URL: www.pejuangislam.com
Email: editor@pejuangislam.com
 
Halaman Depan >>
 
 
Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami
Ustadz H. Luthfi Bashori
 Lihat Biografi
 Profil Pejuang Kaya Ide
 Imam Abad 21
 Info Asshofwah
Karya Tulis Pejuang


 
Ribath Almurtadla
Al-islami
 Pengasuh Ribath
 Amunisi Dari Tumapel
 Aktifitas Pengasuh
 Perjuangan Pengasuh
 Kalender Ribath
Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ)
 Sekilas Profil
 Program Pendidikan
 Pelayanan Masyarakat
 Struktur Organisasi
 Pengasuh PIQ
 
Navigasi Web
Karya Tulis Santri
MP3 Ceramah
Bingkai Aktifitas
Galeri Sastra
Curhat Pengunjung
Media Global
Link Website
TV GARIS LURUS
Kontak Kami
 
 
 Arsip Teriakan Pejuang
 
MENYERTAI SAFARI DAKWAH SANG GURU TERCINTA, ABUYA DR. SAYYID AHMAD BIN MUHAMMAD ALWI ALMALIKI (MAKKA 
  Penulis: Pejuang Islam  [13/7/2017]
   
MENDAMPINGI SAFARI DAKWAH SANG GURU TERCINTA, ABUYA DR. SAYYID AHMAD BIN MUHAMMAD ALWI ALMALIKI -2  
  Penulis: Pejuang Islam  [12/7/2017]
   
RANGKUMAN SAFARI DAKWAH ABUYA DR. SY. AHMAD BIN MUHAMMAD ALWI ALMALIKI (MAKKAH) DI JOHOR MALAYSIA (1 
  Penulis: Pejuang Islam  [11/7/2017]
   
BEDANYA KAWAN YANG BAIK DAN KAWAN YANG BURUK 
  Penulis: Pejuang Islam  [7/7/2017]
   
TERKIKISNYA UKHUWWAH ISLAMIYAH DI AKHIR ZAMAN 
  Penulis: Pejuang Islam  [2/7/2017]
   
 
 Book Collection
 (Klik: Karya Tulis Pejuang)
Pengarang: H. Luthfi B dan Sy. Almaliki
Musuh Besar Umat Islam
Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat
Dialog Tokoh-tokoh Islam
Carut Marut Wajah Kota Santri
Tanggapan Ilmiah Liberalisme
Islam vs Syiah
Paham-paham Yang Harus Diluruskan
Doa Bersama, Bahayakah?
 
 WEB STATISTIK
 
Hari ini: Rabu, 26 Juli 2017
Pukul:  
Online Sekarang: 5 users
Total Hari Ini: 281 users
Total Pengunjung: 3523733 users
 
 
Untitled Document
 PEJUANG ISLAM - MEDIA GLOBAL
 
 
Sanksi-sanksi Barat Menyengsarakan Rakyat Suriah 
Penulis: http://liputanislam.com [1/5/2017]
 

Sanksi-sanksi Barat Menyengsarakan Rakyat Suriah


Data-data yang ada menunjukkan dampak mengerikan sanksi-sanksi Amerika dan Barat atas kehidupan rakyat Suriah. Perang dan kejahatan kelompok teroris yang didukung Amerika dan Barat telah melumpuhkan hidup mereka. Banyak dari kota-kota Suriah yang kini berubah menjadi ‘kota-kota hantu.’

Harian al-Akhbar cetakan Lebanon memuat tulisan dari Marah Mashi, seorang penulis Arab. Dalam artikelnya, Mashi menyatakan,”Meningkatnya harga barang-barang di Suriah akan lebih terasa saat seseorang pulang setelah dia lama tinggal di luar Suriah. Ketika dia masuk toko di salah satu kota Suriah, dia akan mendapati harga barang-barang yang naik 1100 persen; peningkatan harga yang telah mencekik hidup rakyat Suriah.”

Berdasarkan laporan PBB tahun 2016, 80 persen rakyat Suriah hidup di bawah garis kemiskinan. Angka ini meningkat 12,2 persen dibanding masa sebelum prahara Suriah.

Daya beli rakyat Suriah juga telah menurun hingga 90 persen jika dibandingkan masa sebelum perang, khususnya sebelum ada sanksi-sanksi Amerika dan Barat. Dampak buruk hal ini jelas terlihat di semua sektor masyarakat Suriah.

Paket sanksi Amerika atas Suriah pada Februari 2011 mencakup penghentian semua transaksi perbankan, pelarangan ekspor senjata ke Suriah, penghentian ekspor minyak dan gas Suriah, dan pembekuan rekening-rekening pemerintah Suriah di luar negeri. Langkah Amerika ini segera diikuti negara-negara Arab dan Turki. Namun, Suriah paling menderita akibat sanksi negara-negara Eropa, karena Suriah menjalin hubungan ekonomi lebih banyak dengan Eropa.

Hasil riset “Lembaga Suriah di Bidang Keluarga dan Tempat Tinggal” menunjukkan, sanksi-sanksi sepihak Eropa sangat merugikan ekonomi Suriah karena 45 hingga 55 persen transaksi dagangnya bergantung pada Uni Eropa.

Berdasarkan laporan ini, angka pengangguran di Suriah meningkat drastis akibat turunnya nilai investasi asing. Sanksi-sanksi sewenang-wenang ini tak hanya meracuni lingkungan kerja dan larinya para investor, tapi juga memaksa pemerintah Suriah berpaling kepada broker dan pedagang di pasar gelap.

Sejak awal perang Suriah, 14 perusahaan minyak yang per harinya memproduksi sekitar 100 ribu barel minyak dan 7 juta meter kubik gas alam, telah meninggalkan Suriah. Kerugian yang diderita Suriah di sektor ini mencapai 27 juta dolar pada tahun 2015. Oleh karena itu, pemerintah Suriah terpaksa menerima syarat dan tuntutan dari perusahaan-perusahaan pengganti.

Menurut riset yang didasarkan pada data dari Pusat Penelitian Politik Suriah, kerugian ekonomi Suriah akibat sanksi dan perang mencapai angka 3368 milyar lira Suriah. Sektor pertanian negara ini juga mengalami kerugian besar. Saham sektor pertanian dalam produksi berkurang hingga 5 persen, padahal sebelum perang dan sanksi, saham ini lima kali lipat lebih banyak.

Berdasarkan laporan awal Kementerian Industri Suriah, sektor industri negara ini menanggung kerugian langsung sebanyak 100 milyar lira dan 113 milyar lira secara tidak langsung.

Di sisi lain, laporan Kementerian Pendidikan Suriah menunjukkan, 5000 sekolah dari sekitar 22.500 sekolah telah rusak akibat perang. Tiga ribu di antaranya rusak total atau sebagian, sementara renovasinya membutuhkan dana sekitar 100 juta dolar.

Perang dan gelombang sanksi juga mengurangi anggaran pendidikan Suriah dari 708 juta dolar pada tahun 2010 menjadi hanya 65,7 juta dolar pada tahun 2016.

Sektor kesehatan juga tidak bernasib lebih baik. Kekurangan atau ketiadaan obat dan meningkatnya harga obat membuat orang-orang sakit mengalami kesulitan. Padahal sebelum perang, pengobatan di Suriah bisa dikatakan gratis.

Menurut laporan WHO tahun 2014, pemerintah Suriah butuh anggaran 246 juta dolar agar mampu memberikan layanan kesehatan yang baik kepada warganya.

Kementerian Kesehatan Suriah pada tahun 2014 melaporkan, kerugian negara ini di sektor kesehatan pasca perang dan sanksi mencapai angka 100 juta lira.


http://liputanislam.com

   
 Isikan Komentar Anda
   
Nama 
Email 
Kota 
Pesan/Komentar 
 
 
 
 
Kembali Ke Index Berita
 
 
  Situs © 2009-2017 Oleh Pejuang Islam