URL: www.pejuangislam.com
Email: editor@pejuangislam.com
 
Halaman Depan >>
 
 
Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami
Ustadz H. Luthfi Bashori
 Lihat Biografi
 Profil Pejuang Kaya Ide
 Imam Abad 21
 Info Asshofwah
Karya Tulis Pejuang


 
Ribath Almurtadla
Al-islami
 Pengasuh Ribath
 Amunisi Dari Tumapel
 Aktifitas Pengasuh
 Perjuangan Pengasuh
 Kalender Ribath
Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
 Sekilas Profil
 Program Pendidikan
 Pelayanan Masyarakat
 Struktur Organisasi
 Pengasuh PIQ
 
Navigasi Web
Karya Tulis Santri
MP3 Ceramah
Bingkai Aktifitas
Galeri Sastra
Curhat Pengunjung
Media Global
Link Website
TV GARIS LURUS
Kontak Kami
 
 
 Arsip Teriakan Pejuang
 
MASUK SURGA DENGAN AMAL SHALEH & KEIMANAN 
  Penulis: Pejuang Islam  [11/4/2017]
   
SETIAP ORANG ITU DIDAMPINGI SETAN 
  Penulis: Pejuang Islam  [9/4/2017]
   
TANDA CINTA KEPADA ALLAH, TIDAK MELANGGAR ATURAN SYARIAT 
  Penulis: Pejuang Islam  [8/4/2017]
   
SILATURRAHIM ULAMA JAWA TIMUR & CAGUB MUSLIM UNTUK DKI 
  Penulis: Pejuang Islam  [6/4/2017]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [6/4/2017]
   
 
 Book Collection
 (Klik: Karya Tulis Pejuang)
Pengarang: H. Luthfi B dan Sy. Almaliki
Musuh Besar Umat Islam
Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat
Dialog Tokoh-tokoh Islam
Carut Marut Wajah Kota Santri
Tanggapan Ilmiah Liberalisme
Islam vs Syiah
Paham-paham Yang Harus Diluruskan
Doa Bersama, Bahayakah?
 
 WEB STATISTIK
 
Hari ini: Senin, 24 April 2017
Pukul:  
Online Sekarang: 5 users
Total Hari Ini: 51 users
Total Pengunjung: 3404313 users
 
 
Untitled Document
 PEJUANG ISLAM - KARYA ILMIAH USTADZ LUTHFI BASHORI
 
 
SEJARAH FIGUR MANUSIA PEMBAWA BENCANA 
Penulis: H. LUTHFI BASHORI [ 4/9/2016 ]
 
Berbicara tentang figur-figur manusia pembawa bencana, maka di dalam sejarah kehidupan para Nabi, banyak terdapat riwayat manusia-manusia yang perilakunya menyebabkan datangnya kemurkaan Allah. Sebut saja ummat Nabi Nuh. Lantaran kemungkaran yang mereka perbuat maka Allah berkehendak menurunkan air bah yang membanjiri seluruh negeri, dan menenggelamkan penduduknya yang pembangkang dan selalu berbuat kemungkaran.

Sebelum berlanjut membahas timbulnya bencana yang diakibatkan ulah kaum Nabi Nuh, ada baiknya menarik ulang sejarah pembangkangan dan penolakan Iblis, tatkala diperintah oleh Allah untuk sujud menghormat kepada Nabi Adam, maka dengan kepongahan dan sifat liberalnya, Iblis tidak bersedia terikat oleh peraturan Syariat Allah, karena ia berpikir bahwa dirinya yang diciptakan dari api, kedudukannya lebih mulia daripada Adam yang diciptakan dari tanah.

Peristiwa di atas, adalah sebagai awal kemaksiatan yang dilakukan oleh makhluq kepada Allah SWT Sang Maha Pencipta. Pembangkangan Iblis terhadap perintah Allah ini, juga sebagai awal penolakan terhadap pemberlakuan hukum syariat yang diwajibkan oleh Allah kepada segenap makhluq ciptaan-Nya, dan sejak detik itu pula, Iblis yang dilaknat oleh Allah atas pembangkangannya, mulai menebarkan jaring-jaring dan jerat-jeratnya untuk menjerumuskan manusia agar ikut masuk ke dalam neraka Jahannam.

Nabi Adam dan Siti Hawa, hampir hanyut terjerat jaring-jaring Iblis, jika saja tidak segera mendapat hidayah untuk bertaubat kepada Allah dan diampuni segala dosanya. Namun akibat bujuk rayu Iblis tersebut, Nabi Adam dan Siti Hawa harus rela turun ke bumi untuk menjalani hidup yang penuh dengan rintangan dan cobaan. Pada akhirnya dengan pertaubatan yang sempurna, serta gigihnya beliau menjalankan syariat yang digariskan oleh Allah, maka Nabi Adam dan Siti Hawa mendapatkan maqam derajat yang sempurna di sisi Allah. Iblis pun diusir dari sorga dan hidup di dunia dengan penuh kehinaan atas laknat dari Allah, namun Iblis dan keturunannya mendapat keistimewaan penangguhan hidup hingga datang hari Qiamat.

Jerat-jerat setan Iblis kepada bangsa manusia, ternyata tidak berhenti sampai di situ, dan atas dasar sumpahnya untuk selalu menjerumuskan manusia, Iblis pun mulai melebarkan jaringan sayapnya. Salah satu setrategi Iblis antara lain menebarkan keliberalan pemikiran dan pembangkangan perilaku. Bahkan manusia pertama yang menjadi anggota Jaringan Iblis, adalah Qabil bin Adam, seorang tokoh liberal yang menolak hukum syariat pernikahan sebagaimana yang digariskan oleh Allah.

Qabil adalah salah satu dari sekian banyak putra-putri Nabi Adam. Sebagaimana diketahui, setiap kali Nabi Adam mempunyai anak, selalu terjadi kembar pasang putra dan putri. Allah mengatur peristiwa kelahiran putra putri Adam yang selalu kembar pasang, dengan tujuan percepatan perkembangan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Adapun urusan syariat pernikahan di kalangan komunitas manusia di jaman itu, Allah menerapkan kewajiban pernikahan silang. Artinya tidak halal seseorang menikah dengan saudara kembarnya sendiri, karena terhitung mahram sesuai syariat yang berlaku saat itu. Tapi Iblis amat lihai menebarkan jaringan keliberalannya kepada Qabil, hingga Qabil terpengaruh untuk menentang syariat Allah dan tega membunuh adiknya, Habil bin Adam. Iblis merasuki hati Qabil dan menumbuhkan rasa cemburu kepada sang adik.

Dari cela inilah Iblis berhasil menciptakan jiwa penolakan pada diri Qabil terhadap berlakunya syariat Allah dalam pernikahan. Seharusnya Qabil menikahi Labudza saudara kembar dari Habil sang adik, sedang Habil menikahi Iqlimah saudara kembar dari Qabil sang kakak. Namun karena pengaruh godaan setan Iblis, jadilah Qabil lebih menuruti hawa nafsu dan pemikiran liberalnya, sehingga tidak sudi melaksanakan syariat Allah yang dirasa oleh Qabil merugikan dirinya. Inilah bencana kemanusiaan pertama kali terjadi dalam sejarah hidup manusia. Allah berfirman yang artinya "Barangsiapa yang membunuh satu jiwa (dengan kedhaliman), sama halnya telah membunuh semua manusia".

Usai membunuh adiknya, maka Qabil pun menikahi Iqlimah saudara kembarnya sendiri. Hasil perkawinan antara Qabil dan Iqlimah inilah lahir tokoh-tokoh liberal berpemikiran sesat. Ternyata keberadaan tokoh liberal sudah ada sejak jaman Qabil, dan terus berkembang hingga datang hari Qiamat nanti.

Sebut saja Kan`an putra Nabi Nuh. Kan`an adalah figur tokoh liberal yang durhaka kepada orang tuanya karena memilih berbeda agama dengan ayahnya. Kan`an bersama kaumnya telah membangkang kepada Sang Ayah, Nabi Nuh AS. Padahal Nabi Nuh hanya mengajak putra dan kaumnya agar menyembah Allah, dan meninggalkan berhala-berhala serta bintang gemintang sebagai sesembahan mereka. Kan’an pun membangkan, dan karena pembangkangan Kan`an beserta kaumnya terhadap kewajiban syariat ketauhidan, yaitu perintah beribadah hanya kepada Allah, sedangkan Nabi Nuh sendiri telah mendakwahi mereka tidak kurang dari 950 th, maka Allah murka dan mengirim bencana banjir yang menenggelamkan seluruh negeri, dan menghancurluluhkan kaum kafir liberal, termasuk Kan`an yang tidak pernah tunduk kepada syariat Allah, dan tidak pernah mengindahkan larangan-larang ayahnya. Hal tersebut karena Iblis telah berhasil menggiring Kan’an dan teman-temannya hingga terperangkap dalam Jaringan iblis Liberal.

Pada jaman kejayaan Kaum `Ad, yang mana kehidupan mereka senantiasa bergelimangan harta, karena keberhasilannya dalam pengembangan bidang pertanian, dan kemodernan bidang pembangunan. Sehingga banyak gedung pencakar langit yang berhasil mereka dirikan. Lagi-lagi Iblis bermain dan menguasai pikiran Kaum `Ad. Iblis dengan akal licik dan pemikiran liberalnya, berhasil menanamkan keyakinan sesat seraya membisikkan bahwa tuhan kaum `Ad adalah berhala Shada, berhala Shamud, berhala Alhaba, dan lain sebagainya. Kaum `Ad pun setia mengikut persekutuan Jaringan Iblis Liberal.

Untuk menyadarkan kaum `Ad, Allah mengirimkan utusan-Nya, yaitu Nabi Hud AS yang bertugas mengajak mereka agar tidak menyembah tuhan selain Allah, Tuhan yang telah menurunkan rizqi kepada mereka. Rupanya kaum `Ad telah terkungkung oleh jerat-jerat Iblis, maka kaum `Ad menolak dan menghina Nabi Hud. Bahkan mereka menantang seraya mengatakan, jika benar Hud adalah Nabi utusan Tuhan, hendaklah secepat mungkin minta kepada Tuhannya, agar mendatangkan bencana alam bagi kaum `Ad. Allah pun murka dan mengirim bencana kekeringan selama tiga tahun, disambung angin topan dan puting beliung yang menewaskan Kaum `Ad.

Beda lagi di jaman Nabi Luth AS, Iblis terus melancarkan serangannya dalam bentuk yang lain. Jaringan Iblis Liberal memakan korban cukup banyak, satu demi satu kaum Nabi Luth terperangkap, mereka melakukan perkawinan sesama jenis, perkawinan yang jelas-jelas bertentangan dengan Syariat Allah. Pengaruh Iblis kali ini cukup mencengangkan, sehingga istri Nabi Luth pun ikut terjerumus menjadi anggota Jaringan Iblis Liberal. Maka Allah murka dan menurunkan bencana alam berupa hujan batu yang menimpa kaum Nabi Luth.

Jika dikupas satu persatu maka hampir di era setiap Nabi yang diutus, pasti ada anggota Jaringan Iblis Liberal yang menentang para Nabi, dan mengotori kesucian syariat Allah. Sebut saja kaum Tsamud sang penentang Nabi Shaleh. Kaum Tsamud berusaha membunuh Nabi Shaleh, sehingga Allah murka dan mengirim bencana petir Assha’iqah, dengan frekwensi tinggi hingga menghancurkan kaum Tsamud.

Adapun Namrud di era dakwah Nabi Ibrahim, adalah tokoh liberal yang paling terkenal seantero negeri. Namrud termasuk tokoh liberal yang rakus terhadap kekuasaan, bahkan karena kekafirannya dan keliberalannya, Namrud menganggap bahwa dirinya sama-sama berkuasa dengan Tuhan.

Di lain tempat Iblis tetap menebar jaringan keliberalannya pada kaum Madyan. Terbukti penolakan mereka terhadap syariat yang dibawa oleh Nabi Syu`ib. Yaitu syariat perekonomian yang mewajibkan setiap orang harus selalu jujur saat menjalankan pelaksanaan jual beli. Ternyata Kaum Madya menentang bahkan mengancam akan mengusir Nabi Syuaib jika terus ikut mengurusi sistem perekonomian saat itu. Kenyataan di lapangan kaum Madyan memberlakukan jual beli secara tidak adil, khususnya dalam penakaran timbangan. Atas keliberalan kaum Madyan yang menolak sistem perekonomian berbasis syariat, maka Allah menurunkan bencana gempa bumi dahsyat dan guntur serta kilatan petir yang menyambar kaum Madyan.

Rupanya Iblis Liberal, masih enjoy dengan segala tipu daya dan propaganda manis yang disodorkan kepada para kolega dan mitranya. Sasaran yang cukup ekstrim terjadi pada Fir`aun. Di saat Nabi Musa mendakwahi Fir`aun agar beribadah menyembah Allah, Tuhan yang Maha Esa, Tuhan yang menciptakan dunia seisinya, ternyata Fir`aun sudah kerasukan liberalisme Iblis dalam kondisi yang sangat akut. Dengan kesombongannya, Fir`aun mengaku sebagai tuhan, dan mengancam akan memusnahkan Nabi Musa beserta para pengikutnya. Maka dalam peristiwa pengejaran yang dilakukan oleh Fir`aun terhadap Nabi Musa hingga dekat lautan, Allah pun murka dan menenggelamkan Fir`aun dengan tentaranya ke dalam laut sebagaimana riwayatnya yang telah masyhur di kalangan umat Islam.

Di jaman Nabi Muhammad SAW, ada sedikit perbedaan cara beliau SAW menghadapi umatnya. Nabi Muhammad SAW adalah seorang Rasul yang diutus sebagai rahmatan lil `alamin, diutus kepada seluruh umat manusia tanpa kecuali, berbeda dengan para Rasul sebelumnya yang diutus hanya kepada kaumnya saja. Nabi Muhammad SAW tidak serta merta meminta kepada Allah untuk menurunkan siksa berupa bencana secara langsung bagi umatnya yang mengingkari kewajiban melaksanakan syariat Allah, atau bahkan perilaku kekafiran serta penentangan mereka kepada Nabi Muhammad SAW. Tetapi keberadaan beliau SAW justru sebagai rahmat bagi umat Islam sekaligus bagi kaum kafir.

 Adapun implementasi rahmat Nabi Muhammad SAW bagi umat Islam, adalah perjuangan beliau SAW dalam membimbing umat Islam agar selalu selamat dalam menjalani hidup di dunia untuk menuju kehidupan akhirat nanti. Sedang rahmat beliau SAW bagi kaum kafir adalah berupa `takkhirul adzab` alias penundaan siksa. Artinya kaum kafir di era kerasulan Nabi Muhammad hingga kelak datang hari Qiamat, diberi kesempatan menikmati kehidupan duniawi.

Perlu diketahui, demi rasa cintaNya kepada Nabi Muhammad SAW, maka Allah tidak berkenan menurunkan siksaNya berupa bencana alam bersifat global, yang dapat menghancurluluhkan seluruh kehidupan dunia, selain nanti di hari Qiamat. Tetapi bukan berarti Allah menafikan semua bencana dan memastikan tidak akan turun di era kerasulan Nabi Muhammad, namun peringatan-peringatan Allah tetap diturunkan berupa bencana alam bersifat parsial, terjadi di beberapa sudut bumi. Hal itu sebagai warning bagi kemungkaran yang diperbuat oleh umat manusia.

Sekali lagi, peran setan Iblis Liberal tetap dominan menguasai sendi-sendi kehidupan manusia. Di era kerasulan Nabi Muhammad, Iblis merasuki tokoh-tokoh kafir berpemikiran liberal semisal Abu Lahab, Abu Soyan dan sebagainya, yang selalu memusuhi dan merintangi dakwah Nabi Muhammad SAW. Abu Lahab bersama koleganya atas prakarsa Jaringan Iblis Liberal, dengan terang-terangan menentang upaya Nabi Muhammad SAW untuk menyebarkan agama Islam dan memberlakuan hukum syariat secara konstitusional di bilangan kota Makkah.

Bahkan Abu Lahab dan para koleganya sempat membaikot hingga mengusir dan berusaha membunuh Nabi Muhammad beserta kaum muslimin, yang mana saat itu keberadaannya masih tergolong minoritas. Pada akhirnya kaum muslimin berbondong-bondong melakukan hijrah ke kota Madinah Almunawwarah mengiringi Nabi Muhammad SAW.

Di kota Madinah inilah beliau SAW disambut oleh penduduknya, dan diberikan keleluasaan memberlakukan hukum syariat Islam secara resmi kenegaraan, sesuai dengan perintah Allah lewat firman-firman-Nya. Melihat dakwah Nabi Muhammad yang semakin pesat, rupanya Iblis liberal tidak tinggal diam, dan berupaya melebarkan jaringannya, antara lain merasuki jiwa dan pemikiran Musailimah Alkaddzab yang hidup di daerah Yamamah, hingga timbul keberanian mengaku sebagai nabi dengan maksud untuk menyaingi eksistensi kerasulan Nabi Muhammad SAW. Maka Musailimah yang berpemikiran liberal dan menentang pemberlakuan syariat Islam, berusaha mempengaruhi masyarakat agar ikut menentang dakwah Nabi Muhammad SAW.

Di jaman kekhalifahan Saiyyidina Ali bin Thalib, setan Iblis pun terus melancarkan jerat-jeratnya dan berhasil menjaring Abdullah bin Saba tokoh Yahudi yang pura-pura masuk Islam. Iblis dengan sangat lihainya, mampu meliberalkan pemikiran korbannya, hingga Abdullah bin Saba mendeskripsikan umat Islam lebih mudah jika dihancurkan dari dalam, terlebih jika melalui jalur syariat yang mengatur bahwa cinta Nabi Muhammad SAW mengharuskan cinta keluarga Nabi SAW. Maka pemikiran liberal Abdullah bin Saba mulai menjerat kalangan umat Islam yang imannya dan pemahaman keagamaannya masih dangkal dan awam. Abdullah bin Saba menggiring pengikutnya untuk menjunjung tinggi Sayyidina Ali bin Abi Thalib di atas batas kewajaran. Sebagian pengikut Abdullah bin Saba ada yang mengatakan bahwa derajat Sayyidina Ali lebih tinggi daripada Nabi Muhammad SAW dan para malaikat muqarrabin, bahkan sampai pada batas menuhankan Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Para kolega Abdullah bin Saba kini menjadi masyarakat penduduk negeri Iran, beraliran Syiah Imamiyah.

Jaringan Iblis Liberal, ternyata beranak-pianak di kalangan penganut Syi’ah Imamiyah. Sebut saja Alkulaini di Iran, salah seorang tokoh pengikut Abdullah bin Saba pengarang kitab Alkaafi, yang isinya banyak melecehkan Islam dan umat Islam. Misalnya Alkulaini mengklaim bahwa menurutnya Abu Ja’far mengatakan : (Semua sahabat telah murtad sepeninggal Nabi Muhammad kecuali 3 orang, aku katakan siapa 3 orang itu , ia berkata Miqdad bin Aswad, Abu Dzar Alghifari dan Salman Al Farisi), Ternyata Khomeini pun tidak mau kalah dari Alkulaini. Di dalam kitab karangan Khomeini berjudul Alhukumatul Islamiyah menyatakan wa tusyiiru annal kufra shadara min Umar, artinya: hal itu menunjukkan bahwa kekafiran telah ada pada diri Umar bin Khatthab.

 Di sini Khomeini dengan terang-terangan mengkafirkan Kholifah ke dua, Amirul Mukminin Saiyyiduna Umar bin Khatthab, seorang Sahabat yang termasuk paling berjasa bagi kejayaan umat Islam. Seorang Sahabat yang Nabi Muhammad memujinya : Maa salaka Umar fajjan illa salakas syaithanu fajjan aakhar yang artinya : tidaklah Umar melintasi suatu jalan, kecuali setan liberal akan melintasi jalan yang lain. Artinya antara pemikiran maupun perilaku Saiyyidina Umar pasti akan berlawanan dengan pemikiran maupun perilaku setan Iblis. Dari sini tampak jelas jika Khomeini pada hakikatnya adalah termasuk dari anggota Jaringan Iblis Liberal.

Sebagaimana diketahui liberalisme yang dimotori oleh Iblis adalah kesesatan berpikir, terbukti saat Iblis berpikir bahwa dirinya yang diciptakan dari api pasti lebih mulia daripada Adam yang diciptakan dari tanah, maka sudah sepantasnya ia menolak perintah Allah agar bersujud menghormat kepada Adam. Namun dampak negatif liberalisme sangat berpengaruh kepada perilaku para pengusungnya. Contoh kongkrit lainnya adalah saat munculnya Muhammad bin Abdul Wahhab di Saudi Arabia, yang cara berpikirnya nyaris bertentangan dengan aqidah mayoritas umat Islam penghuni dunia, yang mengikuti pemahaman ajaran para ulama salaf Ahhussunnah terdahulu.

Muhammad bin Abdul Wahhab lebih cenderung mengikuti pemahamannya sendiri terhadap teks-teks ayat Alquran maupun Hadits Nabi, dari pada menyelaraskan dengan pemahaman para ulama Ahlussunnah wal jama’ah yang menyebar seantero bumi. Dampaknya, Muhammad bin Abdul Wahhab menuduh semua orang yang tidak se ide dengan pemahamannya, dikatakan sebagai pelaku bid`ah dhalalah (sesat) yang harus dimusnahkan. Bahkan akhir-akhir ini, lantaran kekakuan pemikiran para kolega Muhammad bin Abdul Wahhab, mereka berani menghancurluluhkan tempat-tempat ibadah umat Islam, seperti Masjid Sab`ah (tujuh masjid) yang dibangun oleh para Sahabat Nabi di kota Madinah.

Padahal banyak umat Islam yang datang dari seluruh penjuru dunia pada saat melaksanakan Ibadah haji dan ziarah ke Madinah, berduyun-duyun mendatangi masjid bersejarah tersebut untuk melaksanakan shalat di dalamnya, sekaligus mengenang perjuangan dan jasa para Sahabat.

Alhamdulillah, penulis sendiri sudah beberapa kali melaksanakan shalat di Masjid Sab’ah, pada saat selama tiga tahun menetap dan mencari ilmu di kota Madinah sejak tahun 1983. Tetapi sekitar dua puluh tahunan terakhir ini, umat Islam tidak bisa lagi melaksanakan shalat di Masjid Sab`ah, karena telah dimusnahkan dan dihancurluluhkan oleh para kolega Muhammad bin Abdul Wahhab.

Memang Nabi Muhammad SAW pernah memerintah untuk merobohkan sebuah masjid yang dibangun oleh persekutuan kaum munafiq dengan orang-orang kafir, yaitu Masjid Dhirar. Masjid ini sengaja dibangun oleh Komunitas Lintas Agama, sebuah komunitas liberal yang memeluk sinkretisme atau sekte pencampuradukan agama-agama. Para takmir Masjid Dhirar pernah mengundang Nabi untuk berceramah di Masjid Dhirar, tetapi juga mengundang Pendeta Nasrani Abu Amir dari Yaman. Maka Allah menurunkan ayat sebagai peringatan kepada Nabi Muhammad SAW, agar tidak menghadiri undangan takmir Masjid Dhirar. Bahkan pada akhirnya, Nabi memerintahkan para Sahabatnya untuk merobohkan masjid tersebut. Demikian ini karena keliberalan pemikiran para takmirnya, dan dirasakan oleh Nabi sangat membahayakan aqidah umat Islam.
Tentunya keberadaan Masjid Dhirar sangat berbeda statusnya dengan Masjid Sab`ah yang dibangun oleh Sahabat Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan Sahabat yang lain. Masjid Sab’ah murni dipergunakan untuk beribadah kepada Allah. Namun kini Masjid Sab`ah hanyalah tinggal kenangan dan menjadi sebuah riwayat dalam sejarah, karena ulah tidak simpatik dari kolega Muhammad bin Abdul Wahhab. Ulah penghancuran oleh kolega Muhammad bin Abdul Wahhab ini bukan sekedar terhadap Masjid Sab`ah saja yang jadi sasaran, banyak tempat-tempat bersejarah lainnya menjadi korban kekakuan pemahaman mereka. Sebut saja di Madinah semisal Masjid Ali Uraidhi dan Bi`r Utsman (sumur milik Saiyidina Utsman) juga telah jadi korban pembumihangusan, dan masih banyak tempat bersejarah lainnya yang menjadi sasaran.

Sedangkan di Makkah sendiri penghancuran pun antara lain menimpa sasaran Masjid Abi Qubais di atas Jabal Qubais dan rumah Siti Khodijah. Para kolega Muhammad bin Abdul Wahhab berasumsi bahwa dengan menghancurkan tempat-tempat bersejarah tersebut telah membersihkan perilaku Bid`ah Dhalalah di Makkah dan Madinah.

Padahal penghancuran terhadap masjid-masjid itu sendiri adalah sumber bid`ah dhalalah. Bahkan jika dikaji dengan pemikiran sehat, betapa rusaknya aqidah mereka yang telah berani membumihanguskan rumah-rumah ibadah umat Islam, serta tempat-tempat peninggalan para Sahabat Nabi. Bagaimana jika saja umat Islam Ahlussunnah wal jamaah yang menjadi mayoritas penduduk muslim dunia, mengadakan aksi turun jalan lantaran melakukan aksi solidaritas kepada para Sahabat Nabi, yang dengan susah payah membangun masjid-masjid, ternyata menjadi sasaran ulah para kolega Muhammad bin Abdul Wahhab ?

Semoga umat Islam semakin dewasa dalamm menyikapi perilaku tidak simpatik ini. Bagaimana tidak, di saat umat Islam giat berlomba-lomba membangun masjid, aktif merawat tempat-tempat ibadah, dan melestarikan tempat-tempat warisan budaya Islam bernilai historis yang tinggi, bahkan sebagian umat Islam ada yang dengan sengaja menciptakan sejarah untuk tujuan pelestarian peradaban Islam di mata dunia, justru kolega Muhammad bin Abdul Wahhab sibuk menghancurkan masjid-masjid dan tempat-tempat bersejarah.

Kembali mengingat jerat-jerat Jaringan Iblis Liberal yang kian meluas dan memakan banyak korban. Seperti halnya Aminah Wadud seorang wanita di Amerika yang mengaku sebagai muslimah, telah menyalahi kodratnya sebagai wanita, karena pengaruh pemikiran liberalnya, Aminah Wadud secara lantang melawan syariat Islam dengan memposisikan diri sebagai khathib dan Imam shalat Jumat, yang dihadiri jamaah laki-laki dan perempuan.

Selaras dengan itu, Nasr Hamid Abu Zayd asal Mesir yang menetap di Belanda, juga telah kerasukan jerat-jerat Jaringan Iblis Liberal. Nasr mengatakan bahwa Alquran adalah produk sejarah dan teksnya manusiawi, artinya dia mengingkari Alquran sebagai firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dengan perantara malaikat Jibril. Setelah Nabi menerima wahyu Alquran, beliau memerintahkan para penulis dari kalangan Sahabat untuk menulis teks Alquran, dengan terus dipantau oleh Nabi Muhammad SAW dan Malaikat Jibril, jika ada kesalahan maka kontrol dari Nabi Muhammad SAW dan Malaikat Jibril yang secara otomatis meralatnya, demikianlah hingga akhir hayat beliau SAW, dan dinyatakan proses penurunan Alquran sudah tuntas dan final. Proses penulisan dan pengumpulan teks-teks Alquran pada akhirnya dibukukan secara sempurna di jaman khalifah Utsman bin Affan tanpa ada perubahan apapun dari aslinya. Demikian ini karena jaminan Allah yang menjaga keaslian Alquran, sebagaimana dalam firman-Nya yang artinya: “Sesunguhnya Kami (Allah) yang menurunkan Alquran dan Kami pula yang menjaga (kemurnian)nya”.
Muhamed Arkoun asal Ajazair juga telah kerasukan jerat-jerat Jaringan Iblis liberal, ia mengatakan pentingnya dekonstruksi Mushhaf Alquran. Dalam pandangan Muhamed Arkoun bahwa runtutan susunan mushhaf Alquran yang ada sekarang ini, perlu ditata ulang sesuai dengan kepentingan manusia. Artinya, firman Allah harus sesuai dengan kepentingan manusia, bukan manusia harus tunduk kepada hukum syariat yang termaktub dalam Alquran.

 Rupanya Abdullah Akhmed Al-naim asal Sudan yang menetap di Amerika, juga telah menerima titisan pemikiran Jaringan Iblis Liberal. Al-naim mengatakan bahwa bila suatu negara memberlakukan Syariat Islam, berarti negara tersebut telah melanggar hak asasi manusia. Ternyata masih banyak figur-figur manusia pembangkang agama dan pembawa bencana yang berkeliaran di muka bumi. Kini yang perlu dipikirkan oleh umat Islam di bumi persada Indonesia, mengapa di negara yang mayoritas berpenduduk muslim, bahkan menjadi komunitas muslim terbesar di dunia saat ini, sering terjadi bencana alam yang datangnya silih berganti.

 Mengapa harus terjadi tsunami Aceh? Mengapa ada gempa Yogyakarta ? Mengapa ada lumpur Lapindo Sidoarjo? Mengapa ada banjir Jakarta ? Mengapa ada Longsor Kediri ? Mengapa ada angin puting beliung Situbondo ? Mengapa ada lahar Merapi Sleman ? Mengapa ada kelaparan Bondowoso ? Mengapa ada pesawat Adam Air jatuh ? Mengapa ada Kereta Api anjlok ? Mengapa terjadi bencana di negeri ini yang datangnya silih berganti? Apakah lantaran manusia-manusia Indonesia telah banyak yang mengadopsi pemikiran dan perilaku Iblis Liberal ? Atau mencontoh pemikiran dan perilaku kaum Nuh, atau meniru kaum `Ad, atau Tsamud, atau fir`aun? Atau lantaran komunitas Abu Lahab telah berkeliaran di bumi Indonesia? Ataukah Musailimah-musalimah Alkaddzab telah menjadi inspirator bagi perkembangan peradaban bangsa ini?

 Rasanya telah bermunculan dan berserakan di negeri ini figur-figur keserakahan koruptor model Qarun, atau kedhaliman pemimpin model Fir’uan, dan kesesatan pemikiran model Alkulaini, kelicikan model Khomeini, kekakuan model Muhammad bin Abdul Wahhab, pelecehan agam model Arkoun, pengkhianatan agama model Al-naim, penyelewengan model Aminah Wadud, penghinaan dan penodaan agama model Nasr Hamid Abu Zayd, bahkan kekafiran Komunisme, Marxisme, Laninisme, dan agresifitas program pemurtadan oleh para aktifis kristenisasi model penjajah Belanda, serta manusia-manusia sejenisnya yang telah beranak-pianak di bumi persada Indonesia ini. Rupanya, Jaringan Iblis Liberal, kini telah mencengkramkan jerat-jeratnya dengan kuat di berbagai sector kehidupan yang dijalani oleh manusia-manusia di negeri ini.

 Maka menjadi wajarlah, jika bangsa Indonesia yang dulu terkenal subur dan makmur, sekarang menjadi negara yang berantakan, jatuh miskin, harga sembako membumbung, dan terus menerus tertimpa bencana, baik bencana alam, terlebih lagi bencana kemanusiaan. Semoga Allah mengampuni bangsa Indonesia.
(pejuangislam) .


   
 Isikan Komentar Anda
   
Nama 
Email 
Kota 
Pesan/Komentar 
 
 
 
1.
Pengirim: Ahmad  - Kota: Probolinggo
Tanggal: 15/3/2009
 
1. oia Yai, logikanya jika ada Jaringan Iblis Liberal, adakah Jaringan Iblis Tidak Liberal? Atau Jaringan Iblis Liberal itu adalah plesetan dari Jaringan Islam Liberal yang mulai merasuki segelintir tokoh2 NU kita?
2. ibarat ketika si Fulan memanjat pohon mangga (tentunya untuk mengambil buah mangga), trus ada salah satu dari sekian ratus semut yg menggigit si Fulan tsb. (karena amarahnya yg begitu besar) kemudian si Fulan mengambil obor. Tak pelak, si Fulan kontan saja membakar semua semut yg berkeliaran di pohon mangga tsb. Inilah analogi sederhana dari adzab Allah, tidak pandang bulu, tidak memilih, tidak memilah. Semuanya dilibas habis…. Meski realitanya seorang oknum yg berulah/bermaksiat, toh akhirnya orang lain yang tidak ikut menikmati buahnya juga kena cipratan getahnya. Karena itu, mari ‘perangi’ kemaksiatan kemuka bumi ini, tentunya dengan langkah2 bijak & memukau; preventif, persuasif, dan bila perlu represif (yg terakhir dikhususkan kepada aparatur negara, semisal Polisi, Satpol PP, Kejaksaan, KPK, dlsb).
3. menurut Yai, besar manakah frekuensi (yg dinilai oleh Yai Luthfi kurang lebih sebagai adzab Ilahi) antara adzab yg diterima Indonesia dengan adzab yg diterima oleh Amerika (negara kafir & ulah sesatnya sudah menjadi rahasia umum)? Tentunya, jika adzab Ilahi lebih banyak diterima oleh Republik Indonesia maka apakah dapat dibilang Republik Indonesia lebih tercela dari Amerika? Lebih banyak Iblis yg berdomisili di Indonesia?
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Ya kira-kira seperti itulah yg dimaksud, JIL adalah JIL, ingat riwayat IsLAM JAMAH yg terus menjelmah jadi LEMKARI kemudian menjelma lagi sekarang menjadi LDII, dg tujuan agar umat Islam lupa akan ajaran sesatnya ? ...Nah, demikian juga JIL jaman dulu adalah singkatan dari Jaringan Iblis Liberal, terus kini menjelma menjadi JIL singkatan dari Jaringan Islam Liberal, tujuannya agar tampak lebih sopan, sekalipun anggotanya ya tatap itu-itu juga....!

2.
Pengirim: Ahmad  - Kota: Probolinggo
Tanggal: 16/3/2009
 
pertanyaan yg no 3 ko' belum dijawab Yai?
menurut Yai, besar manakah frekuensi (yg dinilai oleh Yai Luthfi kurang lebih sebagai adzab Ilahi) antara adzab yg diterima Indonesia dengan adzab yg diterima oleh Amerika (negara kafir & ulah sesatnya sudah menjadi rahasia umum)? Tentunya, jika adzab Ilahi lebih banyak diterima oleh Republik Indonesia maka apakah dapat dibilang Republik Indonesia lebih tercela dari Amerika?
karena, sebagaimana diketahui, ada tsunami Aceh, ada gempa Yogyakarta, ada lumpur Lapindo Sidoarjo, ada banjir Jakarta, ada Longsor Kediri, ada angin puting beliung Situbondo, ada lahar Merapi Sleman, ada kelaparan Bondowoso, ada pesawat Adam Air jatuh, ada Kereta Api anjlok, kayaknya bencana di negeri ini yang datangnya silih berganti (lebih banyak musibah diIndonesia dari pada di Amerika)?
Apa Lebih banyak Iblis yg berdomisili di Indonesia kale ya..?
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
1). Sabda Nabi SAW: Idza ahabballahu qouman ibtaalahum, jika Allah mencintai suatu kaum, maka akan diujinya. 2). Kaedah : Min sunnatillahi annallaha Laa ya'malu syaian illa bi asbaab, termasuk dari kebiasaan Allah, bahwa Allah tidak menciptakan/melakukan sesuatu kecuali dengan sebab-sebab yang mendahului. 3. Di Indonesia masih banyak orang2 shaleh baik yg hidup maupun yang sudah wafat. Sebut saja misalnya, masih banyaknya ulama dari kalangan Habaib anak cucu Nabi SAW, maupun dari kalangan para Kiai keturunan dan penerus perjuangan Walisongo, yang sampai hari ini masih eksis berdakwah di tengah masyarakat. Peranan para Habaib tentu tidak dapat dinafikan dalam membentengi aqidah umat yang bermadzhab Sunni Syafi'i. Mayoritas datuk-datuk para Habaib ini adalah para wali Allah dan para ulama di negeri Hadarmaut Yaman, yang mana dahulu kala mereka membawa ajaran Sunni Syafi'i ke Indonesia, karena itulah mayoritas bangsa Indonesia hingga kini bermadzhab Sunni Syafi'i. 4. Masih banyak makam orang-orang shaleh tersebar di Indonesia. Lihat saja makam para Walisongo penyebar agama Islam yang pertama kali datang ke Indonesia, yang makamnya samapai saat ini masih ramai dikunjungi orang. Menurut sejarah, bahwa 8 orang dari para Walisongo selain Sunan Kalijogo adalah keturunan Nabi SAW. Mereka bersambung nasab kepada para ulama dan para wali anak cucu Nabi SAW, yang berdomisili di tanah Gaujarat negeri India. Para Walisongo ini jika diruntut, maka masih sambung keturunan kapada Saiyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib, yaitu anak kandung Sayyidah Fathimah binti Rasulillah SAW. Sedang Sunan Kalijogo adalah keturunan Sayyidina Abbas paman Nabi SAW, jadi Sunan Kalijogo juga masih tergolongan keluarga Nabi SAW. Bersyukurlah bangsa Indinesia, bahwa masih banyak keturunan Nabi SAW dari kalangan Habaib dari jalur para ulama Hadramaut, maupun keturunan Nabi SAW dari kalangan para kiai dari jalur para Walisongo keturunan ulama Gaujarat India. Mereka sampai saat ini tersebar luas di bumi Indonesia. Nabi SAW bersabda dalam satu riwayat : Aku tinggalkan dua perkara, jika kalian memegang teguh keduanya, niscaya kalian tidak akan tersesat setelah aku tiada, kitaballah (Alquran) dan 'ithrati (anak cucuku). Jadi bangsa Indinesia hakekatnya masih dicintai oleh Allah. 4. Penyebab datangnya bencana, karena mulai banyak bermunculan aliran-aliran sesat yang tidak mengikuti bahkanan telah melenceng dari ajaran para ulama penyebar Islam pertama kali di Indonesia, yaitu para Walisongo dan para Habaib yang bermadzhab Sunni Syafi'i. Contoh gamblangnya, yaitu adanya kelompok sesat JIL yang dimotori oleh Ulil Abshar Abdalah, adanya kelompok Syi'ah Imamiyah yang dimotori oleh para alumni kota Qum - Iran, adanya alirah Wahhabi yang dimotori oleh para pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab, adanya penganut pluralisme dalam beragama yang dimotori oleh tokoh-tokoh Lintas Agama, adanya Lia Edan, adanya Musaddeq, adanya LDII, dan adanya aliran2 sesat lainnya yang kini menjamur di negeri ini. Karena sebab kemunculan Komunitas Aliran Sesat inilah Allah menurunkan berbagai macam bencana, demikian ini untuk menguji kesabaran dan keimanan umat Islam Indonesia yang masih eksis memegang aqidah Sunni Syafi'i, madzhab asli umat Islam Indonesia. Juga, Allah menurunkan adzab ini sebagai peringatan dan ancaman bagi figur Manusia Pembawa Bencana dari komunitas akilar sesat yang berkeliaran di negeri Indonesia tercinta ini. 5. Siapa bilang di Amerika tidak banyak bencana? Ada banjir, ada kebakaran dahsyat, ada badai Caterina, ada gempa bumi, dll. Hanya saja kekuatan media Indonesia belum dapat secara maksimal untuk meliput semua bencana di Amerika, karena terbentur teknis. Jadi menurut saya, Jaringan Iblis Liberal saat ini sudah berhasil menancapkan jaring-jaringnya di seluruh dunia.

3.
Pengirim: Brint  - Kota: tuban
Tanggal: 2/6/2009
 
Alhamdulillah, jujur saya bangga dengan ghirroh islamiyyah para Pejuang Islam, wa bil akhosh Ust. Luthfi Bashori yg senantiasa berada pada garda terdepan dalam upaya mempertahankan kemurnian syari'at 'ala manhaj ahlussunnah wal jama'ah. namun dalam kaitannya dengan keberadaan JIL (terserah apa kepanjangannya), yg merupakan 'ulah nakal' dari Ulil dkk. yg notabene adalah ketua Lakspesdam NU (kata kakek saya NU itu representasi ahlussunnah-bener nggak sih?), saya yang goblok ini kok jadi bingung ya Ustadz, mengapa para petinggi NU, para Kyainal kirom dan aktifis-aktifis yg lain kok terkesan cuek dan enjoy melihat sepak terjang Ulil yg sering di identikkan dengan NU. kenapa sepertinya tidak ada sesepuh yg coba 'njewer' kupingnya Ulil melalui jalur resmi atas nama organisasi? atau beliau-beliau itu menganggap Ulil hanyalah seorang "anak nakal" yg coba curi perhatian khalayak dengan tingkahnya, sehingga tidak perlu di tanggapi? atau mungkin Ulil yg terlalu "ndablek" ya?? parahnya, yg jadi korban ke-ndablekan Ulil kebanyakan adalah kalangan akademis yg mestinya jadi corong untuk menyuarakan kebenaran bukannya "keblingeran". sekalian mohon penjabaran dan penjelasan, jika ada hasil investigasinya, siapa pihak-pihak yg berada dibelakang JIL, program-programnya yg tersistematis dan tak lupa sumber pendanaannya. Afwan Ustadz mungkin tulisan saya terlalu bertele-tele dan tidak karuan jluntrungnya. oiya, yg terakhir, sekarang ini Ulil ngumpet kemana ya kok tdk pernah nongol?? sekian, Hadanallah wa iyyakum ila sabilirrosyad... suwun. wassalam  
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
1. Ulil saat ini sedang mempertajamkan keliberalannya di Boston.

2. Sesuai pengakuan Ulil sendiri bahwa Bos Utama JIL adalah yayasan milik kaum orientalis: ASIAN FONDATION dan FORD FONDATION.

3. Muktamar NU Boyolali telah menyatakan JIL adalah sesat. NU akan bersih-bersih diri dari oknum JIL. Sayangnya hingga kini tidak ada follow-upnya, sehingga figur Liberal semacam Said Agil Siraj dan Masdar F Mas'udi justru masih aktif di PBNU bahkan kini berusaha keras untuk dapat menjadi Ketua PBNU pada Muktamar NU tahun depan. Sayangnya tokoh-tokoh sepuh PBNU belum berani melengser oknum-oknum JIL, Belum lagi figur Pak Hasyim Muzadi yang tanpa sungkan selalu menyeret-nyeret Ormas NU ke rana politik praktis yang menimbulkan permusuhan dalam tubuh NU itu sendiri.

4. Semoga Muktamar tahun depan, NU dapat membersihkan diri dari oknum-oknum yang merusak citra NU di mata masyarakat.

4.
Pengirim: efendi  - Kota: masan,south korea
Tanggal: 1/8/2011
 
tolong dikonfirmasi pak kyai,benarkah wahhabi sesat?setahu aku julukan wahabi yg memberikan adalah para musuh2 islam.dimana para musuh2islam tidak rela atas parjuangan muhammab bin abdul wahhab yang berdakwah dengan manhaj tauhid.aku sudah baca kitab2 beliau,yg smuanya selalu merujuk kpd kitab Allah dan sunnah.balas 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Kesalahan fatal kaum Wahhabi adalah kekakuan mereka dalam menerjemakan dan memahami ajaran agama Islam, mereka hanyalah kaum tekstual alias memahami agama Islam secara harfiyah semata, dan terlalu tergesa menvonis sesat bahkan kafir terhadap umat Islam yang keberadaannya justru mayoritas di dunia ini dengan segudang ulamanya dibanding keberadaan kaum Wahhabi sendiri. Demikian itu karena sempitnya cara pandangan dan pemahaman kaum Wahhabi itu sendir terhadap ajaran Islam. Kapasitas saudara dalam membaca buku-buku karangan kaum Wahhabi dan lantas saudara menyimpulkannya, apa secara otomatis bisa menafikan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah wal jamaah yg ada di seluruh dunia, yang mana mereka berseberangan faham dg kaum Wahhabi ? Para ulama dari kalangan umat Islam non Wahhabi justru selalu merujuk kepada pemahaman salaf dimulai dari pemahaman para shahabat Nabi SAW, lantas secara estafet dipahami oleh para Ulama Ahlus Sunnah setelah generasi para shahabat Nabi SAW dan seterusnya hingga kini. Amalan mereka inilah yang sejatinya berlandaskan Alquran dan Hadits, tentunya disesuaikan dengan pemahaman salaf. Bukan pemahaman kaum Wahhabi.

 
 
Kembali Ke atas | Kembali Ke Index Karya Ilmiah
 
 
 
  Situs © 2009-2017 Oleh Pejuang Islam