URL: www.pejuangislam.com
Email: editor@pejuangislam.com
 
Halaman Depan >>
 
 
Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami
Ustadz H. Luthfi Bashori
 Lihat Biografi
 Profil Pejuang Kaya Ide
 Imam Abad 21
 Info Asshofwah
Karya Tulis Pejuang


 
Ribath Almurtadla
Al-islami
 Pengasuh Ribath
 Amunisi Dari Tumapel
 Aktifitas Pengasuh
 Perjuangan Pengasuh
 Kalender Ribath
Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
 Sekilas Profil
 Program Pendidikan
 Pelayanan Masyarakat
 Struktur Organisasi
 Pengasuh PIQ
 
Navigasi Web
Karya Tulis Santri
MP3 Ceramah
Bingkai Aktifitas
Galeri Sastra
Curhat Pengunjung
Media Global
Link Website
TV ONLINE
Kontak Kami
 
 
 Arsip Teriakan Pejuang
 
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [12/12/2017]
   
PERINTAH BER-NAHI MUNKAR 
  Penulis: Pejuang Islam  [11/12/2017]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [11/12/2017]
   
SEJAK DULU, KAUM YAHUDI DAN NASRANI BERUSAHA MEMPENGARUHI UMAT ISLAM 
  Penulis: Pejuang Islam  [11/12/2017]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [9/12/2017]
   
 
 Book Collection
 (Klik: Karya Tulis Pejuang)
Pengarang: H. Luthfi B dan Sy. Almaliki
Musuh Besar Umat Islam
Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat
Dialog Tokoh-tokoh Islam
Carut Marut Wajah Kota Santri
Tanggapan Ilmiah Liberalisme
Islam vs Syiah
Paham-paham Yang Harus Diluruskan
Doa Bersama, Bahayakah?
 
 WEB STATISTIK
 
Hari ini: Minggu, 17 Desember 2017
Pukul:  
Online Sekarang: 8 users
Total Hari Ini: 178 users
Total Pengunjung: 3702617 users
 
 
Untitled Document
 PEJUANG ISLAM - KARYA ILMIAH USTADZ LUTHFI BASHORI
 
 
MEMILIH HIDUP CUKUP ATAU MENJADI FAKIR? 
Penulis: Pejuang Islam [ 29/11/2017 ]
 
MEMILIH HIDUP CUKUP ATAU MENJADI FAKIR?
 
Luthfi Bashori


Sy. Abu Dzar RA mengabarkan, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Wahai Abu Dzar, bagaimana pendapatmu tentang harta yang banyak ? Apakah itu merupakan kecukupan ?”

“Benar, wahai Rasulullah,” jawab Sy. Abu Dzar.

“Apakah engkau beranggapan harta yang sedikit itu suatu kefakiran ?” tanya Rasulullah SAW.
“Benar, wahai Rasulullah.”

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya yang dikatakan kecukupan ialah orang yang hatinya merasa cukup, dan orang yang dikatakan fakir ialah orang yang hatinya selalu rakus.” (HR. Ibnu Hibban).

Ternyata banyak orang yang salah pandang tentang definisi status sosial ekonomi masyarakat. Mayoritas mereka beranggapan bahwa orang yang banyak harta itu digolongkan sebagai masyarakat kelas menengah ke atas, karena secara dhahir memiliki banyak harta.

Namun, menurut Rasulullah SAW justru mereka yang selalu bekerja menumpuk harta tanpa mengenal waktu, hingga seluruh hidupnya hanya dipergunakan untuk mengejar kekayaan saja, mereka itulah yang tergolong fakir.

Sebaliknya mereka yang selalu merasa cukup dengan pemberian rezeki dari Allah walaupun hanya seadanya, selagi ia dapat menikmati keadaan hidupnya dengan suka cita serta selalu bersyukur kepada Allah dengan cara giat beribadah, mereka itulah hakikatnya yang seharusnya dikategorikan sebagai masyarakat kelas menengah ke atas.

Sy. Usamah RA memaparkan, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Aku berdiri di pintu sorga, yang aku lihat yang masuk ke dalamnya kebanyakan orang-orang miskin (harta), sedangkan orang-orang kaya masih tertahan oleh perhitungan kekayaannya. Orang-orang ahli neraka telah diperintahkan masuk neraka, ternyata kebanyakan yang masuk ke dalamnya adalah kaum wanita.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).  

Sy. Abdullah bin Mughaffal RA menceritakan bahwa ada sorang laki-laki mendatangi Rasulullah SAW dan berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah, sungguh aku mencintaimu.”

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Pikirkanlah apa yang engkau katakan itu.”

“Demi Allah, aku benar-benar mencintaimu,” tegas laki-laki itu tadi.

Nabi Muhammad SAW kembali bersabda, “Pikirkanlah apa yang engkau katakan itu.”

Untuk ketiga kalinya laki-laki itu berkata, “Demi Allah, aku benar-benar mencintaimu.”

“Jika engkau benar-benar mencintaiku, bersiap-siaplah menyambut kefakiran (kemiskinan harta) sebagai bajumu. Sebab, kefakiran itu lebih cepat menimpa orang yang mencintaiku dibandingkan dengan air bah yang mengalir ke muaranya.” (HR. At-Tirmidzi).

Para pecinta sejati Rasulullah SAW itu, rawan menjadi golongan yang miskin harta, karena mereka akan selalu mempertimbangkan sumber harta yang masuk ke kantong bajunya, jika benar-benar dari sumber halal, maka akan diterimanya, namun jika menemukan sumber yang statusnya meragukan, apalagi yang jelas keharamanya pasti akan ditinggalkan, demi menjaga kecintaannya kepada Rasulullah SAW. Dengan demikian, maka iming-iming harta yang melimpahpun tidak akan menarik hatinya, jika bukan dari sumber yang benar-benar halalan thayyiban.

   
 Isikan Komentar Anda
   
Nama 
Email 
Kota 
Pesan/Komentar 
 
 
 
 
 
Kembali Ke atas | Kembali Ke Index Karya Ilmiah
 
 
 
  Situs © 2009-2017 Oleh Pejuang Islam