URL: www.pejuangislam.com
Email: editor@pejuangislam.com
 
Halaman Depan >>
 
 
Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami
Ustadz H. Luthfi Bashori
 Lihat Biografi
 Profil Pejuang Kaya Ide
 Imam Abad 21
 Info Asshofwah
Karya Tulis Pejuang


 
Ribath Almurtadla
Al-islami
 Pengasuh Ribath
 Amunisi Dari Tumapel
 Aktifitas Pengasuh
 Perjuangan Pengasuh
 Kalender Ribath
Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
 Sekilas Profil
 Program Pendidikan
 Pelayanan Masyarakat
 Struktur Organisasi
 Pengasuh PIQ
 
Navigasi Web
Karya Tulis Santri
MP3 Ceramah
Bingkai Aktifitas
Galeri Sastra
Curhat Pengunjung
Media Global
Link Website
TV ONLINE
Kontak Kami
 
 
 Arsip Teriakan Pejuang
 
RONTOKNYA KUALITAS UMAT ISLAM 
  Penulis: Pejuang Islam  [19/11/2019]
   
PANCASILA KOK DIBANDINGKAN DENGAN ALQURAN? 
  Penulis: Pejuang Islam  [17/11/2019]
   
ALQURAN DIBANDINGKAN DENGAN PANCASILA ?  
  Penulis: Pejuang Islam  [17/11/2019]
   
WA DANA WA DANA DANA 
  Penulis: Pejuang Islam  [17/11/2019]
   
KELUARGA LINTAS AGAMA, SEBAGAI TANDA QIAMAT 
  Penulis: Pejuang Islam  [15/11/2019]
   
 
 Book Collection
 (Klik: Karya Tulis Pejuang)
Pengarang: H. Luthfi B dan Sy. Almaliki
Musuh Besar Umat Islam
Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat
Dialog Tokoh-tokoh Islam
Carut Marut Wajah Kota Santri
Tanggapan Ilmiah Liberalisme
Islam vs Syiah
Paham-paham Yang Harus Diluruskan
Doa Bersama, Bahayakah?
 
 WEB STATISTIK
 
Hari ini: Rabu, 11 Desember 2019
Pukul:  
Online Sekarang: 6 users
Total Hari Ini: 733 users
Total Pengunjung: 4722973 users
 
 
Untitled Document
 PEJUANG ISLAM - KARYA ILMIAH USTADZ LUTHFI BASHORI
 
 
SIFAT TAUSIAH DAN FATWA MUI BAGI PEJABAT & RAKYAT 
Penulis: Pejuang Islam [ 14/11/2019 ]
 
SIFAT TAUSIAH DAN FATWA MUI BAGI PEJABAT & RAKYAT



Luthfi Bashori


(Mantan Ketua Komisi Hukum & Fatwa MUI Kab. Malang)

Jika meninjau istilah yang termaktub dalam kamus Wikipedia, makna `Tausiah` adalah istilah umum di kalangan umat Islam yang merujuk kepada kegiatan syiar agama (dakwah), yang disampaikan secara tidak resmi (informal).


Berbeda dengan tabligh,  ceramah, orasi, atau khathbah yang lebih berkonotasi kepada pidato serius, yang dihadiri oleh ribuan bahkan puluhan ribu jamaah.

Secara praktis, tausiah juga berarti ceramah keagamaan yang berisi pesan-pesan dalam hal kebenaran dan kesabaran, merujuk pada QS. Al-‘Ashr, 3 "Wa tawashau bil haqqi wa tawashau bish shabr" yang artinya "Dan mereka saling berwasiat (mengingatkan) dalam kebenaran dan kesabaran".

Tausiah juga dapat dimaknai sebagai wasiat atau pesan terakhir yang disampaikan oleh orang yang akan meninggal dunia, dapat pula berisi penyerahan atau pembagian barang-barang warisan.
(https://id.m.wikipedia.org/wiki/Tausiyah)

Sedangkan Fatwa adalah sebuah istilah mengenai pendapat atau tafsiran pada suatu masalah yang berkaitan dengan hukum Islam.

Menurut bahasa Arab sendiri, fatwa adalah "nasihat", "petuah", "jawaban" atau "pendapat".



Maksudnya adalah sebuah keputusan atau nasihat resmi yang diambil oleh sebuah lembaga atau perorangan yang diakui otoritasnya, misalnya disampaikan oleh seorang mufti atau ulama, sebagai tanggapan atau jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan oleh masyarakat, dan tidak mempunyai keterikatan secara hukum dalam undang-undang negara dengan si penanya.

Menurut Ainun Najib Dosen Fakultas Syariah Institut Agama Islam Ibrahimy dalam Jurnal yang berjudul Fatwa Majelis Ulama Indonesia Dalam Perspektif Pembangunan Hukum Responsif (hal. 375-375), kedudukan MUI dalam ketatanegaraan Indonesia sebenarnya adalah berada dalam elemen infra struktur ketatanegaraan, sebab MUI adalah organisasi Alim Ulama Umat Islam yang mempunyai tugas dan fungsi untuk pemberdayaan masyarakat/umat Islam, artinya MUI adalah organisasi yang ada dalam masyarakat, bukan merupakan institusi milik negara atau merepresentasikan negara.

Lebih lanjut dijelaskan, artinya fatwa MUI bukanlah hukum negara yang mempunyai kedaulatan yang bisa dipaksakan bagi seluruh rakyat, fatwa MUI juga tidak mempunyai sanksi dan tidak harus ditaati oleh seluruh warga negara.

Sebagai sebuah kekuatan sosial politik yang ada dalam infra struktur ketatanegaraan, Fatwa MUI hanya mengikat dan ditaati oleh komunitas umat Islam yang merasa mempunyai ikatan terhadap MUI itu sendiri.

Legalitas fatwa MUI pun tidak bisa dan mampu memaksa harus ditaati oleh seluruh umat Islam, ungkap Ainun Najib.



Dengan demikian, pihak yang meminta fatwa tidak wajib mengikuti isi atau hukum fatwa yang diberikan kepadanya, tetapi tetap dianjurkan menjalankan fatwa MUI tersebut, sebagai pertimbangan bagi keselamatan akhiratnya.


Untuk masyarakat Indonesia, fatwa yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia, dijadikan sebagai suatu keputusan tentang persoalan ijtihadiyah, guna dijadikan pegangan pelaksanaan ibadah dan muamalah sehari-hari.



MUI sendiri tidak pernah mengharuskan masyarakat untuk mengikuti fatwa produk MUI, terutama dalam rana kenegaraan, karena MUI bukanlah lembaga resmi kenegaraan seperti DPR, MPR, Kemenag dan sebagainya.


Jadi misi utama MUI hanyalah ingin membantu umat Islam pada khususnya, demi keselamatan akhirat mereka belaka, hingga masyarakat tidak salah dalam menjalankan kewajiban agamanya.



Dengan demikian, tidak ada kaitannya antara Fatwa MUI dengan persidangan yang dilakukan oleh instansi kenegaraan terkait, serta peraturan perundang-undangan negara, kecuali jika pihak pelaksana negara mengadopsi Fatwa MUI sebagai salah satu sumber hukum dalam mengambil suatu kebijakan, termasuk menyusun undang-undang positif secara legal formal, karena MUI selama ini menjadi mitra bagi pemerintahan.



Dikeluarkannya tausiah maupun fatwa oleh MUI dalam kasus tertentu, seperti tausiah boleh atau tidaknya para pejabat muslim mengucapkan salam dengan mengikuti bentuk salam dari agama selain Islam itu, tujuannya hanyalah agar para pejabat muslim tersebut terselamatkan dari persidangan Allah saat kelak mereka berada di padang mahsyar.



Bagi para pejabat serta masyarakat yang beragama Islam dan mau mentaati isi tausiah atau fatwa MUI, maka harapan besar kelak akan selamat di depan persidangan Allah.


Sebaliknya, bagi pihak yang sengaja menolak tausiah atau fatwa MUI, apalagi menentangnya, tentu akan menjadi preseden buruk, bagi mereka di waktu menghadap Allah secara langsung, bahkan di saat mereka masih berada di alam kubur yang jauh dari hiruk pikuk kehidupan dunia, dan jauh dari kekebalan hukum atas nama jabatan manapun, tatkala malaikat penanya, Munkar & Nakir menjalankan tugas mulianya.
   
 Isikan Komentar Anda
   
Nama 
Email 
Kota 
Pesan/Komentar 
 
 
 
 
 
Kembali Ke atas | Kembali Ke Index Karya Ilmiah
 
 
 
  Situs © 2009-2019 Oleh Pejuang Islam