URL: www.pejuangislam.com
Email: editor@pejuangislam.com
 
Halaman Depan >>
 
 
Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami
Ustadz H. Luthfi Bashori
 Lihat Biografi
 Profil Pejuang Kaya Ide
 Imam Abad 21
 Info Asshofwah
Karya Tulis Pejuang


 
Ribath Almurtadla
Al-islami
 Pengasuh Ribath
 Amunisi Dari Tumapel
 Aktifitas Pengasuh
 Perjuangan Pengasuh
 Kalender Ribath
Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
 Sekilas Profil
 Program Pendidikan
 Pelayanan Masyarakat
 Struktur Organisasi
 Pengasuh PIQ
 
Navigasi Web
Karya Tulis Santri
MP3 Ceramah
Bingkai Aktifitas
Galeri Sastra
Curhat Pengunjung
Media Global
Link Website
TV ONLINE
Kontak Kami
 
 
 Arsip Teriakan Pejuang
 
WORLD HIJAB DAY vs NO HIJAB DAY 
  Penulis: Pejuang Islam  [1/2/2020]
   
ORANG HIDUP DAPAT MEMBERI MANFAAT BAGI YANG MATI 
  Penulis: Pejuang Islam  [25/1/2020]
   
KEHIDUPAN DI ALAM KUBUR 
  Penulis: Pejuang Islam  [23/1/2020]
   
RUH SHALIH BERKUMPUL AKAN DENGAN YANG SHALIH LAINNYA 
  Penulis: Pejuang Islam  [20/1/2020]
   
KEPEDULIAN MAYIT TERHADAP ORANG YANG MASIH HIDUP 
  Penulis: Pejuang Islam  [15/1/2020]
   
 
 Book Collection
 (Klik: Karya Tulis Pejuang)
Pengarang: H. Luthfi B dan Sy. Almaliki
Musuh Besar Umat Islam
Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat
Dialog Tokoh-tokoh Islam
Carut Marut Wajah Kota Santri
Tanggapan Ilmiah Liberalisme
Islam vs Syiah
Paham-paham Yang Harus Diluruskan
Doa Bersama, Bahayakah?
 
 WEB STATISTIK
 
Hari ini: Senin, 24 Februari 2020
Pukul:  
Online Sekarang: 8 users
Total Hari Ini: 923 users
Total Pengunjung: 4852088 users
 
 
Untitled Document
 PEJUANG ISLAM - KARYA ILMIAH USTADZ LUTHFI BASHORI
 
 
MATAHARI BAKAL TERBIT DARI BARAT 
Penulis: Pejuang Islam [ 14/12/2019 ]
 
MATAHARI BAKAL TERBIT DARI BARAT
(Bedah Pemikiran Mbah Hasyim Asy’ari)

Luthfi Bashori

KH. Hasyim Asy’ari menerangkan dalam kitab Riasalah Ahlis Sunnah wal Jamaah, tentang terbitnya matahari dari barat. Dalam kitab Bad’ul Wahyi pada Shahih Bukhari terdapat riwayat dari Shahabat Abu Dzar RA yang mengatakan: “Nabi SAW pernah bertanya kepadaku: ‘Ketika matahari terbenam, kemanakah perginya?’ Aku menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahuinya.’ Lalu beliau SAW bersabda: ‘Matahari pergi bersujud di bawah Arsy lalu meminta izin (untuk terbit kembali) dan diizinkan. Tidak lama lagi ia akan bersujud tetapi sujudnya tidak diterima, dan ia akan meminta izin (untuk terbit kembali) tetapi tidak di izinkan. (Dikatakan): Kembalilah ke tempat dari mana kamu datang !. Maka ia pun terbit dari tempatnya terbenam. Itu adalah makna firman Allah SWT: ‘Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui’ (QS. Yasin: 38).”

KH. Hasyim Asy’ari melanjutkan. Dalam kitab Fathul Bari dikatakan bahwa kemungkinan yang dimaksud dengan sujudnya matahari itu ialah sujudnya malaikat yang bertugas menjaganya. Atau sujud dalam bentuk keadaan, sehingga ungkapan itu adalah kinayah yang menujukkan bertambahnya ketundukan dan kepatuhan pada waktu itu. Imam An-Nawawi mengatakan: “Adapun sujudnya matahari adalah kemampuan membedakan dan memahami yang Allah SWT ciptakan di dalam diri matahari. Wallahu a’lam.”

Tentang riwayat matahari terbit dari barat ini tentu masih banyak keterangan yang terkait, antara lain:

Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Rabb-mu tidak berguna lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu, atau (belum) berusaha berbuat kebaikan dengan imannya itu.” (QS. Al-An’am, 158).

Imam Ath-Thabari berkata dalam kitab tafsirnya, “Dan pendapat yang paling tepat tentang masalah itu adalah sesuai sabda Rasulullah SAW, “Hal itu terjadi ketika matahari terbit dari barat.”

Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda: “Tahukah kalian ke mana perginya matahari (saat itu)?” Para Sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya matahari ini berjalan hingga sampai ke tempat menetapnya di bawah ‘Arsy, lalu dia tersungkur sujud, dan senantiasa demikian hingga dikatakan kepadanya, ‘Bangunlah! Kembalilah ke tempatmu pertama kali datang.’ Kemudian dia kembali datang di waktu pagi dan terbit dari tempat terbitnya, kemudian dia berjalan hingga sampai ke tempat menetapnya di bawah ‘Arsy, lalu dia tersungkur sujud, dan senantiasa demikian hingga dikatakan kepadanya, ‘Bangunlah! Kembalilah ke tempatmu pertama kali datang.’ Kemudian dia kembali datang waktu pagi dan terbit dari tempat terbitnya, kemudian dia berjalan lagi sementara manusia tidak mengingkarinya sedikit pun hingga dia kembali ke tempat menetapnya di bawah ‘Arsy, hingga dikatakan kepadanya, ‘Bangunlah! Terbitlah dari tempamu terbenam.’ Kemudian dia kembali datang di waktu pagi dan terbit dari tempat terbenamnya.’” Selanjutnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kalian tahu kapan itu terjadi? Hal itu terjadi ketika tidak bermanfaat lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya.” (HR. Muslim).

Menurut Imam Ibnu Katsir, “Segala sesuatu bersujud kepada-Nya karena keagungan-Nya, baik dengan ketaatan atau secara terpaksa, dan sujudnya segala sesuatu sesuai dengan kekhususan masing-masing.”

Imam Ibnu Hajar mengatakan, “Menurut dzahir hadits ini, bahwa yang dimaksud dengan menetapnya adalah berhentinya pada siang atau malam ketika bersujud, dan lawan dari menetap adalah peredarannya yang selalu dilakukan, yang diredaksikan dengan berjalan. Wallahu a’lam.

Walhasil, semua riwayat serta pendapat para ulama ini, tiada lain mengandung makna, bahwa tatkala kelak matahari terbit dari arah barat, maka saat itulah sudah sangat dekat dengan datangnya hari Qiamat.







   
 Isikan Komentar Anda
   
Nama 
Email 
Kota 
Pesan/Komentar 
 
 
 
 
 
Kembali Ke atas | Kembali Ke Index Karya Ilmiah
 
 
 
  Situs © 2009-2020 Oleh Pejuang Islam