URL: www.pejuangislam.com
Email: editor@pejuangislam.com
 
Halaman Depan >>
 
 
Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami
Ustadz H. Luthfi Bashori
 Lihat Biografi
 Profil Pejuang Kaya Ide
 Imam Abad 21
 Info Asshofwah
Karya Tulis Pejuang


 
Ribath Almurtadla
Al-islami
 Pengasuh Ribath
 Amunisi Dari Tumapel
 Aktifitas Pengasuh
 Perjuangan Pengasuh
 Kalender Ribath
Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
 Sekilas Profil
 Program Pendidikan
 Pelayanan Masyarakat
 Struktur Organisasi
 Pengasuh PIQ
 
Navigasi Web
Karya Tulis Santri
MP3 Ceramah
Bingkai Aktifitas
Galeri Sastra
Curhat Pengunjung
Media Global
Link Website
TV GARIS LURUS
Kontak Kami
 
 
 Arsip Teriakan Pejuang
 
SEBAIK-BAIK ORANG BERDOSA ADALAH YANG BERTOBAT 
  Penulis: Pejuang Islam  [6/5/2017]
   
KEUTAMAAN KALIMAT LA ILAHA ILLALLAH 
  Penulis: Pejuang Islam  [3/5/2017]
   
BACAAN DUA KALIMAT TASBIH YANG SANGAT BESAR PAHALANYA 
  Penulis: Pejuang Islam  [1/5/2017]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [19/4/2017]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [19/4/2017]
   
 
 Book Collection
 (Klik: Karya Tulis Pejuang)
Pengarang: H. Luthfi B dan Sy. Almaliki
Musuh Besar Umat Islam
Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat
Dialog Tokoh-tokoh Islam
Carut Marut Wajah Kota Santri
Tanggapan Ilmiah Liberalisme
Islam vs Syiah
Paham-paham Yang Harus Diluruskan
Doa Bersama, Bahayakah?
 
 WEB STATISTIK
 
Hari ini: Kamis, 25 Mei 2017
Pukul:  
Online Sekarang: 4 users
Total Hari Ini: 588 users
Total Pengunjung: 3443614 users
 
 
Untitled Document
 PEJUANG ISLAM - KARYA ILMIAH USTADZ LUTHFI BASHORI
 
 
ARTIKEL PROBLEMATIKA UMAT ISLAM DEWASA INI YANG HARUS DISELESAIKAN  
Penulis: H. Luthfi Bashori [ 12/8/2016 ]
 
Bismillahir rahmanir rahim

A.Menghadapi Sekulerisme, Pluralisme, Liberalisme (Sepilis)

Kaum Liberal sengaja menciptakan dan mengembangkan pemahaman bahwa inti dari syariat bukanlah pada penerapan makna yang ada dalam teks (nash). Atau dari suatu peristiwa yang terjadi pada jaman Rasul SAW. Tapi bagaimana mewujudkan tujuan syariat itu sendiri, yang biasa disebut sebagai maqashidus syari`ah. Tujuan-tujuan dari pemberlakuan syariat (maqashidus syari`ah) itu adalah demi menjaga agama (hifdzud diin), kehormatan (hifdzul `irdl), jiwa (hifdzun nafs), harta (hifdzul maal), dan akal (hifdzul `aql). Dengan hanya menggunakan rasio (akal), mereka gegabah mengatakan bahwa jiwa syari`at ini dan itu. Jika pembunuhan, pencurian, perzinahan bisa diatasi dengan hukum sekuler (penjara), maka tidak perlu lagi diterapkan qhisas, qatul yad (hukum potong tangan), demikian pula tenrtang hukum rajam, dsb. Dengan demikian, menurut kaum liberal, tidak ada hukum Allah yang perlu dilaksanakan di dunia ini selagi cara lain bisa diterapkan dan tujuan sudah tercapai. 

Syari`at Islam adalah milik Allah. Tidak ada yang berhak mengatakan sesuatu tentang syari`at ini kecuali Allah dan Rasul-Nya. Selain Allah dan Rasul-Nya harus merujuk pada Alquran dan Assunnah. Dalam banyak ayat sering disebut bahwa iftiraa `alAllah itu adalah kedzaliman besar (lihat QS. Al An`am : 21 dan Yunus : 17). Mengada-ngada bahwa Allah bermaksud begini dan begitu adalah dosa besar. Untuk bisa mengetahui maqashidus syari`ah hanya bisa diketahui dengan mempelajari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW dengan penuh ketelitian dan keikhlasan. Mengejar target maqashidus syari`ah memang hal penting dan paling diperlukan, tapi pembicaraan tentang masalah ini tidaklah sederhana. Untuk mencapainya perlu kemantapan dalam usual fiqih, lughah (bahasa), tafsir, ulumul quran, musthalah hadist, dsb.

Bahkan yang patut disayangkan, yang menjadi acuan kaum liberal itu hanyalah kemaslahatan-kemaslahatan umum (ri`ayatul mashalihil `ammah) yang ingin dikembangkan dalam lintas gender, lintas status sosial, bahkan lintas agama, yang sering mereka sebut dengan istilah pluralisme. Mereka tidak mempunyai standar syari`at yang jelas, kecuali logika yang berkiblat pada akal.

Di antara hujjah para pejuang pluralisme itu, demi memperjuangkan kepentingannya, adalah dengan berlindung pada penggunaan istilah masyarakat Madani. Mereka mengatakan bahwa hanya ada satu fakta kemanusiaan, yakni keberagaman, dan kemajemukan. Mereka mengatakan bahwa setiap agama haruslah terbuka terhadap kebenaran agama lain, atau setidaknya mengakui adanya kebenaran di dalam agama.  
Dalam propagandanya, mereka mengatakan bahwa tidak ada kebenaran satu agamapun yang mutlak. Artinya bahwa nilai-nilai kebenaran selalu ada pada tiap-tiap agama. Mereka juga mengatakan, sebaik agama disisi Allah adalah al-hanifiyyatus samhah adalah semangat mencari kebenaran secara terbuka, yang membawa sikap toleran, terbuka, tidak sempit, tidak fanatik, dan tidak membelenggu jiwa.

Kelompok liberal sering mengusung Piagam Madinah sebagai kedok untuk merealisasikan tujuannya, yaitu menciptakan masyarakat pluralis, tentunya dalam persepsi mereka. Beberapa isi Piagam Madinah, tentang perdamaian yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dengan pihak Yahudi dan Nasrani kala itu, mereka gunakan sebagai pembenaran terhadap pemahamannya. Kata-kata perdamaian yang selalu disebut-sebut, diartikan sebagai keterbukaaan Nabi SAW menerima dan membenarkan semua agama yanga beliau SAW dapati di kota Madinah saat itu. Pemahaman seperti ini lalu mengembang menjadi pemahaman sinkretisme. Orang-ortang liberal itu dengan sengaja melakukan kebohongan publik dan upaya pembodohan terhadap ummat, dengan menyembunyikan hakekat ajaran Nabi Muhammad SAW sebagai peletak dasar Piagam Madinah.

Sebagai misal, beberapa Piagam Madinah antara lain :

Klausul :

1)Ini dokumen dari Muhammad, Nabi (yang mengatur hubungan) antara kaum muslim Qurais dan Yatsrib, dan mereka yang mengikuti, bergabung, dan berjuang dengan mereka.
2)Mereka adalah satu komunitas (ummah) dengan mengenyampingkan semua manusia.

Dalam klausul : 

(23) Apabila engkau berbeda pendapat tentang suatu masalah maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya.
(24) Orang-orang Yahudi akan menyumbang biaya perang sepanjang mereka berperang bersama orang-orang beriman.

Dalam klausul :

(36a) Tidaklah mereka akan pergi berperang terlepas dari ijin Muhammad.

(37a) Yahudi harus menanggung biaya mereka dan muslim juga menanggung biaya mereka. Semua pihak harus membantu yang lain melawan siapa yang menyerang orang-orang (yang menyepakati) dokumen ini. 

Mereka harus meminta nasehat dan konsultasi satu sama lain, dan kesalehan adalah perlindungan terhadap kemaksiatan. 

Dalam klausul :
(38) Yahudi harus membayar bersama orang- orang beriaman sepanjang perang berakhir.

(42) Jika ada pertikaian dan kontroversi yang diperkirakan akan mengakibatkan keonaran dan gangguan (trouble). Hal itu harus dirujukkan kepada Allah dan Muhammad, Rasul-Nya SAW. Allah menerima apa yang dekat kepada kesalehan dan kebaikan dalam dokumen ini.

Dalam klausul penutup disebutkan :

(47) Dokumen ini tidak akan melindungi orang yang tidak adil dan berbuat maksiat. Orang yang maju ke medan perang adalah aman dan orang yang diam di rumahnaya juga aman, kecuali kecuali apabila berbuat zalim atau maksiat. Tuhan adalah pelindung orang-orang saleh dan berkesadaran ketuhanan, dan Muhammad adalah utusan Allah SWT.

Perlu diingat, bahwa Nabi Muhammad SAW telah merancang konsep yang baik dan indah dalam penerapan Piagam Madinah tersebut. Beliau membangun system kehidupan di tengah pluraritas (keberagaman) masyarakat Madinah. Dengan memaparkan kebenaran Alquran kepada penduduk Madinah. Beliau SAW juga terus-menerus memperjuangkan penerapan syari`at Islam di tengah kemajemukan masyarakat. Nabi Muhammad SAW melayani perdebatan terbuka dengan berbagai kalangan, guna menerangkan hakikat kebenaran ajaran agama Islam.

Beliau SAW senantiasa dengan gigih dan penuh kesabaran mengajak masyarakat menuju jalan yang benar. Islam yang diterangkan kepada masyarakat, adalah agama yang bersifat sebagai penyempurna dari ajaran para Nabi pendahulunya. Maka Nabi Muhammad tak henti-hentinya mengajak penganut Yahudi dan Nasrani untuk memeluk agama Islam. Kenyataannya, kota Madinah menjadi pusat kegiatan dakwah Nabi SAW pada akhirnya hingga kini telah terbebaskan dari kekafiran dan kemusyrikan yang dilakukan baik oleh kalangan Yahudi, Nasrani, maupun kaum paganis, penyembah selain Allah SWT.

Maka pengusungan istilah al-hanifiyyatus samhah dan piagam madinah oleh kelompok liberal dalam menguatkan hujjahnya, tiada lain adalah sebuah upaya pemakaian kalimatu haqqin uriida bihal bathil (kalimat yang benar dipergunakan untuk tujuan menciptakan kebathilan), alias pemutarbalikan fakta.

Nabi Muhammad SAW tidak pernah mengajarkan satu pun pemahaman bahwa semua agama itu benar, sebagaimana yang di propagandakan kelompok liberal. Bahkan Alquran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, dengan jelas mengatakan bahwa pemeluk agama Nasrani adalah kafir, karena ucapan mereka bahwa Allah adalah al Masih (Isa) putra Maryam, sekalipun memeluk agama Nasrani mengatakan bahwa dirinya itu beriman kepada Allah. Fakta ini disebutkan Alquran dalam surat Al maidah ayat 72, Allah berfirman (yang artinya): "Sungguh telah kafir orang-orang (Nasrani) yang mengatakan bahwa Allah itu adalah al Masih (Isa) putra Maryam." Dalam surat Attaubah ayat 30, Allah berfirman (yang artinya) : "Orang-orang Yahudi berkata," Uzair itu putra Allah, dan orang Nasrani berkata : "Almasih (Isa) itu putra Allah." Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling."

Dengan demikian, maka arti ayat innad diina `indAllahil Islam yang sebenarnya adalah "Sesungguhnya (satu-satunya) agama yang benar (secara mutlak) disisi Allah hanyalah agama Islam" (tentunya dengan kandungan syariatnya). Sangat berbeda dengan persepsi kelompok liberal, yang mengartikan ayat ini sebagai berikut: "Sesungguhnya beragama yang benar di sisi Allah adalah sikap penyerahan diri." Persepsi semacam ini bisa membiaskan arti, bahwa pemeluk agama Yahudi, Nasrani, Hindu, Buda, dan kaum paganis lainnya, selagi mereka berpasrah diri, maka dianggap benar, sekalipun mereka mengingkari kebenaran Alquran dan kenabian Muhammat SAW, serta melakukan kemusyrikan kemusyrikan kepada Allah .

Karena Nabi Muhammad SAW telah mencetuskan Piagam Madinah, kelompak liberal mengklaim bahwa beliau SAW termasuk liberal dan pluralis. Lalu apakah mereka akan mangatakan Nabi Muhammat SAW sebagai diktator dan teroris karena memerangi orang kafir Quraisy, dan mengusir kaum Yahudi bani Quraidzah, bani Nadzir, dan bani Qainuqa dari Madinah, tatkala mengkhianati isi Piagam Madinah itu sendiri? Pada hakekatnya Beliau SAW dalam melaksanakan kehidupan bermasyarakat, sekaligus urusan ubudiyah, tiada lain hanyalah melaksanakan syariat yang diperintahkan Allah Yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana, sebagai bentuk kepatuhan mutlak yang tak perlu beliau tawar lagi.

Dalam Syariat Islam memang ada jaminan hak-hak non Islam, ada murunah (fleksibilitas) dalam hukum-hukum Islam, dan sebagainya. Tapi jangan lupa, syariat Islam bukan seperti prinsip apapun di Barat. Syariat Islam punya karakteristik sendiri yang dibatasi oleh Alquran dan Sunnah. Di luar konsep Alquran dan Sunnah, bukanlah Islam walaupun dilakukan oleh orang Islam. 

Salah besar, jika ada kelompok yang memberi makna apalagi mengatur ajaran dan konsep Islam dengan paham non-muslim. Hal itu ibarat belajar matematika dengan menggunakan istilah sastra, mereka tidak akan bisa memahami secara akurat apa yang dipelajari. Memang selalu ada titik-titik persinggungan antar keduanya, tetapi hasilnya secara umum akan menjadi sangat rancu. Kesimpulan pluralisme itu. Wamakaru wa makarullah, wallahu khairul maakiriin. Mereka telah malakukan tipu daya, dan pasti Allah membalas tipu daya (mereka), sedangkan (strategi) Allah adalah sebaik-baik strategi." (QS. Ali Imran ayat 59 ). 

Di kalangan kelompok liberal, ada juga yang beranggapan bahwa setiap argumen/ajaran yang datang dari penganut Islam siapapun orangnya, itulah ajaran Islam, sekalipun bertentangan dengan nash (doktrin) Alquran dan Assunnah. Pandangan ini jelas-jelas salah. Sebab anggapan-anggapan semacam inilah yang menyebabkan banyaknya muncul aliran sesat yang berkembang dikalangan umat Islam, yang lantas dibela eksistensi kesesatannya oleh tokoh-tokoh liberal, dengan berdalil atas nama hak asasi manusia. Pada dasarnya agumen-argumen kelompok liberal semacam ini, tiada lain adalah misi utama mereka dalam upaya pendangkalan agama di kalangan umat Islam. 


B. Antara Jihad dan Terorisme 

Perang global terhadap terorisme, dengan tetap mengaburkan makna terorisme, dan perbedaannya dengan jihad, sangat merugikan perjuangan dan dakwah Islam. Karenanya, mampertegas devinisi jihad, dan bedanya dengan terorisme, merupakan hal pokok yang harus dibahas dan dipahami oleh seluruh masyarakat dunia. 

Jihad adalah pengerahan usaha agar kalimatullah hiya al-`ulya. Usaha untuk membebaskan hamba dari menyembah sesamanya, agar mereka menyembah Allah semata, serta mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekufuran) menuju cahaya terang (Islam). Jihad sendiri ada beberapa macam (bukan berarti dengan perang) diantaranya menggunakan lisan atau menggunakan pena (tulisan), harta, dsb. 

Perang bukan satu-satunya jalan dalam usaha penyebaran Islam. Jalur perang ditempuh jika cara-cara damai menemui jalan buntu, seperti karena adanya perlawanan orang-orang kafir dalam usaha dakwah secara damai tersebut. Nabi bersabda,`umirtu an uqaatilan naasa hattaa yashadu an laailaaha illallah (aku di perintah memerangi manusia sampai mereka mengucapkan kata la ilaaha illallah ). Dalam teks hadis, Nabi menggunakan kata uqaatila, bukan aqtula. Uqaatila bermasdar `muqaatala` yang mempunyai konsekuensi arti terjadi antara dua belah pihak. Dari hadits yang disabdakan Nabi itulah, perang dalam Islam bukan perang ofensif (memulai menyerang ), namun defensif (bertahan).

Allah SWT berfirman (yang artinya) : "Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu!" (Al- Baqarah: 190). Asbabun nuzul ayat ini adalah pembangkangan terhadap pelaksanaan perjanjian Hudaibiyah dan ditabuhnya genderang perang oleh kaum musyrikin. Jihad tanpa peperangan telah disyariatkan sejak Rasulullah SAW masih berada di Makkah (lihat Al-Furqan : 52 , dan Al-Ankabut: 79). Jihad dengan mengangkat senjata (diizinkan) adakalanya karena membela tanah kaum muslimin dari cengkeraman kaum kafir, sebagaimana terjadi pada perang Ahzab, atau karena melawan orang yang menghalangi penyampaian risalah (misi) Allah pada hamba-Nya, sesuai kadar kemampuan. 
   
Sedang terorisme, secara umum, istilah terdekat untuk mendefinisikan kata tersebut saat ini adalah apa yang dinamakan dalam fikih Islam dengan al hiraabah. Karena teror adalah usaha mengintimidasi warga sipil yang seharusnya mendapatkan perlindungan; menghancurkan aset-aset yang bermanfaat; dan membunuh manusia , atau salah satu dari tiga perilaku ini.  

Perilaku ini diharamkan syari`at. Lebih lanjut, jika ini terjadi di tengah masyarakat muslim maka pelakunya dikenakan sanksi yang berbeda sesuai dengan kualitas dan kuantitas kejahatan yang diperbuat.

Unsur utama pembentukan kejahatan terorisme adalah penggunaan cara kajahatan dengan tujuan terciptanya ketakutan. Dengan demikian terorisme tidak sama dengan pembelaan diri (ad-difaa`un nafs) yang ada dalam Islam.
 
Memang, menurut makna syar`i, bisa dikatakan terorisme (al irhaab) adalah persiapan yang didahulukan sebelum jihad (QS. Al Anfal: 60). Akan tetapi menurut makna yang ada sekarang ini, terorisme sama sekali bukan jihad. 

Kata al irhaab dengan arti terorisme, berbeda dengan apa yang dimaksud dalam ayat:

وأعدوا لهم ما اسطعتم من قوة ومن رباط الخير ترهبون به عدو الله وعدوكم (الأية)

Artinya: "Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambah untuk berperang, (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah dan musuhmu."(QS. Al Anfal 60). 

Maksud dari al-irhaab di atas adalah untuk tujuan persiapan nafr `aam, atau persiapan untuk menghadapi kondisi diwajibkannya perang melawan kaum kafir harbi, misalnya kewajiban atas penduduk wilayah tertentu yang yang akan dikuasai atau diserang musuh. 

Berperang dalam Islam, tetap dibatasi dengan aturan-aturan. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW (yang artinya): "Berperanglah atas nama Allah, jangan kau potong pepohonan, jangan kau hancurkan rumah-rumah, jangan kau bunuh kaum wanita, anak kecil, dan kaum lemah (sipil). Jika kalian mendapati kaum yang beribadah kepada Allah (dengan tata cara mereka) di tempat ibadahnya, biarkan mereka dengan aktifitasnya. "

Dengan demikian, dalam Islam ada dua kategori al irhaab, yakni irhaab mahmud dan irhaab madzmum. Irhab mahmud adalah formula irhaab yang diperbolehkan syariat Islam. Pemberian efek ketakutan (sesuai makna asal al irhab) dibenarkan setidaknya dalam 3 kondisi: 
1.Dalam persiapan, pembekalan dan nafr`aam (Al Anfal : 60) 
2.Tatkala berhadapan dangan musuh atau kafir harby. 
3.Pelaksanaan hukuman bagi seorang terpidana yang dapat memberikan pelajaran bagi yang lain. Termasuk juga dalam praktek amar ma`ruf nahi munkar. 
   
Sedang irhab madzmum (teror yang tidak dibenarkan syariat) adalah tindakan yang memiliki dua sifat, yaitu : jika menimbulkan bahaya yang besar; dan mempunyai target yang tidak tertentu dan tidak terbatas. 

Islam sangat tegas dalam memberikan sangsi bagi mereka yang dangan sengaja menciptakan kerusakan di muka bumi, para perusuh, dan para pengacau keamanan, yaitu dengan sangsi hiraabah; dengan dibunuh, atau disalib, atau dipotong tangan dan kakinya dengan bertimbal balik, atau dibuang dari daerah tempat kediamannya. (lihat QS. Almaidah : 33)

C. Subyek Teror Sebenarnya (AS dan Israel)

Melihat devinisi di atas, maka tidak diragukan lagi bahwa pelaku teror sebenarnya adalah Amerika dan kaum Zionis Israel. Siapa lagi pelaku teror jika bukan mereka yang dengan menggunakan perangkat negara dan komando pemimpin mereka, terus menerus menciptakan kerusakan dan kedzaliman, membunuh warga yang tidak bersalah dan tidak bersenjata, membunuh orang-orang tua, anak-anak, dan kaum wanita di Palestina? Siapa lagi pelaku teror jika bukan mereka yang melarang Negara Islam memiliki proyek nuklir, dan mengatakan hanya negeri mereka sendiri yang berhak memiliki proyek tersebut? Bahkan dalam operasi dan agresinya telah banyak membunuh orang-orang Islam?

Ummat Islam juga perlu terus mewaspadai musuh-musuh Islam itu dengan segala konspirasi mereka. Banyak versi yang berkembang di masyarakat tentang siapa pelaku runtuhnya WTC, apa itu Al-Qaedah, siapa itu Usama bin Laden, apa itu jama`ah Islamiyah, yang rata-rata istilah tersebut tiada lain digembar-gemborkan oleh pihak musuh Islam, antek-antek Yahudi yaitu Amerika.

Dengan selalu menggembar-gemborkan isu-isu tersebut, ternyata malah membuat Amerika dan Barat dengan leluasa dan berada di atas angin dalam mengintervensi, mengintimidasi, bahkan melakukan tindakan agresi terhadap negara-negara Islam. Dengan dalih melawan terorisme, mereka telah menghancurkan Afganistan dan Irak. Ancaman serupa sekarang mengarah pada Syria dan Iran. Berapa banyak aktivis dakwah yang ditangkap, ditahan, bahkan dituduh sebagai sarang teroris. Banyak pesantren dan tempat-tempat pendidikan Islam yang dicurigai dan ditutup karena dituduh mengajarkan ajaran terorisme dan radikalisme.

Sebuah pepatah patut dicermati masyarakat dan oleh mereka yang menunjuk hidung kaum muslimin sebagai pelaku terorisme. Pepatah tersebut beerbunyi, jika anda ingin mengetahui siapa sebenarnya pelaku kejahatan, maka lihatlah siapa yang paling diuntungkan dengan kejahatan itu. 


D. Pernyataan sikap tentang kasus dan hukum bom bunuh diri (intihaar)  

Perlu ditegaskan perbedaan antara istimaata (bunuh diri) istisyhad (mengharap syahid) diantaranya:
A.Istimaata:
1.Dilakukan di Daarul Amaan (wilayah yang tidak berkonflik).
2.Targetnya adalah kafir sipil / non-harby.
3.Tujuan jihad tak tercapai, malah justru merugikan perjuangan Islam.
4.Untuk membela / menyelamatkan diri, lalu membunuh dirinya sendiri.
   
B.Istisyhaad:
1.Dilakukan di daarul harb (wilayah konflik).
2.Targetnya adalah kafir harby.
3.Tujuannya jelas untuk kepentingan perjuangan Islam.
4.Dilakukan semata-mata karena Allah.
  
Bagaimana jika orang Islam harus terbunuh dalam aksi tersebut? Dalam Ushul Fikih, percontohan kasus seperti ini dikenal dengan istitraas. Boleh orang Islam membunuh orang Islam lain, jika sudah terpenuhi setidaknya 3 syarat :
1.Mashlahah (Terdapat maslahat yang jelas).
2.Dlaruriyyah (Mendesak)
3.Kulliyah (Hasilnya bisa dimanfaatkan ummat Islam secara menyeluruh).

Dicontohkan, ketika orang-orang kafir menggunakan tawanan orang-orang Islam untuk perisai dan orang-orang kafir berlindung di belakangnya, bolehkah orang Islam lain membunuh dan menyerang perisai manusia itu, yang tidak lain adalah orang-orang Islam yang ditawan orang kafir? Menyerang dan membunuh mereka dibenarkan, karena ketiga syarat sudah terpenuhi. Yakni terdapat mashlahat, agar ummat Islam bisa mencapai dan menyerang orang-orang kafir yang ada di belakangnya. Tindakan tersebut juga dlaruriyyah (mendesak), karena jika tidak segera dilakukan, orang-orang kafir akan dengan mudah dan aman dalam menyerang ummat Islam yang lain. Yang terakhir, maslahat yang diperoleh dari tindakan membunuh tawanan-tawanan muslim yang dijadikan perisai tersebut juga bisa dimanfaatkan ummat Islam secara menyeluruh (kulliyah). Artinya, dengan memusnahkan tawanan yang menjadi perisai, kaum muslimin bisa mencapai dan menyerang orang-orang kafir yang berlindung di belakangnya, sehingga ummat Islam bisa mengalahkan mereka. Ummat Islam secara keseluruhan pun menjadi aman dari serangan orang-orang kafir.

Jika ketiga syarat tersebut tidak terpenuhi, maka mengorbankan saudaranya yang muslim tidak dibenarkan. Misalkan jika mashlahat yang dihasilkan tidak bisa dimanfaatkan oleh seluruh ummat Islam, apalagi malah merugikan keamanan dan perjuangan ummat Islam.


 
E. Pentingnya Ukhuwah Islamiyah.

Al-ittihaadu quwwah wal furqatu adzaab. Persatuan dan ukhuwah adalah kekuatan, sedang perpecahan adalah kelemahan fatal.

Tidak hanya dalam politik, ekonomi, aspek sosial, dsb, dari permaslahan kecil saja ummat Islam sulit bersatu. Mulai dari aktiftas sehari-hari, baik dalam ritual ibadah yang bermacam-macam, atau dalam metode dakwah, dsb, banyak masalah khilafiyah furu`iyyah yang menjadikan ummat saling membenci, saling curiga, dan hatinya saling jauh. Antar kelompok saling menuding dan menyalahkan kelompok lain.

Dalam aplikasi konsep-konsep Ukhuwah Islamiyah saat ini, terdapat banyak kendala. Sebagiannya karena kekurangdewasaan sebagaian ummat Islam dalam menyikapi perbedaan itu sendiri, mengedepankan emosional dari pada rasionalitas, dan sebagian lagi karena kuatnya dominasi anti atau perang terhadap kepentingan Islam yang berkembang. 

Karenanya, mendewasakan ummat Islam dalam berpikir dan dalam menyikapi perbedaan, sambil mengantisipasi serangan-serangan mereka yang anti Islam, hendaknya menjadi bahan bakar kita untuk kesinambungan eksistensi persatuan ummat. Kita katakan kesinambungan, karena ukhuwah tersebut pernah kuat dan mengakar ditengah-tengah ummat Islam. Hal itu misalnya dicontohkan oleh kaum Anshar dan kaum Muhajjirin, perdamaian antara Auz dan Khazraj. Ketika emosional terbakar, ditambah dengan provokasi orang-orang munafik pimpinan Abdullah bin Ubay, ketundukan hati pada perintah Allah dan rasulnya menjadi problem solving ditengah masyarakat Islam. 

"Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara maka itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat." (QS Alhujarat: 10)

"Wahai orang-orang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), dan Ulil Amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Alquran) dan Rasulnya (sunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian." (QS, An Nisa: 59)  

Dalam konteks pemerintah, terdapat kaedah yanag mengatakan, hukmul haakim yarfa`ul khilaf  (putusan pemerintah bisa memutuskan perbedaan ummat), dsb. Meskipun pemerintah sendiri tetap terikat dengan kaidah lain , seperti, wujuubu naqdli hukmil haakim idza hakama bil qaulis syaadzi au bil qoulidl dlaiifi minal aqwaal. Atau kewajiban membatalkan hukum pemerintah, jika pemerintah memutuskan dengan pendapat yang syaadz atau pendapat yang lemah.

Jika kita harus mengembalikan pada Alquran dan Assunnah, kita akan menemukan lautan syar`iat yang luas. Benar Alquran yang diikuti ummat Islam hanya satu, hadis mutawatir dan shahih menjadi sumber kedua, namun yang menjadi masalah adalah perbedaan dalam interpretasi atau penafsiran dalil. Bisa jadi antar satu kelompok berbeda dalam menafsirkan suatu dalil dengan kelompok lain. Bisa jadi satu kelompok mengklaim bahwa tafsirku lebih tepat dibanding tafsirmu. Namun jangan lupa syariat diturunkan Allah bukan sebagai teka-teki dan sesuatu yang justru membingungkan manusia. Alquran adalah al faashil bainal haq wal bathil. Pembeda antara yang hak dan yang bathil. Alquran yang dibawa Nabi Muhammad bahkan adalah pemersatu kelompok-kelompok yang sedang berkonflik (QS. Albaqarah: 213). Jika kita berkonflik karena perbedaan pandangan dalam menafsiri dalil, baik Alquran maupun Hadits Nabi, maka kita menyalahi Alquran.

Dalam tataran qawaa-idil fiqhiyyah jika mau berpikir dewasa dalam bersikap, perbedaan-perbedaan furu`iyyah semacam ini, dengan catatan selagi itu merujuk pada dalil, tidak perlu dipermasalahkan secara mendalam, apalagi menjadi bom waktu perpecahan ummat yang bisa meledak sewaktu-waktu. Di sana banyak kaidah fiqih seperti `at tarjih ghairu mulzim`, juga `la inkaara fi masalatil khilaf`, dsb. Jika itu memang menjadi perbedaan ulama, satu pihak tidak bisa mengingkari produk hukum pihak lain yang dihasilkan dari suatu proses istidlal dan interpretasi dalil. Selebihnya, jika ada tarjih (pengunggulan) produk hukum oleh seorang ulama atas produk hukum yang lain, sebagaimana dikatakan dalam kaidah, itu tidak mewajibkan kita untuk mengikuti yang rajih. Namun hanya dalam taraf anjuran dan dalam konteks afdlaliyyah.

Namun perlu dingat, hal ini jika terjadi pada hal-hal furu`iyyah, bukan pada permasalahan prinsipil, seperti masalah keyakinan aqidah, atau sesuatu yang sudah ma`luumun minad diini bidldlarurah, faman ankaraha faqod kafar, atau hal-hal yang menjadi kewajuban ummat, seperti kewajiban amar ma`ruf nahi munkar, dsb. Dalam hal ini tidak ada murunah (fleksibilitas) dan toleransi, namun harus ditegakkan secara tegas.

Karena itu, kita membutuhkan al manhaj al jaami` dalam interpretasi dalil, baik Alquran maupun as Sunnah, untuk digunakan sebagai standar bersama dalam mengukur qaul / rakyun fasid (pendapat sesat), dan qaul shahih (pendapat yang benar).

Kita juga memerlukan konsekuensi untuk mengikuti metode kaum salaf dalam menafsirkan dalil. Hal ini dikarenakan bukan hanya sekedar karena kaum salaf itu lebih dahulu (salaf) dari pada kita dalam urutan generasi zaman, tapi karena merekalah orang-orang yang lebih tahu dan paham bagaimana berinteraksi dengan teks, baik Alquran maupun Assunnah. Dzauq bahasa arab mereka masih jernih dan fasih, serta belum banyak terpengaruh oleh dzauq dan pemahaman non-arab (`ajam). Di samping mereka sendiri adalah ummat yang paling dekat kepada Nabi SAW, serta belum banyak tereduksi oleh kepentingan-kepentingan yang datang dari luar Islam. Keistimewaan ini di-nash oleh Nabi SAW dalam hadits riwayat sahabat Ibnu Mas`ud (yang artinya) : "Sebaik-baik manusia adalah yang hidup di zamanku, kemudian ummat setelah mereka, kemudian generasi setelah merekanya lagi."(HR. Bukhari Muslim).

Kita merujuk salaf bukan dalam keseluruhan harfiah (tekstual)-nya, tapi pada kaidah-kaidah dalam interpretasi dalil dan aturan-aturan dalam berijtihad yang telah mereka letakkan (al-manhaj). Disinilah kesempatan kita untuk menjustifikasi fenomena-fenomena baru yang muncul, dengan legitimasi teks Alquan dan Alhadits, dengan aturan ulama-ulama salaf itu. Jadi tanpa merusak tatanan baku syariat, baik secara total maupun sebagian. Kita tetap meletakkan Alquran dan Assunnah sebagai pusaka agung warisan Nabi Muhammad SAW yang harus kita imani secara keseluruhan. Di sinilah kita mengenal istilah mengambil sesuatu yang baru yang dianggap paling baik, dengan tetap memegang kaidah lama yang baik.  

  (pejuangislam).

   
 Isikan Komentar Anda
   
Nama 
Email 
Kota 
Pesan/Komentar 
 
 
 
1.
Pengirim: eKa  - Kota: palembang
Tanggal: 8/9/2009
 
hmmmm.....

gmn ya....

gak tau juga....
tp yg psti knp harus ada teroris di muka bumi yang damai ini?????

banyak orang yang tidak berdosa yang jadi korban......

padahal seharus nya bila berperang itu harus lah hanya orang yang terlibat perang saja...
dan tidak memasukkan wanita,anak2,orang tua erta orang tidak punya keterlibatan dalam perang tersebut...

emang teroris tu gak punya hati ya?????????????? 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Baca juga artikel berjudul Daarul Harb dan Daarul Amaan, sebagai tambahan ilmu.

2.
Pengirim: Syamsul Huda  - Kota: Besuk - Kraksaan -Probolinggo
Tanggal: 27/4/2013
 
Perjuangan mengukur kemampuan dan kesempatan. .... Sebatas manakah kewajiban berjuang itu ..?  
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Jika semua aktifitas dalam hidup diniatkan agar dapat menunjang pelestarian ajaran Islam dengan praktek di lapangan yang sesuai syariat, maka hidupnya dinilai sebagai perjuangan.

 
 
Kembali Ke atas | Kembali Ke Index Karya Ilmiah
 
 
 
  Situs © 2009-2017 Oleh Pejuang Islam