URL: www.pejuangislam.com
Email: editor@pejuangislam.com
 
Halaman Depan >>
 
 
Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami
Ustadz H. Luthfi Bashori
 Lihat Biografi
 Profil Pejuang Kaya Ide
 Imam Abad 21
 Info Asshofwah
Karya Tulis Pejuang


 
Ribath Almurtadla
Al-islami
 Pengasuh Ribath
 Amunisi Dari Tumapel
 Aktifitas Pengasuh
 Perjuangan Pengasuh
 Kalender Ribath
Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
 Sekilas Profil
 Program Pendidikan
 Pelayanan Masyarakat
 Struktur Organisasi
 Pengasuh PIQ
 
Navigasi Web
Karya Tulis Santri
MP3 Ceramah
Bingkai Aktifitas
Galeri Sastra
Curhat Pengunjung
Media Global
Link Website
TV ONLINE
Kontak Kami
 
 
 Arsip Teriakan Pejuang
 
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [24/5/2018]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [24/5/2018]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [23/5/2018]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [22/5/2018]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [22/5/2018]
   
 
 Book Collection
 (Klik: Karya Tulis Pejuang)
Pengarang: H. Luthfi B dan Sy. Almaliki
Musuh Besar Umat Islam
Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat
Dialog Tokoh-tokoh Islam
Carut Marut Wajah Kota Santri
Tanggapan Ilmiah Liberalisme
Islam vs Syiah
Paham-paham Yang Harus Diluruskan
Doa Bersama, Bahayakah?
 
 WEB STATISTIK
 
Hari ini: Minggu, 27 Mei 2018
Pukul:  
Online Sekarang: 6 users
Total Hari Ini: 75 users
Total Pengunjung: 3910933 users
 
 
Untitled Document
 PEJUANG ISLAM - KARYA ILMIAH USTADZ LUTHFI BASHORI
 
 
BOLEH SHALAT JENAZAH DI KUBURAN 
Penulis: Pejuang Islam [ 18/4/2018 ]
 
BOLEH SHALAT JENAZAH DI KUBURAN

Luthfi Bashori


Jika seseorang berniat menghadiri prosesi pemakaman jenazah saudaranya sesama muslim, namun karena suatu sebab, misalnya lantaran terjebak kemacetan di jalan, maka setiba di rumah duka hendaklah ia minta diantarkan ke tempat makam kuburan jenazah, lantas shalat jenazah di bagian samping atas makam kuburan yang dimaksud.

Sy. Ibnu Abbas RA menceritakan, “Rasulullah SAW tiba di kuburan yang masih basah (karena masih baru dimakamkan), lalu beliau SAW shalat jenazah di dekatnya. Maka, kami pun berdiri pula di belakang beliau SAW dan bertakbir empat kali.” (HR. Muslim).

Shalat jenazah ini sangat bermakna bagi mayit yang sedang mendapat ujian di alam kubur, termasuk saat mayit ditanya oleh malaikat Munkar dan Nakir tentang siapa tuhannya, siapa nabinya, apa agamanya, apa qiblatnya, apa kitab pedomannya dan siapa kawan-kawannya.

Semakin banyak orang yang menyalati jenazah, maka semakin mudah pula bagi mayit untuk mendapatkan kenikmatan dan kenyamanan hidup di alam kubur. Seperti juga semakin banyak orang yang mendoakan serta memintakan ampunan kepada Allah untuknya, maka semakin baik pula kondisi kehidupan mayit di tempat peristirahatan yang terakhir itu. Apalagi hakiakat shalat itu sendiri adalah doa, karena semua bacaan yang ada dalam shalat jenazah itu adalah murni dzikir dan doa memohon kepada Allah untuk kebaikan si mayit.

Sy. Abdullah bin Abbas RA menceritakan bahwa anaknya telah meninggal di Qudaid atau di Usfan. Saat itu ia bertanya kepada budak sahayanya, “Wahai Kuraib, coba engkau lihat, sudah banyakkah orang yang berkumpul untuk menyalati jenazah?”

Kuraib pergi melihat jumlah orang yang takziyah, kemudian memberitahukan kepada Abdullah, bahwa memang sudah banyak orang yang berkumpul.

“Apakah jumlah mereka ada empat puluh orang?” tanya Abdullah lagi.

“Ada.”

“Keluarkanlah jenazahnya. Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seorang muslim meninggal dunia, lalu jenazahnya dishalatkan empat puluh orang muslim (yang tidak musyrik), maka Allah akan menerima syafaat mereka terhadap jenazah itu.” (HR. Muslim).

Dalam riwayat lain, Sy. Aisyah RA menuturkan, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tidak satupun mayit yang dishalati oleh seratus orang muslim, dan semuanya memohonkan syafaat bagi mayit itu, melainkan Allah mengabulkan permohonan mereka.” (HR. Muslim).

Dari keterangan hadits di atas dan tentunya masih banyak hadits-hadits lainnya yang semakna, menunjukkan bahwa jumlah orang yang ikut menyalati jenazah seorang muslim itu, sangat berpengaruh dan bermanfaat bagi kemashlahatan kehidupan si mayit di alam kuburnya. Semakin banyak orang yang ikut menyalati, semakin baik pula bagi jenazah tersebut, apalagi jika ditambah dengan pelaksanaan shalat ghaib bersama jumlah jamaah yang banyak pula.

Sebagaimana disebutkan, bahwa ketika wafatnya Raja Najasyi dari kerajaan Habasyah (Ethiopia) yang menyatakan masuk Islam setelah menerima surat dari Rasulullah SAW, maka beliau SAW bersabda: “Telah wafat Raja Habasyah dan kita akan akan melakukan shalat (ghaib) untuknya.

Inilah sejarah shalat ghaib yang pertama kalinya dilaksanakan. (HR. Bukhari).

   
 Isikan Komentar Anda
   
Nama 
Email 
Kota 
Pesan/Komentar 
 
 
 
 
 
Kembali Ke atas | Kembali Ke Index Karya Ilmiah
 
 
 
  Situs © 2009-2018 Oleh Pejuang Islam