URL: www.pejuangislam.com
Email: editor@pejuangislam.com
 
Halaman Depan >>
 
 
Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami
Ustadz H. Luthfi Bashori
 Lihat Biografi
 Profil Pejuang Kaya Ide
 Imam Abad 21
 Info Asshofwah
Karya Tulis Pejuang


 
Ribath Almurtadla
Al-islami
 Pengasuh Ribath
 Amunisi Dari Tumapel
 Aktifitas Pengasuh
 Perjuangan Pengasuh
 Kalender Ribath
Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
 Sekilas Profil
 Program Pendidikan
 Pelayanan Masyarakat
 Struktur Organisasi
 Pengasuh PIQ
 
Navigasi Web
Karya Tulis Santri
MP3 Ceramah
Bingkai Aktifitas
Galeri Sastra
Curhat Pengunjung
Media Global
Link Website
TV ONLINE
Kontak Kami
 
 
 Arsip Teriakan Pejuang
 
JENAZAH YANG BICARA 
  Penulis: Pejuang Islam  [14/1/2020]
   
BERSELANCAR DALAM DUNIA ORGANISASI 
  Penulis: Pejuang Islam  [14/1/2020]
   
SAAT PARA KYAI SEPUH MENGIRIM ANAK & MURIDNYA BELAJAR KE LUAR NEGERI 
  Penulis: Pejuang Islam  [5/1/2020]
   
ORANG MATI ITU DAPAT MENDENGAR 
  Penulis: Pejuang Islam  [5/1/2020]
   
MATAHARI TERBIT DARI BARAT 
  Penulis: Pejuang Islam  [23/12/2019]
   
 
 Book Collection
 (Klik: Karya Tulis Pejuang)
Pengarang: H. Luthfi B dan Sy. Almaliki
Musuh Besar Umat Islam
Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat
Dialog Tokoh-tokoh Islam
Carut Marut Wajah Kota Santri
Tanggapan Ilmiah Liberalisme
Islam vs Syiah
Paham-paham Yang Harus Diluruskan
Doa Bersama, Bahayakah?
 
 WEB STATISTIK
 
Hari ini: Minggu, 26 Januari 2020
Pukul:  
Online Sekarang: 4 users
Total Hari Ini: 272 users
Total Pengunjung: 4800754 users
 
 
Untitled Document
 PEJUANG ISLAM - KARYA ILMIAH USTADZ LUTHFI BASHORI
 
 
JENAZAH YANG BICARA 
Penulis: Pejuang Islam [ 14/1/2020 ]
 
JENAZAH YANG BICARA
(Bedah Pemikiran Mbah Hasyim Asy’ari)

Luthfi Bashori

Telinga manusia normal itu, umumnya dapat dipergunakan untuk mendengar segala macam suara yang keberadaa suara tersebut terjangkau oleh daya dengar telinganya. Namun terkadang telinga manusia normal itupun tidak mampu mendengar suara panggilan adzan yang ada di dekat rumahnya, sekalipun sang muaddzin menggunakan alat bantu mimbran, karena hati pemilik telinga tersebut sedang tertutup oleh kemalasan bahkan terhalang oleh kemunafikan dan kekafiran. Karena itu hatinya tidak tergerak sedikitpun untuk melaksanakan shalat. 

Dalam kitab Risalah Ahli Sunnah wal jama’ah karya KH. Hasyim Asy’ari, diterangkan tentang suara dan jeritan jenazah yang tidak dapat didengarkan oleh keluarganya yang masih hidup.
Sebagaimana Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Sy. Abu Said Al-Khudri RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Apabila jenazah diletakkan dan dipikul oleh beberapa orang pria di atas pundak mereka, maka jika jenazah itu adalah orang shalih ia akan berkata: ‘Segerakanlah aku’, dan jika jenazah itu tidak shalih ia akan berkata: ‘Oh celaka! Kemana mereka hendak membawanya?’ Suaranya bisa didengar oleh apa saja kecuali manusia. Seandainya manusia mendengarnya, ia pasti pingsan.”

Pada hadits di atas ini secara terang benderang dikatakan, bahwa telinga manusia normal yang mengusung jenazah di pundaknya saja tidak mampu mendengarkan jeritan jenazah yang jaraknya tidak lebih dari satu meter. 

Imam Al-Bukhari juga meriwayatkan hadits serupa dari Sy. Laits bin Sa’ad. Di situ dikatakan bahwa jenazah itu berkata kepada keluarganya: “Celakalah dia!” Dalam hadits itu juga dikatakan: “Seandainya manusia mendengarnya, ia pasti pingsan.
.
Ada beberapa faedah yang dapat diambil dari hadits ini antara lain: 

1. Orang yang mati di dunia karena nyawanya telah merenggang dari badan, hakikatnya tidak mati, tapi pindah alam. Karena itu sang mayit masih dapat berbicara sesuai dengan bahasa alam barunya, namun manusia yang masih hidup di dunia itu tidak dapat mendengar suaranya.

2. Dengan demikian, jika ada keluarga/kawan jenazah (mayit) yang menziarahi kubur-nya, maka si mayit mengetahui kedatangannya. Jika penziarah itu datang dengan membawa kebaikan, seperti mendoakannya atau membaca salam dan ayat-ayat Alquran serta kalimat-kalimat thayyibah, maka bergembiralah si mayit. Jika keluaga/kawannya datang ke kubur-nya dengan berbuat/ berbicara/ menyanyi lagu non syar’I, maka sedihlah si mayit.

3. Kemampuan telinga manusia yang masih hidup di dunia itu penuh keterbatasan, demikian juga dengan panca indra lainnya, maka untuk urusan terkait situasi kehidupan seseorang setelah kematian di dunia, tidak dapat dipikir/dipahami dengan panca indra semata, namun harus dipikir/dipahami dengan keyakinan hati dengan mempelajari dalil-dalil baik dari Alquran, Hadits maupun pendapat para ulama salaf Aswaja.    

   
 Isikan Komentar Anda
   
Nama 
Email 
Kota 
Pesan/Komentar 
 
 
 
 
 
Kembali Ke atas | Kembali Ke Index Karya Ilmiah
 
 
 
  Situs © 2009-2020 Oleh Pejuang Islam