URL: www.pejuangislam.com
Email: editor@pejuangislam.com
 
Halaman Depan >>
 
 
Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami
Ustadz H. Luthfi Bashori
 Lihat Biografi
 Profil Pejuang Kaya Ide
 Imam Abad 21
 Info Asshofwah
Karya Tulis Pejuang


 
Ribath Almurtadla
Al-islami
 Pengasuh Ribath
 Amunisi Dari Tumapel
 Aktifitas Pengasuh
 Perjuangan Pengasuh
 Kalender Ribath
Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
 Sekilas Profil
 Program Pendidikan
 Pelayanan Masyarakat
 Struktur Organisasi
 Pengasuh PIQ
 
Navigasi Web
Karya Tulis Santri
MP3 Ceramah
Bingkai Aktifitas
Galeri Sastra
Curhat Pengunjung
Media Global
Link Website
TV GARIS LURUS
Kontak Kami
 
 
 Arsip Teriakan Pejuang
 
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [27/8/2017]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [27/8/2017]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [27/8/2017]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [27/8/2017]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [27/8/2017]
   
 
 Book Collection
 (Klik: Karya Tulis Pejuang)
Pengarang: H. Luthfi B dan Sy. Almaliki
Musuh Besar Umat Islam
Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat
Dialog Tokoh-tokoh Islam
Carut Marut Wajah Kota Santri
Tanggapan Ilmiah Liberalisme
Islam vs Syiah
Paham-paham Yang Harus Diluruskan
Doa Bersama, Bahayakah?
 
 WEB STATISTIK
 
Hari ini: Jumat, 22 September 2017
Pukul:  
Online Sekarang: 7 users
Total Hari Ini: 43 users
Total Pengunjung: 3593709 users
 
 
Untitled Document
 PEJUANG ISLAM - KARYA ILMIAH USTADZ LUTHFI BASHORI
 
 
TANDA CINTA KEPADA ALLAH, TIDAK MELANGGAR ATURAN SYARIAT 
Penulis: Pejuang Islam [ 8/4/2017 ]
 
TANDA CINTA KEPADA ALLAH,
TIDAK MELANGGAR ATURAN SYARIAT


Luthfi Bashori


Seorang bijak ditanya, “Kapan seorang hamba itu menampakkan keadaan cinta?”

Ia pun menjawab, “Apabila ia menjalankan lima hal secara lahir dan batin, yaitu menepati janji, memelihara batas-batas, menerima apa yang ada, bersabar atas sesuatu yang hilang, dan menaati yang disembah.”

Pertama, berusaha menepati janji baik janji kepada Allah atau janji kepada manusia. Janji kepada Allah yaitu dengan pengakuannya bahwa Allah sebagai Tuhannya, maka ia akan berusaha untuk melakukan perintah-Nya. Ia juga menginkari setiap sesuatu yang dianggap tuhan selain Allah, serta menginkari segala bentuk penyekutukan terhadap Allah yang dilakukan oleh siapapun orangnya.

Arti menginkari penyekutuan terhadap Allah, termasuk juga menjauhi pergaulan dengan orang-orang yang menyembah tuhah selalin Allah, tidak bersepakat terhadap kekafiran mereka, bahkan menentang segala bentuk kemusyrikan dan kekafiran yang ada di belahan bumi manapun.

Kedua, memelihara batas-batas, maksudnya terhadap batas-batas larangan Allah ia harus berusaha menghindar diri. Jika Allah melarang sesuatu dalam kitab suci-Nya, maka seketika itu pula wajib meninggalkannya tanpa ada tawar menawar lagi.

Seperti saat Allah melarang agar umat Islam tidak menjadikan orang-orang kafir non muslim sebagai pemimpin, teman setia, mitra kehidupan, idola dan sebagainya selain hanya karena urusan ‘jual beli’ yang memang diperbolehkan dalam Islam. Demikian juga terhadap larangan-larangan Allah yang lainnya.

Ketiga, menerima apa yang ada, yaitu menerima apa saja yang ditentukan oleh Allah, merasa senang menerima dengan ketentuan Allah, karena Allah itu akan menentukan sesuatu yang dicintai-Nya.  Ini bukan berarti  tidak diperintahkan untuk selalu berusaha ke arah yang lebih baik. Bahkan semua orang itu dianjurkan untuk berusaha menjadi yang terbaik serta tidak mudah menyerah oleh keadaan. Namun dalam perjuangannya itu tetap menyakini bahwa akhir dari segala sesuatunya itu hanyalah ketentuan dari Allah, dan Allah akan mempermudah jalan hidup semua orang itu sesuai dengan batas upaya yang mereka galakkan.

Keempat, bersabar atas sesuatu yang hilang. Maksudnya sabar mengadapi ujian dari Allah, dan Allah akan menolong orang-orang yang sabar, misalnya jika ada seseorang yang terkena musibah bencana alam, hingga kehilangan tempat tinggalnya.  Sedangkan yang paling utama adalah bersabar dalam menjauhi larangan Allah. Banyak orang yang dapat bersabar tatkala mendapatkan musibah bencana alam, maupun dapat bersabar tatkala mendapat perlawanan dari pihak-pihak yang membenci dirinya karena urusan duniawi, namun saat menghadapi kemaksiatan yang sangat dibenci oleh Allah, justru ia tidak sabar untuk menjauhi dan menghindarinya, bahkan iapun hanyut di dalammnya.

Kelima, mentaati apa yang dikehendaki oleh Allah. Caranya ialah mempelajari ajaran syariat yang telah diturunkan oleh-Nya, dengan melewati panduan kitab yang telah dikarang oleh para ulama salaf terdahulu, lantas berusaha mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Jika lima hal ini ada pada diri seseorang, maka itulah pertanda ia adalah hamba yang sedang mencintai dan sekaligus dicintai oleh Allah.

   
 Isikan Komentar Anda
   
Nama 
Email 
Kota 
Pesan/Komentar 
 
 
 
 
 
Kembali Ke atas | Kembali Ke Index Karya Ilmiah
 
 
 
  Situs © 2009-2017 Oleh Pejuang Islam