URL: www.pejuangislam.com
Email: editor@pejuangislam.com
 
Halaman Depan >>
 
 
Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami
Ustadz H. Luthfi Bashori
 Lihat Biografi
 Profil Pejuang Kaya Ide
 Imam Abad 21
 Info Asshofwah
Karya Tulis Pejuang


 
Ribath Almurtadla
Al-islami
 Pengasuh Ribath
 Amunisi Dari Tumapel
 Aktifitas Pengasuh
 Perjuangan Pengasuh
 Kalender Ribath
Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
 Sekilas Profil
 Program Pendidikan
 Pelayanan Masyarakat
 Struktur Organisasi
 Pengasuh PIQ
 
Navigasi Web
Karya Tulis Santri
MP3 Ceramah
Bingkai Aktifitas
Galeri Sastra
Curhat Pengunjung
Media Global
Link Website
TV GARIS LURUS
Kontak Kami
 
 
 Arsip Teriakan Pejuang
 
SY. UTSMAN BIN AFFAN RA, MENANTU KECINTAAN RASULULLAH SAW 
  Penulis: Pejuang Islam  [8/10/2017]
   
MEMILIH SESUATU YANG HALAL & MENOLAK YANG HARAM 
  Penulis: Pejuang Islam  [9/9/2017]
   
MANUSIA SETENGAH DRAKULA, SI BIKSU WIRATHU 
  Penulis: Pejuang Islam  [6/9/2017]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [2/9/2017]
   
IDUL FITHRI DAN IDUL ADHA PENGGANTI HARI RAYA ‘NAIRUZ’ & ‘MAHRAJAN’ 
  Penulis: Pejuang Islam  [30/8/2017]
   
 
 Book Collection
 (Klik: Karya Tulis Pejuang)
Pengarang: H. Luthfi B dan Sy. Almaliki
Musuh Besar Umat Islam
Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat
Dialog Tokoh-tokoh Islam
Carut Marut Wajah Kota Santri
Tanggapan Ilmiah Liberalisme
Islam vs Syiah
Paham-paham Yang Harus Diluruskan
Doa Bersama, Bahayakah?
 
 WEB STATISTIK
 
Hari ini: Jumat, 20 Oktober 2017
Pukul:  
Online Sekarang: 8 users
Total Hari Ini: 467 users
Total Pengunjung: 3627808 users
 
 
Untitled Document
 PEJUANG ISLAM - KARYA ILMIAH USTADZ LUTHFI BASHORI
 
 
IDUL FITHRI DAN IDUL ADHA PENGGANTI HARI RAYA ‘NAIRUZ’ & ‘MAHRAJAN’ 
Penulis: Pejuang Islam [ 30/8/2017 ]
 
IDUL FITHRI DAN IDUL ADHA PENGGANTI HARI RAYA ‘NAIRUZ’ & ‘MAHRAJAN’

Luthfi Bashori

Hari Jumat besok, adalah rangkap dua Hari Raya bagi umat Islam. Yang pertama Hari Raya yang bersifat mingguan, yaitu hari Jumat sebagai sayyidul ayyam (pimpinan hari), yang ke dua adalah Hari Raya Idul Adha yang bersifat tahunan, yaitu tepat tanggal 10 Dzulhijjah 1438 Hijriyah (1 September, tahun 2017 M).

Untuk Hari Raya yang bersifat tahunan, sebagaimana yang dimaklumi itu ada dua, yaitu Hari Raya Idul Fihtri dan Idul Adha. Kedua Hari Raya milik umat Islam ini adalah pengganti bagi kebiasaan kaum Jahiliyah yang selalu merayakan hari raya mereka, yaitu Hari Nairuz dan Hari Mahrajan dengan berfoya-foya, perjudian, mabuk, perzinaan dan sebagainya.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah mengganti kedua hari raya masyarakat Jahiliyah dengan dua hari raya lebih baik, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha,” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i).

Hari raya masyarakat Arab Jahiliyah yang dimaksud dalam hadits di atas adalah hari raya Nairuz dan Mahrajan. Sebab, tradisi kedua hari raya masyarakat Arab Jahiliyah itu berasal dari zaman Persia (Iran) kuno itu, yang selalu dihiasi dengan pesta pora dan bertentangan dengan syariat Islam.

Sedangkan dalam merayakan Hari Raya khususnya Idul Adha, maka umat Islam diperintahkan banyak bersedekah serta berdzikir kepada Allah SWT.

Sy. Ibnu Abbas RA mengatakan, “Aku menyaksikan Rasulullah SAW shalat lebih dulu sebelum berkhatbah (Hari Raya). Kemudian beliau tahu bahwa suara beliau itu tidak sampai (kedengaran) kepada kaum wanita. Lalu beliau mendatangi mereka untuk memberi peringatan dan pengajaran, serta menyuruh mereka banyak bersedekah. Sedangkan shahabat Bilal sengaja membentangkan kainnya dan para wanita itu menyerahkan cincin, kalung, dan perhiasan lainnya (dengan meletakkannya di kainnya Shahabat Bilal itu).” (HR. Muslim).

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam lebih banyak bertakbir di saat merayakan Hari Raya sebagaimana dalam hadits berikut.

Sy. Anas bin Malik RA menyatakan, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Hiasilah hari-hari rayamu dengan takbir.” (HR. Thabrani).

Untuk Hari Raya Idul Fithri, maka sunnah bacaan Takbir (Takbiran) itu dimulai sejak terlihat hilal di akhir bulan Ramadhan sesudah masuk waktu Maghrib hingga dilaksanakan shalat Idul Fithri. Sedangkan untuk Hari Raya Idul Adha ada beberapa pendapat, antara lain Takbiran sudah diperbolehkan mulai selesai shalat Dhuhur sehari menjelang Hari Raya Idul Adha, ada juga yang berpendapat Takbiran dimulai sejak masuk waktu Maghrib (terbenam matahari). Untuk akhir waktunya ada beberapa pendapat juga, antara lain pada saat masuk waktu Shalat Ashar di hari Tasyriq, yaitu pada tanggal 13 Dzulhijjah. Wallahu a’lam.

   
 Isikan Komentar Anda
   
Nama 
Email 
Kota 
Pesan/Komentar 
 
 
 
 
 
Kembali Ke atas | Kembali Ke Index Karya Ilmiah
 
 
 
  Situs © 2009-2017 Oleh Pejuang Islam