URL: www.pejuangislam.com
Email: editor@pejuangislam.com
 
Halaman Depan >>
 
 
Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami
Ustadz H. Luthfi Bashori
 Lihat Biografi
 Profil Pejuang Kaya Ide
 Imam Abad 21
 Info Asshofwah
Karya Tulis Pejuang


 
Ribath Almurtadla
Al-islami
 Pengasuh Ribath
 Amunisi Dari Tumapel
 Aktifitas Pengasuh
 Perjuangan Pengasuh
 Kalender Ribath
Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
 Sekilas Profil
 Program Pendidikan
 Pelayanan Masyarakat
 Struktur Organisasi
 Pengasuh PIQ
 
Navigasi Web
Karya Tulis Santri
MP3 Ceramah
Bingkai Aktifitas
Galeri Sastra
Curhat Pengunjung
Media Global
Link Website
TV GARIS LURUS
Kontak Kami
 
 
 Arsip Teriakan Pejuang
 
SY. UTSMAN BIN AFFAN RA, MENANTU KECINTAAN RASULULLAH SAW 
  Penulis: Pejuang Islam  [8/10/2017]
   
MEMILIH SESUATU YANG HALAL & MENOLAK YANG HARAM 
  Penulis: Pejuang Islam  [9/9/2017]
   
MANUSIA SETENGAH DRAKULA, SI BIKSU WIRATHU 
  Penulis: Pejuang Islam  [6/9/2017]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [2/9/2017]
   
IDUL FITHRI DAN IDUL ADHA PENGGANTI HARI RAYA ‘NAIRUZ’ & ‘MAHRAJAN’ 
  Penulis: Pejuang Islam  [30/8/2017]
   
 
 Book Collection
 (Klik: Karya Tulis Pejuang)
Pengarang: H. Luthfi B dan Sy. Almaliki
Musuh Besar Umat Islam
Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat
Dialog Tokoh-tokoh Islam
Carut Marut Wajah Kota Santri
Tanggapan Ilmiah Liberalisme
Islam vs Syiah
Paham-paham Yang Harus Diluruskan
Doa Bersama, Bahayakah?
 
 WEB STATISTIK
 
Hari ini: Jumat, 20 Oktober 2017
Pukul:  
Online Sekarang: 6 users
Total Hari Ini: 475 users
Total Pengunjung: 3627818 users
 
 
Untitled Document
 PEJUANG ISLAM - KARYA ILMIAH USTADZ LUTHFI BASHORI
 
 
NU DI PERSIMPANGAN 
Penulis: H. Luthfi Bashori [ 4/9/2016 ]
 

Suatu hari, saya pergi ke Surabaya dan kebetulan mampir ke rumah salah satu pengurus NU di wilayah Sidotopo. Saat saya berada di rumah pengurus NU ini, terjadilah perbincangan yg cukup `gayeng` di antara kami berdua. Sayang sekali, saya tidak mungkin menyebut nama besar beliau demi menjaga privasi sesama muslim.

Hampir lima jam tanpa terasa saya bertamu, dan banyak hal yg kami bicarakan, khususnya tentang ke-NU-an, mulai dari dunia pendidikan NU, Rumah Sakit, kepengurusan, dan lain sebagainya, hingga menyangkut aliran-aliran sesat yang merambah Indonesia. Entah karena apa, sepanjang waktu dialog beliau lebih banyak bertanya kepada saya daripada memberi input.

Atau barangkali, sebagai pengurus NU struktural, beliau ingin mengorek keterangan sebanyak-banyaknya dari orang lapangan seperti saya, yakni warga NU yg benar-benar kultural semata, dengan istilah sekaang sebagai NU METAL (Melok Tahlil) alias ikut tahlilan warga NU. Saya juga menyampaikan keprihatinan kepada beliau tentang maraknya aliran sesat yang masuk ke dalam tubuh NU sendiri. Misalnya masuknya JIL dan Syi`ah Iraniyah ke dalam pemikiran beberapa tokoh struktur NU.

Tatkala saya sedang asyik menerangkan perbedaan aqidah antara keyakinan Sunny versus Syi`ah, semisal mayoritas umat Islam di dunia ini adalah penganut Ahlus sunnah, yang sangat menghormati Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar bin Khatthab, Khalifah Utsman bin Affan, dan Khalifah Ali bin Abi Thalib RA.

Sedangkan kaum Syi`ah yang keberadaannya di dunia ini minoritas, justru mencaci-maki khalifah ke satu, ke dua, dan ke tiga, bahkan di dalam kitab panduan utama mereka, yaitu Alkafi, karangan Alkulaini, cetakan Teheran Iran, kaum Syi`ah telah mengkafirkan Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar, dan Khalifah Utsman serta mayoritas para Shahabat RA. Sedangkan yang diakui ke khalifahannya oleh kaum Syi`ah hanyalah Khalifah Ali bin Abi Thalib. Lebih ekstrimlagi, Khomeini sang tokoh kaum Syi`ah, dalam bukunya, dia menyakini bahwa kedudukan Imam Ali bin Abi Thalib lebih tinggi daripada derajat Nabi Muhammad SAW.

 Tiba-tiba pengurus NU ini berkomentar: "Ustadz, timbulnya aliran Syi`ah itu, kan di saat pemerintahan Sayidina Ali bin Abi Thalib, terus mengapa Sayidina Abu Bakar, Sayidina Umar, dan Sayidina Utsman KOK DIAM SAJA, tidak ikut bersama-sama dengan Sayidina Ali memerangi kaum Syi`ah, yang telah mengkafirkan mereka bertiga? Padahal jaman itu kan banyak peperangan seperti membasmi `nabi-nabi palsu`... ".

Mendengar komentar beliau, hati saya menjadi prihatin, khususnya kepada warga NU, yg mendapatkan tokoh pemimpin justru tidak mengenal dunia Islam. Tidakkah beliau pernah menbaca kitab atau mendengar pengajian, yang menerangkan bahwa Sayidina Abu Bakar, Sayidina Umar, dan Sayidina Utsman radliyallahu `anhum telah wafat, saat Sayidina Ali bin Abi Thalib diangkat menjadi Khalifah ke empat?.

Demikianlah, setelah selidik punya selidik, ternyata tokoh pengurus NU ni, tidak pernah mengenyam pendidikan Pesantren, sebagaimana layaknya para pengurus NU di masa-masa awal berdirinya Jam`iyyah Nahdlatul Ulama. Bahkan penamaan Nahdlatul Ulama yang berarti Kebangkitan Para Ulama, adalah identik dengan tokoh-tokoh Ulama pesantren. Yaitu figur-figur yang telah malang melintang dalam dunia Islam lewat kajian-kajian ilmu keislaman yg dibidangi oleh kependidikan pesantren.

Bilamana dewasa ini para pengurus NU bukan lagi tokoh-tokoh pesantren, maka eksistensi NU sebagai kebangkitan para Ulama akan semakin terombang-ambing. Dalam sebuah kaedah dikatakan idza wussidal amru ilaa ghairi ahlihi, fantadliris saa`ah, artinya jika sebuah perkara diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggu saja kehancurannya. Demikian juga jika jam`iyyah NU pada akhirnya dipimpin dan diurusi oleh tokoh-tokoh yang bukan dari kalangan para Ulama pesantren, maka bisa ditebak dengan mudah apa yang terjadi. Semoga Allah melindungi umat Islam negeri ini dari kehancuran.
(pejuangislam)

   
 Isikan Komentar Anda
   
Nama 
Email 
Kota 
Pesan/Komentar 
 
 
 
1.
Pengirim: Moch. Nurcholis  - Kota: singosari
Tanggal: 3/11/2009
 
Saya warga NU ckup prihatin dng kondisi NU.. pa lagi saya melihat tokoh NU yg malah melindungi hal2 yg bertentangan dng Islam!! sprt mslah inul, Ahmadiyah, dll... Menurut saya tokoh itu sdh salah besar!! Semoga NU tetap menjadi penegak Syari'at Islam.. Amin.... Maaf jika da kesalahan kta2 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Mudah-mudahan suara akhi dapat didengarkan oleh tokoh-tokoh yang akhi maksudkan.

2.
Pengirim: hamba Allah  - Kota: tasikmalaya
Tanggal: 1/12/2009
 
Ass,Ust ana sngt bingung.krn sjak Abah ana meninggal,kerabat2nya.menawahkn k benaran si'ah kpd org2.tpi ana sngat tdk stju dgn si'ah. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Langkah saudara dalam menolak ajaran Syi'ah adalah langkah yang tepat, bahkan Habib Salim bin Jindan dalam buku beliau Arra'atul Ghamidhah menukil sabda Nabi SAW tentang tata cara memperlakukan kaum Rafidhah/Syi'ah yang ringkasnya : Jangan engkau duduk bersama mereka, jangan memberi minum mereka, jangan memberi makan mereka dan jangan menikahkan mereka/menghadiri pernikahan mereka ! Masih banyak lagi dalam buku itu entang larangan-larangan untuk bergaul dengan kalangan Syi'ah ini,

3.
Pengirim: barep  - Kota: Yogyakarta
Tanggal: 3/2/2010
 
Sama ustadz...ketika ada debat masalah tarawih..salah satu tokoh NU juga nanya begini: Klo tarawih 20 roka'at oleh Umar itu tidak benar, kenapa Nabi tidak menegurnya?lha dalah...kan Nabi dah meninggal. Ini bener2 terjadi 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Baik tokoh NU maupun tokoh Muhammadiyah, dan tokoh ormas Islam lain, tidak secara otomatis menjadi ahli dalam memahami ilmu agama, karena sebagian mereka dapat dianggap menjadi tokoh dalam organisasinya hanyalah karena keaktifannya dalam berorganisasi semata, bukan karena karena dasar kependidikan keagamaannya. Lebih dari yang akhi tanyakan, juga sering terjadi. Seperti banyak tokoh yang sudah berani tampil mewakili organisasinya, ternyata satu ayat Alquran yg pendek saja bisa salah fatal, atau mengucapkan salam saja tidak fasih layaknya masyarakat awwam. Suatu saat saya hadir dalam acara di Jakarta, waktu doa terakhir , maka protokol meminta seorang tokoh Islam Nasional non NU dari Depag untuk memimpin, ternyata bacaan doa bahasa Arabnya sangat kacau balau. Saya hanya dapat t ersenyum kecut. Belum lagi karena keawaman sebagian tokoh-tokoh Islam Nasional, hingga merestui kunjungan Non Muslim untuk masuk masjid Istiqlal baru2 ini. Lah orang Islam yang sedang junub dan haid jika belum mandi 'besar' saja haram masuk masjid, kok malah Non Muslim yang tidak pernah mandi junub malah diajak masuk Masjid. Itulah bukti jeleknya kualitas keilmuan keislaman sebagian tokoh2 Islam di tanah air.

4.
Pengirim: husen  - Kota: jember
Tanggal: 24/2/2010
 
ustad knp antum kok benci sm nu padahal nu benteng aswaja.antum keras dlam menyikapi perbedaan 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Akhi salah mengambil kesimpulan, akhi sebaiknya membaca juga buku KONSEP NU & KRISIS PENEGAKAN SYARIAT, serta buku DIALOG TOKOH2 ISLAM, dan jika sempat baca buku MUSUH BESAR UMAT ISLAM secara tuntas, hingga bisa memahami misi dan visi kami, yaitu berjuang mengembalikan NU kepada habitat aslinya seperti saat didirikan oleh KH. Asy'ari yg jauh dari pengaruh Sekularisme, Pluralisme, Liberalisme (SEPILIS), dan agar kepengurusan NU kembali kepada komunitas Ulama pemangku Pesantren yang benar-benar memahami agama secara mendalam. NU = Nahdlatul Ulama = Kebangkitan Ulama. Jadi sudah seharusnya NU kembali ke habitatnya dipimpin oleh tokoh2 pesantren Salaf yg tidak tergiur oleh gemerlapan dunia politik dan pengaruh dunia barat lewat pemahaman SEPILIS nya. Jika akhi dalami pemahaman kepengurusan NU secara nasional dewasa ini, maka nuansa SEPILIS telah banyak bercokol di dalamnya. Bahkan yang bau-bau Syiah pun ikut mengambil peran dalam tubuh NU.

5.
Pengirim: Mirza  - Kota: Singosari
Tanggal: 22/9/2010
 
Prihatin... Apa harusnya diadakan "Gerakan Purifikasi NU" untuk membersihkan NU dari pengaruh2 sesat tersebut???

Saya jadi ingat syair orang2 tua dulu:
Jaman wis akir, jaman wis akir, bumine goyang..." (bumi kan salah satu lambang NU).

Ass. Pak Kyai. Semoga selalu istiqomah dalam melestarikan kemurnian Ahlussunnah wal Jama'ah, Amiin... 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Kita semuanya prihatin. Mudah-mudahan umat Islam diselamatkan oleh Allah dari upaya pendangkalan aqidah yang dilakukan oleh para pemimpinnya.

6.
Pengirim: haris safari  - Kota: jakarta
Tanggal: 26/9/2012
 
Inna lillaahi wa inna ilaihi rooji'uun.......
ke depan sebaiknya yang duduk di jajaran NU Struktural melewati "fit and proper test" dari sisi kedalaman ilmu keislamannya (termasuk sirah)...karena pandangan masyrakat awam terhadap para pejabat di struktural NU adalah ....mereka memahami Islam dengan baik....
yang dikhawatirkan NU struktural dimasuki para petualng politik / oportunis...hal ini bisa merusak nama besar organisasi NU yang telah dirintis susah payah oleh Hadrotusy Syaikh bersama rekan-rekan ulama mulia generasi awal NU.... 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Terima kasih respon positifnya, namun ada yang perlu kami garisbawahi adalah pernyataan akhi :
yang dikhawatirkan NU struktural dimasuki para petualng politik / oportunis...

Realitanya bukan sekedar 'yang perlu dikhawatirkan', tapi justru sudah terjadi apa yang akhi khawatirkan itu, bahkan proses pemilihan Ketua Umum PBNU pun sudah tidak seperti harapan akhi, tapi sudah banyak kepentingan-kepentingan lain. Coba cermati juga artikel kami yang lain berjudul: MUNAS NU KEMPEK.

7.
Pengirim: haris safari  - Kota: jakarta
Tanggal: 26/9/2012
 
Assalaamu 'alaikum pak kyai....

memang benar...nampaknya pemahaman terhadap sirah nabawiyah menjadi sangat penting bagi generasi sekarang....usul pak kyai....
sekali-sekali masukan masukan penggalan sirah nabawiyah...yang mana esensi dari sejarah tsb bisa dianalogikan dengan konteks masalah yang timbul di zaman sekarang ini....tks 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Mohon doa mudah-mudahan harapan akhi dapat kami laksanakan, namun tidak mengurangi makna usulan, sebenarnya kami sudah serimng menyelipkan sejarah Nabi SAW, sejarah para shahabat dan para ulama salaf, baik dalam artikel-artikel maupun MP3 Ceramah, Mudah-mudahan akhi ada waktu luang untuk mendengarkannya.

8.
Pengirim: Abu Yunus  - Kota: Jakarta
Tanggal: 28/9/2012
 
Bismillah,
Assalamu'alaikum,

Afwan sebelumnya ada beberapa pertanyaan dari ana mengenai tulisan antum..

1. Mengenai haramnya non muslim masuk ke dalam masjid bagaimana dengan riwayat diikatnya Tsumamah bin Utsal di tiang masjid, padahal dia masih dalam keadaan kafir ketika itu ?? apakah tiang masjid ini bukan bagian dari masjid ??

2. Berkenaan dengan orang yang sedang junub..bagaimana dengan ahlu ash-suffah dan orang yang melaksanakan i'tikaf yang mana mereka tidur di dalam masjid dan tidak menutup kemungkinan mereka bisa junub ( mimpi basah ), tetapi tidak ada perintah dari Rasulullah untuk mengeluarkan mereka dari masjid ?

Atas tanggapan dan tambahan ilmu yang diberikan ana ucapkan Jazakallah khoiron katsiron.

Wassalamu'alaikum
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
batas masjid itu tergantung dari ikrar waqafnya. Ada kalanya tiang sebuah masjid dibangun pada tanah waqaf masjid, maka dihukumi dalam masjid, ada kalanya dibangun di luar batas waqaf masjib, maka dihukumi luar masjid.
Demikian juga hukum terhadap beranda masjid.

Tawanan perang di saat itu diikat di tiang masjid, bisa diartikan bahwa badannya berada di luar masjid sedangkan tangannya diikat di tiang masjid. Perlu diingat, pertama Nabi SAW membangun masjid Nabawi itu adalah berupa tanah kosong yang dikitari pagar. Bahkan pernah terjadi ada orang dusun yang kencing di pojok dalam masjid, lantas oleh Nabi SAW disuruh menyiramnya dengan air, dan dengan meresapnya air ke dalam tanah, sudah dianggap suci kembali.

9.
Pengirim: Abu Yunus  - Kota: Jakarta
Tanggal: 2/10/2012
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
batas masjid itu tergantung dari ikrar waqafnya. Ada kalanya tiang sebuah masjid dibangun pada tanah waqaf masjid, maka dihukumi dalam masjid, ada kalanya dibangun di luar batas waqaf masjib, maka dihukumi luar masjid.
Demikian juga hukum terhadap beranda masjid.

Tawanan perang di saat itu diikat di tiang masjid, bisa diartikan bahwa badannya berada di luar masjid sedangkan tangannya diikat di tiang masjid. Perlu diingat, pertama Nabi SAW membangun masjid Nabawi itu adalah berupa tanah kosong yang dikitari pagar. Bahkan pernah terjadi ada orang dusun yang kencing di pojok dalam masjid, lantas oleh Nabi SAW disuruh menyiramnya dengan air, dan dengan meresapnya air ke dalam tanah, sudah dianggap suci kembali.

Tanggapan :

Bismillah,

Assalamu'alaikum

Untuk menafsirkan makna hadits tentang tawanan yang diikat di tiang masjid sebagaimana penafsiran antum hendaknya diberikan dalil yang mendukungnya agar tidak dikatakan bahwa penafsiran hadits tersebut adalah dari pribadi sendiri.

Penafsiran antum mengenai tangan yang terikat ada di wilayah masjid sedang badannya di luar masjid menyalahi dari apa yang antum jabarkan sendiri, apakah ini berarti tangan bukan bagian dari tubuh ??

Lalu bagaimana juga dengan dalil ketika Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassallam meminta kepada ummul mukminin Aisyah Radiyallahu Anha untuk mengambilkan tikar di dalam masjid padahal beliau sedang Haid..

NB : Alangkah baiknya ketika kita menuliskan Sholawat untuk Rasulullah ditulis secara lengkap dan tidak menyingkatnya sebagai bagian dari adab kita kepada beliau.

Wassalamu'alaikum 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Loh. yang benar saja kalau berasumsi... Tawanan perang itu orang kafir, sedangkan St. Aisyah yang haidl itu muslimah. Jelas tidak ada keterkaitannya antar keduanya.

10.
Pengirim: Ahmad  - Kota: Probolinggo
Tanggal: 5/10/2012
 
Bedanya kafir dan haid itu apa?
Dalil org kafir boleh masuk masjid apa?
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Mas Abu Yunus rupanya perlu banyak belajar. agar dapat membedakan antara hukum bagi orang kafir dan hukum bagi orang Islam.

11.
Pengirim: Abu Yunus  - Kota: Jakarta
Tanggal: 18/10/2012
 
Bismillah

Assalamu'alaikum

[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Loh. yang benar saja kalau berasumsi... Tawanan perang itu orang kafir, sedangkan St. Aisyah yang haidl itu muslimah. Jelas tidak ada keterkaitannya antar keduanya.

[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Mas Abu Yunus rupanya perlu banyak belajar. agar dapat membedakan antara hukum bagi orang kafir dan hukum bagi orang Islam.

Tanggapan :

Ya akhi... lihat dari awal tulisan komentar yang ana tulis dari awal adalah sebagai bantahan ilmiah dari komentar antum yang mengharamkan seorang Muslim yang sedang junub apalagi kafir untuk masuk ke dalam masjid, kenapa sekarang antum mengatakan adanya perbedaan hukum diantara keduanya ??

Ana hanya menampilkan dalil dari Hadits mengenai seseorang yang sedang junub/haid begitupun juga tentang orang kafir yang diikat pada tiang masjid.

Antum belum memberikan dalil yang mendukung tentang penafsiran antum terhadap Hadits Tsumamah bin Utsal, tolong berikan rujukan antum untuk penafsiran Hadits tersebut diambil dari kitab Ulama Salaf siapa agar tidak adanya upaya menyembunyikan ilmu dari Ummat.

Barakallahu fik.

Wassalamu'alaikum


NB : kenapa komentar dari ana pada tulisan antum NYEKAR dan SESAJEN tidak ditampilkan ??
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
1. Dalil wanita haid tidak boleh bermukim di masjid : Hadits Ummu ‘Athiyyah ia berkata:
أُKami diperintahkan untuk mengeluarkan wanita haidl dan pingitan pada dua hari raya agar mereka menyaksikan jama’ah kaum muslimin dan seruan mereka, sedangkan wanita haidl memisahkan diri dari mushalla (tempat shalat) mereka”. (HR Bukhari dan Muslim dan ini adalah lafadz Bukhari).

Dalam hadits ini Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan para wanita haidl untuk memisahkan diri dari mushalla dan yang dimaksud mushalla di sini adalah tempat shalat, jadi hadits ini adalah nash yang melarang wanita haidl masuk ke dalam masjid.

2, Dalil orang kafir tidak boleh masuk masjid, firman Allah yang artinya : Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka itu kekal di dalam neraka. (QS At-Taubah: 17).

3. Kirim ulang saja.

12.
Pengirim: aris  - Kota: jember
Tanggal: 19/10/2012
 
Ya akhi... lihat dari awal tulisan komentar yang ana tulis dari awal adalah sebagai bantahan ilmiah dari komentar antum yang mengharamkan seorang Muslim yang sedang junub apalagi kafir untuk masuk ke dalam masjid, kenapa sekarang antum mengatakan adanya perbedaan hukum diantara keduanya ??
- apakah KH. Luthfi pernah mengatakan berbeda hukum keduanya?

Ana hanya menampilkan dalil dari Hadits mengenai seseorang yang sedang junub/haid begitupun juga tentang orang kafir yang diikat pada tiang masjid.
- Tiang masjid bisa saja tdk masuk dalam tanah masjid. Siapa yang menyatakan bahwa tiang tsb adalah masuk dalam tanah masjid?

Antum belum memberikan dalil yang mendukung tentang penafsiran antum terhadap Hadits Tsumamah bin Utsal, tolong berikan rujukan antum untuk penafsiran Hadits tersebut diambil dari kitab Ulama Salaf siapa agar tidak adanya upaya menyembunyikan ilmu dari Ummat.
- kalo antum memiliki referensi penafsiran yg berbeda, maka silahkan datangkan penafsiran ulaama salah tsb.

 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Sejatinya, khusus dalam masalah orang kafir masuk masjid itu ada khilafiyah di antara para ulama, ada yang mengharamkan dengan beberapa keterangan dan ada yang memperbolehlah dengan beberapa syarat. Hanya saja kaum liberal sengaja menjadikan polemik khilafiyah ini justru untuk menjustifikasi kegiatan JIL yang sengaja merekrut non muslim untuk bersatu dalam kegiatan JIL.

Misalnya mengadakan Rapat Bersama Komunitas Lintas Agama bertempat di salah satu masjid.

Bahkan ada yang tampil bareng muslim - non muslim dalam acara DOA BERSAMA MUSLIM -NON MUSLIM.
Maka mengambil pendapat keharamannya, sebagaimana pendapat madzhab Maliki, khusus untuk di jaman fitnah ini akan lebih maslahat. Tentu perlu ada rincian pada saat praktek di lapangan.
Wallahu a'lam.

13.
Pengirim: Miftah  - Kota: Bandung
Tanggal: 26/10/2012
 
Assalamu Alaikum Ust. Luthfi, smoga ALLAH snantiasa merahmati antum skluarga. Sebagai orang yang pernah 6 tahun berguru kepada kiyai2 NU, saya sangat merindukan jika orang2 NU saat ini benar2 menjadi pejuang Islam, pejuang syariah, dan pemersatu ummat sedunia, seperti itulah mestinya tugas ulama pwaris Nabi.

Semoga ALLAH SWT snantiasa mengokohkan antum dan jajaran ulama2 NU yang hanif lainnya. Ummat menunggu gebrakan NU. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Mudah-mudahan ada tokoh NU sepuh yang akan membimbing kita.

 
 
Kembali Ke atas | Kembali Ke Index Karya Ilmiah
 
 
 
  Situs © 2009-2017 Oleh Pejuang Islam