URL: www.pejuangislam.com
Email: editor@pejuangislam.com
 
Halaman Depan >>
 
 
Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami
Ustadz H. Luthfi Bashori
 Lihat Biografi
 Profil Pejuang Kaya Ide
 Imam Abad 21
 Info Asshofwah
Karya Tulis Pejuang


 
Ribath Almurtadla
Al-islami
 Pengasuh Ribath
 Amunisi Dari Tumapel
 Aktifitas Pengasuh
 Perjuangan Pengasuh
 Kalender Ribath
Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
 Sekilas Profil
 Program Pendidikan
 Pelayanan Masyarakat
 Struktur Organisasi
 Pengasuh PIQ
 
Navigasi Web
Karya Tulis Santri
MP3 Ceramah
Bingkai Aktifitas
Galeri Sastra
Curhat Pengunjung
Media Global
Link Website
TV GARIS LURUS
Kontak Kami
 
 
 Arsip Teriakan Pejuang
 
SY. UTSMAN BIN AFFAN RA, MENANTU KECINTAAN RASULULLAH SAW 
  Penulis: Pejuang Islam  [8/10/2017]
   
MEMILIH SESUATU YANG HALAL & MENOLAK YANG HARAM 
  Penulis: Pejuang Islam  [9/9/2017]
   
MANUSIA SETENGAH DRAKULA, SI BIKSU WIRATHU 
  Penulis: Pejuang Islam  [6/9/2017]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [2/9/2017]
   
IDUL FITHRI DAN IDUL ADHA PENGGANTI HARI RAYA ‘NAIRUZ’ & ‘MAHRAJAN’ 
  Penulis: Pejuang Islam  [30/8/2017]
   
 
 Book Collection
 (Klik: Karya Tulis Pejuang)
Pengarang: H. Luthfi B dan Sy. Almaliki
Musuh Besar Umat Islam
Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat
Dialog Tokoh-tokoh Islam
Carut Marut Wajah Kota Santri
Tanggapan Ilmiah Liberalisme
Islam vs Syiah
Paham-paham Yang Harus Diluruskan
Doa Bersama, Bahayakah?
 
 WEB STATISTIK
 
Hari ini: Jumat, 20 Oktober 2017
Pukul:  
Online Sekarang: 8 users
Total Hari Ini: 474 users
Total Pengunjung: 3627815 users
 
 
Untitled Document
 PEJUANG ISLAM - KARYA ILMIAH USTADZ LUTHFI BASHORI
 
 
MASUK DAN CINTAI ISLAM LEBIH DARI SEGALANYA, JANGAN SETENGAH-SETENGAH 
Penulis: Pejuang Islam [ 6/8/2017 ]
 

MASUK DAN CINTAI ISLAM LEBIH DARI SEGALANYA,
JANGAN SETENGAH-SETENGAH

Luthfi Bashori


Sy. Anas bin Malik RA menceritakan bahwa pernah ada seorang lelaki meminta kambing kepada Rasulullah SAW sebanyak di antara dua gunung dan beliau SAW memenuhinya. Kemudian lelaki itu kembali kepada kaumnya dan berseru, “Masuklah dalam Islam kalian semua. Sungguh Muhammad telah memberiku sesuatu yang amat banyak sekali, tanpa ia takut menjadi miskin.”
Lalu Sy. Anas berkomentar, “Jika seseorang masuk Islam hanya karena menginginkan dunia, itu bukanlah Islam namanya. Islam harus lebih dicintai daripada dunia dan isinya.” (HR. Muslim).

Saat ini semakin berkembang ajaran sesat liberalisme yang para pengikutnya sering memanfaatkan nama besar agama Islam untuk tujuan duniawi semata, bahkan tak jarang mereka melakukan hal-hal  yang sengaja mengatasnamakan Islam, namun justru merusak ajaran agama Islam dari dalam.

Adakalanya mereka melakukannya itu demi keuntungan dirinya sendiri, namun ada pula yang melakukannya itu demi kepentingan kaum kafir, yaitu dengan cara mendelegasikan seseorang yang pura-pura masuk Islam lantas menyusup ke dalam tubuh umat Islam untuk merusak Islam dari dalam, misalnya dengan selalu mengemukan pandangan-pandangan baru yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, hinga umat Islam sendiri menjadi ragu terhadap ajaran Islam yang sesungguhnya.

Tentunya, di kalangan mereka itu ada orang-orang yang aslinya baru mengenal Islam sebatas kulitnya saja, lantas berusaha ikut meramaikan dunia Islam, sayangnya mereka hanya menggunakan standar pemahaman dan pandangan sempit mereka. Sehingga Islam bagi mereka adalah apa saja yang dapat menguntungkan bagi dirinya sendiri secara dhahir. Ironisnya dengan kedangkalan pemahaman terhadap Islam, mereka enggan mengali ajaran Islam lebih dalam  dari sumber yang benar untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka mengenal ajaran Islam itu benar-benar kaaffah (menyeluruh).

Namun, seringkali dari para penggiat liberalisme itu, adalah dari kalangan orang-orang yang mempunyai misi tertentu, hingga tidak segan-segan memanfaat kesadaran masyarakat di berbagai belahan dunia yang ingin mengenal Islam lebih spesifik, namun karena faktor keawwaman para pencari kebenaran Islam tersebut, lantas dimanfaatkan oleh kaum liberal demi menyuksekan visi dan misi liberalismenya.

Biasanya, dari kalangan penggiat liberalisme itu sengaja mengolaborasikan ajaran Islam dengan pemahaman kaum kafir, seperti menukil pemahaman dari berbagai agama non muslim yang sekira dapat mereka manfaatkan. Maka bagi kalangan awwam yang telah terjebak oleh jerat-jerat liberalisme, akan mudah terbawa arus pemahaman yang salah terhadap hakikat ajaran Islam.

Dengan demikian, banyak dari kalangan awwam yang menjadi kesulitan untuk membedakan mana ajaran Islam yang sesungguhnya sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah SAW, yang sesuai pemahaman para salaf baik dari kalangan para shahabat, para tabi’in maupun para ulama, dan mana ajaran yang sudah rancu karena upaya pencampuradukan yang dilakukan oleh tangan-tangan jail kaum liberal.

Sebagai contoh, bahwa Alquran yang diturunkan kepada Rasulullah SAW sudah jelas menerangkan bahwa hakikat manusia itu dibagi menjadi dua golongan:

Yang pertama yaitu MUSLIM (mencakup mukmin dan fasiq), yaitu orang-orang Islam baik dari kalangan orang-orang yang shalih maupun yang ahli bermaksiat, namun tidak keluar dari agama Islam.

Yang kedua adalah KAFIR (mencakup murtad artinya orang yang keluar dari agama Islam, musyrik, artinya orang yang menyekutukan Allah dengan menyembah selain-Nya, dan  munafiq artinya orang kafir yang pura-pura masuk Islam), yaitu semua orang yang tidak masuk Islam atau tidak beriman kepada ketuhanan Allah dan kerasulan Nabi Muhammad SAW.

Definisi yang sudah baku sejak generasi pertama Islam ini, sekarang berusah didistorsi oleh kaum liberal, mereka mempengaruhi masyarakat agar tidak menyebut KAFIR bagi setiap pemeluk agama, apapun agamanya yang penting masih beriman kepada tuhannya masing-masing. Maka bagi kaum liberal bahwa setiap orang yang masih memiliki agama (selain Islam) itu disebut NON MUSLIM, bukan KAFIR.

Padahal, julukan KAFIR bagi orang-orang yang tidak beragama Islam itu murni datangnya dari Allah SWT, sebagaimana tersebut dalam Alquran yang artinya:

-  “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya Allah ialah al-Masih putra Maryam’.” (al-Maidah: 72).
-  “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan bahwa Allah salah satu dari yang tiga, padahal sekali-kali tidak ada Rabb (yang berhak disembah) selain Rabb Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (al-Maidah: 73)
- “Telah dilaknati orang-orang kafir dari bani Israil dengan lisan Dawud dan ‘Isa putra Maryam.” (al-Maidah: 78).

Semestinya, untuk menjadi muslim yang baik dan benar itu haruslah mengamalkan ajaran Islam secara sempurna, tidak setengah-setengah, dan tidak pilih-pilih mana yang cocok diambil dan mana yang tidak sesuai selera dibuang.

Islam adalah agama yang sempurna, agama yang mengurusi segala aspek kehidupan umat manusia, bahkan sejak sebelum manusia lahir ke dunia, saat hidup di dunia, hingga pasca kehidupan dunia. Semua itu telah dibahas secara tuntas dalam ajaran Islam, baik yang tertera di dalam Alquran, Hadits Nabi maupun hasil Ijma’ para ulama Salaf.

 Jangankan terhadap aqidah dan hukum-hukum syariat yang bersifat wajib diamalkan oleh umat Islam, bahkan untuk urusan yang terkait ajaran kesopanan hidup saja, Islam telah mengaturnya dengan detail, dan sudah menjadi keharusan bagi setiap muslim untuk mematuhinya. 

Contoh adab kesopanan seorang muslim yang telah diatur oleh Islam. Sy. Abu Hurairah RA mengatakan, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak penting baginya.” (HR. At-Tirmidzi).

Melakukan sesuatu yang dianggap sia-sia oleh Syariat, sekalipun bukan suatu kemaksiatan secara dhahir saja telah diatur oleh syariat agar tidak dilakukan oleh umat Islam, misalnya iseng-iseng begadang dan nongkrong di pinggir jalan. Apalagi urusan aqidah yang akan menentukan keselamatan seseorang bagi kehidupan akhiratnya kelak yang betrsifat kekal abadi.

Sy. Abdullah bin Mas’ud RA mengungkapkan, ia dan para shahabat pernah berada dalam satu kemah bersama Rasulullah SAW. lalu beliau bersabda, “Relakah kalian, jika kalian menjadi seperempat ahli surga?”
“Ya,” Jawab para shahabat.
“Relakah kalian menjadi sepertiga ahli surga?” Tanya Rasulullah SAW lagi.
“Ya.”
Lantas Nabi Muhammad SAW bersabda, “Demi Tuhan yang jiwaku berada dalam genggaman kekuasaan-Nya, sungguh aku berharap semoga kalian menjadi setengah dari ahli surga. Sebab yang memasuki surga itu hanyalah orang Islam. Jumlah kalian dibandingkan dengan orang-orang musyrik (kafir) bagaikan sehelai rambut putih di tubuh banteng yang hitam. Bisa juga seperti sehelai rambut hitam di tubuh banteng yang putih.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, dan At-Tirmidzi).

   
 Isikan Komentar Anda
   
Nama 
Email 
Kota 
Pesan/Komentar 
 
 
 
 
 
Kembali Ke atas | Kembali Ke Index Karya Ilmiah
 
 
 
  Situs © 2009-2017 Oleh Pejuang Islam