URL: www.pejuangislam.com
Email: editor@pejuangislam.com
 
Halaman Depan >>
 
 
Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami
Ustadz H. Luthfi Bashori
 Lihat Biografi
 Profil Pejuang Kaya Ide
 Imam Abad 21
 Info Asshofwah
Karya Tulis Pejuang


 
Ribath Almurtadla
Al-islami
 Pengasuh Ribath
 Amunisi Dari Tumapel
 Aktifitas Pengasuh
 Perjuangan Pengasuh
 Kalender Ribath
Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
 Sekilas Profil
 Program Pendidikan
 Pelayanan Masyarakat
 Struktur Organisasi
 Pengasuh PIQ
 
Navigasi Web
Karya Tulis Santri
MP3 Ceramah
Bingkai Aktifitas
Galeri Sastra
Curhat Pengunjung
Media Global
Link Website
TV ONLINE
Kontak Kami
 
 
 Arsip Teriakan Pejuang
 
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [12/12/2017]
   
PERINTAH BER-NAHI MUNKAR 
  Penulis: Pejuang Islam  [11/12/2017]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [11/12/2017]
   
SEJAK DULU, KAUM YAHUDI DAN NASRANI BERUSAHA MEMPENGARUHI UMAT ISLAM 
  Penulis: Pejuang Islam  [11/12/2017]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [9/12/2017]
   
 
 Book Collection
 (Klik: Karya Tulis Pejuang)
Pengarang: H. Luthfi B dan Sy. Almaliki
Musuh Besar Umat Islam
Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat
Dialog Tokoh-tokoh Islam
Carut Marut Wajah Kota Santri
Tanggapan Ilmiah Liberalisme
Islam vs Syiah
Paham-paham Yang Harus Diluruskan
Doa Bersama, Bahayakah?
 
 WEB STATISTIK
 
Hari ini: Minggu, 17 Desember 2017
Pukul:  
Online Sekarang: 3 users
Total Hari Ini: 180 users
Total Pengunjung: 3702621 users
 
 
Untitled Document
 PEJUANG ISLAM - KARYA ILMIAH USTADZ LUTHFI BASHORI
 
 
AYOO... GALAKKAN BUDAYA RASA MALU DI TENGAH MASYARAKAT ! 
Penulis: Pejuang Islam [ 10/10/2017 ]
 
AYOO... GALAKKAN BUDAYA RASA MALU DI TENGAH MASYARAKAT !

Luthfi Bashori


Budaya malu termasuk ajaran Islam yang sangat baik untuk dilestarikan. Rasa malu itu mencakup banyak hal. Adakalanya malu dalam urusan buka tutup aurat, malu dalam bidang bersopan santun terhadap masyarakat, malu dalam urusan perniagaan, malu dalam urusan pendidikan, malu dalam tata cara berpoilitik, dan banyak lagi macamnya terutama malu dalam urusan ibadah kepada Allah SWT.  Saat ini banyak kejahatan yang terjadi di tengah masyarakat, disebabkan pelakunya tidak mempunyai rasa malu.

Di kalangan yang tidak memiliki rasa malu dalam urusan buka tutup aurat, maka rawan terjadi kejahatan seksual. Kalangan yang tidak memiliki rasa malu dalam bidang bersopan santun terhadap masyarakat, maka rawan terjadi petengkaran dan perselisihan. Kalangan yang tidak mempunyai rasa malu dalam urusan perniagaan, maka rawan terjadi penipuan dan korupsi. Kalangan yang tidak memiliki rasa malu dalam tata cara berpolitik, maka rawan terjadi kedzaliman dan penyalahgunaan jabatan. Masih banyak kejahatan yang ditimbulkan akibat hilangnya budaya rasa malu, terutama jika tidak mempunyai rasa malu itu dalam urusan pendidikan dan ibadah kepada Allah SWT, maka akan marak bermunculan aliran-aliran sesat atau berkembangnya isme-isme menyimpang dari ajaran Syariat Islam yang  melanda kehidupan masyarakat di hampir semua kalangan.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Orang yang paling kasih sayang dari umatku ialah Abu Bakar (RA), dan yang paling teguh memelihara ajaran Allah ialah Umar (RA), sedangkan yang paling pemalu ialah Utsman (RA).” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan At-Tirmidzi).

Akhlak Sayyidina Utsman termasuk salah satu tauladan yang baik untuk ditiru oleh umat Islam, di samping beliau banyak mendalami dan memahami ilmu agama langsung dari Rasulullah SAW, beliau juga menjadi ahli berniaga yang handal dan berhasil sebagai konglomerat dermawan yang banyak keberadaannya sangat bermanfaat bagi kepentingan umat Islam. Namun yang paling penting adalah besarnya rasa malu yang dimiliki oleh Sy. Utsman bin Affan itu mendapat pengakuan langsung dari Rasulullah SAW. 

Sy. Zaid bin Tsabit RA memberitahukan, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Utsman datang menemuiku, dan pada saat itu ada satu malaikat sedang bersamaku. Lalu malaikat itu berkata, “Dia akan mati syahid dan dibunuh oleh kaumnya. Sesungguhnya kami sangat malu kepadanya.” (HR. Ibnu Asakir).

Pernah suatu hari Nabi Muhammad SAW sedang tiduran telantang dan kedua betisnya sedikit terbuka. Lantas datang bertamulah Sy. Abu Bakar dan Sy. Umar. Ketika beliau SAW mengizinkan Sy. Abu Bakar RA dan Sy. Umar RA untuk masuk, beliau SAW masih tiduran dalam posisi seperti itu. Namun, sewaktu Sy. Utsman RA datang dan meminta izin untuk masuk, seketika itu beliau SAW menutup betisnya, hingga kedua shabatnya yang datang duluan itu bertanya-tanya, lalu bersabda, “Bagaimana aku tidak merasa malu kepada orang yang malaikat saja malu kepadanya? (HR. Muslim).

   
 Isikan Komentar Anda
   
Nama 
Email 
Kota 
Pesan/Komentar 
 
 
 
 
 
Kembali Ke atas | Kembali Ke Index Karya Ilmiah
 
 
 
  Situs © 2009-2017 Oleh Pejuang Islam