesifik, bangsa sudah terpuruk. Generasinya dilenakan dengan kesenangan-kesenangan sesaat itu. Kapan membaiknya?
Heran sekali lagi, bangsa Indonesia terkadang perlu dikasihani, karena sudah lama sakit. Di sisi lain, bangsa ini juga menjengkelkan ,karena cuek dengan bertumpuknya praktek-praktek kemaksiatan.  

Empat sampai lima tahun kiranya belum cukup peringatan-peringatan keterpurukan bangsa, hingga harus menunggu kemurkaan alam yang mulai enggan bersahabat dengan penduduknya.

Kiranya yang baru saja kita saksikan, berbagai bencana memberi kita penjelasan bahwa alam Indonesia ingin segera dimakmurkan dengan perilaku-perilaku yang positif. Bukan malah dilupakan dan generasinya terlena dengan kebudayaan-kebudayaan amoral.

Berapa lama lagi derita Indonesia akan berakhir jika bangsa ini tidak segera sadar dan kembali pada sisi manusiawinya. Tidak lagi ingin menjadi hewan yang bebas berkeliaran dan berpose tanpa busana.

Jika demikian adanya, peradapan aurat adalah label yang tepat untuk negeri ini. Indonesia tidak lagi pantas disebut sebagai Negara Pancasila yang berbasis Ketuhanan dan Moral. Tidak pantas lagi Indonesia dianggap sebagai bagian tanah melayu yang kesohor dengan kesopanannya.

Biarlah bangsa-bangsa lain yang tidak mengerti aurat, membuka aurat-auratnya dan bangga dengan hal itu. Namun sebagai bangsa yang juga punya kepribadian, jangan sampai Indonesia larut dan kehilangan jati dirinya sendiri.


SINKRETISME MEMBAHAYAKAN
AQIDAH ISLAM

    SInkrEtisme adalah faham yang gerakan-nya be- rupa upaya mempersatukan agama-agama yang ada di dunia. Ensiklopedia Britannica menyebutkan bahwa religious syncretism  is the fusion of diverse religious beliefs and practices (faham sinkritisme adalah penyatuan beberapa ajaran agama yang berbeda). Upaya yang dilakukan peng-anut sinkritisme adalah selalu mencari titik temu dari perbedaan-perbedaan ajaran yang ada pada setiap agama. Baik per-bedaan yang menyangkut prinsip dasar beraqidah maupun yang bersifat furu` (khilafiyah amaliyah) atau perbedaan cara pengamalan suatu ajaran dalam bermadzhab.

Gerakan ini memberikan pemahaman bahwa pada dasarnya semua agama adalah sama. Semua agama mengajak kepada kebaikan dan melarang kejahatan, berupaya mengajak ummat seluruh dunia bersatu dalam setiap langkah, mengusahakan pendekatan satu sama lain dan lebih menjunjung tinggi  ikatan kemanusiaan daripada kebersamaan ummat seagama.

Mereka bergerak di hampir semua sektor kehidupan, baik politik, ekonomi, kebudayaan maupun agama. Tujuan mereka adalah menjadikan dunia sebagai suatu wadah besar dengan keyakinan yang sama yaitu :kemanusiaan.

Cara pendekatan yang dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung, disadari atau tidak disadari, adalah dengan menanamkan keragu-raguan kepada setiap penganut agama terhadap ajaran agama yang mereka anut.

Mereka mengajak penganut agama tersebut untuk meng-kosongkan pikiran sebelum menerima faham baru yang dihasilkan dari penyatuan ajaran agama-agama sesuai de-ngan pemahaman mereka. Yaitu menukil beberapa ajaran dari tiap-tiap agama yang berbeda yang dianggap baik dan bisa mem-persatukan ummat beragama seluruh dunia dalam satu wadah.

Gerakan yang berlandaskan sinkritisme ini sudah sejak lama berkembang. Ruang lingkupnya terkadang hanya terbatas pada pemersatuan agama-agama samawiyah, tetapi ada juga yang secara menyeluruh, termasuk upaya mempersatukan sekte-sekte yang berkembang dalam setiap agama.

Sebagai contoh adalah pendapat dua orang tokoh, yaitu Ibnu Sab`in dan Ibnu Hud at Talmasani yang mengatakan bahwa orang yang paling mulia adalah yang mengajak semua ummat beragama bersatu secara menyeluruh dalam satu wa-dah. Dan apabila sudah terjalin persatuan di antara ummat beragama, maka seseorang bebas mengamalkan ajaran Islam, Nasrani, maupun Yahudi dalam waktu yang bersamaan. (Dikutip dari al Raddu ala al Manthiqiyyin karangan Ibnu Taimiyah 282 cet. II/1396 H).

Dewasa ini, sinkritisme di Indonesia mulai dimarakkan oleh tokoh-tokoh Jaringan Islam Leberal (JIL) serta mereka yang selalu mengatasnamakan dirinya sebagai kelompok Islam moderat. Sehingga sering dijumpai ada ormas Islam yang besar maupun yang baru berkembang, yang mengadakan acara-acara keislaman dengan melibatkan non muslim untuk andil di dalamnya. Biasanya mereka mengatasnamakan kemanusiaan atau kebangsaan maupun yang semisalnya.

Tentu saja gerakan ini mendapat respons positif dari orang-orang kafir, terlebih sebagai warga minoritas mereka merasa diuntungkan. Ironisnya, ummat Islam terlena dan lupa serta kurang mawas diri dan tidak mau belajar dari kenyataan dan beberapa peristiwa yang berkembang di dunia, bahwa ummat Islam sering mengalami penindasan dan tindakan diskriminatif tatkala mereka hidup sebagai warga minoritas di suatu negara yang mayoritas penduduknya beragama Nasrani, Yahudi, Hindu dan lain sebagainya.

Pada akhir abad ke 18, Jamaluddin al-Afghani ikut me-marakkan gerakan penyatuan agama-agama samawiyah. Dalam bukunya, al-A`mal al Kamilah hal 69 ia mengatakan:
Sesungguhnya tiga agama yaitu Yahudi, Nasrani dan Islam mempunyai dasar dan tujuan yang sama. Apabila salah satu di antara ketiganya punya kekurangan di dalam penerapan ajaran kebaikan, maka dapat disempurnakan oleh yang lainnya. Karena itu saya berharap agar penganut tiga agama tersebut bersatu padu .

Dalam kaitan itu seorang pendeta Inggris bernama Ishaq Taylor menyambut baik ide tersebut. Bahkan ia berusaha untuk mengadakan pendekatan antar agama guna menemukan satu ajaran yang bisa mempersatukan ummat Islam dan Nasrani.
Mereka berkeyakinan bahwa pada hakikatnya tiga agama samawiyah yang ada di dunia ini, tersimpul pada huruf (M) yang merupakan akronim dari Masuniyah (istilah lain dari Sinkritisme). Mereka menyebut Yahudi dengan Musawiyah, Nasrani dengan Masihiyah dan Islam dengan Muhammadiyah, yang semuanya diawali dengan huruf (M) dan terhimpun da-lam simpul huruf (M), yaitu Masuniyah tadi.

Di Mesir, pada tahun 1919 M terjadi upaya penyatuan Islam dan Nasrani di bawah pimpinan Sa`ad Zaghlul, hingga terjadi pula pembauran lambang persatuan, seperti yang dinyatakan oleh Muhammad Rasyid Ridla dalam kitabnya al Islam wa al Hadlarah al Arabiyah hal. 81 .
Para modernis muslim yang tertipu dan ikut sibuk memarak-kan gerakan sinkritisme ini, dapat disebutkan antara lain:

    Dr. Abdul Azis Kamil, dia mengatakan: Kami di Timur Tengah mengimani ke-Esaan Allah, baik lewat satu agama maupun lewat agama lain. Saya katakan dengan tegas bahwa Islam, Nasrani dan Yahudi adalah sama. Bahkan dalam pengertian trinitas Nasrani berakhir pada ke-Esaan Tuhan. Inilah yang dinamakan wilayah tauhid (ke-Esaan Tuhan). Hanya saja gambaran dan penafsiran secara filsafat yang berbeda (al-Islam wa al Ashr karangan Abdul Azis Kamil).

    Dr. Rifa`ah Thahthawi berpendapat bahwa tidak ada istilah kafir dan mukmin pada manusia. Yang ada hanyalah manusia modern dan primitif (Ghazwun min ad Dakhil hal 64 karangan Dr. Muhammad Imarah).

    Dr. Hasan Hanafi dengan terang-terangan menyatakan bahwa hakikat agama itu tidak ada. Yang ada hanyalah peninggalan kaum tertentu yang lahir dari zaman tertentu, sehingga memungkinkan untuk berkembang di masa-masa tertentu / berikutnya (at Taurats wa at Tajdid hal. 22 karangan Hasan Hanafi).

    Dr. Muhammad Imarah, yang mempunyai pandangan bahwa gerakan ini adalah untuk menyatukan agama Ilahi (agama samawi) `  

SINKRETISME  GAYA BARU DI INDONESIA

Do`a Bersama Muslim  Non Muslim

    PADa hari senin tanggal 17 Agustus 1998, bertepatan dengan HUT RI ke- 53, Jawa pos memuat satuberita dengan judul Surabaya Sepi, Umat antar Agama Doa Bersama.
Setelah memberitakan situasi kota metropolis yang tampak lengang, pada bagian akhir diberitakan sebagai berikut :

Sementara itu sekitar seribu ummat berbagai agama, tadi malam, di Gelora Pantjasila melakukan do`a bersama yang diprakarsai Forum Kemanusiaan dan Persaudaraan sejati (FKPS) Surabaya itu dimaksudkan untuk keselamatan bangsa dan negara.
Hadir antara lain KH. Hasyim Muzadi (Islam) Pendeta Wismo (Kristen), Romo Kurdo (Katolik), Parisada Hindu Dhar-ma Indonesia (Hindu), dan Bingky Irawan (Khong Hu Cu ). Doa dipimpin Romo Kurdo (Khatolik), sedangkan pernyataan sikap FKPS dibacakan ketua PMII Nahrowi. (din/ari/aho).

Do`a, bagi ummat Islam adalah sesuatu yang sangat penting di dalam menapaki kehidupan sehari-hari. Sebab Ra-sulullah r telah bersabda yang artinya: Do`a itu adalah otak/ sentral ibadah. Sedang dalam setiap saat semua orang dituntut untuk beribadah atau mengabdi kepada Allah I. Sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur`an surat Ad- Dzariyat ayat 56 yang artinya: Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanyalah untuk menyembah kepada-Ku.

Do`a yang dikabulkan mempunyai beberapa kriteria/ syarat, di antaranya adalah:

1.    Dipanjatkan oleh seorang muslim yang mukmin.
2.    Dengan niat yang baik.
3.    Hatinya hadir dihadapan Allah I.
4.    Minta petunjuk kepada Allah I.
5.    Penuh khusyu` dan khudlu`
6.    Menjaga makanan yang baik halal.
7.    Menjaga minuman yang bersih dan halal.
8.    Memakai pakaian yang bersih dan halal.
9.    Berdo`a di tempat yang baik dan terhormat.
10.    Berdo`a di waktu yang maqbul, seperti waktu  sujud, menjelang Subuh, hari Jum``at, dan lainnya.
11.    Menghadap kiblat dan mengangkat tangan.
12.    Membaca do`a-do`a yang ada di dalam Al Qur`an dan Hadits.
13.    Menyakini bahwa do`anya diterima dan pasti dikabulkan.
14.    Didahului dengan bertaubat kepada Allah I dan mengembalikan tindakan aniaya kepada yang berhak.
15.    Ditutup dengan shalawat kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad r.

Allah I berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 186 yang artinya: Apabila hamba-hambaku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, (katakanlah) sesungguhnya Aku dekat (dengan mereka). Aku mengabulkan permohonan orang yang mendo`a apabila ia berdo`a kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah ia beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

Adapun arti (memenuhi segala perintah-Ku) dan (beriman kepada-Ku) di antaranya adalah perintah masuk Islam secara kaffah (sempurna), beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, Muhammad r. Ringkasnya harus memenuhi terlebih dahulu rukun Islam dan rukun Iman. Dari sini dapat dimengerti bahwa salah satu kriteria doa yang bisa diterima oleh Allah r adalah yang dipanjatkan oleh ummat Islam.

Seiring dengan perkembangan zaman, tentunya kita banyak menemui fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat, khususnya masyarakat Indonesia yang majemuk ini. Di antara fenomena yang saat ini mulai berkembang, adalah meng-adakan do`a bersama dari berbagai kalangan, baik muslim maupun non muslim, di tempat dan waktu yang sama, dipim-pin bergantian antar pemuka masyarakat yang berlainan aga-ma, diamini oleh seluruh hadirin yang berlainan agama pula.

Walaupun kegiatan ini tampaknya bermanfaat bagi kepentingan persatuan dan kesatuan bangsa, juga kesenjangan antar ummat beragama menjadi berkurang, atau barangkali tujuan mengadakan do`a bersama dengan harapan agar segala macam krisis dan bencana alam yang kini tengah menimpa bangsa Indonesia segera teratasi, namun yang jelas kegiatan ini bertentangan dengan hukum agama Islam yang berlaku, sebab berdo`a adalah satu amalan ibadah, atau bentuk penyembahan kepada Allah I.

Islam tidak membenarkan pencampuradukan dalam urusan ibadah antara pemeluknya dengan orang-orang kafir yaitu orang-orang di luar Islam, sebagaimana Allah I telah ber-firman dalam surat Al-Kafirun yang artinya: Bagimu agamamu dan bagiku agamaku.
Sebab turunnya ayat tersebut di atas karena orang-orang kafir saat itu, mengajak Rasulullah r untuk bersama-sama menyembah Allah di satu waktu, dan menyembah Tuhan-tuhan mereka di waktu yang lain secara bergantian. Dari sini jelaslah bagi kita kegiatan do`a bersama yang demikian itu bertentangan dengan ajaran Islam.

Lebih jelas lagi Allah I telah memperingatkan ummat Islam dalam Firman-Nya surat An-Nisa` ayat 137-140 yang artinya:

Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksa yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.

Dan Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam al-Qur`an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olok (oleh orang-orang kafir, termasuk penolakan masuk Islam dan pemujaan kepada Tuhan-tuhan mereka lewat do`a-do`a yang mereka lantunkan) maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain (urusan duniawi) karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka (dalam kesyirikan). Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam neraka Jahannam.

Apabila dicermati barang sejenak, fenomena do`a bersama antar ummat beragama, akan menghasilkan konklusi sebagai berikut: Pada saat penganut Islam yang memimpin do`a tentunya akan mengagungkan Asma Allah, dengan memanggil  Wahai Allah, dan seluruh peserta pun ikut mengamini. Pada saat penganut Budha yang memimpin do`a, tentunya memanggil Wahai Sang Budha, demikian seterusnya yang terjadi pada setiap pimpinan agama, mereka memanggil Tuhannya masing-masing dan semua peserta akan mengamini.

Walaupun misalnya setiap pimpinan agama tersebut hanya menggunakan kata panggil Wahai Tuhan, maka akan tetap mengandung arti panggilan kepada Tuhannya masing-masing, demikian memang kenyataan yang ada, dan di sinilah letak terjadinya kesyirikan.
Untuk itulah, apabila harus diadakan do`a bersama secara kenegaraan misalnya, maka hendaklah diadakan secara terpisah, ummat Islam berkumpul dan mengadakan do`a bersama di antara mereka. Untuk non muslim, mereka mengadakan do`a bersama dengan ummatnya masing-masing. Dengan demikian, ummat Islam bisa terhindar dari perbuatan syirik yang bisa menyebabkan kemurtadan dan kekafiran.

Barang kali ada cara yang lebih baik dan efektif, khususnya bagi ummat Islam yang tidak meragukan kebenaran ajaran agamanya, yaitu seluruh ummat Islam Indonesia mengadakan do`a bersama secara serentak, dan sebelum melaksanakan do`a tersebut diperintahkan untuk bertaubat kepada Allah, serta mengembalikan tindakan aniaya kepada yang berhak.

Ummat Islam harus yakin apabila memohon kepada Allah dengan sungguh-sungguh, tanpa disertai kepentingan yang lain, terlebih kepentingan sesaat, niscaya Allah akan mengabulkan do`a mereka. Apalagi ummat Islam Indonesia adalah mayoritas, apabila mengadakan do`a bersama yang tidak disertai dengan kesyirikan, dan memohon kepada Allah I agar bangsa ini lepas dari segala krisis dan bencana, pastilah Allah akan segera memulihkan keadaan seperti sediakala, bahkan tidak menutup kemungkinan akan dijadikan kearah kondisi yang jauh yang lebih baik.

Kaidah Fiqhiyah telah menerangkan,apabila sesuatu  kegiatan yang halal dan yang haram bercampur jadi satu, maka yang dimenangkan adalah hukum haram.

Apabila ada suatu sebab yang mengharuskan ummat Islam berkumpul dengan non muslim dalam satu kegiatan, bolehlah dilaksanakan selagi tidak ada sangkut pautnya dengan urusan agama, misalnya kegiatan pembenahan fasilitas umum, kerja bakti kampung atau kegiatan sosial lainnya yang sifatnya umum, itupun apabila diperlukan.

Namun hendaknya ummat Islam selalu percaya diri dan selalu meyakini bahwa tidak ada segolongan ummat pun di seluruh dunia ini sejak zaman Nabi Adam hingga kelak datang hari kiamat yang lebih mulia dari ummat Nabi Muhammad SAW. Demikian juga do`a yang dipanjatkan oleh sekelompok ummat Islam, murni tanpa adanya percampuran dari pihak orang kafir, suatu saat pasti akan dikabulkan oleh Allah.

Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 110 (yang artinya): Kamu adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk ummat manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.

Komentar Tentang
Fenomena Do`a Bersama

Di dalam mencermati perilaku sekelompok orang, khususnya yang tergabung dalam Jaringan Islam liberal (JIL). Ummat Islam membutuhkan ekstra kejelian, sebab penyimpangan yang dilakukan JIL pada hakekatnya telah terperogram rapi. Bahkan perilaku Do`a Bersama Non Muslim  ini adalah salah satu bentuk kegiatan yang dipromosikan kepada ummat Islam dengan mengekspos keterlibatan tokoh-tokoh agama. Mereka berharap agar ummat Islam juga berbondong-bondong mengikuti perilaku JIL tanpa merasa berdosa dengan dalih mengikuti tokoh panutannya. Diantara komentar yang menentang derasnya arus ajakan sesat JIL, di dalam memasarkan prilaku Do`a bersama, sebagai berikut.

~    Ahmad Mirzaq Miftahul Huda (Mahasiswa Universitas Al Azhar Cairo-Mesir jurusan Ushuluddin, asal Surabaya):

Islam, sebagaimana yang telah dikatakan oleh Gibb, seorang orientalis Inggris, adalah suatu demokrasi rohani yang mutlak. Di samping beberapa sarana komunikasi atau kontak yang terjalin antara manusia dengan sang Pencipta, antara manusia dengan sesamanya, yang keduanya kita kenal dengan sebutan hablum minallah wahablum minannaasi (hubungan vertikal manusia dengan Allah dan hubungan horizontal antar sesama manusia) juga antara manusia dengan alam sekitarnya.

Hal ini membuka peluang selebar-lebarnya bagi penganut Islam untuk berfikir dan berijtihad, guna memilih jalan yang paling layak dan baik baginya.

Kecanggihan teknologi dan pemikiran manusia semakin lama semakin maju. berbagai sarana yang membantu manusia untuk bisa hidup nyaman dan enjoy telah dirakit sedemikian rupa. Satu abad yang lalu, barangkali orang masih sulit membayangkan bagaimana cara mengetahui berita dibelahan dunia dalam sekejap dengan berleha-leha di dalam kamar. Kecanggihan pemikiran manusia ini tentunya akan membawa dampak, baik yang positif seperti yang di atas, maupun yang berdampak negatif.

Sebagai contoh, karena orang sangat percaya terhadap kemampuannya, sehingga dalam urusan agama pun seakan-akan harus bisa beradaptasi dengan pemikiran mereka.
Islam sebagai qanun (undang-undang) yang mutlak harus diterapkan oleh penganutnya, telah memberi batasan-batasan yang tidak menerima tawar-menawar di dalam penerapan hukumnya. Islam adalah agama yang telah final dalam kesempurnaannya, sejak turun ayat yang artinya ,Hari ini telah Aku sempurnakan bagimu (Muhammad) agamamu.

Islam bertindak tegas dalam menentukan sanksi terhadap pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan penganutnya, atau bid`ah-bid`ah dlalalah (sesat) yang dihidupkan yang dapat menyesatkan dan menggoncangkan keimanan kaum muslimin, yaitu dengan ancaman neraka bagi pelakunya, sebab bid`ah dlalalah adalah sesuatu yang tidak pernah dilakukan di zaman Rasulullah r dan bertentangan dengan ajaran Islam.

Sebagai contoh, sekarang  ini sedang marak di kalangan para penganut agama di Indonesia pada khususnya. Dengan dalih kemanusiaan, kerukunan, toleransi dan yang semisalnya, diadakannlah acara doa bersama muslim dan non muslim, di satu tempat dan waktu yang sama. Apa upaya kita sebagai seorang muslim: Diam, ikut serta, ataukah amar ma`ruf nahi munkar? Yang terakhir inilah yang harus dapat kita realisasikan, karena Rasulullah r selalu menjalankan amar ma`ruf nahi munkar.

Suatu saat Rasulullah r diajak orang-orang kafir untuk menyembah berhala bersama mereka, dengan tawaran di lain waktu akan menyembah Allah bersama ummat Islam. Rasulullah r menolak ajakan mereka, bahkan Allah menurunkan ayat Al Kafirun, yang artinya Bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Semestinya demikianlah yang harus kita lakukan sebagai aplikasi dari ketaatan kita kepada Rasulullah r

Dari sisi yang lain do`a merupakan Mukhlul ibadah (inti ibadah). Sedangkan ibadah adalah suatu komunikasi langsung antara hamba dengan Tuhan secara khusus, bagaimana mungkin hubungan seorang hamba dengan Allah dicampur adukkan dengan kebathilan, yaitu dengan memohon kepada selain-Nya, bukankah itu termasuk syirik? Wal iyadu dillahi.
Jika memang benar dikategorikan demikian, ini bukan ma-salah remeh, sebab termasuk dosa yang tidak bisa diampuni oleh Allah I, sebagaimana dalam firman-Nya yang artinya, Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik ) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Selain itu, orang kafir adalah orang-orang yang merugi dan tersesat dalam pandang-an Allah.

Sesungguhnya Allah telah me-nyetempel bahwa do`a mereka tidak bakal diterima oleh Allah, dengan firman-Nya yang artinya, Dan do`a (ibadah) orang-orang kafir  itu, hanyalah sia-sia belaka.

Apakah pencampur adukan do`a kita dengan kesia-siaan do`a mereka sebagai tujuan kita, tentunya tidak kan?. Sebagai seorang hamba yang baik sudah tentu hanya petunjuk-Nyalah satu-satunya yang kita harapkan.

Pemrakarsa dan pelaku do`a bersama muslim-non muslim terkesan sebagai sikap arogansi sekaligus pelecehan terhadap agama Islam, mereka melakukannya tanpa ada rasa takut bertentangan dengan hukum Allah dan Rasul-Nya.

Sikap sebagian ummat Islam yang demikian itu, tidak terbatas pada pengadaan acara do`a bersama, bahkan masih banyak lagi yang semacamnya, seperti penafsiran-penafsiran terhadap ayat-ayat Al-Qur`an yang disesuaikan dengan kebutuhan pribadi, golongan, atau karena tendensi duniawi semata, seakan-akan kita tidak merasa yang demikian itu bertenta-ngan dengan ajaran Islam.

Contoh paling ringan, di dalam Al Qur`an kita diperintah untuk menjalin ukhuwah antara sesama muslim, tentunya juga perintah saling menghormati, dan tidak saling menggugat kalau hanya berbeda pendapat sebatas masalah furu`iyah, politik, atau strategi berda`wah. Kecuali jika sudah berbeda masalah usuluddin, atau ketauhidan dan kemurnian aqidah.

Perintah ukhuwah ini tentunya berlaku bagi semua ummat Islam baik yang satu wadah dalam berorganisasi dengan kita maupun lain organisasi. Namun kenyataan yang ada kita belum bisa menjalin ukhuwah Islamiyah yang baik dengan sesama muslim yang bernaung di lain organisasi dengan kita, apalagi bekerjasama demi kepentingan Islam.

Sangat riskan kiranya kalau diungkapkan satu hal lagi, namun sebagai bahan analisa dan renungan ummat Islam adalah baik untuk diutarakan. Akhir-akhir ini kerjasama sebagian ummat Islam dengan orang-orang kafir non muslim sangatlah erat terjalin, bahkan di antara tokoh-tokoh Islam ada yang ikut berperan aktif dalam membela kepentingan agama lain, sebut saja Kristen atau Khonghucu yang di negara kita adalah minoritas.

Walaupun tokoh-tokoh Islam tersebut memperjuangkan kepentingan kelompok minoritas ini dalam urusan kenegaraan, namun pantaskah seorang muslim mem-perjuangkan kepentingan musuh-musuh Allah dikarenakan kekafiran mereka kepada-Nya?
Yang selalu menjadi pertanyaan sebagian orang awam selama ini, apakah para tokoh Islam yang selalu membela kepentingan orang-orang kafir, tidak memikirkan efek negatf yang dalam ketauhidan ummat secara makro, lebih-lebih ketauhidan pribadi sendiri?
Sebagai penganut Islam yang baik, tentunya tidak ingin hidup kita menjadi sia-sia baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Kita meyakini bahwa sesuatu kematian, akan mendapati hidup yang lebih kekal, lantas mengapa kita tidak lebih konsentrasi mempersiapkan kelayakan hidup di sana, dari pada membuang waktu untuk kepentingan musuh-musuh Allah, (Apakah kalian tidak berfikir?)

Sekularisme Paham Sesat Dikembangkan jil dalam Upaya Membangun Indonesia Baru
Di samping berupaya mendangkalkan agama yang selalu dilancarkan dalam da`wah kelompok JIL, seperti memasarkan pemahaman bahwa pada hakekatnya semua agama adalah sama, atau semua agama adalah benar, sebab tujuannya satu yaitu Tuhan, dan pemahaman sesat lainnya, kelompok ini juga giat memasarkan sekularisme di kalangan ummat Islam.

Muhammad al-Bahi, seorang pemikir mesir, sebagaimana dimuat MDF Al-Mu`tashim, edisi 10, Th III April 1999 M, memberikan gambaran tentang sekularisme dengan membaginya menjadi dua. Yaitu, sekularisme radikal dan moderat.

Disebut Sekularisme Radikal, karena menganggap agama sebagai penghalang kemajuan pembangunan yang harus dimusuhi dan dimusnahkan. Al-Bahi mengatakan pula bahwa komunisme dapat dikategorikan sebagai kelompok sekularisme radikal. Sedangkan Sekularisme Moderat, menganggap bahwa urusan agama adalah urusan pribadi yang tidak ada sangkut pautnya dengan urusan negara. Karena itulah tokoh-tokoh JIL sangat rajin menolak formalisasi Syari`at Islam ke dalam undang-undang negara.

Karena bernegara adalah cermin kehidupan bermasyarakat, maka penganut paham ini berupaya memasarkan pemahaman bahwa agama tidak mampu memberikan kontribusi sedikit pun terhadap kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Untuk menguatkan pendapatnya, tak jarang mereka mengatakan jangan membawa nama agama dalam berpolitik atau Agama itu adalah urusan pribadi, bukan urusan pemerintah, mereka juga berargumentasi bahwa Nabi Muhammad r tidak pernah mendirikan pemerintahan Islam.

Semua yang dikatakan itu, pada hakekatnya bertolak-belakang dengan sejarah maupun kaidah-kaidah Islam. Yang jelas, faham ini telah mendiskreditkan Islam, dengan satu pemahaman, bahwa Islam tidak mampu menjawab tantangan zaman, atau tidak relevan diterapkan di segala zaman. Pada-hal, Islam sebagai agama universal sangatlah luas cakupannya. Islam mampu memecahkan problematika ummat, baik dalam urusan individu maupun bermasyarakat, juga mampu memberikan kontribusi yang berarti terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sebagai satu ilustrasi bahwa syari`at Islam telah mengatur kehidupan pribadi pemeluknya, adalah adanya kaidah-kaidah yang mengajarkan bagaimana cara hidup yang baik sejak bagun tidur di waktu fajar hingga menjelang tidur di waktu malam hari. Bahkan cara tidur yang baik pun diatur oleh Islam.

Shalat sunnat fajar yang didahului dengan berwudlu, tentunya mempunyai makna yang besar dalam usaha mem-bina seseorang menjadi muslim yang baik. Belum lagi waktu makan pagi yang harus bersih dari makanan yang najis dan haram, serta dimulai dengan bacaan bismillah adalah tuntutan prilaku yang mengajarkan kedisiplinan. Demikianlah dustur (undang-undang, syari`at) Islam dalam mengatur kehidupan pribadi seorang muslim yang taat demi kebaikan semata.

Adapun dustur Islam yang mengatur kehidupan ber-masyarakat, telah jelas bagi mereka yang mengkaji Islam secara mendalam. Tidak dapat dipungkiri lagi, Islam telah mengatur cara bertetangga yang baik, cara menghormati tamu, cara jual beli yang tidak saling merugikan, cara bagaimana orangtua menyayangi anak-anak, serta tingkah laku anak muda dalam menghormati orang yang lebih tua dan sebagainya.

Demikian juga dalam mengatur kehidupan bernegara, maka sejarah tidak bisa mengingkari bahwa Rasulullah r maupun para sahabat yang menggantikan kedu-dukan beliau, telah melaksanakan pemberlakuan hukum Islam di tengah kehidupan bermasyarakat yang majemuk, sejak hijriah beliau ke kota Madinah.

Di saat Rasulullah r memegang tampuk kepemimpinan ummat, segala kebijaksanaan terfokus kepada pribadi beliau. Dengan dituntun wahyu Ilahi dan kemampuan dasar yang beliau miliki, serta mu`jizat yang diberikan oleh Allah I.

Beliau membangun suatu masyarakat Negara yang modern dan mampu menghapuskan kebathilan. Mulai dari penyimpangan tauhid hingga perkara-perkara yang berkaitan dengan pelanggaran susila, serta dera bagi pemabuk dan lain-lain. Beliau r menerapkan hukum Islam dengan sangat adil, tanpa membeda-bedakan, baik terhadap Islam maupun non muslim (selagi mentaati dustur Islam). Keadaan inilah yang sering distilahkan sebagai masyarakat Madani.

Tentunya peraturan yang demikian bagus dan rapi itu tidaklah bisa dilaksanakan oleh sembarang orang. Namun yang berhak menjalankannya adalah pihak pemerintah, sesuai dengan aturan yang ditentukan oleh Islam.

Rasulullah r adalah pemimpin tertinggi Negara pada saat itu, untuk itulah segala kebijaksanaan yang bersifat kenegaraan terfokus kepada pribadi beliau. Meskipun demikian beliau masih mengirim gubernur-gubernur di beberapa daerah, dengan bertanggung jawab terhadap kemaslahatan daerah binaannya.

Bahkan beberapa kewenangan telah dimandatkan oleh beliau kepada para gubernur. Di antaranya ialah diperkenankannya mengambil keputusan secara ijtihad, jika mereka tidak atau belum menemukan aturan dalam Al Qur`an dan hadits, sebagaimana yang terjadi pada sahabat Mu`adz bin Jabal.

Pada saat ia berangkat menuju kota Yaman untuk melaksanakan tugas kenegaraan, Rasulullah r bertanya:
Bagaimana caranya engkau memutuskan perkara yang dikemukakan kepadamu ?
Kuhukumi dengan kitab Allah I, jawab Mu`adz.
Bagaimana jika tidak engkau temui dalam kitab Allah?, sambung Rasulullah r.
Dengan sunnah Rasulullah r ujarnya. Jika tidak engkau temukan dalam sunnah Rasulullah lantas bagaimana? tanya Rasulullah lebih lanjut.
Aku akan menggunakan ijtihad akal pikiranku, dan aku tidak akan meninggalkannya jawabnya dengan tegas.
Rasulullah r lalu menepuk dadanya seraya memuji Al-hamdulillah, Allah telah memberi taufiq kepada utusan Rasulullah sesuai dengan apa yang diridhai oleh Allah  Subhanahu wa Ta`ala dan Rasul-Nya (HR. Ahmad, Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

 Dari keterangan di atas, menjadi jelas bahwa Islam telah mengatur kehidupan pribadi, masyarakat, dan Negara. Sedangkan sekularisme dengan sengaja menolak risalah Nabi Muhammad r, atau paling tidak, gerakan ini telah mengingkari kesempurnaan Islam sebagai satu-satunya agama yang diridhai Allah.

Berbicara tentang sekularisme tentunya tidak bisa melupakan tragedi yang menimpa ummat Islam di Negara Turki, pada saat dipimpin oleh Musthafa Kamal At-Taturk, seorang penganut paham sekular.

Meski sebelumnya, Islam dalam naungan Turki Utsmany pernah mengalami kejayaan yang cukup disegani oleh musuh-musuh Islam, khususnya dari Barat, namun sejak Sultan terakhir diturunkan dari singgasananya oleh Musthafa Kamal At -Taturk, yang terjadi pada tanggal 12 Maret 1924, lantas berdiri Republik Rakyat Turki, maka kehancuran ummat Islam pun tidak dapat dihindari.

Musthafa Kamal At-Taturk, walaupun mengaku dirinya seorang muslim, ternyata dalam menjalankan roda pemerintah-an lebih senang menerapkan peradaban barat daripada budaya dan hukum Islam.

Dengan demikian kehancuran Islam di Turki bukanlah di tangan-tangan musuh Islam, melainkan oleh kedzaliman seorang muslim nasionalis sekular.Tangan besi Musthafa Kamal, memaksa rakyatnya untuk hidup ala Barat.

Dia berkeyakinan bahwa agama harus dipisahkan dari kegiatan politik dan pemerintahan. Islam harus ditinggalkan, karena dianggap sebagai sesuatu yang out of date (usang) karena sulit dipertemukan dengan peradaban Barat.

Meskipun Musthafa Kamal mengaku seorang muslim, namun ke-Islamannya sangatlah buruk. Bahkan yang lebih menonjol pada dirinya adalah nasionalismenya sebagai warga Turki. Untuk itulah ia berusaha mengubah Al-Qur`an ke dalam bahasa Turki.

Termasuk juga adzan, rukun-rukun khutbah Jum`at, do`a-do`a, salam, dan banyak hal yang seharusnya berbahasa Arab sebagai pengantar bahasa Islam dalam beribadah, diganti dengan bahasa Turki.

Salah satu peraturan Musthafa Kamal, adalah larangan pembentukan partai politik berasas Islam. Bahkan terjadi pula larangan berbusana muslim seperti berjubah, berkopiah, me-makai sorban dan semisalnya, kemudian mewajibkan celana dan topi sebagai pengganti busana muslim.

Bagi yang melanggarnya, termasuk wanita muslimah yang berjilbab, dianggap sebagai pelanggaran kriminal. Pelajaran keagamaan di sekolah dihapuskan. Tempa-tempat majelis ta`lim dicurigai dan diintimidasi.

Kekejaman pemerintah sekular yang menjadi-jadi itu sangat menyakitkan ummat Islam Turki hingga kini. Banyak dari suku Kurdi yang bermazhab Ahlussunnah wal jama`ah dikejar-kejar dan dibantai, dengan alasan tidak loyal pada pemerintah Turki.

Tentunya penderitaan panjang yang menimpa kaum muslimin di Turki menimbulkan keprihatinan bagi ummat Islam di seluruh dunia. Seperti halnya penderitaan yang pernah dialami oleh ummat Islam di Afghanistan saat dipimpin oleh Najibullah, seorang sekular yang mendapat sokongan dari Uni Soviet dalam memberlakukan kebijaksanaan pemerintah sekular. Nasib ummat Islam Afghanistan saat itu tidak ubahnya seperti saudara mereka yang berada di Turki.

NU adalah salah satu ormas Islam yang salah satu tujuan berdirinya adalah untuk ikut menyebarluaskan risalah Nabi Muhammad SAW lewat sendi-dendi kemasyarakatan yang variatif. Terlebih lagi NU menjadi organisasi yang menjadi wadah bagi kumpulan warga Ahlussunnah wal Jama`ah, hendaklah selalu meningkatkan dan menyiarkan serta menerapkan keislaman ditengah warganya dan masyarakat pada umumnya.

Memang itulah tujuan dari para pendiri NU yang sesungguhnya, dengan diniati secara ikhlas beribadah kepada Allah SWT, serta mengharap keridlaan-Nya. Sebab tanpa tujuan yang dilandasi keikhlasan beribadah kepada Allah SWT, serta ketulusan untuk menyiarkan agama islam, maka apalah arti sebuah perjuangan di mata Sang Rabbull Izzati, Allah SWT.


NU dan Sekularisme

Tentunya umat Islam sangat faham terhadap fenomena yang akhir-akhir ini berkembang, bahwa sebagian tokoh-tokoh NU dengan penuh  kesadaran telah memisahkan agama dari kehidupan bermasyarakat dan bernegara, walaupun dalam tingkatan moderat. Artinya, ada upaya-upaya menggiring ummat menuju satu pemahaman bahwa beragama hanyalah urusan pribadi semata.

Di antara dampak yang kini terasa adalah timbulnya rasa kebangsaan yang lebih tinggi di kalangan warga NU, melebihi kewajiban dalam meningkatkan ghirah keislaman. Ukhuwah islamiyah yang semestinya selalu dinomor satukan, justru ditinggalkan. Sedangkan ukhuwah wathaniyyah maupun basyariyah yang semestinya berada diurutan kedua dan ketiga, justru dijadikan sebagai acuan utama dalam bermasyarakat.

Sekularisme ternyata sedikit demi sedikit telah merasuki jiwa sebagian warga NU. Tak jarang mereka lebih merespon perjuangan hak asasi manusia secara makro, termasuk kalangan non muslim atau penyetaraan gender yang jauh dari tuntunan dan ajaran Nabi Muhammad SWA,  dari pada memperjuangkan penerapan syariat Islam, yang menjadi hak Allah.

Tokoh-tokoh NU kini mulai meninggalkan tradisi tawaddhu (budaya rendah diri) di depan warganya di saat memperebutkan jabatan, baik dalam tubuh organisasi NU sendiri, maupun jabatan dalam pemerintahan. Banyak di kalangan mereka yang telah mengabaikan nilai-nilai moral kesopanan dan hukum fiqih di dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat. Bahkan yang patut disayangkan dari dampak semua itu, ternyata banyak pula warga NU yang keabsahan shalatnya-pun masih perlu dipertanyakan, karena ketidakmengertian terhadap hukum fiqih, bahkan ada pula yang secara sengaja meninggalkan kewajiban shalat lima waktu.

Dalam percaturan politik akhir-akhir ini, upaya kelompok sekuler semakin menemukan kemapanan dan sangat mengejutkan. Partai-partai sekuler sangat diminati oleh waga NU, baik disadari maupun tidak. Padahal kelompok sekuler telah menyiapkan skenario pencaplokan terhadap hak-hak umat Islam dalam menjalankan kebebasan kehidupan beragama sesuai hukum Islam di segala aspek. Mulai hukum Islam yang mengatur kehidupan pribadi, rumah tangga, cara hidup bermasyarakat, bahkan cara hidup berpemerintah atau bernegara.

Sebagai contoh konkrit, para ulama NU di masa lampau akan selalu mengedepankan pendapat jumhur (mayoritas) ulama di dalam memutuskan suatu hukum, namun kelompok sekuler sedikit demi sedikit menggiring warga NU untuk meninggalkan tradisi para sesepuhnya.

Qaul mu`tamad (pendapat terkuat) dalam empat madzhab yang selama ini diyakini kebenarannya oleh warga NU, mengharamkan wanita menjadi kepala negara (presiden). Keyakinan untuk berpegang teguh terhadap qaul mu`tamad, mulai tergeser oleh derasnya sekularisasi dalam tubuh NU, termasuk pada tingkat elit NU sekalipun. Karena itu sebagian warga NU mulai membolehkan wanita menjadi presiden. Maka dasar hukum sebagai rujukan warga NU bukan lagi bersumber kepada Al Qur`an, Al Hadits maupun pendapat ulama salaf yang tertera di dalam fiqih empat madzhab, tetapi lebih disandarkan kepada wawasan kebangsaan, fanatisme, materialisme, kursiisme, dengan mengedepankan pendapat fiqih syadz (lemah/tertolak) demi lancarnya program sekularisasi terhadap warga NU.

Apabila umat Islam, khususnya warga NU mulai menyadari akan bahaya sekularisme, maka wajib bagi mereka untuk memerangi pengaruh faham ini  dalam menjalani roda kehidupan pribadi, berorganisasi maupun bernegara. Sebab jika terlambat dalam mengantisipasi gencarnya sekularisme dalam tubuh NU, maupun di kalangan  umat Islam pada umumnya, maka umat Islam pulalah yang menjadi korban di masa mendatang.
Untuk itu hendaklah setiap warga NU yang konsisten, berusaha mengembalikan misi organisasi, sesuai dengan tujuan para sesepuh saat merintis berdirinya NU, yaitu merujuk Qanun Asasi Jam`iyyah Nahdlatul Ulama, yang sangat identik dengan keislaman secara murni.

Antara Propaganda Kafir dan Ideologi Islam (Masyarakat Madani) di Persimpangan
Pada dasarnya, akal yang dimiliki manusia adalah suatu media, yang bisa dipergunakan sebagai alat untuk memahami banyak hal, termasuk masalah agama. Sekalipun demikian, akal yang dikaruniakan Allah kepada manusia tersebut tetaplah memiliki keterbatasan dan kelemahan.

 Dalam kenyataannya, manusia memang bisa lemah dalam menangkap kenyataan apapun, dan kelemahan itu bersumber dari keterbatasan atau keengganan alat penangkap kebenaran, yaitu akal. Bukan pada obyek permasalahan yang semestinya ditangkap secara benar dan sempurna oleh akal itu sendiri.

Setiap manusia diberi Allah tingkat kekuatan sekaligus kelemahan pada akal secara berbeda. Dengan adanya perbedaan tingkat kemampuan akal diantara manusia, maka terjadi tingkatan-tingkatan yang berbeda dalam banyak hal. Termasuk penerimaan ideologi atau keyakinan dalam menentukan kebenaran agama yang dipeluknya.

Seorang muslim sejati, akan menggunakan akal yang dikaruniakan Allah, sebagai alat untuk menfasilitasi diri dalam melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan-Nya secara mutlak. Tanpa mendahulukan kemampuan akal yang mengandung banyak kelebihan sekaligus kekurangan.

Tingkat keislaman semacam inilah yang telah diterapkan oleh Sahabat Abu Bakar ra, tatkala mendapat kritikan pedas dari orang-orang kafir, dengan pertanyaan mereka, percayakah Sahabat Abu Bakar ra, terhadap pernyataan Rasulullah SAW,  bahwa beliau SAW telah ber-isra` mi`raj ke langit tujuh dan sidratul muntaha dengan ditempuh hanya dalam waktu semalam? Sahabat Abu Bakar ra dengan tegas mengatakan, jika Rasulullah SAW memberi tahu suatu hal yang lebih dari itupun dia akan meyakini keben  arannya.

Sahabat Abu Bakar ra lebih mendahulukan ideologi keislamannya yang murni dari pada penggunaan rasio akal. Sebab Sahabat Abu Bakar ra telah meyakini kebenaran hakiki agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW, yaitu kebenaran yang datang dari Allah SWT. Kebenaran itulah yang dinamakan syariat Islam.

    Kini ada arus yang sengaja diciptakan dan dikembangkan oleh kaum liberal, bahwa inti dari syariat, bukanlah pada penerapan makna yang ada dalam teks (nash), atau dari suatu peristiwa yang terjadi pada jaman Rasul SAW. Tapi bagaimana mewujudkan tujuan syariat itu sendiri, yang biasa disebut sebagai maqashidus syari`ah. Tujuan-tujuan dari pemberlakuan syariat (maqashidus syari`ah) itu adalah demi menjaga agama (hifdzud diin), kehormatan (hifdzul irdl), jiwa (hifdzun nafs), harta (hifdzul maal), dan akal (hifdzul aql).

Dengan hanya menggunakan rasio (akal), mereka gegabah mengatakan bahwa jiwa syari`at adalah ini dan itu. Jika pembunuhan, pencurian atau perzinahan bisa diatasi dengan hukum sekuler(penjara), maka tidak perlu lagi diterapkan qhisas, qathul yad (hukum potong tangan), demikian pula tentang hukum rajam, dsb. Dengan demikian, menurut kaum liberal, tidak ada hukum Allah yang perlu dilaksanakan di dunia ini selagi cara lain bisa diterapkan dan tujuan sudah tercapai.

    Syariat Islam adalah milik Allah. Tidak ada yang berhak mengatakan sesuatu tentang syariat ini kecuali Allah dan Rasul-Nya. Selain Allah dan Rasul-Nya harus merujuk pada Alquran dan Assunnah. Dalam banyak ayat sering disebut bahwa iftiraa alalLah itu adalah kedzaliman besar (lihat QS. Al An`am : 21 dan Yunus : 17).

Mengada-ada bahwa Allah bermaksud begini dan begitu adalah dosa besar. Untuk bisa mengetahui maqashidus syari`ah hanya bisa diketahui dengan mempelajari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW dengan penuh ketelitian dan keikhlasan. Mengejar target maqashidus syari`ah memang hal penting dan paling diperlukan, tapi pembicaraan tentang masalah ini tidaklah sederhana. Untuk mencapainya perlu kemantapan dalam ushul fiqih, lughah (bahasa), tafsir, ulumul quran, musthalah hadits, dsb.

    Bahkan yang patut disayangkan, yang menjadi acuan kaum liberal itu hanyalah kemaslahatan-kemaslahatan umum (ri`ayatul mashalihil ammah) yang ingin dikembangkan dalam lintas gender, lintas status sosial, bahkan lintas agama, yang sering mereka sebut dengan istilah pluralisme. Mereka tidak mempunyai standar syariat yang jelas, kecuali logika yang hanya berkiblat pada akal.

    Diantara hujjah  para pejuang pluralisme itu, demi memperjuangkan kepentingannya, adalah dengan berlindung pada penggunaan istilah Masyarakat Madani. Mereka mengatakan bahwa hanya ada satu fakta kemanusiaan, yakni keberagaman, dan kemajemukan. Mereka mengatakan bahwa setiap agama haruslah terbuka terhadap kebenaran agama lain, atau setidaknya mengakui adanya kebenaran di dalam agama lain.

    Dalam propagandanya, mereka mengatakan bahwa tidak ada kebenaran satu agamapun yang mutlak. Artinya bahwa nilai-nilai kebenaran selalu ada pada tiap-tiap agama. Mereka juga mengatakan, sebaik-baik agama di sisi Allah adalah al-hanifiyyatus samhah (semangat kebenaran yang lapang dan terbuka). Mereka berpendapat bahwa al-hanifiyyatus samhah adalah semangat mencari kebenaran secara terbuka, yang membawa sikap toleran, terbuka, tidak sempit, tidak fanatik dan tidak membelenggu jiwa.

Kelompok liberal sering mengusung Piagam Madinah sebagai kedok untuk merealisasikan tujuannya, yaitu menciptakan masyarakat pluralis, tentunya dalam persepsi mereka.

Beberapa isi Piagam Madinah, tentang perdamaian yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dengan pihak Yahudi dan Nasrani kala itu, mereka gunakan sebagai pembenaran terhadap pemahamannya. Kata-kata perdamaian yang selalu disebut-sebut, diartikan sebagai keterbukaan Nabi SAW menerima dan membenarkan semua agama yang beliau SAW dapati di kota Madinah saat itu.

Mereka dengan sengaja melakukan kebohongan publik dan upaya pembodohan terhadap ummat, dengan menyembunyikan hakikat ajaran Nabi Muhammad SAW sebagai peletak dasar Piagam Madinah.

    Sebagai misal, beberapa isi Piagam Madinah antara lain:

Klausul :

(1)   Ini dokumen dari Muhammad, Nabi (yang mengatur hubungan) antara kaum muslim Quraisy dan Yatsrib, dan mereka yang mengikuti, bergabung, dan berjuang dengan mereka.

(2)   Mereka adalah satu komunitas (ummah) dengan mengenyampingkan semua  manusia.

Dalam klausul :

(23) Apabila engkau berbeda pendapat tentang suatu masalah maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya.

(24)  Orang-orang Yahudi akan menyumbang biaya perang sepanjang mereka berperang bersama orang-orang beriman.

Dalam klausul :

(36a)  Tidaklah mereka akan pergi berperang terlepas dari ijin Muhammad.

(37a)  Yahudi harus menanggung biaya mereka dan muslim juga menanggung  biaya mereka. Semua pihak harus membantu yang lain melawan siapa yang menyeranf orang-orang (yang menyepakati) dokumen ini. Mereka harus meminta nasihat dan konsultasi satu sama lain, dan kesalehan adalah perlindungan terhadap kemaksiatan.

Dalam klausul :

(38)   Yahudi harus membayar bersama orang-orang beriman sepanjang perang
          berakhir.

(42) Jika ada pertikiaian atau kontroversi yang diperkirakan akan  mengakibatkan keonaran dan gangguan (trouble), hal itu harus dirujukkan kepada Allah dan Muhammad, Rasul-Nya SAW. Allah menerima apa yang dekat kepada kesalehan dan kebaikan dalam dokumen ini.

Dalam klausul penutup disebutkan :

(47)  Dokumen ini tidak akan melindungi orang yang tidak adil dan berbuat maksiat. Orang yang maju ke medan perang adalah aman dan orang yang diam di rumahnya juga aman, kecuali apabila berbuat zalim atau maksiat. Tuhan adalah pelindung orang-orang saleh dan berkesadaran ketuhanan, dan Muhammad adalah utusan Allah SWT.

    Perlu diingat, bahwa Nabi Muhammad SAW telah merancang konsep yang baik dan indah dalam penerapan Piagam Madinah tersebut. Beliau membangun sistem kehidupan di tengah prularitas (keberagaman) masyarakat Madinah, dengan memaparkan kebenaran Alquran kepada penduduk Madinah.

Beliau SAW juga terus menerus memperjuangkan penerapan syariat Islam di tengah kemajemukan masyarakat. Nabi Muhammad SAW melayani perdebatan terbuka dengan berbagai kalangan, guna menerangkan hakikat kebenaran ajaran agama Islam.

    Beliau SAW senantiasa dengan gigih dan penuh kesabaran mengajak masyarakat menuju jalan yang benar. Islam yang diterangkan kepada masyarakat, adalah agama yang bersifat sebagai penyempurna dari ajaran para Nabi pendahulunya. Maka Nabi Muhammad SAW tak henti-hentinya mengajak penganut Yahudi dan Nasrani untuk memeluk agama Islam.

Kenyataannya, kota Madinah sebagai pusat kegiatan dakwah Nabi SAW pada akhirnya dan hingga kini, telah terbebaskan dari kekafiran dan kemusyrikan yang dilakukan baik oleh kalangan Yahudi, Nasrani, maupun kaum paganis, penyembah selain Allah SWT.

    Maka pengusungan istilah al-hanifiyyatus samhah dan Piagam Madinah oleh kelompok liberal dalam menguatkan hujjahnya, tiada lain adalah sebuah upaya pemakaian kalimatu haqqin uriida bihal bathil (kalimat yang benar dipergunakan untuk tujuan menciptakan kebathilan), alias pemutarbalikan fakta.

    Nabi Muhammad SAW tidak pernah mengajarkan satupun pemahaman bahwa semua agama itu benar, sebagaimana yang dipropagandakan kelompok liberal. Bahkan Alquran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, dengan jelas mengatakan bahwa pemeluk agama Nasrani adalah kafir, karena ucapan mereka bahwa Allah adalah Almasih (Isa) putra Maryam, sekalipun pemeluk Nasrani mengatakan bahwa dirinya itu beriman kepada Allah.

Fakta ini disebutkan Alquran dalam surat Almaidah ayat 72, Allah berfirman (yang artinya): Sungguh telah kafir orang-orang (Nasrani) yang mengatakan bahwa Allah itu adalah Almasih (Isa) putra Maryam.  Dalam surat Attaubah ayat 30,  Allah berfirman (yang artinya): Orang-orang Yahudi berkata, Uzair itu putra Allah dan orang Nasrani berkata, Almasih (Isa) itu putra Allah. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling.

    Dengan demikian, maka arti ayat innad diina indallahil islaam yang sebenarnya adalah Sesungguhnya (satu-satunya) agama yang benar (secara mutlak) disisi Allah hanyalah agama Islam (tentunya dengan kandungan syariatnya).

Sangat berbeda dengan persepsi kelompok liberal, yang mengartikan ayat ini sebagai berikut: Sesungguhnya beragama yang benar di sisi Allah adalah sikap penyerahan diri.

Persepsi semacam ini bisa membiaskan arti, bahwa pemeluk agama Yahudi, Nasrani, Hindu, Budha, dan kaum paganis lainnya, selagi mereka berpasrah diri maka dianggap benar, sekalipun mereka mengingkari kebenaran Alquran dan kenabian Muhammad SAW, serta melakukan kemusyrikan-kemusyrikan kepada Allah.

    Karena Nabi Muhammad SAW telah mencetuskan Piagam Madinah, kelompok liberal mengklaim bahwa beliau SAW termasuk liberal dan pluralis. Lalu apakah mereka akan mengatakan Nabi Muhammad SAW sebagai diktator dan teroris karena memerangi orang kafir Quraisy, dan mengusir kaum Yahudi bani Quraidzah, bani Nadzir, dan bani Qainuqa dari Madinah, tatkala menghianati isi Piagam Madinah itu sendiri? Pada hakikatnya Beliau SAW dalam melaksanakan kehidupan bermasyarakat sekaligus urusan ubudiyah, tiada lain hanyalah melaksanakan syariat yang diperintahkan Allah Yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana, sebagai bentuk kepatuhan mutlak yang tak perlu beliau tawar lagi    Dalam Syariat Islam memang ada jaminan hak-hak non Islam, ada murunah (fleksibilitas) dalam hukum-hukum Islam dan sebagainya.

Tapi jangan lupa, syariat Islam bukan seperti prinsip apapun di Barat. Syariat Islam punya karakteristik sendiri yang dibatasi oleh Alquran dan Sunnah. Di luar konsep Alquran dan Sunnah, bukanlah Islam walaupun dilakukan oleh orang Islam.

    Salah besar, jika ada kelompok yang memberi makna apalagi mengatur ajaran dan konsep Islam dengan paham non-Muslim. Hal itu ibarat belajar matematika dengan menggunakan istilah sastra. Mereka  tidak akan bisa memahami secara akurat apa yang dipelajari. Memang selalu ada titik-titik persinggungan antar keduanya, tetapi hasilnya secara umum akan menjadi sangat rancu.

    Kesimpulan rancu inilah yang banyak dihasilkan oleh kelompok liberalis atau para pejuang pluralisme itu. Wamakaruu wa makarallahu, wallahu khairul maakiriin. Mereka telah melakukan tipu daya, dan pasti Allah membalas tipu daya (mereka), sedangkan (strategi) Allah adalah sebaik-baik strategi. (QS. Ali Imran ayat 54).

    Di kalangan kelompok liberal, ada juga yang beranggapan bahwa setiap argument/ajaran yang datang dari penganut Islam, siapapun orangnya, itulah ajaran Islam, sekalipun bertentangan dengan nash (doktrin) Alquran dan Assunnah. Pandangan ini jelas-jelas salah.

    Sebab anggapan-anggapan semacam inilah yang menyebabkan banyaknya muncul aliran sesat yang berkembang di kalangan ummat Islam, yang lantas dibela eksistensi kesesatannya olek tokoh-tokoh liberal, dengan berdalih atas nama hak asasi manusia.

    Tengok saja kasus aliran Syi`ah Imamiyah Khomainiyyah yang meyakini adanya Tahriiful Quran (perubahan dalam Alquran), mereka mengatakan bahwa Alquran yang asli tebalnya 3 kali lipat dari Alquran kaum Muslimin (Kitab pedoman utama Syi`ah, Al Kaafi karangan Al Kulainy Juz I, hal 239, dan Juz II Hal 634); atau Kasus aliran Ahmadiyah yang meyakini bahwa Nabi Muhammad bukan nabi terakhir, karena mereka meyakini adanya nabi lain, yaitu Mirza Ghulam Ahmad, yang  juga menerima wahyu dan dikumpulkan dalam kitab suci mereka, Tadzkirah; atau Kasus buku Menembus Gelap Menuju Terang oleh Ardi Husain (Probolinggo Jawa Timur), yang mengatakan adanya Rasul setelah Nabi Muhammad; juga Kasus  Shalat Dua Bahasa dan Pelaknatan terhadap Ulama versi Yusman Roy (Lawang Malang), yang dibela oleh kelompok liberal, bahkan didukung dalam proses pengadilanya, dengan kehadiran Ulil Abshar Abdalla, dkk sebagai saksi yang meringankan kasus Yusman Roy di PN Malang pada hari Selasa, 16 Agustus 2005; dan masih banyak yang lainnya. Bahkan ada pula aliran sesat yang sempat memancing emosi Ummat Islam, semacam peritiwa Tulungagung Jawa Timur, Pontianak Kalimantan Barat,Parung Bogor Jawa Barat.

    Banyaknya penafsiran sesat ala logika yang bertentangan dengan Alquran dal Alhadits ini, bahkan dimanfaatkan oleh pihak Nasrani untuk memutarbalikkan Alquran dan penerjemahannya demi kepentingan mereka, seperti adanya selebaran yang berdalil Alquran mengatakan bahwa Isa adalah Tuhan berbentuk manusia dengan dalil Surat An Nas ayat I Qul a`uudzu birabbinnaas (Katakanlah, aku berlindung kepada Tuhan manusia). Diplesetkan arti pemahamnnya dengan Katakanlah, aku berlindung kepada Tuhan berbentuk manusia. Selama ini ummat Islam memahami arti pemahamnnyya adalah, Katakanlah, aku berlindung kepada Tuhannya manusia, bukan Tuhan berbentuk manusia.

    Belum lagi buku-buku keluaran kelompok Liberal, seperti Lubang Hitam Agama, karangan Sumanto Al-Qurthuby, terbitan RumahKata Yogyakarta; Kritik Ortodoksi-Tafsir Ayat Ibadah, Politik dan Feminisme, karya Salman Ghonim, terbitan  ELKiS Yogyakarta; Buku Fikih Lintas Agama terbitan Yayasan Paramadina Jakarta; Karya tulis  Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) yang ditolak eksistensinya oleh ormas Muhammadiyah.
    
Pada dasarnya argumen-argumen kelompok liberal semacam ini, juga upaya pembelaan mereka terhadap aliran-aliran sesat, dengan menganggap bahwa itu semua adalah khazanah perbedaan, bahkan termasuk ajaran Islam yang perlu diterima dan dihormati, tiada lain adalah upaya pendangkalan agama dan penyesatan terhadap aqidah ummat Islam.


Liberalisme,
 Kesesatan Berpikir dan Kekacauan dalam Interpretasi Dalil


Faris Khoirul Anam, Lc,  peserta program pasca sarjana Universitas Al Ahgaff Hadramaut Yaman, mengirimkan naskah lewat e-mail kepada penulis. Artikel tersebut mengkritisi cara berpikir dan istidlal (pengambilan hukum dari dalil) kaum Islam Liberal, kemudian memberikan argumen mengenai   nilai lebih metode kaum salaf dalam meng-interpretasikan teks (nash). Tulisan tersebut perlu untuk diketahui ummat Islam. Berikut ini kami kutip tulisannya.

Gerakan Islam Libera l memang mencerminkan kesiapan otokritik dari generasi muda Islam untuk mengeluarkan umat Islam dari kejumudan yang melumpuhkan perkembangannya. Tapi dia seakan kehilangan standar dalam mengukur kebenaran, kemajuan, dan kebaikan.

Manusia dalam hidupnya yang sementara ini harus merealisasikan kemajuan demi kemajuan kalau ingin berhasil dalam perjalanan hidupnya. Tidak benar kalau dia terus dalam pencarian. Pencarian harus berujung pada kebenaran. Dan kebenaran haruslah menjadi titik pangkal kehidupannya, bukan titik akhir, karena itu adalah zero point. Sangat rugi kalau hidupnya hanya berakhir pada zero point. Apalagi kalau tidak mencapainya.

Obyektifitas ilmiah juga bukan selalu bertolak dari keraguan. Rene Descartes, seorang filosof Barat, bisa menjadi panutan, memang awalnya didahului oleh keraguan terhadap aspek-aspek filsafat. Namun setelah itu, dia mampu mengeluarkan dirinya dan Barat dari keraguan tersebut. Setelah  dia sampai pada kesimipulan, saya berpikir berarti saya ada, dari situlah metodologinya dapat diterima dunia Barat. Juga metodologi ilmiah yang dipopulerkan Roger Bacon (walaupun dia hanya mengutip dari Ibnu Haitsam), hanya bisa digunakan setelah diyakini validitasnya.

Tidak harus semua orang mencari dan memulai dari titik nol. Alquran tidak juga mem-brain washing-kan para sahabat Nabi Muhammad SAW agar mereka menjadi beriman. Yang harus dipermasalahkan adalah taklid buta. Kebenaran Islam bukanlah sesuatu yang tabu untuk diperdebatkan, tapi keimanan punya konsekuensi. Tidak sama antara orang yang masih di luar area keislaman (kafir) dengan yang ada di dalam (muslim atau mukmin).

Tidak ada masalah bagi orang kafir untuk mempertanyakan dan menggugat semua masalah dalam Islam demi mencapai pada keyakinan, bahkan Islam mendorong kuat umat manusia untuk berpikir. Tapi seorang mukmin terikat dengan makna keimanannya itu sendiri.

Keimanan bukanlah berarti taklid buta. Orang beriman itu orang yang tahu persis kebenaran Islam. Dia berdiri di atas pijakan fakta yang kuat sehingga dia bisa sampai pada keimanan. Bukan cuma iman warisan. Tapi keimanan itu tidak mesti dimulai dari keraguan. Untuk yakin bahwa kita adalah manusia tidak perlu ragu apa kita keledai atau bukan. Kalau masih ada yang perlu penjelasan apakah dia manusia atau bukan, banyak yang bisa menjelaskan. Tapi kita yakin tidak ada yang sebingung itu.

Keraguan hanya diperlukan jika kita berhadapan pada kondisi di mana kita tidak mampu menangkap kebenaran. Tapi kalau kita sudah sampai pada kebenaran kita harus melangkah pada kebenaran tingkat berikutnya. Jangan berdiri di tempat dan terus bertanya-tanya. Rugi. Hidup kita akan berakhir. Kita harus merealisasikan tujuan hidup itu sendiri. Allah berfirman (yang artinya) : Dan tidakklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku (Adz Dzariyat <51> ayat 56).

Charles Kurzman, panutan kelompok liberal, mempunyai klaim bahwa biasanya membicarakan Islam liberal berarti membandingkannya dengan liberalisme Barat, yang intinya pada daya kritisnya, meskipun terdapat perbedaan antara keduanya, karena liberal Islam masih berpijak kepada Alquran dan Al Hadits serta sejarah Islam. Perbedaan liberal  non liberal adalah pada metodolgi interpretasi (tafsir) teks, yang menurut bahasa Charles Kurzman adalah interpreted sharia. Sehingga sebagian kalangan lalu mempermasalahkan, kalau kelompok Islam Liberal berdebat dengan ulama Islam non-liberal, apa tolok ukurnya? Apa argumen untuk menyatakan tafsirku lebih tepat dibanding tafsirmu?

Memang benar interpretasi syariah adalah usaha manusia. Tapi jangan lupa Allah menurunkan syariat bukan sebagai teka-teki yang selalu menimbulkan tanda tanya. Syariat adalah petunjuk bagi manusia. Pada kenyataannya banyak teks dari Alquran maupun Sunnah yang tidak menerima perbedaan penafsiran, yang dalam Ushul Fiqih disebut sebagai qathiyyu ad dilalah. Yang seperti ini tidak boleh diperdebatkan. Yang masih mempermaslahkan hal ini, itulah yang disebut kafir.

Kalau dia masih meragukan keesaan Allah, atau membenarkan agama lain yang menganggap Tuhan itu lebih dari satu, baik atas nama pluralisme atau apapun istilahnya, maka dia menentang firman Allah SWT dalam Surat Al-Ikhlas. Apakah mereka masih meragukan lagi bahwa Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan? Sampai kapan mereka meragukan doktrin ini? Bagaimana jika mereka yang mengaku Islam, mati dengan tetap membawa keraguan ini ke akhirat?

Para ulama salaf dalam mengajarkan Islam tidak pernah  mengajak umat Islam meragukannya terlebih dahulu. Dipatrikan dahulu benih doktrin kebenaran dan keyakinan pada Islam. Ajaran yang mereka berikan kemudian menjadi semacam pupuk yang menjadikan keimanan itu semakin subur dan tumbuh sempurna.

Karena itulah, orang yang masih bertanya-tanya tentang kebenaran Islam, dia sebenarnya masih kelas kafir dalam pemikiran. Kalau sudah masuk kelas mukmin dia seharusnya jauh lebih pintar dan paham tentang kebenaran. Pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepala mukmin pasti jauh lebih berkualitas dari pertanyaan orang-orang kafir. Abdurrahman Al-Hajji (Doktor lulusan Cambridge University) sering mengatakan, orang mukmin itu selalu bertambah cerdas dengan keimanannya, sedangkan orang kafir selalu bertambah bodoh sejalan dengan kekafirannya.

Kita harus merujuk salaf dalam interpretasi dalil bukan hanya sekedar karena keberadaan mereka lebih dahulu (aslaf) dari pada kita dalam urutan generasi zaman, tapi karena merekalah orang-orang yang lebih tahu dan paham bagaimana berinteraksi dengan teks, baik Alquran maupun Assunnah. Dzauq  (insting) bahasa Arab mereka masih jernih dan fasih, serta belum banyak terpengaruh oleh dzauq dan pemahaman non-Arab (ajam). Di samping mereka sendiri adalah umat yang paling dekat kepada Nabi SAW, serta belum banyak tereduksi oleh kepentingan-kepentingan yang datang dari luar Islam. Keistimewaan ini dijamin oleh Nabi SAW dalam hadits riwayat Sahabat Ibnu Mas`ud (yang artinya) : Sebaik-baik manusia adalah yang hidup di zamanku, kemudian umat setelah mereka, kemudian generasi setelah merekanya lagi (HR. Bukhori Muslim).

Kita merujuk salaf bukan dalam keseluruhan harfiah (tekstual)-nya, tapi pada kaidah-kaidah dalam interpretasi dalil dan aturan-aturan dalam berijtihad yang telah mereka letakkan. Disinilah kesempatan kita untuk menjustifikasi fenomena-fenomena baru yang muncul, dengan legitimasi teks Alquran dan Alhadits, dengan aturan ulama-ulama salaf itu. Jadi tanpa merusak tatanan baku syariat, baik secara total maupun sebagian. Kita tetap meletakkan Alquran dan Assunnah sebagai pusaka agung warisan Nabi Muhammad SAW yang harus kita imani secara keseluruhan. Di sinilah kita mengenal istilah mengambil sesuatu yang baru yang dianggap paling baik, dengan tetap memegang kaidah lama yang baik.

Misalnya, diantara kelompok JIL ada yang mengatakan bahwa syariat Islam tidak bisa diformalkan dalam konteks kenegaraan, karena beberapa kekurangan. Di antaranya, syariat Islam tidak pernah membicarakan masalah korupsi. Padahal jika kita kembali pada kaidah-kaidah yang diletakkan ulama salaf itu, melalui pemahaman mereka dalam ber-mu`amalah dengan dalil,  bisa saja masalah korupsi diqiyaskan dengan sariqah (pencurian). Hukum kehajahatan ini sangat jelas dan gamblang dalam syari`at Islam, yakni qath`ul yad (potong tangan), dengan syarat-syarat tertentu. Jadi jangan karena tidak menemukan konteks dalam teks, kemudian kita putuskan ibthalul haq bi kulliyah (meninggalkan yang benar/syariat secara keseluruhan). Jika mereka menuduh orang yang memperjuangkan syariat sebagai orang yang malas berpikir, lalu siapakah sebenarnya yang malas berpikir?

Dalam interpretasi dalil, kaum liberal sering memakai ayat-ayat yang mendukung konklusi hukum mereka, namun dalam satu waktu dan dalam permasalahan yang sama mereka meninggalkan dalil lain yang sebenarnya mengikat atau memberi pengertian lain, yang dalam Ushul Fikih dikenal dengan istilah taqyid (hamlul muthlaq alal muqayyad), takhsis (hamlul am alal khas), dsb.

Al- man al juz-i, mengimani sebagian dan mengkufuri sebagian yang lain sangat dilarang dalam Alquran (lihat Al Baqarah : 85, An Nisa ayat 51-52, ayat 60-61, ayat 150-152). Termasuk pelaku al-iman al-juz-i, menurut Muhammad Ahmad ar Rasyid, seorang yang telah tahu tsubut (ketetapan) hukum syariat dari Alquran atau Hadits mutawatir, baik dalam fikih maupun ilmu akidah, namun dia menganggap hukum tersebut tidak cocok lagi diterapkan, dan menyifatinya sebagai ajaran yang kontra kemaslahatan. Atau ajaran yang tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman (Al Munthalaq, Bagian I silsilah Kitab Ihya-u Fiqhi ad Da`wah, hal 53).

Kita berada di zaman seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam Shahih Muslim (yang artinya): Pagi seseorang masih dalam keadaan beriman sore sudah menjadi kafir, sore masih beriman pagi telah menjadi kafir. Tidak disadari bahwa beberapa sikap dan ucapan kita mengeluarkan kita dari daerah keimanan. Naudzbillah min dzalik.

Sebagai contoh, coba kita tengok apa yang ditulis oleh penganut faham liberal, Sumanto Al-Qurthuby, dalam bukunya, Lubang Hitam Agama, terbitan RumahKata. Di antara kesesatannya, dia mengatakan (hal 19-45), Diktum asbabunnuzul dalam Islam menunujukkan bagaimana sebuah wahyu Alquran sangat tidak independen, melainkan tergantung dan dipengaruhi oleh situasi dan kondisi kebudayaan masyarakat Islam dan Arab waktu itu. Bahkan, jika ada ayat-ayat Tuhan yang bertabrakan dengan kemaslahatan masyarakat, harus diunggulkan kemaslahatan dan keadilan sosial. Umar sebagai orang yang co-author (ikut menciptakan) Alquran.

Dalam bagian lain, Sumanto yang jebolan Pascasarjana Sosiologi Agama Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga ini mengatakan, Alquran bagi saya hanyalah berisi semacam spirit ketuhanan yang kemudian dirumuskan redaksinya oleh nabi. Dalam penggalan lain, Alquran turun kepada nabi hanyalah gumpalan gagasan sementara ide pengkalimatan gagasan dilakukan oleh nabi sendiri, jadi, semua teks Alquran bukan made in  Tuhan (emang Tuhan berbahasa Arab?).

    Betapa sesatnya cara berpikir kelompok ini. Apakah mereka masih mengaku beragama Islam, atau mungkin ingin dikatakan membela kebenaran Islam, dengan pemikiran-pemikiran seperti itu? Tidakkah mereka sadar bahwa apa yang mereka lakukan adalah upaya pendangkalan aqidah secara massif, menjadikan kaum muslimin ragu atas kebenaran Islam, bahkan bisa  menjerumuskan mereka pada kekufuran? Marilah kita berdoa kepada Allah agar kita semua diberi petunjuk, karena seperti kata Ibnu Mas`ud, Fa innal hayya la tukmanu balaihil fitnah (Orang hidup tidak akan pernah lepas dari adanya fitnah). Selama kita masih hidup kemungkinan untuk salah dan tergelincir tetap ada.

    Satu hal yang perlu kita sepakati bersama bahwa Islam yang kita bawa dan anut ini adalah sesuatu yang harus diperjuangkan dan ditegakkan, bukan cuma obyek pembicaraan. Jika kita ingin membela Islam, seharusnya kita tahu dari mana kita memulai, kemana kita mengarah, untuk siapa kita berbuat, dan dengan siapa kita berjalan.

KONTRIBUTOR                                
 JARINGAN ISLAM LIBERAL
( Aqidah Pemikirannya Perlu Diwaspadai )

Jaringan Islam Liberal (JIL) bekerja sama dengan para intelektual, penulis sekular dan akademisi yang selama ini dikenal peduli dengan isu-isu keislaman dan kemasyarakatan yang berupaya mengaburkan pemikiran Islam Kaffah serta menolak pelaksanaan Syari`ah Islam. Sekedar memperkenal-kan beberapa nama kontributor JIL adalah sebagai berikut:

    Nurcholis madjid, Universitas Paramadina, Jakarta
    Charles Khurzman, University of North Carolina
    Azyumardi Azra, IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
    Abdallah Larouni, Muhammad V University, Maroko
    Masdar F. Masudi, Pusat Pengembangan Pesantren dan Masyarakat, Jakarta
    Goenawan Mohammad, Majalah Tempo, Jakarta
    Edward W. Said, Colombia University, AS
    Djohan Effendi, Deakin University, Australia
    Abdullahi Ahmad an-Naim, Emory University, Atlanta
    Jalaluddin Rahmat, Yayasan Muthahhari, Bandung
    Moselim Abdurrahman, Jakarta
    Asghar Ali Engineer,
    Nasaruddin Umar, IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
    Mohammed Arkoun, University of Sorbonne, Prancis
    Komaruddin Hidayat, Yayasan Paramadina, Jakarta
    Arief Budiman, University of Melbourne, Australia
    Sadeq Jalal Azam, Damscus University, Suriah
    Said Agil Siraj, PBNU, Jakarta
    Denny JA, University Jayabaya, Jakarta
    Rizal Mallarangeng, Freedom Institute, Jakarta
    Masdar F. Masudi, LP3M, Jakarta
    Budi Munawwar-Rahman, Yayasan Paramadina, Jakarta
    Ihsan Ali-Fauzi, Ohio University, AS
    Taufik Adnan Amal, IAIN Alauddin, Ujung Pandang
    Hamid Basyaib, Yayasan Aksara, Jakarta
    Ulil Abshar Abdalla, Lakpesdam-NU, Jakarta
    Luthfi Assyaukanie, Universitas Paramadina, Jakarta
    Saiful Mujani, Ohio State University, AS
    Ade Armando, Universitas Indonesia, Depok    Syamsurizal Panggabean, Universitas Gadjahmada, Yogyakarta
    Abdul Moqsith Ghazali, Jakarta
    Zuhairi Misrawi, P3M, Jakarta
    Sukidi, Puan Amal Hayati, Jakarta
    Ahmad Sahal, Feenom Institute, Jakarta.


MENENGOK KESESATAN BERPIKIR ISLAM LIBERAL
Kawin Campur Beda Agama diskusi santri dalam Forum Ilmiah Keislaman Ribath (FIKR)
Singosari Malang.

    Menyikapi fenomena yang berkembang di masyarakat dewasa ini, seputar kontroversi yang sering dikampanyekan oleh kalangan liberal, bahkan juga masuk dalam draft Kompilasi Hukum Islam-nya Musdah Mulia, dkk, yakni pernikahan beda Agama, perlu adanya pemaparan ulang pendapat-pendapat ulama salaf tentang hukum perkawinan campur beda agama tersebut.

    Surat Al Baqarah ayat 221 menjelaskan tentang pengharaman seorang lelaki muslim menikahi wanita musyrik, dan seorang muslim yang menikahkan wanita muslimah dengan lelaki musyrik. Para ulama salaf memaparkan penyebab pengharaman tersebut, karena orang-orang musyrik selalu mengajak manusia ke arah neraka, sedangkan Allah mengajak manusia menuju ke surga dan ampunan-Nya.

    Allah SWT berfirman (yang artinya) : Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman, seseungguhnya wanita budak yang mukminah lebih baik dari wanita musyrikah walaupun dia (wanita musyrikah) menarik hatimu dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukminah) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izinnya. Dan Allah menerangkan ayat-ayatnya (perintah-perintahnya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. (QS. Albaqarah : 221).

    Yang tergolong orang-orang musyrik adalah kaum Majusi (penyembah api) dan kaum paganis penyembah berhala, seperti penganut agama Budha, Hindu, Khong Hu Cu, Shinto, dsb. Sedang ahli kitab (penganut Nasrani dan Yahudi) tidak tergolong dalam kategori kaum musyrikin. Dalam hal ini, mayoritas ulama berpegang teguh pada dzahir ayat 5 surat Al Maidah,  yang menjelaskan tentang bolehnya seorang muslim memakan makanan hasil penyembelihan binatang ternak oleh orang-orang ahli kitab, dan bolehnya lelaki muslim menikahi wanita-wanita ahli kitab tersebut. Sebaliknya, para ulama juga berpegang teguh atas keharaman wanita muslimah dikawin oleh lelaki ahli kitab.

    Sahabat Qatadah RA juga berpendapat yang sama dalam menyikapi ayat di atas. Yang dimaksud orang-orang musyrik, sesuai pendapatnya, adalah penganut agama yang tidak mempunyai kitab samawi (kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah melalui para nabi). Karena itu, Yahudi dan Nasrani tidak termasuk orang-orang musyrik, sebab mereka mempunyai kitab samawi, yaitu Taurat dan Injil.

    Pendapat sebaliknya disampaikan oleh Sahabat Abdullah Ibnu Umar RA, beliau  mengharamkan secara mutlak pernikahan seorang muslim maupun muslimah dengan kaum Yahudi dan Nasrani, disebabkan faktor-faktor tertentu. Diantaranya karena kaum Yahudi dan Nasrani juga termasuk orang-orang musyrik, sebab mereka telah menganggap nabinya sebagai putra Allah, sebagaimana ucapan orang-orang Yahudi bahwa Uzair putra Allah, dan ucapan orang-orang Nasrani bahwa Isa putra Allah.

    Allah SWT berfirman (yang artinya) : Orang-orang Yahudi berkata: Uzair itu putera Allah dan orang Nasrani berkata: Al Masih itu putera Allah. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling? Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS. At-Taubah ayat 30-31).

    Pendapat sahabat Abdullah Ibnu Umar RA ini (tentang pengharaman secara mutlak perkawinan campur beda agama) sangat signifikan, termasuk vonis beliau bahwa kaun Yahudi dan Nasrani termasuk orang-orang musyrik. Terlebih jika ditinjau pada konteks zaman sekarang ini. Bagaimana tidak, mayoritas kerusakan yang ada dimuka bumi ini dimotori oleh kaum Yahudi pada khususnya, dan diamini oleh kaum Nasrani. Belum lagi, permusuhan abadi antara Zionis Yahudi dan Missionaris Nasrani terhadap kepentingan ummat Islam.

    Allah telah menegaskan dalam firman-Nya (yang artinya): Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk yang benar. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS. Al Baqarah: 120).

    Perkawinan beda Agama yang banyak terjadi saat ini, banyak berdampak negatif pada pihak istri maupun suami yang semula muslim menjadi murtad. Sedangkan dampak negatif yang terjadi pada anak-anaknya adalah rawan menjadi kafir karena mengikuti orang tuanya yang non-Muslim. Dengan alasan inilah, sebagian ulama dari kalangan ahlus sunnah wal jama`ah, mengharamkan pernikahan campur beda agama, mengikuti pendapat sahabat Abdullah ibnu Umar RA. Hal ini dengan hikmah agar umat Islam lebih hati-hati dalam melestarikan keislamannya, keluarga, serta anak turunnya.

Rasulullah SAW telah mengajarkan doa demi pelestarian keislaman: Yaa muqallibal quluub, tsabbit quluubanaa alaa diinika,  Wahai Dzat (Allah) yang berkuasa membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami atas agama-Mu (Islam).

    Diantara penyebab pelarangan kawin campur beda agama terutama antara wanita muslimah dengan lelaki Ahlil Kitab, dikarenakan orang-orang Yahudi dan Nasrani itu kafir dan mengajak kepada kekufuran. Pada dasar kefitrahannya, kaum lelaki mempunyai kekuatan dan kekuasaan terhadap wanita, sehingga kaum lelaki mampu menggiring dan mempengaruhi wanita, untuk mengikuti keyakinan agamanya.

Begitu juga anak keturunannya, akan lebih condong mengikuti doktrin-doktrin sang ayah, apabila sang ayah menfungsikan diri sesuai dengan nilai kefitrahannya sebagai lelaki.

Kasus kawin campur beda agama yang terjadi baru-baru ini, adalah pernikahan pesulap Deddy Corbuzer (Nasrani) dengan aktris Kalina Octarina (Muslimah), yang dipromotori oleh kelompok Islam Liberal, dengan penghulu Zainun Kamal, tokoh liberal dan dosen IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, serta diusahakan legalitasnya oleh aktifis Yayasan Paramadina, walau akhirnya dibatalkan oleh Menteri Agama Maftuh Basuni. Pernikahan itu sendiri dilaksanakan di masjid lantas dilanjutkan di gereja, kemudian dirayakakan dengan resepsi pesta hallowen.  

Islam mengajarkan tata cara pernikahanan yang benar dan baik sesuai dengan syariat, tentunya dengan memenuhi rukun dan syaratnya. Tata cara pernikahan yang benar dan baik ini telah banyak ditulis oleh para ulama salaf dalam kitab-kitab mereka, yang  mengacu pada Firman Allah SWT dan Hadits-Hadits Nabi SAW. 

Imam Malik berujar, yuhdatsu lin naasi fatawa bi qadri maa ahdatsu minal fujur,  (fatwa yang disampaikan pada manusia harus diperbarui sesuai kadar perbuatan dosa model baru yang mereka lakukan).

Untuk itu perlu dipertimbangkan lagi pembolehan kawin campur lelaki muslim dengan wanita ahlil kitab (Yahudi dan Nasrani) karena banyaknya kaum lelaki yang lemah di dalam menfungsikan diri sebagai pemimpin absolut dalam membina keluarga, khususnya untuk menjaga keislaman keturunannya.

Realitas kerawanan yang terjadi pada kawin campur ini adalah anak tidak secara otomatis akan masuk Islam mengikuti ayahnya, bahkan yang sering terjadi justru mengikuti kekafiran ibunya, dengan memeluk Yahudi atan Nasrani.

    Secara eksplisit Nabi Muhammad SAW telah mengingatkan umat untuk berhati-hati dalam melaksanakan pernikahan yang akan berpengaruh terhadap keturunan yang dilahirkan dalam sabda beliau (yang artinya): Setiap bayi itu dilahirkan atas kefitrahan (Islam), kedua orangtuanyalah yang menjadikan ia Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi (kaum paganis).(HR. Bukhori)

Karena itu alangkah tepat apabila ummat Islam dewasa ini memutuskan untuk melaksanakan fatwa sahabat Abdullah Ibnu Umar RA, beliau mengatakan bahwa kawin campur beda agama hukumnya haram secara mutlak, tanpa pengecualian, demi memperoleh keturunan yang muslim-muslimah, mukmin-mukminah, dan shalih- shalihah.

Maka salah satu poin fatwa MUI hasil Munas VII di Jakarta tanggal 26-29 Juli 2005 tentang pengharaman kawin beda agama, adalah pernyataan sikap yang sudah sesuai dengan syariat Islam.



Menyoal Fatwa Haji ala Masdar F.Mas udi.

By: For-isLAM (Forum Diskusi Al Ahgaff Yaman)
Sudah diyakini umat Islam bahwa haji yang sah hanya dilaksanakan pada waktu-waktu yang telah ditentukan oleh agama. Namun, kita menemukan pemahaman lain dari seorang Masdar, yang mengatakan bahwa rukun Islam ke-5 tersebut bisa dan sah dilaksanakan sepanjang waktu tiga bulan.

Pandangan ini, didasarkan pada firman Allah al-hajju asyhurun ma`lumat (waktu haji itu adalah beberapa bulan yang diketahui). Jadi bukan beberapa hari. Bahwa sekarang dipersempit menjadi hanya lima hari, menurut pendapat ini, pelaksanaan haji yang sangat sempit itu, disebabkan praktik Rasulullah yang berhaji hanya sekali dan kebetulan dilaksanakan pada hari-hari itu (9-13 Zulhijjah).

Adapun hadits al hajj Arafah (haji itu adalah wukuf di Arafah), diartikan bahwa inti haji itu adalah wukuf di Padang Arafah. Tidak menunjukkan waktu pada hari Arafah. Hadits hanya berbicara tentang aktivitas, bukan berbicara soal tempat.

    Pendapat tersebut diangkat dalam sebuah tulisan, yang kemudian di-follow up-i JIL dengan wawancara antara saudara Ulil Abshar Abdalla, selaku koordinator JIL dengan sang pemilik fatwa,  Masdar Farid Mas`udi, seorang tokoh NU, organisasi yang semenjak dulu sudah terpancang di benak ummat, akan keteguhan anggotanya dalam memegang ajaran salaf shalih. Dan  kita menyangka Masdar juga begitu karena dia seorang tokoh NU.

    Agama Islam yang sudah kita anut ini diturunkan oleh Allah kepada Nabi-Nya, Muhammad SAW, mencakup berbagai macam hukum yang bertujuan untuk memberikan kebahagiaan dan kedamaian bagi umatnya. Karena agamalah inti kehidupan.

Tanpa agama kehidupan tiada arti dan makna. Islam adalah agama yang diridlai Allah. Barang siapa yang beragama selain Islam tidak akan diterima oleh Allah. Islam telah sempurna dengan mengandung segala macam hukum dalam berbagai macam aspek kehidupan dengan berpulangnya Rasulullah ke Rahmatullah. Sebagai ajaran yang universal dan fleksibel, atau dalam istilah lain alhanifiyyatu as samhah, yang mengandung makna ad diinu yusrun.

Dalam ajaran Islam, ibadah terbagi menjadi dua bagian:  aziimah  dan rukhsah. Azimah adalah keadaan di mana seseorang diminta untuk melakukan sebuah amalan menurut kriteria yang sudah dibakukan oleh agama. Dilarang bagi umat untuk membuat suatu teori baru yang berseberangan dengan teori tadi.

Adapun rukhsah adalah perbuatan yang mana syariat sendiri telah membuka solusi-solusi bagi pemeluknya dan memberi keringanan-keringanan tertentu kala mereka menemukan hal-hal yang cukup berat untuk dilakukan.

Apa yang sudah disimpulkan Masdar, tentang bolehnya perpanjangan pelaksanaan haji dari waktu yang ada, dan bolehnya pelaksanaan di waktu-waktu lain selain waktu-waktu yang sudah di sepakati para ulama dari zaman dulu sampai sekarang, sebab kendala-kendala tertentu dan masyaqqah (kesulitan) yang begitu berat bagi jamaah haji, maka hal tersebut bukan lagi menyinggung masalah rukhsah  yang dia dengung-dengungkan sebelumnya. Namun sudah menyerempet ke bentuk amalan yang pertama, yaitu azimah.

Amalan rukhsah yang berlandaskan masyaqqah bisa dilakukan saat tidak ada ta`arudl (kontradiksi) antara teks hukum dan masyaqqah tadi. Tapi kalau terjadi benturan antara nash (teks) dan masyaqqah, maka tidak ada lagi keringanan hukum (Asybah wa an Nadza`ir oleh Ibnu Nujaim al Mashri I/117 ).

Kita bisa mengambil rukhsah jika telah terpenuhi syarat-syaratnya. Rukhsah bisa dilakukan kalau perbuatan tadi bersifat juz-i (bagian tertentu), bukan kulli (menyeluruh). Sudah menjadi kesepakatan para pakar Ushul Fikih, jika terjadi pergesekan antara hukum kulli dan juz-i maka yang dimenangkan adalah hukum kulli. Karena hukum kulli bersumber dari maslahat kulliyah (kemaslahatan yang menyeluruh).

Berbeda dengan hukum juz-i yang bersumber dari maslahat juz-iyyah (kemaslahatan yang tidak menyeluruh). Karena tatanan kehidupan dunia tidak manjadi rancu dengan dibatalkannya suatu maslahat juz-iyyah, lain halnya dengan maslahat kulliyah (Usul Fiqih al Khudlari: 71).

Dengan berdalil nash Alquran (yang artinya): waktu haji itu adalah beberapa bulan yang diketahui (QS al Baqarah :197), beserta penafsiran yang dipahaminya, sampailah  Masdar pada kesimpulan tadi.

Padahal kalau kita kembalikan nash ini ke sebab turunnya (asbabun nuzul), sekaligus penafsiran-penafsiran para sahabat dan ulama setelahnya, tidak ada satupun komentar yang mengatakan bahwa ayat itu berkaitan dengan waktu haji dan prosesinya dengan berulang-ulang.

Malah Imam Ibnu Hazm mengeluarkan pendapat, sudah menjadi ijma` para ulama bahwa ayat itu hanya menunjukan waktu dibolehkannya ihram (niat) haji (Maratibul Ijma` hal 42). Karena haji hanya bisa dilakukan sekali dalam satu tahun. Waktu pelaksanaannyapun hanya boleh pada bulan dan waktu tertentu yang sudah masyhur. Berbeda dengan umrah, kapan saja bisa dilakukan.

Kemakluman itu sendiri bersumber dari Rasulullah yang dituangkan dalam prosesi hajinya. Waktu haji menjadi jelas dan gamblang, tidak boleh diubah, baik dimajukan atau dimundurkan (Tafsir Fakhru ar Razi: III/173). Masdar, telah kelewatan sampai berseberangan dengan ijma ulama.

Selain itu, penafsiran dan pemahaman  Masdar tentang al hajju Arafah (haji adalah Arafah), perlu ditinjau ulang. Apalagi jika sampai menganggap penafsirannya itu lebih pas dari pada pemahaman para ulama dari zaman sahabat sampai saat ini. Bahkan sampai mengatakan penafsiran ulama salaf itu kurang pas dan bersumber dari pemahaman yang sempit.

Apa yang sudah dipahami para ulama, bersumber dari penafsiran dan hasil jelajah teks Al-Quran dan Al-Hadits yang bersambung sampai ke Rasulullah, dari generasi ke generasi. Atau dalam kata lain, dengan sanad yang bersambung.

Sebaliknya, yang dikatakan Masdar merupakan hal baru. Umat Islam tidak tahu dari mana dan sejauh mana penafsiran ini diambil dan bisa dipertanggungjawabkan. Apakah punya sanad khusus yang bersambung sampai asal dan sumbernya? Apakah dari sekian ribu ulama dari zaman dulu sampai sekarang, sekitar 1400 tahun, tidak ada satupun yang tahu dengan pasti akan tafsiran ayat dan hadits tersebut? Apakah dengan konklusi pemahaman seperti ini, menunjukan kesempitan pemahaman mereka?

Kalau Masdar mau sedikit lebih teliti, dengan meneruskan potongan hadits tadi, lalu diperhatikan dengan seksama, maka bisa diketahui sampai mana prosentase kebenaran atau kesalahan penafsirannya.

Teks lengkap hadits tersebut adalah (yang artinya): Haji adalah wukuf di Arafah, barang siapa yang tidak mendapatkan, walau sebagian dari Arafah, maka hajinya tidak sah. Lalu perhatikan potongan berikutnya, barang siapa yang datang ke padang Arafah sebelum fajar pada malam hari`idun nahr (idul adha), maka dia telah mendapatkan Arafah dan sah hajinya. (HR Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, diriwayakan dari sahabat Abdurrahman bin Ya`mur). Imam Nawawi menilai, hadits ini shahih (Majmu` Juz 8 hal ). Bahkan dalam riwayat Imam Abu Dawud (no. 1947), disebutkan waktunya secara jelas, al hajju yaumu Arafah (inti haji adalah wukuf pada hari Arafah).

Hadits-hadits tersebut adalah dalil sharih  (jelas dan pasti) tentang tata cara wukuf di Arafah. Bagaimana kita mengartikan sabda Rasul (yang artinya): Barang siapa yang datang ke Arafah (tempat, pen) sebelum fajar pada malam hari Idul Adha (waktu, pen), maka hajinya sah. Di sini dijelaskan waktu wukuf dan tempatnya.

Mafhum mukhalafah  atau kebalikan dari itu, jika seseorang melakukan aktifitas wukuf selain pada waktu yang ditentukan nabi, maka itu jelas-jelas manyalahi hadits dan tidak sah. Terlebih bila kita lihat hadits riwayat Imam Abu Dawud, di situ tersebut dengan jelas kapan wukuf dilaksanakan.

Imam Tirmidzi berkata: Hadits Abdurrahman bin Ya`mur lah yang menjadi landasan, kapan bisa dikatakan sah atau tidaknya wukuf seseorang di Arafah (Nailul Author Imam asy Syaukani: I/136).

Keberadaan hadits ini tidak menafikan ayat sebelumnya, itulah yang dikatakan para ulama. Lalu diambillah kesimpulan dengan pengamalan yang sudah berjalan dalam jangka waktu yang begitu panjang.

Namun pengamalan seperti yang dipahami Masdar adalah salah satu bentuk kerancuan pemahaman terhadap dalil Alquran dan Hadits. Karena berpegang teguh pada kekuatan akal, tanpa mempedulikan asal atau sumber nash, adalah satu perbuatan yang cukup serius untuk ditolak.

Apalagi Masdar sampai mengatakan bahwa pemahaman yang sudah ada selama berabad-abad ini, dianggap sebagai bentuk pengingkaran terhadap salah satu ayat Alquran (lihat lagi wawancaranya dengan Ulil). Hal ini mengingat kesepakatan ulama bahwa barang siapa mengingkari  salah satu ayat Alquran hukumnya adalah murtad,atau keluar dari agama Islam.

Kalau memang benar seperti itu, berapa juta umat Islam yang mengingkari ayat tersebut? Sementara Masdar mengatakan, bahwa pengamalan haji sekarang, dengan pembatasan waktu wukuf di Arafah pada waktu dan tempat yang sudah disepakati para ulama, adalah bentuk pengingkaran terhadap salah satu ayat Alquran. Dia benar-benar lupa bahwa Rasul sendiri secara jelas telah membatasi waktu tersebut seperti dalam HR Abu Dawud tadi. Apakah pembatasan nabi bisa diartikan sebagai bentuk pengingkaan terhadap ayat juga? Ma`adzallah.

Dari sisi lain, Imam Ibnu Hazm mengatakan bahwa sudah menjadi ijma` (konsensus) para ulama bahwa wukuf ada pada tanggal 9 Dzul Hijjah, yaitu hari Arafah (Maratibul Ijma`: hal 45).
Kalaupun  Masdar mengatakan bahwa pelaksanaan haji yang dianut umat Islam dari dulu sampai sekarang lebih dikarenakan tunduk terhadap tradisi, dan tradisi itu dogma,  sebenarnya bukanlah demikian. Ini tidak ada sangkut pautnya dengan tradisi. Tapi merupakan syariat yang harus dipatuhi dengan berdasarkan dalil. Dalam permasalahan inipun terdapat dalil-dalil sharih dan jelas. Baik itu dari Alquran, hadits shahih dan juga ijma ulama.
Menyinggung hadits riwayat Bukhari li takkhudzu anni manaa sikakum (agar kalian mengambil tata cara haji dariku),  Masdar berpendapat bahwa hadits ini hanya sebagai rujukan tata cara haji yang menyangkut syarat dan rukun saja. Tanpa ada kekuatan untuk berbicara dengan bahasa yang lantang akan prosesi haji Rasulullah secara utuh dari segala sisi dan arahnya.

Kalau kita cermati kembali makna syarat dan rukun suatu ibadah, maka ini tidak bisa terlepas dari suatu masa dan tata ruang suatu perbuatan. Kita ambil misal pelaksanaan shalat. Allah berfirman (yang artinya), dan tegakkanlah shalat. Di sini Allah memberi perintah suatu ibadah tanpa dibarengi tata cara pelaksanaannya. Akan tetapi di lain pihak nabi bersabda shalluu kamaa ro-aitumuuni usholli (sholatlah kamu seperti kalian melihat shalatku). Bagaimana kita bisa memahami perintah Allah berupa shalat kalau tidak ada contohnya?

Di sini, kita perlu bertanya, bagaimana kita mengambil cara shalat tadi. Apakah cukup rakaatnya saja? Lalu, dengan ijtihad, shalat bisa dilakukan seenak dan semau kita? Atau waktunya saja, dengan tidak menghiraukan segala sesuatu yang berkaitan dengan dzatnya shalat itu sendiri? Barangkali tidak ada satu pun orang di dunia ini yang mempunyai kesimpulan seperti itu.

Dengan sabda Rasul tadi, ummat Islam langsung bisa memahami dan mengetahui bagaimana mereka menegakkan shalat.

Antara shalat dan haji tidak ada perbedaan, karena keduanya adalah rukun Islam yang harus diyakini. Seperti shalat, masalah haji dijelaskan dengan dalil qurani yang bersifat mutlaq, wa`atimmul hajja wal umrota lillah (dan sempurnakanlah haji dan umrah karena Allah), walillahi alannasi hijjul baiti (Dan untuk Allah, wajib atas manusia haji ke Baitullah), al hajju asyhurun ma`lumat (waktu haji itu adalah beberapa bulan yang diketahui).

Kenapa orang niat haji harus dari batasan-batasan tempat (miqat) yang sudah disebutkan Rasullulah? Kenapa thawaf harus 7 kali, begitu juga sa`i? Kenapa Rasulullah harus wukuf di Arafah, bukankah itu daerah gersang dan panas? Tidakkah Rasulullah mampu untuk berijtihad mencari tempat wukuf yang lebih rindang dan lebih segar?

    Bisa saja orang berdalih begitu,toh dalam teks-teks Alquran tadi, sama sekali tidak disebutkan permasalahan-permaslahan tersebut?

    Hadits khudzu anni manaasikamum (ambillah dariku tata cara haji kalian) menjawab semua itu dengan jelas dan gamblang. Ulama Ushul Fikih sepakat bahwa perbuatan nabi yang bertujuan untuk memberi penjelasan kepada umatnya, tentang amalan yang bersifat wajib, maka perbuatan tadi wajib untuk diikuti (Al-Ihkam lil`Amidi: I/135). Inilah yang dipahami sahabat Ibnu Umar r.a kala ditanya salah satu permasalahan haji (Qurtubhi: II)

Jadi praktek haji Rasulullah pada hari-hari dan waktu-waktu tertentu tadi, walau hanya satu kali saja dilakukan oleh Rasulullah, bukan sebagai kebetulan yang berawal dari ketidaksengajaan atau berlandaskan ketidaktahuan. Namun merupakan syariat yang sudah diturunkan oleh Allah kepada nabi yang tidak berbicara dengan nafsu, namun dengan wahyu Allah (wa maa yantiqu anil hawaa inhuwa illa wahyun yuuhaa).

Apakah kita akan konsisten melaksanakan haji sesuai dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya, atau mengikuti haji ala Masdar?

Kronologi Mengapa
Yusman Roy Ditahan

Sebagai Ketua Komisi Hukum dan Fatwa MUI Kabupaten Malang Periode Tahun 2004 - 2009 maka penulis ingin meluruskan opini negatif yang berkembang di tengah masyarakat, seputar kasus shalat dua bahasa yang terjadi di wilayah Malang, dan sempat mencuat, baik di media tanah air maupun manca negara.

Banyak orang salah persepsi terhadap MUI Kabupaten Malang, setelah mengeluarkan fatwa tanggal 21 Januari 2004, atas kesesatan ajaran Yusman Roy. Mereka beranggapan bahwa penahanan Yusman Roy, disebabkan karena  tata cara shalat yang menggunakan dua bahasa terkait fatwa tersebut. Sebagian orang, beranggapan bahwa permasalahan Yusman Roy adalah urusan khilafiyah fiqhiyyah (perbedaan dalam masalah fikih). Menurut mereka, MUI tidak mempunyai wewenang menvonis sesat ajaran Yusman Roy, apalagi sampai menahannya.

Agar dipahami oleh masyarakat, bahwa  MUI sebagai lembaga, sesuai dengan AD/ART mempunyai kewenangan mengeluarkan fatwa yang bersifat nasehat, sesuai dengan kronologi kasus, disamping pertimbangan syariat. Lantas fatwa tersebut disampaikan kepada pihak-pihak yang dianggap perlu, demi kemaslahatan yang lebih besar.
Dalam kasus Yusman Roy, MUI Kabupaten Malang merespon keresahan dan pengaduan masyarakat terhadap selebaran yang dikeluarkannya.

Selebaran Yusman Roy tersebut dinilai memancing keresahan dan amarah masyarakat, karena gegabahnya Yusman Roy dalam menafsirkan ayat Alquran. Hal ini dinilai oleh masyarakat pada umumnya sebagai pelecehan agama. Masyarakat mulai kasak-kusuk untuk menggerebek rumah yang diklaim oleh Yusman Roy sebagai Pondok Pesantren, dengan menggunakan istilah Yayasan Taqwallah.

Dalam selebarannya, Yusman Roy menganggap imam shalat yang tidak menerjemahkan bacaan Quran-nya, sebagaimana cara shalat versi Yusman Roy, dikatakan sebagai imam yang terlaknat. Dalam selebaran itu, Yusman Roy juga mengatakan, Poro ulama atau Kiyai  yang sedang mengimami shalat berjama`ah apabila dengan sengaja tidak mau menerjemahkan bacaan ayat-ayat suci Alquran kedalam bahasa kaumnya, hal itu berarti perbuatan yang menyesatkan para makmumnya yang belum mengerti bahasa Arab ( Muallaf / Moslim yunior ). Perbuatan semacam itu adalah dilaknat.

Padahal realitanya, jutaan umat Islam pernah menjadi imam shalat dengan tidak diterjemahkan, baik menjadi imam shalat dengan  jumlah jama`ah yang banyak, seperti shalat Jum`at, maupun jama`ah berjumlah sedikit di rumah-rumah atau bahkan antar dua orang.

Umat Islam yang merasa pernah menjadi imam shalat, terbakar emosi dan kemarahannya, bahkan sebagian mereka mengancam akan berbuat anarkis. Terbukti tatkala pengikut Yusman Roy menyebarkan selebarannya di Masjid Besar Hizbullah Singosari Malang, 11 September 2003, secara spontan beberapa orang jama`ah masjid menangkap penyebarnya hingga memukulnya, yang pada akhirnya diserahkan kepada pihak aparat polsek Kecamatan Singosari.

Belum lagi CD ucapan Yusman Roy yang menggunakan bahasa provokatif, diantaranya, Dengan tegas saya melaknat para imam-imam shalat,  yang dengan sengaja menyembunyikan, atau tidak mau menyertai arti, atau terjemahan dengan bahasa yang dapat dimengerti oleh makmumnya, yang mengakibatkan makmumnya tersesat,saya termasuk yang melaknat. Silahkan, saya mau bertanggung jawab bila ada orang yang mempermasalahkan.

Masih dalam CD itu, Yusman Roy juga berkomentar, bahwa  orang  yang mengatakan, Tidak sah shalat dengan disertai terjemahan,  sebagai orang yang goblok pol (sangat bodoh). Yusman Roy  juga menganggap sesat orang yang tidak mengerti bahasa Arab tetapi shalat dengan imam yang berbahasa Arab. Orang yang shalat hanya memakai bahasa Arab saja, menurutnya, orang ini telah dicontohkan oleh Allah bahwa dia adalah model orang yang dzalim, goblok (bodoh), dan tidak tahu apa-apa.

 Arogansi Yusman Roy menjadi bertambah nyata, tatkala dia mendatangi kantor Depag dan MUI pada tanggal 26 Januari 2005, dengan maksud agar dua lembaga tersebut bersedia melegalisir yayasan dan edarannya.

Padahal  dua lembaga tersebut menilai, yayasan Yusman Roy  tidak memenuhi syarat administrasi sebagaimana mestinya. Lantas Yusman Roy mengancam akan membunuh pegawai Depag dan pengurus MUI, sekaligus para penanda tangan fatwa sesat yang dikeluarkan oleh MUI. Peristiwa ini disaksikan oleh aparat kepolisian wilayah Sukun Malang.

Berdasarkan banyak pertimbangan, serta kekhawatiran terjadinya tindakan anarkis dari masyarakat, maka pihak aparat bekerja sama dengan Pemda Kabupaten Malang, mengambil tindakan pengamanan terhadap Yusman Roy. Terlebih setelah masyarakat Pasuruan turun ke lokasi rumah Yusman Roy di Sumber Waras Lawang Malang, serta berita masyarakat Sukorejo dan Kepanjen, dan beberapa kota lainnya, akan menyusul aksi tersebut. Belum lagi kasak-kusuk di kalangan pondok pesantren, yang merasa institusi pondok pesantren telah dilecehkan oleh Yusman Roy, karena mengklaim rumah dan tempat aktifitasnya sebagai pondok pesantren. Apalagi adanya kabar bahwa Yusman Roy memelihara anjing herder di rumahnya. Terbukti majalah Nurani memuat photo Yusman Roy sedang berjabatan tangan dengan anjingnya. Photo ini menyulut kemarahan kalangan pondok pesantren.

    Mengenai substansi ajarannya, Yusman Roy mempunyai persepsi bahwa wajib bagi Imam shalat tatkala mengimami shalat, di saat membaca al Fatihah, harus disertai terjemahannya, misalnya: Bismillahir rahmaanir rahiim, Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang; Alhamdu lillaahi rabbil aalamiin, Segala puji bagai Allah Tuhan sekalian alam. Demikian dan seterusnya, dengan tujuan agar para makmum memahami isi Alquran yang dibacanya.

Dalam tulisannya, Yusman Roy menukil beberapa cuplikan ayat Alquran. Hanya saja bagi orang yang memahami ajaran agama Islam dengan baik, akan mengatakan bahwa ayat yang dinukil tersebut tidak ada relevansinya dengan tata cara shalat yang diajarkannya. Bahkan ia mengatakan bahwa tidak ada satu dalilpun, baik dari Alquran maupun Hadits yang melarang penerjemahan Alquran di dalam shalat. Dengan diterjemahkan justru sangatlah afdal (lebih utama) menurutnya.

     Kalau kita jeli dan cerdas dalam memahami Alquran dan Hadits, khususnya di dalam masalah shalat, tentu pemahaman di atas tidak perlu terjadi. Beberapa kitab para ulama salaf telah membahasnya dengan rinci. Dalil-dalilnya pun konkrit, baik dari Alquran maupun Hadits. Diantara kitab-kitab tersebut adalah Kifaayatul Akhyaar (oleh Imam Taqyuddin Abu Bakar Bin Muhammad Al Husaini), An Nafahaat As Shamadiyah (oleh Imam Abdurrahman Mahmud al Juhani ), Shahih Muslim  (Imam Muslim), dan kitab-kitab lainnya yang membahas tentang Mubthilaatus Shalaat (Beberapa perkara yang membatalkan shalat). Inti dari kitab-kitab tersebut di atas, menerangkan bahwa cara shalat yang diajarkan oleh Yusman Roy adalah batal alias tidak sah. Shalat yang batal wajib di-qadla (diganti).

Nukilan ringkas hadits Nabi SAW riwayat Imam Muslim adalah sebagai berikut: Dari Zaid bin Arqam ra, beliau berkata, Dulu kami pernah berbincang-bincang tatkalah shalat, sehingga turun firman Allah ta`ala - Waquumuu lillaahi Qaanitiin  (Shalatlah karena Allah dengan penuh khusyuk), lantas kami diperintah untuk diam dan dilarang berbicara. Bahkan Nabi SAW menegur Mu`awiyah bin Alhakam Assulami yang mendoakan yarhamukallah (semoga Allah merahmatimu) kepada orang yang bersin di dalam shalat, Sesungguhnya shalat itu tidak boleh sedikitpun dicampuri pembicaraan orang. Sesungguhnya bacaan shalat itu hanyalah tasbiih (subhaanallah), takbiir (Allahu akbar) dan bacaan Alquran. Sedangkan terjemahan bacaan shalat tergolong pembicaraan.

    Nabi juga mengajarkan bacaan-bacaan yang menjadi ketentuan bagi pelaksanaan shalat, sekaligus tata cara gerakan serta waktu-waktunya. Hingga beliau perlu menegaskan dengan sabda beliau,  Shalluu kamaa ra-aitumuunii ushallii (Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat tata caraku dalam shalat). Inilah yang dinamakan amrun tauqiifiy. Maksudnya, ibadah yang langsung diajari dan direkomendasikan oleh Nabi SAW yang tidak bisa ditawar oleh siapapun. Hukumnya wajib diikuti oleh umat, baik faham artinya atau tidak. Untuk memahami bacaan-bacaan yang ada di dalam shalat, umat Islam bisa mempelajarinya di lain waktu di luar shalat.

Di dalam upaya menguatkan opininya, Yusman Roy menukil ayat (yang artinya) Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan. (QS.Annisa  43).

Yusman Roy salah persepsi pada potongan ayat (yang artinya) sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan,  yang mana menurut pemahamannya harus diterjemahkan. Padahal maksud ayat ini adalah larangan melakukan shalat dalam keadaan mabuk, misalnya karena minum arak. Sebab orang mabuk tidak bisa mengontrol pembicaraan. Bahkan membaca Alquran di saat mabuk bisa merubah bacaan Alquran yang sekaligus juga akan merubah artinya. Padahal memasukkan satu kata dari pembicaraan orang bisa membatalkan shalat, apalagi dengan mengigau saat mabuk. Untuk itulah diturunkan ayat ini.

Ayat berikutnya yang dinukil Yusman Roy adalah (yang artinya), Kami tidak mengutus seorang Rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka (QS. Ibrahim  4).

Ayat ini juga dipelintir dengan gegabah, bahwa tatkala seorang imam memimpin shalat, maka ia harus menerjemahkan dengan bahasa kaum di mana ia hidup. Padahal ayat ini mempunyai arti, bahwa setiap Rasul yang diutus oleh Allah, pastilah menggunakan bahasa kaumnya. Hal ini untuk mempermudah penyampaian syariat Allah. Demikian juga Nabi Muhammad  SAW, diutus dengan menggunakan bahasa Arab, sebab beliau hidup di kalangan bangsa Arab. Maka dengan sendirinya, bahasa Arab menjadi bahasa agama Islam. Setiap muslim wajib menguasai bahasa Arab, minimal sebatas yang dipergunakan sebagai ibadah wajib yang tidak bisa ditawar. Seperti pelaksanan ibadah shalat yang sifatnya tauqiify (dogmatis).

Sudah menjadi pengertian umum, bahwa setiap bahasa yang berkembang di dunia ini mempunyai ciri khas masing-masing. Para pakar bahasa pasti mengatakan tidak akan mungkin menerjemahkan suatu bahasa tepat seperti aslinya baik secara gramatikal, dialek, sastra, keindahan susunan, dan lain sebagainya. Khusus  dalam Alquran, terdapat rahasia ijaaz lughawi (mukjizat bahasa) yang hanya dimengerti oleh orang-orang yang menguasai sastra Arab yang bernilai tinggi.

QS Ibrahim  4 di atas, sama sekali tidak ada keterkaitannya dengan masalah tata cara shalat yang difahami Yusman Roy. Apalagi dengan nukilan ayat berikut yang artinya, Dan jikalau Kami jadikan Alquran itu suatu bacaan dalam selain bahasa Arab, tentulah mereka (orang kafir Quraisy) mengatakan: mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya (dengan bahas Arab yang kami fahami) ? Apakah (patut Alquran) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab? Yusman Roy menandaskan, bahwa maksud dari Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya? adalah kok tidak disertai terjemahan bahasa kaum?

    Ayat ini bukanlah perintah untuk menerjemahkan bacaan Alquran di dalam shalat. Tapi menerangkan bahwa intrik-intrik orang kafir Quraisy, selalu mencari dalil, agar mereka bisa menjatuhkan Islam dan Nabi Muhammad SAW, dengan pernyataan-pernyataan konyol dalam menolak Alquran. Untuk itulah Allah menceritakan, Andaikata Alquran ini diturunkan dalam bahasa Ajam (non-Arab), pasti orang kafir Quraisy  akan berkomentar kami tidak faham. Namun kenyataannya Allah menurunkan Alquran dengan bahasa Arab, maka tidak ada jalan bagi orang kafir Quraisy untuk menolaknya.
 
    Sebagian kalangan berpendapat, permasalahan ini merupakan khilafiyah fiqhiyyah (perbedaan dalam masalah fiqih). Imam Abu Hanifah, menurut hasil kajian mereka, memperbolehkan orang shalat untuk membaca Al Fatihah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Persia, baik orang tersebut cakap membaca Alquran atau tidak.

Padahal Imam Abu Hanifah sendiri, sebenarnya telah merujuk (mencabut) pendapatnya tentang sahnya shalat dengan bahasa Persia, bagi orang yang bisa berbahasa Arab. Imam Abu Hanifah tidak menggunakan lagi pendapat tersebut, karena yang diperintahkan adalah membaca teks Alquran, sesuai dengan firman Allah SWT (yang artinya) : Maka bacalah apa yang mudah bagimu dari Alquran. Rujuk Abu Hanifah ini bisa dilihat di Kitab at Taqrir wa at Tahbir, karangan Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Hasan bin Ali bin Sulaiman bin Umar bin Muhammad (825-879H), juz 2 / hal 283-285, cetakan Darul Fikr Beirut Lebanon, 1996. Juga di Kitab al Fiqhu al Islami wa Adillatuh, karya Dr. Wahbah az Zuhaily (Syria), Juz I / hal 255.

Berkaitan dengan landasan syar`i di atas, dengan didukung oleh ayat-ayat Alquran dan hadits yang berhubungan dengan masalah ini, serta pengaduan tentang keresahan masyarakat, maka pada tanggal 21 Januari 2004, MUI Kabupaten Malang mengeluarkan Keputusan Fatwa yang salah satu bunyinya (Pasal I): Ajaran yang disebarkan oleh KH. Moch. Yusman Roy melalui dua selebaran yang dibagikan kepada  jama`ah Jum`at di beberapa masjid di kecamatan Lawang dan Singosari yang berjudul  Kita Sudah Merdeka dan Cara Shalat dan Mengimami Shalat Berjama`ah yang Afdhol, adalah sesat dan menyesatkan ummat Islam dan merusak syariat Islam yang telah diajarkan Nabi Muhammad SAW.

Yusman Roy sebenarnya telah mengirim surat resmi permintaan maaf kepada MUI, dan MUI menerima permintaan maaf itu. Namun, ternyata dia masih terus menyebarkan selebaran dan CD, yang isinya pelaknatan terhadap imam shalat yang tidak menerjemahkan bacaan shalatnya.

Bahkan klimaksnya adalah tampilnya Yusman Roy dalam dialog yang diadakan di IAIN Sunan Ampel Surabaya, dan tampilnya di media elektronik, serta diekspos oleh media massa secara besar-besaran, termasuk oleh Radio BBC.

Tidak menutup kemungkinan, adanya pihak ketiga terobsesi oleh kasus Aminah Wadud, seorang imam wanita shalat Jum`at di gereja dari kalangan kelompok  liberal di Amerika, yang berusaha mencuatkan kasus ini.

 Dalam gugatan resmi pihak  Yusman Roy yang diajukan ke Pengadilan Negeri Kabupaten Malang, tertera rincian pengeluaran dana untuk selebaran dan kaset CD yang dia sebarkan, senilai Rp 1 Milyar.

Padahal menurut pengakuan Yusman Roy kepada kalangan pers, dia seorang pengangguran. Dengan demikian, timbullah asumsi masyarakat yang mengindikasikan ada pihak ketiga di balik kasus ini.

Maka sesuai tugas dan wewenangnya, sudah tepat tindakan MUI Kabupaten Malang mengeluarkan fatwa kesesatan ajaran Yusman Roy. Fatwa MUI Kabupaten Malang, ini juga telah dikuatkan oleh fatwa MUI Propinsi Jatim, dan fatwa MUI Pusat. Bahkan banyak sekali ormas serta kalangan pergerakan Islam yang mendukung fatwa tersebut.

Diantaranya Hizbut Tahrir Indonesia, FPI Jatim, MMI, FPIS Surakarta, FSPS (Forum Silaturahmi Peduli Syariat), Haiah as Shofwah, Hidayatullah, PBB Jatim, PKS, TPM (Tim Pengacara Muslim) Pusat, TPBB (Tim Pengacara Bom Bali), Tim Pengacara dari Kosgoro, NU Kabupaten Malang, Muhammadiyah Malang, Persatuan Pengacara se-Surabaya, LBH UMM, kalangan habaib, pondok-pondok pesantren, dan masih banyak ormas-ormas lainnya. Tak kalah banyaknya juga dukungan yang bersifat perorangan. Dukungan mereka ini disampaikan baik via telepon, SMS, tanda tangan, serta pernyataan sikap, baik secara lisan maupun tulisan, kepada pengurus MUI Kabupaten Malang.

Ditahannya Yusman Roy sejak hari Jum`at tanggal 6 Mei 2005, pada dasarnya adalah akibat ulah provokasinya. Bahasa yang digunakan Yusman Roy menimbulkan kemarahan masyarakat yang menjurus ke tindakan anarkis. Karena itulah aparat sesuai dengan kewenangannya, mengambil langkah pengamanan terhadap Yusman Roy, sekaligus demi keamanan wilayah Malang, agar tidak terjadi peristiwa SARA sebagaimana yang terjadi di Poso.

Maka pada pagi hari Jumat, sebelum  penahanan Yusman Roy, sekitar 30 orang berkumpul di Pendopo Kabupaten Malang. Mereka berasal dari berbagai instansi, mulai dari Muspida Kabupaten  Malang, Tokoh Agama, KOMINDA, badan legislatif, dan MUI sendiri. Semua yang hadir dalam rapat koordinasi itu menyatakan bahwa apa yang diajarkan Yusman Roy bisa meresahkan masyarakat, bahkan bisa menjurus ke tindak kerusuhan massal. Pada hari itu juga,  keluar keputusan Bupati Malang untuk menghentikan kegiatan Pondok I`tikaf Ngaji Lelaku pimpinan Yusman Roy.

Perlu dipahami oleh masyarakat, kasus Yusman Roy, mulai sejak awal, tidak terkait dengan kepentingan politik apapun termasuk Pilkada. MUI adalah lembaga keagamaan yang mengurusi keummatan. Dalam aktifitas maupun fatwanya, tidak mempunyai tendensi politik apapun, apalagi memanfaatkan situasi politik yang berkembang. Kasus ini murni urusan ketersinggungan ummat Islam atas provokasi Yusman Roy.

Meskipun kasus Yusman Roy sudah menasional, bahkan sudah go-internasional, namun MUI Kabupaten Malang sedapat mungkin menyelesaikan perkara ini secara lokal. Sebab tujuan MUI tiada lain hanyalah untuk kemaslahatan mayoritas ummat, dan kepentingan yang lebih besar.
 
 
Kembali Ke atas | Kembali Ke Index Karya Ilmiah
 
 
 
  Situs © 2009-2017 Oleh Pejuang Islam