URL: www.pejuangislam.com
Email: editor@pejuangislam.com
 
Halaman Depan >>
 
 
Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami
Ustadz H. Luthfi Bashori
 Lihat Biografi
 Profil Pejuang Kaya Ide
 Imam Abad 21
 Info Asshofwah
Karya Tulis Pejuang


 
Ribath Almurtadla
Al-islami
 Pengasuh Ribath
 Amunisi Dari Tumapel
 Aktifitas Pengasuh
 Perjuangan Pengasuh
 Kalender Ribath
Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
 Sekilas Profil
 Program Pendidikan
 Pelayanan Masyarakat
 Struktur Organisasi
 Pengasuh PIQ
 
Navigasi Web
Karya Tulis Santri
MP3 Ceramah
Bingkai Aktifitas
Galeri Sastra
Curhat Pengunjung
Media Global
Link Website
TV ONLINE
Kontak Kami
 
 
 Arsip Teriakan Pejuang
 
MARAKNYA FREE SEX DI DEPAN PUBLIK 
  Penulis: Pejuang Islam  [14/11/2019]
   
SIFAT TAUSIAH DAN FATWA MUI BAGI PEJABAT & RAKYAT 
  Penulis: Pejuang Islam  [14/11/2019]
   
MALPRAKTEK AGAMA 
  Penulis: Pejuang Islam  [13/11/2019]
   
MENJELANG MUNCUNYA DAJJAL 
  Penulis: Pejuang Islam  [7/11/2019]
   
NIHIL ILMU AGAMA, MENGURUSI AGAMA 
  Penulis: Pejuang Islam  [4/11/2019]
   
 
 Book Collection
 (Klik: Karya Tulis Pejuang)
Pengarang: H. Luthfi B dan Sy. Almaliki
Musuh Besar Umat Islam
Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat
Dialog Tokoh-tokoh Islam
Carut Marut Wajah Kota Santri
Tanggapan Ilmiah Liberalisme
Islam vs Syiah
Paham-paham Yang Harus Diluruskan
Doa Bersama, Bahayakah?
 
 WEB STATISTIK
 
Hari ini: Rabu, 20 November 2019
Pukul:  
Online Sekarang: 9 users
Total Hari Ini: 163 users
Total Pengunjung: 4683644 users
 
 
Untitled Document
 PEJUANG ISLAM - KARYA ILMIAH USTADZ LUTHFI BASHORI
 
 
BERUSAHA LANTAS BERTAWAKAL  
Penulis: Pejuang Islam [ 31/10/2019 ]
 
BERUSAHA LANTAS BERTAWAKAL

Luthfi Bashori


Imam Abu Yazid RA berkata, “Jika engkau yakin bahwa tidak ada penolong bagi dirimu, tidak ada pemberi rezeki bagimu dan tidak ada saksi bagi amalanmu selain hanya Allah, maka itulah arti tawakal yang sempurna. Karena arti tawakal adalah kepasrahan hati kita kepada Allah sepenuhnya, karena kita yakin bahwa tidak suatu apa pun yang keluar dari kekuasaan-Nya dan tidak suatu apa pun yang dapat mendatangkan kebaikan dan keburukan (selain dari-Nya).”

Tawakal (bahasa Arab: توكُل‎‎) atau tawakkul berarti mewakilkan atau menyerahkan. Dalam ajaran syariat, tawakal berarti berserah diri sepenuhnya kepada Allah dalam menghadapi atau menunggu hasil suatu pekerjaan, atau menanti akibat dari suatu keadaan.

Rasulullah SAW bersabda:
“Seandainya kalian sungguh-sungguh bertawakal kepada Allah, sungguh Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana Allah memberi rezeki kepada seekor burung yang pergi dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang “ (HR.Tirmidzi, hasan shahih)
Seekor burung tidak tahu letak di mana biji-bijian dan makanan yang akan didapatkan, bisa jadi di tempat kemarin yang ia dapatkan, sekarang telah habis persediaan biji tersebut.

Namun, usaha burung saat terbang meninggalkan sarangnya, adalah termasuk menjalankan perintah syariat sebagai bentuk ikhtiar atau usaha untuk merncari sejumput makanan.

Dalam sebuah riwayat ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, apakah saya ikat onta saya lalu tawakal kepada Allah ataukah saya lepas saja sambil bertawakal kepada-Nya ? Rasulullah SAW menjawab, “Ikatlah dulu ontamu itu, kemudian baru engkau bertawakal !” (HR. At-Tirmidzi, 2517).

Sebagai pengalaman pribadi, sering kali penulis sebagai pengasuh sebuah pesantren yang tidak memilik pekerjaaan tetap dalam dunia bisnis atau kepegawaian,  mendapatkan situasi dan kondisi yang mengharuskan penulis bertawakal penuh kepada Allah, karena saat penulis berusaha untuk mendapatkan sesuatu yang penulis perlukan,

sebut saja semisal saat mencari dana pembangunan renovasi pesantren, yang secara dhahir penulis tidak mendapatkan dana dari usaha yang penulis lakukan, walaupun sudah berusaha secara sunguh-sungguh, namun ternyata Allah memberikan apa yang penulis perlukan itu dari jalur lain, yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan sama sekali, semisal tiba-tiba datang seorang tamu dermawan yang menyerahkan sejumlah dana bantuan dari pribadinya sendiri, agar penulis dapat melanjutkan renovasi pesantren.

Contoh-contoh seperti ini, bukan hanya sekali atau dua kali, namun sering kali terjadi dalam kehidupan penulis sehingga menimbulkan kepercayaan yang penuh, bahwa sebenarnya Allah telah menyiapkan orang-orang dermawan yang baik hati dan dari tangan merekalah Allah membagi rejeki-Nya kepada penulis, hingga dapat mengamalkan ajaran kewajiban berikhtiar dan bertawakal dalam kehidupan sehari-hari penulis.

Pesan penulis, “Jalani saja kehidupanmu dengan sebaik mungkin, maka Allah akan mengatur yang terbaik bagimu, tentu selagi engkau selalu berusaha berada pada jalur syariat-Nya secara baik dan benar.”
   
 Isikan Komentar Anda
   
Nama 
Email 
Kota 
Pesan/Komentar 
 
 
 
 
 
Kembali Ke atas | Kembali Ke Index Karya Ilmiah
 
 
 
  Situs © 2009-2019 Oleh Pejuang Islam