URL: www.pejuangislam.com
Email: editor@pejuangislam.com
 
Halaman Depan >>
 
 
Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami
Ustadz H. Luthfi Bashori
 Lihat Biografi
 Profil Pejuang Kaya Ide
 Imam Abad 21
 Info Asshofwah
Karya Tulis Pejuang


 
Ribath Almurtadla
Al-islami
 Pengasuh Ribath
 Amunisi Dari Tumapel
 Aktifitas Pengasuh
 Perjuangan Pengasuh
 Kalender Ribath
Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
 Sekilas Profil
 Program Pendidikan
 Pelayanan Masyarakat
 Struktur Organisasi
 Pengasuh PIQ
 
Navigasi Web
Karya Tulis Santri
MP3 Ceramah
Bingkai Aktifitas
Galeri Sastra
Curhat Pengunjung
Media Global
Link Website
TV GARIS LURUS
Kontak Kami
 
 
 Arsip Teriakan Pejuang
 
KEBERUNTUNGAN BAGI ORANG YANG DIASINGKAN, KARENA BELA ISLAM 
  Penulis: Pejuang Islam  [8/6/2017]
   
MUSIBAH TERBESAR ADALAH MUSIBAH DALAM AGAMA 
  Penulis: Pejuang Islam  [6/6/2017]
   
70.000 ORANG MASUK SURGA TANPA HISAB ITU, YANG BERSIH DARI KEMUSYRIKAN 
  Penulis: Pejuang Islam  [5/6/2017]
   
MENJAGA KEBERSIHAN DAN KESUCIAN DIRI SECARA LAHIR DAN BATIN 
  Penulis: Pejuang Islam  [3/6/2017]
   
KEWAJIBAN BERUKHUWWAH ISLAMIYAH MELEBIHI SEGALANYA 
  Penulis: Pejuang Islam  [29/5/2017]
   
 
 Book Collection
 (Klik: Karya Tulis Pejuang)
Pengarang: H. Luthfi B dan Sy. Almaliki
Musuh Besar Umat Islam
Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat
Dialog Tokoh-tokoh Islam
Carut Marut Wajah Kota Santri
Tanggapan Ilmiah Liberalisme
Islam vs Syiah
Paham-paham Yang Harus Diluruskan
Doa Bersama, Bahayakah?
 
 WEB STATISTIK
 
Hari ini: Selasa, 27 Juni 2017
Pukul:  
Online Sekarang: 2 users
Total Hari Ini: 287 users
Total Pengunjung: 3488230 users
 
 
Untitled Document
 PEJUANG ISLAM - KARYA ILMIAH USTADZ LUTHFI BASHORI
 
 
SEKILAS PANDANG MENGENAI AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH 
Penulis: H.M. Luthfi Bashori [ 3/10/2016 ]
 
Membahas Ahlus Sunnah wal Jamaah (aswaja) akan membutuhkan curahan perhatian dan konsentrasi penuh, apabila ingin memahaminya secara detail dan sempurna. Karena pembahasan tentang aswaja dapat berorientasi terhadap berbagai macam tinjauan, perumusan dan pemahaman, sesuai dari sudut mana memandangnya.

Tinjauan pertama, aswaja diartikan sebagai suatu kajian ilmiah yang bisa dipelajari lewat literatur-literatur. Kedua, aswaja merupakan suatu keyakinan yang bertempat jauh di lubuk hati, yang mewarnai perilaku hidup seseorang. Ketiga, aswaja bisa dipandang sebagai wadah bagi berkumpulnya individu yang mengarah kepada satu misi yang disepakati. Dan masih banyak lagi rumusan pengertian dan pemahaman aswaja menurut titik pandang tertentu yang selama ini terus berkembang di kalangan masyarakat.

Bentuk dari perkembangan rumusan pengertian dan pemahaman aswaja ditandai dengan banyaknya ORMAS (Organisasi Massa) yang sering mengklaim atau mengatasnamakan dirinya sebagai ormas aswaja. Tempat pendidikan semacam pesantren, madrasah diniyah, madrasah dengan kurikulum formal dan majlis taklim juga banyak yang memasang label aswaja sebagai asas organisasi. Bahkan menjamurnya orsospol / partai politik di era reformasi ini juga tak luput dari embel-embel aswaja pada asas partai dan AD/ART-nya.

Karena setiap individu dan kelompok mempunyai kepentingan dan tinjauan yang berbeda-beda, maka pemahaman tentang aswaja juga menjadi bervariasi antara satu dengan yang lain. Bahkan terkadang di antara kelompok tersebut ada yang merasa ‘lebih aswaja’ dibanding kelompok lain. Hal ini juga sejalan dengan firman Allah yang artinya :

“Setiap kelompok pasti membanggakan ciri khas yang ada pada dirinya.”
(QS. Al mukminun, 53).

Maka, kuat/lemahnya pengakuan mereka tergantung dari kadar pemahamannya terhadap aswaja, serta penerapannya terhadap prilaku kelompok tersebut sesuai dengan kaedah-kaedah yang terkandung di dalam aswaja itu sendiri. Seorang penyair mengatakan:
Wakullun yadda’i wushlan bi Laila # wa Laila la tuqirru lahu bi dzaka
“Semuanya mengaku sebagai pecinta (kekasih ) Laila. Namun Laila tidak mengakui mereka sebagai kekasihnya”.

Syair tersebut mengisyaratkan bahwa sebaik-baik pengakuan adalah pengakuan yang disesuaikan dengan keadaan sebenarnya.

Agar kelompok-kelompok yang mengaku sebagai ‘anak buah’ aswaja bisa mengenali dirinya sendiri, apakah ia sudah sesuai dengan aswaja atau belum, maka sebagai pengenalan dasar hendaknya memperhatikan hadits nabi tentang definisi aswaja :
“Telah terpecah kaum Yahudi tujuh puluh satu golongan, dan terpecah pula kaum Nasrani menjadi tujuh puluh dua golongan, sedangkan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya berada di neraka kecuali satu golongan”. Tatkala Rasulullah SAW ditanya tentang golongan yang selamat itu, beliau SAW menjawab: “Golongan yang mengikuti perilakuku dan perilaku para shahabatku”.

 Hadits ringkas dan padat ini sebenarnya mempunyai arti dan kandungan yang sangat luas, bahkan telah mencakup seluruh sendi dan pilar agama Islam. Sebab inti dari beragama Islam adalah ittiba’ (mengikut secara mutlak) kepada Rasulullah SAW.

Beberapa hal yang merupakan dari ittiba’ (mengikuti) kepada beliau SAW misalnya :

Perintah Rasulullah SAW terhadap pelaksanaan shalat yang merupakan ‘imaduddin (tiang agama) beliau SAW bersabda yang artinya : “Shalatlah seperti kalian melihat aku shalat”
Perintah menunaikan ibadah haji, sabda beliau yang artinya: mencontohlah dariku manasik haji kalian”
Dua hal di atas dikuatkan oleh ayat Alquran artinya : “Dan bagi kalian pada diri Rasulullah terdapat suri tauladan yang baik” (QS. Al-ahzab,21).

Dua contoh di atas sengaja disederhanakan, namun tidak berarti meniru Rasulullah SAW hanya dalam hal-hal ibadah Mahdhah seperti itu, karena ayat tersebut di atas memberi peluang gerak yang lebih luas lagi, yaitu perintah meniru perilaku Rasulullah SAW termasuk dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berpolitik, dan bernegara.

Di samping itu, kita tidak boleh mengenyampingkan ilmu dan ajaran para shahabat Nabi SAW, di mana mereka adalah murid-murid Nabi SAW yang dalam kehidupan sehari-harinya berkiblat pada beliau SAW. Lebih-lebih lagi mereka hidup pada zaman diturunkannya Alquran. Maka secara otomatis perilaku para sahabat telah terkontrol oleh turunnya ayat Alquran maupun sabda dan pengawasan Rasulullah SAW secara langsung. Demikianlah kira-kira arti yang tersirat dalam hadits Nabi SAW di atas.

Dari sinilah individu dan kelompok yang telah mengklaim dirinya sebagai penganut aswaja, pertama harus tahu persis tentang pribadi Nabi SAW dan ajaran syariatnya secara menyeluruh dan berupaya menjalakan ajaran tersebut secara utuh, artinya menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari baik yang berkaitan dengan urusan pribadi dan keluarga, hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, baik tata cara berekonomi, sosial, politik maupun beragama.

Kedua, harus rajin mempelajari biogarafi para shahabat, ajaran dan ijtihad serta pemikiran mereka untuk diresapi dan diikuti sebagai pijakan menjalankan rotasi kehidupan secara islami yang haqiqi. Tanpa itu, pengakuan sebagai penganut aswaja, hanyalah fatamorgana belaka.

ASWAJA DAN PRILAKU UMAT DEWASA INI
( Bagian Kedua )

 Apabila umat Islam sudah memahami bahwa inti dari aswaja adalah ittiba’ (mengikuti) Rasulullah SAW, maka tentunya setiap individu muslim bisa mengukur dirinya apakah sudah tepat bila ia mengaku dan menggolongkan dirinya sebagai penganut aswaja. Ataukah prilakunya telah menyimpang dari ajaran murni yang dibawa Nabi Muhammad SAW hingga keluar dari lingkup aswaja. Rasulullah SAW telah mengingatkan umatnya, sebagaimana yang diriwayatkan Ummul Mukmini ‘Aisyah ra. berkata: Rasulullah SAW bersabda: “ Barang siapa menciptakan didalam agama kami apa yang bukan termasuk agama kami, maka hal itu ditolak” ( HR. Bukhari dan Muslim).

“Berhati-hatilah kalian terhadap amal-amal ciptaan baru, karena sesungguhnya sebagian bid’ah (ciptaan baru) itu sesat” (HR. Abu Dawud dan at Tirmidzi, hadits hasan shahih)

* Sebagai keterangan ringkas, Kullu Kulliyah diartikan “seluruh” sedangkan Kullu Kulli diartikan “sebagian” (harap merujuk kepada ilmu Manteq, dan bukan dalam forum ini pembahasannya)

Jika kita merujuk kepada dua hadits di atas, maka kita akan mendapati betapa banyak amalan kaum muslimin saat ini yang ditolak oleh Islam, sebab mereka telah masuk pada wilayah bid’ah, seperti adanya sekolah dengan label Islam bahkan label aswaja, yang mencampuradukkan siswa dan siswi dalam satu kelas tanpa ada sekat/tabir. Pencampuran lelaki dan perempuan dalam satu tempat inilah di antara bid’ah yang berkembang di tengah masyarakat.

Pengertian bid’ah tidaklah mutlak harus menuju ke arah dhalalah (sesat), sebab umat Islam juga harus mengacu kepada sabda Rasulullah SAW :
“Hendaklah kalian berpeganf teguh terhadap sunnahku dan sunnah al-Khulafair Rasyidin yang mendapat petunjuk (HR. Abu Dawud dan at Tirmidzi, hadits hasan shahih)

Suatu saat, terjadi perbedaan cara melaksanakan tarawih di kalangan para shahabat, maka atas ijtihad dari sayyidina Umar bin Khattab ra, rakaat shalat tarawih ditetapkan sebanyak 20 rakaat dengan berjamaah di masjid. Kemudian sayyidina Umar bin Khattab berkomentar:
“Sebaik-baik bid’ah adalah (shalat tarawih denagan cara) ini” (HR. al-Bukhari)

Bermula dari dua riwayat di atas, para ulama membagi bid’ah menjadi dua, yaitu bid’ah hasanah dan bid’ah dlalalah.

Bid’ah hasanah adalah amalan yang baru di dalam Islam, namun jika ditilik secara detail, maka setiap bagan dari amalan tersebut masih berada dalam lingkup makna yang tersirat di dalam ayat Alquran atau Hadits.

 Beberapa contoh bid’ah hasanah yang berkembang di tengah masyarakat adalah:
1.Penghormatan terhadap kelahiran Rasulullah dengan membaca maulid Diba’ dengan dilagukan. Amalan ini berasal dari perintah Alquran maupun Hadits tentang pentingnya bershalawat kepada Nabi SAW. Karena itu isi maulid Diba’ adalah bacaan shalawat kepada Nabi SAW, sedang beliau SAW juga merayakan hari kelahirannya dengan cara berpuasa pada setiap hari Senin.

2.Mengadakan tasyakkur haji dengan mengundang tetangga dan memberi mereka makan.
3.Penyambutan jamaah haji dengan diarak shalawat terbang, serta memberi makan para tamu yang ziarah haji.

4.Membaca puji-pujian kepada Rasulullah SAW dengan lagu-lagu yang dibaca sebelum shalat jamaah dimulai, atau qasidah-qasidah yang dibaca secara koor / bersama-sama yang semuanya berisi shalawat kepada Nabi SAW

Bid’ah dhalalah adalah amalan baru di dalam Islam, yang tidak ada landasan sedikitpun dari Alquran maupun Hadits, bahkan cenderung melanggar syariat Islam.

Bid’ah dlalalah yang tengah berkembang di masyarakat sangatlah banyak. Adakalanya dianggap ringan sebab tidak sampai menjurus kepada kekufuran atau kemurtadan, yaitu bid’ah yang sifatnya bertentangan dengan hukum haram, seperti mengadakan rombongan ziarah Wali Sanga dalam satu bus yang pesertanya bercampur antara lelaki dengan perempuan yang bukan mahramnya, bahkan terkadang dipimpin seorang wanita. Ziarah ke makam para shalihin hukumnya boleh, asalkan tidak melanggar ketentuan syariat Islam.

Contoh lain adalah mengadakan pengajian umum di tengah lapang, dengan pengunjung lelaki dan perempuan yang bercampur aduk tanpa pembatas. Sebelum acara inti, diselingi orkes gambus oleh fatayat, bahkan seorang mubalighah tampil sebagai pembicara, dan terkadang mengenakan baju sedikit ketat dan tipis, plus perhiasan yang sangat menarik kaum lelaki yang memandangnya.

Sudah selayaknya para pengikut aswaja menghindari bid’ah semacam di atas. Serta meemperhatikan firman Allah SWT yang artinya : Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka…………….” (An Nur : 31)

Termasuk bid’ah yang sering terjadi pada tempat-tempat pendidikan Islam saat ini adalah seorang guru lelaki dengan leluasa masuk dan mengajar pelajar putri tanpa batas sesuai ketentuan agama, atau dalam satu kantor pesantren / madrasah, atau bahkan kantor ormas Islam yang selalu menyuarakan aswaja, justru yang bertugas adalah pengurus putra dan pengurus putri dalam satu ruangan bahkan dengan leluasa berinteraksi seperti layaknya saudara se mahram. Allah SWT berfirman yang artinya :
“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka”. (Al Ahzab : 53)

Ayat ini menunjukkan bahwa hubungan antara lelaki dan perempuan yang bukan mahramnya, haruslah dibatasi dengan tabir.

Adapun bid’ah dhalalah yang sangat mengkhawatirkan dapat menjurus kepada kemurtadan dan kekufuran, juga telah banyak berkembang di kalangan umat Islam dewasa ini, yang kadangkala dilakukan secara individu maupun secara berjamaah. Sebagai contoh, seorang muslim mengucapkan dengan serius kepada non muslim, semisal : Selamat Natal, bahkan ikut bergembira dan merayakan perayaan natal tersebut baik di gereja maupun di tempat lain.

Contoh lain adalah mengadakan ritual doa bersama muslim-non muslim, dengan mengamini setiap doa yang dilantunkan oleh setiap tokoh agama yang berlainan. Bid’ah mencaci-maki para shahabat Nabi SAW senabagimana yang sering dilakukan oleh pengikut aliran Syi’ah Iran. Demikian dan lain sebagainya.


(pejuangislam)


   
 Isikan Komentar Anda
   
Nama 
Email 
Kota 
Pesan/Komentar 
 
 
 
1.
Pengirim: zaenu ar rofiqy  - Kota: gresik
Tanggal: 26/5/2009
 
jayalah Ahlus Sunnah wal Jamaah....
goodluck  
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Jazakumullah kher atas kunjungannya.

2.
Pengirim: salma  - Kota:
Tanggal: 4/3/2010
 
Mohon izin sebarkan pak ustadz 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Kami persilahkan, mudah2an bermanfaat.

3.
Pengirim: mashuriyah  - Kota: Kediri
Tanggal: 14/12/2010
 
cm satu kata "WASPADA". saking banyaknya aliran2 keagamaan yg g jls, umat muslim NU dhrpkn tdk mdh kena pengaruh/bujukan dg iming2 harta jika mau mjd pengikut klmpk aliran tsb 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Amiin.

4.
Pengirim: PRAS  - Kota: purworejo
Tanggal: 24/1/2011
 
Pada umumnya umat islam mengakui berfaham Ahlussunnah waljamaah akan tetapi mereka belum mengetahui sebab-sebab munculnya faham ini,yang tersebar di pelosok dunia bahakan dapat dikatakan 75 % umat usalam seluruhnya menggunakan faham ini.mengapa? 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Karena dewasa ini umat Islam enggan berkumpul bersama para ulama, sehingga mereka jauh dari pemahaman Islam dengan baik dan benar. Coba bandingkan jika ada konser musik atau pertandingan bola tim faforit bersamaan pelaksanaannya dengan jadwal majlis taklim, kira-kira para pemuda (muslim) lebih tertarik kearah yang mana realitanya?

5.
Pengirim: Abu Umar  - Kota: Jakarta
Tanggal: 23/9/2011
 
Ust. ijin bertanya, buku2 karangan sayyid muhammad alwi almaliki bisa di dapat di mana ya..??..soalnya sewaktu saya cerita mengenai tulisan yg ada di website ini mengenai paham2 yang perlu diluruskan, ust di tempat ana bilang tertarik dgn buku tersebut...dan bertanya dimana bisa di dapatkan...jazakallah atas jawabannya... 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Mohon menghubungi Ustadz Kamal : 081703488888/081938577305.

6.
Pengirim: nurmawaty  - Kota: serbalawan
Tanggal: 6/12/2011
 
mhn mf sy kira bid.ah tdk yg hasanah,kata dhalala itu yg maksutnya adalah tanpa kecuali jadi tdk ada bid,ah hasanah 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Itu kan sekedar perkiraan ukhti kaan? Padahal Sayyidi Umar bin Khatthab Khalifah pengganti Nabi SAW mengatakan jika Bid'ah itu ada yang hasanah (ni'mat). Lah pastinya lebih paham mana antara ukhti dibanding dengan Sayyidina Umar bin Khatthab tentang ajaran agama Islam ini ?

7.
Pengirim: Dwi Sulistio  - Kota: Sampit (Kalimantan Tengah)
Tanggal: 9/1/2012
 
Assalamu'alaikum...
pada suatu ksemptan, Ana prnah bicara sama2 tman tntang msalah pmbgian bid'ah, ada yg hasanah dan ada pula yg dholalah...
Terus Ana utarakan jga bhwa yg dimaksud dlm hadits Nabi "kullu bid'atin" dsitu bukanlah "Kullu" dalam artian "seluruh", tpi diartikan "sebagian".
trus slah seorang teman tdi mencoba mengungkapin pandangannya terhadap pembagian bid'ah, katanya "klo kata 'kullu' dalam hadits Nabi SAW diartikan 'sebagian' maka konsekuensi pada matan hadits selanjutnya 'kullu dholalatin fin naar' yakni 'sebagian kesesatan di neraka'.
mafhum mukholafahnya, klo dikatakan sebagian kesesatan di neraka, berarti sebagiannya lagi ga' di neraka.

mohon penjelasannya Ustadz...
Ana berharap penjelasan Antum bisa menghilangkan tanda tanya besar di kepala Ana...
Jazakallah khairan katsiran...!!!
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Kami sarankan akhi membaca artikel kami berjudul KULLU BID'ATIN DHALALAH pada kolom TERIAKAN PEJUANG, bacalah secara lengkap dengan seluruh komentarnya, maka akhi akan mendapatkan jawabannya secara lengkap pula.

8.
Pengirim: Jemmy Maidy  - Kota: Indramayu
Tanggal: 29/7/2012
 
di zaman akhir seperti skrg ini, banyak orang/kelompok yg dgn mudahnya mengatakan sesat/bid'ah terhadap ajaran yg di amalkan kelompok lain. Kelompok fundamentalis yg selalu mengklaim bhw apa yg dilakukannya berdasarkan Al-Qur'an & Al-Hadits. Padahal pemahaman keagamaan mereka bgt dangkal. Dikit-dikit bid'ah, tanpa melihat dan memperhatikan Al-Ijma' & Al-Qiash para Ulama.......! 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Na`uudzubillahi min syarrihim (mudah-mudahan kita dijauhkan dari mereka)

9.
Pengirim: sutar  - Kota: pandaan pasuruan
Tanggal: 1/6/2013
 
maaf mau tanya ciri khas aswaja salah satunya berpegang teguh pada ijma'trus bagaimana dg org yang tidak berpegang teguh pada ijma'dalam hukum tertentu (tidak smuanya) apakah termasuk aswaja apa bukan? Sukron. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Maksudnya : Ulama Aswaja itu dalam berdalil, menggunakan rujukan Alquran atau Hadits atau Ijma' atau Qiyas. Tidak kaku seperti kelompok lain yang hanya minta dalil dari Alquran dan Hadits shahih saja, contohnya kaum Wahhabi, padahal saat mereka praktek di lapangan ternyata tidak semua amalannya berdasarkan Alquran dan Hadits Shahih.

10.
Pengirim: eko  - Kota: jambi
Tanggal: 10/6/2014
 
Mohon maaf ustad, bisakah panjenengan menjelaskan lebih rinci kepada kami definisi bidah hasanah secara syariat?

kami merasa kurang pas dengan pendalilan menggunakan perkataan sayyidina Umar tentang sholat tarawih , maksud kami, sependek pengetahuan kami, sholat malam sunat berjamaah bukan ibadah baru yang belum pernah ada sama sekali, namun Habibina Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam pernah melaksanakan nya dengan para sahabat. Artinya bidah hasanah (sholat tarawih berjamaah) yang dikatakan yang mulia Umar bukan hanya spirit atau esensi saja yang telah ada pada masa Kanjeng Nabi, namun wujud dan kaifiyatnya juga telah ada pada masa Kanjeng nabi. Sahabat Umar hanya menghidupkan amalan yang sempat redup di masa sahabat abu bakar.

Selain itu, ini juga menyelisihi makna kata bidah itu sendiri, bidah yang berarti sesuatu yang tidak ada contoh sebelumnya, sebagaimana firman Allah dalam surat Albaqoroh ayat 117: "Badi'us samaawaati wal ardh", artinya "Dia (Allah) yang telah menciptakan langit-langit dan bumi", yaitu menciptakan yang tidak ada contoh sebelumnya.

Kalau kita katakan sahabat umar mengatakan bidah (sholat tarawih) dengan maksud bahwa hal tersebut belum pernah ada contoh dari Nabi kita, ini berarti menyelisihi kenyataan. Ini tidak mungkin.

Tapi bila kita bawa perkataan umar tentang bidah ini adalah bidah dengan makna 'hal yang baru pada masa beliau -yaitu menyatukan jamaah tarawih- yang tidak dilakukan pada masa abu bakar -pada masa abu bakar jamaah tarawih mengelompokkan ngelompok-, inilah kemungkinan yang paling mungkin. Dan ini kemungkinan maksud imam syafii (semoga Allah merahmatinya) saat membagi bidah menjadi bidah hasanah dan bidah dholalah.

Kemudian, dari contoh bidah dholalah yang ustad jelaskan di atas, kami menangkap maksud ustad bahwa, amalan tersebut menjadi bidah dholalah adalah karena adanya maksiat pada ibadah tersebut, seperti campur baur laki perempuan, memandang lawan jenis tanpa kepentingan darurat. Jika dengan cara berpikir seperti ini, berarti berbuka puasa dengan minum tuak, atau sholat wajib berduaan dengan non muhrim bisa termasuk kategori bidah dholalah?


Semoga Allah menambah semangat antum dalam membela agama Allah.

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Jazaakallahukher.  
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Yang anda kurang mencermati adalah:

Rasulullah SAW dan Sy. Abu Bakar, tidak pernah shalat Tarawih selama SEBULAN (Ramadhan) SUNTUK secara BERJAMAAH dg SATU IMAM.

Karena yg memulai TARAWIH SEBULAN SUNTUK SECARA BERJAMAAH adalah Sy. Umar.

Pahami dialog Sahabat Rasulullah: Abu Bakar dan Umar dalam hadits shahih Bukhari no 4402 dan 6768:

Ketika Sahabat Umar Bin Khattab mengusulkan kepada Khalifah Abu Bakar sesuatu yang baru yang belum dicontohkan Nabi. Khalifah Abu Bakar langsung keberatan:

"Bagaimana aku berbuat sesuatu hal yang tidak diperbuat Rasulullah?"

Sahabat Umar menjawab: "Demi Allah ini adalah kebaikan"

Pada akhirnya Khalifah Abu Bakar pun setuju dan tidak ada seorang Sahabat pun yang menentangnya.

Kesimpulan dialog: Desuatu yang belum pernah dilakukan Rasulullah selama itu baik itu boleh dilakukan.

Inilah ajaran bid'ah hasanah para sahabat Rasulullah yg diikuti ulama salaf para imam madzhab (bukan salafi wahabi).

Penentangan terhadap adanya bid'ah hasanah adalah sama dengan penentangan kepada para sahabat Rasulullah.

Penentangan kepada sahabat Rasulullah menjadi penegasan bahwa penentangnya bukanlah golongan Ahlussunnah Wal Jama'ah.

Poinnya:
1. Sesuatu hal yang tidak pernah diperbuat Rasulullah?
2. Demi Allah ini adalah kebaikan"

Siapakah yang menentang Adzan 2 kali ketika jum'atan yang dicetuskan oleh Khalifah Utsman padahal yg demikian itu tidak pernah dilakukan di masa sebelumnya (di masa Rasulullah, masa khalifah Abu bakar dan Umar).

Adakah yg bilang bahwa Khalifah Utsman sesat karena telah melakukan bid'ah?

Tapi kalau kita memahami Dialog Khalifah Abu Bakar dan Umar sangat jelas apa yg dilakukan Khalifah Utsman adalah memang sesuatu yang baru namun baik (bid'ah hasanah).

Praktik Bid'ah Hasanah para Sahabat Setelah Rasulullah Wafat

Para sahabat sering melakukan perbuatan yang bisa digolongkan ke dalam bid'ah hasanah atau perbuatan baru yang terpuji yang sesuai dengan cakupan sabda Rasulullah SAW:

مَنْ سَنَّ فِى اْلاِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ اَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا

Siapa yang memberikan contoh perbuatan baik dalam Islam maka ia akan mendapatkan pahala orang yang turut mengerjakannya dengan tidak mengurangi dari pahala mereka sedikit pun. (HR Muslim)

Karena itu, apa yang dilakukan para sahabat memiliki landasan hukum dalam syariat. Di antara bid'ah terpuji itu adalah:

a. Apa yang dilakukan oleh Sayyidina Umar ibn Khattab ketika mengumpulkan semua umat Islam untuk mendirikan shalat tarawih berjamaah. Tatkala Sayyidina Umar melihat orang-orang itu berkumpul untuk shalat tarawih berjamaah, dia berkata: "Sebaik-baik bid'ah adalah ini".

Ibn Rajar al- Asqalani dalam Fathul Bari ketika menjelaskan pernyataan Sayyidina Umar ibn Khattab "Sebaik-baik bid'ah adalah ini" mengatakan:

"Pada mulanya, bid'ah dipahami sebagai perbuatan yang tidak memiliki contoh sebelumnya. Dalam pengertian syar'i, bid'ah adalah lawan kata dari sunnah. Oleh karena itu, bid'ah itu tercela. Padahal sebenarnya, jika bid'ah itu sesuai dengan syariat maka ia menjadi bid'ah yang terpuji. Sebaliknya, jika bidطah itu bertentangan dengan syariat, maka ia tercela. Sedangkan jika tidak termasuk ke dalam itu semua, maka hukumnya adalah mubah: boleh-boleh saja dikerjakan. Singkat kata, hukum bid'ah terbagi sesuai dengan lima hukum yang terdapat dalam Islam".

b. Pembukuan Al-Qur'an pada masa Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq atas usul Sayyidina Umar ibn Khattab yang kisahnya sangat terkenal.

Dengan demikian, pendapat orang yang mengatakan bahwa segala perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah adalah haram merupakan pendapat yang keliru. Karena di antara perbuatan-perbuatan tersebut ada yang jelek secara syariat dan dihukumi sebagai perbuatan yang diharamkan atau dibenci (makruh).

Ada juga yang baik menurut agama dan hukumnya menjadi wajib atau sunat. Jika bukan demikian, niscaya apa yang telah dilakukan oleh Abu Bakar dan Umar sebagai­mana yang telah dituliskan di atas merupakan perbuatan haram. Dengan demikian, kita bisa mengetahui letak kesalahan pendapat tersebut.

c. Sayyidina Utsman ibn Affan menambah adzan untuk hari Jumat menjadi dua kali. Imam Bukhari meriwatkan kisah tersebut dalam kitab Shahih-­nya bahwa penambahan adzan tersebut karena umat Islam semakin banyak. Selain itu, Sayyidina Utsman juga memerintahkan untuk mengumandangkan iqamat di atas az-Zawra', yaitu sebuah bangunan yang berada di pasar Madinah.

Jika demikian, apakah bisa dibenarkan kita mengatakan bahwa Sayyidina Utsman ibn Affan yang melakukan hal tersebut atas persetujuan seluruh sahabat sebagai orang yang berbuat bid'ah dan sesat? Apakah para sahabat yang menyetu­juinya juga dianggap pelaku bid'ah dan sesat?

Di antara contoh bid'ah terpuji adalah mendirikan shalat tahajud berjamaah pada setiap malam selama bulan Ramadhan di Mekkah dan Madinah, mengkhatamkan Al-Qur'an dalam shalat tarawih dan lain-lain. Semua perbuatan itu bisa dianalogikan dengan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW dengan syarat semua perbuatan itu tidak diboncengi perbuatan-perbuatan yang diharamkan atau pun dilarang oleh agama. Sebaliknya, perbuatan itu harus mengandung perkara-perkara baik seperti mengingat Allah dan hal-hal mubah.

Jika kita menerima pendapat orang-orang yang menganggap semua bid'ah adalah sesat, seharusnya kita juga konsekuen dengan tidak menerima pembukuan Al-Qur'an dalam satu mushaf, tidak melaksanakan shalat tarawih berjamaah dan mengharamkan adzan dua kali pada hari Jumat serta menganggap semua sahabat tersebut sebagai orang-­orang yang berbuat bid'ah dan sesat.

11.
Pengirim: Ahmat Riadi  - Kota: Trenggalek,Jatim
Tanggal: 19/7/2014
 
Assalamu'alaikum Wr Wb.pertama saya ingin memanjatkan puji syukur atas segala ni'mat yg telah Allah anugerahkan dan tak lupa sholawat serta salam semoga selalu terlimpah kepada junjungan kita Rasulullah SAW..
kalau saya boleh berkomentar mengenai tulisan bpk KH.Luthfi B, seolah-olah hati & fikiran sya terbuka terbangun dari tidur panjang, bahwa Indonesia dan umat islam tengah menghadapi krisis moral & penegakan syari'at, bahwa d.tubuh NU, organisasi yg juga saya naungi d.dalamnya trdpt pihak2 yg telah terkontaminasi virus SEPILIS, akhir kata Jazakumullahu Khairan. Wassalamu'alaikum Wr Wb.. jika ustadz berkenan, sya ingin meminta nomor hp ustadz utk menambah khazanah keilmuan saya & lebih memahami permasalahan yg tengah d.hadapi umat islam...
 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Alhamdulillah, semoga bermanfaat.
081333007321

 
 
Kembali Ke atas | Kembali Ke Index Karya Ilmiah
 
 
 
  Situs © 2009-2017 Oleh Pejuang Islam