URL: www.pejuangislam.com
Email: editor@pejuangislam.com
 
Halaman Depan >>
 
 
Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami
Ustadz H. Luthfi Bashori
 Lihat Biografi
 Profil Pejuang Kaya Ide
 Imam Abad 21
 Info Asshofwah
Karya Tulis Pejuang


 
Ribath Almurtadla
Al-islami
 Pengasuh Ribath
 Amunisi Dari Tumapel
 Aktifitas Pengasuh
 Perjuangan Pengasuh
 Kalender Ribath
Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
 Sekilas Profil
 Program Pendidikan
 Pelayanan Masyarakat
 Struktur Organisasi
 Pengasuh PIQ
 
Navigasi Web
Karya Tulis Santri
MP3 Ceramah
Bingkai Aktifitas
Galeri Sastra
Curhat Pengunjung
Media Global
Link Website
TV ONLINE
Kontak Kami
 
 
 Arsip Teriakan Pejuang
 
BERAPA SIH, BIAYA PERNIKAHAN ITU ? 
  Penulis: Pejuang Islam  [10/3/2019]
   
LARANGAN MEMANDANG SESEORANG YANG BUKAN MAHRAMNYA 
  Penulis: Pejuang Islam  [5/3/2019]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [4/3/2019]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [4/3/2019]
   
INTRIK-INTRIK POLITIK PANGGILAN "KAFIR - NON MUSLIM" 
  Penulis: Pejuang Islam  [3/3/2019]
   
 
 Book Collection
 (Klik: Karya Tulis Pejuang)
Pengarang: H. Luthfi B dan Sy. Almaliki
Musuh Besar Umat Islam
Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat
Dialog Tokoh-tokoh Islam
Carut Marut Wajah Kota Santri
Tanggapan Ilmiah Liberalisme
Islam vs Syiah
Paham-paham Yang Harus Diluruskan
Doa Bersama, Bahayakah?
 
 WEB STATISTIK
 
Hari ini: Sabtu, 23 Maret 2019
Pukul:  
Online Sekarang: 12 users
Total Hari Ini: 513 users
Total Pengunjung: 4334396 users
 
 
Untitled Document
 PEJUANG ISLAM - KARYA ILMIAH USTADZ LUTHFI BASHORI
 
 
LARANGAN MEMANDANG SESEORANG YANG BUKAN MAHRAMNYA 
Penulis: Pejuang Islam [ 5/3/2019 ]
 
LARANGAN MEMANDANG SESEORANG
YANG BUKAN MAHRAMNYA

Luthfi Bashori


Hubungan pria dan wanita di dalam ajaran Islam itu terikat oleh hukum syariat, yang bila mana dilanggar, maka merupakan sebuah dosa yang seharusnya dihindari oleh setiap muslim.

Hidup di negara yang belum melaksanakan aturan syariat secara sempurna, tentu sangat menyulitkan bagi umat Islam, karena tidak sedikit kemaksiatan yang sulit untuk dihindari, bahkan oleh seorang yang sangat shaleh sekalipun.

Namun sudah menjadi kewajiban bagi umat Islam untuk mengetahui batasan mana saja yang boleh dan mana saja yang dilarang oleh syariat, agar umat Islam dapat meminimalisir pelanggaran-pelanggaran terhadap aturan syariat agama yang dianutnya.

Sy. Abdullah bin Mas’ud RA mengabarkan, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda dalam hadist Qudsi, ternyata Allah berfirman, “Memandang lawan jenis (yang bukan mahram) merupakan anak panah Iblis. Barang siapa meninggalkannya karena takut kepada-Ku, niscaya Aku menggantinya dengan iman yang manisnya itu dirasakannya di dalam hati.” (HR. Ath-Thabarani dan Al- Hakim).

Dalam hadits lain, Sy. Abi Umamah RA menegaskan, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tidaklah seorang muslim itu memandang kecantikan seorang wanita (yang bukan mahramnya), kemudian ia pejamkan matanya, kecuali Allah menggantinya dengan ibadah yang manisnya dapat dirasakan di dalam hatinya.” (HR. Ahmad dan Ath-Thabarani).

Ternyata memandang wanita yang bukan mahramnya itu bukanlah hal yang positif menurut syariat, bahkan termasuk perbuatan yang dapat menambah dosa. Lantas bagaimana jika ada seorang wanita yang sengaja memandang wajah pria yang bukan mahramnya?

Berikut ini salah satu dari istri Rasulullah SAW yang bernama St. Ummu Salamah RA mengisahkan, saat beliau dan St. Maimunah berada di sisi Rasulullah SAW, kemudian datanglah Sy. Abdullah bin Ummi Maktum (seorang pria yang buta). Peristiwa itu terjadi setelah Rasulullah SAW memerintahkan para wanita untuk menutup aurat. Lantas Rasulullah SAW bersabda kepada St. Ummu Salamah dan St. Maimunah, “Tutuplah pandanganmu dari padanya.”

“Wahai Rasulullah, bukankah ia seorang pria yang buta, tidak melihat dan tidak mengenal kami,” jawab St. Ummu Salamah.

Rasulullah SAW menjawab, “Apakah kamu berdua buta ? Bukankah kalian dapat melihatnya ?” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Ternyata dalam masalah ini, para wanita juga mendapatkan aturan hukum yang sama dengan aturan syariat yang wajib diterapkan oleh kaum pria. Bahkan untuk batasannya pun telah diterangkan secara jelas oleh Rasulullah SAW.

Sy. Jabir RA menceritakan, aku bertanya kepada Rasulullah SAW tentang pandangan secara kebetulan. Beliau menjawab, “Palingkan penglihatanmu.” (HR. At-Tirmidzi dan Muslim).

Suatu ketika Nabi Muhammad SAW memberi petuah kepada Shahabat Sy. Ali bin Abi Thalib RA, Beliau SAW berkata, “Wahai Ali, janganlah kamu ikuti pandangan pertama dengan pandangan kedua. Karena yang diperbolehkan untukmu adalah pandangan yang pertama, sedangkan pandangan yang kedua diharamkan bagimu.” (HR. Muslim).

Dengan mengetahui batasan seperti ini, maka diharap setiap muslim/muslimah untuk berusaha meminimalisir pelanggaran yang paling rawan terjadi ini, bahkan sangat sulit untuk dihindari, teruma saat hidup di era modern. Namubn dengan menyadari kesalahan yang sering kali dilakukan, diharap agar setiap muslim/muslimah untuk lebih giat membaca istighfar dan memohon ampunan kepada Allah.
   
 Isikan Komentar Anda
   
Nama 
Email 
Kota 
Pesan/Komentar 
 
 
 
 
 
Kembali Ke atas | Kembali Ke Index Karya Ilmiah
 
 
 
  Situs © 2009-2019 Oleh Pejuang Islam