URL: www.pejuangislam.com
Email: editor@pejuangislam.com
 
Halaman Depan >>
 
 
Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami
Ustadz H. Luthfi Bashori
 Lihat Biografi
 Profil Pejuang Kaya Ide
 Imam Abad 21
 Info Asshofwah
Karya Tulis Pejuang


 
Ribath Almurtadla
Al-islami
 Pengasuh Ribath
 Amunisi Dari Tumapel
 Aktifitas Pengasuh
 Perjuangan Pengasuh
 Kalender Ribath
Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
 Sekilas Profil
 Program Pendidikan
 Pelayanan Masyarakat
 Struktur Organisasi
 Pengasuh PIQ
 
Navigasi Web
Karya Tulis Santri
MP3 Ceramah
Bingkai Aktifitas
Galeri Sastra
Curhat Pengunjung
Media Global
Link Website
TV ONLINE
Kontak Kami
 
 
 Arsip Teriakan Pejuang
 
MARAKNYA BIDUANITA DI AKHIR JAMAN 
  Penulis: Pejuang Islam  [30/10/2019]
   
ORANG MUKMIN MENINGGAL DUNIA DENGAN DAHI BERKERINGAT 
  Penulis: Pejuang Islam  [30/10/2019]
   
MENGKHIANATI AMANAH ORGANISASI 
  Penulis: Pejuang Islam  [25/10/2019]
   
MUALLAF SETELAH PALSUKAN ALQURAN 
  Penulis: Pejuang Islam  [25/10/2019]
   
MARAK JURU TULIS, MINIM ULAMA ISTIQAMAH 
  Penulis: Pejuang Islam  [21/10/2019]
   
 
 Book Collection
 (Klik: Karya Tulis Pejuang)
Pengarang: H. Luthfi B dan Sy. Almaliki
Musuh Besar Umat Islam
Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat
Dialog Tokoh-tokoh Islam
Carut Marut Wajah Kota Santri
Tanggapan Ilmiah Liberalisme
Islam vs Syiah
Paham-paham Yang Harus Diluruskan
Doa Bersama, Bahayakah?
 
 WEB STATISTIK
 
Hari ini: Selasa, 12 November 2019
Pukul:  
Online Sekarang: 8 users
Total Hari Ini: 524 users
Total Pengunjung: 4676370 users
 
 
Untitled Document
 PEJUANG ISLAM - KARYA ILMIAH USTADZ LUTHFI BASHORI
 
 
GARIS LURUS DALAM KEILMUAN 
Penulis: Pejuang Islam [ 12/8/2019 ]
 
LURUS DALAM KEILMUAN
(Bedah Pemikiran Mbah Hasyim Asy’ari)

Luthfi Bashori


Dalam buku Risalah Ahlis Sunnah wal jamaah, KH. Hasyim Asy’ari mengatakan: “Harus berhati-hati dalam mengambil ilmu (agama). Tidak boleh mengambilnya dari orang yang bukan ahlinya.”

Warning dari KH. Hasyim Asy’ari di atas, ternyata sudah banyak dilanggar oleh umat Islam Indonesia saat ini. Sebagai contoh, dahulu kala yang namanya dasar pengambilan sumber hukum bagi problematika yang terjadi di kalangan masyarakat awwam, adalah merujuk pendapat para ulama salaf, terutama yang tertera dalam kitab-kitab mu’tabarah di kalangan dunia warga Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Karena para ulama salaf ini, telah berijtihad dengan mengerahkan segenap ilmu dan pikirannya dalam memahami ayat-ayat Alquran dan Hadits, hingga menjadi suatu Ijma’ (kesepakatan di antara para ulama) maupun Qiyas.    

Selanjutnya, KH. Hasyim Asy’ari juga menukil dari Imam Ibnu Asakir yang meriwayatkan bahwa Imam Malik RA berkata: “Jangan mengambil ilmu dari pelaku bid’ah. Jangan mengambilnya dari orang yang tidak diketahui siapa gurunya dan jangan mengambilnya dari orang yang berdusta tentang ucapan manusia, kendati tidak berdusta tentang ucapan Rasulullah SAW.”

Namun di jaman sekarang, kebanyakan orang lebih memilih hidup praktis, bahkan terhadap hukum agama pun inginnya yang praktis-praktis saja. Misalnya, masyarakat lebih senang menjadikan tokoh-tokoh yang muncul di permukaan terutama lewat dunia medsos sebagai rujukan.

Sebenarnya, yang seperti itu boleh-boleh saja, asalkan tokoh yang dijadikan rujukan adalah para ulama yang benar-benar sesuai dengan kriteria syariat, yaitu tokoh yang menguasai ilmu agama secara mendalam, serta selalu mengajak umat untuk kembali kepada Allah dan meneladani Rasullulah SAW.

Namun dewasa ini, masyarakat jarang sekali mau peduli terhadap apa dan bagaimana hakikat background pendidikan serta sanad keilmuan dari para tokoh yang diidolakan, belum lagi bagaimana kualitas ibadah dan amaliyah kesehariannya.

Yang penting, apapun yang disampaikan sang idola dan dirasa cocok dengan hati dan keinginannya, maka dianggap sebagai kebenaran mutlak, sekalipun jika dimasukkan ke dalam laboraturium Syariat, ternyata ucapan atau amalan sang tokoh idola itu, sangat melenceng jauh atau bahkan bertentangan dengan aturan syariat.

Tentang hal ini, KH. Hasyim Asy’ari juga menukil dari Imam Ibnu Sirin yang mengatakan: “Ilmu (hadits) ini adalah agama. Jadi, telitih dari siapa kamu mengambil agamamu.”

Selaras dengan itu, KH. Hasyim Asy’ari memadukan Hadits dari Imam Ad-Dailami yang meriwayatkan dari Sy. Ibnu Umar RA secara marfu’: “Ilmu adalah agama dan shalat adalah agama. Jadi, telitilah dari siapa kamu mengambil ilmu ini, serta bagaimana kamu menunaikan shalat, karena kamu akan ditanya  pada hari Qiamat. Jadi, jangan meriwayatkannya selain dari orang yang telah teruji keahliannya sebagai orang yang adil, terpercaya, dan mumpuni.”

KH. Hasyim Asy’ari menukil pula dari kitab Shahih Muslim yang meriwayatkan bahwa Rasulullah  SAW bersabda: “Pada akhir umatku, akan ada orang-orang yang menceritakan kepada kalian sesuatu yang belum pernah kalian dengar sendiri sebelumnya dan belum pernah didengar oleh bapak-bapak kalian, maka waspadalah kalian terhadap mereka.”

Saat ini, kebanyakan masyarakat sudah tidak lagi selektif dalam memilih tokoh panutan, baik dalam segi keilmuan juga dalam pengamalannya, sehingga ilmu yang mereka serap itu jarang pula yang dapat mengantarkan hati mereka untuk wushul (sampai) kepada Allah.

Tentang bahaya mengikuti tokoh idola yang tidak memiliki kapasitas keilmuan serta amaliyah sesuai syariat, Rasulullah SAW menyatakan:

“Qiamat ini tidak akan datang hingga orang yang paling beruntung di dunia adalah Luka’ bin Luka’."

Menurut para ulama, Luka’ bin luka’ adalah suatu panggilan bagi orang bodoh, tidak berilmu, rendah martabatnya, hina kedudukannya, curang, keji, tak diketahui nasab asal usul orang tuanya dan perangainya tak terpuji.

Dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi disebutkan: Al-luka’ di kalangan orang Arab adalah sebutan untuk para budak, kemudian istilah ini digunakan sebagia panggilan bagi orang yang bodoh, dungu dan tercela.

Adapun makna Hadits di atas, bahwa di akhir zaman, Luka’ bin Luka’ ini dijadikan tokoh idola yang setiap ucapan serta gerak geriknya itu dianggap bagian dari kebenaran agama, lantas dijadikan sumber hukum dan dijadikan panutan oleh masyarakat, sekalipun apa yang dilakukan itu sangat bertentangan dengan ajaran Syariat.

Betapa beruntungnya Luka’ bin Luka’ ini jika ditinjau dari kehidupan dunia, sekalipun tidak mempunyai prestasi terpuji, namun dijadikan idola dan idaman bagi kebanyakan orang.

    

Sudah munculkah saat ini, Luka` bin Luka` versi Indonesia dan para pengikutnya, yang parameter hidupnya hanyalah demi meraih kehidupan duniawi semata, bukan memperjuangkan kehidupan yang mulia disisi Allah kelak ?
   
 Isikan Komentar Anda
   
Nama 
Email 
Kota 
Pesan/Komentar 
 
 
 
 
 
Kembali Ke atas | Kembali Ke Index Karya Ilmiah
 
 
 
  Situs © 2009-2019 Oleh Pejuang Islam