URL: www.pejuangislam.com
Email: editor@pejuangislam.com
 
Halaman Depan >>
 
 
Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami
Ustadz H. Luthfi Bashori
 Lihat Biografi
 Profil Pejuang Kaya Ide
 Imam Abad 21
 Info Asshofwah
Karya Tulis Pejuang


 
Ribath Almurtadla
Al-islami
 Pengasuh Ribath
 Amunisi Dari Tumapel
 Aktifitas Pengasuh
 Perjuangan Pengasuh
 Kalender Ribath
Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
 Sekilas Profil
 Program Pendidikan
 Pelayanan Masyarakat
 Struktur Organisasi
 Pengasuh PIQ
 
Navigasi Web
Karya Tulis Santri
MP3 Ceramah
Bingkai Aktifitas
Galeri Sastra
Curhat Pengunjung
Media Global
Link Website
TV ONLINE
Kontak Kami
 
 
 Arsip Teriakan Pejuang
 
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [5/9/2019]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [5/9/2019]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [5/9/2019]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [5/9/2019]
   
DAKWAH YOUTUBE 
  Penulis: Pejuang Islam  [5/9/2019]
   
 
 Book Collection
 (Klik: Karya Tulis Pejuang)
Pengarang: H. Luthfi B dan Sy. Almaliki
Musuh Besar Umat Islam
Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat
Dialog Tokoh-tokoh Islam
Carut Marut Wajah Kota Santri
Tanggapan Ilmiah Liberalisme
Islam vs Syiah
Paham-paham Yang Harus Diluruskan
Doa Bersama, Bahayakah?
 
 WEB STATISTIK
 
Hari ini: Jumat, 20 September 2019
Pukul:  
Online Sekarang: 6 users
Total Hari Ini: 161 users
Total Pengunjung: 4589319 users
 
 
Untitled Document
 PEJUANG ISLAM - MEDIA GLOBAL
 
 
Kematian Mursi Picu Kekhawatiran terhadap Nasib Tawanan di Penjara Mesir 
Penulis: http://sahabatalaqsha.com [27/6/2019]
 
Kematian Mursi Picu Kekhawatiran terhadap Nasib Tawanan di Penjara Mesir


Kematian mengejutkan presiden pertama dan satu-satunya Mesir yang terpilih secara demokratis, Muhammad Mursi, di ruang sidang mengungkap kondisi mengerikan yang dihadapi para tawanan politik di negara itu.

Juru bicara Ikhwanul Muslimin Talaat Fehmi memperingatkan bahwa sekitar 60.000 nyawa tawanan dalam bahaya. Ia menggarisbawahi “pelanggaran hak asasi manusia yang kejam di penjara-penjara Mesir.” Fehmi juga mendesak Amerika Serikat (AS) agar melakukan sesuatu untuk para tawanan yang “dibunuh perlahan-lahan” di penjara oleh otoritas Mesir.

Setelah kematian mendadak Mursi pada 17 Juni, para pemimpin Turki telah mengecam penganiayaan terhadapnya dan menyatakan bahwa kematiannya bukan kecelakaan.

Amnesty International dan kelompok hak asasi manusia lainnya menyerukan penyelidikan yang adil, transparan dan komprehensif terhadap kematian Mursi dan mempertanyakan perlakuan terhadapnya di penjara.

Pemerintah Mesir menolak tudingan bahwa Mursi diperlakukan dengan buruk. Putra Mursi, Abdullah, menuduh Presiden Abdel Fattah el-Sisi dan sejumlah pejabat “membunuh” ayahnya.

Dalam sebuah tweet pekan lalu, putra mendiang presiden itu menyebutkan sejumlah pejabat, yang disebutnya “mitra” Sisi “dalam membunuh presiden yang mati syahid itu.” Ia khususnya menuduh petahana, mantan Menteri Dalam Negeri Mahmoud Tawfiq dan Magdy Abdel Ghaffar.

Pada tahun 2013, Menteri Pertahanan saat itu Jenderal Sisi memimpin kudeta militer berdarah, menggulingkan presiden Mesir pertama yang terpilih secara demokratis, Mursi.

Sejak saat itu, tindakan keras terhadap para penentang rezim –tidak hanya Ikhwanul Muslimin tapi siapa pun yang menentang el-Sisi– dimulai. Referendum konstitusi terbaru bulan lalu membuka jalan bagi Sisi untuk tetap berkuasa sampai 2030. Meskipun negara itu mengalami kesulitan dalam perbaikan ekonomi dan pelanggaran HAM menjadi semakin mengkhawatirkan.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia menyatakan kondisi di pusat-pusat penahanan, termasuk pasokan medis dan gizi tidak mencukupi. Demikian pula, dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Maged Mandour dan dipublikasikan oleh Sada –sebuah platform daring di bawah Carnegie International– diyakini bahwa pasukan keamanan Mesir sengaja “mengambil” makanan tawanan sehingga mereka akan mati kelaparan.

“Pada 2015, misalnya, Nadeem Center mendokumentasikan 81 kasus kematian di pusat-pusat penahanan karena pengabaian medis –terpisah dari 137 yang mereka catat telah langsung dibunuh di dalam pusat penahanan. Jumah ini tetap konsisten pada 2016, dengan 80 kasus. Sebelum itu, ada 170 kasus kematian yang terdokumentasi karena pengabaian medis mulai dari Juli 2013 hingga Mei 2015. Kecenderungan ini terus berlanjut, tujuh tahanan meninggal dunia karena pengabaian medis pada Januari 2019 saja,” tulis artikel itu.


http://sahabatalaqsha.com
   
 Isikan Komentar Anda
   
Nama 
Email 
Kota 
Pesan/Komentar 
 
 
 
 
Kembali Ke Index Berita
 
 
  Situs © 2009-2019 Oleh Pejuang Islam