URL: www.pejuangislam.com
Email: editor@pejuangislam.com
 
Halaman Depan >>
 
 
Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami
Ustadz H. Luthfi Bashori
 Lihat Biografi
 Profil Pejuang Kaya Ide
 Imam Abad 21
 Info Asshofwah
Karya Tulis Pejuang


 
Ribath Almurtadla
Al-islami
 Pengasuh Ribath
 Amunisi Dari Tumapel
 Aktifitas Pengasuh
 Perjuangan Pengasuh
 Kalender Ribath
Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
 Sekilas Profil
 Program Pendidikan
 Pelayanan Masyarakat
 Struktur Organisasi
 Pengasuh PIQ
 
Navigasi Web
Karya Tulis Santri
MP3 Ceramah
Bingkai Aktifitas
Galeri Sastra
Curhat Pengunjung
Media Global
Link Website
TV GARIS LURUS
Kontak Kami
 
 
 Arsip Teriakan Pejuang
 
KEBERUNTUNGAN BAGI ORANG YANG DIASINGKAN, KARENA BELA ISLAM 
  Penulis: Pejuang Islam  [8/6/2017]
   
MUSIBAH TERBESAR ADALAH MUSIBAH DALAM AGAMA 
  Penulis: Pejuang Islam  [6/6/2017]
   
70.000 ORANG MASUK SURGA TANPA HISAB ITU, YANG BERSIH DARI KEMUSYRIKAN 
  Penulis: Pejuang Islam  [5/6/2017]
   
MENJAGA KEBERSIHAN DAN KESUCIAN DIRI SECARA LAHIR DAN BATIN 
  Penulis: Pejuang Islam  [3/6/2017]
   
KEWAJIBAN BERUKHUWWAH ISLAMIYAH MELEBIHI SEGALANYA 
  Penulis: Pejuang Islam  [29/5/2017]
   
 
 Book Collection
 (Klik: Karya Tulis Pejuang)
Pengarang: H. Luthfi B dan Sy. Almaliki
Musuh Besar Umat Islam
Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat
Dialog Tokoh-tokoh Islam
Carut Marut Wajah Kota Santri
Tanggapan Ilmiah Liberalisme
Islam vs Syiah
Paham-paham Yang Harus Diluruskan
Doa Bersama, Bahayakah?
 
 WEB STATISTIK
 
Hari ini: Selasa, 27 Juni 2017
Pukul:  
Online Sekarang: 2 users
Total Hari Ini: 287 users
Total Pengunjung: 3488230 users
 
 
Untitled Document
 PEJUANG ISLAM - KARYA ILMIAH USTADZ LUTHFI BASHORI
 
 
Musuh Besar Umat Islam I (Kata Pengantar) 
Penulis: USTADZ LUTHFI BASHORI [ 7/10/2016 ]
 
Ustadz Luthfi Bashori

KATA PENGANTAR

Assalaamualaikum Wr. Wb

MEMBACA buku kecil ini sepertinya kita masuk dalam dunia NU yang baru, karena dunia NU yang selama ini kita kenal adalah wacana seperti yang disuarakan oleh banyak tokoh muda NU yang bermunculan melalui berbagai media masa sekuler.

Oleh tulisan banyak tokoh muda (sebagian juga  tua)  yang gencar disosialisasikan oleh media masa, maka wacana keislaman warga NU sepertinya sudah amat kental sekali dengan faham nasionalisme sempit, demokrasi, egalitarian, toleransi, pluralisme, dan bahkan terkesan anti syariat Islam yang terkait dengan praktek pemerintahan dan kenegaraan.

Tulisan penulis kali ini yang juga seorang tokoh muda NU yang berpendidikan Islam amat luas (termasuk pendidikan Mekah) ternyata memberi wacana amat jauh dari visi sekulernya kaum muda NU yang dipolulerkan oleh seminar dan media masa di atas.

Nuansa keislaman yang amat fundamental (sering diplesetkan oleh musuh Islam sebagai fundamentalis) amat kentara dan keutuhan prinsip Islam yang ingin ditegakkan atau diperjuangkan juga amat lugas diuraikan. Membaca buku ini kita menjadi amat salah kalau menganggap bahwa semua warga NU khususnya intelektual mudanya sudah berobah menjadi sekuler dan mengabdi pada ideologi Barat, meninggalkan idelogi Islam.

Salah satu pesan penting di dalam buku ini adalah bahwa ummat Islam Indonesia harus mewaspadai kelompok Islam sendiri yang membawa ajaran Islam ke arah hanya sekedar praktek ritual, memisahkan Islam dari praktek pemerintahan, menyamakan Islam dengan agama lain, sok pluralis, sok toleran, sok demokratis, sok nasionalis.

Kelompok tersebut sesungguhnya sudah menjadi instrumen musuh Islam yang ingin menghancurkan ummat Islam melalui penyimpangan berfikir Islami oleh ummat Islam. Musuh Islam dalam melawan Islam bukan hanya menyerang secara fisik seperti memerangi dengan bedil, meriam, dan bom yang merusak harta-benda dan menghilangkan banyak nyawa kaum muslimin seperti kasus-kasus nyata di dalam dan luar-negeri, tapi juga merekayasa untuk mendangkalkan pemikiran Islam oleh pemeluknya agar lemah semangat perjuangannya dan bertekuk lutut di bawah kekuasaan orang lain, melalui tangan dan lisan tokoh Islam sendiri yang tentunya sudah mau berkolaborasi dengan musuh Islam tersebut.

Untuk tambahan pertimbangan tentang wacana pemikiran Islam secara utuh (kaaffah) khususnya terkait dengan masalah politik dan pemerintahan serta bagaimana peranan Islam Liberal yang  amat dikritisi penulis buku ini, maka berikut ini saya berikan pemikiran saya yang terkait dengan masalah di atas, khususnya yang dikaitkan dengan fenomena yang terjadi di Indonesia.

Makna dan Tujuan Politik Islam
Banyak orang, bahkan tidak mustahil orang yang mengaku beragama Islam sendiri,  sering gelisah kalau mendengar politik Islam.

Mereka pada dasarnya jelas tidak memahami apa sesungguhnya tujuan politik Islam atau tujuan perjuangan sosial-politik Islam itu.

Ketidak fahaman tersebut yang membuat mereka menjadi khawatir atau sinis bahkan malah ketakutan bila mendengar ada kegiatan politik Islam tersebut, lebih lebih jika politik Islam lagi kalah dan direpresi oleh musuh Islam yang lagi berkuasa.

Tujuan politik Islam pada hakekatnya adalah menyelamatkan ummat  manusia yang berada dalam satu satuan kelompok sosial khususnya dalam bentuk bangsa-negara agar selamat dari kesesatan, kerugian, dan kerusakan.

Politik Islam dalam bentuk gerakan berarti melakukan upaya keras bersama untuk menyebar luaskan ajaran Islam dalam dimensi sosialnya agar dipraktekkan dalam kehidupan bernegara untuk kebaikan nasib bangsa dan negara itu sendiri.

Politik Islam yang pada hakekatnya adalah perjuangan penegakan syariat sosial Islam dalam lingkup bangsa-negara jelas untuk menyelamatkan bangsa-negara itu dari krisis-krisis sosialnya, dan agar bisa menjadi bangsa yang maju, bermoral, aman-sejahtera, mendatangkan kemanfaatan pada bangsa lain, bukan mengeksploitasi atau menjajah bangsa lain.

Individu muslim yang beriman-bertaqwa  secara benar tentu akan mengerjakan semua tuntunan Islam secara lengkap atau kaaffah yang meliputi: mengerjakan ibadah mahdhah, berakhlak mulia, menjalankan syariat sosial Islam, dan selalu berusaha keras menyebar luaskan ajaran Islam ke sekitarnya.

Bagi seorang muslim yang memiliki tauhid sosial atau muslim yang sadar tentang pentingnya  manfaat ajaran sosial-politik Islam dalam kehidupan bermasyarakat tentu akan bekerja sama saling mendukung sesamanya untuk memberlakukan syariat sosial Islam agar dipraktekkan dalam pengelolaan tatanan sosialnya agar tatanan sosial tersebut (bangsa-negara) menjadi tatanan sosial yang aman dan sejahtera.

Perjuangan sosial-politik ini menuntut adanya kelompok muslim solid dan teguh bercita-cita bersama untuk mempraktekkan tuntunan sosial Islam (syariat sosial Islam) dalam proses pengelolaan tatanan sosial di mana mereka berada dengan kesiapan menghadapi persaingan/tantangan sosial-politik dari pengikut ideologi lain, seperti pemeluk ajaran sekular, komunis, dan kapitalis.

Persaingan atau tantangan dari kelompok lain yang memiliki visi-misi sosial-politik berbeda inilah yang membuat politik Islam atau perjuangan Islam dalam tingkatan sosial kenegaraan menjadi amat rumit, dinamis, dan tidak pernah selesai.

Proses ini jelas berbeda sekali dengan upaya penerapan ajaran Islam dalam lingkup individu seperti ibadah mahdhah, pilihan makanan-minuman, dan cara berpakaian, yang secara praktis hanya bergantung pada kemauan keras orang per-orang.

Bahkan pengetrapan ajaran Islam dalam lingkup keluargapun hanya bergantung pada sedikit orang, khususnya suami, isteri dan anak-anak yang telah dewasa. Pesaing Islam dalam kancah sosial-politik ini akan berbuat apa-saja untuk memenangkan persaingannya, termasuk membeli orang Islam sendiri, kalau perlu membeli tokohnya, untuk menghancurkan semangat perjuangan sosial-politik Islam dari dalam.

Salah satu proses yang dijalankan mereka adalah membuat orang Islam merasa tidak perlu berislam secara sosial-politik, cukup hanya dengan beribadah mahdhah saja. Kampanye promosi Islam anti syariat sosial Islam inilah yang kini sedang gencar berjalan di Indonesia melalui propaganda oleh sebagian tokoh-tokoh Islam sendiri yang telah terbeli aqidahnya oleh musuh Islam. Proses ini dinamakan sekularisasi Islam dan kini berganti nama atau mengemas nama baru yakni liberalisasi Islam.

Substansi Syariat Sosial Islam
Apa kiranya substansi syariat sosial Islam yang diperjuangkan oleh gerakan syariat Islam menuju politik Islam itu dan ditolak oleh kaum liberal Islam? Tentu saja substansi tersebut cukup luas dan rinci namun secara garis besar di sini akan diringkas substansi dasarnya agar cepat difahami dan direnungkan oleh semua fihak apakah substansi tersebut sama atau berbeda dengan apa yang telah difikirkannya selama ini. Apakah substansi itu logis atau tidak. Apakah substansi itu akan menjamin bisa membawa kesejahteraan bangsa atau tidak.

Berikut ini substansi dasar Syariat Sosial Islam yang secara faktual masih berada di luar praktek kehidupan sosial bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah muslim :

1.    Kepemimpinan Sosial : Pemimpin formal dalam skala nasional dan regional seharusnya adalah muslim taat Syariat dan berorientasi pada pemberlakuan syariat sosial Islam di wilayahnya. Pemimpin seperti ini tentu tidak akan merusak, eksploitatif, dan melakukan KKN karena dia takut adzab Allah yang akan menimpanya di dunia dan akherat.

2.    Hukum yang diberlakukan seharusnya meliputi: Hudud, Qishas, dan Tazir yang dipandu oleh al Quran dan Sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam yang akan membawa rasa aman dan keharmonisan sosial.

3.    Sistem Ekonomi Nasional yang berjalan seharusnya ekonomi anti-riba dan anti-bisnis barang haram maksiat. Tatanan ekonomi seperti ini akan menghalangi eksploitasi terhadap rakyat yang lemah dan akan membawa kepada kesejahteraan yang adil merata.

4.    Budaya yang berkembang di masyarakat perlu dikendalikan agar terarah pada Anti-Perzinahan termasuk praktek mendekati zina seperti pornografi dan pameran aurat, Anti-Mabuk dalam bentuk pemberantasan minuman keras, narkoba, dan Anti Perjudian. Budaya seperti itu pasti akan membawa kehormatan dan keluhuran sosial dalam masyarakat seheterogen apapun.

Keempat bentuk Syariat Sosial Islam di atas sampai sekarang masih terabaikan di Indonesia sehingga perlu secara bersama-sama segera didukung untuk diberlakukan oleh seluruh kekuatan sosial politik ummat Islam di negeri ini demi keberhasilan pembangunan ummat dan bangsa.

Partai Politik berasas Islam seperti PPP, PBB, PKS, PNU dan ormas Islam seperti NU, Muhammadiah, Persis, Dewan Dakwah Islam Indonesia, Al Irsyad, Majelis Mujahidin, Front Pembela Islam, Laskar Jihad, dan bahkan orang perorang pribadi muslim yang sadar akan panggilan Islam perlu secara tegas  bergerak serentak dan konsisten mempromosikan dan mendukung berlakunya syariat sosial Islam tersebut di negerinya agar negeri ini tidak dikendalikan oleh sistem sosial yang bersumber pada ajaran non Islam sehingga mendatangkan murka Allah I, apalagi mayoritas (sekitar 90%nya) penduduk negeri ini adalah muslim.

Allah akan mengabaikan nasib bangsa dan negara ini bila syariat-Nya tidak diberlakukan dalam penge-lolaan bangsa dan negara. Krisis sosial dan keterpurukan akan semakin berat bila pengelolaan negeri ini meninggalkan syariat sosial Islam dan menggantinya dengan sistem sekular.

Perjalanan sejarah bangsa Indonesia jelas telah menunjukkan kegagalan serius dalam upaya pembangunan bangsa dan negara karena mengetrapkan metoda sekular dalam penge-lolaan negeri ini. Alternatif pengetrapan syariat sosial Islam dalam proses pengelolaan negara jelas merupakan harapan satu-satunya untuk mengangkat harkat bangsa dan ke luar dari krisis nasional, apalagi mayoritas bangsa Indonesia adalah muslim.

Politik Islam seperti inilah yang sedang diperjuangkan oleh aktifis Islam Indonesia dan sedang diusahakan untuk diencerkan atau dilemahkan oleh musuh Islam melalui kampanye Islam liberal melalui tokoh-tokoh Islam sendiri yang telah terpengaruh.

Proposisi Islam Liberal di Indonesia
Sebagaimana jargon-jargon politik lain yang bernuansa menyudutkan Islam seperti fundamentalis, sektarian, primordialis, radikal, skriptualis, dan semacamnya, maka Islam Liberal juga datang dari non-Islam, khususnya dunia Kristen Barat.

 Islam Liberal dikenalkan oleh pakar sosiologi mereka dari Universitas Northern Carolina, Charles Kurzmen dalam bukunya : Liberal Islam: A Source Book. Karena ide ini nampaknya dinilai efektif menggoyahkan aqidah baku Islam maka lalu dikembangkan dan disebarkan secara internasional, khususnya di negara-negara muslim, termasuk di Indonesia.

 Berkembanglah di sini kelompok studi Islam Liberal, dikenal sebagai Jaringan Islam Liberal (JIL) dan Komunitas Islam Utan Kayu (KIUK) Jakarta.

Dengan dana yang cukup banyak maka naiklah propaganda itu ke tengah masyarakat melalui media masa yang misinya sejalan dengan mereka, yakni Radio FM 68H dan koran nasional beroplah besar Jawa Pos yang antusias memuatnya di setiap hari minggu sehalaman penuh.

Jawa Pos adalah contoh media masa yang ternyata memiliki latar belakang ideologi karena dengan memuat promosi Islam Liberal seperti itu jelas motifnya adalah kesamaan ideologis bukan motivasi keuntungan eko-nomi penerbitan yang sama sekali tidak tampak rasionalnya.

Opini yang dipromosikan  Islam Liberal melibatkan tokoh-tokoh Islam sekular yang telah lama dikenal di Indonesia, seperti Nurcholis Majid, Abdul Munir Mulkhan, Masdar F. Masudi, Azyumardi Azra, Ulil Absar Abdallah, dll yang umumnya dari sentra pendidikan Islam seperti IAIN. Nampaknya sentra pendidikan Islam memang menjadi target operasi (TO) Barat untuk mengencerkan aqidah Islam di negeri ini yang jumlah ummat Islamnya amatlah besar.

Sebagian target Barat memang nampaknya membawa hasil. Dari fenomena ini maka jelas sentra pendidikan Islam perlu waspada dan berbenah diri agar tidak menjadi korban rekayasa musuh Islam dalam upaya mereka untuk pendang-kalan pemikiran Islam bagi ummat Islam di negeri ini.

Sebaliknya sentra pendidikan Islam diharapkan bisa melahirkan kader pemikir Islam yang komprehensif dan kaffah untuk memberi panduan dan bimbingan bagi ummat Islam di negerinya yang masih haus akan ajaran Islam yang benar, dalam skala kehidupan pribadi, berkeluarga, dan berbangsa-bernegara.

Proposisi Islam Liberal di Indonesia dengan mudah dapat dicermati dari media masa di atas untuk dianalisis oleh ummat Islam apakah opini itu masih dalam koridor Islam atau tidak dengan acuan al Quran dan Sunnah Nabi. Secara umum visi Islam yang disosialisasikan oleh Islam Liberal sama dengan Islam sekular, yakni membuang ajaran sosial-politik Islam dan menyisakan Islam sebatas ibadah ritual dan sekelumit akhlak.

Penolakan sebagian ajaran Islam yang tegas-tegas ada dalam al Quran dan dicontohkan Nabi dalam pelaksanaannya tergolong orang tersesat dan diancam nasib terhinakan di dunia dan disiapkan neraka jahanam di akherat dengan siksa yang pedih. Kalau yang ditolak itu adalah hukum Islam maka kategori yang disebut dalam al Quran adalah: kafir, dholim, dan fasik.

Beberapa ide Islam Liberal bisa diringkas sbb.:

1.    Siapapun boleh memeluk agama apapun atau bahkan berhak untuk tidak beragama. Mereka boleh berganti agama setiap saat, termasuk untuk menjadi orang murtad sekalipun.

2.    Bebas menghujat keotentikan al Quran dan menjelek-jelekannya sehingga meragukan isi al Quran.

3.    Memberi cap buruk pada orang Islam yang berpegang teguh kepada ajaran Islam secara kaaffah atau menyeluruh, seperti cap fundamental, sektarian, tradisional, radikal, primordial, dll.

4.    Bebas menginterpretasikan ayat sesuai dengan nalar mereka sendiri tanpa ilmu alat yang cukup dan membuang ijma ulama salaf.

5.    Mempromosikan agenda ideologi Barat, seperti demokrasi, emansipasi, HAM, akhlak permisif termasuk pornografi dan perzinahan atas-nama seni dan saling suka.

Pada dasarnya Islam Liberal mengusung politik Barat ke negeri muslim, yakni memisahkan agama dari pengelolaan negara.

Agama adalah urusan pribadi dan hanya menyangkut ritual dan sekedar akhlak, tidak terkait dengan pengelolaan sosial kemasyarakatan, tidak menyangkut pemerintahan.

Mereka lupa bahwa negara dan pemerintahan itu seharusnya mengurus rakyat sehingga rakyatnya hidup secara bermoral, harmonis, berprospek baik di akheratnya, bukan sekedar memberi keamanan (sering dengan cara represif) dan kecukupan ekonomi (sering dengan menindas orang lain melalui rekayasa jahat).

Rasulullah memberi contoh jelas bagaimana Islam itu harus dipraktekkan, bukan sekedar ibadah ritual dan pilihan makan-minum, tapi juga bagaimana sebuah keluarga harus dikelola, dan bagaimana sebuah negara harus diatur melalui hukum yang benar untuk ditegakkan, kepemimpinan yang berkualitas baik, tatanan ekonomi tidak eksploitatif karena mempraktekkan riba dan bisnis maksiyat.

 Laki dan perempuan menempati tempat yang proporsional sesuai sunnatullah dalam kehidupan sosial sehingga hubungan menjadi harmonis, terhindar dari peleceh-an dan eksploitasi perempuan oleh nafsu binatang lelaki (bukankah pamer payudara dan lekuk tubuh perempuan melalui berbagai kontes kecantikan dengan hadiah materi sekedarnya adalah bentuk lain dari eksploitasi perempuan).

Isi al Quran dan percontohan Nabinya orang Islam berbeda dengan isi dan percontohan ajaran agama lain, di mana Islam mengajarkan bukan sekedar ritual dan sekelumit akhlak tapi bagaimana mengatur masyarakat-bangsa-negara. Barat yang memiliki ide mengatur bangsa-negara melalui cara demokrasi, perekonomian yang kapitalistik, dan budaya yang permisif jelas amat berbeda bertolak belakang dengan ide Islam mengatur bangsa-negara.

Dalam upaya menyingkirkan alternatif Islam dalam mengelola bangsa-negara itulah mereka membangun maha-rekayasa untuk membuang ajaran sosial-politik Islam sehingga Islam tinggal ritual-individual saja sedang mengelola bangsa-negara lalu akan mengekor pada cara mereka yang ternyata juga amat tidak berhasil membawa kesejahteraan merata, keadilan, kemanusiaan yang beradab, dan keharmonisan hidup sesama warga negara. Pengusung Islam Liberal di negeri ini seharusnya sadar akan maksud Barat tersebut. Semoga Allah I menunjuki mereka agar tidak terus tersesat.

Demikianlah kata pengantar saya semoga para pembaca bisa lebih tertantang untuk mengkritisi berbagai wacana ke Islaman yang gencar dimuat di berbagai media masa yang esensi dasarnya adalah membelokkan pemikiran Islam dari Islam yang benar sesuai dengan al Quran dan Sunnah Nabi menjadi pemikiran Islam sekedar ritual belaka.

Saya berterima kasih pada penerbit yang memberi saya kesempatan memberikan kata pengantar untuk pemikiran lain seorang tokoh muda NU,  yang jelas amat berbeda dengan apa yang selama ini saya tangkap dari pemikiran kalangan intelektual muda NU  di media masa `

Wassalaam,
Surabaya, akhir Agustus 2002
Dr. Fuad Amsyari

KATA PENGANTAR

Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya
tentang kehidupan dunia menarik hatimu,
dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran)
isi hatinya, padahal ia adalah penantang paling keras.
Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan
di muka bumi untuk mengadakan kerusakan padanya,
dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak,
dan Allah tidak menyukai kebinasaan.
(Qs. Al Baqarah, 204-205)

DEWASA ini ummat Islam di Indonesia tengah dilanda invasi (serangan) pemikiran yang amat dah-syat, bukan saja karena adanya serangan yang bersifat intelektual, tapi juga  serbuan militer, setelah gendrang perang melawan terorisme ditabuh pemerintah Amerika Serikat.

Fitnah politik dan terorisme militer yang dilancarkan Amerika telah menelan banyak korban di kalangan ummat Islam. Benarlah pernyataan al-Quran, bahwa alfitnatu asyaddu minal qatli ( fitnah itu lebih besar bahayanya daripada pembunuhan, Qs. 2:191 ).

Selain isu terorisme, sejumlah fitnah politik dihem-buskan AS antara lain: Rencana pembunuhan Presiden Megawati Soekarnoputri, adanya jaringan teroris al-Qaidah, dan ancaman keamanan bagi warganegara asing di Jogjakarta, yang kesemuanya itu ditimpakan kepada gerakan Islam.

Pasca pemboman WTC, 11 September 2001, peta politik internasional agaknya terbelah menjadi dua bagian: Amerika beserta pendukungnya memerangi terorisme di satu sisi, dan kekuatan Islam yang tidak bersepakat dengan provokasi Amerika di sisi yang lain. Sekalipun belum menemukan bukti yang pasti, siapa pelaku pemboman gedung WTC, tapi Presiden George W  Bush telah menentukan tersangka utama-nya, yaitu Usamah bin Ladin beserta seluruh jaringan al-Qaidah, dan kelompok fundamentalisme Islam.

Siapakah yang termasuk kategori kelompok fundamentalis muslim? Menurut Richard Nixon, mantan presiden AS dalam,Seize The Moment, gerakan Islam yang diberi label fundamentalis versi Amerika mempunyai ciri-ciri antara lain:

Pertama, tidak bersahabat dengan Barat.

Kedua, bercita-cita membangun peradaban Islam.

Ketiga, bertujuan untuk menegakkan Syariah Islam.

Keempat, memiliki doktrin Islam adalah agama dan negara. Kelima, menjadikan sejarah masa lalu sebagai penuntun masa depan.

Gerakan Islam yang memiliki ciri-ciri demikian termasuk jaringan terorisme internasional versi Amerika, maka harus diperangi dan dibasmi. Itulah pesan permusuhan yang disampaikan rezim AS ke seluruh dunia.

Api kemarahan, badai kebencian, dan rasa takutnya terhadap Islam, bercampur baur menjadi satu, yang kemudian mendorong AS bukan saja bertindak sebagai polisi dunia tapi mirip dengan tukang jagal yang akan menyembelih Negara kecil, atas tuduhan yang belum terbukti kebenarannya.

Karena itu, mengawali abad 21 ini, Amerika merupakan negara penyumbang kekacauan terbesar di seluruh dunia. Aksi membumi hanguskan Afghanistan, menyerang Negara Irak dan mendukung Israel membantai warga Palestina, hanyalah sekedar contoh. Dengan sosok seperti itu, AS telah mem-posisikan dirinya sebagai ancaman berbahaya bagi perdamaian dunia, dengan melakukan terorisme politik secara terus menerus.

Selain menggunakan kekuatan militer, AS juga memperalat demokrasi dan HAM untuk mempertahankan dan melakukan penetrasi imprialisme, suatu sistem politik yang bertujuan untuk menjajah Negara lain guna mendapatkan kekuasaan dan keuntungan duniawi yang lebih besar.

Ketika menyambut satu tahun serangan ke Pentagon dan gedung WTC, dengan semena-mena AS mengumumkan daftar nama-nama teroris internasional yang dijadikan target operasi balas dendam.

Sebelumnya sudah dikeluarkan daftar negara yang dikategorikan sebagai poros kejahatan al : Iran, Irak, Libya, Sudan dan beberapa negara lainnya. Sebagai persiapan melancarkan agresi militernya ke Irak, Amerika bahkan telah memindahkan pusat komando perangnya ke Qatar.

Alasannya, karena Irak telah mengabaikan resolusi DK PBB berkenaan dengan larangan memproduksi senjata pemusnah masal, padahal puluhan negara di dunia ini telah mengembangkan senjata kimia, biologi bahkan nuklir, termasuk AS dan Israel. Selain tuduhan di atas, rezim Saddam Husein diduga menyembunyikan Usamah bin Ladin di negeri 1001 malam itu.

Tetapi alasan sebenarnya, menurut PM Iraq Tariq Aziz, Amerika dan Inggris ingin menguasai minyak Irak dan melakukan pemetaan baru di negeri tersebut dengan cara menumbangkan rezim Saddam Husein untuk kemudian menggantinya dengan rezim boneka Amerika.

Penutupan Kedubes AS secara over acting di Jakarta dan beberapa tempat di Asia, jelas merupakan bagian dari teror politik untuk merusak citra Indonesia. AS ingin menunjukkan kepada dunia internasional bahwa,sel al-Qaidah ada di Indonesia, dan karena itu kedubes AS di Jakarta dan Konjen di Surabaya berada dalam resiko serangan teroris, seperti dijelaskan Ralp L. Boyce, Dubes AS di Jakarta.

Ambisi AS untuk membasmi terorisme, telah memperlihatkan watak aslinya sebagai negara imprialis melalui pertunjukan demokrasi anti kemanusiaan. Mereka membantai manusia, dan juga memfitnah banyak orang.

Mereka melakukan serangan pemikiran yang dahsyat, dengan mengarahkan tuduhan dan tudingannya kepada ummat Islam. Mereka hendak merusak citra Islam dan menyimpangkan ajarannya, guna menyesatkan serta menakut-nakuti kaum muslimin.

Tuduhan sebagai anggota teroris terhadap tokoh-tokoh Islam yang berjuang untuk tegaknya syariah Islam, jelas dimaksudkan untuk membendung perjuangan membangun supremasi Islam. Setiap kekuatan yang melawan kepentingan global AS diberi label teroris, dengan cara ini AS merasa memiliki legitimasi untuk memerangi mereka sekalipun dengan membantai ribuan nyawa manusia. Hal itu dianggap absah dan legal.

Kepatuhan kepada Islam dianggap sebagai ancaman terpenting bagi dominasi imprialisme. Itulah sebabnya makar penghancuran terhadap gagasan Kembali kepada Islam dilakukan dengan menggunakan senjata dan uang.

Di setiap penjuru dunia Islam mereka sibuk menjauhkan kaum muslimin dari Islam melalui propaganda jahat mereka. Mereka menampilkan Islam dalam bentuknya yang kerdil dan menakutkan, dengan menciptakan pemikiran-pemikiran palsu atas ide-ide Islam. Sehingga antara Islam yang sebenarnya dengan apa yang mereka persepsikan sebagai Islam sangatlah jauh perbedaannya.

Mereka mengatakan, Islam agama reaksioner yang menentang gagasan pembaruan untuk membangun peradaban dunia sesuai zaman modern. Atau, Islam agama individu tidak berkaitan dengan urusan politik dan pemerintahan. Versi Islam yang menyimpang ini mereka populerkan untuk menutupi ajaran Islam yang asli.

Tujuan mereka jelas, untuk mencegah usaha kaum muslimin  membangun diri mereka dengan menciptakan pemerintahan yang menjamin kebahagiaan dan memberikan kehidupan yang layak bagi mereka sebagai manusia.

Salah faham terhadap Islam yang dipropagandakan secara keji ini, sayangnya justru memberi pengaruh dan berhasil memprovokasi tokoh-tokoh masyarakat dari kalangan kaum muslimin.

Dengan menawarkan limpahan bantuan finansial, Amerika menjaring partisipasi tokoh tertentu yang terbuai dengan kekuatan Barat. Sebagian kaum terpelajar atau elite pimpinan ormas Islam menelan propaganda ini tanpa sikap kritis, bahkan kemudian ada di antara mereka yang bersedia menjadi antek-antek Amerika dan menjadi agen imprialisme.
 
Apa yang terjadi kemudian? Peran yang seharusnya dimainkan oleh orang-orang kafir, kini malah digantikan oleh agen-agen mereka dari kalangan muslim yang, dalam terminologi barat disebut proxy force (agen perantara). Sudah barang tentu kaum kuffar ahlul kitab merasa terwakili dengan tampilnya para agen perantara ini, sehingga tidak perlu terlalu banyak menguras tenaga dalam mempublikasikan propaganda keji mereka, cukup dengan mensuply dana beserta gagasan-gagasan kekafiran, untuk selanjutnya dikemas dan dikembangkan oleh agen mereka di dalam negeri. Tayangan Islam Warna-warni di RCTI dan SCTV beberapa waktu lalu dan iklan kondom di TPI dan Lativi, sekedar menyebut contoh, keduanya telah dihentikan penayangannya setelah disomasi Majelis Mujahidin, ternyata dibiayai oleh yayasan luar negeri semisal Asia Foundation, Ford Foundation yang merupakan yayasan sosial yang dibiayai Yahudi.

Mewaspadai Jaringan Proxy Force Dalam Negeri
Fenomena proxy force sudah sampai pada momentum mengkhawatirkan, terutama dalam strategi melemahkan perjuangan menegakkan syariah Islam. Pencabutan tujuh kata Piagam Jakarta yang kontroversial itu misalnya, masih tercatat dalam memori sejarah bangsa Indonesia.

Bukankah, menurut catatan sejarah, penghapusan tujuh kata ,dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya, itu dilakukan berdasarkan tuntutan seorang opsir Jepang bernama Maeda, konon mewakili aspirasi kalangan non muslim di Indonesia bagian Timur, akhirnya dihapus setelah mendapat referensi dari Moh. Hatta melalui sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Ironisnya, setelah 57 Indonesia merdeka, peran yang pernah dimainkan oleh seorang opsir Jepang, kini justru digantikan oleh sejumlah tokoh Islam yang menolak dimasukkannya kembali rumusan Piagam Jakarta itu ke dalam Undang-undang Dasar.

Di negeri yang tingkat korupsinya kian menggurita, martabatnya sebagai bangsa kian terkoyak, sementara kepedulian sosialnya semakin parah, harga nyawa manusia menurun drastis, setidaknya terdapat 3 elemen masyarakat yang secara terus terang maupun malu-malu bertindak sebagai proxy force imprialis Amerika (Yahudi dan Nasrani).

Pertama, mereka yang menolak formalisasi Syariah Islam ke dalam konstitusi negara dengan alasan, bahwa formalisasi Syariah dapat mengancam keutuhan berbangsa dan bernegara. Undang-undang Negara adalah payung bersama seluruh warganegara.

Jika syariat Islam dimasukkan ke dalam UU, lalu bagaimana dengan ummat non muslim?
Ucapan ini ke luar dari mulut seorang pimpinan ormas Islam. Mereka ikut merongrong Islam dengan mengatakan, Islam jangan dikait-kaitkan dengan masalah politik dan pemerintahan. Ketika tuntutan pelaksanaan syariah Islam semakin santer, mereka menuduh hal itu sebagai sikap memaksakan kehendak, berfikir kacau dan sebagainya.

Bahkan hukum pidana Islam dikatakan primitive. Pandangan ini membuktikan satu hal, bahwa mereka gagal memahami Islam dalam bentuknya yang murni dan kaffah. Komunitas seperti ini berasal dari tokoh-tokoh Islam yang menjalin persahabatan dengan Amerika. Kedua, berbagai kelompok kajian Islam yang memiliki prinsip dasar pemahaman Islam seperti: pentingnya kontekstualisasi ijtihad, komitmen terhadap rasionalitas dan pembaruan, penerimaan terhadap pluralisme sosial dan pluralisme agama-agama, dan pemisahan agama dari partai politik dan adanya posisi non sektarian negara. (Greg Barton Gagasan Islam Liberal di Indonesia, Pustaka Antara, Paramadina, 1999: xxi).

Agen utama dari komunitas ini di Indonesia adalah Jaringan Islam Liberal Utan Kayu Jakarta. Pemahaman Islam berdasarkan prinsip-prinsip di atas mempunyai target-target tertentu sebagaimana di publikasikan oleh JIL (Jaringan Islam Liberal), bahwa missi Islam liberal adalah untuk menghadapi lajunya perkembangan pemikiran Islam fundamentalis dan sejenisnya.

JIL lebih memilih bersahabat dengan Yahudi dan Nasrani daripada saudara muslimnya, dengan harapan memperoleh keuntungan material. Segala upaya menentang pemikiran fundamentalis dibiayai yayasan asing, seperti telah disebutkan di atas tadi. Karena itu missi utama dari JIL dijelaskan melalui publikasi mereka antara lain, mengadakan reaktualisasi ajaran Islam yang disesuaikan dengan lingkungan sosial masyarakat, kemudian menawarkan berbagai alternatif pemikiran untuk menyelesaikan problema sosial masyarakat yang terlepas dari syariah Islam.

Tetapi yang terpenting dari semua itu, adalah untuk merusak pola berfikir masyarakat, khususnya kalangan generasi muda Islam melalui pola-pola pemikiran sinkritisme, sekularisme, materialisme, permissivisme, demokrasi dll. Dalam menilai pemikiran apa yang mereka sebut fundamentalis Islam, mereka menggunakan komentar serta analisis musuh-musuh Islam.

Sikap kritis mereka terhadap ajaran Islam, bukan untuk mencari kebenaran, melainkan supaya ajaran al-Quran tidak dilaksanakan. Seperti penolakan mereka terhadap poligami yang dinilai melanggar keadilan perempuan, qishas, rajam bagi penzina, potong tangan atas dosa pencuri yang sering menjadi sasaran kecaman. Adalah aneh, mereka menerima syariah Islam dalam urusan nikah, talak dan rujuk. Mengapa mereka menolak syariah Islam untuk menghukum para penzina, pembunuh ataupun pemabuk?

 Isu-isu global dan aktual yang diusung zionis internasional, yang didukung oleh kaum sekularis dan zionis lokal mendapat tempat strategis di dunia Islam seiring dengan arus globalisasi dan penguasaan teknologi informasi di satu sisi, serta kelemahan ummat Islam di sisi yang lain.

Meminjam agenda rumusan Charles Kurzman yang bukunya Liberal Islam: A Source Book, menjadi  kitab sucinya  JIL, ada enam issu yang sering mereka munculkan dalam ghazwul fikri (perang pemikiran) melawan ummat Islam, antara lain: Anti teokrasi, demokratisasi, kesetaraan gender, HAM, pluralisme, dan kebebasan berfikir serta gagasan tentang kemajuan. ( Wacana Islam liberal: Pemikiran Islam Kontemporer Tentang Isu-isu Global, Paramadina Jakarta).

Politik stick and carrot laris-manis sebagai modal barter kekejaman oleh AS dan sekutunya. Filipina, Malaysia dan Singapura telah mendapatkan wartel (carrot) atas kerjasamanya menangkap aktivis muslim di negeri tersebut dan menjerat mereka dengan UU keamanan dalam negeri (ISA).

Pemerintah Indonesia mendapatkan $ US 450 juta atas keberhasilan BIN menjual informasi sehingga berhasil menangkap Agus Dwikarna, Tamsil Linrung, Jamal Balfas dan Al-Ghazy di Filipina, Umar Farouk  di Bogor, 6 Juni 2002, yang kemudian dikirim ke penjara Guantanamo, Kuba. Inilah komunitas ketiga yang diperankan oleh penguasa melalui kerjasama militer menumpas terorisme dan mengisolasi gerakan Islam. 

Partisipasi tokoh-tokoh Islam dalam menolak formalisasi Syariah Islam telah membawa dampak buruk bagi upaya penegakan syariah Islam. Mereka tidak saja memposisikan syariah Islam sebagai ancaman bagi ummat lain, tetapi juga   meletakkannya pada posisi terdakwa, bahkan biang keladi kemunduran dan menajamnya konflik antar warga. Hal ini, disadari atau tidak, ikut mensukseskan skenario global yang disusun orang-orang kafir dengan mengatasnamakan demokrasi, hak asasi dan toleransi.

Penolakan terhadap berlakunya syariah Islam berdampak multikompleks, terutama bagi perbaikan Indonesia ke depan. Kerusakan moral kian sulit dihentikan, kebejatan merajalela, korupsi kian menggurita, bencana kemanusiaan datang silih berganti. Dan yang terpenting dari semua itu, orang-orang kafir semakin berani melecehkan ajaran Islam dan meminggirkannya dari area politik dan pemerintahan. Akan tetapi yang paling tragis dan patut disesalkan: Sekiranya Islam dimusuhi dan dicaci, mengapa harus tokoh-tokoh Islam sendiri yang melakukannya ?

Buku yang sekarang berada di tangan pembaca ini setidaknya membantu menemukan jawabannya. Terdapat fakta tentang gerakan deIslamisasi (pendangkalan aqidah Islam) yang dilakukan aktivis beragama Islam, dibentangkan secara lugas dalam buku ini. Demikian pula, langkah serta upaya mengantisipasi makar musuh-musuh Islam disajikan berdasarkan dalil-dalil yang jelas dan tegas, sehingga tidak mungkin mengundang keraguan atau membuat pembaca kebingungan.

Hal lain yang dirasakan sebagai sesuatu yang baru dari buku ini, adalah kejelian penulisnya dalam membandingkan antara pemikiran Islam dari para pendiri Nahdhatul Ulama dan generasi Nahdhiyyin yang datang kemudian melalui taushiyah KH. Hasyim Asyari. Mungkin saja penulisnya tidak sengaja melakukan hal ini, tetapi sangat jelas bisa ditangkap, bahwa dalam pemahaman dan pengamalan Islam ada benang merah yang terputus di antar generasi itu. Kutipan pidato KH. Hasyim Asyari yang diletakkan pada bab Taushiyah dalam buku ini, diambil dari Muqaddimah Qanun Asasi NU, jelas menunjukkan keterputusan itu. Apa yang terjadi sesungguhnya? Pertanyaan ini juga menjadi pembahasan dalam buku ini. Penulisnya bisa dengan lugas dan cerdas menerangkan berbagai musykilat politik yang menimpa generasi muda NU maupun aktor politiknya, bahkan pemahaman keagamaan yang menyimpang, karena dia memang bagian dari komunitas keluarga besar organisasi ini.

Kata pengantar yang ditulis Dr. Fuad Amsyari cukup representatif, sehingga memperjelas orientasi dan memperkaya isi buku ini, khususnya mengenai wacana Islib (Islam Liberal). Nampak jelas, terorisme yang dipropagandakan Amerika dan sekutunya, bukan saja dalam bentuk politik dan militer. Tetapi yang paling efektif dan berbahaya adalah terorisme budaya dan pemikiran, yang melahirkan kekafiran berfikir, berprilaku dan merajalelanya dekadensi moral.

Wallahu alam bis shawab. Selamat membaca !

Jogjakarta,  Syaban 1423 H
Oktober 2002 M


Irfan S. Awwas
 
 
Kembali Ke atas | Kembali Ke Index Karya Ilmiah
 
 
 
  Situs © 2009-2017 Oleh Pejuang Islam