URL: www.pejuangislam.com
Email: editor@pejuangislam.com
 
Halaman Depan >>
 
 
Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami
Ustadz H. Luthfi Bashori
 Lihat Biografi
 Profil Pejuang Kaya Ide
 Imam Abad 21
 Info Asshofwah
Karya Tulis Pejuang


 
Ribath Almurtadla
Al-islami
 Pengasuh Ribath
 Amunisi Dari Tumapel
 Aktifitas Pengasuh
 Perjuangan Pengasuh
 Kalender Ribath
Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
 Sekilas Profil
 Program Pendidikan
 Pelayanan Masyarakat
 Struktur Organisasi
 Pengasuh PIQ
 
Navigasi Web
Karya Tulis Santri
MP3 Ceramah
Bingkai Aktifitas
Galeri Sastra
Curhat Pengunjung
Media Global
Link Website
TV ONLINE
Kontak Kami
 
 
 Arsip Teriakan Pejuang
 
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [7/12/2018]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [7/12/2018]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [7/12/2018]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [7/12/2018]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [2/12/2018]
   
 
 Book Collection
 (Klik: Karya Tulis Pejuang)
Pengarang: H. Luthfi B dan Sy. Almaliki
Musuh Besar Umat Islam
Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat
Dialog Tokoh-tokoh Islam
Carut Marut Wajah Kota Santri
Tanggapan Ilmiah Liberalisme
Islam vs Syiah
Paham-paham Yang Harus Diluruskan
Doa Bersama, Bahayakah?
 
 WEB STATISTIK
 
Hari ini: Rabu, 19 Desember 2018
Pukul:  
Online Sekarang: 11 users
Total Hari Ini: 300 users
Total Pengunjung: 4197512 users
 
 
Untitled Document
 PEJUANG ISLAM - KARYA ILMIAH USTADZ LUTHFI BASHORI
 
 
FANATISME GOLONGAN ITU MAKSIAT 
Penulis: Pejuang Islam [ 1/7/2018 ]
 
FANATISME GOLONGAN ITU MAKSIAT

Luthfi Bashori


Dewasa ini timbulnya fanatisme golongan sangat marak terjadi di kalangan umat Islam Indonesia yang hitrogen, akibatnya tidak jarang bukan sekedar beda pendapat, namun menjurus terjadinya gesekan fisik di kalangan umat Islam, hanya karena berbeda `baju` sekalipun masih dalam satu aqidah, Ahlus sunnah wal jamaah.

Padahal fanatisme golongan yang tidak dilandasi hukum syariat itu adalah kemaksiatan yang menumpuk dosa bagi pelakunya, apalagi jika fanatismenya itu terhitung melanggar hukum Allah.

Misalnya ada orang yang fanatik terhadap seseorang yang figurnya ahli maksiat, baik maksiat fisik maupun maksiat keyakinan, namun tetap dibela mati-matian hanya karena satu golongan atau almamater dengan dirinya, walaupun secara kasat mata sang idola itu telah menerjang hukum Allah.

Allah berfirman yang artinya, “Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang dzalim.” (QS. Al-Baqarah, 229).

Dalam firman yang lain disebutkan, “Dan janganlah kamu cenderung (fanatik) kepada orang yang dzalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, sedangkan kamu tidak mempunyai seorang penolong pun selain Allah, sehingga kamu tidak akan di beri pertolongan.” (Arti QS. Hud, 113).

Tentang fanatisme buta, yang dalam bahasa Arab adalah ‘ashabiyyah, Rasulullah SAW secara terang-terangan menilai negatif, sebagaimana Sy. Watsilah bin Asqa’ RA mengungkapkan bahwa ia pernah bertanya kepada Nabi SAW, “Wahai Rasulullah SAW, apakah arti ‘ashabiyyah?”

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Apabila engkau membantu golonganmu untuk melakukan kedzaliman.” (HR. Abu Dawud).

Lebih jelas lagi Sy. Jubair bin Muth’im RA memberitahukan, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda tentang larangan fanatisme, “Bukan dari golongan kami orang yang menyeru kepada ‘ashabiyyah. Bukan dari golongan kami orang yang berperang demi ‘ashabiyah, dan bukan dari golongan kami orang yang mati dalam membela ‘ashabiyyah.” (HR. Abu Dawud)

Orang yang fanatik terhadap seorang figur ahli maksiat, bukan karena pembelaan terhadap aturan syariat itu, digambarkan ibarat ia sedang mengekor kepada seekor onta yang sedang berjalan dan tidak mengetahui ada bahaya di depannya, namun dirinya tetap mengikuti langkah demi langkah si onta tersebut hingga bersama-sama menabrak bahaya.

Sy. Abdullah bin Mas’ud RA mengabarkan, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barang siapa yang membantu kaumnya (melakukan kebatilan), bukan pada jalan yang benar, maka bagaikan seekor onta yang terjerumus, sedangkan ia menarik (memegang) ekornya.” (HR. Abu Dawud).  

Fanatik dalam membela suatu golongan itu ada yang diperbolehkan jika memenuhi syarat, antara lain jika golongan atau figur yang dibelanya itu, sedang memperjuangkan ajaran Islam yang sesuai aturan Alquran, Hadist, Ijma’ dan Qiyas.

Jadi, hakikatnya ia sedang membela segala hal yang temasuk ajaran Islam walaupun secara fanatik, namun dengan cara-cara yang sesuai syariat dan tidak menerjang hukum agama, atau bisa dikatakan bahwa ia menerapkan fanatismenya itu khusus kepada kepentingan Allah dan Rasul-Nya.

Sy. Suraqah bin Malik RA menginformarmasikan, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang membela golongannya, selama tidak melanggar dosa.” (HR. Abu Dawud).


   
 Isikan Komentar Anda
   
Nama 
Email 
Kota 
Pesan/Komentar 
 
 
 
 
 
Kembali Ke atas | Kembali Ke Index Karya Ilmiah
 
 
 
  Situs © 2009-2018 Oleh Pejuang Islam