URL: www.pejuangislam.com
Email: editor@pejuangislam.com
 
Halaman Depan >>
 
 
Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami
Ustadz H. Luthfi Bashori
 Lihat Biografi
 Profil Pejuang Kaya Ide
 Imam Abad 21
 Info Asshofwah
Karya Tulis Pejuang


 
Ribath Almurtadla
Al-islami
 Pengasuh Ribath
 Amunisi Dari Tumapel
 Aktifitas Pengasuh
 Perjuangan Pengasuh
 Kalender Ribath
Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
 Sekilas Profil
 Program Pendidikan
 Pelayanan Masyarakat
 Struktur Organisasi
 Pengasuh PIQ
 
Navigasi Web
Karya Tulis Santri
MP3 Ceramah
Bingkai Aktifitas
Galeri Sastra
Curhat Pengunjung
Media Global
Link Website
TV GARIS LURUS
Kontak Kami
 
 
 Arsip Teriakan Pejuang
 
SEBAIK-BAIK ORANG BERDOSA ADALAH YANG BERTOBAT 
  Penulis: Pejuang Islam  [6/5/2017]
   
KEUTAMAAN KALIMAT LA ILAHA ILLALLAH 
  Penulis: Pejuang Islam  [3/5/2017]
   
BACAAN DUA KALIMAT TASBIH YANG SANGAT BESAR PAHALANYA 
  Penulis: Pejuang Islam  [1/5/2017]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [19/4/2017]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [19/4/2017]
   
 
 Book Collection
 (Klik: Karya Tulis Pejuang)
Pengarang: H. Luthfi B dan Sy. Almaliki
Musuh Besar Umat Islam
Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat
Dialog Tokoh-tokoh Islam
Carut Marut Wajah Kota Santri
Tanggapan Ilmiah Liberalisme
Islam vs Syiah
Paham-paham Yang Harus Diluruskan
Doa Bersama, Bahayakah?
 
 WEB STATISTIK
 
Hari ini: Kamis, 25 Mei 2017
Pukul:  
Online Sekarang: 5 users
Total Hari Ini: 588 users
Total Pengunjung: 3443613 users
 
 
Untitled Document
 PEJUANG ISLAM - KARYA ILMIAH USTADZ LUTHFI BASHORI
 
 
Tanggapan Ilmiah terhadap Pemikiran Sesat Muhammad Salman Ghanim Tokoh Liberal asal Kuwait 
Penulis: H. Luthfi Bashori [ 3/10/2016 ]
 
Tulisan di bawah ini disadur dari buku Kritik Ortodoksi Tafsir Ayat Ibadah,
Terbitan LKiS dengan tanggapan oleh H. Luthfi Bashori:

Khamr
Reinterpretasi Pengharaman Khamr
Dalam Al-qur’an


Muhammad Salman Ghanim

  Kita harus menelusuri ayat - ayat khamr dalam Al-qur’an satu per satu secara komprehensif dan gradual. Menurut penulis,ayat pertama kali yang turun tentang kasus khamr adalah firman Allah: Dan sesungguhnya pada binatang ternak benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu.Kami memberimu minum dari apa yang dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tinja dan darah,yang enak ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. Dan dari buah kurma dan anggur,kamu buat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang berpikir.

 (Qs.an-Nahl [16]: 66-67). Ayat ini mengingatkan manusia akan keutamaan dan kenikmatan yang telah dianugerahkan Allah kepada mereka. Di sini, Allah menyebut redaksi atau sakaran (khamr) sebagai salah satu kenikmatan Allah yang harus disyukuri oleh manusia, di samping kurma dan susu.

  Setelah itu,baru turunlah firman Allah: Hai orang-orang yang beriman,janganlah kamu shalat sedang kamu dalam keadaan mabuk ,sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan. (Qs.an Nisa’ [4]:43), dikarenakan sebagian orang islam datang ke masjid dalam keadaan mabuk, sehingga mereka tidak melantunkan firman-firman Tuhan dengan jelas dan betul. Sebenarnya, realitas ini tidak akan terjadi kecuali akibat berlebih-lebihan dalam meminum khamr.Jadi, bukan minum khamr itu sendiri yang menjadi masalah.

 Yang penting orang menunaikan shalat dengan penuh kesadaran diri dan kesadaran pikiran.

Jika hal ini terpenuhi, maka shalatnya pun menjadi sah dan benar, meskipun sebelumnya ia meneguk khamr. Di sampimg itu ayat di atas memberikan indikasi makna bahwa orang yang meminum khamr boleh melakukan shalat.

Lebih lanjut,turun firman Allah : Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi.Katakanlah : Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya. (Qs.al-Baqarah [2]: 219). Ayat ini meletakkan khamr dalam frame ”bermanfaat” dan “membahayakan” (kesehatan),bukan dalam konteks halal dan haram, meski dikatakan bahwa dampak negatif lebih besar dari sisi positifnya.

 Kenyataan ini lebih menguatkan pandangan penulis bahwa tidak semua sesuatu itu halal dan haram, tetapi antara kedua label ini masih ada beberapa kemungkinan antara mustahab atau makruh, positif atau negatif, dan bermanfaat atau berbahaya.

 Atas dasar ini, maka pengharaman khamr dalam Al-qur’an tidak bersifat absolut dan mulzim, tetapi lebih merupakan pengharaman semi-makruh.

Ini berarti bahwa praktik minum khamr bukanlah termasuk dosa besar, tetapi dosa kecil yang bisa dihapus sebagai mana firman Allah: Orang-orang yang menjauhi doasa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. (Qs.an-Najm [53]: 32).

Setelah paparan wacana dan mudarat khamr di atas, turun ayat tentang khamr yang menjadi starting point polemik dalam masalah ini, yaitu firman Allah: Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya minum khamr, berjudi, (berkorban) untuk berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan.

 Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud handak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran meminum khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang. Maka berhehtilah kamu (dari mengerjakan perbuatan itu).

 (Qs.al-Ma’idah [5]:90-91). Sebagian ulama’ mengartikan ijtinab (jauhilah) sebagai tahrim (pengharaman), bahkan lebih dari sekadar haram.

 Statemen ini terakhir dikeluarkan oleh, misalnya, Abdul Karim al-Khathib. Ia mengatakan bahwa “vonis Allah atas sesuatu dengan memakai pola pemerintah kepada kaum mukmin untuk menjauhinya, merupakan vonis hukum yang lebih berat dari pada pengharamannya. Sebab perintah untuk menjauhi sesuatu berarti menjadikan objek tersebut menjadi sesuatu yang divonis haram selamanya.

 Bahkan vonis ini tidak bisa diganggu gugat dan berubah menjadi halal dari berbagai sudut atau kondisi. Beda dengan objek-objek yang divonis haram oleh Allah dengan menggunakan lafal tahrim secara lugas dan langsung. Maka vonis ini kemungkinan bisa berubah sifatnya tergantung kondisi, misalnya, dari haram menjadi halal atau boleh”.

Penulis berpendapat bahwa pernyataan ini sudah merupakan muzawadah (penambahan atas firman-firman Allah. Sebaliknya, ada juga sebagian ulama’ yang berpandangan vonis ijtinab lebih ringan dari pada tahrim, bahkan tidak berarti haram. Muhammad Said Asymawi, misalnya mengatakan bahwa “khamr dalam Al-qur’an hanya menjadi objek perintah untuk dijauhi dan tidak diharamkan”.

Untuk mencari bukti kebenaran ijntinab yang menjadi perdebatan sengit di atas, kita harus mengeksplorasi hakikat lafal ijtinab dalam ayat-ayat Al-qur’an lain di luar diskursus khamr. Kita mendapati, misalnya, firman Allah: Hai orang-orang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.

 (Qs.al-Hujurat [49]: 12). Dalam ayat ini, kata ijtanibu tidak berarti vonis haram yang paten (qath’iy), tetapi lebih merupakan wacana akhlak dan kelakuan baik atau buruk, di mana Al-qur’an mengarahkan kaum mukminin untuk menjauhi “kebiasaan berprasangka” sebisa mungkin. Meskipun begitu, tidak semua prasangka merupakan dosa, hanya sebagian saja-menurut ayat di atas yang divonis dosa. Ada lagi firman lain Dan jauhilah berkata jelek (Qs.al-Hajj [22]:30). Di sini juga perkataan jelek (qaul az-zur) tidak masuk dalam konteks halal dan haram, tetapi ayat tersebut lebih merupakan anjuran untuk menjauhi kelakuan jelek serta untuk memperbaiki kelakuan.

 Jadi, qaul az-zur merupakan kelakuan tercela, tetapi belum sampai kriteria haram. Contoh lain, Allah juga berfirman: Dan jauhilah thaghut.

 (Qs.an-Nahl [16]: 36).Kata thaghut pada ayat tersebut adalah para konglomerat dan kaum borjuis atau dalam bahasa politik adalah penguasa tiran. Di sini kita diperintahkan untuk memerangi dan menjatuhkan mereka dari puncak kekuasaan.

 Jika aksi ini tidak memungkinkan, maka kita juga harus menjauhi dan menghindari eksploitasi mereka sedapat mungkin. Jadi, problematika di sini adalah masalah konflik social politik. Usaha menggulingkan tiran politik dan ekonomi ini bisa berhasil dan bisa juga gagal.

 Alias bukan masalah halal dan haram. Kenyataan dan uraian ini membuktikan bahwa kelompok Islam Pseudo-Reformis tidak membuktikan komotmen pemahaman dan penerapan konsep ijtinab sebagai tahrim (pengraman), kecuali dalam kasus khamr saja. Terlepas dari polemik makna ijtinab di atas,ayat khamr terakhir (yaitu Qs.al-Ma’idah [5] :90-91) terkait erat dengan Qs.al-Baqarah ayat 219 tentang pernyataan antara khamr dan maisir (perjudian).

Kenyataan kedua ayat di atas merupakan hal penting yang harus kita jadikan catatan dalam kasus keharaman khamr. Menyatunya antara aksi meminum minuman keras dan aksi perjudian memang rawan menimbulkan permusuhan dan kebencian, bahkan berbagai tindak kemungkaran dan kriminalitas, karena biasanya sering terkait dengan bisnis organisasi mafia. Tetapi kita tidak bisa menggeneralisir permasalahan begitu saja, sebab tidak semua meminum khamr menimbulkan permusuhan, kebencian, dan kemungkaran. Yang rentan negatif adalah jika aksi tersebut bercampur dan dibarengi dengan aksi perjudian.

Dengan demikian, jika faktor per-musuhan dan kebencian yang menjadi illah (alasan) pengharaman tidak ada, maka otomatis meminum khamr menjadi halal (boleh-boleh saja).

 Sebab hukum selalu terkait dengan illah (alasan)secara wujud dan sebab. Jika sebabnya sudah tidak ada, maka hilang juga vonis hukumnya. Jika illah (alasan) masih ada tetapi kondisinya sudah berubah, maka hukumnya menjadi mauquf.

 Jadi, meminum khamr dalam acara-acara resmi dan tempat-tempat tertup, seperti forum obrolan antar teman tanpa disertai permainan judi (atau sejenisnya yang menggunakan taruhan) tidaklah haram.

Ayat berikut ini – yang berurutan langsung setelah ayat ijtinab – meminimalisir polemik halal - haramnya khamr.

Allah berfirman : Tidak ada dosa bagi orang yang beriman dan amalan yang saleh karena memakan-makanan yang telah mereka makan dahulu apabila mereka bertaqwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan saleh, kemudian mereka tetap betaqwa dan beriman, kemudian mereka tetap juga bertaqwa dan berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Qs.al-Ma’idah [5] :93). Bahwa tidak ada dosa atau cela bagi kaum mukmin dalam masalah makanan dan minuman. Semua jenis makanan dan minuman yang bisa diterima jiwa tidak menjadi masalah (tidak ada dosa).

Tidak penting kita menjauhinya (makanan dan minuman yang tidak kita suka – penerj.) atau tidak. Tetapi yang terpenting di sini, adalah ketaqwaan, keimana, dan amal saleh. Kalaupun kita, misalnya, menganggap khamr itu merupakan satu bentuk maksiat -dalam penilaian yang baik - toh maksiat tidak sampai merusak keimanan. Dan ini adalah kaidah fiqh.

Eksplorasi teks Al-qur’an lebih jauh menunjukkan bahwa jenis-jenis makanan dan minuman yang diharamkan, telah dinyatakan dalam Al-qur’an dengan ketetapan paten, tegas, terbatas, dan jelas. Allah berfirman : Katakanlah : tiadalah aku peroleh dalam wahyu kepadaku sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau barupa bangkai, atau darah yang mengalir, atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu kotor – atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. (Qs.al-An’am [6] : 145). Di sini, Allah memerintahkan Rosulullah SAW.

 Untuk menyampaikan pesan ilahi bahwa tidak ada makanan dan minuman yang diharamkan untuk manusia, sebagaimana yang diwahyukan Alla kepada Muhammad, kecuali jenis bangkai, darah, daging babi, dan hewan yang disembelih tidak atas nama Allah. Allah Maha Mengetahui atas apa yang Dia wahyukan. Dari klasifikasi di atas, kita tidak menjumpai khamr sebagai jenis minuman yang diharamkan.

Lebih lanjut, pernyataan keharaman empat jenis makanan dan minuman ditegaskan lagi dalam firman Allah : Diharamkan bagi kamu sekalian (memakan) bangkai, darh, daging babi, hewan yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih serta yang disembelih untuk berhala. (Qs.al-Ma’idah [5] : 3).

  Dari paparan di atas, dapat dikatakan bahwa meminum khamr merupakan hal biasa. Meskipun dalam pandangan sebagian orang dinilai jelek dan maksiat, tetapi tidak haram. Bahkan meminum khamr -suka atau tidak suka- lambat-laun akan berubah menjadi sebuah kebutuhan sosial.

Vonis pengharaman khamr dan pemberian label kafir pada peminumnya -secara psikologis- malah menghalangi jutaan orang peminum khamr untuk masuk islam atau untuk melaksanakan ritual islam bagi orang islam peminum khamr. Apakah ini yang diinginkan oleh kelompok islam ortodoks ?

Seyogyanya dalam masalah khamr, kita harus menggunakan parameter “manfaat” dan “mudarat”, bukan parameter halal dan haram. Pengaturan (pendisiplinan diri) dalam meminum khamr dalam batasan yang wajar akan mengurangi kemudaratannya dan akan menambah aspek manfaatnya, sementara berlebih-lebihan hingga ketagian akan membuat sisi kemudaratan khamr menjadi lebih besar dari pada manfaatnya.

Tetapi kahmr minimal lebih kecil bahayanya dari pada narkotika. Sudah menjadi aksioma paten bahwa Allah tidak menjadikan sesuatu yang berbahaya sebagai bahaya murni, atau menjadikan sesuatu yang berguna sebagai kemanfaatan murni, melainkan lebih tergantung pada factor dominan. Jika kepentingan sosoial mendominasi atau lebih besar, maka Allah sebagai legislator akan menuntut dan memerintahkannya. Sebaliknya, jika sisi kemudaratan sosialnya lebih mendominasi, maka Allah akan melarangnya.

  Ada catatan lain bahwa antara vonis halal dan haram terdapat hal - hal yang syubhat, diantaranya makruh. Yaitu sesuatu yang dilarang oleh Allah, tetapi tidak secara ekstrim. Sesuatu yang divonis makruh lebih kecil tingkatannya dari pada haram, dan pelaku sesuatu yang makruh tidak berdosa. Hanya saja, sikap berlebih – lebihan dan meremehkan dalam objek makruh ini akan berdampak buruk bagi pelakunya.

 Peringatan ini sesuai untuk khamr, dan juga pas untuk segala jenis makanan dan minuman. Makan hingga over dosis akan memperbesar efek samping (bahaya) satu makanan hingga lebih besar dari pada sisi manfaatnya, dimana kebiasaan ini akan mengakibatkan kegemukan, penimbunan kolestrol, tersumbatnya sebagian saraf, dan mengakibatkan sakit jantung. Allah melarang praktik over dosis ini dengan pola pelarangan yang lebih ekstrim dari diksi ijtinab dalam firman : orang – orang kafir itu bersenang senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang – binatang. (Qs. Muhammad [47] : 12).

  Selanjutnya, penulis bersuka cita untuk memaparkan pendapat beberapa ahli fiqh dalam kasus khamr. Mengutip Abdurrahman asy-syarqawi : pada suatu hari, Imam Ahmad bin Hanbal dilapori bahwa fulan bin fulan minum (khamr). Sang Imam pun mengatakan : “Dia tetap lebih alim di antara kamu, baik minum khamr atau tidak.” Selanjutnya Imam Hanbal menuturkan sekelompok ulama’ yang minum anggur seraya mengatakan : “itulah kelemahan mereka, tetapi hal tersebut tidak menghilangkan kebaikan mereka.”

  Syaikh Mahmud Syaltut, ulama’ besar Al – Azhar mengemukakan bahwa Allah tidak mengharamkan satu pun jenis tanaman dan ternak. Tetapi makanan dan minuman yang haram dimakan adalah sebagai berikut : bangkai, darah, daging babi, dan hewan sesaji (yang dipersembahkan kepada selain Allah). Allah -tutur Syaltut- membatasi jenis – jenis makanan dan minuman yang diharamkan hanya pada keempat jenis di atas. Kemudian Syaltut juga memaparkan keempat ayat yang telah penulis paparkan di muka. Lalu mangatakan, “ Dari sini jelas bahwa pembatasan makanan dan minuman yang diharamkan pada keempat jenis ini merupakan kandungan Al – Qur’an, tanpa menyebutkan di dalamnya khamr.

  Atas dasar ini, mayoritas ulama’ berpendapat bahwa makanan dan minuman yang diharamkan secara global hanya empat, dan sepuluh jika dirinci, yaitu dengan menambahkan jenis – jenis bangkai, sebagai berikut : bangkai yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, yang diterkam binatang buas,kecuali yang sempat kamu sembelih, dan yang disembelih untuk berhala.

  Pembatasan dan penentuan jenis makanan dan minuman yang haram secara rinci ini terdapat dalam Qs.al-Mai’dah ayat 3. Tanpa menyebutkan khamr di dalamnya. Sebab khamr hanya akan mengakibatkan bahaya yang lebih besar melebihi efek manfaatnya jika dikonsumsi secara berlebih-lebihan dan over dosis hingga mengakibatkan ketagihan.

Kenyataan ini juga bisa berlaku pada jenis makanan dan minuman lainnya. Oleh karena itu, sikap jalan tengah (I’tidal) dan aturan pengonsumsian khamr dengan sendirinya akan membuat manfaat khamr menjadi terdongkrak lebih besar mengalahkan ekses negatifnya atau minimal akan sama dan seimbang.

  Mengenai firman Allah dalam Qs.al-Mai’dah ayat 91, dapat penulis jelaskan bahwa permusuhan dan kebencian mengemuka ketika aksi minum khamr dibarengi dengan perjudian. Fenomena ini secara empiris dapat kita lihat, misalnya, dalam bar dan kasino, di mana setiap orang yang kalah judi akan dendam dan mengancam sang pemenang. Adapun jika acara minum khamr ini diadakan tanpa dibarengi perjudian, maka hal ini akan positif menciptakan iklim persaudaraan dan kasih sayang, serta membantu untuk berterus terang, dan menampakkan sisi humanisme dalam diri seseorang.

  Adapun masalah alasan, Dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat (Qs.al- Mai’dah [5] : 91) bahwa khamr dan perjudian berdampak negatif melalaikan kita untuk shalat dan mengingat Allah. Kita harus melihat alasan ini secara positif sebagai seruan untuk tidak berlebih – lebihan dalam meminum khamr pada waktu – waktu shalat dan zikir, yaitu shalat subuh dan isya’. Menurut penulis, jarang sekali orang yang minum khamr pada waktu subuh.

 Adapun masalah shalat isya’, kita bisa menyiasati yaitu jika orang ingin bergadang, ia harus menunaikan shalat wajib terlebih dahulu sebelum meminum khamr. Dalam surat an-Nisa’ ayat 43, janganlah kamu melakukan shalat, sementara kamu sedang dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, parameter diterimanya shalat peminum khamr adalah ia mengetahui dan sadar betul akan apa yang ia ucapkan.

 Sebenarnya, minum khamr tidak sampai mengakibatkan seseorang menjadi lunglai dan tidak sadar akan apa yang ia ucapkan, kecuali jika memang minumnya berlebihan hingga mabuk. Da-lam kondisi fly ( melayang – layang ) ini, peminum kehilangan kesadarn dan jatuh terpuruk, dan akan keluar ucapan – ucapan kotor tanpa sadar. Dalam kondisi ekstase inilah, shalat peminum menjadi batal, malah ia akan sulit untuk menjalankan shalat.

 Ada juga kebisaan beberapa sufi yang menenggak sedikit anggur sebelum melakukan zikir dan shalat, sebab hal ini menurut mereka akan mengakibatkan kekosongan pikiran dan lebih lanjut mendorong lebih khusyuk, sehingga tubuh mereka bisa lebih ringan dan konsentrasi untuk melaksanakan zikir dan do’a. Orang yang beriman dan percaya diri, model sufi ini akan dengan mudah mendisiplinkan dan menyeimbangkan diri dalam meminum khamr, jauh dari godaan setan yang merupakan faktor pendorong kejahatan pada diri manusia. Kenyataan ini menunjukkan bahwa khamr tidak akan menjadi rijsun min’amal asy-syaithan (tindakan keji dan perbuatan setan) sebagaimana makanan over dosis, jika kita bisa mengendalikan dan menyeimbangkan diri dalam mengonsumsinya.

  Seandainya Sang Legislator Agung (Allah) tidak mengatakan secara lugas dan tegas tentang kehalalan dan keharaman khamr, maka dari kenyataan ini kita dapat memahami hukum khamr dalam beberapa tingkatan gradual. Tingkatan terendah adalah sebagai al-lum ( dosa kecil atau mendekati dosa kecil yang tidak divonis hukuman oleh Allah – penerj.) atau saqathah meminjam istilah Imam Hanbali. Allah berfirman : Orang –orang yang menjauhi dosa besar dan perbuatan keji selain dari dosa kecil ( lumam ). Sesungguhnya Tuhanmu Maha luas ampunan-Nya. (Qs.an-Najm [53] : 32).

  Kemudian tingkatan selanjutnya yang lebih tegas - penulis tidak tahu apakah ini tepat- adalah mengategorikan khamr sebagai sayyi’at ( tercela ) atau dosa kecil yang akan dihapus dengan hanya menghindari dosa – dosa besar yang dilarang sebagaimana firman Allah : Jika kamu menjauhi dosa – dosa besar di antara dosa – dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan – kesalahnmu ( dosa – dosa kecil ) dan Kami masukkan kamu ke dalam tempat yang mulia. (Qs.an-Nisa’ [4] : 31), Sungguh akan Aku hapuskan kesalahan – kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai – sungai di bawahnya. (Qs.Ali Imran [3] : 195) dan sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan – perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang – orang yang ingat.(Qs.Hud [11] : 114).

Tingkatan pengategorian terakhir adalah sebagai maksiat. Tetapi dalam kondisi ini pun, kemaksiatan tidak mengganggu atau menghilangkan keimanan sebagaimana kaidah fiqh.

Dari segi historitas khamr, sejak munculnya peradaban dan ditemukannya khamr, manusia – atau ada beberapa orang jika tidak bisa dikatakan sebagian besar – terus meminum khamr baik dilarang secara resmi atau tidak. Fenomena ini terjadi juga pada masa Pemerintahan Islam.Kita bisa melihat kasus ketika Umar bin Khaththab mengundang makan Hafsh bin Al-Ash, dan Hafash berkata, “ Hidangan kamu kasar dan keras ”. Umar pun berseloroh,”Apakah saya tidak mampu menyuruh (menyembelih) seekor domba, lalu dikuliti bulunya. Kemudian mendatangkan gandum, lalu diayak dan dijadikan roti yang lembut. Juga zabib yang kemudian dicemplungkan ke dalam lemak, lalu dituangi air sehingga menjadi seperti darah rusa.” Hafash pun langsung menjawab, “Menurut saya kamu bukan orang yang suka akan kenikmatan hidup.” Umar menjawab, “ Memang, demi dzat yang jiwaku barada di tangan – Nya, jika saja kebaikanku tidak berkurang, niscaya saya akan terbawa menikmati kenikmatan hidup.”

Dialog ini mengindikasikan bahwa pada masa Umar, umat Islam meminum dan menikmati khamr, hanya saja Umar mencegah diri dan tidak mau larut di dalamnya karena kezuhudannya.

Dhafir al - Qasimi dalam bukunya Nizham al Hukm fi asy – Syari’ah wa at – Tarikh al – Islami melihat bahwa “ Orang di bawah sumpah di ibu kotalah yang bertugas memberikan laporan tentang kondisi imperium pada Khalifah. Sedangkan di daerah – daerah, sosok pejabat di bawah sumpah ini ditunjuk oleh Majelis Daerah untuk mengontrol dan mengendalikan harga – harga roti dan khamr, di samping mengontrol pembayaran gaji pegawai. Tugas ini lebih mirip dengan fungsi akuntan ( di era sekarang )”. Reportase al – Qasimi ini menunjukkan bahwa khamr merupakan komoditi yang diperjual belikan secara umum, sehingga pemerintah harus turun tangan untuk mengontrol harga – harga minuman khamr ini agar tidak memberatkan konsumen, sebagaimana roti dan komoditi pokok lainnya.

Pada dekade awal XX, Pemerintah AS mengeluarkan UU anti – miras, tetapi pemerintah tetap tidak mampu memaksa warganya, sehingga UU tersebut terpaksa diamandemen.

Islam tidak bisa begitu saja mengabaikan empirisme historis ini, tetapi seyogianya malah harus mengatur dan mengendalikannya sebisa mungkin. Sebab Islam tidak selalu datang dengan produk baru, melainkan juga mengatur aspek kehidupan manusia yang sudah eksis dalam masyarakat.

 Perlu diperhatikan juga bahwa Alqur’an sendiri menjadikan khamr sebagai salah satu sajian dan hidangan istimewa di surga, sementara makanan dan minuman haram lain, misalnya, daging babi tidak tercantumkan. Sungai – sungai dari khamr yang lezat bagi peminumnya. (Qs. Muhammad [47] : 15) dan Sesungguhnya orang – orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas ( berisi minuman ) yang campurannya adalah air kafur. (Qs. al – Insan [76] : 5 ).

 Ini mengindikasikan bahwa khamr pada prinsipnya merupakan barang halal. Allah berfiman : Katakanlah : Terangkanlah kepadaku tetang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan sebagiannya halal. Katakanlah : Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu ( tentang ini ) atau kamu mengadakan saja terhadap Allah. (Qs. Yunus [10] : 59 ). Untuk mengatakan ini makruh dan tidak apa – apa merupakan hal yang masih bisa dipahami. Tetapi untuk mengatakan “ ini halal atau ini halal “, merupakan satu hal yang besar. Nabi mengecam dan menentang kecenderungan sikap memfasih – fasihkan ucapan ( tanatthu’) dan ekstrimisme dangan berbagai senjata.

Kesimpulan. Prinsip umum dalam menikmati seluruh kenikmatan dunia seperti makanan, minuman, dan pakaian adalah tidak berlebih – lebihan dan over dalam mengonsumsinya, serta tidak pula bersifat over – emoh dalam menyikapinya.

TANGGAPAN
LUTHFI BASHORI

Ayat-ayat Alquran yang berkaitan dengan Hukum khamr :

QS Al Baqarah, 219.
Artinya: Mereka bertanya tentang khamr dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfa`at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa`atnya.

QS Al A`raaf, 33
Atrinya: Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar

QS An nisa`, 43
 Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan

QS Al Maa-idah, 90
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr (arak), berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbutan keji termasuk perbuatan syaitan, maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kalian mendapatkan keberuntungan)

QS Al Maa-idah, 91
Artinya: Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantaran (meminum) khamr (arak)dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan Shalat; Maka (tidakkah kalian atau) berhentilah kamu (dari mengerjakan itu.

Tatkala mendengarkan Ayat ini, berkata Sayyidina Umar, "Kami berhenti Wahai Tuhan Kami berhenti".

Riwayat kronologi pengharaman khamr :

Allah menurunkan ayat tentang khamr itu ada 4 ayat :

Pertama, turun di Makkah firman Allah yang artinya:
Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rizki yang baik.

Dulu di awwal tersebarnya agama Islam, minum khamr dari buah kurma dan anggur dihalalkan. Namun setelah Nabi SAW berhijrah, Maka sesuai dengan perkembangan keilmuan dan keimanan para sahabat, merekapun bertanya tentang kejelasan hukum minum khamr, maka turun ayat kedua yang artinya : Mereka bertanya kepadamu (hai Muhammad) tentang khamr dan judi. Dalam menyikapi ayat yang artinya: Katakan, bahwa pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, terjadi dua kelompok di antara para sahabat. Sebagian dari mereka meninggalkan khamr, sebagian lain masih meminumnya.

Hingga terjadi satu peristiwa bahwa Abdurrahman Bin Auf mengundang sebagian para sahabat untuk makan-makan dan minum khamr bersama.

 Kemudian datanglah waktu shalat maghrib, lantas mereka menunjuk salah seorang di antara mereka untuk menjadi imam shalat. Ternyata sang imam saat membaca surat Alkafirun terjadi kesalahan dikarenakan mabuk. Yaitu Katakanlah: Wahai orang-orang kafir, aku menyembah tuhan yang kamu sembah, dengan membuang huruf laa yang berarti tidak. Tentunya mempunyai arti yang sangat bertentangan dengan asli ayat yang artinya: Katakanlah: Hai orang-orang kafir, aku tidak menyembah tuhan yang kamu sembah . Lantas turun ayat ke tiga yang artinya: Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian mendekati (melaksanakan) shalat sedangkan kalian dalam keadaan mabuk.

Maka, Allah mengharamkan minum khamr/mabuk di waktu shalat, dan sebagian orang-orang Islam yang masih senang mabuk, mereka meminum khamr setelah shalat Isya`, sehingga pada saat pagi hari sudah hilang rasa mabuknya.

Kemudian terjadi satu peristiwa bahwasannya Utbah bin Malik mengundang sebagian orang Islam untuk makan-makan dan minum khamr bersama. Utbah juga membakar kepala onta untuk disuguhkan pada mereka, lantas teman-teman Utbah dari orang-orang Makkah berbangga-bangga karena mabuk dengan membaca syi`ir-syi`ir untuk keutamaan mereka, dan merendahkan orang-orang Anshar/Madinah. Adapun si pembaca syi`ir itu adalah Sa`ad bin Abi Waqqas, lantas salah seorang dari kaum Anshar marah dan mengambil daging onta itu serta melemparkannya ke kepala Sa`ad bin Abi Waqqas yang dalam keadaan mabuk hingga terluka.

Maka Sa`ad pun pergi kepada Rasulullah SAW dan mengadukan orang Anshar tersebut. Kemudian Allah menurunkan Ayat ke empat yang artinya:
Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantaran (meminum) khamr (arak) dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat, maka tidakkah kalian berhenti (atau berhentilah kamu dari mengerjakan itu. (QS Al Maa-idah 91).

Mendengar turun ayat pelarangan keras terhadap keharaman khamr dan judi, maka sayyidina Umar bin Khatthab mewakili para sahabat, dan bersumpah : Kami berhenti wahai Tuhan…kami berhenti !. Sejak itulah, maka kejelasan hukum haramnya khamr diberlakukan hingga hari kiamat .

Dalam gramatika Arab, bahwa kalimat yang berbentuk pertanyaan dengan tujuan teguran dan pelarangan , dinamakan istifhaam ingkaari seperti dalam lafadz Tidakkah kalian berhenti? mengandung arti lebih kuat pelarangan terhadap hal yang dimaksudkan, dari pada pelarangan dengan menggunakan bentuk biasa Maka tinggalkanlah ! .
Hadits-hadits yang berkaitan dengan hukum khamr

Dari Anas r.a beliau berkata yang artinya: Sungguh Allah telah menurunkan pengharaman khamr, dan tidak ada di kota Madinah minuman kecuali juz korma (HR. Muslim).

Dari Umar r.a beliau berkata: Telah turun pengharaman khamr yang terbuat dari lima hal: Anggur, korma, madu, gandum hinthah, dan gandum sya`iir sedangkan khamr itu adalah segala sesuatu yang merusak kesehatan akal. (HR. Bukhari -Muslim)

Dari Ibnu Umar r.a beliau berkata, bahwa Nabi SAW bersabda yang artinya: Setiap yang memabukkan adalah khamr dan setiap yang memabukkan adalah haram. (HR. Muslim)

Dari Jabir r.a beliau berkata, bahwa Nabi SAW bersabda yang artinya: Sesuatu yang memabukkan (jika di konsumsi dalam jumlah) banyak, maka (mengkonsumsinya) sedikit (juga dihukumi) haram.(HR.Ahmad, Abu Daud, Attirmidzi, Annasai, Ibnu Majah).

Dari Anas bin Malik r.a beliau berkata, bahwasannya di datangkan kepada Nabi SAW seorang peminum khamr, maka beliau mencambuknya dengan dua pelapah korma sebanyak empat puluh kali cambukan, demikian juga (di zaman) Abu Bakar, beliau melakukan hal yang sama, (pada zaman) Umar, beliau bermusyawarah dengan Umat Islam dan Abdurrahman bin Auf mengusulkan, bahwa sedikitnya pencambukan atas peminum khamr adalah delapan puluh kali cambukan, maka Umar pun melaksanakannya (HR. Bukhari-Muslim).

Dalam ajaran Islam, dikenal penggunaan dua sumber di dalam menentukan suatu hukum. Sumber pertama adalah Alquran, yaitu firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, lewat perantara malaikat Jibril. Adapun sumber yang kedua adalah Hadits, yaitu perkataan dan perbuatan Nabi SAW, serta ketetapan beliau terhadap suatu peristiwa yang terjadi pada masa hidup beliau SAW, dan tidak ada teguran dari Allah dengan turunnya ayat Alquran.

Salah satu fungsi dan tugas Hadits ini adalah sebagai penjelas dan penguat bagi ayat-ayat Alquran. Termasuk juga sebagai rujukan penentu hukum, apabila sesuatu itu tidak dijelaskan oleh Alquran secara eksplisit. Sebagai contoh adalah tata cara shalat secara lengkap sesuai dengan syarat dan rukunnya, maka tata cara shalat ini diperoleh umat dengan melalui Hadits Nabi. Kerena itu kelompok-kelompok yang tidak berdalil dan tidak menggunakan Hadits di dalam berargumentasi, bukanlah ummat Nabi Muhammad SAW.

Dari sini, umat Islam menjadi jelas dan tahu, akan pemikiran-perikiran sesat kelompok JIL, yang pada dasarnya mereka ini tidak banyak memahami gramatika bahasa Arab dengan benar. Andaikata ada di antara mereka yang ahli dalam segi bahasa, maka mereka inilah cerminan dari bermunculan Abulahab-Abulahab yang kini mulai banyak, sebagai pembangkang, pendusta, dan pengingkar ajaran Islam, serta penyesat bagi ummat.

Mereka ini, sejatinya adalah anggota Jaringan Iblis yang dengan pongahnya menentang perintah Allah untuk sujud/menghormat Nabi Adam as, karena mengandalkan logika akal, dan meninggalkan ketaatan dan keimanan. Engkau ciptakan aku dari api dan Engkau ciptakan dia (Adam) dari tanah liat", ujar Iblis. Karena logika sesat dari pemikirannya yang liberal inilah Iblispun menolak perintah Allah. Iblis juga telah bersumpah di hadapan Allah, untuk selalu menyesatkan anak cucu Nabi Adam as. Maka barang siapa yang mengikuti ajakan Iblis, mereka telah menjadi anggota Jaringan Iblis Liberal (JIL).

Waspadalah wahai umat Islam…!!


(pejuangislam)

 
 
Kembali Ke atas | Kembali Ke Index Karya Ilmiah
 
 
 
  Situs © 2009-2017 Oleh Pejuang Islam